Pernahkah kau merasakan betapa hati dan pikiranmu bertentangan? Keduanya meneriakkan pendapat masing-masing dengan begitu kerasnya hingga rasanya kau berada di tengah peperangan besar? Well, setidaknya itulah yang dialami Draco sekarang, saat dirinya entah kenapa malah berjalan bersama Harry Potter menuju flat mereka. Koreksi, flat masing-masing. Sebuah hal yang aneh mengingat mereka berdua adalah penyihir DAN lingkungan di sekitar mereka yang sepi.
Sambil berusaha menjernihkan tenggorokannya yang terasa kering, pemuda berambut pirang itu merapatkan jubahnya. Angin senja ini terasa dingin menusuk tulang. Tapi ada yang aneh dengan cuaca hari itu, karena dalam dinginnya senja, ia masih bisa merasakan tubuh Harry yang hangat saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan.
Hello!
By : kurok1n
Harry Potter © JK Rowling
Sebuah pagi yang biasa di kedai milik Draco. Semua pegawainya tengah mempersiapkan segala sesuatunya di dapur, sementara ia sendiri tengah duduk di belakang meja counter, memeriksa catatan-catatan sambil sesekali menyesap kopi dan memperhatikan orang yang berlalu lalang lewat jendela kedainya. Pagi itu matahari sedang bersinar cerah, hingga rasanya memandang jalanan yang penuh dengan anak-anak kecil yang berlarian tidak terasa begitu memusingkan.
Draco sudah setengah jalan memeriksa catatan keuangannya saat ia mendengar seseorang memasuki kedainya.
"Hai," sapa seorang pemuda berambut hitam berantakan sambil tersenyum ragu.
"Apakah dicium olehku membuatmu ketagihan datang ke sini, Potter?" cibir Draco sambil tetap duduk di belakang meja counter. Wajah Harry memerah seketika dan Draco mengutuk kenyataan bahwa pemuda itu terlihat semakin menggemaskan.
"Aku hanya ingin kopi," jawab Harry.
"Jawaban klise," balas Draco.
"Apakah dengan menjawab seperti itu aku akan dicium lagi, Malfoy?" sindir Harry balik.
Kini giliran Draco yang tidak bisa berkata-kata. Dilihatnya pemuda di depannya itu menyeringai kecil, ia hanya mendengus.
"You wish," katanya.
"Oh, really?" goda Harry.
Draco tidak menjawab, ia hanya menyuruh Stan, salah satu pegawainya menyiapkan secangkir kopi. Setelah sekitar lima menit, kopi pesanan Harry akhirnya datang.
"Paling tidak kau menyuguhkan kopi yang benar hari ini," kata Harry sebelum menyeruput kopinya. Draco mendongak memandang pemuda di depannya, lalu cangkir yang tengah di pegangnya yang berisi kopi hitam. Keningnya berkerut, biasanya apa yang ia maksudkan kopi adalah capucino, dan seingatnya ia tidak pernah secara spesifik menyuruh Stan membuat kopi hitam. Ditengoknya anak buahnya itu, yang setengah menyeringai sebelum kemudian kembali ke dapur.
"Kau menyuruhnya seperti kau pemilik tempat ini saja," kata Harry setelah memberikan anggukan kecil pada Stan. Draco hanya mendengus. Jika ada hal istimewa yang harus ia sebutkan mengenai pemuda di depannya ini, yang bisa ia katakan hanyalah bahwa pemuda itu memiliki kecenderungan untuk salah paham yang parah.
"Terserah kau saja," ucap Draco singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada kertas-kertas di tangannya.
"Kau memperhatikanku juga ternyata," kata Harry. Ia kini menatap Draco dan semua kertas yang tengah dipegangnya. Kening Draco berkerut.
"Tempo hari saat aku bilang aku lebih suka kopi hitam, kau ternyata mengingatnya," kata Harry sambil tersenyum simpul.
"Siapa tahu kau buta, Potter, anak buahku lah yang membuatkan kopi untukmu," jawab Draco. Matanya kembali sibuk memeriksa catatan di depannya.
"Seperti itu mengubah fakta saja," ujar Harry pelan. "Tunggu, kau bilang anak buahmu?"
Draco mendesah lalu meletakkan catatan-catatannya dan menatap balik pemuda di depannya itu.
"Kurasa ada banyak sekali hal berguna yang bisa kau lakukan selain mengacau di kedaiku, Potter," kata Draco. Alis Harry naik mendengar kata-kata Draco.
"Kurasa kita memang memiliki pandangan yang berbeda mengenai sesuatu yang berguna dan yang tidak, Malfoy," katanya.
Draco hanya mendengus.
