Semenjak Harry memutuskan untuk hidup sendiri, terpisah dari Remus dan ayah baptisnya, ia tidak pernah berani mengharapkan malam yang luar biasa. Sungguh, apalagi jika harus melewatinya dengan seseorang seperti Draco Malfoy. Baginya, sebuah malam yang normal, aman, dan terkendali, adalah sebuah pencapaian besar. Seperti yang sering ia alami di tahun-tahun dirinya tinggal di Privet Drive. Bisa merebahkan diri di kamarnya tanpa Dudley menghentakkan pintu kamarnya keras-keras, atau paman Vernon yang menggedor-gedor pintu saat ia nyaris terlelap, adalah prestasi yang luar biasa.
Harry hanya mendambakan sebuah malam yang tenang, dimana ia bisa menghirup nafas panjang dan menikmati keheningan. Bukan malam dimana ia harus merasa kecil dengan pakaian seadanya berdiri di depan seorang yang sialnya selalu tampak sempurna dengan apapun yang ia kenakan. Sebuah malam yang, seperti kita semua tahu, tengah dialaminya saat ini.
Harry melirik gugup pemuda di depannya, menanti dengan jantung berdebar komentar dari sesosok tubuh yang masih saja memandanginya itu.
"Pernahkah aku bilang padamu bahwa kau terlihat seksi mengenakan jeans?" tanya Draco.
Harry melongo.
Apa dia bilang?
"Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya," ujar Draco lagi.
Apa?
"Meski kau membayarku dengan semua galleonmu, Potter."
Harry mendesah prihatin. Harusnya ia sudah menyadarinya sejak dulu.
Draco gila.
Hello!
By : 7 Days of Summer
Disclaimer : Harry Potter © JK Rowling
Mereka kini duduk dalam diam di sebuah taksi yang tengah meluncur tenang. Tinggal beberapa blok lagi hingga mereka sampai pada tempat yang dituju. Sepanjang perjalanan itu, Draco berusaha keras untuk tidak terus melirik pemuda di sampingnya. Merlin, sejauh ia mengenal Harry Potter, belum pernah ia melihat pemuda itu mengenakan celana jeans dan tampak begitu... menggiurkan. Dan keterpukauannya itu juga nyaris meruntuhkan harga dirinya saat ia tanpa sadar berkata bahwa Harry terlihat seksi. Untung saja ia cepat-cepat meralat perkataannya.
Draco mendesah pelan sambil menatap ke luar jendela, membiarkan sedikit angin malam masuk dan membelai wajahnya. Malam musim gugur memang selalu dingin.
Lima menit kemudian mereka akhirnya sampai di sebuah restoran besar. Seorang pelayan yang mengenakan seragam biru putih menyambut mereka di pintu depan. Draco tidak pernah mengerti mengapa sepupunya itu memilih tempat ramai seperti ini untuk pertemuan mereka.
"Mr. Malfoy?" tanya pelayan itu dan Draco mengangguk. "Ke sini," ujarnya sambil mengantar mereka masuk ke dalam.
Tidak jauh berbeda dengan tampilan luarnya yang elegan, interior restoran itu juga memukau dengan keanggunannya. Sebagian besar perabotannya bergaya renaissance dengan dominasi warna krem dan cokelat pastel. Setiap inci kayu di sana berpelitur dan mengkilat, tidak menyisakan sedikitpun debu. Draco mau tidak mau kagum juga dengan tampilan ruangan itu, juga dengan orang-orang yang terlihat anggun duduk di kursi-kursi, saling melingkar dan bercakap. Ia melirik Harry yang berjalan menunduk di belakangnya, menyadari bahwa pemuda itu merasa resah.
Tidak sampai satu menit kemudian mereka sampai di sebuah ruangan tertutup, dengan dua pelayan nyaris identik berdiri di sisi-sisi pintu. Mereka mengucapkan selamat datang pada Draco sebelum kemudian membukakan pintu, membawanya ke ruangan lain yang tidak kalah menawan.
