Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dibacok Tite Kubo*

Seeking Happiness

Chapter 2

Di tengah guguran salju bulan akhir bulan Desember, seorang bocah mungil berambut putih dengan hanya berlindung jaket lusuh nan kotor, berjalan menyusuri pusat pertokoan kota Hueco Mundo yang dingin. Siapa yang mengira, kota Hueco Mundo yang kotor dan nista pun nampak begitu indah berlapis salju putih yang putih murni. Tetapi seputih apapun salju itu, tak akan bisa menutupi hitam penduduk kota yang hanya mengenal diri mereka sendiri, tak peduli sekali pun di samping mereka tetangga mereka mati kelaparan dan membeku oleh dinginnya bulan Desember.

Nampak sepanjang mata emerald bocah itu menatap ke depan, yang nampak adalah orang-orang yang sibuk mempersipkan pesta pergantian tahun bersama keluarga mereka tercinta. Tetapi tidak dengan bocah mungil itu. Dia tidak pernah melihat ayahnya sejak ia lahir ke dunia, dan ia baru saja kehilangan ibundanya tadi pagi, dibawa pergi jauh oleh dua orang jahat pikirnya.

Telapak tangan kecilnya menyentuh jendela kaca sebuah restauran yang membeku. Telihat sebuah keluarga saling bercengkraman dengan hangat, tertawa sambil menyantap makan malam yang membuat air liur bocah kecil itu mengalir. Sampai, seorang pegawai restauran itu mengusirnya karena mengganggu pemandangan pengunjung mereka.

Tak ada makanan dan tempat yang hangat, bocah kecil itu lalu pergi ke lorong sempit dan duduk tanah yang kotor sambil memeluk lututnya kedada kecilnya. Kemudian ia mengusap-ngusapkan kedua tangannya dan menempelkannya di pipinya. 'Hangat...' pikirnya. Walau hanya kehangatan itu yang dimilikinya, ia tersenyum. Ia mengingatnya. Ketika ia kedinginan, ibundanya akan mengusapkan kedua tangannya dan menempalkannya dipipinya. Begitu hangat dan lembut...

Bocah itu lalu meletakkan tangan kecilnya diperutnya yang rata. Ia sangat lapar. Sejak tadi pagi ia belum makan apapun. Biasanya ibundanya membawakan makanan untuknya, entah itu sepotong roti yang didapat dari mengemis penjual roti atau meminta sisa makanan dari restauran. Tetapi ia tidak pernah selapar ini dan kesepian seperti ini... tidak pernah kerena ibundanya selalu ada disisinya...

Ia ingin menangis memanggil ibundanya. Tetapi ia tahu itu percuma. Ibundanya sekarang berada di tempat yang sangat jauh. Sangat jauh hingga tidak akan bisa mendengar suaranya. Oleh karena itu, ia bertekad menjemput ibundanya. Tetapi sebelum itu ia harus tetap hidup dan berjalan untuk mencapai tempat yang jauh itu.

Bocah kecil berambut putih itu kembali ke jalanan. Dipandangi dengan mata emeraldnya satu-persatu orang yang lalu-lalang. Lalu kemudian digapainya salah satu jaket tebal dan hangat milik seseorang yang nampak ramah dan lalu mengadahkan tangannya seperti yang ibundanya selalu lakukan untuk mendapatkan makanan. Tetapi orang itu malah menepis tangannya dengan kasar dan mendorongnya hingga terjatuh di tumpukan salju. Tak mudah menyerah, ia kembali bangkit dan mencari orang lain yang sekiranya mau memberikannya sedikit uang untuk membeli sepotong roti.

Ia baru saja beranjak empat tahun. Tetapi ia sudah terpaksa berjuang sendiri untuk melanjutkan hidupnya. Setelah dicaci-maki dan berulang kali dihempas ke jalanan, ia menemukan orang baik yang memberinya sedikit uang. Dengan tersenyum lebar, ia berlari menuju toko roti terdekat dan ditukarkannya uang itu dengan sepotong roti keras sisa kemarin.

Walaupun rasanya hambar dan keras, dengan riang bocah kecil itu melahap roti kecilnya. Belum habis roti di tangannya, seekor anjing liar yang terlihat sangat kelaparan menatap ke arahnya dengan buas. Lalu dengan kaki gemetar karena ketakutan ia berlari sekuat tenaga dan melupakan roti yang dipegangnya. Anjing itu tidak mengejarnya. Nampaknya anjing liar itu hanya mengincar roti yang dipeganganya oleh karena itu anjing itu tidak mengejarnya karena ia telah menjatuhkan rotinya.

Tubuh kecil bocah itu merasa sangat lelah dan mengantuk. kemudian ia menatap ke sekelilingnya dengan mata emeraldnya yang polos, mencari tempat yang kiranya cukup hangat untuk ia tinggali semalam. Tetapi ketika ia menemukan tempat yang hangat, gelandangan lain yang lebih tua dan berbadan lebih besar mengusirnya, mengatakan bahwa tempat itu milik mereka. Dan ia juga tidak bisa tidur di emperan toko, karena pemiliknya akan langsung mengusirnya.

Andai disaat seperti ini ibundanya di sisinya, maka ia tidak perlu mengalami hal seperti ini. karena, di manapun mereka bermalam ia akan terus merasa hangat karena ibundanya akan selalu memeluknya.

Malam kian larut, dan jam menunjukan pukul dua belas kurang lima. Lima menit lagi, maka tahun akan berganti. Banyak orang berkumpul di jalanan bersama kerabat dan keluarga mereka, menantikan pergantian tahun, berpesta dan bersuka ria. Dan beberapa orang lainnya lebih memilih tinggal di rumah dan duduk di depan perapian yang hangat sambil menyantap makanan lezat dan minuman hangat bersama keluarga mereka.

Tetapi tidak dengan bocah berambut putih itu. Ia tidak memiliki siapapun. Ia tidak memiliki rumah yang hangat dan makanan yang lezat. Tetapi ia bersyukur karena menemukan tempat yang cukup hangat untuk mengistirahatkan tubuh kecilnya yang kelelahan di lorong pertokoan yang kotor dan sempit.