Chapter 5 : Green is Meaningful


Dynasty Warriors by

KOEI


Chara : Ling Tong (main chara), Gan Ning, Lu Xun, Lu Meng, Shang Xiang, Taishi Ci

FanFic Story : Morning Eagle

Urrg..late update! Sorry for the readers…

Happy reading~ ^^


Pikiran-pikiran itu berkelebat cepat dalam otakku. Lian Shi yang tertawa lepas, Lu Meng dan Lu Xun yang sibuk mengatur buku di perpustakaan, Gan Ning yang memandang marah ke arahku, Yang Mulia yang terus menasihatiku, Shang Xiang dengan wajah jahilnya, Jendral Zhou Yu yang tersenyum puas dengan hasil kerjaku, ayahku yang tersenyum lebar padaku. Ayah, seandainya dia masih hidup dan bertarung bersamaku. Tapi, mungkin aku tidak akan bertemu Gan Ning. Dia masih menjadi bajak laut, atau mungkin sudah terbunuh oleh pasukan Wu. Kami tidak akan pernah bertengkar setiap hari, Yang Mulia tidak akan pernah membandingkan kami. Dan hanya ada aku, Lu Meng, dan Lu Xun yang membersihkan perpustakaan setiap minggunya. Tidak ada keributan di istana, hanya ada ketenangan seperti sekarang ini. Tenang, tapi yang terlihat hanya kegelapan yang menyelimuti. Tiba-tiba saja rasa sakit itu menghantam, di tenggorokanku, perut, kepala dan kakiku. Rasa sakit itu menjalar cepat dan membuat mataku terbuka—sadar sepenuhnya. Aku terbatuk-batuk dan mengeluarkan banyak air dari mulutku. Sekujur tubuhku basah dan rasanya benar-benar dingin. Rasanya sakit saat mengambil napas dan mengeluarkannya, seperti tertusuk pisau terlalu dalam. Aku memegang perut sebelah kananku yang terasa perih tak tertahankan. Darah terus mengalir keluar, aku tertusuk sesaat sebelum terjatuh. Kepalaku juga berdarah, mungkin terbentur bebatuan di dasar sungai. Kaki kiriku sulit digerakkan, mungkin terkilir, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai patah tulang. Aku mengap-mengap, sulit rasanya untuk bernapas.

Langit di atasku terlihat menyeramkan, berwarna abu-abu gelap, pertanda hujan akan segera turun. Matahari di baliknya sedikit terlihat, kadang muncul dan kadang tenggelam oleh awan. Lebih baik cuaca berganti menjadi cerah, tidak mempersulit keadaanku di sini yang sedang terkapar. Aku melirik ke sampingku, mencari sesuatu untuk membantuku berdiri. Yang terlihat adalah hamparan bunga clover berdaun empat. Mirip seperti yang kami temukan di tempat istirahat—bunga keberuntungan.

Mungkin keberuntungan juga aku bisa hidup, tidak terbawa arus hingga ke muara sana. Keberuntungan aku menemukan padang clover hijau di saat aku sedang sekarat. Aku menengadah ke langit, melihat perubahan langit yang di luar dugaan. Langit kembali cerah—matahari terhalang setengahnya oleh gumpalan awan putih. Cahayanya menyinariku dan terlihat menganggumkan, indah sekali. Baru kali ini aku melihat keindahan langit siang hari—dimana orang-orang lebih memilih untuk berteduh, bekerja, dan tidur siang. Sekarang ada keraguan di hatiku, apa mereka bisa menemukanku. Lebih tepatnya, apa mereka berpikir bahwa aku selamat setelah jatuh dari tebing setinggi itu?

Aku berusaha bangun, tapi tidak bisa bergerak. Setiap kali bergerak, rasa sakit itu kembali muncul. Bisa-bisa pendarahannya bertambah parah. Aku memilih berbaring dan merasakan angin dingin mengeringkan tubuhku. Aku bisa merasakannya, seseorang datang ke arahku. Tanahnya bergetar dan mengirimkan sinyalnya. Suara orang-orang meneriakkan namaku semakin terdengar cukup pintar untuk mengira aku masih hidup.

"Ling Tong!" teriak Gan Ning, menemukanku. Baru kali ini aku melihat wajah paniknya dan sampai aku tidak merasakan sakit sesaat.

"Ling Tong!" Lu Xun di belakangnya langsung menghampiriku dan berlutut di sebelahku. "Kau terluka parah! Bantuan medis, cepat kesini!"

"Kalian menemukanku," kataku lemas, tapi tetap bisa tersenyum melihat mereka kalut setengah mati.

"Kau cari mati, hah? Bisa-bisanya kau jatuh dari tebing setinggi itu dan masih tetap tersenyum walaupun kau hampir mati? Yang benar saja!" Gan Ning marah-marah sendiri dan pergi meninggalkan kami sebelum menjadi gila. Seorang tabib datang dan berlutut di samping Lu Xun. Dia mengeluarkan peralatan dari tasnya. Lu Xun membantunya membalut luka parah di perutku. Rasanya benar-benar sakit dan perih, aku meringis dibuatnya.

