Hello!
By : kurok1n
Harry Potter © JK Rowling
Sebuah pagi yang cerah.
Atau seperti itulah yang seharusnya terjadi.
Draco tengah berada di kedainya pagi ini, melakukan sesuatu yang biasa ia lakukan di pagi hari : duduk di meja counter, kopi yang mengepul di cangkirnya, berlembar-lembar kertas dengan tulisan kecil-kecil berserakan di hadapannya. Ia tengah memeriksa catatan-catatan keuangan sambil mengamati kedainya yang tenang. Sudah setahun ini ia menjalankan kedai itu, dan semenjak hari dimana ia membukanya, tempat itu kian ramai oleh pengunjung. Oleh muggle.
Sungguh ajaib mengingat bagaimana berada di tengah komunitas muggle seperti ini justru membuatnya tenang. Mereka tidak pernah mendengar apalagi mengenal keluarga Malfoy, dan itu berarti ada harapan baginya untuk memulai hidup baru, tanpa lagi tertekan oleh pandangan-pandangan menghakimi dari sebagian besar penduduk dunia sihir. Belum lagi tetangga flatnya yang-secara mengejutkan-ramah padanya. Yah, meskipun tidak semuanya, karena tiba-tiba kehidupannya yang tenang setahun belakangan ini kembali kacau dengan hadirnya pahlawan dunia sihir yang tersohor. Harry Potter.
Orang yang paling ia hindari tapi kini malah menjadi tetangganya. Orang yang membuatnya terjaga di malam hari hanya karena perbuatan-perbuatan kecil yang ia lakukan. Senyum, tawa, kata-kata. Lalu entah kenapa segala hal tentang pemuda itu menjadi sangat menarik di hadapan Draco. Seperti saat ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika ia tengah berpikir, bagaimana pemuda itu membasahi bibirnya sebelum tersenyum, atau saat matanya bersinar oleh kebahagiaan yang sederhana. Lalu bagaimana semua itu selalu membuat perutnya serasa tergelitik seperti ada kupu-kupu terbang di dalamnya. Atau dadanya yang menghangat, seolah detak jantungnya yang bertambah cepat membuatnya semakin hidup.
Draco mendesah. Hanya beberapa minggu pemuda bermata emerald itu tinggal di sampingnya dan ia kini sukses membuatnya merasa tidak normal.
Ia memandangi jalanan lewat jendela di pintu masuk. Memperhatikan sekumpulan anak kecil yang tengah berebut permen. Lalu beberapa pasang manula yang tengah berjalan tertatih, senyum tak pernah meninggalkan wajah mereka. Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di kepala Draco, membuatnya mengerjap tak percaya.
'Kira-kira sedang apa dia sekarang?'
Seraya menggelengkan kepala, ia kembali menekuni catatan di hadapannya. Tidak begitu lama ia terhanyut dalam deret angka itu saat ia mendengar pintu kedainya terbuka. Dan Harry Potter ada di sana. Mukanya kusut. Belum pernah Draco melihat pemuda itu sebegitu murung, meski saat ia harus berhadapan dengan Voldemort. Draco mendesah. Salah satu resiko memiliki kedai kopi tepat di samping tempat tinggalmu adalah kau tidak bisa menghindari tetangga yang usil datang pagi-pagi.
"Aku tidak bisa tidur," kata Harry.
"Aku tidak bertanya," jawab Draco. Ia kemudian meletakan catatannya di atas meja. "Mau apa kau ke sini?" tanya Draco sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kau punya kopi?" tanya Harry. Wajahnya begitu memelas hingga membuat Draco nyaris tertawa.
"Kau bilang tidak bisa tidur dan kini kau minta kopi?" tanya Draco. Harry diam saja.
"Ada kedai teh di blok seberang, Potter. Kau bisa ke sana," kata Draco.
"Aku mau kopi," ujar Harry sambil kemudian duduk di depan meja counter, berhadapan langsung dengan Draco. "Please," katanya lagi. Draco bisa melihat keteguhan di mata hijau pemuda itu. Ia mendesah.
"Oke, satu cangkir saja, setelahnya kau bisa pergi," kata Draco lalu pergi ke belakang. Tak lama kemudian ia kembali dengan secangkir capucino di tangannya. Ia meletakkan cangkir itu di hadapan Harry.
"Thank's," gumam Harry. Draco tidak menjawab, ia sedikit terkejut mendengar mantan musuhnya itu mengucapkan terima kasih.
