Hai, ada yang punya cemilan? Saya kelaperan nih T.T
Long weekend ini saya di kosan aja, ga ngapa2in, nyante2, tidur siang sepuasnya, trus nerusin Hello! (udah kepalang dibikin jadi kudu diterusin). Menikmati senikmat2nya saat2 sante, karena setelah senin tiba (saya langsung stress inget ini), saya pasti bakalan sibuk dg dunia nyata /sigh/.
Oke, lupakan curhat ga penting ini, mari langsung ke ceritanya aja.
Sebelumnya saya pengen temen2 tau, bahwa saya emang sengaja bikin proses jatuh cinta DM sama HP itu berlangsung pelan, as smooth as possible, jadi saya usahain banget biar ga ada adegan cinta tabrak lari (tanpa angin tanpa hujan tau2 jatuh cinta aja). Mohon ingatkan saya juga kalo fic ini udah mulai mirip sinetron, because deep inside my heart, I hate that kind of fic :(
Dan maaf kalo chap ini kependekan.
Yoroshiku onegai shimasu~
Hello!
By : kurok1n
Harry Potter © JK Rowling
Harry merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Keputusannya untuk datang ke tempat Nick benar-benar sebuah kesalahan. Siapa sangka undangan itu ternyata adalah untuk menghadiri peresmian sebuah bar yang sangat bising?
Harry merasakan tubuhnya lelah oleh sesuatu yang absurd.
Dengan malas ia mencopot dasinya dan melemparkannya ke sembarang arah, melepas sepatu lalu mulai memejamkan mata, menikmati kasurnya yang sejuk dan nyaman. Kesadaran mulai terambil darinya ketika sayup sayup bel menghentaknya kembali ke dunia nyata.
'Ugh!' rutuknya dalam hati. Bahkan di dalam rumahnya sendiri, rasanya susah sekali mendapatkan ketenangan. Ia berusaha memejamkan mata kembali, menghiraukan dering bel pintunya yang terus menyahut. Gagal. Dengan kesal ia akhirnya menegakkan badan, lalu berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu depan dengan sedikit hentakan.
"Bisakah aku beristira−"
"Harry, syukurlah kau di sini." Kata orang di depannya yang ternyata Nick. Pemuda itu terlihat terengah-engah. "Temanmu, kurasa, pingsan di barku. Kau harus melihatnya."
Harry serta merta mengerutkan keningnya.
"Temanku? Siapa maksudmu?"
"Siapapun dia, sepertinya dia bukan orang yang kuat minum ya? Baru tiga gelas saja sudah tewas." Kata Nick. "Tapi dia sempat menyebut namamu sebelum pingsan, kupikir kau mungkin mengenalnya."
Harry seketika teringat pada Mark yang memang datang bersamanya ke tempat Nick. Ia sama sekali lupa bahwa pemuda itu memang peminum yang payah. Harry langsung didera perasaan bersalah karena telah meninggalkannya sendirian bersama sekumpulan muggle pemabuk.
"Dimana dia sekarang?" tanya Harry.
"Di tempatku. Ayo, kau harus ikut ke sana." Kata Nick sambil berjalan ke flatnya, yang untungnya hanya berjarak beberapa meter dari flat Harry.
Harry mengikuti Nick dari belakang, bertanya-tanya bagaimana keadaan Mark sekarang. Pertanyaan itu seketika terjawab saat ia masuk ke dalam flat tetangganya itu. Mark, dengan wajah merah dan rambutnya yang berantakan, tengah terbaring seadanya di atas tempat tidur Nick.
Harry mendesah melihat kondisi temannya itu.
"Sudah lama dia di sini?" tanya Harry.
"Baru saja kuletakkan di sana saat aku mendatangimu tadi." Kata Nick.
"Maaf telah merepotkanmu, Nick. Mungkin akan kupindahkan Mark ke flatku saja sekarang." Kata Harry sambil berjalan ke sisi Mark.
"Tidak usah terburu-buru," kata Nick tiba-tiba. Harry terkejut dengan nada memaksa di dalam suaranya. "Biarkan saja dia di sini dulu." Kata pemuda itu lagi.
Harry memandangi Mark lagi, yang sepertinya sedang tertidur pulas, lalu memutuskan mungkin ide Nick lah yang terbaik.
"Baiklah kalau kau memang tidak keberatan," kata Harry. "Biar kuambilkan baju untuk ganti."
