"So?" tuntut Draco. "Kau mau bicara? Mari bicara."

Untuk kesekian kali dalam hidupnya, Harry menyesali darah Gryffindor yang mengalir deras dalam dirinya. Ia hanya bisa terpaku menyadari bagaimana setiap tindakannya selalu berujung pada reaksi yang begitu instan.

"Kau benar-benar datang," kata Harry gugup. Dalam hati Harry berterima kasih pada lampu flatnya yang redup hingga wajahnya yang pucat tidak akan terlihat jelas.

"Ya. Sekarang mari kita selesaikan apa yang sudah kau mulai," kata Draco setengah tersengal.

Harry mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, mencari sekecil apapun petunjuk untuk memulai percakapan saat suara seakan terenggut dari tenggorokannya. Nihil. Kini ia hanya diam membeku di depan Draco. Dilihatnya pemuda itu seakan tidak sabar untuk mendapatkan jawaban darinya. Ia susah payah menelan ludahnya.

"Apakah jika kukatakan aku tadi tidak sengaja, kau akan kembali ke flatmu dengan tenang?" tanyanya.

"Jangan konyol, Potter. Aku tidak akan berada di sini jika aku bisa mengacuhkanmu," kata Draco. Harry mengangguk pasrah dengan pandangan tertuju pada lantai di bawahnya.

Tapi tunggu. Apa yang barusan Malfoy katakan?

Harry menengadahkan kepalanya untuk melihat pewaris Malfoy itu dan terkejut mendapati wajah pucatnya merona, meski ekspresinya masih keras. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.

"Ng... kau mau duduk dulu?" tanya Harry. Draco tidak menjawab, namun perlahan ia melangkahkan kakinya menuju ruang tengah lalu mendudukkan dirinya di sana. Harry mengikutinya. Diam-diam ia merasa aneh melihat bagaimana pemuda di depannya itu terlihat akrab dengan flatnya.


Hello!

By : 7 Days of Summer

Disclaimer : Harry Potter © JK Rowling


"Mau kubuatkan teh?" tanya Harry sambil berdiri di depan sofa. Kening Draco berkerut melihat tingkah pemuda di hadapannya yang seakan tidak sedang menghadapi sesuatu yang serius.

"Tidak usah," jawab Draco ketus. "Sekarang, kau bisa mulai menjelaskan tindakanmu tadi, atau aku akan benar-benar menyeretmu keluar," tuntutnya lagi.

Harry terlihat menelan ludahnya dengan susah payah. Tanpa sadar ia memainkan ujung kemeja putihnya yang telah dikeluarkan dari celana panjang hitamnya.

"Kupikir kau tidak butuh penjelasan apapun," gumamnya.

"Apa?" tanya Draco ketus.

"Oke-oke," sahut Harry gugup sambil kemudian duduk di sampingnya. Draco bisa mendengar ia mendesah panjang. "Tolong jangan potong pembicaraanku sampai aku selesai," katanya. Draco mengangguk singkat lalu menatap serius pemuda itu.

"Kau tahu kan, aku seorang Gryffindor?" tanya Harry. Draco diam mendengarkan. Namun sesaat kemudian Harry menatapnya. "Kau mendengarku, Malfoy?" tanya pemuda itu. Alis Draco terangkat.

"Kupikir kau tidak mau diinterupsi selagi berbicara."

"Well, setidaknya anggukkan kepalamu, sehingga aku tahu kau mendengarkan," sungut Harry. Draco mendengus. "Oke. Kau tahu aku seorang Gryffindor−" lanjut Harry.

"Hn," sahut Draco singkat.

"−dan dari semua penghuni Hogwarts, kau, Slytherin lah yang paling tahu betapa kami... penuh dengan kejutan," kata Harry.

"Ceroboh maksudmu?" koreksi Draco.

"Diam, Malfoy," sergah Harry dan Draco nyaris saja tersenyum. "Dan, yah, mungkin tindakanku barusan berhubungan kuat dengan kebiasaan kami bertindak dengan penuh kejutan," lanjut Harry. Draco bisa melihat bagaimana pemuda itu berpikir keras untuk mengungkapkan dengan sehalus mungkin kecerobohannya barusan.

"Begitulah," ujar Harry akhirnya.

"Begitulah bagaimana?" tanya Draco. Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku... minta maaf," katanya. Draco mendengus plan.

