Hello!
By : kurok1n
Harry Potter © JK Rowling
Klang.
Gemerincing suara pintu terdengar saat beberapa pasang kaki memasuki sebuah kedai kopi di kawasan Redpalm Street. Di dalam ruangan dengan aroma yang menyenangkan itu terlihat berbagai macam manusia, sendiri maupun berkelompok, sedang menikmati minuman mereka. Mengobrol dengan teman-teman sambil sesekali menyesap cairan yang mengepul dari cangkir-cangkir di atas meja di antara sekat kaca yang rendah.
Di salah satu sudut ruangan itu, terlindung oleh papan-papan kayu dan kaca tembus pandang, Draco Malfoy tengah menyuruh pegawainya untuk membereskan beberapa meja yang telah kosong sambil mendata pengeluaran tempat kerjanya dari balik meja. Menghitung dengan teliti satu demi satu angka dalam kertas-kertas putih kecil, lalu mencatat dengan rajin. Kopi dalam gelasnya sudah tinggal separuh saat kemudian ia mendengar seseorang di ujung deret sebelah kiri menyerukan pesanan. Tangan orang itu terlihat melambai lewat sekat-sekat kaca.
Draco melihat ke sekeliling, tampak semua anak buahnya tengah sibuk melayani pesanan di banyak meja. Ia mencari-cari Robert, anak SMU yang sedang magang di kedainya sejak seminggu yang lalu. Draco kemudian melihatnya sedang berkonsentrasi mencatat pesanan di salah satu meja. Pengunjung tadi kembali melambaikan tangannya untuk memesan. Akhirnya, setelah dirasa tak ada yang bisa membantu, ia memutuskan untuk turun tangan. Setelah meletakkan beberapa catatan, ia turun dari kursi kerjanya, memakai apron yang tergantung di rak, menyambar papan pencatat, lalu beranjak menuju meja di dekat jendela itu untuk melayani pengunjungnya.
"Ada yang bisa kubantu, Madam?" tanya Draco sambil sibuk mempersiapkan catatan tanpa memandang pelanggannya.
"Ya, kami ingin pesan capu−" kata-kata wanita itu seperti tersendat, sampai akhirnya ia mengucapkan, "Malfoy?"
Kepala Draco langsung tersentak saat ia mendengar seseorang menyebut nama keluarganya. Dan benar saja, saat ia memandang ke depan, seorang wanita berambut cokelat mengembang dengan mata berwarna serupa tengah memandangnya bingung.
"Granger," ujar Draco.
Draco susah payah menahan urgensi untuk melihat ke sekeliling wanita itu, namun instingnya dengan cepat mengambil alih. Jantungnya serasa mau copot saat ia melihat dua orang pemuda, yang satu dengan rambut merah menyala, yang satunya lagi berambut hitam berantakan dan mata emerald, tengah memandanginya tanpa berkedip. Kelihatan sekali bahwa mereka terkejut dengan pertemuan tiba-tiba di tempat ini.
"Mau apa kau di sini, Malfoy?" sembur Ron.
Alis Draco terangkat mendengar penyambutan ini.
"Harusnya aku yang bertanya kepadamu, Weasley, mau apa kalian di tempat ini?" kata Draco.
"Menurutmu apa yang dilakukan orang-orang di kedai kopi?" cibir Ron.
"Tidak tahu, mengganggu kehidupan orang lain?" sindir Draco.
Ya. Selain menyelamatkan dunia, ada satu lagi tujuan si trio Gryffindor ini dilahirkan di dunia : mengganggu hidup Draco Malfoy.
"Bukankah itu yang sedang kau lakukan saat ini, Ferret?" ejek Ron.
Draco mendengus.
"Typical," kata Draco.
"Apa kau bilang?" seru Ron.
Draco menurunkan catatan yang sedari tadi dipegangnya, lalu memandang Ron kesal.
"Kurasa bintik di wajahmu mampu mengotori tempat ini dalam sekejap, Weasel."
