Chapter 7 : Brown Red Unique Personality
Dynasty Warriors by
KOEI
Chara : Ling Tong (main chara), Gan Ning, Sun Shang Xiang, Lu Xun, Lu Meng
FanFic Story : Morning Eagle
This is the final chapter! Oc, happy reading all~
"Sampai kapan kau akan memasang tampang mengganggumu itu?" tanyaku sambil mendesah. Shang Xiang terus cemberut, kadang melihatku kadang memandang keluar jendela kereta kuda. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi begitu melihatku dia mengurungkan niatnya lagi. Wajahnya terlihat kesal melihatku sedikit menceramahinya.
"Terserah aku kan. Ini wajahku, bukan wajahmu," katanya sambil membuang muka. Tingkahnya semakin membuatku gerah. Entah sampai kapan aku bisa terus bertahan di dekatnya.
"Terserah kau saja. Dan, kenapa kau ada di dalam kereta, bukannya menaiki kudamu di luar?" tanyaku lagi.
"Di luar panas sekali! Matahari bisa membakar kulitku," omelnya sambil memelototiku, seakan-akan aku tidak mengerti masalah yang begitu umum baginya—benar-benar putri manja.
Kami diam dalam hening. Hanya suara kuda berjalan bercampur suara roda bergesekan dengan batu yang terdengar, menandakan perjalanan pulang kami masih memakan waktu cukup lama. Aku bersikeras mengendarai kudaku, hanya untuk menghindari si putri yang sedang murung tidak karuan ini, dan tentu saja Lu Meng melarangku keras. Aku mendesah lagi untuk kesekian kalinya, tidak membuat lukaku ngilu kali ini. Tabib Bai mengatakan bahwa lukaku sudah mulai kering dan menutup, tidak masalah untuk berjalan-jalan sebentar. Sebagian keputusan kami pulang hari ini bisa dikatakan karena aku, suaraku lah yang didengar oleh Lu Meng,bukan Lu Xun maupun Gan Ning. Aku masih bisa mengingat wajah kesal Gan Ning begitu mendengar pendapatnya ditolak mentah-mentah oleh Lu Meng.
Shang Xiang mengalihkan tatapannya dariku. Lagi-lagi aku merasa bersalah dibuatnya, perasaan tidak enak mengusikku. Kekesalan yang kalau dipikir-pikir bukan masalah yang besar.
"Kau masih marah dengan Lu Xun?" tanyaku memecah keheningan. Shang Xiang menatap mataku, sedikit melotot dan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Jadi benar ya? Dia menceramahimu habis-habisan. Tapi, ini seperti bukan sifatmu, biasanya kau tidak pernah semurung ini."
"Lu Xun...mengatakanku anak kecil," katanya hampir berbisik.
Aku sampai harus menahan tawaku, sebelum membuatnya tambah marah. Tapi, sepertinya dia mengetahui niatku, matanya kembali memelototiku kesal.
"Kau menertawakanku?" tanyanya tidak percaya.
"Bukan...hanya saja...kau marah hanya karena hal seperti itu?"
"Aku tidak suka disebut anak kecil, putri kecil, atau apapun sebutan itu! Aku ini putri dari Wu, seharusnya kedudukanku diakui."
"Hm…kedudukanmu memang diakui, putri. Mungkin, sifatmu itu sedikit membuat Lu Xun jengah. Akhir-akhir ini dia sering membuatmu kesal ya?"
Shang Xiang menatapku sesaat sambil mengerutkan alisnya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain—memikirkan sesuatu. Dia sedikit termenung, tapi kekesalannya sedikit menghilang.
Yah, ada baiknya juga dia sedikit dinasehati, mengingat ayah dan kakak tertuanya tidak ada lagi di dekatnya. Sedangkan kakak keduanya—Yang Mulia Sun Quan— selalu sibuk dengan urusan kerajaan, tidak bisa mengawasi maupun menemani adiknya ini. Kebebasan sudah melekat erat pada diri Shang Xiang. Dia tidak mau dikekang, seperti kuda liar tapi terlihat bermartabat. Aku sedikit iri dengan sifatnya yang terang-terangan, tidak berusaha menutup diri di depan publik—bisa dibilang putri yang pemberani.
"Ya….mungkin…aku sedikit kekanak-kanakan ya? Tidak ada Lian Shi yang bisa mengawasiku setiap saat sudah membuatku terlalu bebas," gumamnya, merasa sedikit bersalah. Karena itulah Lian Shi memintaku mengawasimu, tapi sepertinya tugasku tidak berjalan terlalu baik, bisa dikatakan lukaku sedikit menghambatku.
