Chapter 6 : Red Chaos


Dynasty Warriors by

KOEI


Chara : Ling Tong (main chara), Sun Shang Xiang, Gan Ning, Lu Xun

FanFic Story : Morning Eagle


Jendela terbuka lebar, membiarkan angin semilir masuk ke dalam ruangan yang pengap. Cahaya matahari ikut menemani si angin, menerangi ruangan. Suara cicitan burung di pagi hari terdengar jelas, bercampur dengan suara serangga musim panas yang khas. Suasana yang terlihat damai di luar sana, tidak bisa mencairkan ruangan yang terasa suram. Shang Xiang terus duduk dalam diam di sampingku. Alisnya berkerut, matanya menatapku sinis—si putri terlihat sangat kesal. Entah apa yang mengusik perasaannya hari ini, tapi dia benar-benar membuatku tidak tenang.

"Sampai kapan kau akan terus memandangku seperti itu?" tanyaku memberanikan diri.

Si putri tidak menjawab, melipat kedua tangannya di depan dada dengan tegas. Aku menghela napas, menyerah menghadapinya. Lian Shi sering kali bilang kalau Shang Xiang paling sulit dihadapi bila sedang marah.

"Ya ya…aku menyerah. Kau marah padaku?" tanyaku lagi.

Ketegangannya sedikit mengendur. Shang Xiang menaikkan kedua alisnya dan tersenyum kecut, "Kau tahu itu."

"Apa yang membuatmu marah?"

"Kebodohanmu," jawabnya tegas, menegaskan setiap suku katanya.

"Hah?"

"Kau mau membuatku mati mendadak?" Dia memelototiku lagi.

"Yang hampir mati itu aku, putri," balasku, menaikkan kedua alisku. Sebenarnya apa sich yang dia inginkan?

"Beberapa hari yang lalu seorang pengawal mengatakan bahwa Jendral muda Ling terjatuh dari tebing curam yang di bawahnya sedang mengalir sungai deras dengan beberapa batu tajam di dalamnya, bisa membuatmu mati mendadak tanpa sempat merasakan dinginnya air sungai. Kau tahu apa yang kupikirkan? Kau mati!" teriaknya keras, membuatku sedikit terlonjak. Matanya kembali berkaca-kaca, seperti yang kulihat beberapa lalu. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan emosinya.

"Hm…maaf..aku memang ceroboh," kataku santai. Tidak enak juga membuat si putri cemas. Dan tidak kusangka dia sampai seperti itu mengkhawatirkan keadaanku.

"Kau bodoh!" teriaknya lagi.

"Sampai kapan kau mau memarahi orang yang sedang sakit, putri? Lihat, lukaku berdenyut lagi karena kemarahan hebatmu itu."

Shang Xiang bangun dari duduknya tiba-tiba dan mengayunkan tinjunya tepat di atas kepalaku.

"Aw—" aku meringis sakit, dia benar-benar memukul kepalaku yang masih dibalut perban.

"Mungkin itu akan sedikit menyadarkanmu akan kebodohanmu. Kepalamu terbentur cukup keras kemarin ini, kan?" ledeknya.

"Hei, kau ini putri, kan? Bisakah lembut sedikit?"

"Mungkin, lebih baik kau mati saja," gumamnya kesal.

"Kalau aku mati, kau juga mati," kataku, nyegir.

"Hah?"

"Kau tadi yang bilang, tentang serangan jantung mendadak. Kalau aku mati, kau bisa kena serangan jantung," jelasku. "Mungkin ini yang dibilang sehidup semati ya…"

Shang Xiang berniat memukulku lagi, menahan kepalan tinjunya di depan dada. Dengan reflek, aku menaruh kedua tanganku di depan tubuhku, sebagai perlindugan. Tapi, dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk. Dia tetap memelototiku tanpa bergeming. Lagi-lagi suasana di ruangan terasa hening, sekaligus menegangkan.