"Andai saja semuanya bisa terselesaikan dengan sebuah maaf," gumamnya. Mereka lalu terdiam, dan Draco tidak tahu harus berkata apa. Ketika Harry hendak berbicara, Draco langsung menyelanya. "Dan kau, Gryffindor, kupikir dengan lulus dari Hogwarts kau akan bisa sedikit saja mengontrol emosimu yang meledak-ledak. Ternyata percuma, kau sama sekali tidak berubah."

Kening Harry langsung berkerut mendengar penuturan Draco. "Dan kau, Slytherin konyol, kupikir kau bisa sedikit saja bermurah hati setelah hidup bersama muggle, namun sepertinya aku salah besar. Kau masih searogan yang kuingat, bahkan lebih parah," balasnya.

"Bergaul dengan muggle tidak ada sangkut pautnya dengan ini, kepala pitak. Setidaknya aku tidak pernah ngiler melihat ketampanan orang lain," balas Draco. Kerut di kening Harry semakin dalam.

"Dan si tampan itu berkata mendapatkan pagi yang luar biasa saat ia tak sengaja tercium olehku!" seru Harry. Draco tampak kehilangan kata-kata. Ia kemudian mengedarkan pandangannya pada ruangan itu, sambil berdiri ia lalu menunjuk sofa yang mereka duduki.

"Setidaknya aku tidak akan memakai merah untuk sofaku," balasnya.

"Yeah? Seingatku kau menikmati sekali saat terakhir kali berada di atas sofa merah itu, Malfoy," kata Harry. Wajah Draco langsung memanas mendengar ucapan Harry. Serta merta ia palingkan wajahnya ke dinding di sebelah kiri, tak berani menatap pemuda itu langsung.

Sial, rutuknya.

Ia berpikir keras untuk menemukan kata-kata balasan, namun gagal. Otaknya kini terfokus pada kejadian malam itu, saat dirinya bertindihan di atas sofa. Draco memegangi wajahnya yang semakin memanas.

Ia berusaha melirik Harry, menebak bahwa pemuda itu kini tengah terlihat puas karena bisa membungkamnya. Namun saat pandang mereka bertemu, yang ia lihat hanyalah wajah yang mungkin semerah wajahnya. Draco kembali memalingkan wajahnya.

Bloody Potter.

"Aku mau kopi," kata Draco akhirnya. Ia kembali duduk di sofa, menunggu Harry menyuguhkan secangkir kopi untuknya.

"Kau pikir aku anak buahmu? Buat saja sendiri kalau kau memang mau," jawab Harry ketus.

Sekali lagi Harry hanya bisa heran melihat bagaimana Draco terlihat begitu akrab dengan flatnya. Bagaimana pemuda itu bergerak lincah di dapurnya, mencoba meracik kopi. Ia memandangi pemuda itu sambil duduk di sofa ruang tengah. Lewat celah lebar di dinding yang memisahkan mereka, ia memperhatikan bagaimana tangan Draco bergerak di antara deretan gelas di atas pantry.

"Kopi instan. Apa lagi yang bisa kuharapkan dari orang sepertimu?" sindir Draco sambil membuka botol berisi kopi di atas meja.

"Jangan protes saat kau numpang minum di flat orang lain, Malfoy," balas Harry. Beberapa menit kemudian, Draco kembali dengan secangkir kopi di tangannya. Ia menghirup kopinya sambil kemudian duduk di samping Harry. Harry yang melihatnya hanya bisa mendengus.

"Sopan sekali," sindirnya. Draco tidak menjawab. Ia masih sibuk menyesap kopinya yang masih panas.

"Lumayan juga untuk ukuran kopi instan," gumamnya pada cangkirnya, lalu kembali menyesap.

Harry yang terlanjur tergoda dengan aroma kopi yang menguar dari cangkir Draco, akhirnya memaksakan diri berjalan menuju dapur untuk membuat kopinya sendiri. Baru saja ia hendak mengambil cangkir, sesuatu tertangkap oleh pandangannya. Di atas meja, dengan uapnya yang masih mengepul, secangkir kopi tergeletak dalam diam, seakan menunggu untuk dinikmati.

Harry menghampiri kopi itu, menghirup aromanya yang nikmat. Kopi hitam. Ia langsung mengarahkan pandangannya pada Draco, yang dengan sebelah alis terangkat, berusaha kembali menyesap kopinya. Seulas senyum tanpa terasa menghiasi wajah Harry.

"Manis sekali, Malfoy," ucapnya sambil berusaha membuat raut wajah cemberut. Ia membawa cangkir kopi itu bersamanya lalu kembali duduk di samping Draco.

"Sedikit berjalan akan menyegarkan kepalamu yang pitak, Potter," jawab Draco. Harry tidak membalas. Ia sudah terlanjur senang karena telah dibuatkan kopi hitam oleh pemuda itu.