"Ini akan menghentikan sementara pendarahannya. Kita harus membawanya ke kota segera," jelas tabib. "Bagian mana lagi yang terluka, Jendral?"

"Kaki kiri. Mungkin terkilir," jelasku susah payah. Mengambil napas terasa sulit sekarang.

Tabib itu meraba pergelangan kakiku dan membuatku hampir berteriak saat dia menekannya. "Mungkin retak, tidak sampai patah. Aku akan membalutnya, supaya tidak bertambah parah."

"Kau benar-benar beruntung." Lu Xun ngeri melihat keadaanku yang babak belur. Dia hanya bisa menggelengkan kepala dan mengerutkan dahinya setiap kali mendengarku meringis sakit.

"Ya, mungkin keberuntungan besar ada di pihakku," aku menunjuk ke hamparan bunga clover di sebelahku. Lu Xun terlihat terkejut dan memandangku dengan tatapan tidak percaya.

"Sekarang, ini semua untukku. Aku yang menemukannya duluan," kataku sambil tersenyum puas.

~0000000~

Kami berhasil membereskan hampir setengah lebih para bandit. Sebagian kecilnya berhasil kabur membawa harta benda para penduduk Heng Jiang. Kota sudah dibereskan oleh Jendral Taishi Ci Lu Xun, dan Shang Xiang, tapi tidak bisa menyangkal sebagian penduduk kota terluka dan terbunuh. Si pemimpin bandit ikut terjatuh bersamaku di tebing dan keberadaannya masih belum diketahui hingga sekarang. Lu Meng sudah mengutus beberapa prajurit untuk mencarinya, hidup atau mati.

Selama perjalanan aku hanya bisa melihat langit dari kereta kuda yang tidak beratap. Matahari masih sedikit tertutup awan putih, tapi tidak menunjukkan tanda akan kembali gelap. Awan gelap sudah menghilang sepenuhnya, seperti keadaan kami sekarang, kejahatan telah hilang sepenuhnya dan digantikan dengan kebaikan. Kota Heng Jiang sudah bisa terbebas sepenuhnya dari ancaman para bandit yang beringas.

"Kita sudah tiba di kota, bertahanlah jendral," kata tabib di sebelahku. Kesadaranku belum hilang sepenuhnya, tapi tubuhku terasa sangat lemas. Rasa sakitnya sedikit berkurang, karena tabib sudah memberi obat pertolongan pertama padaku, sekaligus obat penahan sakit.

Terdengar suara orang-orang di sekitarku, tapi kereta terus melaju, tidak menghiraukan. Lalu suara itu muncul, Shang Xiang meneriakkan namaku. Suaranya yang memekikkan telinga memang sudah menjadi ciri khasnya.

"Ling Tong!" sepasang tangan terlihat di pinggiran kereta kuda. Kereta berhenti tiba-tiba, membuat wajah tabib sedikit kesal.

"Ling Tong! Astaga! Kau baik-baik saja?" Wajah Shang Xiang terlihat, sedikit tidak jelas karena sinar matahari di belakangnya. Tapi, matanya yang merah karena habis menangis tidak bisa ditutupi.

"Ya..seperti yang kau lihat," bisikku, susah untuk mengambil napas karena sakit di tubuhku masih terasa, bahkan suaraku terdengar parau.

"Kau benar-benar bodoh! Kau…bagaimana bisa kau bisa jatuh dari tebing, hah?" teriak Shang Xiang terisak-isak.

"Maaf, putri. Bukannya ingin menyela pembicaraan kalian, tapi jendral harus segera diobati," kata tabib.

Shang Xiang terlihat seperti mengangguk dan menghilang dari hadapanku. Kereta kembali melaju, sedikit demi sedikit kesadaranku mulai menghilang.

"Jendral, kau tidak apa-apa?" si tabib terdengar cemas dan membuat mataku kembali terbuka.

"Ya..hanya sedikit ngantuk," kataku dengan suara yang terdengar semakin parau. Aku kembali memejamkan mataku dan yang terlihat di dalam kegelapan adalah wajah cemas Lian Shi.

~0000000~

Aku melihatnya, Lian Shi di seberang sungai sedang mengamati bunga-bunga liar. Rambut hitamnya tergerai bebas hingga hampir menyentuh tanah. Dia tidak melihatku di seberang sungai, masih sibuk mengambil bunga-bunga liar yang berwarna ungu muda. Shang Xiang muncul di sampingnya, membicarakan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Mereka tertawa lepas dan tidak lama kemudian Shang Xiang menghilang. Yang Mulia muncul dari belakang Lian Shi, menepuk bahunya sambil tersenyum. Lian Shi terlihat senang melihat kedatangan suaminya dan segera bangkit sambil terus membawa bunga-bunga itu. Mereka berjalan menjauhi sungai sambil bergandengan tangan dan kemudian menghilang…

