Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dibantai Tite Kubo*

Seeking Happiness

Chapter 3

Langit tampak kelabu dan kelam di atas kota Hueco Mundo. Udarapun menjadi lebih dingin dari hari-hari biasanya. Jalan-jalan pusat pertokoan yang biasa sibuk, hari ini tampak sepi. Dan toko-toko yang biasa beraktifitas sejak pagi, hari ini memilih untuk tutup. Orang-orang yang biasa berpergian hari ini lebih memilih tinggal dalam rumah-rumah mereka yang hangat. Nampaknya hari ini badai salju akan menerjang kota kotor nan nista itu. Dan para geladangan yang tidak memiliki tempat tinggal sibuk mencari tempat berlindung.

Begitu juga dengan Toushiro. Kaki kecilnya berlari, mencari tempat yang bisa ia tempati untuk berlindung. Tetapi setiap kali ia menemukan tempat untuk berlindung, gelandangan yang lain akan mengusirnya atau mengatakan tempat itu terlalu sempit jika di tambah orang lagi. Tak ada satu pun yang memperdulikan bocah kecil yang lemah itu. Mereka terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri.

Salju mulai turun perlahan, tetapi Toushiro belum menemukan tempat untuk berlindung. Bocah mungil itu mulai panik. Kemudian sebuah tangan besar menarik lengannya yang kecil bagaikan lengan boneka. Mata emeraldnya terbelalak menatap seorang polisi mengenakan coat hitam menatapnya dengan marah. Toushiro ketakutan dan meronta hendak melarikan diri. Tetapi polisi itu menggenggam lengannya lebih kuat, "Hei nak! Sebentar lagi akan ada badai salju, cepat pulang ke rumahmu!" bentak polisi itu.

Kemudian Toushiro berhenti meronta dan menundukan kepalanya, "Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang." tanya sang polisi. Bocah kecil berambut putih itu menggelengkan kepalanya. Dan sang polisi pun mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.

"Aku tidak punya rumah." Jawab Toushiro pelan.

Mendengar jawaban bocah mungil berambut putih itu, sang polisi itu menghela nafasnya dan berlutut di hadapan bocah mungil itu, menatap mata emeraldnya yang berkaca-kaca, "Orang tuamu?"

"Ibundaku dibawa pergi oleh dua orang jahat." Jawab Toushiro polos.

"Ibumu diculik?" tanya polisi itu dengan nada terkejut. Bocah mungil itu kembali menggelengkan kepalanya.

"Tidak, ibunda pergi ke tempat yang jauh. Dan dua orang itu yang mengantarnya."

Mata sang polisi berdenyit-denyit tidak mengerti dengan jawaban polos sang bocah mungil berambut putih itu, "Uh'uh... Sebentar lagi badai salju akan datang. Sekarang kita pergi ke kantorku dulu, ya." kata sang polisi sambil menggandeng tangan kecil sang bocah, mengajaknya masuk kedalam mobilnya. Tetapi sang bocah berambut putih itu menolak ikut dengannya, berlari ke lorong sempit dan gemetar ketakutan.

Melihat hal itu, sang polisi mendekatinya perlahan, dan berlutut di hadapan bocah mungil itu. kemudian ia memegang pundak kecil yang gemetaran itu dan menatap mata emerald sang bocah dengan lembut, "Kau tidak perlu takut seperti itu. Aku tidak akan memakanmu," kata sang polisi sambil tersenyum ramah, mencoba membuat bocah mungil itu tidak takut lagi padanya, "namaku Kyouraku Shusui. Siapa namamu?" tanya Kyouraku.

"Hitsugaya Toushiro." jawab sang bocah pelan. Kemudian Kyouraku tersenyum padanya.

"Nah Toushiro, aku berjanji tidak akan menggigitmu. Sebentar lagi badai salju datang, kita pergi ke kantor paman ya." kata Kyouraku lembut.

Untuk semantara waktu bocah mungil itu hanya menatap Kyouraku dengan tatapan ragu. Tetapi kemudian ia mengangukan kepalanya dan membiarkan Kyouraku menggendongnya masuk kedalam mobil.

Di kantor polisi, seorang bocah kecil berambut putih duduk sambil menatap secangkir coklat panas yang mengeluarkan uap-uap putih dengan mata berbinar. Tetapi ia hanya menatapnya dan tidak berani menyentuhnya. Sementara itu di hadapannya seorang polisi berusia sekitar 28 tahun menatap sang bocah dengan simpati, "Uh'uh... Toushiro, kau boleh meminumnya." Kata Kyouraku, sang polisi kepada boach itu.

"Boleh?" tanya sang bocah sambil menatap Kyouraku ragu.

Kyouraku menganggukkan kepalanya. Setelah itu dengan mata berbinar sang bocah mengulurkan tangan kecilnya untuk meraih cangkir berisi coklat panas itu, "Hati-hati itu masih panas." Kata Kyouraku mengingatkan sang bocah mungil.

"Hangatnya." Kata sang bocah yang dengan senang menempelkan permukaan cangkir yang hangat ke pipinya. Melihat wajah senang sang bocah yang polos, tanpa Kyouraku sadari, ia tersenyum. Kemudian ia meraih cangkir miliknya dan perlahan meneguk cairan coklat panas didalamnya.

"Jadi Toushiro, ibumu dimana?" tanya Kyouraku membuka pembicaraan.

"Ibunda mati." Jawab Toushiro polos.

Mendengar jawaban polos sang bocah, Kyouraku tersedak. Lalu kemudian ia menatap wajah sang bocah yang meniup cangkirnya pelan dan kemudian meneguk coklat panas dalam cangkirnya perlahan. Setelah itu mata emerald sang bocah berbinar merasakan cairan manis dan pahit yang lembut juga hangat masuk kedalam mulutnya. Tak sedikitpun perasaan sedih terbesit di wajah polos bocah itu, "Toushiro... apa kau mengerti apa itu 'mati' ?" tanya Kyouraku.

Lalu dengan bersemangat sang bocah menganggukan kepalanya, "Ibunda bilang itu artinya pergi ke suatu tempat yang sangat jauh." Setelah itu sang bocah kembali meneguk coklat panasnya.

Kyouraku menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meletakkan telapak tangannya di dahinya, "Aku tidak pandai berbicara. Biar orang-orang di panti asuhan yang menjelaskannya kepadanya." gumam Kyouraku kepada dirinya sendiri.