Hai, akhirnya kita ketemu lagi *ditendang gara2 kelamaan update*

Di chap sebelumnya saya belum sempet bilang kalo inspirasi buat nulis fic ini muncul saat saya nonton video clipnya SHINee (oh yeah, I watch them!) yang judulnya Hello! (persis judul fic ini) Saya pikir bakalan lucu kalo Harry dan Draco jadi tetangga, di tambah beberapa OC yang bikin tambah kisruh *nyengir*

Sekedar curhat, I had a really bad week. Like, really really bad. And writing this fic kinda released my despair *lebay* Hontou ni gomennasai ne, kalo update-nya agak2 telat. Maaf juga kalo chap ini ga sesuai harapan. Makasih banyak banget buat yang udah review dan fave *terharu* *hug*. Maaf banget belum sempet bales satu satu reviewnya.

Saran dan kritik akan selalu diterima dengan senang hati :)

Love,

Kurok1n.


Hello!

By : kurok1n

Harry Potter © JK Rowling


Kesan pertama yang Harry dapatkan saat memasuki flat Rachel adalah bahwa wanita ini pasti sangat menyukai kucing. Hampir seluruh dinding yang ada di ruangan itu penuh dengan lukisan dan gambar-gambar kucing. Pemandangan itu langsung mengingatkan Harry dengan Umbridge, mantan pegawai kementerian yang juga mantan kepala sekolahnya. Bedanya, jika Umbridge memiliki wajah yang mirip kodok, wajah Rachel adalah perpaduan antara Bibi Petunia dengan Dudley. Wajahnya lonjong, namun dengan pipi yang tembem. Ia mengingatkan Harry dengan Mrs. Weasley, yang kadang sangat cerewet namun sangat penyayang.

"Mari masuk nak, jangan sungkan." Ujar Rachel pada Harry.

Harry mengikutinya patuh, lalu duduk di sofa empuk berwarna cokelat tua.

"Dan kau juga, Draco, jangan hanya berdiri di situ saja, ayo ke sini."

Draco berjalan masuk dengan tenang. Tampak dari sikapnya yang cuek, ia sudah sering masuk ke ruangan ini. Pemuda itu lalu duduk santai sambil menyilangkan kaki di sofa tepat di depan Harry.

"Kurasa tempat duduk di sampingmu kosong, Malfoy." Tegur Harry.

"Kenapa? kau mau duduk di sampingku, Potter?" tanya Draco.

Harry langsung mengirimkan tatapan membunuh ke arahnya.

Lima menit kemudian, Rachel kembali dengan setoples kue dan teh yang masih mengepul. Sambil duduk, ia meletakkan teh itu di meja di hadapannya, Harry, Draco, serta satu lagi di depan tempat duduk yang masih kosong.

"Nah, Harry, ayo ceritakan tentang dirimu."

Alis Harry terangkat mendengar permintaan ini.

"Aku? Apa yang harus kuceritakan?"

"Oh, kau pasti punya banyak hal yang menarik. Orang tuamu mungkin?"

Harry terkejut dengan pertanyaan itu. Namun sejenak kemudian, ia tersenyum.

"Orang tuaku meninggal saat aku masih kecil," katanya. "Tapi aku masih punya ayah baptis yang sangat baik."

Rachel kelihatan terkejut, sementara Draco menatapnya tanpa berkedip.

"Oh, Dear, maafkan aku," katanya. Harry hanya menggeleng sambil tersenyum. "Mari kita ganti topik pertanyaan saja. Kau bekerja di mana?"

Harry bergerak gelisah. Ia melirik Draco yang tengah menatapnya dengan alis terangkat.

"Itu... sebenarnya aku−"

"Apakah aku telat?" seru sebuah suara dari arah pintu masuk. Terlihat seorang pemuda seumuran Harry yang berdiri dengan nafas terengah-engah di sana.

"Nick, sayang, kemana saja kau?" sapa Rachel. "Mari, sini masuk."

Pemuda bernama Nick itu kemudian melangkah masuk dengan cengiran di wajahnya. Ia lalu duduk di samping Draco dan memeluk pemuda itu.