Tiba-tiba saja kereta menabrak sesuatu yang keras, membuatku dan Shang Xiang terhentak kaget. Kereta berhenti dan suara orang ribut terdengar dari luar kereta. Bagian kursi Shang Xiang menurun di satu sisi, sepertinya salah satu roda rusak karena menabrak sesuatu tadi. Shang Xiang terlihat sedikit shock, memegangi daun jendela dan sebelah tangannya diletakkan di dadanya—napasnya sedikit tidak teratur.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku khawatir, memegangi tangannya dari seberangku.
Shang Xiang menggeleng, tapi wajahnya masih sedikit pucat.
Pintu kereta bagian belakang terbuka, salah satu prajurit memanggil kami, "Jendral, putri, kalian tidak apa-apa? Maaf, sepertinya kalian harus keluar sebentar, kereta menghantam batu tajam dan rodanya rusak."
Aku menuntun Shang Xiang untuk keluar lebih dulu. Perlahan aku menuruni tangga kereta, sebisa mungkin tidak membuat lukaku bertambah parah.
"Hati-hati," kata Shang Xiang, memegangi tanganku. Wajahnya terlihat khawatir, melihatku berjalan di jalanan berbatu besar yang sedikit tajam. Tidak hati-hati, kakiku yang luka bisa terkilir dan membuatku tidak bisa berjalan lagi.
Kami terduduk di bawah pohon, melihat para prajurit sedang sibuk memperbaiki roda kereta yang rusak parah. Lu Xun dan Lu Meng datang dari barisan depan dengan kuda mereka, disusul oleh Gan Ning.
"Ada apa ini?" tanya Lu Meng sambil turun dari kudanya.
"Roda kereta menghantam batu tajam dan rusak parah, Jendral," kata seorang prajurit.
Lu Xun turun dari kudanya dan menghampiri kami, "Kalian tidak apa-apa?"
"Ya, untuk saat ini tidak masalah," kataku.
Sesaat pandangan Lu Xun dan Shang Xiang bertemu dan dengan cepat si putri mengalihkan pandangannya. Lu Xun mendesah sesaat dan pergi meninggalkan kami untuk memantau para prajurit yang sedang memperbaiki roda kereta.
"Sebegitu parahnya kah pertengkaran kalian?" bisikku.
"Aku...begitu melihatnya...entahlah, aku tidak tahu harus mengatakan apa," balasnya berbisik.
Aku menepuk-nepuk kepalanya, sedikit memberi semangat—melihatnya sedikit segan dan takut menghadapi Lu Xun. Seharusnya, seorang putri berani menatap mata siapapun itu yang ada di hadapannya—berani dan kuat. Kelemahannya tersembunyi dibalik ekspresi wajahnya yang tegar dan berwibawa, dalam situasi apapun harus menahan ketidaksukaannya sekuat tenaga—walaupun harus melukai mentalnya sekalipun. Putri yang sejati dan kuat, Shang Xiang masih jauh dari kriteria putri seperti itu. Atau, dia bisa menciptakan sosok putri yang berbeda—yang benar-benar dirinya sendiri? Unik, seperti yang selalu dikatakan oleh Jendral Zhou Yu begitu melihat tingkah laku Shang Xiang yang sedikit 'di luar aturan'.
"Hua!" teriak Shang Xiang sambil menunjuk-nunjuk jalan berbatu di depannya. Aku melihat daun semanggi berkelopak empat yang tumbuh di antara bebatuan tajam dan hanya satu. Unik, kata itu terlintas di dalam benakku—setangkai daun keberuntungan di antara jalanan berbatu tajam.
"Hei, hei! Itu milikku ya!" kata Shang Xiang girang, tanpa mengalihkan pandangannya dari daun itu. Senyumnya kembali muncul di wajahnya yang murung sejak tadi pagi—terlihat lebih baik.
"Hei, apa yang sedang kalian lakukan disini—"
"Jangan—" teriak Shang Xiang tiba-tiba, tapi terlambat. Gan Ning yang melangkah ke arah kami, tanpa sengaja menginjak daun clover itu. Shang Xiang memelototinya marah—pertengkaran baru akan segera dimulai.
"Apa?" tanya Gan Ning bingung.
"Kau merusaknya!" balas Shang Xiang, sambil bangkit dari duduknya.
"Merusak apa?"