"Berhentilah menatapku seperti itu," omelnya.

"Menatap seperti apa?" Aku memicingkan mataku.

"Ya, seperti itu! Menganggapku sama sekali tidak penting! Kau..bukan…Kalian pikir aku disini untuk apa, hah? Beberapa hari yang lalu, saat penyelamatan ke Heng Jiang, Taishi Ci dan Lu Xun langsung meninggalkanku sendirian di belakang. Dan hal menyebalkannya, mereka tidak menyisakan satu musuh pun untukku! Lalu, Lu Xun meninggalkanku lagi sendirian, dia pergi menyelamatkanmu tanpa menghiraukan keberadaanku! Aku…aku kan juga ingin mencarimu, bodoh! Setidaknya, aku ingin berguna di pertempuran kali ini. Sedikit saja, membuat ayahku bisa bangga padaku," teriaknya lagi dan perlahan berubah menjadi gumaman. Jadi itu yang dia pikirkan, melakukan sesuatu seperti kakak-kakak kebanggaannya, supaya mendiang ayahnya bisa bangga akan kerja kerasnya.

"Kau sudah membuat ayahmu…maksudku..Yang Mulia Sun Jian bangga, kok. Kau membuat penduduk kota merasa aman, karena kekuatanmu sendiri. Melihatmu sebagai sosok putri Wu, membuat mereka merasa tenang dan terselamatkan," jelas Lu Xun di depan pintu masuk.

Shang Xiang kaget melihat kemunculan Lu Xun tiba-tiba dan wajahnya memerah karena pujian Lu Xun. Ternyata, si putri keras kepala ini bisa tersipu-sipu juga.

"Tuan Lu, ini ditaruh di mana?" tanya seseorang di belakang Lu Xun, yang tidak kusadari keberadaannya. Dia membawa tumpukan kertas yang hampir menutupi seluruh wajahnya.

"Di atas meja kayu sebelah sana," perintah Lu Xun, menunjuk meja kayu tepat di sebelah ranjangku. Entah kenapa, aku merasa merinding dibuatnya.

"Tunggu, apa-apaan ini?" tanyaku, sedikit bergidik.

"Tuan Lu Meng yang menyuruhku mengantarkan dokumen ini. Dia meminta kau mengurusnya berdasarkan urutan jenisnya. Di situ ada dokumen pertahanan, keuangan, masalah kependudukan—"

"Aku harus membaca semuanya?" tanyaku, tidak percaya. Kertas-kertas ini bertumpuk secara tidak wajar, urutannya benar-benar kacau balau.

"Ya, ini hanya pekerjaan ringan. Sementara kami semua sedang sibuk setengah mati membereskan ruangan yang lebih mirip reruntuhan kuno, dibandingkan dengan sebuah ruangan penyimpanan dokumen penting. Kau bisa dengan santai membacanya tanpa perlu bangun dari tempat tidurmu."

"Tapi—"

"Tenggat waktunya sore ini, mengigat kau punya tenaga tambahan," kata Lu Xun sambil melirik Shang Xiang.

Shang Xiang melotot dan tatapannya terlihat cemas, "Aku? Tapi, aku kan—"

"Kau mau membuat Yang Mulia Sun Jian bangga, bukan. Nah, sekarang waktu yang tepat," jelas Lu Xun sambil tersenyum. Dia berbalik dan meninggalkan kami berdua yang masih mematung melihat kertas-kertas mengerikan yang bertumpuk tidak karuan. Bahkan, ada sebagian kertas yang sudah kehilangan beberapa potong tubuhnya—robek hampir setengahnya. Lu Xun memang mengerikan kalau sedang stress berat, membuat orang tidak bisa melawan kata-katanya—sepertinya ada penekanan berbeda pada setiap ucapannya itu, membuatku bergidik ngeri. Bahkan, Lu Meng sekalipun tidak berani menegur Lu Xun kalau suasana hatinya sedang dalam kategori 'badai' daripada 'siang cerah'.

