Sore itu di kedainya, Draco tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Berulang kali ia memerintahkan hal yang sama kepada Robert, anak buahnya, untuk mematikan perapian. Padahal tidak ada satupun perapian di tempat itu, sehingga Robert yang malang harus berkeliling kedai, mencari ceruk berbentuk persegi yang mungkin saja luput dari pandangannya, sebelum akhirnya Stan meyakinkannya bahwa memang tidak ada perapian di tempat itu. Belum lagi pesanan pelanggan yang sering salah. Entah kenapa, setiap kali ada pelanggan yang memesan, Draco selalu bersikeras bahwa pesanan itu adalah kopi hitam. Padahal para pegawainya sudah dengan jelas mencatat di nota mereka setiap pelanggan memesan. Hal ini membuat pegawainya para menjadi khawatir. Siapa tahu Bos mereka terserang penyakit aneh hingga membuatnya sering melamun dan menggumam sendiri.
"Kau oke, Bos?" tanya Stan saat ia selesai mengantarkan pesanan di meja paling ujung.
Draco yang sedari tadi melamun sambil mencorat-coret kertas di depannya memandangnya bingung.
"Kau oke?" tanya Stan lagi.
Kesadaran sepertinya mulai merayapi Draco sehingga keningnya kini berkerut.
"Memangnya kenapa aku harus tidak baik-baik saja?" sergah Draco. Stan menaikkan alis matanya.
"Kau melamun, lalu menggumam, lalu mencorat-coret catatanmu sendiri," kata Stan sambil menunjuk catatan di depan Draco. Draco melihat catatannya yang kini sudah tidak terbaca lalu mendengus.
"Catatan ini memang sengaja kucoreti," katanya.
Tentu saja ia berbohong. Sebetulnya catatan itu adalah ringkasan alur kas mereka selama satu bulan ini. Sudah sejak beberapa hari yang lalu Draco menyusunnya. Namun semua itu rasanya tidak penting lagi. Harga dirinya, terlebih lagi keresahannya, adalah prioritas nomor satu untuk saat ini.
"Kau tahu, Bos, kurasa kau sebaiknya beristirahat. Keluar, lalu menemui seseorang," kata Stan.
"Seseorang?" tanya Draco curiga. Stan hanya mengangkat bahu.
"Siapa kau ingin bertemu seseorang. Siapa tahu kau punya janji. Semacam itulah," katanya.
Draco mendesah. Ya, ia memang punya janji. Dan ia harus menunaikannya dalam beberapa menit ke depan.
Hello!
By : kurok1n
Harry Potter © JK Rowling
Harry berjalan mondar-mandir di dalam flatnya sendiri. Saat itu sudah pukul 7 malam, dan Draco bisa datang kapan saja. Apa yang harus ia lakukan?
'Tunggu, kenapa aku harus panik seperti ini?' tanya Harry dalam hati. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, namun kemudian ia teringat alasan kenapa Draco datang ke apartemennya. 'Karena aku memintanya...' jawabnya dalam hati. Ia mendesah. Permintaannya sore tadi memang di luar dugaan. Hal itu terucap saja dari mulutnya saat ia melihat Draco hendak meninggalkannya. Dan ia terkejut ketika Draco berkata akan datang malam ini. Ah, siapa sangka pemuda penuh gengsi itu mau mengabulkan permintaannya.
Bukannya Harry tidak senang. Ia malah terlalu senang, hingga rasanya apa yang terjadi seakan tidak nyata. Dan menjadi panik saat kesadaran mengenai apa yang terjadi benar-benar menghampirinya.
Ia menghempaskan tubuhnya di sofa di ruang tengah lalu memainkan kue-kue di atas meja, termasuk juga kue pemberian Rachel. Berpikir keras, namun tidak jelas apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan. Ia mendesah frustasi saat pikirannya tidak menghasilkan apapun. Ia nyaris mengacak-acak rambutnya sendiri saat tiba-tiba saja terdengar seseorang mengetuk pintunya.
'This is it,' pikirnya pasrah seraya beranjak menuju pintu, lalu membukanya. Seorang pemuda berambut pirang sebahu tampak menunggu di sana dengan gelisah.
"Hai," sapa pemuda itu. Lampu di depan flat Harry yang redup tak lantas membuat rona yang menjalari wajahnya tertutupi. Tanpa sadar Harry tersenyum.
"Hai," jawab Harry. "Silakan masuk," imbuhnya sambil bergeser ke samping, membiarkan pemuda di hadapannya masuk. Mereka berjalan ke ruang tengah dalam diam kemudian duduk di sofa. Draco kembali mengamati ruangan itu, sementara Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terima kasih untuk ramuanmu, demamku sepertinya sudah sembuh sekarang," katanya. Draco langsung mengalihkan tatapannya pada Harry.
