Perapian di ruangan itu berkeretak pelan seiring api di dalamnya yang perlahan mulai padam. Batu bara yang merah berpendar lemah karena terhembus angin malam yang tidak sengaja terperangkap lewat celah kecil di jendela. Di tempat berbentuk persegi itu, empat orang laki-laki terlihat duduk dalam diam. Keduanya duduk berpasangan. Sepasang muda, dan sepasang setengah baya.

Harry bergerak gelisah di tempat duduknya. Matanya memandang bergantian tiga laki-laki di dekatnya. Semuanya tampak tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ia mendesah pelan. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya ia berharap akan terperangkap dalam situasi seperti ini.

"Bagaimana kabarmu, Sirius?" tanya Harry.

"Seperti yang kau lihat," jawab Sirius pendek.

Harry memerhatikan ayah baptisnya itu kini duduk bersandar, kedua tangan terlipat di dadanya, sementara kerut di keningnya tidak kunjung hilang. Dia marah, Harry menyimpulkan dalam hati.

"Kau tidak bilang akan berkunjung," kata Harry lagi. Remus terlihat akan menjawab, namun Sirius langsung memotong.

"Kau bilang kami boleh datang kapan saja, meski tengah malam. Sekarang sudah tengah malam," katanya.

Harry langsung teringat dengan percakapan mereka saat ia hendak pindah ke flat barunya. Juga bagian di mana Sirius meledeknya dengan mengatakan bahwa ia akan menangkap basah Harry dengan seseorang. Well, semuanya terjadi dalam waktu bersamaan, pikir Harry. Masalahnya, orang yang tertangkap basah sedang bersamanya adalah Draco Malfoy.

"Mau kubuatkan teh?" tanya Harry akhirnya.


Hello!

By : kurok1n

Harry Potter © JK Rowling


"Jadi, sejak kapan kalian bersama?" tanya Sirius sambil menghirup teh yang ia pegang. Harry dan Draco saling pandang terkejut.

"Dengar, Sirius, semua ini bukan seperti yang kau pikirkan−" kata Harry.

"Bukan?" selidik Remus. Pria setengah baya itu tak henti-hentinya memperhatikan Harry dan Draco.

"Well, setidaknya sekarang aku belum tahu," kata Harry tergagap.

"Jadi... kalian tidak bersama?" tanya Sirius. Harry merasa Draco kembali memandangnya. Ia menelan ludah dengan susah payah.

"Itu−"

"Tenang saja Mr. Black, posisi saya dan Potter tadi tidak menginterpretasikan apapun," sela Draco. Harry menatap bingung pemuda di sampingnya itu.

"Jadi, bisa kau jelaskan padaku mengapa kau dan Harry bertindihan di atas sofa saat kami datang?" selidik Sirius. Rahangnya menegang. Harry mengambil cangkir tehnya hanya supaya ada yang dikerjakan, tanpa benar-benar bermaksud meminumnya.

"Sudah jelas, kan? Potter tersedak makanan," jawab Draco santai. Rahang Harry jatuh saat mendengar jawaban itu. Alis Sirius terangkat, lalu tiba-tiba pria itu memandang tajam Harry. Harry buru-buru menutup mulut dan menyeruput tehnya.

"Oh, ya?" tanya Sirius. "Dan kau bermaksud menolongnya, begitu? Dengan mulutmu?"

Harry sukses tersedak.

"Akan jadi seperti itu jika saja Anda dan Mr. Lupin tidak tiba-tiba datang," jawab Draco lagi. Harry kembali melongo mendengar penuturan pemuda di sampingnya itu. Apakah Draco sedang mengumumkan perang terbuka dengan ayah baptisnya? Dilihatnya ia dan Sirius saling melemparkan tatapan dingin. Tiba-tiba ia ingin pergi secepatnya dari tempat itu.