"Uh…! Kenapa aku harus terpenjara di sini bersamamu dan kertas-kertas menjijikkan itu?" gerutu si putri. Dia menatap tumpukan kertas dengan tatapan kacau, terlihat sangat pucat.

"Apa aku kabur saja," gumamnya, berbisik.

Tiba-tiba Lu Xun kembali muncul dari ambang pintu, sedikit mengagetkanku. "O iya, aku lupa. Kalau kalian melihat Gan Ning, segera beritahu aku, dia menghilang sebelum aku sempat mencarinya. Dan satu hal lagi, putri. Aku akan segera tahu kalau kau beranjak dari ruangan ini."

Dan dengan cepatnya Lu Xun menghilang dari pandangan kami, membuat Shang Xiang terlihat makin shock.

"Dia itu sebenarnya apa? Urgh… mungkin, sebentar lagi ayah akan menjemputku," gumam Shang Xiang tidak karuan, sambil membenamkan wajahnya ke selimut di ranjangku.

Aku menghela napas melihat tingkah manjanya ini, membuatku semakin frustasi. "Mengomel tidak akan merubah keadaan, putri."

Aku mengambil sebagian kertas dari tumpukan dan menaruhnya tepat di depan Shang Xiang yang sedang meringkuk tidak tenang. Dia sama sekali tidak bergerak, seperti orang mati.

"Ini bagianmu, sudah aku kurangi, kok."

"Bisakah…memberikan sesuatu padaku selain pekerjaan menyebalkan ini? Aku lebih suka pekerjaan fisik daripada pekerjaan mental. Ini bisa membuatku mati perlahan…" gumamnya lagi.

"Kau ini putri, seharusnya pekerjaan ini tidak ada apa-apanya bagimu. Bukankah kau selalu belajar dengan Jendral Zhou Yu?" tanyaku, sambil mengambil lembaran kertas pertama.

"Aku...selalu kabur hampir di setiap kelasnya…"

Aku hanya bisa menghela napas dan mengambil lembaran kedua yang sudah setengahnya robek. Masih ada ratusan lembar yang menungguku.

Shang Xiang masih diam tidak bergerak. Apa mungkin dia tertidur begitu saja dan membiarkan aku sendirian menyelesaikan pekerjaan ini? Aku menyentuh kepalanya, tapi tidak ada reaksi. Tanpa sadar, tanganku mengelus rambutnya yang lembut, kasihan juga melihatnya merana seperti ini. Perjalanan jauh ke Heng Jiang yang sudah lama dia nantikan, harus dibayar dengan melakukan sesuatu yang tidak dia sukai. Seorang putri tidak bebas melakukan sesuatu, apalagi berperang. Wajar saja Taishi Ci dan Lu Xun dengan cepat menghabisi para bandit di kota, sekedar untuk melindungi tangan putri yang masih bersih dari darah. Putri yang keras kepala dan sulit diatur, mungkin dia putri satu-satunya yang berbeda dari putri lainnya, sepanjang sejarah kerajaan Wu.

"Hei, jadi ini yang kaulakukan selama kau sakit? Mencari kesempatan dalam kesempitan rupanya," ejek Gan Ning tiba-tiba dari ambang pintu. Dia menyenderkan tubuhnya ke dinding kayu sambil nyegir melihatku melotot ke arahnya.

Shang Xiang bangun dari posisi tidurnya dan memelototi Gan Ning. Sepertinya, dia terpancing oleh sesuatu yang tidak kuketahui.

"Kali ini aku yang unggul satu, oh, mungkin dua poin darimu!" kata Gan Ning dengan sikap arogannya, sambil berjalan mendekatiku.