"Kalau itu sudah kusiapkan," ujar Nick cepat. Lagi-lagi Harry terkejut dengan reaksi Nick yang tidak biasa. Namun ia diam saja saat pemuda itu menghampiri Mark lalu menggantikan bajunya.
"Nah, dengan begini semuanya selesai," kata Nick.
Harry menatap tetangganya itu dengan bingung.
"Lalu apa gunanya kau membawaku ke sini?"
"Well, untuk memastikan kau tahu bahwa temanmu berada di tempat yang aman dan mendapatkan perawatan yang tepat?" kata Nick.
Kening Harry berkerut semakin dalam.
Nick nyengir.
"Kau ingin aku tahu bahwa bahwa temanku yang usianya lebih dari 20 tahun telah dirawat dengan baik oleh tetanggaku dengan usia yang sama dan entah bagaimana mereka telah saling mengenal?"
"Kami tidak saling mengenal." Kata Nick.
"Tidak?" tanya Harry.
"Well, kami hanya bertemu di barku, itu saja." Jawab Nick dengan ekspresi anak kecil yang tertangkap basah melakukan kenakalan.
"Bolehkah aku menuduhmu telah berbuat yang tidak-tidak kepada temanku, Nick?" selidik Harry.
"Tidak, tentu saja tidak." Jawab Nick gugup. Alis Harry terangkat.
"Well, kurasa ada baiknya jika aku minta ramuan khusus untuk orang mabuk pada Rachel. Sampai nanti, Harry." Ujar Nick sambil buru-buru meninggalkan ruangan itu.
Ada sesuatu yang terjadi di sini, pikir Harry. Namun ia belum bisa memutuskan apa itu sebenarnya. Seraya memandangi temannya yang masih saja tertidur, ia akhirnya memutuskan untuk duduk dan menunggu si empunya rumah kembali.
Baru saja ia menempakan badannya di kursi, pintu di ruangan itu menjeplak terbuka.
"Nick, sudah kute−"
Harry langsung berdiri begitu menyadari siapa yang menerobos masuk.
"Potter."
"Malfoy." Balas Harry.
"Mau apa kau di sini?" tanya Draco ketus.
"Kurasa itu bukan urusanmu," kata Harry.
"Kau berada di dalam flat Nick, dan itu menjadi urusanku."
"Yeah? Memangnya siapa kau? Kekasihnya?"
Harry seketika menyesali ucapannya. 'Tentu saja mereka kekasih, apa sih yang kau pikirkan, bodoh?'
Namun Draco diam saja.
"Seperti apa hubunganku dengan Nick menurutku sama sekali bukan urusanmu, Potter."
'Yeah, kau benar,' ujar Harry dalam hati.
"Dan keberadaanku di sini juga bukan urusanmu, Malfoy," kata Harry. "Dan−tambahnya cepat-cepat saat dilihatnya Draco hendak membantah− jika kau memaksa untuk tahu alasanku berada di sini, itu karena temanku−Harry menunjuk Mark yang masih terbaring−pingsan dan sedang dirawat di sini."
Draco menaikkan satu alis matanya.
"Jadi orang yang tewas dalam 3 tegukan itu temanmu?" cibir Draco. "Tidak mengejutkan."
"Kurasa lemah dalam hal mabuk bukan sesuatu yang buruk," kata Harry. "Yah, kita memang punya penilaian yang jauh berbeda tentang baik dan buruk, ya?"
"Kuharap sindiran dalam kalimatmu hanyalah bayanganku saja, Potter." Kata Draco.
"Sayangnya itu nyata, Malfoy. Bercerminlah pada dirimu sendiri." Kata Harry.
"Oh ya? Itukah yang bisa diucapkan oleh seseorang yang tidak bisa berhenti memandangiku di bar tadi?"
Wajah Harry memerah.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." Kata Harry.
Draco menyeringai.
"Saat aku berada di bar Nick tadi, Potter, kurasa aku berhalusinasi tentang seseorang yang nyaris ngiler saat melihatku beraksi." Kata Draco sambil melangkah masuk. "Seseorang yang mirip sekali denganmu."
Harry susah payah menelah ludahnya.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Jawab Harry.
"Tidak heran kalau kau tidak mengerti. Karena kau terlalu larut di dalamnya." Kata Draco. Ia kini menyenderkan tubuhnya pada dinding di seberang tempat tidur, berhadapan langsung dengan Harry.