"Kupikir sudah saatnya kau kembali ke rumahmu sendiri anak muda, malam sudah terlalu larut untuk bertamu," kata Remus menengahi. Draco tidak menjawab, ia malah memandang Harry−yang masih kebingungan−lalu mendesah.

"Kau benar, sebaiknya aku pulang," katanya sambil beranjak dari tempat duduknya. Harry tanpa sadar mengikutinya.

"Biar kuantar dia sampai depan," kata Harry saat sadar bahwa Remus dan ayah baptisnya memandanginya heran.

.

-o0o-

.

Andai saja Blaise di sini, kata Draco dalam hati. Andai saja ada Blaise di sini, ia akan langsung bertanya pada pemuda berkulit hitam itu tentang apa yang harus dikatakan oleh seseorang kepada orang yang nyaris menciumnya dan kini mengantarnya sampai pintu depan flatnya sendiri. Draco berdehem meski tenggorokannya sama sekali tidak gatal.

"So, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya pemuda bermata emerald di depannya. Draco mendongak untuk menatap hijau itu langsung.

"Maksudmu?" tanya Draco.

"Jangan pura-pura tidak mengerti, Malfoy. Kau sendiri yang terang-terangan mengumumkan perang dengan Sirius," kata Harry.

Draco hendak membantah, namun kemudian ia teringat ucapannya di dalam tadi. Apakah mengaku bahwa ia tidak sengaja mengucapkan kata-kata itu akan memperbaiki semuanya? tanya ia dalam hati. Draco mendesah. Sudah pasti tidak.

"Jadi, apa yang akan kau katakan pada mereka?" tanya Draco balik.

Kening Harry berkerut. Pemuda itu menatap Draco lama, namun tiba-tiba menunduk, sementara Draco berusaha memandang ke arah lain. Langit-langit, dinding, pintu flat Rachel. Ke manapun. Wajahnya tiba-tiba terasa panas.

"Aku tidak tahu," kata Harry.

Draco tidak menjawab. Sejujurnya ia pun tidak tahu. Mengenai hubungannya dengan Harry, semuanya tiba-tiba menjadi rumit.

"Katakan saja apa yang kau yakini," kata Draco akhirnya. Ya, dengan begitu ia pun akan tahu, bagaimana pemuda di depannya ini memandang hubungan mereka. Ia kemudian menatap Harry yang ternyata tengah menatapnya.

"Bagaimana jika yang kuyakini ternyata tidak sesuai dengan kenyataan?" tanya Harry.

"Maksudmu?" tanya Draco. Dilihatnya pemuda itu mendesah.

"Tidak apa-apa," katanya. "Masuklah, sudah malam," imbuhnya.

Pipi Draco merona. "Jangan menganggapku gadis kecil, Potter," sungutnya.

"Aku tahu," kata Harry seraya tersenyum. "Kau sama sekali bukan gadis kecil."

Sial. Bisa-bisanya ia merayu di saat seperti ini, pikir Draco. Namun ia menurut. Sambil menggumamkan 'Selamat malam' ia pun masuk ke flatnya lalu menutup pintu.

.

-o0o-

.

Kini giliran Harry yang tidak bisa tidur. Pikirannya tengah mengembara ke beberapa jam yang lalu, saat dirinya tengah berada di ruang tengah flatnya bersama seseorang berambut pirang. Saat ruangan sepi itu tiba-tiba menjadi ramai oleh pekikan dan teriakan. Lalu menjadi kacau saat setiap inci makanan bertebangan. Lalu mereka bertindihan. Sebuah ciuman.

Lalu Sirius dan Remus yang tiba-tiba muncul.

Harry mendesah. Ia masih ingat kata-kata kedua orang itu sebelum mereka pulang ke Grimmauld Place.

"Sepertinya bakatmu untuk terkena masalah tidak terbatas pada lingkup sekolah saja, Harry," gurau Remus. Saat itu mereka tengah duduk bertiga di depan perapian. Harry sibuk memainkan jari-jarinya dan tidak menjawab. Ia tahu kedua orang di depannya tengah memandanginya lekat, namun ia tidak punya keberanian, atau kenekatan, untuk menghadapi mereka.