Ron kelihatan mau meledak namun Hermione segera menengahi.
"Sudahlah Ron, tidak ada gunanya ribut di sini," katanya sambil menahan Ron agar tetap duduk di tempatnya. "Bisa kami pesan sekarang, Malfoy?"
"Itu yang kutanyakan dari tadi, Granger." Dengus Draco. "Kalian mau pesan apa?"
"Kami mau pesan neraka untuk membasmimu," kata Ron.
"Jika kau bermaksud untuk membakarku, Weasel, kau harus salahkan rambutmu yang telah merampas semua apinya," kata Draco kalem.
Ron terlihat kehilangan kata-kata.
"Apakah aku salah jika menganggapmu bekerja di tempat ini, Malfoy?" tanya Harry yang akhirnya ikut angkat bicara.
Draco menatap ke arah Harry dan terkejut dengan sensasi aneh di perutnya. Meskipun ia tidak heran melihat pertanyaan terpampang di wajah pemuda itu.
"Menurutmu?" tanya Draco balik.
"Kau terlihat seperti pegawai di sini," kata Harry.
"Jika memang itu yang bisa kau simpulkan," kata Draco. "Pesanannya?" tanya Draco mengulangi.
"Tiga capucino," kata Hermione. "dan terima kasih, Malfoy."
Draco tidak menjawab dan segera beranjak dari sana menuju dapur. Ia berjalan secepat mungkin dan tanpa menghiraukan sapaan dari beberapa pengunjung, ia langsung masuk ke ruangannya lalu melempar dengan sembarangan pulpen dan catatannya. Semua pegawainya memandanginya heran.
Setelah bertahun-tahun ia menjalani hidup tenang tanpa takut harus menghadapi kepingan masa lalunya, ia harus bertemu kembali dengan Harry Potter, orang yang dalam hitungan hari berhasil membuat hidupnya berantakan lagi. Kini, saat semuanya mulai kacau, ia juga harus bertemu kedua sidekicks nya.
Bloody Gryffindor.
"Siapkan tiga capucino untuk meja 13!" ujar Draco pada anak buahnya setelah beberapa saat.
.
-o0o-
.
"Blimey, Harry, bagaimana orang sepertinya bisa bekerja di tempat seperti ini?" kata Ron.
"Maksudmu?" tanya Harry tidak mengerti.
"Malfoy dan koloninya terbiasa dilayani, bagaimana mungkin ia kini bekerja sebagai pelayan?"
Harry juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan kepala Draco hingga ia memutuskan hidup seperti ini.
"Jangan-jangan ia kehilangan seluruh hartanya dan terpaksa bekerja untuk menyambung hidup," kata Ron.
Kening Harry berkerut memikirkan kemungkinan itu.
"Atau dia diusir Malfoy senior dan jadi gila, lalu memutuskan jadi pelayan," tambah Ron.
"Atau−"
"Hentikan, Ron. Kata-katamu kejam tahu," potong Hermione. "Lagian, orang gila tidak bisa memutuskan apapun dan tidak mungkin diterima dalam bidang pekerjaan apapun."
Ron cemberut menyadari kebenaran kata-kata Hermione. Harry masih bisa mnedengarnya bergumam 'stupid ferret,' dan 'bloody Malfoy' sebelum akhirnya mood sahabatnya itu langsung menjadi baik saat mereka mulai pembicaraan mengenai rencana pernikahannya dengan Hermione. Harry mengamati kedua sahabatnya itu begitu menggebu saat mereka mencoba menjelaskan mengenai konsep pernikahan mereka. Ia hanya bisa tersenyum saat keduanya berselisih mengenai warna tenda yang akan mereka pakai untuk tempat para undangan yang datang. Senyumnya bertambah lebar saat keduanya kompak untuk meminta Harry menjadi pendamping mempelai pria.
"Sebuah kehormatan bagiku, Ron," katanya, yang disambut senyum cerah oleh keduanya.