"Miss me, Darling?" bisiknya mesra pada Draco, yang dihadiahi pukulan kecil di kepala dari pemuda berambut platinum tersebut. Harry nyaris menganga melihat kemesraan di depannya, sementara Nick hanya tertawa ringan menerima sambutan itu.

Harry memperhatikan bahwa pemuda itu memiliki postur tubuh yang ideal. Tubuhnya kelihatan berisi secara proporsional. Rambutnya pendek lurus berwarna pirang, yang dibiarkan terurai dan beberapa menutupi kening dan alis matanya. Hidungnya mancung sempurna, dengan mata indah berwarna biru laut. Harry sendiri menebak bahwa tinggi mereka sama. Sekilas, orang pasti akan mengira bahwa ia dan Draco bersaudara. Siapa yang menyangka bahwa mereka sebenarnya adalah kekasih.

"Nah, mari kita hentikan candaan ini," kata Rachel. "Nick, perkenalkan tetangga baru kita, Harry."

Harry menjabat uluran tangan pemuda itu sambil tersenyum.

"Harry." Katanya.

"Nick." Kata pemuda itu.

"Nick tinggal di sampingmu juga, Harry, jadi siapa tahu kau butuh bantuan, kau bisa datang padanya." Kata Rachel.

"Harusnya aku yang bilang begitu, Rach." Kata Nick.

"Oh, diamlah." Kata Rachel.

Harry sekarang mengerti mengapa sebelumnya Rachel membuatkan 4 cangkir teh untuk mereka. Sepertinya Draco dan Nick adalah pengunjung tetap flat Rachel−mereka pasti sering ke tempat ini bersama. Harry kini bertanya-tanya tentang Rachel sendiri, dimanakah keluarganya, karena semenjak Harry masuk ke ruangan ini tidak ada satupun orang lain yang kelihatan di flat wanita itu.

"Biar aku buatkan teh lagi," kata Rachel begitu melihat cangkir-cangkir yang mulai kosong. Ia lalu kembali melangkah ke dapur, meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.

"So, apa kalian pacaran?" tanya Nick.

Harry mengerutkan alisnya tidak mengerti.

"Maksudmu?" tanya Harry.

"Kalian berdua," kata Nick sambil menunjuk ia dan Draco, "kalian pacaran?"

Harry nyaris tersedak mendengar pertanyaan itu.

"What? No." Katanya.

"No?" tanya Nick.

"Absolutely not."

"Wow, tegas sekali." Kata Nick.

"Terima kasih." Kata Harry. "Bukannya kalian yang pacaran?"

Nick melirik sekilas ke arah Draco−yang anehnya terdiam−sebelum menjawab, "Wah, kelihatan ya?"

Harry hanya mengangkat bahu.

"Yah, banyak sih yang bilang begitu," kata Nick. "Kadang menyebalkan juga mengingat sebenarnya hubungan kami lebih dari itu."

"Lebih dari itu?" tanya Harry.

"Lebih dari itu." Kata Nick sambil tersenyum misterius yang, entah kenapa, membuat Harry teringat pada Blaise.

.

-o0o-

.

Harry sedang bersiap untuk pergi ke Kementerian−mengingat akhir minggu telah terlewati−saat ia mendengar seseorang membunyikan bel pintunya. Ia bergegas memakai kemejanya sebelum kemudian beranjak menuju pintu.

"Hai." Sapa Nick saat Harry membuka pintu.

"Hai." Sapa Harry.

"Hanya ingin mengundangmu ke acara di tempatku nanti malam. Kau bisa?" tanya Nick.

"Nanti malam?" tanya Harry.

"Ada acara kecil-kecilan di tempatku bekerja." Kata Nick.

Harry kemudian mengingat-ingat jadwalnya. "Kurasa bisa. Dimana acaranya?"

Nick kemudian memberikan secarik kertas kecil yang ternyata adalah kartu nama.

"Di situ tertera alamatnya. Kutunggu kau jam 8. Bye, Harry." Kata Nick sambil beranjak pergi. Harry hanya mengangguk.