"Draco!" sapa riang seorang wanita di tengah ruangan. Draco langsung mengenali wanita itu sebagai sepupunya. Saat itu ia tidak sendirian, seorang pria berambut hitam dan mengenakan setelan jas berwarna biru tua terlihat duduk di sampingnya. Jaine berjalan ke arah Draco lalu memeluknya.
"Jaine," balas Draco. Ia kemudian menarik Harry yang terpekur di belakangnya ke sampingnya. "Ini Harry. Aku yakin kalian pernah bertemu," lanjut Draco. Harry menyalami tangan Jaine dengan kaku. Draco bisa melihat rona penyesalan pada wajah pemuda itu.
"Duduklah kalian berdua," kata Jaine.
"Clive, perkenalkan, Draco dan Harry," kata Jaine pada pria di sampingnya yang kemudian disusul dengan jabat tangan ketiganya. "Nah, sekarang kita langsung saja pada pokok pembicaraan. Draco, sudah kau katakan pada Harry tentang tujuan kita berkumpul di sini?" tanya Jaine. Draco menggeleng.
"Kau saja yang menjelaskan. Dia tidak akan percaya jika aku yang bilang," kata Draco. Jaine kemudian menatap Harry lekat-lekat. Draco bisa melihat pemuda itu menelan ludah.
"Harry, kami ingin kau pacaran dengan Clive," kata Jaine.
.
.
.
Apa?
Harry menelengkan kepalanya ke kiri. Mungkin ia hanya salah dengar, tapi Harry nyaris yakin bahwa wanita yang duduk dihadapannya itu memintanya untuk menjadi kekasih Clive. "Maaf, bisa kau ulangi? sepertinya aku salah dengar."
Dilihatnya Jaine menggeleng.
"Aku butuh bantuanmu untuk menjadi kekasih Clive," ulang Jaine. "Kau tahu, aku dan Clive dijodohkan oleh orang tua kami, sementara kami–ia melirik Clive yang mengangkat bahu–tidak berpikir bahwa kami saling menyukai untuk bisa menikah. Jadi, jika saja kami punya alasan untuk menolak perjodohan itu, maka kami tidak perlu menikah."
Harry susah payah menahan mulutnya agar tidak menganga.
"Dan alasan itu adalah..." Harry menunjuk dirinya sendiri, tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Jaine mengangguk.
"Tapi aku bukan gay!" seru Harry. Jaine menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan?" tanyanya. Harry bisa mendengar dengan jelas nada tidak percaya di dalam suaranya. Harry melirik Clive, yang sama sekali tidak tampak terganggu.
"Kau pikir ini bijaksana? Kau tahu, membuat dunia berasumsi bahwa kau... gay?" tanya Harry. Clive hanya mengangkat bahu.
"Aku memang gay, jadi tidak masalah," katanya. Harry sukses melongo. Ia kemudian cepat melirik Draco yang tengah menatapnya prihatin.
Harry ingin sekali meralat ucapannya di depan flat tadi. Bukan hanya Draco yang gila, tapi seluruh Malfoy dan kroninya sudah kehilangan akal mereka.
"Oke. Kurasa aku tidak punya alasan untuk menyetujui gagasan ini," kata Harry. "Kalian bisa meminta orang lain untuk melakukannya. Maaf, aku tidak bisa."
Jaine menopangkan dagu di atas kedua tangannya yang tegak di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Harry hingga Harry merasa sedang diinterogasi oleh polisi muggle.
"Kurasa kau masih ingat kejadian di flat Draco kemarin, Potter?" ujarnya. Harry merasakan firasat buruk saat wanita itu memanggilnya dengan nama keluarganya. Harry mengangguk. "Kurasa kau sebaiknya tahu, bahwa dalam klausul yang disepakati, tindakanmu waktu itu bisa dikategorikan perbuatan tidak menyenangkan, bahkan–lanjutnya ketika Harry hendak memprotes–pencemaran nama baik.
