Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dibankai Tite Kubo*
Seeking Happiness
Chapter 4
Sepasang kaki mungil berlari, menciptakan jejak-jejak kaki kecil diatas hamparan salju putih yang tercipta dari badai yang berlangsung selama hampir lima jam lamanya. Dengan senang Toushiro menjamahi setiap tumpukan salju putih yang baru dan tebal. Sejauh mata emeraldnya memandang, terlihat hamparan salju putih yang luas dan tebal menyelimuti kota hueco mundo. Ia hampir saja tidak mengenali kota kelahirannya. Pemandangan indah itu telah menghilangkan wajah hitam kota miskin yang kotor dan nista itu.
"Hei... jangan terlalu cepat." Panggil seorang polisi kepada bocah mungil berambut bagaikan salju itu. Kemudian bocah mungil itu menghentikan langkah kaki kecilnya dan membalikan badannya, menatap sang polisi yang dengan terengah-engah mengejarnya, dengan mata emeraldnya.
Selama badai salju berlangsung, sang polisi, Kyouraku mengatakan akan mengajak sang bocah mungil ke suatu tempat dimana anak-anak yang tidak memiliki orang tua sepertinya berkumpul. Disana bocah mungil akan memiliki tempat tinggal juga teman, sehingga ia tidak perlu hidup kesepian lagi di jalanan.
Toushiro menatap Kyouraku dengan mata berbinar, "Apa kita sudah dekat dengan tempat itu?" tanya sang bocah mungil tidak sabar segera sampai ke tempat yang Kyouraku janjikan. Ia sudah membayangkan bahwa tempat itu adalah tempat yang indah dan menyenangkan dimana anak-anak sebayanya bermain dengan gembira.
Kyouraku menghela nafasnya yang kemudian membeku menjadi uap putih karena udara yang begitu dingin. Toushiro yang melihat hal itu tertawa kecil.
"Ya sedikit lagi kita sampai." Jawab Kyouraku. Dalam hati ia merasa heran karena sang bocah mungil itu begitu bersemangat dengan suhu udara yang membekukan tulang ini. Padahal ia hanya mengenakan selembar jaket lusuh dan kotor untuk melindungi tubuh mungilnya yang rentan. Apa ia tidak merasa dingin? Pikir Kyouraku sambil melepas syal merahnya. Kemudian ia melilitkan syal itu ke leher bocah mungil yang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Itu untukmu." Kata Kyouraku sambil tersenyum ramah.
Mata emerald Toushiro terbelalak. Kemudian tangan mungilnya meraih syal merah yang melilit di lehernya dengan hangat, dan menyentuh permukaannya yang lembut. Baru kali ini ada orang yang begitu baik kepadanya, "Terima kasih." Kata Toushiro dengan suara bergetar.
Kyouraku mengangkat sebelah alisnya ketika melihat pundak kecil di hadapannya bergetar perlahan. Kemudian ia berlutut di hadapan bocah mungil itu dan mendapati mata emerald sang bocah berkaca-kaca oleh air mata yang juga mengalir di pipinya yang kemerah-merahan.
"Hei nak, kenapa kau menangis?" tanya Kyouraku panik karena telah membuat bocah mungil yang tidak bersalah, menangis.
"Aku... sejak aku lahir, baru kali ini ada orang yang begitu baik padaku." Jawab bocah mungil itu. Air matanya mengalir bertambah deras.
Hati Kyouraku berdenyuh mendengar jawaban bocah mungil itu. Bocah itu masih begitu kecil, baru beranjak empat tahun. Tubuhnya begitu mungil dan kurus tak terawat. Walau begitu mata emeraldnya yang besar berkilauan bagaikan permata, rambut putihnya bagaikan salju lembut yang membuat siapa pun ingin menyentuhnya, senyumnya begitu indah bagaikan mentari di pagi hari. Bocah mungil itu begitu indah bagaikan malaikat kecil. Ia sama sekali tidak bersalah, kenapa bocah mungil itu harus mengalami nasib yang begitu menyedihkan. Kenapa takdirnya begitu kejam? Kenapa orang-orang di sekitarnya tega memperlakukannya dengan buruk dan kasar? Bahkan Kyouraku tidak tega melihat air mata mengalir di pipinya.
Kyouraku mengulurkan tangannya dan menghapus air mata yang mengalir di pipi bocah mungil itu dengan jarinya. Kemudian ia mengangkat tubuh kecil bocah itu dan memeluknya di dadanya, "Tenanglah, orang-orang di panti asuhan akan memperlakukanmu dengan baik." Kata Kyouraku lembut.
Tubuh kecil itu berhenti bergetar di pelukan Kyouraku. kemudian dengan malu-malu sang bocah membenamkan wajahnya di dada Kyouraku dan menganggukan kepalanya perlahan. Melihat hal itu itu sang polisi tersenyum dan menggendong sang bocah menuju rumah yang barunya.
