Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dicincang Tite Kubo*
Seeking Happiness
"Toushiro... apa kau sudah tidur?" tanya Renji pelan sambil mengintip ke dalam kamar Toushiro. Tetapi kemudian ia terkejut mendapati sang bocah berambut putih mengigil di bawah selimutnya. Wajahnya merona sangat merah dan terlihat seperti kesakitan. Nafasnya tersengal-sengal dan keringat membasahi dahinya. Lalu Secepat kilat berlari untuk mencari Rukia.
Chapter 13
"Renji, bagaimana ini?" tanya Rukia dengan panik. Ini bukan pertama kalinya Rukia harus menghadapi anak terserang demam, tetapi tidak pernah separah keadaan Toushiro saat ini. Suhu badan Toushiro tak kunjung turun dan malah semakin bertambah tinggi.
Saat ini sang bocah berambut putih tidur meringkuk di bawah selimutnya dan menggigil. Wajahnya merona sangat merah dan keringat membasahi dahinya.
"Rukia... aku tahu kau panik, tapi tenang lah! Toushiro akan baik-baik saja, dia anak yang kuat kan?" kata Renji mencoba menenangkan Rukia. Walaupun ia berkata seperti itu, tetapi sebenarnya di dalam hatinya ia sangat mengkhawatirkan Toushiro.
Toushiro bukanlah anak yang bertubuh lemah. Dibandingkan dengan anak-anak yang lain, Toushiro lah anak yang paling jarang jatuh sakit. Tetapi buruknya, saat ia jatuh sakit, sakit yang dideritanya sangat parah hingga harus di rawat di rumah sakit. Oleh karena itulah, Rukia dan Renji sangat khawatir jika sang bocah berambut putih jatuh sakit.
"Rukia... Renji... Bagaimana keadaan Toushiro, apakah demamnya sudah turun?" tanya Nanao. Ia membawa nampan berisi obat dan segelas air untuk Toushiro.
Rukia menggelengkan kepalanya, "Tidak... walau dahinya sudah di kompres, tetapi demamnya tidak kunjung turun." kata Rukia.
"Setelah ini serahkan Toushiro padaku dan Renji. Biarkan kami yang merawat Toushiro. Besok kau harus mempersiapkan dirimu dan bangun pagi kan? Kuchiki-san akan menjemputmu." Kata Nanao sambil mengelus rambut Rukia dan tersenyum dengan lembut.
Renji terpejat, "Se... Secepat itu?" kata sang pemuda berambut merah tak percaya. Ia tidak menyangkan akan berpisah dengan Rukia secepat itu.
Rukia menganggukkan kepalanya sedih, "Ta... tapi aku akan meminta Kuchiki-san untuk mengundur waktunya. Aku ingin menemani dan merawat Toushiro sampai ia sembuh." Kata Rukia dengan nada optimis, walaupun sebenarnya ia tidak yakin mereka bisa mengundur waktunya karena Byakuya harus segera kembali ke Seireitei. Tetapi ia juga tidak ingin meninggalkan Toushiro dalam keadaan seperti ini.
Lalu tiba-tiba Rukia merasakan sebuah tangan kecil dan hangat menyentuh tangannya, "Rukia-nee..." pangil sang pemilik tangan dengan suara lemah.
"Tou... Toushiro... kau terbangun?" tanya Rukia sambil berlutut di sisi tempat tidur Toushiro dan memegang tangan sang bocah dengan erat, "Bagaimana perasaanmu?"
"Kau tidak boleh mengundur kepergianmu hanya demi diriku." Kata Toushiro pelan.
Rukia menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak akan pergi sampai kau sembuh." Kata Rukia dengan gigih.
"Aku akan baik-baik saja." kata Toushiro sambil tersenyum lemah mencoba meyakinkan Rukia.
"Ta... Tapi..." belum selesai Rukia berbicara, Toushiro memotongnya.
"Rukia-nee... Aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Kata Toushiro sambil menggengam tangan Rukia dengan erat. Ia mencoba menghapus sorot khawatir dari mata violet Rukia dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik sama walaupun ia tidak ada di sisinya. "Lagipula, di sini ada Renji-nii dan Nanao-san yang akan menjaga dan merawatku. Rukia-nee tidak usah khawatir. Ya kan... Ren-nii."
Renji menggaukan kepalanya walau dengan setengah hati karena ia tidak ingin Rukia pergi. Tetapi di sisi hatinya yang lain, ia ingin segera Rukia merasa bahagia.
"..."
"Semuanya akan baik-baik saja, Rukia-nee. Semuanya akan baik-baik saja... " kata Toushiro sambil tersenyum, "Karena itu segeralah pergi tidur."
Dengan itu Rukia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lalu ia bangkit dari posisinya semula untuk mengikuti permintaan Toushiro. Tetapi sebelum ia meninggalkan sang bocah berambut putih, Rukia mengecup kening Toushiro dan mengucapakn selamat tidur padanya juga pada Renji dan Nanao.
Setelah Rukia pergi, Toushiro menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Melihat hal itu Renji menghela nafasnya dan duduk di sisi tempat tidur sang bocah berambut putih.
"Kau yang berkata seperti itu... tetapi kau juga yang menangis." Kata Renji sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, "kemana hilangnya sikap sok kuatmu itu yang barusan itu?" tanyanya sambil menyengir.
"Be... berisik!" Kata Toushiro kesal dengan suara terisak.