"Kurasa kau tidak akan bertindak ceroboh dengan mengacuhkan kenyataan itu. Bayangkan apa yang akan terjadi padamu jika saja kasus ini menyeruak ke publik. Kau akan kembali dikejar-kejar wartawan. Kehidupanmu tercampuri. Belum lagi tentang dirimu yang kini tinggal di sebelah Draco. Bukan hanya kau yang akan ditanyai, tapi juga sahabat dan tetanggamu yang lain: Granger, Weasley, Rachel, Mike, belum lagi orang-orang di kedai Draco. Well, siapa tahu mereka bisa menemukan cerita lain yang lebih menarik tentang kalian berdua," imbuh Jaine.
Harry menelan ludahnya gugup. Bukan karena ia takut tentang konsekuensi yang akan ia terima, namun karena ia terpaku dengan wanita yang kini memandanginya lekat itu. Ekspresinya, juga bahasa tubuhnya, benar-benar seorang Slytherin sejati. Dan menurut pengalamannya, tidak ada manfaatnya mendebat seorang Slytherin sepertinya.
"So?" tanya Jaine.
Harry menghela nafas dalam-dalam. Tidak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya untuk mengatakan ini.
"Baiklah," ujarnya pasrah.
Ekspresi Jaine langsung berubah ceria. "Nah, begitu lebih baik," katanya, tepat pada saat para pelayan datang membawakan sajian mewah. Kening Harry berkerut mengingat ia belum sempat memesan apapun.
"Jangan khawatir, Malfoy selalu memesan yang terbaik," ujar Jaine.
Mereka kemudian makan dalam diam. Rasanya seperti makan sendirian di Aula Besar. Tidak ada yang terdengar selain denting garpu dan gesekan pisau. Harry berpikir bahwa makan malam di rumah keluarga Dursley, dimana Dudley terus menerus mengganggunya, lebih baik. Setidaknya di sana ada televisi. Ada suara yang bisa ditangkapnya, tidak seperti sekarang yang terasa mencekam. Imaje Jaine yang menyeramkan belum juga hilang dari pikirannya.
"Jadi, sejak kapan kalian pacaran?" tanya Jaine yang sukses membuat Harry tersedak. Ia buru-buru menenggak anggur yang ada di depannya. Rasanya panas membakar tenggorokan.
Jaine tersenyum.
"Well, kupikir begitu karena Draco bersikeras tidak ingin melibatkanmu dalam rencana ini," kata Jaine. "Aku tidak bisa memikirkan alasan lain selain kecemburuan," godanya sambil mengerling ke arah Draco.
"Kau melupakan anggurmu, Jaine," tegur Draco. Jaine malah tersenyum makin lebar.
"Well?" desak Jaine lagi.
"Kupikir hubungan kami tidak seperti itu," jawab Harry. Ia kembali meminum anggurnya.
Kini bukan Jaine saja, namun Clive juga ikut-ikutan memandanginya dengan senyum tertahan.
.
.
.
"Katakan padaku, Malfoy," ujar Harry ketika mereka berjalan masuk gedung flat. Draco menoleh memandangnya. "Kenapa lampu-lampu di depan itu saling berkejaran?"
Alis Draco terangkat melihat Harry yang menggeliat aneh sambil menyandar di dinding sebelahnya.
"Kenapa kau loncat-loncat begitu, Malfoy? Aku tidak bisa melihatmu dengan jelas," ujar Harry lagi. Draco hanya mendesah.
"Kau mabuk, Potter," katanya.
"Aku tidak mabuk," kilah Harry. Kini ia menggambari dinding itu dengan tangannya.
"Jelas sekali kalau kau mabuk," kata Draco.
