Tidak ada yang lebih baik dari pada mengawali hari dengan pikiran yang kusut, hingga rasanya seperti kau tidak tidur selama berhari-hari. Berjalan tak tentu arah, mengabaikan ajakan sarapan dari tetanggamu, lalu menuruni tangga, keluar dari gedung dan menghirup udara segar. Menghalau segala penat yang bersarang di kepala akibat kinerjanya yang berlebihan. Dan tak ada yang mengalahkan nikmatnya aroma kopi di pagi hari, hingga tanpa sadar membuatmu melangkah di bawah matahari yang masih tersembunyi, dan berhenti di sebuah kedai milik mantan musuhmu sendiri.

Duduk dalam keheningan yang hanya diisi oleh kalian berdua, serta adu mulut kecil, yang entah sejak kapan sudah menjadi kebutuhan bagimu. Menyesap kopi hangat dan manis, merasakan kafeinnya membangunkan kembali syaraf-syarafmu, bukan malah melelapkannya. Lalu sebuah perkelahian, dan dengan bantuan pikiranmu yang semakin kusut, kau mendapatkan sebuah ciuman di pagi hari dari mantan musuhmu sendiri. Seperti yang mungkin bisa kau bayangkan, dan yang kini Harry rasakan.

That kissing Draco Malfoy is heaven.

Pun saat dirinya kini terengah dalam dekap erat pemuda itu. Nyaris tidak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutnya, meski rasanya banyak sekali yang ingin dikatakan. Pertanyaan. Atau bahkan umpatan. Saat entah bagaimana suaranya telah kembali, satu-satunya yang bisa ia ucapkan hanyalah,

"Sebaiknya kita kembali ke kedai sebelum Bosmu marah-marah."

Great.

Meski bukannya tanpa arti, karena kata-kata bodohnya itu, Harry malah mendapatkan denting tawa merdu, yang membuatnya terpaku.


Hello!

By : kurok1n

Harry Potter © JK Rowling


Namun rasanya romansa di antara rival memang tidak akan bisa berlangsung selamanya, karena sedetik kemudian, lewat sinar-sinar di kedua mata, kesadaran akan apa yang telah terjadi menyergap mereka berdua. Pun dengan pelukan mereka yang tidak juga melonggar, hingga nyaris dalam waktu yang bersamaan, keduanya saling melemparkan tubuh ke belakang.

"Tadi itu…" ucap Draco terbata, kepalanya menunduk, mencoba menyembunyikan rona yang menjalari wajahnya. Harry menatapnya tanpa berkedip. Bukan karena ia bisa bersikap tenang, tapi karena ia juga terlalu shock dengan apa yang telah terjadi.

"Yeah…" hanya itu yang bisa ia katakan.

"Kurasa memang kita sebaiknya kembali ke kedai," kata Draco akhirnya. Harry mengangguk tanpa mengucap sepatah katapun, lalu mendahului berjalan di depan, sementara Draco menyusul satu meter di belakangnya. Keduanya melangkah dalam diam, melewati kembali pasangan manula yang menatap dalam senyum. Baru setelah mereka berbelok di tikungan menuju kedai, Harry mendengar Draco memanggilnya.

"Potter," panggil pemuda itu. Harry menoleh, agak terlalu cepat, dengan wajahnya yang kembali memanas. Mata mereka bertemu kembali, dan untuk kesekian kalinya Harry bisa melihat rona merah perlahan menjalari wajah pucat di depannya. Perutnya serasa jungkir balik. Lagi.

"Tidak. Tidak apa-apa," kata Draco setelah terdiam beberapa saat. Pemuda itu kemudian melangkah mendahului Harry. Harry mengikutinya dalam diam. Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di depan kedai.

"Well, kau mau masuk?" tanya Draco.

Harry menatap pemuda di depannya. Mungkin hanya karena pantulan sinar matahari, namun Harry yakin ada harapan tersirat di mata pemuda itu.