"Oh, sepertinya bantuanku sudah diperlukan di sini," kata Draco sambil berdiri.
"Tunggu," cegat Harry sambil menahan lengan Draco. "Aku tidak bilang aku tidak membutuhkanmu," katanya sambil menunduk. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat mengatakannya, sampai ia tidak menyadari bahwa rona yang menjalari wajah Draco semakin kentara.
"Arogan seperti biasanya, Potter," kata Draco sambil melepas tangan Harry dari lengannya lalu kembali duduk. "Kau punya bir?"
Harry hanya tersenyum lalu segera melangkah menuju dapur. Ia kembali dengan beberapa botol bir di tangannya. Menyerahkan satu kepada Draco, lalu membuka satu untuk dirinya sendiri. Namun Draco langsung merebut botol itu dari tangannya.
"Kurasa orang sakit sepertimu tidak dianjurkan minum bir," katanya santai. Harry merengut melihat botolnya yang kini diminum Draco.
"Lalu aku harus minum apa?" tanya Harry.
"Teh," kata Draco. "Atau kopi."
Harry hanya bisa pasrah dengan perlakuan ini. Mereka lalu duduk dalam diam, dengan Draco yang asyik meminum birnya, dan Harry yang berusaha menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Suasana di ruangan itu begitu hening hingga rasanya mencekam. Harry tidak tahu harus berbuat ataupun berkata apa. Lidahnya terasa kelu. Karena tidak ada yang bisa ia lakukan, akhirnya ia memutuskan untuk mulai memakan kue pemberian Rachel. Rasanya teralu manis.
Baru saja ia hendak meletakkan kembali kue itu ke atas meja, sebuah pemikiran tiba-tiba datang menghampirinya.
"Malfoy," panggil Harry. Draco tidak menjawab, namun Harry tahu kalau ia mendengarkan, jadi ia memutuskan untuk terus berbicara. "Kenapa kau memutuskan untuk hidup bersama muggle?"
"Ada yang salah dengan itu?" tanya Draco balik. Harry menggeleng.
"Tidak. Hanya saja dengan sikapmu dulu terhadap muggle, aku tidak menyangka bahwa kau kini melebur bersama mereka," ujarnya.
"Setidaknya muggle tidak memiliki tongkat yang bisa membunuhmu," jawab Draco singkat.
"Yeah, tapi beberapa dari mereka memiliki senapan," balas Harry berusaha bercanda.
Sebenarnya Harry mulai mengerti kenapa seorang pengusung paham Darah Murni seperti Draco Malfoy memutuskan untuk menarik diri dari dunia sihir dan hidup bersama muggle. Segalanya tak lebih karena luka masa lalu. Segalanya tak lebih karena penyesalan dan rasa bersalah yang terlalu besar, hingga pemuda yang kini duduk di sampingnya ini memutuskan untuk menyingkir. Setidaknya muggle di lingkungan tempat mereka tinggal kini tidak ada yang mengenal nama Malfoy. Draco aman di sini.
"Sampai kapan kau akan hidup di sini?" tanya Harry lagi.
"Tidak tahu. Berhentilah bertanya hal-hal yang membuat pusing, Potter," kata Draco. Ia kembali meminum birnya.
"Oh, seorang Malfoy bisa pusing juga rupanya," ledek Harry.
"Aku memperingatkanMU agar kau tidak pusing karena memikirkan hal-hal sulit," bantah Draco.
"Aku tidak menganggapnya sulit," kata Harry. "Mungkin otakmu yang sempit yang menganggapnya begitu."
"Lucu sekali, mengingat kata-kata itu diucapkan oleh seorang penyihir yang terkena demam," cibir Draco.
"Yeah, dan kau menyebalkan," kata Harry sambil melemparkan kue yang diberi Rachel ke arah Draco. Draco terlihat terkejut, namun kemudian langsung memincingkan matanya ke arah Harry.
"Jangan mulai perang ini, Potter. Kau tahu kau pasti kalah," kata Draco sambil memasang tampang mengancam.
"Yeah?" ledek Harry sambil kembali melemparkan cemilan ke arah Draco, yang langsung mengenai wajahnya. Ia langsung tertawa melihat ekspresi Draco yang merupakan campuran antara terkejut dan kesal.
"Kau tanggung akibatnya sendiri," geram Draco sebelum akhirnya ia melemparkan segenggam cemilan sekaligus ke arah Harry.