"Kau salah, Malfoy," kata Harry sambil mendekat ke arah Draco. "Seorang yang mabuk tidak mungkin masih bisa berbicara sepertiku," lanjutnya, mulai sesenggukan. Kini ia tepat berada di depan Draco. "Orang yang mabuk tidak mungkin masih bisa berdi–"
Seperti dalam gerakan pelan, Draco melihat tubuh Harry terhuyung ke belakang. Secara reflek ia mengulurkan tangannya ke depan, menangkap jas pemuda itu, lalu menariknya ke arahnya. Terima kasih atas latihan Quidditchnya selama bertahun-tahun, Draco bisa menangkap tubuh Harry tepat waktu. Tangannya kemudian memegangi sisi-sisi tubuh Harry, menjaganya agar tidak jatuh.
Harry kemudian berbisik di telinganya. "Katakan padaku, Malfoy. Mengapa kau terus menolak untuk menjadikanku kekasih palsu Clive?"
Draco tidak menjawab. Ia berusaha melonggarkan kerah bajunya, setengah gerah setengah gugup oleh posisi mereka sekarang. Kedua lengan Harry kini berada di lehernya, hingga tubuh mereka sukses berhimpitan erat.
"Kurasa sebaiknya kau kembali ke flatmu, Potter," kata Draco. Ia berusaha melepaskan pelukan Harry, namun tubuh pemuda itu langsung terhuyung saat ia melepaskannya. Mau tidak mau ia kembali memeganginya. Dan Harry kembali memelukya erat.
Draco mendesah. Tidak ada pilihan lain selain menggotong pemuda itu ke atas. Ia melirik keadaan sekitar, berharap tidak ada orang sehingga ia bisa menggunakan mantra Levicorpus. Namun melihat beberapa pintu masih terbuka, ia jadi ragu. Perlahan, ia melepas tangan Harry di lehernya lalu memutar badan. Kemudian, dengan satu hentakan, ia mengangkat tubuh Harry ke atas punggungnya lalu mulai berjalan.
Di sepanjang tangga menuju lantai tiga, Draco terus berdoa dalam hati agar tidak ada yang melihat mereka. Lantai satu terlewati dengan aman. Namun saat ia nyaris saja melewati lantai dua, suara seorang wanita menghentikannya.
"Draco darling, baru pulang?" Tanya Rachel dari balik pintu flatnya. Draco tidak sempat menjawab karena tiba-tiba wanita itu memekik. "Astaga, kau apakan Harry?" tanya Rachel. Ingin rasanya Draco berteriak bahwa karena kesalahan pemuda itu sendirilah yang menyebabkan dirinya tak sadarkan diri.
"Dia mabuk, Rach," jawab Draco sabar.
"Oh," kata Rachel kaget. Wanita itu terlihat prihatin dan heran dalam waktu yang sama. "Tidak biasanya dia mabuk. Kemana kau akan membawanya?" tanyanya lagi. Ah, iya. Kemana aku akan membawanya? Pikir Draco.
"Boleh kutitipkan di tempatmu?" tanya Draco setengah berharap. Namun Rachel malah berkacak pinggang.
"Draco! Jangan bicara hal yang tidak masuk akal seperti itu. Mana mungkin kubiarkan seorang pria yang bukan keluargaku menginap di flatku?" kata Rachel. Draco mengernyit mendengarnya. Seingatnya dulu ia dan Nick sering menginap di sana setiap kali ia dipaksa Nick untuk menonton pertandingan bola semalam suntuk.
"Nah, lebih baik kau bawa Harry masuk ke flatmu. Jangan lupa basuh mukanya dengan air hangat, itu bagus untuk mengurangi pusing saat ia bangun nanti," tambah Rachel. Sekilas Draco yakin bahwa wanita itu tersenyum sebelum ia masuk ke flatnya. Sambil mendesah sekali lagi, ia kemudian menaiki tangga menuju lantai tiga. Ia merogoh sakunya untuk mengambil kunci pintu, lalu masuk dengan terengah.