Harry mulai tertawa saat kedua orang di depannya mulai serius berdebat mengenai bentuk undangan yang akan mereka sebarkan. Hermione bersikeras bahwa mereka harus menggunakan undangan formal, mengingat sebagian yang akan mereka undang adalah rekan kerja mereka di Kementerian. Sementara Ron ngotot bahwa undangan mreka sebaiknya harus unik, harus mencerminkan siapa diri mereka sesungguhnya. Dan Harry hanya tertawa melihat Hermione melotot saat Ron mengajukan ide mengirim undangan berbentuk sapu dengan jasa para peri rumah.
"Kau mau mengidentikkan kita dengan penerbang yang bangga akan perbudakan, Ron?" sembur Hermione.
Sesekali Harry melirik ke depan, ke sebuah pojokan tempat pintu berlabel "Employers Only" berada. Bertanya-tanya apa gerangan yang sedang Draco lakukan di dalam sana. Lalu menggeleng pelan saat ia menyadari bahwa dirinya sedang memikirkan Draco. Sesuatu yang harusnya tidak pernah terpikir olehnya untuk dilakukan.
.
-o0o-
.
Malam sudah cukup larut saat si Trio Emas Gryffindor melangkahkan kaki mereka di daerah Avenue Street. Harry sampai harus merapatkan mantelnya untuk melawan angin dingin yang berhembus ke arah mereka. Selepas insiden di kedai kopi sore tadi, ia disibukkan dengan ritual persiapan pernikahan yang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu. Berkeliling dari satu toko ke toko lainnya, mencoba banyak hal, berdiskusi, berselisih pendapat. Meski menyenangkan, Harry harus mengakui bahwa hal itu sangat melelahkan. Kini beberapa blok lagi mereka akan sampai di flatnya. Rasanya Harry sudah tidak tahan untuk segera sampai dan mandi air hangat.
Ia berjalan di samping trotoar, sementara Ron dan Hermione berjalan di sebelah kirinya sambil berpegangan tangan. Harry tersenyum mengingat tahun pertamanya di Hogwarts, pertemuan pertama mereka, dan betapa nihilnya kemungkinan hari dimana Ron dan Hermione menikah akan tiba jika ia mengingat permusuhan mereka dulu.
"Katakan jika aku berhalusinasi, atau memang Malfoy mengikuti kita?" tanya Ron.
Harry menengok ke belakang, dan mendapati Draco sedang berjalan beberapa meter dari mereka. Ujung mantel hitamnya melambai tertiup angin. Ia seketika ingat bahwa ia belum bercerita pada kedua sahabatnya bahwa Draco tinggal di bangunan yang sama dengannya.
"Acuhkan saja, Ron," kata Harry. Ia merasa tidak enak menyembunyikan hal itu dari mereka.
"Bagaimana bisa kuacuhkan? Siapa tahu dia berniat buruk?" kata Ron sambil kembali menengok ke belakang.
"Percayalah, dia tidak berniat buruk," timpal Harry cepat.
"Kau yakin sekali, Harry," kata Hermione yang sekarang ikut-ikutan menengok ke belakang.
Harry menengok diam-diam ke belakang, lalu mendapati Draco tengah memandanginya dengan tatapan mau-apa-kau-lihat-lihat. Harry buru-buru kembali melihat ke depan, mempercepat langkah supaya mereka segera sampai di flatnya dan terhindar dari tuduhan-tuduhan yang dilancarkan Ron dan Hermione.
Ia menghembuskan nafas lega saat mereka berbelok di tikungan depan, gedung flatnya sudah terlihat.
"Harry! Malfoy terus mengikuti kita!" kata Ron. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Jangan lakukan apapun," jawab Harry singkat.
Dua puluh meter lagi, dan mereka akan sampai.
"Tapi lihat wajahnya! Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu yang buruk," kata Ron.
"Wajahnya memang seperti itu, Ron, jadi jangan hiraukan," kata Harry.
Sepuluh meter lagi.
"Harry!" bisik Hermione keras-keras.