Dan begitulah perang makanan dimulai. Harry dan Draco kini saling serang makanan, dengan bantalan sofa sebagai tameng. Kue-kue yang diberikan Rachel sore ini berhamburan di udara tanpa bisa tertolong lagi. Ketika cemilan yang tersaji di atas meja mulai habis, mereka saling melempar bantal sofa. Saling mendorong, menyerang, memukul. Semuanya dilakukan di atas sofa yang berkeriut pasrah. Saat Harry lengah, Draco langsung menyerangnya dengan sebuah pukulan keras hingga Harry nyaris terjatuh dari sofa.
"Kau Slytherin licik," seru Harry sambil melancarkan serangan balasan. Draco yang masih menyeimbangkan diri setelah melemparkan serangan, belum siap menerima serangan balasan, sehingga ia hanya bisa pasrah saat Harry mendorongnya dengan kekuatan penuh. Dan pada detik berikutnya, mereka berdua sudah bertindihan di atas sofa dengan Harry di atas Draco.
Harry tertawa melihat Draco yang susah payah menahan tawa. Ekspresinya sulit ditentukan, antara kesal karena kalah, juga geli atas apa yang tengah mereka lakukan. Lalu, tanpa bisa ditahan lagi, pemuda itupun tertawa. Tawa yang seakan membawa keajaiban karena raut wajah dingin yang selama ini Harry lihat berubah total. Tidak ada lagi sorot mata dingin di sana, yang ada hanyalah gelak tawa serta ekspresi hangat. Denting suara yang keluar dari mulut pemuda itu pun tanpa sadar membuat tawa Harry perlahan berubah menjadi senyum lembut.
Draco yang menyadari perubahan ekspresi Harry langsung menghentikan tawanya. Entah bagaimana caranya wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja. Menyadari kondisi ini, Draco menggeliat tidak nyaman, sementara wajahnya kembali memerah. Namun Harry tetap pada posisinya.
"Kurasa kau bisa melepasku sekarang, Potter," kata Draco. Wajahnya yang pucat kini memerah, dan perut Harry kembali serasa jungkir balik.
"Potter?" tanya Draco ragu-ragu. Namun Harry tidak mendengarnya. Segala inderanya kini tengah berkonsentrasi penuh pada wajah di depannya. Pada sepasang abu-abu yang kini tengah menatapnya. Pada helai-helai keemasan yang menutupi kening dan alisnya. Tangannya tanpa sadar terulur untuk menyentuh rambut Draco dan tersenyum saat kelembutan menyentuh telapak tangannya, persis seperti apa yang dibayangkannya selama ini. Ia jadi bertanya-tanya apakah bagian dirinya yang lain juga akan terasa sama seperti apa yang ia impikan. Kulitnya yang halus, dan bibir itu. Merah muda merekah yang membuat detak jantungnya semakin tidak beraturan.
"Potter?" tanya Draco lagi. Dan Harry memerhatikan bagaimana bibir itu bergerak saat menyebut namanya. Juga saat pemiliknya sekilas menggigit bagian bawahnya.
"Lakukan itu lagi, Malfoy," kata Harry tanpa bisa dicegah.
"Lakukan apa?" tanya Draco bingung.
Harry tidak menimpali. Kepalanya kini terlalu tumpul untuk diajak berpikir.
Lalu, sebelum otaknya mampu kembali bekerja, sebelum kesadaran menguasainya, ia telah memajukan wajahnya, menutup mata.
.
-o0o-
.
Tidak ada kata yang mampu menggambarkan keadaan Draco selain kacau balau.
Bermula dari ucapan bodohnya di flat Harry sore tadi, hingga kini dirinya yang tengah terperangkap dalam situasi tidak terduga. Siapa lagi yang bisa di salahkan selain pemuda konyol dengan rambut hitam berantakan dan mata yang sangat hijau. Tidak. Draco tidak pernah menganggap sepasang hijau indah. Setidaknya sampai ia kini melihatnya dalam jarak dekat. Ternyata memang tidak ada mata lain yang lebih hijau dari mata Harry. Dan dengan enggan ia mengakui bahwa mata itu tidaklah buruk. Indah malah. Shit, sangat indah.
Belum lagi ia selesai dengan observasinya pada kedua bulatan hijau itu, pemiliknya tiba-tiba tertawa. Draco tidak mengerti apa yang ia tertawakan. Namun saat ia melihat kondisi ruangan itu yang nyaris hancur oleh makanan yang berserakan di mana-mana, juga "perang" yang mereka lakukan, dan terlebih lagi, suara tawa yang terdengar sangat dekat itu, mau tidak mau membuat pertahanannya runtuh. Ia pun tertawa, tanpa menyisakan sedikitpun Malfoy di dalam dirinya. Ia tertawa keras seolah sudah bertahun-tahun lamanya dirinya tidak tertawa. Dan memang begitulah keadaannya. Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak merasakan perasaan bebas seperti ini.