"Thank's," gumamnya. Draco tidak menjawab. Mereka lalu menyesap kopi masing-masing dalam diam. Menikmati detik jarum jam yang tiba-tiba terdengar kuat.

Harry menyesap kopinya yang kini tinggal setengah, menikmati tiap butir lembut kopi yang lolos dari alat saring. Ia memandangi ruangannya yang sepi, bertanya-tanya sudah berapa kali keheningan yang ia lewati bersama Draco. TV di depannya sama sekali tidak pernah ia sentuh sejak ia pindah ke sini, dan ia berpikir untuk menyalakannya sekarang. Baru saja ia hendak mencari remote TV, kata-kata Draco menghentikannya.

"Yang tadi itu sepupuku," katanya. Harry menoleh untuk melihat Draco yang tengah memandangi cangkir di tangannya. "Dia hanya sepupuku," ulang pemuda itu. Lalu Harry teringat pada wanita cantik yang ia temui di flat Draco.

"Oh," ujarnya. Untuk alasan yang tidak bisa diungkapkannya, Harry merasa sebuah beban di dadanya tiba-tiba terangkat.

Diam lagi.

Harry merasa harus ada yang dikatakan. Namun sekeras apapun ia berpikir, ia tak bisa juga menemukan kata-kata yang tepat. Saat ia hampir saja menyerah, sebuah kesadaran menghampirinya.

"Bagaimana bisa sepupumu tidak pirang sepertimu?" tanyanya. Draco menoleh dengan alis terangkat.

"Itukah yang kau cirikan dari keluargaku, Potter? Rambut pirang?"

Harry mengangkat bahu. "Itulah yang paling mencolok dari kalian selain pakaian yang selalu serba hitam. Rambut kalian aneh tahu."

Draco mendecak kesal. "Seumur hidup baru kali ini ada orang yang menganggap rambutku aneh. Setiap gadis yang kutemui pasti akan berkata bahwa rambutku indah, menawan, membuat iri..."

Harry susah payah menahan senyum. Kalau ia boleh jujur, daripada menyebutnya aneh, akan lebih tepat jika menganggap rambut Draco menarik. Warnanya yang platinum nyaris putih, serta kilau-kilau mungil yang muncul tiap kali helai-helainya bergerak, membuat siapa saja ingin menyentuhnya. Memastikan bahwa rambut itu memang selembut kelihatannya. Dan memang demikianlah kenyataannya. Harry pernah menyentuhnya sekali, tepat di atas sofa yang kini mereka duduki. Dan rambut Draco terasa luar biasa lembut.

"Jangan coba-coba menyentuhnya, Potter," kata Draco yang langsung menyadarkan Harry dari lamunannya. Harry menatapnya bingung. "Rambutku. Kau kelihatan ingin sekali memakannya," lanjut Draco. Harry melongo.

"Kau gila," balasnya, lalu kembali menyesap kopinya.

"Apa gadis itu masih di tempatmu?" tanya Harry setelah mereka lama terdiam.

"Dia sudah pulang," jawab Draco. "Lagi pula dia juga tidak bisa berbuat apa-apa pada seorang pemuda yang cemburu."

"Aku tidak cemburu," sanggah Harry.

"Oh, ya?" sindir Draco. "Aku kan tidak bilang bahwa pemuda itu adalah kau," tambahnya. Harry merengut mendengar kata-kata Draco. Pemuda itu kemudian meletakkan cangkirnya yang kosong ke atas meja.

"Besok malam kau sibuk?" tanyanya. Kening Harry berkerut.

"Kau mau mengajakku kencan?"

Alis Draco sekali lagi terangkat. "Demi kebaikanmu sendiri, Potter, jangan terlalu berharap," ujarnya sambil berpura-pura prihatin. Harry rasanya ingin sekali memukul pemuda di depannya itu. "Anggaplah ini bagian dari permintaan maafmu kepada sepupuku," lanjut Draco.

"Nah, sampai jumpa besok malam kalau begitu," kata Draco seraya bangkit dari sofa lalu memandang Harry. Harry menengadahkan kepalanya untuk memandang sang pewaris Malfoy itu, meskipun ia tidak bisa melihat dengan jelas karena wajah pemuda itu tertutup oleh rambut pirang platinumnya.