"Keberuntunganku! Urgh! Kau membuat hariku jadi bertambah buruk tau!"
"Apa sich maksudmu? Lagipula, bukan urusanku harimu itu baik atau buruk," balas Gan Ning sambil melangkah ke samping.
Shang Xiang terlihat ngeri melihat daun clovernya layu terinjak Gan Ning. Sesaat aku melihatnya seperti mau menangis.
"Hei, hei," aku berdiri dari dudukku, sambil memegangi batang pohon. Kutepuk-tepuk bahunya, menyesali hal yang tidak perlu.
"Daunku—"
Gan Ning memperhatikan kami dan daun yang sudah dia injak bergantian. Sepertinya dia tidak mengerti apa maksud kemarahan Shang Xiang. "Kau memarahiku karena...daun?"
"Itu bukan daun biasa, itu clover kelopak empat!" balas Shang Xiang kesal.
"Hah?"
"Pembawa keberuntungan, bodoh!"
"Mana aku tahu. Lagipula, kau percaya hal-hal...takhayul seperti itu?" Gan Ning mengerutkan alisnya, terlihat kesal dengan kisah dongeng yang diceritakan oleh si putri.
Belum sempat Shang Xiang berkomentar, terdengar teriakan seseorang dari kejauhan. Semua perhatian mencari-cari sumber suara itu, kebanyakan orang mempersiapkan senjata mereka di tangan.
"Ada apa ini?" tanya Lu Meng bingung, memegang tombaknya sambil mondar-mandir.
Para prajurit juga terlihat bingung. Lalu, seseorang menarik perhatianku—seorang prajurit— keluar dari hutan sambil lari terbirit-birit.
"Ban..Bandit! Bandit-bandit itu kembali!" teriak prajurit itu, sambil lari terbirit-birit. Wajahnya berlumuran darah, yang mungkin bukanlah darahnya.
Semua bersiaga memegang senjatanya di posisi masing-masing. Aku bingung mencari tombakku, yang ternyata tertinggal di dalam kereta. Para bandit itu muncul dari hutan, sepertinya lebih banyak daripada dugaanku. Bandit-bandit yang berhasil lari membawa harta benda warga, kenapa bisa kembali lagi kesini?
"Siap-siap untuk bertahan! Lu Xun, ikut denganku ke barisan depan! Gan Ning, lindungi Ling Tong dan Shang Xiang!" teriak Lu Meng. Aku menganga dibuatnya, bisa-bisanya Lu Meng memerintah Gan Ning untuk...melindungiku? Ini tidak masuk akal.
"Hah? Melindungi dia? Yang benar saja?" teriak Gan Ning kesal.
Aku berniat pergi kembali ke kereta, mengambil tombakku dan tanpa kusadari Shang Xiang hilang dari sampingku. Aku melihat-lihat kesekeliling, mencarinya dengan panik. Jangan sampai dia berbuat bodoh, menyerang bandit-bandit ke barisan depan.
"Di mana Shang Xiang?" tanyaku pada Gan Ning yang sedang mondar-mandir sendiri dengan kesal—
Mematuhi perintah Lu Meng atau membangkang.
"Mana kutahu!" teriaknya kesal.
Aku berjalan ke arah kereta, berusaha menghindari batu-batu tajam yang mungkin tanpa sengaja kuinjak. Selangkah lagi aku bisa menggapai pintu kereta, tapi perhatianku teralih oleh dua orang bandit di sampingku. Mereka berlari sambil membawa pedang di tangan, haruskah aku melawan mereka dengan tangan kosong?
"Awas!" teriak Shang Xiang dari dalam kereta sambil memegang busurnya kuat-kuat, siap melepas anak panahnya. Wajahnya sedikit membuatku terpana, sorot mata tajam dan serius, berbeda dengan dirinya yang biasanya sering bertindak bodoh. Spontan aku menunduk dan desingan itu terdengar jelas dari atas kepalaku—panah melesat cepat dan tepat mengenai salah seorang bandit. Seorang bandit lagi sedikit terkejut melihat temannya berbaring tidak berdaya di sebelahnya dan kemudian panah kedua melesat. Bandit itu terjatuh di atas tubuh temannya yang sudah tidak bernyawa, berlumuran darah dari luka panah di dadanya. Shang Xiang berhasil mengalahkan dua orang bandit dengan cepat—untuk ukuran seorang jendral, aksinya bisa dikatakan mengagumkan.
