Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dicincang Tite Kubo*
Seeking Happiness
Chapter 12
Rukia duduk di teras panti asuhan sambil menatap titikan air hujan yang terhempas di tanah dengan tatapan kosong. Perlahan, matahari mulai tenggelam dan hari bertambah gelap. Sang gadis bermata violet melipat kedua lututnya ke dadanya dan memeluknya dengan erat. Sesekali ia menatap jam tua dan berdebu yang berdetik perlahan di dinding. Di wajah manisnya tergambarkan kekhawatiran karena enam jam yang lalu, setelah menolak tawaran keluarga Kuchiki untuk menjadi anak asuh mereka,tiba-tiba saja Toushiro berlari meninggalkan panti asuhan dan pergi entah ke mana.
Tidak hanya Rukia, semua orang di panti asuhan pun khawatir dengan keadaan sang bocah berambut putih. Akhirnya, dua jam yang lalu Renji memutuskan untuk pergi mencarinya. Tetapi hingga saat ini sang remaja berambut merah, ataupun sang bocah berambut putih masih belum kembali.
Rukia mengerutkan dahinya. Toushiro tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Ia tidak mengerti kenapa sang bocah berambut putih tiba-tiba bersikap seperti itu. Ya... akhir-akhir ini ia memang tidak mengerti sikap Toushiro. Belakangan ini ucapannya dan sikapnya menjadi lebih dewasa. Pada hal sebelumnya ia hanya bocahlah bocah mungil yang sangat cengeng dan penurut.
Rukia menghela nafasnya. Ia menyadari, sedikit demi sedikit seseorang pasti akan tumbuh dewasa. Begitu juga dengan Toushiro. Sang bocah berambut putih sedikit demi sedikit tumbuh menjadi orang dewasa yang tegar, membuat sang gadis bermata violet menjadi merasa sedikit sedih dan kesepian karena Toushiro tak lagi membutuhkan dirinya untuk merawat dan melindunginya.
Tetapi, bagaimana pun Toushiro tetaplah seorang bocah. Ia masih belum bisa mengendalikan emosinya, bahkan terkadang ia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Jika tidak, sekarang ini pasti ia tidak menghilang seperti ini.
Hari semakin gelap. Ditambah dengan turunya hujan deras, kekhawatiran Rukia bertambah. Ia khawatir jika nantinya sang bocah berambut salju terserang flu atau demam.
"Renji!" panggil Rukia ketika ia melihat sang remaja berambut merah berdiri di depan gerbang dengan tubuh basah kuyup. Rambut merahnya yang ia ikat turun karena basah oleh air hujan.
Mata violet Rukia berbinar ketika ia melihat seorang bocah berambut putih berdiri di belakang Renji. Dalam hati ia merasa sangat lega karena sang bocah baik-baik saja. Lalu tanpa memperdulikan tetesan air yang turun dari langit, ia berlari menyambut mereka berdua.
Rukia mengerutkan dahinya dan mengepalkan tangannya. Walaupun ia merasa sangat senang karena sang bocah berambut putih kembali dengan selamat, ia tidak boleh menunjukannya kepadanya. Setidaknya tidak untuk saat ini.
"Toushiro!" bentak Rukia marah. Ia harus menunjukan kepada sang bocah berambut putih bahwa ia telah membuat semua orang di panti asuhan khawatir dan itu bukan hal yang baik, "Kenapa tiba-tiba kau pergi? Apa kau tahu, kau sudah membuat semua orang khawatir!"
Toushiro menundukan kepalanya dan tidak berani manatap wajah marah Rukia. Ia tahu perbuatannya akan membuat semua orang di panti asuhannya menjadi khawatir, tetapi ia tidak bisa mengontrol emosi dan perasaannya. Dalam hati ia merasa sedih, kecewa dan marah karena Rukia akan meninggalkan panti asuhan, tetapi di saat yang sama ia ingin Rukia merasa bahagia. Oleh karena itulah ia pergi karena ia tidak ingin menunjukan ekspersi sedihnya di hadapan Rukia. Ia ingin Rukia memiliki keluarga yang akan menyayanginya. Walau artinya ia akan sangat merasa sedih dan terluka karena kehilanggan anggota kelurga yang sangat dicintainya.
"Toushiro!" bentak Rukia lagi, membuat tubuh kecil Toushiro tersentak kaget, "Apa kau mendengar ucapanku?"
"Ya." jawab Toushiro pelan. Ia ingin menangis, tetapi berusaha agar suarannya terdengar biasa dan menahan air matanya agar tidak mengalir lagi di pipinya.
"Kalau kau dengar ucapannku, angkat kepalamu dan lihat diriku!" kata Rukia marah. Tetapi sang bocah tidak mematuhinya dan tetap menundukan kepalanya –menutupi wajahnya dengan rambut putihnya yang basah oleh air hujan.
Toushiro bukan tidak mau mengakat wajahnya dan menatap Rukia, tetapi ia tidak mau sang gadis bermata violet melihatnya dalam keadaannya saat ini. Akibat menangis dalam waktu yang lama, mungkin berjam-jam, matanya menjadi sembam dan merah.