"Dari semua orang yang ada di dunia ini, kenapa harus Malfoy, Harry?" tanya Sirius.

Ya, kenapa harus Malfoy? tanya Harry dalam hati. Kenapa harus pemuda itu yang tertangkap basah dengannya malam ini? Kenapa tidak pemuda lain? Kenapa bukan gadis lain?

Entahlah, ia juga tidak mengerti.

"Kami tidak akan mencampuri perasaanmu, Harry. Hanya saja, pikirkanlah baik-baik. Tentang kalian. Tentang semua ini," kata Remus.

"Sepertinya kalian salah mengartikan hubunganku dengan Malfoy," kata Harry. Dilihatnya Remus mengangguk, sementara Sirius masih tetap diam sambil memandang perapian.

"Hubunganmu dengannya sudah jelas. Kalian bukan sepasang kekasih−Harry mengernyit mendengar kata 'kekasih'−tapi perasaanmu. Perasaanmu lah yang terpenting saat ini. Perasaanmu sepenuhnya milikmu, Harry. Kami hanya berharap kau bisa memahaminya, sehingga kau tidak akan menyesal suatu saat nanti," kata Remus mengakhiri pembicaraan mereka.

Harry kembali mendesah.

Andai saja.

Andai saja...

Ia kembali membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman. Ruang tidurnya terasa aneh, karena tiba-tiba saja wangi musk menguar kuat di ruangan itu, membuatnya merasa bahwa ada seseorang di sana.

Matanya yang dari tadi tidak bisa terpejam kini mulai terasa berat. Dan pada detik selanjutnya, ia mulai bermimpi tentang seseorang dengan iris berwarna abu-abu dan bibir yang sangat lembut.

.

-o0o-

.

Pagi harinya Harry terbangun oleh suara klakson mobil yang terus menyahut dari jalanan di depan flatnya. Ia menggeliat pelan sambil mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepalanya terasa pusing sekali. Ia melihat jam di meja di dekat tempat tidurnya. Pukul 7 pagi. Sambil menggerutu malas, ia pun bangkit dari tempat tidurnya. Jika saja bukan karena janji temunya dengan Ron dan Hermione siang ini, Harry akan dengan senang hati melanjutkan tidurnya yang telah banyak berkurang. Namun kini ia harus mandi dan bersiap.

Pukul delapan pagi ia sudah berada di depan pintu flatnya, memandang ke arah kiri, tempat seseorang yang tadi malam nyaris diciumnya tinggal. Bertanya-tanya sedang apa gerangan pemuda itu sekarang. Ia mendesah lemah. Segala hal tentang Gryffindor, keberanian, tekad, kesungguhan, kenekatan, rasanya telah sepenuhnya tercabut darinya saat ini. Meski tak bisa dipungkiri, ia ingin bertemu dengan pemuda itu. Namun apa yang akan ia katakan padanya nanti?

Setelah memandang ke arah pintu itu untuk terakhir kalinya, dengan harapan bodoh bahwa pemiliknya akan muncul, Harry kemudian melangkah menuruni tangga, menuju ke luar gedung.

Sinar matahari yang menerobos melalui celah di antara gedung langsung menerpa wajahnya saat ia mulai melangkahkan kaki di trotoar di depan gedung. Ia memandang sekeliling, memutuskan jalan mana yang akan ia ambil, saat kemudian aroma kopi menyapa hidungnya.

Malfoy.

Tanpa Harry sadari, kakinya melangkah menuju satu kedai yang terletak persis di samping gedung flatnya. Ia kemudian mengintip melalui jendela kaca yang nyaris menjadi dinding, mencari seseorang di sana. Tidak ada. Karena sudah terlanjur ke sana, Harry akhirnya memutuskan untuk mampir sebentar, mencoba peruntungannya.