"Ngomong-ngomong, aku sudah minta maaf pada Mark soal kesalahpahaman waktu itu," ujar Harry lagi. Draco tidak menanggapi, ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. "Dan aku datang ke sini untuk minta maaf padamu," tambah Harry.
Draco masih tidak menjawab.
"Malfoy? Kau mendengarku?" tanya Harry.
"Aku bisa memaafkanmu asal kau tidak terus-menerus datang ke sini," jawab Draco asal-asalan.
Harry terdiam cukup lama, dan Draco tidak memperhatikan bahwa wajah pemuda itu berubah serius. "Kau serius?"
"Hm," jawab Draco cuek.
"Baiklah kalau begitu," kata Harry. "Terima kasih kopinya, Malfoy."
Kepala Draco otomatis tersentak saat dilihatnya Harry beranjak pergi dari tempat duduknya. Namun ia tidak mengatakan apapun saat dilihatnya pemuda berambut hitam itu menutup pintu masuk, meninggalkannya dengan perasaan aneh seperti tertusuk.
.
-o0o-
.
Hari berikutnya Harry tidak terlihat di kedai kopi milik Draco. Padahal pemuda itu selalu datang pukul setengah delapan pagi setiap harinya. Draco nyaris terlonjak saat suara bel pintu berbunyi pagi itu dan mendesah kecewa saat mendapati orang lain yang memasuki kedainya.
'Tunggu, kenapa aku harus kecewa? Bukankah lebih baik begini? Tenang tanpa gangguan dari pemuda konyol itu?' ujar Draco dalam hati. Namun setiap kali pekerjaannya terselesaikan, yang ia lakukan hanyalah duduk di belakang meja counter dan memandang ke arah pintu masuk, berharap seorang pemuda dengan kaca mata bundar masuk melewati pintu itu.
"Kau menunggu sesuatu, Bos?" tanya Stan pada suatu pagi. "Seseorang?"
Kening Draco berkerut mendengar pertanyaan itu.
"Bukan urusanmu," gerutunya. "Dan, tidak. Aku tidak menunggu apapun. Siapapun," tambahnya seraya berjalan menuju ruangannya sendiri.
Sudah seminggu sejak Harry terakhir kali datang ke kedainya. Sejak perbincangan mereka pagi itu, pemuda itu tak sekalipun nampak batang hidungnya di tempat ini, bahkan untuk sekedar terlihat berjalan menuju tempat kerjanya. Dan anehnya, pemuda itu pun tidak terlihat di sekitar flatnya. Draco menerka-nerka apa gerangan yang telah terjadi pada pemuda itu. Sibukkah? Tewas? No, meski pemuda itu memang gemar bermain-main dengan kematian, tapi dirinya tidak mungkin tewas tanpa serbuan berita. Setidaknya kalau benar ia tewas, Rachel, Nick, atau mungkin Helen akan mengabarinya. Entah kenapa dada Draco terasa sesak memikirkan kemungkinan ini. Atau mungkin Potter menemukan kedai kopi yang lebih enak dari miliknya? Draco langsung mengenyahkan kemungkinan ini, karena ia yakin betul, kedainya lah yang terbaik.
Atau mungkin, ia bertemu seseorang lalu sibuk jatuh cinta?
Perut Draco terasa melilit saat teringat kemungkinan ini. Ya, Harry Potter yang terkenal. The Savior. Gadis mana yang tidak mau bersanding dengannya?
Draco mengurut pelipisnya yang tiba-tiba berkedut. Harry Potter dan seorang gadis. Mengapa kemungkinan ini tak pernah terpikirkan sebelumnya? Tapi tunggu, untuk apa ia memikirkannya? Ia bukan siapa-siapa bagi Harry Potter. Ia hanyalah mantan musuh selama di Hogwarts, dan calon musuh saat mereka kini bertetangga. Apa yang ia pedulikan?
Entahlah. Yang pasti kepalanya bertambah pusing setiap kali nama Harry Potter tersebut dalam pikirannya.
Draco tengah menyesap gelas kopinya yang ketiga ketika terdengar pintu ruangannya terbuka. Ia mendongak untuk melihat siapa yang datang, lalu mendapati seorang pemuda berambut pirang pendek tengah memandanginya di pintu masuk.
"Berita buruk," katanya.
.
-o0o-
.
Draco berdiri mematung di depan sebuah pintu flat persis di samping flatnya. Tangannya yang tergenggam teracung hanya beberapa senti dari papan kayu yang memisahkannya dengan ruangan di hadapannya. Berkali-kali ia mencoba mengetuk pintu itu, namun urung dilakukannya, karena gengsinya selalu menang.