Splash!Inc. Harry membaca dalam hati sebuah nama di situ, mengamati tulisan yang tertera rapi, sebelum akhirnya ia sadar bahwa ia harus segera pergi ke Kementerian.

Setelah memastikan ia berpakaian rapi−dan menyembunyikan jubah aurornya di dalam tas− ia kemudian berjalan keluar apartemen, menuju satu tempat teleportasi menuju Kementerian yang telah disamarkan menjadi toilet umum.

.

-o0o-

.

Kementerian Sihir masih sesibuk seperti biasanya. Perkamen-perkamen berbagai macam bentuk masih sibuk berseliweran sepanjang koridor berlantai hitam itu. Harry sendiri kini tengah sibuk membaca Daily Prophet, melihat gambarnya sendiri yang terpampang luas di lembar utama koran itu, menggeleng pelan sambil berjalan menuju lift. Tiga tahun nampaknya belum cukup bagi si Skeeter untuk berhenti menggosipkan dirinya.

"Gosip apa lagi kali ini, mate?" tanya sebuah suara di sampingnya. Harry menoleh dan mendapati Ron tengah mengamati koran yang di bacanya.

"Biasalah, mereka mungkin kehilangan objek berita semenjak perang usai, dan mulai mengejar-ngejar sang pahlawan." Kata Harry sambil mendesah.

"Kau benar-benar harus memperingatkan Skeeter, Harry. Setelah semua yang telah terjadi, ia tidak bisa terus menerus memperlakukanmu seperti ini." kata Hermione yang muncul entah dari mana.

"Aku tahu 'Mione. Hanya saja aku sudah terlalu malas untuk menanggapi segala hal ini. Buang-buang waktu saja." Kata Harry.

"Tapi−"

"Sudahlah 'Mione, biarkan Harry menikmati apa yang ia yakini." Kata Ron menengahi. "Ngomong-ngomong mate, maaf kami tidak bisa membantumu pindahan tempo hari."

"Tidak apa-apa, lagian Kingsley sudah memberiku pinjaman mobil."

"Sungguh? Apa mobilnya terbang?" tanya Ron antusias.

"Tidak, Ron. Justru itu alasannya memberiku tumpangan gratis DAN supir pribadi, agar aku tidak melakukan hal bodoh itu lagi."

"Hey, jangan bilang apa yang kita lakukan waktu itu bodoh." Protes Ron.

"Yeah, sejujurnya, pergi ke Hogwarts dengan mobil terbang memang fantastis." Kata Harry nyengir.

"Seriously, Harry, kau tidak bermaksud mengulanginya lagi, kan?" tanya Hermione.

"Dengan resiko dikeluarkan dari Hogwarts? Aku lebih memilih mati, 'Mione." Kata Harry yang disambut tawa oleh Ron, dan jitakan dari Hermione.

"Bagaimana flat barumu? Menyenangkan?" tanya Hermione. Harry seketika teringat Draco, Nick, juga Rachel.

"Hm, lumayan. Aku bertemu tetangga yang ramah." Kata Harry.

"Benarkah? Syukurlah. Aku sempat khawatir kau tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan tempat itu, mengingat semua penghuninya adalah muggle." Kata Hermione.

'Tidak semuanya.' Koreksi Harry dalam hati.

"Aku tinggal bersama muggle paling menyebalkan selama 11 tahun, ingat?"

"Yeah, dan sesuatu yang mereka gunakan membuatku pusing. Apa namanya? Felytone?" kata Ron.

"Telepon, Ron…" koreksi Hermione.

"Apapun lah. Aku heran bagaimana mereka bisa bertahan dengan semua itu."

"Kurasa kau harus ikut telaah muggle supaya kau mengerti." Kata Hermione.

"Terima kasih, 'Mione. Tapi ajak Harry saja." Kata Ron.

"Aku hidup bersama muggle, Ron. Aku tidak butuh itu. Yah, kecuali mereka punya tips menghadapi muggle seperti paman dan bibiku." Kata Harry.