Mereka telah tiba di tangga menuju gedung dan Ron kelihatan sangat waspada. Harry hampir berteriak senang saat akhirnya mereka mencapai lantai tiga. Namun yang terjadi selanjutnya membuat kebahagiaannya berubah jadi shock saat dilihatnya, dalam alur lambat, Ron mengarahkan tongkatnya ke arah Draco dan berteriak, "Stupefy!"
Draco, yang tidak menyadari kemungkinan serangan ini, tidak sempat berkelit saat akhirnya sinar merah menempa tubuhnya.
"Ron! Jangan!" teriak Harry.
Namun terlambat. Draco kini terbaring tak berdaya beberapa meter di depan mereka.
.
-o0o-
.
"Biar kuluruskan sebentar. Malfoy tinggal di sebelah flatmu?"
Harry mengangguk.
"Dan kau sekarang bertetangga dengannya?"
Harry mengangguk lagi.
"Dan kau tidak bercerita apapun pada kami tentang itu?"
"Aku berniat untuk menceritakannya pada kalian saat kita tiba di sini," tukas Harry. "Tapi kau bertindak semaumu sendiri."
"Bloody hell…" desah Ron. "Bagaimana mungkin aku tahu? Dia terlihat sangat mencurigakan tadi."
"Malfoy memang selalu terlihat berbahaya," kata Hermione. "Tapi kau harusnya tidak bertindak sembarangan seperti itu Ron. Kau bisa dituntut dengan dugaan percobaan pembunuhan!"
"Yeah? Kucincang dia dulu sebelum dia sempat bicara sepatah katapun."
"Ron!" seru Hermione.
"Ini gila," kata Ron. "Harry, kau harus sangat sangat saaaangat berhati-hati."
Harry memandangi Draco yang kini terbaring di tempat tidurnya. Pakaiannya masih lengkap, juga sepatunya yang masih terpakai, karena mereka tadi hanya meletakkannya begitu saja di sana.
"Kurasa dia tidak begitu berbahaya sekarang," kata Harry.
"Dia seorang Malfoy, Harry, bagaimana kau bisa berharap dia tidak jahat kepadamu?" kata Ron.
"Jangan berlebihan seperti itu, Ron. Siapa tahu dia memang sudah berubah," kata Hermione.
"Dan atas dasar apa kau berkata seperti itu?" tanya Ron.
"Setidaknya dia tidak menyebutku darah lumpur lagi," kata Hermione sambil mengangkat bahu.
Harry berjengit tanpa bisa ditahan saat mendengar kata itu.
Ya, meski sulit dipercaya, Malfoy yang Harry lihat beberapa hari belakangan ini memang berbeda dengan Malfoy yang ia kenal di Hogwarts. Pemuda itu tetap bermulut pedas seperti biasanya, namun ia sudah tidak pernah lagi mengejeknya dengan topik-topik sensitif. Harry tiba-tiba ingat saat mereka berada di flat Rachel. Pemuda itu bahkan hanya diam saja saat Rachel bertanya mengenai orang tuanya.
"Dengar, Ron, aku pun sama denganmu, punya masa lalu yang tidak menyenangkan dengan Malfoy," kata Hermione. "Namun saat melihatnya di kedai tadi, aku tidak bisa menyangkal bahwa sikapnya cenderung… sopan."
Ron mendengus.
"Dia bahkan tidak menyebut Harry 'kepala pitak' lagi," tambah Hermione yang disambut gerutuan dari Harry.
"Dia mengejek wajah dan rambutku!" seru Ron.
"Kau yang pertama mengkonfrontasinya, ingat?" kata Hermione.
Ron mendengus lagi.
"Jangan pernah percaya pada seorang Malfoy, 'Mione," kata Ron. "Itu demi kebaikanmu sendiri."
Hermione mendesah.
"Ya, sudahlah. Sudah malam Harry, sebaiknya kami pulang," kata Hermione akhirnya. Ron kemudian mengikutinya berdiri.
"Hati-hati, mate," kata Ron mengingatkan.
