Titik-titik hujan masih membasahi area Redpalm Street. Beberapa butirannya memerciki jendela besar di dekat tempat tidur sebuah flat di kawasan itu. Seakan meradiasi embun tak kasat mata yang dingin, membuat sesosok tubuh makin mengeratkan selimut ke atas tubuhnya. Sebuah senyum tanpa sadar telah menghiasi wajahnya yang pucat, meronakan titik-titik putih di sana.

Draco menggeliat malas sambil menikmati paginya yang sejuk. Selimutnya yang tebal dan hangat membuatnya enggan bertarung dengan dingin. Secara naluriah ia membalikkan posisi tubuhnya ke arah kiri, mencoba menggapai kehangatan yang terpancar dari sana. Ah, nyaman sekali, pikirnya seraya tersenyum. Entah jam berapa sekarang, ia sudah kehilangan orientasi waktu. Segala kehangatan ini memabukkan. Dan entah tangan siapa yang kini memeluknya erat–

Memeluknya erat?

Draco membuka matanya. Mengerjap.

Ada sejumput hitam berantakan.

Mengerjap lagi.

Ada hembusan teratur yang menerpa wajahnya.

Mengerjap lagi.

...

...

...

Ah, ada Harry Potter di depannya.

Harry Potter.

Harry Pot−

Draco langsung melompat dari tempat tidur saat itu juga. Sedikit terhuyung saat kakinya menyentuh lantai. Di hadapannya, Harry Potter terlihat terlelap di ranjangnya. Draco langsung memeriksa kondisi tubuhnya dan mendesah lega saat didapatinya pakaian yang ia kenakan masih lengkap. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.

"Oke, Potter mabuk, dan tidak ada yang terjadi," gumamnya. Namun kemudian ia teringat bahwa ia mengecup bibir pemuda itu. Lalu dari kecupan berlanjut menjadi sebuah ciuman. Lalu...

Tunggu.

I kissed him, pikirnya. Draco mengerang menyadari kebodohannya tadi malam. Nyaris saja ia melakukan hal yang tidak terduga pada pemuda itu jika saja ia tidak diinterupsi oleh Harry yang mengigau tentang betapa menyebalkan dirinya. Pipinya terasa panas saat teringat bagaimana Harry menggumamkan nama kecilnya dalam tidurnya.

Draco berusaha keras menahan senyum yang memaksa menyeruak.

Stupid Harry.


Hello!

By : 7 Days of Summer

Disclaimer : Harry Potter © JK Rowling


Harry merasa ada seseorang yang berjalan mondar-mandir tak jauh dari dirinya berada. Awalnya sayup-sayup, namun makin lama makin terdengar jelas. Ia berusaha membuka mata untuk melihat, dan apa yang kemudian dilihatnya membuat keningnya berkerut.

Ada Draco Malfoy yang tengah mondar-mandir di depannya. Dan sejak kapan kamarnya jadi bernuansa biru?

Ia memaksakan diri untuk duduk. Memegangi kepalanya yang terasa pusing.

"Ng,, Malfoy. Sedang apa kau di sini?" tanya Harry.

Draco yang tengah membawa segelas kopi menuju sofa berhenti dan menatapnya. "Kau bertanya apa yang kulakukan di flatku sendiri, Potter? Well, itu bukan urusanmu," jawabnya.

Harry refleks melihat sekeliling. Dan benar saja, tak ada satupun perabot di sana yang ia kenali.

Didorong oleh firasat aneh dan mendesak, ia langsung memeriksa tubuhnya. Ia nyaris memekik saat ia dapati tubuh bagian atasnya tidak terlindungi oleh sehelai benangpun. Ia memandang Draco dengan tatapan horror. Draco hanya menaikkan satu alis matanya.

"Apakah sudah terlambat untuk menyesal?" tanya Harry.

"Maksudmu?"

"Apakah kita..." Harry membuat gerakan menunjuk dirinya dan Draco.

"No," jawab Draco tegas.

"Tidak ada yang terjadi?"

"Tidak ada yang terjadi."

"Kau yakin?"

"Seratus persen."

Harry mengerutkan keningnya tidak percaya. "Tidak mungkin..." desahnya. Untuk pertama kalinya ia kecewa mendapati celananya masih utuh.

"Apapun yang kau harapkan, Potter, jelas sekali kalau hal itu tidak terjadi," jawab Draco. Harry nyaris saja berkata bahwa ia bermimpi Draco menciumnya.

"Well..." kata Harry seraya bangkit dari tempat tidur. Ia mencari-cari bajunya yang entah kemana dan merasa tidak yakin apakah seharusnya ia memakai selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang. Namun akhirnya ia memutuskan bahwa ia akan terlihat seperti perempuan jika berbuat demikian. "Selamat pagi, Malfoy," lanjutnya. Entah semerah apa wajahnya sekarang.

"Pintu keluar ada di sebelah sana, Potter," kata Draco sambil menunjuk ke arah depan.

"Kenapa aku sampai tidak memakai baju?" tanya Harry tanpa bisa ditahan. Namun ia langsung menutup mulut saat Draco memandangnya tajam. Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau tidak menawariku kopi?"