Toushiro ingin sekali melarikan diri ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam, tetapi sayangnya Renji mencengkram lengannya dengan erat hingga ia tidak bisa bergeming sedikitpun. Membuatnya terperangkap dalam tatapan marah Rukia dan tak bisa melarikan diri sedikitpun .
"Toushiro!" bentak Rukia lagi. Tetapi sang bocah tidak mau menatapnya dan tubuhnya sedikit bergetar.
"Rukia, sudahlah!" akhirnya Renji membuka mulutnya. Wajahnya nampak sedikit prihatin dengan keadaan sang bocah berambut putih yang tubuhnya gemetar kedinginan karena hujan.
"Untuk saat ini, apapun yang kau katakan kepadanya, dia tidak akan mau mendengarkanmu. Biarkan kami masuk dulu, air hujan ini semakin lama terasa sangat dingin." Kata Renji dengan suara gemetar. Ia pun merasa kedinginan.
Kemudian mata violet Rukia membesar, menyadari tubuh sang bocah berambut putih sedikit gemetar kedinginan. Lalu ia menyingkir dari hadapan mereka berdua, memberi jalan untuk Renji dan Toushiro masuk ke dalam.
~H~
Toushiro duduk di atas kasurnya sambil melipat kedua lututnya ke dadanya. Mata emeraldnya menatap kasur kosong di sisi lain kamarnya dengan tatapan kosong. Kasur itu adalah milik Jinta sebelumnya, namun sang bocah remaja berambut merah tidak lagi tinggal di panti asuhan ini.
Tak lama lagi akan ada anak baru yang akan menempatinya. Namun suasana kamar tidak akan sama seperti sebelumnya. Walaupun Jinta sangat berisik dan menyebalkan, tetapi di dalam hatinya yang terdalam Toushiro sangat menyukai keberadaan sang remaja berambut merah dalam kamar mereka. Setiap hari selalu saja ada hal bodoh dan aneh yang dilakukan Jinta hingga membuat suasana kamar tidak akan pernah sepi dan membosankan. Saat ini Toushiro sangat merindukan keberadaan sang remaja berambut merah yang merupakan bagian keluarga yang sangat penting baginya.
Toushiro menggeretakkan giginya mengingat semakin lama keluarganya semakin berkurang. Setiap tahunnya pasti ada anak yang pergi dari panti asuhan ini. Walaupun ada juga anak baru yang datang yang datang menggantikan keberadaan mereka, tetapi kenangan bersama mereka yang pergi membuat setiap perpisahan menjadi sangat menyakitkan. Ya... kali ini pun Rukia akan pergi meninggalkan panti asuhan dan hal itu amat sangat menyakitkan bagi sang bocah berambut salju.
Rukia adalah keluarga yang amat sangat penting baginya. Sang gadis bermata violet sangat baik kepadanya, bahkan sejak ia pertama kali menginjakkan kakinya di panti asuhan ini. Hubungan mereka berdua sangat dekat bahkan melebihi hubungan kakak-adik kandung sekalipun. Selama ini Rukia lah yang selalu merawatnya dan melindunginya hingga ia tumbuh sebesar ini. Keberadaan Rukia tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun. Walaupun masih ada Renji, tetapi ia tidak yakin ia bisa bertahan tanpa sang gadis bermata violet.
Tok... tok... tok...
Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu, membuat Toushiro terpejat dari lamunannya, "Toushiro, boleh aku masuk?" tanya Renji dari balik pintu.
Kemudian sang bocah berambut putih dengan segera menghapus air matanya yang tidak ia sadari mengalir di pipinya, "Iya... kau boleh masuk Ren-nii!" jawab Toushiro.
"Toushiro..." panggil Renji sambil menggaruk belakang kepalannya. Kemudian ia mendekati Toushiro dan duduk di samping sang bocah berambut salju, "Apa kau memiliki suatu masalah? Apa kau mau menceritakannya kepadaku?" tanyannya dengan wajah khawatir.
Toushiro menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau tiba-tiba pergi dari panti asuhan seperti tadi?" tanya Renji lagi.
"Tidak apa-apa... " jawab Toushiro pelan. Ia menundukan kepalanya.
Renji memperhatikan gerak-gerik Toushiro. Kemudian ia teringat dengan sikap sang bocah berambut putih terhadap Rukia sebelumnya, 'Apa mungkin ia memiliki masalah dengan Rukia?' tanya sang remaja berambut merah dalam hati, 'Tapi apa mungkin? Selama ini mereka tidak memiliki masalah dan Rukia sudah seperti induk kucing bagi Toushiro.'
Renji menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi. Kemudian ia menghela nafasnya dan kembali membuka mulutnya, "Apa kau memiliki masalah dengan Rukia?" tanya Renji sambil memperhatikan reaksi sang bocah berambut salju.
Mendengar pertanyaan Renji, Toushiro terpejat. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan Renji dan terus menundukan kapalanya.