"Sebaiknya aku kembali ke flat saja," jawab Harry. Draco hanya mengangguk. Lalu dengan lirikan terakhir, ia akhirnya masuk ke kedai.

.

-o0o-

.

"Kau baik-baik saja, Bos?" tanya Robert saat mereka tengah berada di dapur. Draco seketika tersadar dari lamunannya.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Draco balik. Robert kemudian menunjuk sesuatu di depan Draco. Draco mengikuti arah tunjuk Robert dan mendapati cangkir di depannya meluap oleh kopi yang dari tadi dituangkannya dari teko yang ia pegang. Buru-buru ia menaruh teko dan menghindari limpahan air itu.

"Shit," rutuknya sambil mencoba membersihkan cipratan yang mengenai kemeja yang ia pakai.

"Bos?" tanya Robert lagi. Draco menengadah dan mendapati anak buahnya tengah menatapnya dengan alis terangkat.

"What?" tukasnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Robert.

"Tentu saja," jawab Draco.

"Tapi wajahmu memerah. Kau demam?"

Kening Draco berkerut mendengar pertanyaan itu, namun tidak menimpali.

"Sebaiknya kau kerjakan saja tugasmu dan jangan pedulikan hal yang tidak penting," kata Draco sebelum kemudian beranjak menuju ruangannya.

'This is bad... Really bad,' pikir Draco saat tiba di ruang kerjanya. Ia segera menghempaskan diri ke kursi dan mendesah. Seorang Malfoy tidak melamun dan jika itu sampai terjadi pastilah sesuatu yang sangat buruk tengah terjadi. Dan apa yang tengah terjadi sekarang memang buruk, karena apa yang ia lamunkan tidak lain adalah mantan musuh bebuyutannya sendiri.

Mantan? Entahlah. Draco juga tidak tahu titel apa yang harus ia sandangkan pada pemuda itu. Musuh? Mereka bukan remaja lagi, sudah lewat masanya mereka mempertahankan kebencian masa lalu. Teman? Tidak. Tentu saja tidak. Tetangga? Yeah. Tetangga yang tidak diharapkan lebih tepatnya. Draco membenturkan kepalanya ke meja. Dan tetangga macam apakah yang bisa membuat seorang Draco Malfoy menciumnya?

Draco mendesah. Bahkan sampai sekarang masih bisa ia rasakan lembutnya bibir Harry di bibirnya, desah nafasnya, genggamannya di kepala dan lehernya. Semuanya membuatnya gila. Gila karena tiap kali ia memikirkannya, ia semakin menginginkan kembali sensasi itu. Dan bertambah gila saat akhirnya ia menyadari bahwa ia telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk memikirkan pemuda itu.

Draco kemudian menegakkan tubuhnya, mengambil beberapa catatan di mejanya, berusaha berkonsentrasi pada apapun yang tertulis di situ. Sia-sia. Kepalanya sedang tidak bisa diajak bekerja sama sekarang. Sambil menggerutu ia kemudian beranjak dari ruangannya menuju ruang pelanggan, lalu keluar lewat pintu masuk.

.

-o0o-

.

"Siang," sapa seseorang saat Harry tengah berjalan di koridor menuju ruangannya.

"Siang," balas Harry saat ia akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Ron tengah memandangnya. "Hai, Ron," sapanya.

"Kau baik-baik saja, mate?" tanya Ron.

"Absolutely," ujar Harry. Ron masih memandangnya dengan tatapan aneh.

"Dari tadi kau senyum-senyum sendiri, tahu," kata Ron. Harry memandangnya bingung.

"Benarkah?" tanya Harry. Ron hanya mengangguk.

'Well, itu aneh,' pikir Harry. Seingatnya, selain mencium Draco Malfoy pagi ini, tidak ada satupun kejadian luar biasa yang terjadi.

'Selain mencium Draco Malfoy,' ulang Harry dalam hati.

