Sulit untuk menentukan mata siapa yang membelalak paling lebar karena keduanya, dalam posisi masih bertindihan di atas lantai, membeku dalam keterkejutan yang teramat sangat. Mata Draco menatap tepat ke arah Harry, dan begitu pula sebaliknya. Keduanya memancarkan rasa ngeri yang sama. Mereka tetap dalam posisi itu tanpa berani bergerak, hingga desis dari cerek di atas kompor menyadarkan keduanya. Sambil menumpukan kekuatan pada kedua tangannya, Harry berdiri sambil terhuyung, mengambil jarak sejauh mungkin dari rivalnya itu.

Draco ikut berdiri, mengambil beberapa langkah ke belakang hanya untuk memastikan bahwa dirinya tidak akan tertimpa pemuda berambut hitam berantakan itu lagi.

"Apa yang kau lakukan?" serunya. Ia menutupi mulutnya dengan punggung tangannya. Matanya tak lepas menatap mata Harry.

"Apa yang KAU lakukan. Harusnya tadi kau menghindar!"Harry balik berseru.

"What? Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri, Potter!" seru Draco lagi.

"Yeah? Seperti kau tidak pernah saja," sindir Harry.

Mereka masih mematung di sana, dengan nafas yang terangah-engah, dan jantung yang anehnya berdetak tidak normal.

"Jangan ceritakan ini pada siapapun," kata Draco akhirnya.

"Tenang saja, meski disogok satu juta galleon pun aku tidak akan pernah melakukannya," kata Harry.

Draco kemudian melangkah pergi dari tempat itu, mengabaikan mantel dan sepatunya yang masih tertinggal di kamar Harry, lalu menuju flatnya sendiri yang untungnya hanya berjarak beberapa meter dari situ.

Baru saja ia hendak membuka pintu, sebuah suara menegurnya.

"Draco, darling, kau baru pulang?"

Draco menoleh dan mendapati Rachel tengah memandanginya dari depan pintu flatnya.

"Um, ya, begitulah," kata Draco. Rachel memperhatikannya dari atas ke bawah.

"Kemana mantel dan sepatumu, dear? Kenapa kau pulang bertelanjang kaki seperti itu?" tanya Rachel.

"Itu... bukan apa-apa. Aku mau istirahat dulu. Bye, Rachel," kata Draco sambil buru-buru masuk ke dalam, meninggalkan Rachel yang bertanya-tanya.

'Merlin... what was that?'


Hello!

By : kurok1n

Harry Potter © JK Rowling


Rasanya tidak ada yang lebih buruk daripada mengawali sebuah hari dengan mencium musuhmu sendiri. Yah, bukan sepenuhnya musuh sih, lebih tepat jika disebut mantan musuh. Atau setengah musuh. Atau orang yang sangat menyebalkan yang pantas dijadikan musuh. Whatever. Harry bahkan tidak mau repot memikirkan titel yang tepat bagi Draco. Hubungan mereka kini menjadi aneh. Mereka sudah sama-sama dewasa untuk menyambung permusuhan masa remaja, namun juga bukan berarti mereka bisa begitu saja berteman. Dan lagi, sikap Draco yang cenderung lebih sopan–meskipun akan sangat susah menyadarinya jika ia tidak berusaha keras–membuat Harry bingung dalam menentukan sikap.

Dan mengenai kejadian pagi ini, apa yang terjadi di antara mereka sangatlah tidak layak untuk disebut sebuah ciuman. Sebuah ciuman harusnya dilandasi oleh perasaan, dilakukan dalam keadaan sadar, dan dengan cara yang semestinya. Apa yang mereka lakukan adalah saling menghantamkan bibir masing-masing, oleh sebuah ketidaksengajaan yang mirip bencana. Meskipun–Harry dengan berat hati mengakuinya–saat ia berusaha bangun tadi, ia sempat merasakan betapa lembut bibir Malfoy dan betapa pas bibir itu di bibirnya. Harry kemudian mengerang dalam hati saat ia berpikir bahwa ia menyukai sensasi itu.