'Untuk apa? Apa peduliku?' Pertanyaan itu terus menerus berputar di kepalanya. Dan ia masih tidak mau menyerah meski jawabannya juga telah berulang kali terputar, "Harry sekarat, Rachel memintaku memberitahumu. Ia menitipkan ini untuk diserahkan pada Harry," kata Nick tadi di ruang kerjanya. Harry Potter sekarat, sesuatu yang lumrah. Harusnya ia tidak terkejut, dan tidak peduli. Namun sesuatu yang asing yang meremas hatinya menariknya hingga ke sini, tepat beberapa langkah dari pemuda yang mungkin saja tengah terbaring di ruangannya. Sambil mendesah untuk kesekian kalinya, ia pun mengetuk pintu di depannya.
Tidak ada jawaban. Draco mengetuk lagi, sedikit lebih keras. Masih tidak ada jawaban. Rasa panik tiba-tiba menjalarinya. Nyaris saja ia akan mendobrak pintu itu sebelum akhirnya pintu itu dibuka dari dalam.
"Malfoy? Ada apa?" tanya Harry. Kening Draco berkerut melihat Harry yang tengah berdiri di depannya sambil mengenakan piyama dengan rambutnya yang acak-acakan.
"Kau masih hidup," kata Draco.
"Maaf mengecewakanmu," sungut Harry. "Ada apa?"
"Nick bilang kau sekarat," kata Draco lagi.
"Oh," jawab Harry. "Tidak kusangka dendamnya begitu besar."
Draco terdiam mendengar penuturan Harry, lalu tiba-tiba saja kesadaran menyergapnya. 'Nick sialan, beraninya dia mempermainkanku seperti ini,' sungut Draco dalam hati.
Mereka berdiri dalam diam selama beberapa saat. Baik Harry maupun Draco sepertinya tidak tahu harus berkata apa. Harry sepertinya hendak mengatakan sesuatu, namun selalu diurungkannya, membuat Draco geregetan sekaligus penasaran. Draco bermaksud memasukkan tangannya ke dalam saku, sampai akhirnya ia sadar bahwa ia tengah menggenggam sesuatu. Ia langsung menyodori Harry bungkusan itu.
"Rachel menyuruhku mengantarkan ini," katanya. Harry menerima bungkusan itu lalu membukanya, yang ternyata isinya kue dan manisan.
'Bingkisan luar biasa untuk orang yang sekarat : manisan. Great,' rutuk Draco dalam hati.
"Oh, harusnya Rachel tidak perlu repot-repot seperti ini," kata Harry.
Draco memandangi pemuda di depannya itu, baru kali ini ia sadar bahwa wajah pemuda itu luar biasa merah.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Draco.
"Apa? Oh ini, aku demam sedikit," kata Harry sambil nyengir lemah. Kening Draco berkerut mendengarnya.
"Kau penyihir tapi sampai terkena demam?" tanya Draco.
"Yah…" kata Harry lemah.
Draco mendesah. "Dasar idiot," ujarnya. "Sudah kau obati?"
Harry hanya menggeleng. Sambil mendesah pelan, Draco menerobos masuk ke flat Harry. "Biar kubuatkan ramuan," gumamnya.
"Tunggu, Malfoy," kata Harry sambil menahan lengan Draco. "Kau tidak perlu repot-repot begini."
Draco menatap lengannya lalu Harry bergantian. "Maksudmu?"
"Aku bisa menangani ini sendiri," kata Harry. "Lagian, aku tidak mau mengganggumu lagi," tambahnya pelan. Draco bingung sejenak, namun akhirnya ia paham apa yang Harry maksudkan. Semua ini tak lebih karena perkataannya di kedai beberapa hari yang lalu.
"Dengar, Potter, lupakan saja apa yang kukatakan waktu itu," kata Draco.
"Maksudmu?" tanya Harry.
"Lupakan saja. Aku tidak serius saat mengatakannya. Well, aku memang serius, tapi tidak seserius itu," kata Draco. Entah kenapa ia jadi gugup.
"Aku masih belum mengerti," kata Harry.
"Intinya, lupakan saja. Oke?" kata Draco. "Sekarang, dimana kau letakkan bahan-bahan ramuanmu?"
.
-o0o-
.
'Well, ini aneh,' pikir Draco. Baru saja ia merasa janggal dengan absennya Harry di kedainya seminggu belakangan ini, kini dirinya tengah berada di dapur pemuda itu, meracik ramuan sederhana untuk menyembuhkan demamnya. Ia menumbuk bahan terakhir sebelum kemudian menambahkannya ke dalam kuali yang menggelegak. Setelah beberapa menit, ia menuangkan ramuan itu ke dalam sebuah mug merah yang ia temukan di sana. 'Gryffindor sampai hal terkecil,' cibir Draco dalam hati.
"Minum ini, kau akan membaik," kata Draco sambil menyerahkan ramuan tadi pada Harry yang tengah berbaring di tempat tidurnya, lalu duduk di kursi di samping tempat tidur.