"Akan menyenangkan sekali kalau kau benar-benar cemburu, Potter," kata Draco lirih. Kedua mata Harry melebar mendengar kata-kata Draco. Rasanya ingin sekali ia menyingkap rambut itu untuk bisa langsung menatap kedua iris abu-abu miliknya. Namun, sebelum Harry sempat berkata-kata, Draco sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Harry, hingga jarak wajah mereka tidak lebih dari lima senti. Harry secara reflek menutup matanya. Menunggu sensasi familiar saat bibirnya terperangkap oleh sesuatu yang lembut.

Satu detik, tiga detik, lima detik. Tidak ada yang terjadi. Lalu saat ia nyaris membuka mata, hembusan nafas hangat di telinganya menghentikannya.

"Well, mengapa kau menutup matamu, Potter?" bisik Draco. Mata Harry menjeplak terbuka, dan ia bisa melihat dengan jelas sinar kepuasan di wajah Draco. Sambil tertawa pelan pewaris Malfoy itu kemudian meninggalkannya menuju pintu depan, kembali ke flatnya sendiri.

Meninggalkan Harry dengan wajah semerah kepiting rebus.

.

.

.

"−Harry!"

"−Harry!"

Panggilan yang berulang itu menyadarkan Harry dari lamunannya. Ia lalu menolehkan kepalanya untuk mencari sumber suara. Di belakangnya, di antara kesibukan di koridor Kementerian, Hermione terlihat terengah-engah berlari ke arahnya.

"Ada apa, 'Mione?" tanya Harry. Hermione berkacak pinggang melihat sahabatnya itu bersikap seolah tidak bersalah.

"Sudah lima menit lebih aku mengejarmu, tahu. Apa sih yang kau lakukan sampai tidak mendengar panggilanku?" sungutnya. Harry hanya mengedikkan bahu. "Mrs. Weasley mengundangmu untuk makan malam di the Burrow besok. Kau bisa hadir?" lanjut Hermione.

Besok malam, pikir Harry. Lalu ia ingat dengan janjinya dengan Draco.

"Jam berapa acaranya?" tanya Harry.

"Memangnya kenapa?" tanya Hermione balik. Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku sudah terlanjur ada janji dengan seseorang," jawab Harry. Hermione memincingkan matanya, dan Harry merasa gadis itu tengah menggunakan Legilimency, sementara keahlian Occlumency yang ia pelajari dengan Snape menguap entah kemana.

"Seseorang?" tanya gadis itu. Harry mengangguk, tiba-tiba ia ingin kabur dari tempat itu. Namun lima detik kemudian Hermione kembali rileks. "Baiklah. Tapi kuharap kau manfaatkan kesempatan itu untuk meluruskan segala kesalahpahaman dengannya, Harry," kata Hermione. "Sampai bertemu lain waktu kalau begitu," lanjutnya sambil mengecup pipi Harry lalu berjalan ke arah berlawanan, menuju ruangannya sendiri.

Saat itu Harry benar-benar merasa bahwa Hermione telah mengetahui semua yang terjadi antara dirinya dan Draco.

Sementara itu, di kedai miliknya, Draco Malfoy menjalani harinya seperti biasa. Senormal yang bisa ia harapkan. Meskipun kadang ia terhenti saat melakukan kegiatannya, karena oleh suatu alasan yang tidak bisa ia ungkapkan, jantungnya terus bertalu-talu tidak beraturan. Ia sampai harus memegangi dadanya sambil menghirup nafas dalam-dalam untuk membuatnya tenang kembali.

Mungkin terlalu banyak kafein, pikirnya.

Di sisi lain ruangan, anak buahnya tengah melayani para pelanggan. Robert tengah tekun mencatat pesanan pengunjung, begitu pula dengan yang lain. Dari baris sebelah kiri, Stan tengah menuju ke arahnya. Senyum simpul menghiasi wajahnya yang kecokelatan. Draco selalu merasakan firasat buruk tiap kali ia melihat anak buahnya itu tersenyum.

"Jadi?" tanya Stan dengan senyumnya yang belum juga hilang. Draco mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Jadi apa?" tanya Draco balik.

"Bagaimana semalam?" tanya Stan lagi. Orang itu kini mulai mengelap cangkir-cangkir yang ada di meja di depan Draco, meskipun Draco yakin bahwa ia melakukan itu hanya agar ada yang bisa dilakukannya sementara dirinya diinterogasi.

"Tidurku nyenyak, terima kasih," jawab Draco.

"Oh..." ujar Stan dengan nada menggoda. Draco susah payah menahan dirinya untuk tidak memberikan kutukan pada anak buahnya itu. "Sudah terselesaikan rupanya."