.

-o0o-

.

Matahari sudah tenggelam sepenuhnya saat Harry berhasil menyelesaikan tugasnya hari itu. Tidak seperti biasanya yang mengharuskannya berada di lapangan, kali itu ia hanya harus duduk di depan meja dan meneliti dokumen-dokumen. Ron sendiri sudah pulang duluan tadi, ia harus mempersiapkan diri untuk acara makan malamnya bersama Hermione. Harry bermaksud memasukkan dokumen terakhir ke dalam rak penyimpanan saat terdengar suara ketukan dari arah pintu ruang kerjanya.

"Masih sibuk?" tanya seorang pemuda yang melongok dari pintu.

"Oh, Mark. Tidak, aku sudah selesai. Kau sendiri?" tanya Harry.

Mark Sven adalah pegawai Kementerian yang juga seangkatan Harry di Hogwarts. Perawakannya tinggi langsing dan gemar sekali memakai kemeja berwarna biru. Rambutnya lurus pendek berwarna cokelat pekat dan tertata rapi. Wajahnya putih bersih dengan hidung yang mancung. Ia kini bekerja di bagian hukum kementerian bersama Hermoine. Bedanya dengan Hermione yang cenderung selalu serius, Mark adalah orang yang santai. Dulu ia di asrama Ravenclaw.

"Kerjaanku sudah lama selesai, aku hanya bosan dan main ke sini." Kata Mark. "Ngomong-ngomong, bagaimana flat barumu? Menyenangkan?"

"Lumayan," kata Harry, "terima kasih atas bantuanmu mencarikannya untukku, Mark."

"No problem." Kata Mark.

"Ngomong-ngomong, kau ada acara malam ini?" tanya Harry.

"Tidak, kenapa?"

"Tetangga flatku mengadakan acara gathering di tempat kerjanya malam ini, mau menemaniku ke sana?"

"Dengan sekumpulan besar muggle?" tanya Mark.

"Sayangnya iya." Kata Harry.

"Takkan mungkin kulewatkan," cengir Mark.

Dan dimulailah perjalanan mereka menuju Splash!Inc, tempat yang ditunjukkan oleh Nick pagi itu. Mereka harus berjalan kira-kira seratus meter dari titik teleportasi sebelum akhirnya mencapai jalan menuju tempat dimaksud.

"Ini dia tempatnya," kata Harry saat mereka sampai di depan tempat itu.

Dan hingar bingar suara manusia serta gemerlap lampu bar adalah hal pertama yang menyambut mereka saat keduanya melangkah masuk. Tempat itu penuh dengan manusia−muggle, harry menebak, karena tak satupun diantara mereka yang terlihat membawa tongkat−yang bersorak dan berdansa. Siapa sangka tempat yang kelihatan tenang dari luar ternyata menyimpan histeria yang luar biasa di dalamnya.

Mata Harry secara otomatis menyesuaikan diri di ruangan berpenerangan minim itu. Mark sendiri terlihat terpukau dengan kondisi di sekitarnya.

"Blimey, Harry, siapa sangka muggle bisa begini liar?" katanya dengan cengiran lebar di wajahnya. Dan dalam hitungan detik, temannya itu sudah mulai menggerakkan badannya menyesuaikan irama musik di tempat itu.

"Mark, ayo cari Nick dulu," kata Harry setengah berteriak, mencoba mengalahkan musik yang semakin keras mengalun. Namun nampaknya Mark sudah masuk ke dalam pikuk dunianya sendiri dan tidak bisa diajak berkomunikasi. Harry akhirnya memutuskan mencari tetangganya itu sendirian.

Harry mencari-cari Nick di antara kerumunan yang terus menerus berlalu-lalang, bermaksud mengucapkan selamat atas acaranya yang sukses, lalu pulang dan menikmati malam yang tenang di flatnya yang nyaman. Ia berjalan susah payah menerobos gerombolan manusia yang saling merapat, mencari tempat yang lebih baik untuk melihat. Ia hampir yakin telah menemukan tempat yang tepat sebelum akhirnya ia menyadari dua pria yang ada di sampingnya sedang berciuman mesra.