Pintu masuknya bergemerincing lirih saat ia membukanya. Suara yang telah ia hafal.

"Hai," sapa salah seorang pelayan yang ia kenali dengan nama Stan. Harry hanya tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian duduk di salah satu kursi di depan meja counter. "Rasanya sudah lama sejak terakhir kali kau datang," lanjut Stan.

"Ada beberapa hal yang terjadi," kata Harry. Stan hanya mengangguk. Harry kemudian memandang sekeliling, ke ruangan yang masih nampak lengang itu. Ada sepasang orang tua yang tengah menikmati kopi mereka di sudut ruangan, sementara di sisi kanannya, seorang pelayan muda tengah sibuk mengelap meja. Pandangannya kemudian terarah ke pintu dapur, dimana bunyi gemerincing lembut terdengar dari sana. Lalu terakhir ke sekat kayu di belakang meja counter yang memisahkannya dengan ruangan lain di baliknya. Harry tiba-tiba berharap bahwa ada seseorang berambut pirang di sana.

"Bos tidak mau keluar," kata Stan. Harry segera tersadar dari lamunannya lalu menatap pria bertubuh kekar itu.

"Maaf?" tanya Harry.

"Sejak tiba pagi tadi, ia belum keluar sekalipun dari ruangannya. Seperti sedang mengurung diri," kata Stan sambil menunjuk ke sekat kayu yang tadi dipandangi Harry. Harry terdiam.

"Mungkin patah hati," tambah Stan sambil memandang menembus dinding menuju ruangan Draco.

Patah hati... ulang Harry dalam hati.

"Kau mau pesan sesuatu?" tanya Stan lagi. Orang itu kini sibuk mengelapi gelas-gelas yang terpajang rapi di atas meja counter.

"Kopi hitam," jawab Harry singkat.

"Sudah kuduga," ujar Stan seraya beranjak menuju dapur, meninggalkan Harry dengan kening yang berkerut.

.

-o0o-

.

"Kau gila," kata Ron saat mereka tengah berjalan di sepanjang Diagon Alley siang itu. "Sirius dan Lupin memergokimu saat kalian tengah−"

"Tidak usah diucapkan, Ron," potong Harry. Ron menampilkan mimik muka tercekik.

"Sebenarnya aku masih punya satu pertanyaan lagi, tapi lebih baik tidak kutanyakan," katanya.

"Keputusan yang bagus," timpal Harry.

"Lalu apa yang akan kau lakukan, Harry?" tanya Hermione. "Kau tidak mungkin terus berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa di antara kalian."

Harry sepenuhnya sadar akan hal itu. Hanya saja ia tidak tahu harus berbuat ataupun berkata apa.

"Sudah kau coba untuk membicarakannya dengan Malfoy?" tanya Hermione lagi.

"Berbicara dengan Malfoy tentang hubungan kami? Yang benar saja, 'Mione," ucap Harry getir.

"Yeah, aku bahkan bisa membayangkan apa yang akan dikatakannya. Atau dilakukannya," kata Ron. "Tapi aku yakin kau ahli menangkal mantra-mantra jahat, mate," imbuhnya sambil menepuk pundak Harry.

"Berlebihan seperti biasa, Ron," sindir Hermione. Gadis itu kemudian maju beberapa langkah lalu berbalik untuk menghadap Harry secara langsung. "Kecuali kau memang suka dengan keadaan menggantung seperti ini, Harry, aku benar-benar menyarankanmu untuk berbicara dengan Malfoy. Tanpa tongkat, tanpa sihir. Hanya bicara," katanya. Ia menatap Harry sejenak lalu kembali melangkah. "Demi Merlin, kalian sudah dewasa, jangan bersikap seperti gadis remaja konyol!" tambahnya.

Harry tidak menimpali. Pikirannya kini sibuk mencari cara untuk berbicara dengan Draco. Rasanya seperti mencari alasan untuk mengutuk pemuda itu tepat di depan hidung Snape, namun jauh, jauh lebih sulit.