Aku sendirian, masih terduduk di seberang sungai yang berbeda. Entah kenapa perasaanku tidak terusik oleh Lian Shi, tidak seperti sebelumnya. Aku menunggu sesuatu, seseorang, entah apa itu atau siapa. Pandanganku beralih ke rumput di sekelilingku, rumput hijau yang ternyata daun semanggi berdaun empat. Daun-daun semanggi menghampar luas seperti karpet hijau di atas tanah yang cokelat dan kotor. Daun semanggi ini berukuran lebih besar daripada yang terakhir kali kulihat sebelumnya, hampir seukuran dengan jamur liar. Sesuatu mengusikku, tepat di sebelah kiriku. Seekor serigala besar duduk sambil memperhatikanku di sampingku. Bulunya berwarna cokelat tua hampir hitam dan matanya hitam besar. Kami saling mengamati dalam diam…

"Ling Tong," seseorang memanggilku samar-samar. "Ling Tong.."

Pandanganku tidak bisa beralih dari si serigala. Serigala itu memalingkan wajahnya dariku, mencari-cari sesuatu, seakan-akan sedang mencari si sumber suara.

"Ling Tong.." suara itu makin terdengar jelas. Tiba-tiba saja si serigala bangun dari duduknya dan berlari menjauh dariku…menghilang…

"Ling Tong?" suara itu makin jelas terdengar, di sampingku.

Aku berusaha membuka mataku yang terasa berat dan silau karena cahaya. Aku mengerjapkan mataku berulang kali, berusaha memfokuskan pada langit-langit kayu di atasku. Seseorang di sampingku sedang mengamatiku, alisnya bertaut di tengah—kebingungan.

Aku berhasil membuka mataku, melihat Lu Meng di sampingku. Wajahnya khawatir dan cemas, tapi terlihat kelegaan di sana. "Lu Meng?"

"Kau pingsan selama empat hari," kata Lu Meng sambil menghela napas.

"Hm…selama itu kah?" Aku berusaha bangun, tapi meringis karena luka di perutku terasa ngilu, dan mengurungkan niatku. "Lukanya belum menutup.."

"Tapi lebih baik dari sebelumnya, empat hari yang lalu kau benar-benar terlihat…babak belur," kata Lu Meng sambil mengerutkan alisnya lagi.

"Kau membuatnya…terdengar sangat sangat buruk."

"Memang seperti itu keadaannya, kan? Anehnya kau masih bisa sadar. Kepalamu terbentur cukup keras."

"Ya…aku cukup beruntung," kataku sambil nyengir.

"Jangan ulangi perbuatanmu itu, Ling Tong! Kau mengendurkan pertahananmu di saat kau pikir kau sudah menang, tapi apa yang terjadi? Justru itu memberi kesempatan bagi musuh." Lagi-lagi Lu Meng mengomel. Ini seperti sudah menjadi makananku sehari-hari.

"Di mana yang lain?" tanyaku ingin tahu.

"Kau mengalihkan topik jendral muda," Lu Meng mendesah lagi. "Mereka masih di sekitar kota, Shang Xiang bersikeras menunggumu siuman, padahal lebih baik baginya untuk segera kembali ke ibukota. Taishi Ci kembali ke ibukota bersama beberapa prajurit tiga hari yang lalu untuk memberi kabar kepada Yang Mulia, sekaligus untuk mengutus beberapa prajurit dan jendral dari ibukota ke sini, memberi pertahanan ekstra untuk beberapa saat."

"Hm..bagaimana dengan si pemimpin bandit?"

"Dia…tidak seberuntung kau. Jasadnya ditemukan tidak jauh dari tempat kau ditemukan sekarat. Sepertinya, dia tidak bisa berenang dan kepalanya terbentur batu sungai hingga terluka sangat parah."

"Begitu…" gumamku.

"Beberapa bandit masih dalam pencarian. Mereka berhasil kabur membawa harta benda dari kota," lanjut Lu Meng, terlihat sedang berpikir.

"Kapan kita kembali ke ibukota?" tanyaku ingin tahu.

"Ya, setelah kau lebih membaik, mungkin aku masih akan tinggal disini untuk beberapa minggu."

"Selama itu? Untuk apa?"

"Masih ada yang harus diselidiki. Beberapa dokumen hilang dan berantakan akibat serangan para bandit. Mau tidak mau aku harus membantu membereskannya," jelas Lu Meng. Kemudian dia melirik ke arahku, menyembunyikan sesuatu yang membuatku bergidik ngeri.

"Kau mau membantu—"

"Ah..kupikir lukaku terbuka lagi—"

"Jangan mencari alasan!" Lu Meng memukul kepalaku.

"Hm…sepertinya itu rencana bagus. Kalian bisa membantuku mengurus beberapa dokumen yang berserakan," kata Lu Meng, sedikit lega.

Lagi-lagi… Sepertinya aku masih membutuhkan daun semanggi empat.


Thx for my Playlist! Death Cab for Cutie, Owl City, Adele…my inspiration! ^^