"Nanao-san juga, kembalilah tidur! Biar aku yang menjaga bocah 'sok kuat' ini." kata Renji kepada Nanao yang sedang memeperhatikan mereka sambil tersenyum. Besok, ia harus bangun pagi sekali dan menyiapakn sarapan untuk anak-anak di panti asuhan. Nanao lalu menyetujui saran Renji dan segera kembali ke kamarnya.
Setelah Nanao pergi, perhatian Renji kembali pada Toushiro yang masih bersembunyi di balik selimutnya, "Hei kau... bocah keras kepala yang 'sok kuat'," kata Renji menambah daftar julukan sang bocah berambut putih, "mau sampai kapan kau menangis? Segera minum obatmu dan kembali tidur!" kata dengan nada bercanda.
"..."
Renji menghela nafasnya karena Toushiro tidak menjawab pertanyaanya. Lalu ia mengulurkan tangannya dan mengelus rambut putih sang bocah berambut putih yang dan mengelusnya dengan lembut, "Semuanya akan baik-baik saja, Toushiro. Semuanya akan baik-baik saja..."
Dari balik selimutnya Toushiro menganggukan kepalanya.
~H~
Keesokan harinya...
Dengan wajah khawatir Rukia menatap wajah Toushiro yang merah akibat demamnya. Walau begitu sang bocah berambut putih memaksakan dirinya untuk menghantar kepergian Rukia.
"Apa kau akan baik-baik saja Toushiro?" tanya Rukia khawatir. Dalam hatinya ia benar-benar tidak mau meninggalkan sang bocah benarambut putih dalam keadaan seperti itu.
"Tenang saja aku akan baik-baik saja." kata Toushiro sambil menyengir kepada Rukia, "Lihat demamku sudah turun." tambahnya lagi yang tentu saja adalah bohong karena sebenarnya demamnya sama sekali tidak turun sejak tadi malam.
"Tenanglah Rukia, serahkan semuanya padaku." Kata Renji yang berdiri di samping Toushiro sambil membusungkan dadanya dengan bangga.
Rukia menghela nafasnya lega. Sepertinya ia bisa meninggalkan panti asuhan dengan perasaan tenang. Ia bisa mengandalkan Renji untuk menjaga Toushiro dan anak-anak di panti asuhan.
"Ya... aku percaya padamu Renji." Kata Rukia sambil tersenyum. Kemudian ia kembali menatap Toushiro, ia teringat dengan ucapan sang bocah berambut putih tadi malam, 'Rukia-nee... Aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri.'
'Ia tumbuh dewasa dengan cepat tanpa aku sadari.' Kata Rukia bangga dalam hati, "Toushiro... aku mempercayakanmu untuk mengawasi Renji agar tidak berbuat bodoh!" kata Rukia sambil menyengir.
"Tentu saja..." kata Toushiro balik menyengir kepada Rukia, sementara Renji protes bahwa dirinya tidak butuh 'baby sitter' untuk mengawasinya.
Beberapa anak menangis menjelang keberangkatan Rukia. Tapi tidak dengan Renji dan Toushiro. Ya... ini lah yang terbaik untuk Rukia.
"Rukia... apa kau sudah siap?" tanya Hisana kepada sang gadis bermata violet.
"I.. iya tunggu sebentar aku akan ke sana."
Rukia menarik nafasnya. Lalu menatap semua penghuni panti asuhan yang menghantar keberangkatannya dan kemudian ia membungkukan badannya kepada mereka, "Terima kasih atas kebaikan kalian semua... terima kasih atas kenangan indah yang kalian berikan selama ini. terima kasih atas segalanya. Sekali lagi... terima kasih." Kata Rukia. Air matanya mengalir di pipinya mengingat semua kenangan yang ia dapatkan selama di panti asuhan yang telah membesarkanya.
Rukia kembali mengakat kepalanya, "Aku tidak akan pernah melupakan kalian semua. Tidak akan pernah..." kata Rukia. Mata voioletnya yang berlinang air mata menatap Toushiro dan Renji, dan kemudian memeluk keduanya dengan erat, "Terutama kalian berdua... sampai kapanpun aku tidak akan melupakan kalian berdua. Aku sangat menyayangi kalian Toushiro... Renji! Selamat tinggal!"
"Sampai jumpa Rukia-nee... " kata Toushiro sambil balas memeluk Rukia, "Suatu saat kita akan bertemu lagi kan? Karena itu sampai jumpa lagi!"
"Benar yang dikatakan Toushiro, Rukia. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal. Sampai jumpa, Rukia!" kata Renji yang juga membalas memeluk Rukia.
Rukia tertawa pelan, "Maafkan aku... kau benar. Sampai jumpa Toushiro... Renji... sampai jumpa semuanya!"
Setelah itu Rukia pergi meninggalkan panti asuhan dengan keyakinan bahwa suatu saat mereka akan bertemu dan berkumpul kembali.
~H~
Well... I am so sorry for not updet for so long time
There so many problems come to me, and I need much time to resolve it
I not sure when I can continue the rest of my fanfiction but I will try
Any way... if there is someone who interest to continue one of my fanfiction, I will give right you to continue it.
*plak* reader: ngomong apa sih lu?
Ha ha ha... XD
Gomen... gomen otak kusa konslet gara-gara kebanyakan ngerjain tugas... w
Yah... kalau ada yang tertarik buat ngelanjutin salah satu fic kusa, kusa kasih kalian kebebasan untuk buat VERSI KALIAN.
TAPIkusa kasih warning sebelumnya untuk kemungkinan 'suatu saat' kusa juga akan MEMPUBLISHVERSIKUSA.
So... if you interest, please confirm me at FB... XD
Mind to review?
Dari dasar jurang ke putus-asaan yang terdalam, -Kusanagi de Tsurugi-
