Chapter 3 : Four Part Green
Dynasty Warriors by
KOEI
Chara : Ling Tong (main chara), Gan Ning, Lu Xun, Lu Meng, Sun Shang Xiang, Taishi Ci
Fanfic Story :Morning Eagle
Rombongan berjalan pelan melewati padang rumput yang gersang—sama sekali tidak ada pohon. Matahari menyinari kami tepat di atas kepala, benar-benar panas. Musim panas bukanlah musim yang tepat untuk berjalan-jalan di siang bolong, dalam hal ini kami mengadakan perjalanan yang bisa dibilang cukup pendek. Tapi, karena cuaca yang tidak mendukung ini, perjalanan menjadi dua kali lipat lebih lama dari yang seharusnya.
"Astaga! Panas sekali! Apa masih jauh?" Shang Xiang mengomel terus sepanjang perjalanan ke Heng Jiang yang memang melelahkan. Teriknya matahari tidak bisa ditutupi, membuat waktu istirahat kami bertambah dari yang seharusnya.
"Kau cerewet sekali, putri manja!" keluh Gan Ning, yang menaiki kuda hitam di depannya. Dia terlihat kesal dari tadi, bukan karena cuaca panas, tapi karena orang di belakangnya.
"Ini mulutku, bukan mulutmu! Terserah aku mau mengatakan apa!" teriak Shang Xiang membalasnya.
"Sudahlah kalian berdua! Jangan bertingkah seperti anak kecil." Lu Meng memarahi dua orang bodoh itu—si putri manja yang harus kujaga sepanjang misi ini, dan si jabrik pembawa onar.
"Tuan, sudah waktunya untuk istirahat," kata salah satu pengawal, mendatangi Lu Meng dari depan.
"Apa? Secepat inikah?" Lu Meng sedikit terkejut dengan saran si pengawal, sepertinya dia tidak terlalu menyukai idenya.
"Istirahat kita yang terakhir kali sudah lewat beberapa jam yang lalu, saat matahari muncul di pagi hari, tuan."
"Ayolah, Lu Meng! Kita istirahat!" rengek si putri.
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk," saranku. Aku sendiri memang sudah sangat lelah. Keringat membasahi tubuhku dan kepalaku terasa sedikit pening akibat sinar matahari panas.
"Kau lemah sekali," bisik Gan Ning, menyindir.
"Aku mengakui kelemahanku, tidak seperti kau yang terus besar kepala," balasku sambil tersenyum kecut.
"Aku tidak besar kepala! Itu adalah kenyataan, bahwa aku memang tidak memiliki kelemahan," balasnya lagi, sedikit berteriak. Kali ini dia memalingkan wajahnya ke belakang—melihatku sinis.
Aku mengerutkan dahiku dan tersenyum—mengejek, "Kau sudah memperlihatkan kelemahanmu, tuan besar kepala. Kepalamu itulah yang bermasalah—otakmu!"
Gan Ning mengernyit kesal dan berusaha membalikkan kudanya ke belakang. "Kau mengejekku, ya?"
Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening—dunia di depanku serasa seperti berputar. Suara berdengung terdengar dalam kepalaku dan gelap terang cahaya terus bergantian mewarnai apa yang kulihat dengan mataku. Aku menggenggam tali kekang kuda erat-erat. Jendral Taishi Ci yang samar-samar kulihat, menghalangi jalan di depanku. Dia bertengkar mulut dengan Gan Ning yang sudah mulai meledak. Lu Meng ikut dalam pertengkaran mulut itu dan dia mengatakan sesuatu yang seperti, 'istirahat', 'di depan', '20 menit'. Pertanda bagus aku masih bisa menangkap sedikit perkataan Lu Meng. Istirahat dapat memulihkan sedikit tenagaku.
Jendral Taishi Ci berjalan di antara aku dan Gan Ning—menengahi. Aku mengikuti rombongan di depanku dengan menundukkan kepalaku, karena melihat ke depan hanya menambah pusing yang kurasakan. Beberapa detik yang terasa seperti beberapa menit kemudian, aku sudah tidak lagi merasakan panasnya matahari yang menyengat di atas kepalaku. Aku menghela napas dan pening di kepalaku mulai menghilang sedikit demi sedikit. Orang-orang sibuk mencari tempat terteduh untuk duduk dan menghilangkan lelah. Sebagian lainnya mencari sumber air untuk minum dan merasakan sedikit kesegaran air sungai yang dingin. Aku turun dari kuda dan mulai mencari tempat untuk duduk. Berjalan dengan tubuh lemas memang sulit, aku berusaha keras untuk tidak terlihat berjalan terhuyung-huyung. Akhirnya aku menemukan tempat di balik pohon besar yang terpencil, sedikit jauh dengan tempat istirahat yang sudah ditentukan. Aku terduduk di bawah pohon dan menyenderkan kepalaku ke batangnya. Angin semilir bertiup membawa wangi rumput liar bercampur bau tanah subur. Aku menghirup napas sedalam-dalamnya dan mengeluarkannya perlahan.
Kepalaku jauh lebih baik sekarang, aku mulai membuka mataku perlahan dan melihat daun-daun pohon di atasku yang tersiram cahaya matahari. Bayangannya terpantul di kulitku seperti bercak-bercak hitam, menutupi sebagian sinar matahari yang lewat di atasnya. Samar-samar aku mendengar seseorang melangkah mendekat. Aku memalingkan wajahku ke arahnya, Lu Xun datang dan duduk tidak jauh di sebelahku. Dia menatapku, sepertinya tahu sesuatu yang kurahasiakan darinya.