Hal pertama yang dilakukan Draco adalah bergegas menuju kamar tidur dan membaringkan Harry di sana. Ia mengusap peluh yang tanpa terasa membasahi wajahnya lalu beranjak menuju dapur. Bertanya-tanya mengapa tak ia baringkan saja Harry di sofa ruang tengahnya.
Ia kemudian kembali dengan baskom kecil berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.
Perlahan, ia melepaskan sepatu Harry, lalu jasnya. Draco melepas jasnya sendiri, menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku, lalu memperhatikan wajah di depannya. Saat itu ia baru sadar bahwa Harry tidak lagi memakai kacamata. Ia membasahi handuk dengan air hangat lalu mulai mengelap wajah pemuda itu.
Pertama, keningnya.
Seorang mantan pelahap maut mengusap wajah Harry Potter, pikir Draco getir. Ia membayangkan apa yang akan terjadi jika si wartawan menyebalkan Rita Skeeter tiba-tiba muncul di sini. Akan menjadi skandal besar bagi Harry Potter tentunya. Dan akan menjadi akhir dari hidupnya yang damai. Hidupnya yang seharusnya terbebas dari hiruk pikuk pandangan kaum penyihir yang selalu saja membuatnya susah bernafas.
Lalu hidungnya.
Draco mendesah. Sejak saat Harry kembali masuk dalam kehidupannya, ia sudah tahu bahwa segala kedamaian yang ia rencanakan dalam hidupnya akan berantakan. Ia sudah tahu bahwa semenjak pemuda itu kembali mengacaukan akal sehatnya, ia takkan bisa mendapatkan ketenangan di malam-malam saat ia sendiri. Ia tahu. Namun ia tidak bisa menolak.
Lalu pipinya.
Rasanya ada sesuatu, entah apa, yang tanpa sadar membuatnya terus melangkah menuju pusaran. Kebersamaannya dengan Harry seolah tak terelakkan. Pemuda itu candu, yang membuatnya terus meminta.
Seharusnya saat inilah titik dimana ia bisa berbalik. Titik dimana ia harus memutuskan, akan menjadi apa hubungan mereka.
Lalu rahang dan lehernya.
Hubungan? Draco tersenyum getir memikirkan kata itu muncul diantara mereka. Rasanya ia sudah terbiasa dengan hubungan tanpa nama diantara mereka. Rasanya ia sudah nyaman dengan adu mulut, dan kebersamaan mereka yang absurd. Meski selalu ada sensasi hangat namun pedih tiap kali ia memikirkan Harry.
Lalu... bibirnya.
Apa yang terjadi padanya? Apa yang terjadi pada Draco Malfoy yang selalu tenang dan terkendali?
Seperti saat ini, jantungnya berdegup kencang hanya dengan melihat bibir pemuda itu. Bibir merah yang merekah sempurna. Sebatas garis halus memisahkan kedua bagiannya. Draco tanpa sadar menelan ludah.
Apa yang terjadi pada Draco Malfoy yang membenci Harry Potter?
Perlahan, seakan digerakkan oleh tangan-tangan tak kasat mata, Draco mendekatkan wajahnya ke wajah Harry. Lalu, tanpa ia sadari, tangannya mulai meraba lekuk-lekuknya, hingga kemudian berakhir di bibir pemuda itu. Ujung jarinya perlahan mengusap bibir itu. Rasanya lembut. Draco kembali menelan ludah.
Ada sesuatu yang aneh pada dirinya, karena ia tahu bahwa ia semakin mendekati bibir itu namun tidak bisa berhenti.
Lalu, sebelum kesadaran mengambil alih dirinya, ia pun mengeliminasi jarak mereka. Menutup mata, menikmati satu kecupan manis.
...
...
Gawatnya, ia tidak bisa berhenti.
-End of Chapter 12-
a/n. Oke, salahkanlah lagu Beautiful Dusk yang membuat saya super mellow di scene terakhir :P
Review selalu ditunggu guys... :)