"Itukah yang kau lakukan saat kalah dalam berdebat, Malfoy? Berhalusinasi?"
"Well, masihkah disebut halusinasi jika yang mengalaminya lebih dari seorang?"
'Nick sialan,' rutuk Harry.
"Kau mabuk, Malfoy." Kata Harry.
"Aku sepenuhnya sadar, Potter." Kata Draco.
"Kau mabuk. Itulah satu-satunya alasan kenapa kau melantur seperti ini."
"Oh, ya?" ledek Draco.
"Ya. Dan bisa kupastikan bahwa kau memang berhalusinasi. Tidak heran untuk orang dengan kapasitas otak sepertimu."
"Yeah, tidak mengherankan orang yang mengalahkan Harry Potter dalam hampir semua pelajaran berhalusinasi," cibir Draco. "Lalu apa yang kau lakukan? Bermimpi?"
"Aku tidak melayani perdebatan anak kecil seperti ini. Sekarang, kalau kau memang mengaku masih punya akal sehat, lebih baik kau obati temanku ini daripada terus mengoceh."
Draco kelihatan tersinggung, namun tidak menjawab apapun. Ia kemudian melemparkan sebuah botol kecil berwarna biru ke arah Harry.
"Apa ini?" tanya Harry.
"Racun." Jawab Draco ketus.
"Dewasa sekali, Malfoy."
Perlahan, Harry membuka tutup botol itu lalu menyodorkannya ke mulut Mark, memaksa pemuda yang masih tidak sadarkan diri itu untuk meneguknya. Samar-samar tercium larutan aconite, monkshood dan bezoar, aroma yang mengingatkannya pada Hospital Wing. Harry memandangi Draco bingung.
"Ini−"
"Kubuat sendiri." Kata Draco sebelum Harry sempat menyelesaikan ucapannya. "Aku yakin aku jauh lebih mahir dalam membuat ramuan daripada kau, Potter."
Harry kembali memandangi botol itu.
Bahan-bahan. Kuali. Ramuan. Rasanya rindu bersentuhan dengan itu semua. Siapa sangka bahwa pure blood-all-the-way seperti Draco Malfoy yang kini hidup melebur bersama muggle masih memiliki kemauan meracik semuanya dengan tanpa kehilangan sedikitpun sentuhan masternya? Mengagumkan. Harry tidak bisa menyangkal bahwa untuk satu hal ini, Draco memang lebih unggul darinya.
Dan tanpa ia sadari, ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas dan membentuk sebuah senyuman. Senyum pertamanya malam ini.
Terdengar suara batuk terdengar dari samping Harry.
"Dimana aku?" tanya Mark terbata.
"Kau di tempat Nick, Mark," jawab Harry. "Tadi kau pingsan."
Mark mengurut pelipisnya perlahan, mencoba mengingat-ingat.
"Seingatku aku pergi bersamamu ke sebuah bar, lalu ada seseorang, lalu rambut pirang, lalu minuman, lalu tiba-tiba aku di sini." Kata Mark. Ekspresinya seperti orang linglung.
"Kau pingsan setelah minum tiga gelas anggur," kata Harry. "Apa kau lupa laranganku soal minum?"
"Lain kali takkan terulang lagi," jawab Mark penuh penyesalan.
"Lain kali takkan kubiarkan kau ikut ke tempat seperti itu lagi," kata Harry tegas. Mark hanya mendesah pasrah.
"Ngomong-ngomong, sedang apa Draco Malfoy di sini?" tanya Mark sambil memandangi Draco.
"Kau mengenalku?" tanya Draco.
"Tentu saja, kau pernah memotong nilai asramaku hanya karena aku tak sengaja menyenggolmu di koridor."
Harry mengeluarkan suara mirip batuk yang ditahan.
"Tak usah ditahan, Potter," dengus Draco.
"Terima kasih, Malfoy," kata Harry lalu tertawa terbahak.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Mr. Malfoy, kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Mark lagi. Ia kini menegakkan tubuhnya lalu duduk di atas kasur.
"Dan atas dasar apakah aku harus menjawab pertanyaanmu, Mr. Whatever?" tanya Draco sebal.
"Kau tidak berubah sama sekali." Kata Mark.
"Dan itu bukan urusanmu." Jawab Draco ketus.
"Kau takkan bisa bahagia kalau kau terus-terusan seperti itu."