Ia kini tengah berjalan di koridor Kementerian seperti yang telah dilakukannya setahun belakangan ini. Ia berjalan dengan bahu yang lemas, sesuatu yang jarang ia lakukan, karena semenjak ia diterima sebagai auror, ia selalu menjalani harinya dengan penuh semangat. Berjalan dengan langkah tegap dan pandangan yang awas. Tidak lupa senyum ramah yang selalu terpampang di wajah. Seperti yang kini tengah dilakukan oleh seorang pemuda berrambut cokelat kehitaman di depannya.

"Oh, halo Harry," sapa orang itu.

"Hai, Mark," balas Harry.

Mark kemudian memperhatikan Harry dari bawah ke atas.

"Kau kelihatan berantakan hari ini," katanya.

Harry tidak menjawab. Ia terlalu malas untuk menjawab. Ia malah memperhatikan temannya itu yang terlihat lebih ceria dari biasanya. Mukanya berseri-seri, senyum tidak pernah meninggalkan wajahnya.

"Kau habis memenangkan undian, Mark? Wajahmu cerah sekali," kata Harry. Senyum Mark bertambah lebar.

"Yah, bukan menang undian sih, tapi ya, aku sedang senang hari ini," katanya. "Bahkan rasanya aku bisa bernyanyi saat ini juga!" tambahnya bersemangat.

"Lebih baik jangan," kata Harry singkat. Ia bermaksud kembali melangkahkan kakinya saat sebuah pertanyaan tercetus di benaknya. "Kau bertemu seseorang?"

"Ya!" seru Mark. Wajahnya bersemu merah.

Harry hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Segala cerita mengenai cinta rasanya tampak tidak menarik baginya hari ini. Lagi pula ia tidak punya waktu untuk mendengarkan betapa Mark bahagia bertemu dengan seseorang yang bahkan mungkin tidak dikenalnya. Ia punya banyak pekerjaan untuk dikerjakan. Kingsley sudah dua kali menagih laporan penangkapan beberapa penjahat yang ia lakukan bersama kelompoknya beberapa minggu yang lalu, dan seingatnya, hari ini adalah batas penyerahan laporan tersebut.

Dulu, saat ia memutuskan untuk menjadi auror, tak pernah sekalipun terpikir olehnya bahwa tugas auror bukan hanya berada di lapangan, namun juga di balik meja. Apalagi dengan berakhirnya Perang Besar, tingkat kejahatan di dunia sihir menurun drastis, hingga kadang Harry berharap bahwa Voldemort tidak mati, karena dengan demikian, akan banyak petualangan yang bisa dinikmatinya saat menjadi auror. Bekerja membuat laporan penangkapan di balik meja sangat tidak sesuai dengan kecenderungannya bermain dengan hal-hal yang menantang.

Harry mendesah. Hari ini akan jadi hari yang panjang.

Dan berangkat dari pemikiran itu, ia kemudian berjalan menuju ruangannya, duduk di balik meja kerjanya, dan mulai melakukan apapun untuk memastikan semua kewajibannya telah terlaksana. Sesekali ia melirik jam di pojok ruangan, menggerutu pelan karena waktu berjalan sangat lambat.

.

-o0o-

.

Sebuah sore yang cerah tengah merekah saat Harry akhirnya keluar dari Kementerian yang suram.

Ia menghirup dalam-dalam udara sore itu, menikmati manisnya bulir-bulir oksigen yang mengisi paru-parunya. Harry kini tengah berjalan di sebuah distrik di London, hanya berjarak beberapa blok dari Redpalm Street. Suasananya sama dengan daerah tempat tinggalnya. Bangunan-bangunan kuno khas Inggris berjejer api di kanan-kiri jalan. Juga toko-toko mungil yang mengisi sebagian besar trotoar yang di laluinya. Sesekali tercium wangi bunga dan roti yang masih hangat sepanjang perjalanannya, yang membuatnya merasa lapar.

Inilah yang ia rindukan dari dunia Muggle. Segala sesuatu yang terlihat natural. Seperti seorang nenek di depannya yang tengah memangku cucunya dan membacakannya sebuah dongeng. Atau seorang wanita setengah baya di seberang jalan yang tengah membagikan roti di tokonya kepada seorang bocah cilik. Atau beberapa pria yang telah menua yang kini asyik berbincang sambil menunggu pesanan kopi mereka datang. Harry tersenyum memperhatikan pemandangan di depannya. Andai saja dunia selalu berjalan damai seperti ini.