Aku melihatnya, sesuatu yang tidak ingin kulihat. Wajah Shang Xiang sangat pucat, busurnya sudah tergeletak di bawahnya. Tangannya gemetaran, terlipat erat di depan dadanya. Matanya berkaca-kaca, seakan mau menangis. Bukan hal aneh kalau dia ketakutan, mengingat dia sudah membunuh orang dengan tangannya sendiri.
Tiba-tiba saja Shang Xiang jatuh terduduk. Aku langsung menghampirinya, ikut terduduk di sampingnya. Tanganku terasa kaku di atas kepala, setengah ingin mengelusnya tapi tidak bisa.
"Kau...tidak—"
"Kau ini bodoh ya? Kau mau sekarat untuk kedua kalinya?" Shang Xiang berteriak padaku.
Reaksinya tidak seperti dugaanku. Aku sedikit melongo dibuatnya, bisa-bisanya dia mengkhawatirkan keadaanku, seharusnya perasaan diri sendiri yang harus dia pentingkan.
"Astaga, tadi itu...begitu cepat! Kau tahu, aku sendiri tidak menyadari bisa menembakkan panah secepat dan setepat itu."
Aku tidak bisa menahan tawaku, melihat tingkah aneh dan polosnya ini—unik.
"Kenapa kau malah tertawa?"
"Kau ...lihat dirimu! Kau sudah membuktikan eksistensimu, kau tahu?"
"Eksistensi?" Shang Xiang mengerutkan kedua alisnya, terlihat bingung.
"Kau memperlihatkan sosok putrimu, putri yang kuat. Aku melihatnya tadi." Tatapan matanya yang kuat sudah menjadi bukti keberadaannya yang berpengaruh. Sekarang semua orang bisa mengakui kedudukannya dengan bangga, begitu juga aku. Mungkin, pekerjaanku sebagai penanggung jawabnya bisa dikatakan berhasil, walaupun dengan ketidaksengajaan yang di luar perkiraanku. Aku bisa sedikit berbangga diri di depan Lian Shi, mungkin dia akan tersenyum sekali lagi, untukku.
"Hei, mungkin mereka membutuhkan bantuan kita," katanya sambil cepat-cepat mengambil busurnya kembali. Dia memalingkan wajahnya dariku, tapi aku bisa melihat wajahnya yang memerah tersipu-sipu.
Aku segera mengambil tombakku dan mengikutinya keluar dari kereta. Sebagian besar bandit sudah berhasil dikalahkan dan sebagian lainnya masih harus dibekuk. Gan Ning berusaha melawan seorang bandit bertubuh besar yang membawa senjata seperti sebuah kapak besar. Gan Ning terlihat kelelahan, melihat tubuhnya terlihat lebih kecil bila dibandingkan dengan si bandit.
"Iuh...itu bagianmu. Aku tidak mau melawan monster itu!" kata Shang Xiang sambil berniat pergi. Aku menariknya dan memelototinya, "Aku baru saja bangga pada hasil kerja kerasmu, putri. Jangan membuatku kecewa."
"Tapi...lihat monster itu! Tubuhnya besar sekali! Kau tega membiarkanku melawannya?" omelnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah si monster bandit. Si bandit bertubuh besar itu sadar bahwa dirinya ditunjuk-tunjuk dan tampaknya dia tidak menyukainya.
"Aku kan tidak bilang kau harus melawannya sendiri. Bantu aku dan Gan Ning untuk melawan monster jelek itu, lukaku masih belum sembuh," kataku membalasnya. Aku memperhatikan si monster berjalan ke arah kami dan meninggalkan Gan Ning yang sedang mengumpat kesal sambil mengancamnya dengan kedua belatinya.
"Hei, dia sepertinya tahu niatmu," sindirku.
Shang Xiang memalingkan wajahnya, melihat kedatangan monster itu dari belakangnya. Si putri langsung lari dan bersembunyi di belakangku, "Kenapa...dia kesini?"
"Mungkin karena kau sudah mengejeknya."
"Aku tidak mengejeknya! Tapi, memang dia besar seperti monster dan...jelek," kata Shang Xiang kesal.
Si monster terlihat semakin kesal dan mulai mengayunkan kapaknya memutar.
"Wah..wah..dia kesini!" teriak Shang Xiang ribut sambil mencengkram bajuku.
"Aku tidak bisa melawan bahkan melindungimu kalau kau tidak bisa diam!"