"Rawat dia, Harry," kata Hermione. "Itu menjadi kewajibanmu karena telah membuatnya seperti itu," tambahnya saat Harry hendak membantah.
"Bye, Harry," kata Hermione sambil melangkah keluar.
"Sampai ketemu besok di kantor," imbuh Ron.
Harry hanya bisa mendesah saat keduanya menghilang dari balik pintu. Kini tinggal dirinya bersama Draco di sini. Dilihatnya pemuda itu di tempat tidurnya, tak ubahnya seperti anak kecil yang tengah tertidur lelap.
"Great," gumamnya pasrah.
.
-o0o-
.
Rasa pusing adalah yang pertama kali menyerang saat Draco terbangun pagi itu. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha memfokuskan pandangannya yang mengabur. Seingatnya ia belum pernah sekalipun mabuk dalam minggu ini, jadi ia bingung dengan kepalanya yang terasa sangat pening.
Ia memandang ke sekeliling, ke sebuah ruangan asing yang di dominasi warna merah, mulai dari karpet, tirai jendela, hingga selimut yang tengah digunakannya sekarang. Andai saja ia sedang berada di dunia sihir, maka tanpa ragu ia akan mengatakan bahwa pemilik kamar ini pastilah seorang Gryffindor. Meski sulit dijelaskan, ia yakin bahwa dirinya sedang berada di dunia muggle. Tempat ini memiliki aura yang berbeda dengan semua tempat di dunia sihir, dan satu bukti utamanya, adalah karena penyihir tidak memiliki televisi di rumahnya.
Ia mulai bertanya-tanya siapa pemilik tempat ini, yang anehnya terasa tidak asing, dan mengapa ia sampai berada di sini. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih mengusik, lalu mulai beranjak dari tempat tidur menuju ruangan lain. Di sepanjang jalan menuju ruang yang entah ia tidak tahu, perasaan bahwa ia mengenali tempat ini semakin menguat. Langit-langit, posisi jendela, lengkung pintu, hingga akhirnya sesuatu yang tergeletak di pojok ruang tengah menyadarkannya.
Seperangkat peralatan Quidditch.
Dan siapa lagi orang di dunia muggle, di bangunan yang sama dengan yang ia tinggali, yang mahir bermain Quidditch?
"Bloody Potter," gumam Draco.
Lalu sekonyong-konyong peristiwa tadi malam terpeta jelas dalam ingatannya. Sebuah malam yang dingin saat ia pulang dari mengantarkan pesanan Rachel, jalanan yang sepi, tiga orang berambut merah, cokelat, dan hitam yang berjalan berdempetan. Pandangan-pandangan konyol dari mereka (Draco mendengus tiap kali ia ingat bagaimana rupa Ron tiap kali menengok dan memandangnya). Lalu terakhir mantra bius yang demi Merlin tidak pernah ia sangka akan meluncur padanya di rumahnya sendiri.
Draco bergegas mencari si pemilik rumah untuk meminta penjelasan. Tidak sampai lima menit sampai akhirnya ia melihat pemuda itu di dapur, nampak sibuk dengan wajan dan piring-piring.
"Kenapa tadi malam kau memantraiku?" tanya Draco.
Harry kelihatan terkejut hingga ia hampir menjatuhkan piring yang sedang di pegangnya.
"Merlin, Malfoy. Kau mengagetkanku!" seru Harry.
"Kenapa tadi malam kau memantraiku, Potter?" desak Draco lagi.
Muka Harry tampak seperti campuran antara geli dan bersalah.
"Kau ingat?" tanya Harry. Ia kini sibuk menuangkan sesuatu berwarna oranye dari wajan ke mangkuk.
"Tidak mungkin aku lupa penganiayaan yang orang lakukan terhadapku," jawab Draco dingin.
"Well, mengingat siapa dirimu, aku bisa maklum," kata Harry.
"Jawab pertanyaanku, Potter," desak Draco. Emosinya mulai naik sekarang.