Selain mencium Draco Mal

Sekonyong-konyong ingatan tentang kejadian pagi ini menyerbunya, wajahnya langsung memerah tanpa bisa ia tahan.

"Harry, kau oke?" tanya Ron khawatir. Harry tidak bisa mengatakan apapun, ia sibuk memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing. Serbuan memori pagi ini tiba-tiba membuatnya susah bernafas.

"Ya, aku baik-baik saja," ujarnya. "Aku akan ke ruanganku dulu. Bye, Ron," ucapnya lagi sambil berjalan menuju ruangannya.

'Ini gawat,' pikir Harry begitu sampai di ruangannya. 'Gawat.' Bahkan ketika dulu ia bersama Ginny, ia tidak pernah memikirkan gadis itu sebegini lama. Dan entah karena alasan apa, saat ia tersadar, segala yang ia pikirkan hanyalah tentang Draco Malfoy. Seseorang yang seharusnya tidak pernah ada dalam pikirannya.

Harry berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya, tidak menyadari bahwa sedari tadi beberapa pasang mata tengah mengawasinya dengan khawatir. 'Apa yang harus kulakukan?' batinnya. Kepalanya pusing memikirkan cara untuk menghadapi situasi ini. Dan apa yang akan dikatakannya jika ia bertemu Draco nanti? Akankah ia mengatakan bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahan? Hatinya terasa sakit saat memikirkan kemungkinan itu. Karena entah kenapa, ia pun tidak ingin menganggapnya sebuah kesalahan. Apa yang ia rasakan adalah nyata. Rasa Draco di bibirnya. Juga detak jantung pemuda itu di tangannya. Ia tak mau membohongi dirinya sendiri. Ia tak mampu.

Harry kemudian duduk di kursinya, menumpukan kepalanya langsung ke meja kerjanya lalu mendesah.

Malfoy. Malfoy. Malfoy.

Draco...

'Damn!' rutuk Harry dalam hati. Ia kemudian berdiri lalu melangkah keluar ruangannya dengan menggerutu, menyisakan orang-orang yang menatap heran. Bertanya-tanya mengapa segala hal yang berhubungan dengan Draco Malfoy selalu membuatnya pusing. Ia tengah berjalan di koridor lantai dasar menuju perapian saat orang yang tengah berjalan di depannya membuatnya menghentikan langkah.

"Hai," sapa orang itu.

"Hai, Mark," sapa Harry kikuk. Melihat Mark di depannya mau tidak mau membuat Harry teringat tentang kesalahpahamannya kepada pemuda itu dan Nick. 'Well, siapa suruh mereka tidak menjelaskannya padaku,' batin Harry membela diri. Namun detik itu juga ia teringat bahwa ia lah yang menolak untuk diberi penjelasan. Hal itu mau tidak mau membuatnya merasa bersalah.

"Bagaimana keadaan Nick?" tanya Harry.

Mark kelihatan terkejut, namun akhirnya ia menjawab, "Ia baik-baik saja. Cuma memar ringan di beberapa bagian, selebihnya tidak masalah."

Harry kelihatan salah tingkah. Ia kemudian mendekati Mark dan berkata, "Maaf atas kejadian tadi pagi, Mark. Aku tidak menyangka bahwa aku bisa begitu–"

"Bodoh. Yeah," potong Mark.

Harry menatap temannya itu. Ada sinar aneh pada matanya, namun ekspresinya sulit di tebak. Ia nyaris undur diri dari sana saat tiba-tiba Mark meledak dalam tawa.

"What?" tuntut Harry. Mark masih tertawa, bahkan kini lebih keras. Harry cuma bisa merengut melihatnya.

"Tidak mengherankan Malfoy susah payah menghindarimu, Harry. Ekspresimu tadi benar-benar luar biasa!" kata Mark saat tawanya mulai reda.

Kening Harry berkerut. "Aku tidak mengerti maksudmu," kata Harry.