"Tak usah dipikirkan, mate. Kalau harus jujur, aku juga tidak tahu tentang sikap gadis remaja konyol," bisik Ron sambil menepuk pundak Harry.

.

-o0o-

.

Matahari telah tenggelam sepenuhnya saat Harry tengah gelisah di flatnya sendiri. Berulang kali ia hendak membuka pintu depannya lalu melangkah keluar, namun berulang kali pula ia batalkan.

Oke, letakkan tongkatmu, lalu keluarlah, ucap Harry pada dirinya sendiri. Ia kemudian meletakkan tongkatnya di atas meja di ruang tengah, lalu merapikan bajunya yang berantakan. Sambil menghela nafas panjang, ia pun melangkah menuju pintu keluar, menuju flat di sampingnya.

Tidak sampai lima detik, ia sudah berada di depan pintu flat Draco. Jantungnya berdegup aneh, telapak tangannya tiba-tiba terasa dingin. Ia hendak mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu itu, namun sebelum ia berhasil, pintu itu tiba-tiba menjeplak terbuka, menampilkan pemiliknya dalam balutan jas warna hitam.

Merlin, kenapa ia harus terlihat sangat tampan di saat seperti ini? Batin Harry. Namun secepat pikiran itu datang, secepat itu pula Harry mengusirnya.

"Kita harus bicara, Malfoy," kata Harry. Draco kelihatan terkejut, namun dengan cepat menguasai diri.

"Bisakah lain kali? Aku sedang ada urusan saat ini," katanya. Harry memperhatikan pemuda itu berkali-kali menengok ke belakang, seperti ada sesuatu yang menunggunya. Dan ia memang terlihat terburu-buru.

"Ini penting," tegas Harry. Draco hendak membuka mulut ketika sebuah suara di belakangnya menghentikannya.

"Siapa di sana, Draco?"

Lalu Harry melihatnya. Seorang wanita muncul dari dalam flat Draco. Seorang wanita yang Harry yakin seumuran dengannya. Rambut cokelatnya panjang bergelombang, jatuh dengan indah di sisi-sisi lengannya. Matanya berwarna abu-abu, atau biru? Ia mengenakan gaun selutut berwarna biru tua. Cantik sekali.

Harry kembali memandang Draco. "Sepertinya kau memang sedang sibuk," ujarnya pahit sambil mulai berjalan menuju flatnya sendiri.

"Potter, tunggu!" cegat Draco sambil memegangi lengan Harry. Harry berhenti dan memandang Draco dan lengannya bergantian. Tangannya kemudian melepaskan tangan Draco yang mencengkeram lengannya.

"Maaf aku sudah menginterupsi kegiatanmu, Malfoy. Selamat malam," ucap Harry sambil masuk ke flatnya sendiri dan menutup pintu, mengabaikan Draco yang terus memanggil.

Sambil bersandar pada pintu di belakangnya, Harry berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasa begitu kelelahan seperti sekarang. Jantungnya bertalu-talu namun tenaganya seperti terserap habis. Hanya melihat Draco bersama dengan seorang wanita saja membuatnya tidak berdaya seperti ini.

God, apa yang sudah ia perbuat padaku? desah Harry dalam hati.

Menyadari tidak ada yang bisa ia perbuat di sana, akhirnya Harry memaksakan diri berjalan menuju kamar. Rasanya ia ingin tidur panjang, tanpa terganggu oleh hal-hal yang membuat kepala serta dadanya sakit. Kamar tidur yang ditujunya gelap sekali, namun tidak sedikitpun terpikirkan olehnya untuk menyalakan lampu.

Ia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan mendesah panjang. Tiba-tiba merasa malu pada tindakannya tadi. Mungkinkah ini yang dimaksud Hermione sebagai tindakan gadis remaja konyol?