"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan, Stan. Tapi, ya, tidurku memang sudah terselesaikan sehingga aku bisa berada di sini meladeni ocehanmu yang tidak masuk akal," jawab Draco ketus. Di luar dugaan, senyum Stan semakin mengembang.

Apa sih yang ia pikirkan?, pikir Draco.

Namun hanya begitu saja, karena Stan telah kembali berjalan ke deretan pengunjung, mencari-cari meja yang sudah siap melakukan pesanan. Draco hanya menggelengkan kepalanya heran. Baru sore hari, dan anak buahnya sudah bertingkah aneh. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika malam tiba.

Jika malam tiba, ulangnya dalam hati.

Lalu ingatan tentang janjinya dengan Harry menghantamnya seperti siraman air dingin di siang hari yang terik. Ya, bisa-bisanya ia lupa bahwa malam ini ia punya janji dengan pemuda itu. Draco mendesah. Ia akhirnya tahu alasan keanehan jantungnya seharian ini.

Ia melirik jam dinding di sampingnya. Sebentar lagi senja, dan ia harus bersiap-siap. Maka setelah menitipkan pesan pada anak buahnya, ia pun mengambil jaketnya yang tergantung rapi, lalu bergegas menuju pintu keluar. Ia sempat melirik Stan di pojok ruangan, yang lagi-lagi menampakkan senyum misteriusnya. Sambil berdoa dalam hati, ia berjalan keluar menuju flatnya. Berharap bahwa malam ini akan berjalan dengan lancar.

.

.

.

Di dalam flatnya, Harry kembali mematut dirinya di depan cermin. Memutar tubuhnya ke segala arah, memastikan bahwa penampilannya malam itu tidak mengecewakan. Ia mendesah pelan. Baru kali ini ia merasa menyesal tidak pernah memperhatikan penampilan. Segala yang ada di dalam lemari bajunya serba minimalis, hingga rasanya ia ingin sekali pergi ke Diagon Alley untuk membeli satu stel jas yang pantas. Dalam kondisi seperti ini, ia berharap Hermione akan datang, membantunya mempersiapkan diri. Namun gadis itu pasti tengah bergembira di the Burrow bersama keluarga Weasley. Meski ia merasa urusannya dengan Draco jauh lebih penting, dalam hati Harry menyayangkan ketidakhadirannya di sana.

Ia mendesah lagi. Memaksakan diri untuk percaya pada pilihan bajunya malam itu: celana jeans, kaos hijau, serta jas dan sepatu kulit hitam. Lagi pula ia juga belum tahu kemana Draco akan membawanya. Memikirkan bahwa ia akan menghabiskan malam dengan pewaris Malfoy itu membuat wajahnya terasa panas.

Jangan berpikir macam-macam, Harry, ujarnya dalam hati mengingatkan diri sendiri.

Lalu terdengar ketukan di pintu depan. Ia langsung tahu bahwa Draco pasti ada di baliknya. Sambil melempar pandangan terakhir ke arah cermin, ia pun berjalan menuju pintu. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka pintu itu.

Di depannya, Draco tengah berdiri bersandar di dinding seberang. Seperti biasa ia mengenakan setelan jas hitam dengan sepatu berwarna sama. Kedua tangannya terlipat di dadanya, sementara pandangannya langsung mengobservasi Harry. Harry nyaris memprotes tentang bagaimana pemuda itu selalu terlihat sempurna.

"Kau belum bilang kemana kita akan pergi, jadi aku tidak tahu harus mengenakan apa," kata Harry gugup. Draco tidak langsung menjawab. Ia masih terus memperhatikan Harry dari bawah ke atas, hingga Harry harus bersusah payah memaksa mundur rona yang menjalari wajahnya.

"Pernahkah aku bilang padamu bahwa kau terlihat seksi mengenakan jeans?" tanya Draco.

Oh, hell...


a/n. Selamat Sore... :)

Tepat satu bulan sejak fic ini terakhir kali update, dan sekarang saya mencoba untuk melanjutkannya. Terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah rajin 'nagih' kelanjutan fic ini. Saya ga pernah nyangka bahwa saya akan diprotes sebegitu banyak orang #nyengir

Ucapan terima kasih spesial untuk Micon, yang sudah dengan sabar menanti dan menyemangati saya untuk melanjutkan fic ini.

As you may see, this chap's rewritten. Saya lebih suka versi yang ini dibanding versi sebelumnya, jadi bagi teman2 yang mungkin kurang suka, saya minta maaf. I'm just trying to get my passion back. Hope you understand.

Terakhir, mohon untuk meninggalkan saran dan kritik dengan menekan tombol review di bawah. Terima kasih :)