"Ah... ternyata benar kau memiliki masalah dengan Rukia." Kata Renji. Toushiro sudah seperti adik kandungnya sendiri. Tanpa harus mendengar jawaban darinya, ia bisa mengetahui jawabannya hanya dengan melihat reaksi tubuh sang bocah berambut putih.
"Ada apa? Kalian tidak pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Renji dengan nada khawatir.
Toushiro mengangkat kepalanya dan menatap Renji dengan mata emeraldnya yang nampak terkejut, "Apa Ren-nii tidak tahu?" tanya Toushiro dengan nada terkejut, "Rukia-nee... Rukia-nee..." Toushiro terdiam sejenak. Kemudian ia kembali menundukan kepalanya, "Rukia-nee akan pergi dari panti asuhan..." sambungnya dengan suara pelan dan sedih.
"Apa katamu?" tanya Renji dengan mata terbelalak.
"Rukia-nee akan pergi dari panti asuhan. Dia akan pergi bersama keluarga Kuchiki."
~H~
"Maafkan aku Renji!" kata Rukia sambil menundukan kepalanya kepada sang remaja berambut merah yang nampak sangat marah dan kecewa.
"Sebenarnya aku tidak ingin merahasiakan hal ini kepadamu atau pada siapa pun. Aku ingin memberitahukan hal ini kepada semuanya. Tetapi aku butuh waktu yang tepat." Kata Rukia dengan nada sedih dan menyesal.
"Rukia..." kata Renji dengan nada sedih, "Kau boleh pergi ke manapun asalkan kau merasa bahagia. Kami tidak akan melarangmu walaupun kami akan merasa sangat sedih karena kehilanganmu."
Rukia mengangkat kepalanya dan menatap Renji yang tersenyum kepadanya. Tetapi Rukia tahu di balik senyuman itu, Renji mearasa sangat sedih dan terluka, "Renji... aku..."
"Sudahlah... keluarga Kuchiki nampak sangat baik dan ramah. Mereka pasti akan sangat menyayangi dan merawatmu dengan baik." Tambah Renji sambil terus tersenyum, "ah... Aku baru ingat... tadi Isane-san memanggilku. Aku pergi dulu Rukia." Kata sang remaja berambut merah sambil terburu-buru meninggalkan Rukia yang nampak khawatir.
Renji telah berbohong. Sebenarnya Isane tidak benar-benar memanggilnya, tetapi ia mengatakannya sebagai alasan agar ia bisa pergi dari hadapan Rukia karena ia ingin menangis. Dan jika ia berada di hadapan Rukia lebih lama lagi, ia tidak yakin bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir di pipinya.
'Toushiro...' Renji teringat akan sang bocah berambut putih. Ia jadi mengerti kenapa sang bocah tiba-tiba menghilang dari panti asuhan. Hal itu ia lakukan pasti karena ia tidak ingin menunjukan kesedihannya di hadapan Rukia. Ya... Mereka harus berpura-pura menunjukan bahwa mereka akan baik-baik saja jika Rukia pergi bersama keluarga barunya. Mereka harus membuatnya nampak seperti itu agar sang gadis bermata violet pergi dengan tidak membawa rasa khawatir atau pun sedih. Rukia pantas mendapatkan kebahagiaan.
Lalu diantara kesedihannya Renji memutuskan untuk pergi ke kamar Toushiro dan mengecek keadaan sang bocah berambut putih.
~H~
"Toushiro... apa kau sudah tidur?" tanya Renji pelan sambil mengintip ke dalam kamar sang bocah berambut putih yang ia panggil namanya. Lampu kamar sang bocah sudah dimatikan. Nampaknya sang bocah sudah tertidur. Lalu Renji masuk ke dalam kamar sang bocah untuk memastikan bahwa sang bocah sudah benar-benar tertidur.
Renji mendapati Toushiro tertidur sambil merintih seperti kesakitan dan suara nafasnya terdengar berat. Kemudian sang remaja berambut merah meyalakan lampu kamar dan terbelalak mendapati tubuh sang bocah berambut putih mengigil di bawah selimutnya. Wajahnya merona sangat merah dan terlihat seperti kesakitan. Nafasnya tersengal-sengal dan keringat membasahi dahinya.
Secepat kilat Renji mendekati Toushiro dan menyentuh dahi sang bocah berambut putih. Kemudian ia terpejat karena suhu badan Toushiro sangat panas. Dengan panik Renji berlari keluar kamar untuk menacari pertolongan. Dan satu orang yang muncul dalam kepalanya saat itu hanyalah Rukia.
~H~
Hwe... udah lama banget kusa ga apdet... (^_^)'
Yah... kira-kira sebulan lebih kusa menghilang dari FFN
Gomen... gomen... bulan kemarin kusa banyak banget tugas karena udah deket UAS
Karena UASnya udah selesai (Hore...XD) akan kusa usahain untuk mengapdet fic-fic yang lain juga
Adakah yang mau memberi saran fic mana dulu yang harus kusa utamakan?
Mind to review?
-kusanagi-