Tiba-tiba saja dia berhenti di tempat, begitu melihat tumpukan kertas di atas ranjang dan meja kayu. Matanya tersenyum melihat kesengsaraanku yang bertambah. "Nasibmu benar-benar sedang sial, ya?"

"Hei, Ling Tong, Lu Xun tadi bilang kan, kalau menemukan Gan Ning kita harus segera menangkapnya?" kata Shang Xiang kepadaku, tapi tatapannya tidak lepas dari Gan Ning.

"Hah?" Gan Ning terlihat bingung sekarang.

"Bukan menangkap, tapi segera melapor. Hei, Ning, mungkin nasib sial akan segera mendekatimu."

Gan Ning sepertinya menyadari maksudku. Dia segera berlari meninggalkan kami berdua dan sialnya aku tidak bisa mengejar si bodoh itu—kakiku masih sulit untuk digerakkan.

"Aku tidak mau ikut-ikutan mengurus pekerjaan bodoh itu!" teriak si jabrik, masih terdengar keras walaupun dia sudah berlari keluar ruangan.

"Aku akan menangkapnya, serahkan dia padaku. Kau istirahat saja disini," kata Shang Xiang yang segera bangun dari duduknya. Matanya tidak lagi sendu, ada sesuatu di sana yang membuatnya kembali bersemangat. Tentu saja, dia akan melakukan apapun untuk melepaskan dirinya dari tugas mengurus dokumen ini.

"Hei, bukan menangkap, tapi melapor pada Lu Xun!" teriakku pada Shang Xiang yang sudah berlari pergi. Aku tahu dia tidak akan mengadu pada Lu Xun, karena begitu dia mengadu, dia akan langsung ditahan di ruang pengurusan dokumen untuk membantu pekerjaan di sana. Menangkap Gan Ning akan sulit baginya, tapi bisa menghabiskan waktu hingga sore nanti.

"Sialan, dasar dua orang bodoh tidak tahu diri," umpatku kesal. Pekerjaanku jadi bertambah dua kali lipat dari yang seharusnya.

Aku kembali sendirian di dalam ruangan yang terasa lebih suram daripada sebelumnya. Angin sejuk semilir pun tidak bisa membuat mood ku bertambah baik. Suara cicitan burung terdengar dari ambang jendela. Aku menoleh sejenak dari pekerjaan yang bertumpuk dan mendapati seekor burung kecil bertengger di daun jendela. Seekor burung yang aneh, bulunya berwarna cokelat tua dengan mata berwarna merah kecoklatan. Dia memandangiku sesaat dalam diam. Memandanginya membuatku kembali mengingat akan mimpiku, seekor serigala besar yang duduk di sampingku dengan tatapan aneh memperhatikanku lekat. Si burung kecil mencicit, menyadarkanku dari lamunanku. Begitu aku meliriknya, dia sudah menghilang, terbang entah kemana.

Aku kembali menghela napas, untuk kesekian kalinya. Memikirkan mimpi aneh yang tidak kumengerti maksudnya, bukanlah hal yang harus kulakukan sekarang.

"Jendral Ling, bagaimana keadaanmu?" tanya tabib Bai yang melangkah masuk ke dalam ruangan, sambil membawa sesuatu yang sepertinya obat.

"Hm…entahlah. Mungkin sedikit memburuk," kataku sambil melirik kertas bertumpuk di depanku—jatah Shang Xiang yang dia tinggalkan begitu saja.

Tabib Bai tersenyum padaku, mengasihani nasibku yang buruk hari ini. "Mungkin obat ini bisa menghilangkan sedikit sakitmu itu, mengembalikan semangatmu," katanya sambil mulai meracik obat di meja tengah ruangan. Sepertinya yang kubutuhkan bukanlah obat, melainkan ketenangan.


Special thanks from me :

~MrsGoldenWeek...thanks a lot for your idea^^

~Huangzhi... thanks for your review^^, tenang, ga da adegan YAOI kok (soalnya aku juga ga suka..hehe)