Belum sempat aku beraksi, bandit raksasa itu terjatuh—roboh tepat di depanku. Lu Xun berdiri di belakang tubuh monster tidak berdaya itu, mungkin dia sudah memukulnya tepat di leher atau kepala botaknya—yang pasti berhasil merobohkan monster itu dalam sekali pukulan.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Gan Ning kesal di belakang Lu Xun sambil ngos-ngosan.
"Memukulnya?" Lu Xun terlihat tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
"Aku tahu itu, tapi kau sudah merebut bagianku! Dia mangsaku, kau tahu! Aku, hampir saja berhasil mengalahkannya, sebelum dua orang bodoh itu mengganggu pertarunganku!" teriak Gan Ning kesal.
"Hah?" kataku dan Shang Xiang bersamaan, tanpa disadari.
"Kalian selalu meributkan masalah yang tidak masuk akal. Pertarungan sekarang lebih penting daripada berdebat dan kalian bergerak terlalu lambat," kata Lu Xun sambil menyarungkan pedang kembarnya kembali ke dalam sarungnya.
"Aku tidak lambat!" teriak Shang Xiang memberanikan diri. Gan Ning dan Lu Xun menatapnya bingung.
"Ya, dia menyelamatkan nyawaku tadi. Putri berhasil mengalahkan dua bandit dalam dua tarikan panah, tanpa meleset," jelasku menggantikan Shang Xiang.
Wajah Shang Xiang tersipu lagi dan tangannya tidak melepaskan cengkramannya pada bajuku.
"Ho...akhirnya putri kecil kita berhasil melakukan tugasnya!" sindir Gan Ning sambil nyegir.
Emosi Shang Xiang kembali tersulut, "Aku tidak kecil, bodoh!" Shang Xiang berjalan ke arah Gan Ning dengan wajah kesal, berniat memukulnya dengan kedua tangannya yang terkepal di sisi pinggangnya.
Gan Ning yang melihat kedatangan Shang Xiang ke arahnya—dengan mata tegas, tajam, ditambah kewibawaannya yang sedikit terpancar—membuat Gan Ning goyah.
Dia berlari meninggalkan Shang Xiang, "Itu bukan urusanku!" teriaknya menjauh.
"Jangan kabur kau!" Shang Xiang berlari mengejarnya sekuat tenaga.
"Yang bodoh itu sebenarnya siapa sich?" gumamku.
Lu Xun tersenyum melihat Shang Xiang yang sudah lari menjauh, hampir hilang dari pandangan.
"Kenapa kau tersenyum?" tanyaku ingin tahu.
"Putri sudah berubah, maksudku menjadi lebih baik. Seandainya dia bisa tetap seperti tadi, menjaga keanggunannya daripada harus lari karena mengejar masalah yang tidak karuan."
"Dia itu putri yang unik," kataku. Sekali lagi, kata itu terpikirkan olehku. Keunikan yang kuidam-idamkan, yang kuinginkan. Keunikan yang memberikan kebebasan, kenyamanan, membentuk zona amannya tanpa diganggu orang lain.
"Unik?" tanya Lu Xun bingung, mengerutkan alisnya.
"O ya, kenapa bandit-bandit itu kembali?" tanyaku mengalihkan topik.
"Mereka sudah ada di sekitar sini sejak lama, berniat merampok orang yang lewat di dekat sini. Dan mereka benar-benar salah memilih buruan, mereka sendiri juga tidak menyangka kita adalah pasukan Wu yang menyerang mereka kemarin ini," jelas Lu Xun, sedikit geli menceritakan kisah sial para bandit itu.
"Ya, mereka memang butuh sedikit keberuntungan," gumamku, kisahku masih jauh lebih beruntung bila dibandingkan dengan mereka.
Special thanks for all reviewers! ^^ and of course for all the readers~ Thank's udah mau meluangkan waktunya untuk membaca FanFic ku~
Reply for some anonymous reviews:
~Huangzhi...Aku sendiri ngebayanginnya pake kostum DW7, walaupun kadang Ling Tong pake kostum DW6..heheehe..Tapi, ga apa kok, sesuain dengan imajinasimu saja..^^ Untuk pairing, sebenernya ga kepikiran sampe kesitu..hohoho. Ada request dari temenku buat LTxSSX, dan kupikir mereka lucu juga klo dipasangin (sebenarnya awal cerita tuh Ling Tong suka ma Lian Shi ^^) Untuk tarung antar kerajaan, sepertinya ga bisa dimunculin karena ceritanya sendiri udah tamat (gomen~ .) mungkin di cerita lain aku bisa munculin. See u next time~
~Finee...Thanks udah sempetin mereview^^