Mereka saling diam selama beberapa saat. Harry sibuk menyesap kopinya sambil terlihat berpikir. Sementara Draco berusaha keras untuk tetap fokus pada catatannya tanpa terlalu sering mencuri pandang pada pemuda di depannya itu. Beberapa menit terlewati dalam keheningan. Hanya denting lembut yang terdengar dari dapur tempat pegawai Draco tengah mempersiapkan peralatan untuk hari ini.
"Sebenarnya aku lebih suka kopi hitam," kata Harry.
"Jangan protes," ujar Draco.
"Kau rajin sekali bekerja," kata Harry lagi. "Bosmu pasti senang sekali denganmu," katanya lagi.
Draco mengerutkan keningnya tidak mengerti, lalu kemudian teringat pada konfrontasinya dengan Trio Gryffindor beberapa hari yang lalu. ia hanya menggeleng heran. Setelah bertahun-tahun, kecenderungan untuk salah paham pada pemuda itu tidak juga berubah.
"Ngomong-ngomong, sejauh apa hubunganmu dengan Nick?" tanya Harry lagi.
"Apa?" tanya Draco heran.
"Kutanya sejauh apa hubunganmu dengan Nick?" tanya Harry mengulangi. Draco memandang Harry sejenak, lalu heran mendapati pemuda itu yang terlihat sangat serius.
"Kurasa itu bukan urusanmu," ujar Draco ketus.
"Jawab aku, Malfoy," kata Harry bersikeras.
"Why should I, Potter?" tanya Draco kesal.
Harry tidak menjawab. Ia kembali menyesap kopi di hadapannya.
Mereka kembali diam, sibuk pada apapun yang mereka pikir sedang mereka kerjakan. Suasananya terasa canggung, hingga tak satupun dari mereka berani bersuara. Untunglah tak lama kemudian denting pintu kembali terdengar. Mereka berdua serempak menengok ke arah pintu masuk, penasaran dengan pengunjung yang datang sepagi ini, lalu mendapati Nick masuk bersama Mark. Berangkulan.
Draco memperhatikan genggaman Harry pada cangkirnya yang tiba-tiba mengencang, lalu melihat wajah pemuda itu mengeras.
"Hai," sapa Nick sambil menarik Mark serta ke arah Draco dan Harry. "Pagi yang cerah ya," katanya lagi. Draco hanya mengangguk, sementara Mark terlihat panik. Belum sempat Draco menanyakan alasan kedatangan mereka pagi-pagi begini, sesuatu tiba-tiba melesat di hadapannya menuju Nick, lalu terdengar suara berdebum. Hal selanjutnya yang ia lihat adalah Harry dan Nick yang tersungkur di lantai.
"Harry!" seru Mark. Namun terlambat. Kedua pemuda itu kini bergulingan di lantai kayu, saling melemparkan pukulan ke wajah masing-masing.
Draco ternganga tidak percaya. Seingatnya ia tidak menyisipkan racun apapun ke dalam minuman pemuda itu hingga membuatnya hilang kendali seperti itu. Dilihatnya Mark mencoba melerai keduanya, namun sia-sia. Entah bagaimana caranya Harry mendapatkan kekuatan sebesar itu hingga membuatnya terlempar ke sisi ruangan yang lain.
Dilihatnya Harry berdiri sambil terengah, tangannya meraba sesuatu di saku belakang lalu mengeluarkan kayu panjang berwarna cokelat. Ia mengacungkannya ke arah Nick.
"Mau apa kau dengan tongkat itu?" tanya Mark. Matanya mendelik ngeri.
"Menurutmu?" cibir Harry dengan nafas terengah-engah. Draco bisa melihat kemarahan yang terpeta jelas di wajah pemuda itu.
"Sudah jelas, kan? Dia mau mencolok mataku dengan batang kayu itu!" seru Nick. Hidungnya berdarah.
Mark melongo. Draco juga.
Namun Draco dengan cepat menguasai diri dan berhasil menahan Harry sebelum pemuda itu sempat melemparkan kutukan apapun kepada Nick. Ia memelintir kedua tangan Harry ke belakang punggungnya dengan susah payah.
"What the hell are you doing?" serunya.
"What? Aku menghajar bajingan itu," kata Harry sambil terengah. "Sudah seharusnya."
"What?" tanya Draco tidak mengerti.
"Dia mengkhianatimu, Malfoy."