Mark hanya tersenyum. "Well, have a good day, Sobat," ujar temannya itu sambil menepuk pundaknya. "Kau sudah mengawalinya dengan hal yang luar biasa, kan?" bisiknya sebelum akhirnya meninggalkan Harry dengan wajah memerah. Jadi kini bukan hanya dirinya dan Draco saja yang mengetahui kejadian tadi pagi. Teman kerja dan tetangganya (Nick) pun ikut-ikutan tahu. Harry mengutuk Draco yang bisa-bisanya menceritakan rahasia itu kepada orang lain.

Mengabaikan ledekan Mark, Harry kemudian kembali berjalan menuju perapian. Menggumamkan sebuah tempat, sebelum akhirnya sensasi hangat yang menjalari kulitnya menyedotnya dalam pusaran warna.

.

-o0o-

.

Sore yang indah di pelataran taman yang kini dipenuhi oleh bunga-bunga liar.

Sudah sejak lama Draco menemukan tempat itu, sebuah petak kecil penuh rumput dengan air mancur kecil menjadi pusatnya. Awalnya air mancur itu sudah tidak bisa lagi berfungsi, namun apalah artinya menjadi penyihir jika Draco tidak bisa membereskan masalah sekecil itu. Dengan lambaian ringan tongkatnya, jadilah air mancur itu berfungsi lagi. Taman itu sendiri terletak pada sebuah bukit kecil di pinggiran kota. Di antara rumah-rumah yang berjajar berjauhan. Kondisinya sangat mengenaskan saat Draco pertama kali melihatnya. Padahal masih bisa ia lihat sisa-sisa kecantikannya dulu. Entah apa yang menggerakkannya, namun secara naluriah Draco mulai memperbaiki tempat itu. Menyingkirkan rumput-rumput dan tanaman kering hingga tunas-tunas baru bisa bermunculan. Merapikan sedikit demi sedikit tanaman-tanaman dengan sihir, hingga kini tempat itu menjadi jauh lebih layak di sebut taman. Meski juga tanpa mengabaikan unsur-unsur eksotis dari tanaman dan bunga-bunga liar.

Dan di sinilah ia sekarang, menikmati matahari yang perlahan menjingga sambil menghirup wangi bunga yang tertiup angin. Mencoba melepaskan segala penat yang bersarang di kepalanya. Juga tokoh penyebab pening yang berakselerasi sedemikian rupa hingga menjajah akalnya.

Draco tersenyum dalam diam seraya merebahkan dirinya di atas rerumputan. Sudah lama rasanya ia tidak menikmati keheningan tempat itu dengan matanya yang tertutup. Sudah lama rasanya ia tidak bercumbu dengan dirinya sendiri di tengah buaian angin. Kesibukannya dengan kedainya membuatnya jarang menyempatkan diri untuk beristirahat. Keharusannya bersikap layaknya muggle membuatnya rindu pada dunia sihir. Pada Hogwarts. Pada Slytherin. Pada rivalnya di Gryffindor. Pada Harry Potter...

Harry Potter...

Harry Pot–

Mata Draco menjeplak terbuka saat pikirannya secara tidak sadar tengah menyebut nama mantan musuhnya itu. Belum lagi sepasang mata berwarna hijau cemerlang yang tengah menatapnya dari atas tanpa berkedip.

Andai saja Draco seorang perempuan, ia pasti sudah menjerit kaget. Untunglah ia seorang laki-laki DAN seorang Malfoy. Seorang Malfoy tidak menjerit seperti perempuan. Jadi ia hanya berguling ke samping, mengabaikan rambut pirang sebahunya yang tergesek dedaunan kering, lalu duduk dan menghadap Harry.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tuntut Draco.

Harry hanya mengangkat bahu, "Tidak tahu," jawabnya.