Ia tengah berbelok di blok terakhir menuju flatnya saat dilihatnya, dari seberang jalan, seorang wanita setengah baya tengah melambai padanya dari dalam sebuah kedai kopi. Wanita itu tengah duduk di depan seseorang, Harry tidak begitu jelas melihatnya karena tubuh orang itu tertutup papan kayu. Ia kemudian melirik jam tangannya, memutuskan bahwa ia memiliki waktu luang, lalu mulai berjalan ke arah wanita tersebut.

Langkahnya tiba-tiba berhenti saat ia menyadari bahwa kedai yang akan ditujunya adalah kedai yang sama yang menyebabkan dirinya mengalami pagi yang buruk. Bagaimana ia bisa lupa? Kedai itu, juga Ron dan Hermione, telah membuatnya mencium Draco Malfoy.

Sejenak Harry bimbang, apakah ia akan ke sana atau tidak. Namun saat dilihatnya wanita itu kembali melambai kepadanya, juga dengan tatapannya yang penuh semangat, Harry tidak tega untuk mengacuhkannya. Akhirnya, dengan menghembuskan napas yang berat, ia akhirnya menyeberang jalan, lalu berjalan ke arah kedai itu, yang letaknya persis di sebelah flatnya sendiri.

Klang.

Suara itu kembali menyambutnya saat ia membuka pintu. Aroma kopi langsung menyergapnya saat ia melangkah masuk. Juga aroma kayu dari furnitur yang ada. Rasanya seperti de javu.

Harry langsung memandang ke sekeliling untuk mencari wanita tadi. Tak lama kemudian ia menemukan wanita itu tengah menyesap kopinya di salah satu tempat duduk di dekat jendela. Wanita itu kemudian melambai ke arahnya, memberi sinyal agar Harry segera beranjak ke tempatnya. Harry lalu berjalan ke arahnya, saat kemudian wanita itu menyunggingkan senyum tulus.

"Kurasa terlalu banyak minum kopi tidak bagus untukmu, Rachel," kata Harry saat ia hampir mencapai tempat duduk di depan wanita itu.

"Kau meragukan kemampuanku untuk meracik kopi tanpa kafein, Potter?" ujar sebuah suara di depan Rachel yang pemiliknya terlindung sekat kayu.

Harry melangkah ke depan hanya untuk mendapati Draco menatapnya dengan satu alis terangkat.

Harry mendesah.

"Kenapa ya, setiap kali aku ingin menikmati saat yang tenang, kau muncul untuk merusaknya?" sindir Harry.

"Sebuah kegembiraan bagiku," kata Draco.

Harry melemparkan tatapan membunuh ke arahnya.

"Nah, nah, sudah anak-anak," kata Rachel menengahi. "Harry, mari duduk sini, nak," kata wanita itu lagi sambil menepuk sebuah kursi di sisinya.

Harry mau tidak mau menurut lalu duduk di sebelah Rachel.

"Bagaimana harimu nak? Menyenangkan?" tanya Rachel.

Harry menggeleng pelan.

"Cukup buruk," katanya. "Mengingat aku mengawalinya dengan cara yang paling buruk," tambah Harry tanpa sadar.

"Maksudmu?" tanya Rachel.

Harry seketika tersadar akan ucapannya dan langsung menatap Draco. Pemuda yang dipandanginya kelihatan kaget lalu melempar pandangan katakan-dan-akan-kupastikan-kau-takkan-pulang-hidup-hidup padanya.

"Tidak," kata Harry, "bukan apa-apa."

Rachel kelihatan bingung.

"Well, nampaknya kondisimu tidak sebaik Draco. Saat kutanya tadi, katanya ia mengalami pagi yang menakjubkan. Bukan begitu Draco?" kata Rachel.

Harry langsung menatap Draco dan terpaku. Benarkah ia melihat semburat merah di wajahnya?