"Shit!" umpatnya sebelum kemudian menyelamatkan diri.

Setelah hampir sepuluh menit berhimpit-himpitan dengan orang di tempat itu, ia akhirnya menemukan tempat yang cukup sepi dan luas untuk sekedar menenangkan nafasnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mendapati satu persatu orang di ruangan itu mulai kehilangan kendali diri. Ada satu spot di pojokan yang terlihat lebih kisruh dari yang lainnya. Harry mengamati bahwa tempat itu adalah meja bartender, dengan para pria dan wanita yang tengah menyoraki sesuatu. Harry berjinjit untuk melihat lebih jelas, dan apa yang kemudian dilihatnya membuatnya terpana.

Dalam semua arti.

Di depannya, Draco Malfoy sedang berada dalam pusat kerumunan. Kemeja bagian atasnya sedikit terbuka dan rambutnya setengah tergerai, tersibak lembut seiring ia menggerakkan tangan dan tubuhnya memutar, memintir, melempar, menangkap botol berwarna biru dan hijau bergantian. Sorak sorai semakin membahana saat ia menuangkan isinya ke dalam gelas, memberikannya pada gadis di depan, dengan senyuman miring khas seorang Malfoy.

Harry merasa sesuatu seperti menggelitik perutnya. Namun itu tidak cukup kuat untuk membuat arah pandangnya teralihkan. Dan entah sejak kapan, suara-suara bising kini berubah hening dan mengabur, lalu hanya menyisakan seorang Draco Malfoy di hadapannya. Rasanya beberapa menit telah terlewati dalam kondisi itu, sampai ia merasa telinga kirinya serasa tergelitik.

"Kau gay," bisik seseorang di sampingnya.

Harry mengerjap pelan. Visi Draco di depannya masih ada, namun ia merasa sesorang membisikinya sesuatu.

"Harry, kau gay," bisik suara itu lagi.

Harry mengerjap lagi, kali ini dengan cukup keras. Lalu sekonyong-konyong segala kebisingan, serta sorot-sorot lampu menerjangnya. Ia terhuyung sedikit ke belakang, lalu mengurut pelipisnya perlahan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tiba-tiba yang membuatnya pusing. Ia kembali menghadap ke depan hanya untuk mendapati Draco tengah memandanginya dengan satu alis terangkat.

'Shit.' rutuknya seraya mengalihkan pandangan. Entah kenapa wajahnya terasa panas. Saat ia menoleh ke samping, Nick tengah memandanginya dengan tatapan i-knew-it! di wajahnya.

"What?" gerutu Harry. Nick hanya tersenyum kecil.

"Sudah kuduga," katanya.

"Apa?"

"Bahwa kau gay," kata Nick.

Harry terbatuk seketika.

"What?" serunya.

"Dengan pandangan seperti tadi tertuju pada Draco, apa lagi yang bisa kusimpulkan?" ujar Nick.

"Pandangan seperti apa maksudmu?" tanya Harry.

"Seperti apa? Bagaimana kalau kukatakan bahwa kau nyaris ngiler saat melihatnya?"

Wajah Harry kembali terasa panas.

"Kau mengigau, Nick," gerutu Harry.

"Yeah, dan kau ngiler," ledek Nick.

"I didn't."

"Yes, you did."

"No, I did NOT."

"Oh, sudahlah, suatu saat kau pasti akan mengakuinya," kata Nick.

"Terserah kau sajalah," kata Harry.

"So, kau gay?" tanya Nick lagi.

"Jangan tanyakan itu lagi," kata Harry.

"Jadi kau mengakuinya?" tanya Nick.

"Tidak," kata Harry. "Kau gay?"

Nick mengangguk mantap.

"Oh…" hanya itu yang bisa Harry katakan.

"Kau pikir kenapa aku bersama Draco?" tanya Nick balik.

Harry hanya mengangguk. Hatinya entah kenapa serasa mencelos.

-End of Chapter 2-