Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dimutilasi Tite Kubo*

Seeking Happiness

Chapter 5

Sepasang mata emerald berbinar menatap sebuah banguan tua di hadapannya. Bangunan tua itu adalah sebuah panti asuhan tua dan sederhana dengan halaman yang tidak luas. Walau tembok bangunan itu terdapat retakan di sana-sini, beberapa tambalan tidak rapih di atap, serta warna catnya pudar dimakan oleh waktu, tetapi panti asuhan itu tampak apik dan terawat dengan baik. Dan ketika Kyouraku serta Toushiro menginjakkan kaki mereka di halaman rumah itu, terdengar suara anak-anak berteriak dan tertawa bahagia.

Toushiro mengalihkan pandangnnya ke arah suara itu berasal, lalu mata emerald sang bocah mungil berambut putih itu kembali berbinar melihat beberapa anak bermain perang salju di halaman panti asuhan, mereka terlihat begitu senang dan bahagia. Tetapi kemudian mata emerald Toushiro berubah menjadi sedih. Sebentar lagi ia akan menjadi salah satu penghuni panti asuhan itu. Tapi apa mungkin ia bisa menjadi bagian dari anak-anak itu? Apa mungkin mereka mau menerimanya? Tanpa Toushiro sadari, tangan mungilnya meraih mantel hitam milik Kyouraku dan menariknya perlahan.

Merasa mantelnya ditarik, Kyouraku menatap sang bocah mungil yang berpegangan erat pada mantelnya. Mata emerald bocah mungil itu terpaku pada anak-anak yang sedang bermain perang salju di halaman. Kemudian Kyouraku tersenyum dan mengelus-elus rambut putih sang bocah dengan lembut, "Ayo kita masuk ke dalam." ajak Kyouraku kepada sang bocah mungil yang menatapnya bingung. Lalu kemudian sang bocah menganggukan kepalanya dengan bersemangat dan tersenyum lebar kepada sang polisi.

Ketika masuk ke dalam panti asuhan, Toushiro menatap ke sekelilingnya dengan tatapan takjub. Tempat itu begitu sederhana dan tidak memiliki banyak perabotan. Tetapi, bagi sang bocah mungil tempat itu adalah tempat yang sangat luar biasa. Baginya yang selalu tidur di atas lantai yang kotor dan di bawah langit dan kelam, tempat itu bagaikan istana. Begitu hangat dan nyaman, tidak seperti jalanan yang dingin dan kotor. Dalam hati sang bocah mungil bertanya-tanya, apa mungkin pemiliki tempat ini akan mengizinkan bocah kotor sepertinya tinggal di tempat ini? apa pantas ia tinggal di tempat sebagus ini?

Lalu kemudian tangan mungil sang bocah berpegangan erat pada mantel hitam Kyouraku dan bersembunyi dibaliknya, ketika dua wanita yang lebih muda dari Kyouraku menghampiri mereka. Salah satu dari wanita muda itu berambut silver dan bertubuh sangat tinggi untuk ukuran seorang wanita. Ia tersenyum ramah ketika melihat mereka. Sedangkan wanita muda yang lainnya berambut hitam dan bertubuh ramping. Mata hitamnya menatap Kyouraku dengan tajam dari balik kacamatanya.

"Nanao-chan, aku sangat merindukanmu." Kata Kyouraku sambil melompat memeluk sang wanita berambut hitam. Tetapi kemudian wanita yang dimaksud memukulnya dengan papan penjepit yang dipegangnya. Terkejut melihat hal itu, Toushiro berlari dan bersembunyi ketakutan di balik pintu, 'Kakak itu berani memukul seorang polisi, ia pasti sangat kejam dan menakutkan.' pikir sang bocah mungil sambil meringkuk ketakutan. Nampaknya tempat itu tidak senyaman yang ia kira.

"Yare... yare... kau membuatnya ketakutan, Nanao-chan." Kata kyouraku sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit dipukul oleh Nanao, yang masih menatapnya dengan tajam.

"Itu salahmu!" Jawab Nanao kesal. Dalam hati ia merasa bersalah karena telah membuat bocah mungil yang tidak bersalah gemetar ketakutan. Sebenarnya ia tidak bermaksud melakukan kekerasan dihadapan anak-anak, tetapi bocah itu terlalu mungil dan bersembunyi di belakang Kyouraku sehingga bocah mungil berambut putih itu sama sekali tidak terlihat olehnya.

