Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dicincang Tite Kubo*

Seeking Happiness

Chapter 9

Dengan susah payah, Rukia mencoba menghilangkan noda di rambut putih Toushiro. Walaupun sudah berulang kali sang gadis kecil bermata violet mencuci rambut sang bocah berambut putih, noda kehitaman seperti noda oli bekas di rambutnya tetap membandel dan tidak mau hilang.

"Ruki-nee... nodanya tidak hilang juga tidak apa-apa." Kata sang bocah mungil merasa kedinginan. Sudah hampir setengah jam sang gadis kecil bermata violet dan mencoba menghilangkan tiap titik noda di rambut putih sang bocah mungil. Rukia tidak akan berhenti sampai ia yakin tidak ada sedikit pun kotoran menempel di tubuh sang bocah mungil.

"Tidak... aku tidak akan berhenti sampai rambut putihmu benar-benar bersih, Toushiro." kata Rukia keras kepala sambil menambahkan shampo ke atas kepala sang bocah mungil.

"Tapi aku kedinginan." Kata sang bocah mungil dengan mata berkaca-kaca. Bibir mungilnya mulai membiru dan tubuh kecilnya mulai bergetar karena kedinginan.

Mendapati hal itu, Rukia sangat terkejut. Ia tidak menyadari bahwa mereka sudah hampir setengah jam berada di kamar mandi, "Oh... maafkan aku Shiro-chan, aku tidak menyadarinya." kata rukia dengan nada menyesal. Ia menyesal karena sudah membuat bocah mungil malang itu kedinginan hingga tubuh kecilnya gemetar, "Biar aku bersihkan dulu busa shamponya, baru kita keringkan badanmu ya." kata Rukia sambil menyiram kepala Toushiro perlahan dan hati-hati dengan air bersih.

Setelah tidak ada lagi busa shampo menempal pada rambut putih Toushiro, Rukia mengambil sebuah handuk lembut dan mulai mengeringkan tubuh kecil sang bocah mungil sebelum ia membantu sang bocah mengenakan pakaiannya.

"Hoi... Rukia, Kau keterlaluan menahan Toushiro terlalu lama di kamar mandi!" Kata Renji ketika ia melihat sang gadis bermata violet dan Toushiro keluar dari kamar mandi. Ia mengerutkan dahinya mendapati bibir mungil sang bocah berambut putih nampak sedikit biru karena kedinginan, "Lihat dia kedinginan!" kata Renji sambil berlutut di hadapan sang bocah mungil dan memeriksa keadaannya. Ia takut sang bocah akan terserang flu.

"Kau pikir itu salah siapa?" tanya Rukia kesal sambil memukul kepala Renji, "Lain kali aku tidak akan membiarkan Toushiro bermain denganmu."

"Hei... itu tidak adil." Kata Renji kesal.

"Aku tidak mau Toushiro pulang dengan tubuh kotor dan rambut putihnya yang indah penuh noda sulit hilang seperti tadi!" Kata Rukia sambil menunjuk sedikit noda kehitam-hitaman yang masih menempel di rambut sang bocah mungil.

Mata emerald Toushiro menatap Renji dan Rukia yang berkelahi secara bergantian, "Maafkan aku." Kata Toushiro pelan. Sang bocah mungil menundukan kepalanya –merasa menyesal melihat Renji dan Rukia berkelahi karena dirinya, dan mata emeraldnya mulai berkaca-kaca.

Renji dan Rukia yang menyadari hal itu berhenti berkelahi dan menghibur sang bocah mungil, "Shiro-chan, ini bukan salahmu." Kata Rukia dengan lembut, "Lagi pula, aku dan Renji tidak benar-benar berkelahi kok, ya kan Renji?" tanya Rukia sambil menatap Renji.

Renji menganggukkan kepalanya, "Ya... yang Rukia katakan benar." kata Renji sambil menggendong sang bocah mungil, "Lagi pula, aku berkelahi dengan Rukia itu hal biasa. Jadi kau tidak perlu merasa sedih seperti itu, Toushiro."

"Sudah biasa?" tanya Toushiro bingung. Tanpa ia sadari ia memasukan jari kecilnya ke dalam mulut mungilnya –yang membuat Rukia bersyukur ia sudah mencuci bersih jari dan kuku sang bocah mungil, "Apa Ruki-nee membenci Ren-nii?"

Mendengar pertanyaan sang bocah mungil, Renji dan Rukia tertawa, "Kami berkelahi bukan karena kami saling membenci, Toushiro." kata Renji sambil mengelus-elus rambut putih sang bocah mungil, "Kami berkelahi karena kami adalah keluarga."

Toushiro menggerakan kepalanya ke samping, tampak jelas di mata emerald sang bocah mungil bahwa ia bingung.

"Aku memarahi Renji bukan karena aku benci kepadanya tetapi karena aku khawatir pada dirinya dan dirimu, Toushiro." Jelas Rukia, "Dalam keluarga, saling mengkhawatirkan satu sama lain itu wajar kan?"

"Sungguh?", tanya Toushiro sambil menatap sang gadis kecil bermata violet dengan mata emeraldnya yang besar. Rukia menganggukkan kepalanya –meyakinkan sang bocah mungil.

"Uh'uh... Apa aku juga termasuk dalam keluarga?" tanya sang bocah mungil lagi.

Renji dan Rukia saling bertatapan sebelumnya akhirnya mereka tersenyum lebar dan menjawab pertanyaan sang bocah mungil, "Tentu saja." jawab mereka berdua bersamaan, "Semua yang ada di panti asuhan ini adalah keluarga."

Mata emerald Toushiro berbinar senang, "Yay... aku memiliki keluarga!" teriak sang bocah mungil senang sambil mengangkat kedua tangan kecilnya ke udara yang membuat Renji dan Rukia tersenyum melihat keimutan sang bocah mungil.

"Oh iya... aku sudah memperbaiki mobilmu, Toushiro!" kata Renji sambil menunjukan sebuah mobil-mobilan berwarna merah.

Mata emerald sang bocah mungil kembali berbinar senang, "Terima kasih, Ren-nii." kata Toushiro senang. Kemudian sang bocah mungil teringat sesuatu dan turun dari gendongan Renji. Kemudian kaki kecil sang bocah berlari menuju tempat ia meletakkan benda-benda yang ia temukan di tempat pembuangan.

Rukia mengangkat sebelah alisnya melihat sang bocah mungil kembali mendekati dirinya dengan langkah malu-malu. Nampaknya ia menyembunyikan sesuatu di belakang punggung kecilnya.

"Ini untuk Ruki-nee." Kata sang bocah berambut putih sambil memberikan sebuah boneka kelinci lusuh dan kotor kepadanya. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajah imutnya.

"Ini untukku?" tanya Rukia dengan mata membesar karena terkejut.

"Iya... aku membawanya demi Ruki-nee." Jawab sang bocah mungil dengan bangga. ia tersenyum bertambah lebar melihat ekspersi terkejut Rukia.

Mata violet Rukia berubah lembut, "Terima kasih banyak, Toushiro!" kata sang gadis kecil bermata violet sambil mengelus-elus rambut putih Toushiro dengan lembut, "aku pasti akan menjaganya dengan baik."

~H~

Mind to review?

-kusanagi-