"Aku tidak mengatakannya demikian," kata pemuda itu. Alis Harry terangkat saat dilihatnya pemuda di depannya itu tiba-tiba gugup. "Kubilang, tidak ada yang lebih baik daripada mengawali hari dengan pikiran yang menyenangkan," katanya lagi.

"Well, kurasa itu tak ada bedanya, kan?" tanya Rachel. Draco tidak menjawab, hanya rona di wajahnya semakin tampak jelas.

Oh, Merlin. Entah kenapa Harry merasa isi perutnya diaduk-aduk.

"Lalu bagaimana kondisimu sekarang, dear?" tanya Rachel pada Harry.

Harry menghela nafas sebelum akhirnya menjawab. "Yah, tiba-tiba terasa jauh lebih baik," katanya sambil menatap Draco. Pemuda pirang itu balik menatapnya. Apakah cuma perasaannya, atau memang ada kilau aneh di mata abu-abu itu?

Mereka berpandangan cukup lama sampai tiba-tiba Harry mengalihkan tatapannya ke meja di depannya.

No. No. No. I'm not flirting with him. Hell, NO!

"Yah, baguslah," kata Rachel. Ia kembali menyesap kopi di depannya. "Ngomong-ngomong, kau belum cerita padaku mengapa pagi ini kulihat kau pulang ke flatmu dengan bertelanjang kaki, Draco."

Harry nyaris tersedak mendengar penuturan Rachel. Ia tiba-tiba ingat mantel dan sepatu Draco yang tertinggal di flatnya.

"Ada sebuah insiden di...suatu tempat, Rach," kata Draco. "Yang lumayan mengejutkan hingga aku lupa barang-barangku."

Rachel memandang Draco dengan kening berkerut. "Benarkah?" tanya wanita itu. "Kejadian apa itu?"

Draco menatap Harry sekilas sebelum akhirnya menjawab, "Sayangnya aku sudah berjanji pada temanku untuk tidak mengungkitnya."

Alis Harry terangkat saat mendengar kata "teman".

"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Rachel.

Draco mengangguk.

Rachel menyesap kopinya untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya ia berkata, "Well, kurasa sudah waktunya memberi makan kucing-kucingku," katanya sambil berdiri. Ia lalu menatap Harry dan Draco bergantian. "Sampai jumpa di flat, anak-anak."

Wanita itu kemudian berjalan ke luar kedai, meninggalkan Harry dan Draco yang mematung.

"Kurasa aku harus kembali ke kamarku," kata Harry kikuk. Ia kemudian mengutuk dirinya karena berbicara yang tidak perlu. 'Apa urusannya dengan Malfoy kalau kau mau kembali ke kamarmu, bodoh?' rutuknya.

"Yeah," hanya itu yang dikatakan Draco.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, Harry kemudian berdiri lalu berjalan ke luar kedai, langsung menuju flatnya.

.

-o0o-

.

Harry setengah berlari saat menaiki tangga, mengabaikan sapaan Helen dan undangan makan malamnya karena saat ini, dengan alasan yang sangat sulit untuk diungkapkan, jantungnya berdetak tidak normal. Bunyi degupnya masih bisa ia dengar bahkan dalam kondisinya yang kini terengah-engah di ujung tangga dengan kedua tangannya bertumpu pada lutut.

'Ini gawat,' pikirnya.

Harry tidak begitu mengerti tentang proses pembentukan emosi manusia, namun ia yakin, bahkan sejak pertama kali ia dan Draco bertemu di toko Madam Malkin's, ia hanya merasa tidak suka, kalau bukan disebut benci, kepada Draco. Dan perasaan itu terus berlanjut bahkan menguat hingga akhirnya mereka sama-sama lulus dari Hogwarts dan bekerja. Ia tidak mungkin merasakan apapun selain kebencian.

Karena itulah kini dirinya bingung, karena entah sejak kapan dan bagaimana, ia merasa kebencian yang tertanam pada dirinya pelan-pelan berganti menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang bahkan tidak berani ia bayangkan. Ia mendesah mengingat bagaimana rona di wajah Malfoy membuat perutnya serasa jungkir balik. Dan bagaimana tatapan pemuda itu mampu mengalirkan aliran-aliran listrik ke dalam tubuhnya.