"Thank's" gumam Harry sambil menerima gelas dari Draco. "Ugh, menjijikkan," tambahnya saat mulai meminum ramuan itu.
"Jangan protes," sergah Draco. Ia memandang sekeliling ruangan itu. Tidak banyak perabot di sana, hanya barang-barang kebutuhan standar, dan seperangkat peralatan Quidditch yang tampak terawat dengan baik.
"Kau masih main Quidditch?" tanya Draco.
"Kadang-kadang," jawab Harry.
"Bagaimana kau membawanya? Orang-orang pasti akan menganggapmu aneh membawa sapu dan benda-benda itu," kata Draco lagi.
"Pernah mendengar mantra perluasan, Malfoy?"
Alis mata Draco terangkat saat mendengar jawaban Harry. "Well, brilian sekali−"
"Thank's," potong Harry.
"−orang yang telah mengajarkannya padamu," lanjut Draco cuek.
"Bergaullah dengan Hermione selama sepuluh tahun, kau akan terbiasa," kata Harry pasrah.
Mereka berdua kembali terdiam dalam keheningan. Keheningan yang memacu detak jantung lebih tepatnya. Draco menoleh ke arah jendela yang tertutupi oleh tirai-tirai. Semuanya bernuansa merah, seperti yang bisa diharapkan dari seorang Gryffindor.
"Kurasa kau perlu sedikit sinar matahari," kata Draco seraya mengayunkan tongkat sihirnya ke arah jendela, membuat tirai-tirai di sana terikat ke samping hingga sinar matahari sore mulai masuk dan menerangi ruangan itu. Setelah selesai, ia kembali mengalihkan pandangannya pada Harry.
"Kenapa kau senyum begitu?" tanya Draco curiga.
Harry hanya menggeleng. "Tidak. Hanya saja sudah lama sekali sejak aku melihatmu menggunakan tongkatmu. Lagi pula, seorang Slytherin sepertimu ternyata menyukai matahari juga," katanya.
Draco hanya mendengus pelan. Matanya kembali menjelajahi ruangan itu.
"Banyak yang tidak kau ketahui tentangku, Potter," kata Draco pelan.
"Yeah, aku tahu," jawab Harry. Ia terdiam sejenak sebelum kemudian menambahkan, "Katakan padaku, Malfoy, apa kau sudah bertemu seseorang yang kau sukai?"
"Dan kenapa aku harus menjawabnya?" sungut Draco.
"Karena itu sebuah pertanyaan?" kata Harry.
"Itu bukan alasan," jawab Draco.
"Kuralat, karena itu sebuah pertanyaan dari orang yang sedang sakit sepertiku?"
Draco mendengus. "Pertama, alasanmu idiot. Kedua, kau juga idiot sampai terkena penyakit remeh seperti ini. Ketiga, aku tidak berpikir bahwa kita sudah sampai pada tahap bertanya tentang hal-hal seperti itu," ujarnya.
"Jadi kapan kita akan sampai pada tahap itu?" tanya Harry serius. Draco sedikit tersentak melihat intensitas di mata Harry. Ia kemudian berdehem untuk meredakan debar jantungnya yang tiba-tiba tidak terkendali.
"Kurasa sudah saatnya aku pulang," kata Draco. "Jangan lupa minum ramuan di samping tempat tidurmu besok pagi," tambahnya seraya bangkit dari kursi.
"Tak bisakah kau menemaniku sebentar saja?" tanya Harry. Andai saja Draco sedang tidak sibuk menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan, ia pasti akan tertawa melihat wajah Harry yang begitu memelas. "Please?" tanya Harry lagi.
Draco memandang Harry lagi lalu mendesah. "Memangnya kau pikir berapa umurmu? Lima tahun?" ejeknya. Ia kembali melangkah menuju pintu keluar. Ketika Draco hendak membuka pintu itu, ia tiba-tiba berbalik, memandang Harry yang tengah terbaring di hadapannya dengan kening berkerut dalam. "Aku akan kembali malam nanti," lanjutnya, sebelum akhirnya ia membuka pintu dan keluar.
'Apa yang kau lakukan, bodoh?' maki Draco dalam hati. Ia tidak mengerti bagaimana bisa manusia berakal sepertinya bisa melakukan hal bodoh seperti itu.
Sambil menepuk-nepukkan tangan ke wajahnya, berharap rasa panas yang menjalari pipinya segera menghilang, ia berjalan menuju flatnya sendiri.
Draco hanya tidak tahu, bahwa ketika ia keluar tadi, ia meninggalkan Harry dengan senyum lebar di wajahnya.
aah~ yume ja nai to mune no kodou wo kazoeteiru
ano sora ni ukabu ikutsumo no hikari atsume
koi wa kagayaku~
[ikimono gakari-kimi ga iru]