"Kurasa kita punya deskripsi yang jauh berbeda soal kebahagiaan."
"Aku serius, Malfoy." Ujar Mark.
"Apa aku salah memberimu felix felicis, Mr. Whatever?" cibir Draco.
"Kau tetap menyebalkan seperti sebelumnya." Kata Mark.
"Terima kasih." Jawab Draco ketus.
Terjadi keheningan yang ganjil. Baik Harry, Mark, maupun Draco sudah kehabisan bahan obrolan, atau dalam kasus ini, ejekan. Namun keheningan itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian, terdengar suara dari arah pintu.
"Kau sudah siuman?"
Harry menoleh dan mendapati Nick sedang berdiri di sana sambil membawa sesuatu berwarna putih mirip handuk.
"Ya," jawab Mark. "Terima kasih tumpangannya."
.
-o0o-
.
Denting jam dinding adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu.
Tengah malam sudah lama berlalu, namun di dalam kamarnya, Draco masih bergerak gelisah.
'Dia tersenyum.'
'Dia tersenyum.'
Draco mengerang pelan. Dua kata itu terus menerus bergema dalam kepalanya. Entah kenapa satu fakta kecil yang tadi terjadi di flat Nick itu membuatnya tidak bisa terpejam.
Harry Potter tersenyum karena dirinya.
'Oke, Draco, kau mungkin terlalu menyanjung dirimu sendiri,' ucap Draco mengingatkan dirinya sendiri. Ia menjambak rambutnya untuk menghilangkan pikiran mustahil itu, namun sejurus kemudian, ia lepaskan lagi.
'Well, hal itu tidak sepenuhnya salah, karena ia memang tersenyum karena botol yang kuberikan... atau justru karena sindiranku!'
Draco tersenyum memikirkan kemungkinan itu. Namun secepat datangnya pikiran itu, secepat itu pula kesadaran menyambarnya.
'Kenapa aku malah merasa senang?' jerit Draco dalam hati.
Ia mengerang lagi.
Bertemu kembali dengan pemuda itu benar-benar sebuah bencana.
Ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Memejamkan mata rapat-rapat dan memaksa tidur, namun gagal. Pikirannya sedang dalam euphoria dan tidak bisa diajak bekerja sama. Dan Draco mengutuk Harry karena telah menyebabkannya seperti itu.
'Potter sialan.' rutuknya dalam hati.
.
-o0o-
.
Harry terbangun keesokan paginya dengan rasa pegal di seluruh tubuhnya. Insiden Mark tadi malam benar-benar telah mengganggu waktu istirahatnya yang berharga. Meski ia juga harus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tersebut. Temannya itu sendiri akhirnya dititipkan di tempat Nick, karena dia terlalu lemah untuk pulang ke rumahnya sendiri. Harry bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi setelah ia meninggalkan flat Nick tadi malam.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran buruk, lalu bangun dengan enggan. Meskipun tempat tidurnya saat itu terlihat menggiurkan, namun ia harus memaksa dirinya bangkit, ada tugas yang menunggunya hari ini. Ia menyambar handuk lalu berjalan menuju kamar mandi, menyalakan shower dan menyegarkan diri.
Lima belas menit kemudian, ia akhirnya berangkat ke Kementerian.
"Harry!" panggil seseorang dari belakang saat ia tengah berjalan di koridor lantai tiga.
Harry menoleh dan melihat Ron tengah berlari ke arahnya.
"Ada apa, Ron?"
Ron mengatur nafasnya dulu sebelum kemudian menjawab, "Kau bebas sore ini, kan? Aku dan 'Mione ingin mengajakmu berdiskusi tentang sesuatu?"
"Tentang rencana pernikahan kalian?" tebak Harry. Ron kelihatan terkejut.
"Dari mana kau tahu?" tanya Ron.
"Apa lagi yang bisa kutebak?" cengir Harry. Semburat merah di wajah Ron nyaris mengalahkan merah rambutnya.
"Yah, kau tahulah…" kata Ron.
"Atau aku harus menebak soal calon Weasley kecil?" ledek Harry.
Ron kelihatan seperti tersedak mandrake.
"Kau…" ujarnya terbata.
"Becanda Ron…" kata Harry sambil tertawa. "So, kita mau kemana?"
-End of Chapter 3-
AN. Saran dan kritik akan selalu ditunggu ^^.