"Sudah baikan?" tanyanya sambil setengah tersenyum padaku.
Aku menghela napas dan membalas senyumnya, "Kau tahu, ya?"
"Anehnya kebanyakan orang tidak menyadarinya. Kau menderita darah rendah?"
"Kadang-kadang. Hanya bila ada sinar matahari terik dan aku terlalu memiliki banyak waktu untuk berjemur di bawahnya. Itu benar-benar buruk, untung saja aku tidak pingsan di depan si jabrik," jawabku sambil tersenyum kecut.
"Aku bisa membayangkannya. Itu benar-benar akan membuat keadaan tidak baik untukmu."
"Kau membelaku?" Biasanya, Lu Xun tidak memihakku maupun Gan Ning. Dia dan Lu Meng lebih setuju kalau aku berbaikan dengan si jabrik. 'Gunakan tangan kalian untuk berjabatan, bukan untuk saling memukul', itulah yang selalu dikatakan Lu Meng—terdengar seperti seorang ahli fillsafat.
Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut, "Aku hanya menilai secara objektif, tidak memihak siapapun. Aku benar-benar tidak setuju, kalau kau terus seperti ini. Aku bisa mengerti perasaanmu—"
"Sudah cukup," aku memotong ceramahnya yang menyebalkan itu. "Kau membuat kepalaku tambah sakit. Kau dan Lu Meng seringkali membahas hal itu berulang kali."
"Hei, kalian benar-benar tidak adil!" teriak Shang Xiang dari balik pohon. Wajahnya cemberut sambil berkacak pinggang, memandang sinis kami yang sedang terduduk di bawah pohon.
"Apanya yang tidak adil?" tanyaku sambil menghela napas. Lagi-lagi sumber keributan bertambah satu.
"Di sana sudah terlalu penuh, aku tidak bisa menemukan tempat untuk berbaring. Tapi disini benar-benar sepi! Aku bisa beristirahat dengan tenang dan jauh dari si Gan Ning itu! Kenapa kalian tidak berbagi padaku?" katanya dan kemudian mulai berbaring di sebelahku.
"Kau terlalu berisik," kataku. Shang Xiang memandangku sinis sesaat dan memalingkan mukanya dariku. Dia seenaknya berguling-guling di atas rumput, seperti anak kecil.
"Hei, kau menemukan tempat yang indah dan beruntung!" kata Shang Xiang yang tiba-tiba berubah gembira.
"Apa maksudnya beruntung?"
"Lihat ini. Masih banyak lagi yang berkelopak empat disana!" katanya dan menunjukkan sesuatu di tangannya, daun semanggi yang berkelopak empat. Di belakangnya terdapat lebih banyak lagi daun yang sama, bertebaran seperti hamparan karpet hijau yang terbentang luas.
"Itu daun, aku tahu," kataku datar dan menaikkan kedua alisku. Apa istimewanya sebuah daun, apalagi tanpa bunga? Lebih baik menemukan ladang bunga chrysanthemum daripada hanya sekedar daun liar saja.
"Ini daun semanggi berkelopak empat!" kata Shang Xiang tidak sabaran.
"Iya, aku tahu. Daun itu memiliki empat kelopak yang sama," kataku lagi, datar.
"Menurut legenda, daun semanggi berkelopak empat dapat mengusir kesialan dan mendatangkan keberuntungan*. Jarang sekali bisa ditemukan di alam bebas, karena kebanyakan hanya berkelopak tiga. Jadi putri benar, ini tempat yang membawa keberuntungan," jelas Lu Xun.
Aku memalingkan wajahku ke arahnya—sedikit tidak percaya dengan kata-katanya, "Jadi kau percaya legenda? Kukira kau lebih berpihak kepada hal-hal yang lebih masuk akal dan memiliki bukti yang jelas terlihat kebenarannya."
Lu Xun mengedikkan bahu dan tersenyum, "Sebagian tidak. Aku juga mempercayai hal-hal seperti itu, kau tahu? Aku bukan kutu buku."
"Sulit sekali untuk membuktikannya, apalagi untuk orang yang menghabiskan sebagian besar waktu akhir pekannya di perpustakaan," sindirku sambil nyegir. Kali ini Lu Xun yang menatapku sinis.
"Oke, sudah cukup berdebatnya. Yang penting, semua keberuntungan ini milikku!" kata Shang Xiang girang.
"Hei, aku yang menemukan tempat ini duluan. Jadi, itu milikku, putri," balasku tidak terima dengan idenya itu.
"Menurutku kita bagi rata saja. Kita bertiga ada di tempat ini sekarang, itu lebih adil,kan?" saran Lu Xun.
"Hei, kalian sedang apa disini? Wow, kalian menemukan tempat yang bagus," kata Lu Meng yang tiba-tiba datang. Dia duduk diantara aku dan Lu Xun sambil melihat kesekeliling.
"Aku tidak rela kalau harus dibagi empat," kata Shang Xiang sambil mengerutkan alisnya—cemberut.
"Membagi apa?" tanya Lu Meng, ingin tahu. Tapi, tidak ada satu pun diantara kami yang mau membagi cerita tentang apa yang kami temukan.
Lu Meng mengerutkan alisnya—bingung bercampur ingin tahu, "Kalian ini sedang menyembunyikan apa?"
"Tidak ada," jawabku sambil nyegir dan membaringkan tubuhku di bawah pohon besar—menikmati angin semilir di siang yang panas ini.
*Menurut legenda, daun semanggi kelopak empat membawa keberuntungan. Empat kelopaknya melambangkan Faith,Hope, Love,Luck.
Thx for reading~ ^^ Hope you enjoy it!