Harry menelentangkan tubuhnya, mencoba memaksa matanya untuk menutup. Gagal. Ia terlonjak saat dering familiar dari ruang tengah tiba-tiba memenuhi pendengarannya. Memaksakan diri untuk bangkit, ia akhirnya berjalan menuju ruangan itu untuk memeriksa. Tidak ada apapun di sana, namun dering itu terus berlanjut. Harry mengambil tongkatnya lalu mulai memeriksa segala sesuatu di sana: meja pendek, peralatan Quidditch, sofa, lantai. Tidak ada apapun. Ia menajamkan telinga untuk mencari sumber suara. Perhatiannya kemudian tertuju pada buffet kecil di pojok ruangan. Ia mendekati buffet itu lalu membuka kenop kecil berukir pohon pinus di sana. Ada sebuah kotak putih penuh tombol dan sebuah pegangan berwarna sama.

Sampai saat itu Harry baru menyadari bahwa ada telepon di flatnya.

Benar, flat muggle, batinnya. Ia pun mengangkat telepon itu.

"Halo?" sapanya.

"Keluar sekarang, Potter. Kita harus bicara," ujar suara dari seberang sana.

Malfoy?

Oke, sejak kapan darah murni sepertinya bisa menggunakan telepon?

"Yeah? Aku tidak mau mengganggu Mr. Malfoy yang sibuk," sungut Harry.

"Potter, aku serius. Keluar sekarang," desak Draco.

"Coba saja paksa aku keluar," tantang Harry. Yeah, coba saja paksa aku keluar, ulangnya dalam hati.

"Baiklah kalau itu maumu," kata Draco untuk terakhir kalinya sebelum sambungan telepon itu terputus. Harry memandangi gagang teleponnya dengan heran, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan pemuda itu untuk memaksanya keluar.

Jawabannya muncul kurang dari semenit kemudian, saat pintu depan flatnya terbuka dengan suara berdebum. Harry berlari ke depan untuk melihat siapa gerangan yang berani merusak propertinya. Dan ia hanya bisa melongo melihat Draco di depan pintu dengan tongkat yang teracung.

"Jangan lupa kalau aku penyihir, Potter," kata pemuda itu. Ia kemudian melangkah masuk, dan dengan lambaian ringan, pintu depan yang rusak kembali utuh tanpa tergores sedikitpun.

"So?" tuntut Draco. "Kau mau bicara? Mari bicara."

-End of Chapter 10-


Setelah sebulan terlantar, akhirnya fic ini apdet juga. Makasih banyak yang udah review di chap sebelumnya. Kamiyama Yukii-chan, akeichi ryuuzaku, Micon, Soeara Asia, crossalf, Pu-cHan, Mihael Keehl is Still Alive, CCloveRuki, Arisu KuroNeko, Shirayuki Nee, Ai HinataLawliet, Nay Hatake, Meg chan, Ruffy cwan, crimson-nightfall, DFA-FalenAngel, Devil eye's, cirro cirrus, jessica -d'akuma, Aoirhue Kazune, love you guys :) Maaf kalo saya belum bisa bales review kalian satu persatu. Setelah cuti seminggu, saya digempur dg banyak sekali kerjaan. Feels like joining NEWT, I'm exhausted TAT. Jadi maaf banget kalo ada penurunan kualitas.

Masalah rating, jujur, saya belum bisa bikin yg rate-M. Pendalaman karakter, juga konflik dan pilihan solusi untuk fic berrate-M masih di luar jangkauan saya -". Ntar deh saya usahain. Yang pasti saya mungkin ga bakal nulis lemon. Nurani saya menolak soalnya ^^a. Lagian masih banyak senior yang jauuuh lebih hebat. Jadi mungkin saya hanya akan jadi penikmat saja :)

Chapter 11 akan diusahakan publish asap. Ayo buruan review! ^^

10.7. 01.15 a.m. Just 6 more days to 15.7. When it all ends.

Love you as always,

Kurok1n.