Oh, Merlin. Ia bahkan tanpa sadar telah mengucapkan kata-kata rayuan kepada seorang Malfoy.

Harry mengerang dalam hati. Tidak mungkin semua yang terjadi tadi seperti dugaannya. Tidak. Tidak. Tidak. Semua yang terjadi hari ini hanyalah buah dari kepalanya yang terlalu stress, Harry meyakinkan dirinya sendiri. Ya... semuanya hanyalah akibat dari rentetan persepsi yang salah hingga membuahkan kejadian yang absurd. Harry bahkan tidak yakin apakah Draco tadi benar-benar merona, karena dipandang dari perspektif manapun hal itu mustahil terjadi.

Ya. Semuanya hanyalah salah paham dirinya semata. Ya. Pasti seperti itu.

Sambil menghirup nafas dalam-dalam, ia kemudian mendesah. Kejadian pagi ini benar-benar sebuah bencana baginya.

Ia kemudian berjalan dari ujung tangga menuju flatnya yang terletak persis di tengah lorong. Ia sedang melewati flat Nick yang pintunya terbuka saat ia mendengar si empunya rumah berteriak, "Kembali ke sini kau, anak nakal!", lalu mendengar suara lain yang sama sekali tidak seperti suara anak kecil, tertawa. Anehnya, Harry seperti mengenal suara itu, namun tidak bisa mengingat dengan jelas. Ia diam untuk mendengarkan lebih seksama, namun tidak ada suara lagi yang terdengar.

Ia bermaksud kembali melangkahkan kaki ke flatnya saat Nick kemudian berbicara, dengan nada menggoda dalam suaranya, "Kau suka itu, Mark?"

Harry membeku. Pantas saja ia merasa mengenal suara itu. Tawa renyah itu berasal dari suara temannya sendiri.

Lalu sekonyong-konyong bayangan tentang apa yang dilakukan Mark di tempat Nick menjadi jelas di kepalanya. Mark yang pagi ini terlihat sangat ceria, yang bercerita padanya bahwa ia bertemu seseorang, juga kejadian beberapa malam lalu saat Mark pingsan karena mabuk. Sikap Nick yang aneh. Perlakuannya pada Mark yang terlihat tidak lazim. Semuanya terikat pada benang merah yang sama.

Lalu, entah dari mana datangnya, Harry merasakan gelombang kemarahan melandanya.

Nick telah mengkhianati Draco. Pemuda arogan yang jelas-jelas adalah kekasihnya sendiri.

Kemudian, tanpa berpikir lagi, Harry membalikkan badannya menuju ke tempat Nick. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia mendobrak pintu lalu menerobos masuk. Dan pemandangan yang dilihatnya cukup baginya untuk membuatnya terhenyak.

Mark, dengan kemejanya yang setengah terbuka, tengah terbaring di atas tempat tidur dengan Nick di atasnya. Kemeja pemuda itu entah berada di mana. Jarak wajah mereka hanya setengah inchi. Kedua pemuda itu terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Harry yang tiba-tiba, juga kemarahan yang terpancar jelas di wajahnya.

"Kau yang pilih. Kau yang bicara pada Malfoy, atau aku sendiri yang akan menceritakan hal ini padanya," ujar Harry geram, lalu melangkah keluar sambil membanting pintu. Meninggalkan Mark dan Nick yang mematung.

-End of Chapter 5-


AN. Fiuh... bab 5 selesai.

Saya lagi di luar kota nih, dengan perbekalan seadanya. Sebenernya chap ini saya rencanain publish kemaren, tapi apa daya, saya malah lupa bawa baterai sama charger laptop. Walhasil tuh laptop ga bias dipake. Ini aja publish pake laptop temen :(

Thank you so much much much buat yg udah baek bgt review (I love you guys!), dan beribu maaf karena ga bisa bales satu persatu review kalian (dengan keadaan ini, you know lah… poor me T.T)

Saran dan kritik yang membangun akan selalu saya tunggu :)

And see you next week... (hopefully)

Always with Love,

Kurok1n.