Kyouraku menghampiri Toushiro yang bersembunyi di balik pintu dan menggendong sang bocah berambut putih itu mendekati Nanao. Tetapi ketika sang bocah mungil melihat Nanao, dengan ketakutan ia menyembunyikan wajahnya di dada Kyouraku dan mencengkram mantel hitam sang polisi dengan sangat erat.

"Kau tidak perlu takut seperti itu kepada Nanao-chan, Toushiro." kata Kyouraku sambil mengelus-elus rambut putih sang bocah mungil dengan lembut. Mendengar itu, sang bocah mengangkat wajahnya dan menatap Nanao yang tersenyum lembut kepadanya. Tetapi kemudian ia kembali membenamkan wajahnya di dada Kyouraku karena malu. Baru kali ini ia melihat seseorang tersenyum lembut seperti itu selain ibundanya.

Kyouraku menghela nafasnya, " Toushiro, walau sedikit galak, Nanao itu gadis yang sangat baik. Dia tidak akan menggigit atau memakanmu." Kata Kyouraku meyakinkan sang bocah mungil.

Toushiro mengangkat wajahnya sedikit dari dada Kyouraku dan mengintip Nanao dari sudut matanya. Lalu perlahan Nanao mendekati bocah mungil itu, "Hai Toushiro, namaku Nanao. Maaf sudah membuatmu terkejut. Kau tidak perlu takut seperti itu kepadaku ya." kata Nanao lembut, mencoba untuk tidak membuat bocah malang itu ketakutan lagi karenanya.

Yakin sang wanita muda berambut hitam tidak akan menyakitinya, Toushiro mengakat seluruh wajahnya dan menatap Nanao, "Hai... kak Nanao." sapa sang bocah berambut putih itu malu-malu sambil melambaikan tangan mungilnya. Mata emeraldnya terlihat berkaca-kaca, dan wajah yang merona seperti apel merah karena malu. Melihat bocah mungil itu, Nanao seperti melihat malaikat kecil dari surga.

Kyouraku lalu mengelus-elus rambut putih Toushiro, "Yosh... kau tidak perlu takut kepada Nanao-chanku yang lembut." kata Kyouraku sambil menyengir lebar. Sementara itu sang wanita muda yang dimaksud merona karena malu.

Setelah itu, raut wajah Kyouraku menjadi sedih, "Nanao, aku sebenarnya tidak mau menambah beban tanggunganmu, tetapi aku mau menitipkan Toushiro di sini." Kata Kyouraku pelan. Dalam hati ia merasa sedikit bersalah karena telah menambah tanggungan panti asuhan kecil dan miskin itu. Tetapi ia juga tidak ingin membiarkan bocah mungil seperti Toushiro hidup terlantar sendirian di jalanan. Bocah sekecil itu masih sangat membutuhkan perhatian juga kasih sayang dari orang lain. Selain itu Kyouraku juga ingin bocah mungil itu bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak serta makanan tanpa harus mengemis atau mengais-ngais sisa makanan orang lain. Bocah mungil seindah Toushiro tidak pantas mengalami hal seperti itu.

Lalu kemudian Nanao menggambil Toushiro dari Kyouraku dan memeluknya, "Tentu saja, kami dengan sangat senang akan merawat malaikat kecil ini." kata Nanao sambil tersenyum kepada Kyouraku. "Anak-anak yang lain juga pasti dengan sangat senang dengan kedatangan Toushiro."

Toushiro menatap Nanao dengan mata berbinar-binar, "Apa boleh aku tinggal disini?" tanya sang bocah mungil malu-malu. Setelah itu Nanao mengelus-elus rambut putihnya dengan lembut, "Tentu saja boleh." jawab Nanao dengan nada lembut. Ia simpati karena bocah mungil yang begitu indah seperti Toushiro harus mengalami hal yang begitu menyedihkan. Padahal ia masih begitu muda dan kecil, tetapi ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi dan harus tinggal di panti asuhan.

"Anak-anak yang lain pasti akan sangat senang bertemu denganmu."