"What?"
"Kemarin aku melihatnya bercumbu dengan Mark!" seru Harry sambil menatap Mark.
Draco nyaris tersedak. 'Oke, ini sudah mulai tidak masuk akal,'
"Kau melihat Nick bercumbu dengan Mark dan merasa harus memberitahuku?" tanya Draco.
"Of course! Dia kekasihmu!" seru Harry.
Draco sampai tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri. Ia memandang Mark dan Nick−yang serempak mengedikkan bahu−bergantian, lalu memandang Harry lagi.
"Ikut aku," kata Draco sambil menarik tangan Harry lalu keluar kedai. Mereka menelusuri jalan dalam diam, tangan masih bertautan, mengabaikan beberapa pasang manula yang menatap dalam senyum, lalu berbelok ke sebuah lorong kecil. Draco menghempaskan Harry ke depan. Mereka berpandangan sambil terengah-engah.
"Kau sadar apa yang telah kau lakukan?" tanya Draco.
"Yeah, dan aku tidak menyesalinya," jawab Harry menantang.
"You should be!" seru Draco. Ia mengurut pelipisnya perlahan sambil bersandar di dinding lorong. Harry berada di dinding satunya, jarak kedua dinding itu tidak lebih dari dua meter. "Dan beraninya kau mengeluarkan tongkat sihirmu di depan Nick," ujarnya tajam.
Harry membuang muka, wajahnya masih kelihatan penuh amarah. "Aku penyihir, itu yang seharusnya kulakukan," katanya.
"Memantrai seorang muggle tak berdaya, begitu?" sindir Draco.
"Kurasa ia pantas mendapatkannya," kata Harry.
"Tak kusangka pahlawan dunia sihir bisa sebegitu mudahnya menyiksa muggle tak bersalah," cibir Draco.
"Dan memangnya siapa kau, Malfoy? Pembela muggle sekarang?" sindir Harry balik. Draco menatap pemuda itu tak percaya.
"Setiap orang bisa berubah, Potter, termasuk juga aku," ucap Draco pelan, namun cukup untuk membuat Harry menyentakkan wajahnya ke depan. Ia menatap Draco dengan ekspresi campuran antara jengkel dan menyesal. Draco mendesah lagi.
"Kenapa, Potter, kau begitu peduli dengan hubunganku dengan Nick," kata Draco.
Harry menatap Draco sekilas sebelum kembali membuang muka. "Bukan urusanmu," katanya.
"Tentu saja itu urusanku," kata Draco. "Sekarang jawab aku," tuntutnya.
"Karena kau bodoh, Malfoy," ucap Harry pelan.
"What?"
"Kau bodoh," kata Harry, kali ini dengan suara keras. "Kau boleh saja kaya, tampan, terkenal, digandrungi banyak gadis, tapi untuk masalah kebahagiaanmu sendiri, kau tidak mengerti apapun," serunya.
Draco mengerjapkan matanya tidak percaya. "Kau pikir aku tampan?"
Harry terlihat terkejut dengan pertanyaan Draco, namun akhirnya menjawab, "bukan itu intinya."
"Kau tadi mengatakannya," tuntut Draco.
"Hermione yang bilang begitu, oke?" jawab Harry kesal. Namun Draco bisa melihat rona merah yang menjalari wajah pemuda itu, dan itu membuat jantungnya berdesir pelan.
"Yang pasti kau bodoh," tambah Harry lagi.
"Yeah, aku memang bodoh hingga salah mengira kekasih orang," sindir Draco.
Harry terlihat akan membantah, sampai akhirnya ia menyadari perkataan Draco. "Maksudmu?" tanya ia tidak mengerti. Draco memandang Harry sekilas lalu mendesah.
"Hubunganku dengan Nick tidak seperti yang kau bayangkan, Potter. Bisa dibilang lebih dari teman, memang, namun cinta? No," kata Draco tenang.
Harry memandangnya tak percaya. "Kau bohong," katanya. Draco hanya menaikkan satu alisnya, sementara rona merah di wajah Harry semakin terlihat.
"Lalu kenapa kau tidak membantah saat kubilang kalian pacaran?" tanya Harry.
"Apa aku pernah bilang 'iya'?" tanya Draco balik. Ia menatap Harry yang kini salah tingkah. Pemuda itu kelihatan sangat menggemaskan dengan wajahnya yang merah.