Namun kemudian tawanya terhenti saat ia menyadari posisinya yang janggal. Juga raut wajah pemuda itu yang tiba-tiba berubah lembut. Draco tidak bisa menahan rona yang menjalari wajahnya saat melihat intensitas pada sepasang mata emerald itu.
"Kurasa kau bisa melepasku sekarang, Potter," katanya, berusaha menguasai keadaan. Namun pemuda yang ia ajak bicara tidak bergeming sedikitpun. Malah kini tangannya terulur dan menyentuh rambut yang menutupi keningnya, lalu tersenyum lagi. Senyum yang membuat jantungnya berdebar tidak terkendali.
"Potter?" tanya Draco lagi. Pemuda itu masih tidak menjawab. Malah matanya kini berkonsentrasi pada bibir Draco, membuatnya gelisah hingga tanpa sadar ia menggigit bibir bagian bawahnya.
"Lakukan itu lagi, Malfoy," kata Harry. Draco tidak mengerti apa yang pemuda itu maksudkan.
"Lakukan apa?" tanya ia bingung.
Lalu, tanpa aba-aba apapun, wajah di depannya tiba-tiba mendekat. Dan kedua mata yang menutup adalah yang terakhir ia lihat sebelum akhirnya sesuatu yang hangat memerangkap bibirnya.
Merlin...
Draco masih ingat rasanya mencium Harry Potter. Seperti beberapa minggu yang lalu, di sebuah lorong kecil di dekat flatnya. Ada sesuatu yang meledak di dalam tubuhnya. Akalnya, pikirnya, semua seakan tersapu bersih saat sepasang bibir hangat menekan bibirnya. Meninggalkannya dengan segumpal emosi yang mendesak.
Secara naluriah ia menutup mata, mencoba menikmati setiap cumbuan Harry padanya. Deru nafas pemuda itu di pipinya, desahan kecil... Bisa ia rasakan tangan Harry yang semula menekan pundaknya kini bergeser ke pinggangnya, menariknya ke arah pemuda itu. Dan ia mendesah saat tubuh mereka saling menekan dan panas dari tubuh Harry mengalir ke tubuhnya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, ciuman mereka akhirnya berakhir. Keduanya saling memandang sambil terengah. Draco hanya bisa menatap dengan wajah yang memanas saat Harry tersenyum padanya. Senyuman itulah masalahnya. Ia tak bisa berkutik jika pemuda di hadapannya tersenyum seperti itu. Ia kembali menggigit bibir bawahnya saat wajah di depannya kembali mendekat, dan menutup mata saat ia merasakan nafas pemuda itu di wajahnya. Hanya butuh waktu dua detik bagi bibir mereka untuk bertemu kembali.
Draco sudah nyaris merasakan bibir Harry lagi saat tiba-tiba saja pintu depan menjeplak terbuka.
"Harry! Kami da–" ucapan orang tersebut langsung terpotong saat ia melihat bagaimana Draco dan Harry berposisi.
Merlin...
Jika ada orang yang paling tidak ingin Draco temui saat ini, sudah pasti orang itu adalah Sirius Black dan kawan serigalanya.
a/n. Drarry atau Harco, ga jelas juga. Tergantung mood, hehe... #plak
Balesan review untuk NN (yang sepertinya tidak punya akun FFN): Yep, beberapa orang memang akan menganggap percintaan antara dua orang laki-laki sebagai sesuatu yang aneh. Namun bagi beberapa orang yang lain, hal itu adalah sesuatu yang indah, sesuatu yang bisa memacu adrenalin (?). Kalau kamu menganggap karena hal ini saya aneh, saya akan terima julukan itu dengan senang hati :) Terima kasih banyak atas kesediaannya mereview, meski kamu tidak memaksudkannya sebagai flame, akan saya anggap itu sebagai flame. Saya ga marah kok, justru sebaliknya. Saya sangat bersemangat karena ini flame pertama saya! (senangnya!) Karena entah kenapa saya sangat sangat senang saat ada orang yang mereview fic saya dengan sebegitu gamblang dan indahnya. Serius. Saya sampe tersipu sendiri saat baca review kamu ^^
Terima kasih banyak ya. Di bab ini saya sajikan adegan ciuman lagi tuh. Ada komentar? :D
Love,
Kurok1n.