"Oke, oke," kata Harry. Ia kemudian meletakkan apapun yang tengah ia kerjakan di atas meja. "Bukan aku pelakunya, tapi Ron. Ia tidak sengaja," jawabnya.
Draco mendengus.
"Tidak sengaja? Yeah, masuk akal sekali," cibirnya.
"Aku tidak bohong, Malfoy. Ron memang tidak sengaja melakukannya," kata Harry. 'Yeah, meski aku yakin ia menikmatinya,' tambahnya dalam hati.
"Kenapa aku harus percaya padamu, Potter?"
"Karena aku berkata yang sebenarnya," kata Harry. Ia berpikir sejenak sebelum menambahkan, "Ron mengira kau mengikuti kami."
Draco nyaris tidak memercayai pendengarannya.
"What?"
"Aku lupa bilang pada mereka bahwa kita bertetangga, oke?" gerutu Harry.
Kening Draco berkerut dalam.
"Kurasa itu menjelaskan dengan sangat baik pertanyaan mengapa kalian terkenal dekat dengan kematian," sindir Draco. "Otak kalian hanya berfungsi sebagai pajangan saja."
"Kau berlebihan," kata Harry.
Alis Draco terangkat saat menyadari bahwa Harry tidak terpancing provokasinya.
"Dan kurasa kau berhutang maaf padaku, Potter," ujar Draco.
"Dan kenapa aku harus minta maaf, Malfoy?" tanya Harry cuek.
"Karena kau telah membuatku pingsan?" kata Draco pura-pura mengingatkan.
"Ron yang melakukannya, bukan aku," kata Harry.
"Kau yang membuatnya salah paham," tukas Draco.
"Salahmu sendiri satu gedung denganku," ucap Harry ngotot.
"Oh ya? Kau pikir siapa yang duluan tinggal di sini, huh?" seru Draco sambil berjalan menghampiri Harry.
"Kau pikir aku mau tinggal di sini kalau aku tahu bahwa tetanggaku adalah orang sinis paling menyebalkan di dunia?" seru Harry tak mau kalah.
"Kau pikir aku betah tinggal bersebelahan dengan kepala pitak sepertimu?" seru Draco lagi.
"Kau pikir aku senang bertetangga dengan musang sepertimu?"
"Kau pikir aku suka menghirup udara yang sama dengan manusia tanpa otak sepertimu?"
"Yeah? Aku heran kenapa Nick bisa tahan dengan orang sepertimu!" seru Harry.
"Dan aku tidak heran si Weaselette itu memutuskanmu. Kau…" ucap Draco sambil melihat Harry dari atas ke bawah, "terlalu membosankan."
"Membosankan?" seru Harry dengan penuh emosi. Ia berjalan menghampiri rivalnya dengan berapi-api. "Kau, Malfoy. Kau adalah orang paling menjengkelkan yang pernah kute−"
Dan salahkanlah lantai di antara mereka yang terlalu licin, yang membuat Harry tak sempat menyelesaikan kalimatnya, yang membuat kaki-kaki itu tergelincir, yang membuat Draco mendelik ngeri, yang membuat mereka jatuh bebas dan…
Cup.
Membawa bibir mereka bertemu dalam keterkejutan yang mengagumkan.
-End of Chapter 4-
Fiuh… finally, chapter 4.
Maaf kalo apdetnya lama T.T
Buat Yuuki de Devil, saya udah ke Maxi, udah nyetok banyak cemilan nih ^^, tapi makasih ya :)
Buat Sposalizio, mau dong juz jambunya :P
Buat temen2 yang lain yang udah review : Lady Ruu , crossalf , Maeve zahra , Nadia-Veela , Nay Hatake , CCloveRuki , camoparra , Ken no Kitanai , dan yang lain yang ga sempet disebutin (mata saya tinggal kena angin langsung nutup nih) yang udah baek banget kasih saran, thank you so much. I'm incredibly happy *hug you all*
Nah, sekarang giliran saya duduk manis sambil nunggu review kalian :D
Have a nice dream everyone!
Love,
Kurok1n.