"Kau belum jawab pertanyaanku, Potter. Kenapa kau begitu peduli dengan hubunganku dan Nick?" tanya Draco. Ia kini berjalan mendekati Harry yang tengah bersandar di dinding.
"Sudah kukatakan alasannya tadi," kata Harry.
"Itu bukan alasan," kata Draco. "Meski memang fakta yang kau katakan tak terbantahkan. Aku tampan," tambahnya seraya menyeringai. Ia kini berdiri tepat di depan Harry, jarak mereka tidak kurang dari tiga puluh senti, kedua tangannya dimasukkan dalam saku celana, beberapa anak rambutnya tergerai menutupi sisi wajahnya. "Katakan padaku, Potter."
Harry kelihatan frustasi. Ia mengacak rambutnya yang sudah berantakan hingga semakin berantakan. "Aku tidak tahu, oke? Entah kenapa melihat Nick mengkhianatimu membuatku marah," kata Harry, yang sukses membuat Draco tertegun. Mereka berdua terdiam.
"Aku benar-benar payah," ucap Harry pelan.
Draco memandang Harry yang kini tertunduk. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergejolak. Sesuatu yang asing, yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dari dulu ia benci segala sesuatu yang menguasai dirinya. Doktrin. Kekuasaan. Namun sesuatu yang asing ini, yang bahkan tidak bisa ia namai, membuatnya tidak berdaya. Anehnya, ia tidak bisa membencinya. Bahkan saat dirinya tanpa sadar terseret ke depan, mendekati pemuda berambut hitam itu, mengulurkan satu tangan untuk mengangkat wajahnya.
"Aku juga," ucapnya pelan.
Mata mereka bertemu. Hijau dan abu-abu. Lama mereka saling pandang, saling tenggelam dalam pencarian masing-masing, hingga akhirnya kesadaran mulai kembali menyergapi mereka berdua. Draco mengamati setiap inci wajah Harry dengan cermat. Alisnya yang hitam, cekung identik di ujung matanya, hidungnya, lalu bibirnya yang berdarah. Ia kemudian meraba luka di sudut bibir Harry dengan ujung jarinya.
"Apakah sakit?" tanya Draco pelan.
"Tidak," kata Harry.
Draco tahu Harry berbohong, namun ia tidak peduli. Kepalanya kini hanya dipenuhi oleh satu hal.
"Kalau begitu kau tidak akan keberatan jika kulakukan ini," kata Draco. Ia meraba sisi wajah Harry dengan kedua tangannya, sebelum akhirnya secara perlahan meniadakan jarak di antara mereka. Bibirnya mengecup lembut bibir Harry. Matanya otomatis menutup. Sebuah ciuman hangat di pagi hari. Ciuman itu berlangsung beberapa detik sampai akhirnya Draco mendengar Harry mengerang pelan. Ia buru-buru menarik diri.
"Apakah sakit?" tanya Draco khawatir.
Namun dilihatnya Harry malah tersenyum−yang membuatnya terpana−lalu kembali menariknya dalam sebuah ciuman panjang. Kali ini lebih menuntut. Tubuhnya tertarik rapat ke tubuh pemuda itu. Draco mengerang merasakan panas yang terpancar dari tubuh Harry. Tangannya secara naluriah bergerilya di tubuh pemuda itu, menelusuri setiap inci kulitnya yang lembut, hingga kemudian berlabuh di pinggang pemuda itu. Bibirnya mengecap setiap manis dari mulut mungil Harry, juga setitik darah yang membuatnya semakin berdahaga. Lama mereka terhanyut dalam ciuman itu, hingga akhirnya kebutuhan akan oksigen membuat mereka mengakhiri ciuman itu, namun tanpa melepaskan diri.
"Sebaiknya kita kembali ke kedai sebelum Bosmu marah-marah," kata Harry sambil terengah.
Draco hanya tertawa.
-End of Chapter 6-
A/N. Saya masih sebel soal cuti bersama yang dadakan itu, sampe2 lupa kalo masih punya tanggungan fic #plakk, alasan aja.
Saya sampe bingung mau jelasin apa lagi soal keterlambatan kali ini, Sorry… I was kinda bored lately, but yesterday, I read a Drarry fic (tittled Hadiah Kecil, from Black Bloody Rabbit) and it brought my mood back #nyengir. Thank's Sensou… :)
Tanpa banyak basa-basi, saya tunggu reviewnya temen2 ^^.