Draco mengamati pemuda di depannya dari bawah ke atas. Nampak sekali ia juga sedang jenuh seperti dirinya. Draco bisa memaklumi kebutuhannya untuk berada dalam tempat yang tenang dan damai, sedamai taman miliknya ini.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya Harry. Draco bermaksud menolak, namun Harry sudah terlanjur duduk dan rebahan, menikmati dirinya sendiri.

"Sepertinya kau tidak butuh ijinku," sindir Draco, sementara dirinya tetap duduk di tempatnya yang sekarang. Harry hanya tersenyum mendengarnya.

"Kenapa kau bisa berada di tempat ini, Malfoy?" tanya Harry.

"Kenapa kau bisa berada di tempat ini, Potter?" sindir Draco lagi.

"Entahlah. Pikiranku sedang penat, aku hanya ingin tempat yang tenang. Lalu tiba-tiba aku di sini," jawab Harry. Draco hanya diam mendengarnya. Ia juga punya masalah yang sama dengan pemuda itu. Pikirannya juga sedang penuh dengan sesuatu–koreksi, seseorang– yang membuatnya pusing. Andai saja Harry tahu bahwa ialah sumber segala kegalauan itu.

"Taman yang cantik," ujar Harry. "Kau sendiri yang menatanya?"

Kening Draco berkerut mendengar pertanyaan itu. "Apa kita sudah sampai tahap saling bertanya tentang taman, Potter?" sindir Draco. Harry sekali lagi hanya mengangkat bahu.

"Entahlah. Aku hanya bertanya," kata Harry cuek, namun Draco tidak menjawab.

Mereka berdua kini terdiam tanpa mengucap sepatah katapun. Menikmati semilir angin yang menerpa tubuh mereka, juga sayup-sayup kicau burung di atas sana. Memandangi langit yang berubah lembayung, juga aroma mawar yang lembut. Juga debaran hati yang tak kunjung mereda. Semuanya bagaikan simfoni yang melenakan. Draco kemudian kembali merebahkan dirinya di atas rumput, dua meter jauhnya dari tempat Harry berbaring. Menutup mata, mengabaikan otaknya yang sedari tadi berteriak memprotes keberadaannya di dekat Harry. Baginya semua ini bagai fatamorgana, terlalu damai dan indah, hingga rasanya tidak nyata.

"Malfoy," panggil Harry.

"Hm," jawab Draco singkat.

"Kenapa pagi tadi kau menciumku?"

Draco nyaris tersentak mendengarnya. Tidak ia sangka pemuda di sampingnya itu berani mengungkit masalah tadi pagi. Namun akhirnya ia putuskan untuk tidak menjawab.

"Apa kau menyesalinya?" tanya Harry lagi.

Draco tidak menjawab lagi, meski dalam hati ia bersumpah bahwa selama hidupnya, itu adalah ciuman yang paling brilian yang pernah ia dapatkan.

Keduanya terdiam, seakan segala sesuatu yang ingin disampaikan tertelan oleh angin yang berdesir. Matahari sendiri nyaris tenggelam sepenuhnya, menyisakan langit jingga gelap bercorak awan keunguan. Draco merasakan Harry di sampingnya bergerak, lalu beberapa detik kemudian mendengar pemuda itu berkata, "Sebaiknya aku pulang."

Draco langsung bangkit saat melihat Harry mulai beranjak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang enggan melepas Harry pergi, hingga dalam langkah ketiga pemuda itu, Draco akhirnya memberanikan diri berkata, "It was amazing."

Harry menoleh untuk mendengarkan lebih jelas, dan kesempatan itu digunakan Draco untuk menyampaikan apa yang selama ini bersarang di kepalanya. Sambil menatap tepat mata Harry ia berkata, "The kiss. It was amazing."

Dan Harry pun tersenyum.

-End of Chapter 7-


AN. Saya lagi dengerin Chopin-Nocturnes saat ngetik ini. So, bisa dimengerti kan darimana datangnya scene manis berlatarkan taman ini? #nyengir

Saya tunggu saran dan kritiknya, teman2... ^^