"Aku bukan pembantumu."

"Tapi setidaknya kemarin aku menawarimu teh," tuntut Harry. Padahal ia juga heran mengapa ia bersikeras minta dibuatkan kopi. Nuansa biru di sana sepertinya berdampak buruk bagi akal sehatnya.

"Dan akhirnya aku juga yang membuatkanmu kopi," kata Draco kesal. "Lagian, kenapa sih kau nekat minum anggur kalau kau tidak tahan?"

Harry hanya menunduk, cemberut.

"Kau tahu kau minum seberapa banyak semalam? Tujuh gelas, Potter, tujuh gelas!" seru Draco lagi. "Untuk ukuran orang sepertimu, aku heran kalau kau tidak tewas."

"Kau ingin aku tewas?" tanya Harry.

"Kau−" sergah Draco. Namun pemuda itu hanya mendesah. "Sudahlah. Pakai bajumu, kubuatkan kopi," lanjutnya. Harry melihatnya berjalan menuju dapur, namun berhenti saat ia mencapai pintunya. "Bajumu ada di atas meja. Dan jangan tanya-tanya kenapa ada di sana."

Meski desakan untuk bertanya begitu menggebu, Harry hanya mengangkat bahu lalu berjalan menuju meja di samping tempat tidur. Mengapa ia tidak melihatnya tadi? Sambil mengenakan bajunya, ia melirik Draco yang tengah sibuk meracik kopi. Ia selalu suka pemandangan itu. Tangan-tangan pucat yang bergerak lincah di atas meja. Kemeja yang digulung sampai siku. Helai-helai rambut yang menutupi keningnya.

Lagi-lagi, pertanyaan mengenai bajunya yang terlepas dari tubuhnya menghantuinya. Ia tahu bahwa tidak sepatutnya ia berharap sesuatu telah terjadi. Namun ia juga merasa kecewa jika sesuatu memang tidak terjadi, padahal ia sudah setengah telanjang.

Mendesah karena pikirannya yang kacau, ia kemudian duduk di sofa di ruang tengah. Tak salah lagi, tata ruangan itu persis seperti flatnya. Hanya saja perabot di ruangan itu telah diganti dengan sesuatu yang lebih maskulin dan berkelas. Dan juga nuansa birunya. Siapa sangka seorang Malfoy lebih memilih biru daripada hijau?

"Thank's," ujar Harry saat Draco meletakkan secangkir kopi hitam di depannya. Pemuda itu kemudian duduk di samping Harry.

Lagi, mereka menghabiskan detik-detik dalam keheningan. Hanya alam yang tahu mengapa keheningan begitu berkuasa atas keduanya.

Harry menyesap kopinya dalam diam, menikmati sensasi familiar setiap kali cairan berwarna hitam itu memasuki mulutnya. Pekat dan pahit.

"Kau buru-buru?" tanya Harry. Draco yang dari tadi diam hanya menatapnya sekilas.

"Memangnya kenapa?"

"Kalau kau buru-buru aku kembali ke flatku saja," kata Harry.

"Dan meninggalkan cangkir kotor di sini? Sopan sekali," kata Draco. Harry buru-buru meletakkan cangkirnya di atas meja lalu menatap pemuda pirang di sampingnya.

"Cuma perasaanku saja, atau kau memang ingin aku tetap di sini, Malfoy?" tanya Harry. Draco memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari Harry yang tengah menatapnya.

"Kopi membuat kepalamu rusak, Potter," jawab Draco ketus. Meski Harry juga bisa melihat setitik warna merah di wajahnya yang pucat.

Harry tersenyum diam-diam. Ia kembali menyesap kopinya yang masih mengepul, bertanya-tanya mengapa rasanya kini jadi lebih manis.

.

-o0o-

.

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuatmu terlihat bodoh. Kebanyakan diantaranya adalah sesuatu yang tidak terduga, yang terjadi secara tidak terduga. Dan Draco tidak pernah sekalipun bisa menduga, bahwa bangun pagi, ditemani seseorang berambut hitam berantakan dan mata hijau yang aneh, bisa membuatnya begitu... bersemangat. Adu mulut ringan dan secangkir kopi di pagi hari. Dan ia merasa senyum terasa sulit untuk dihilangkan dari wajahnya.

Dan ah, Stan pun kini memandanginya heran. Draco tidak ambil pusing, karena pria itu memang selalu memandangnya dengan ekspresi serupa, campuran antara prihatin dan bingung.

"Kau oke, Bos?" tanya pria itu. Draco berdehem ringan. "Kau kelihatan bahagia sekali," lanjutnya.

"Apakah salah jika aku terlihat bahagia?" tanya Draco balik. Stan hanya mengangkat bahu lalu kembali ke meja pengunjung.

Draco kembali memeriksa catatan-catatan di depannya, mengabaikan fakta bahwa sampai kemarin, ia merasa sudah terlalu bosan dengan tumpukannya yang menggunung. Perasaannya sedang baik hari ini, dan ia merasa mampu menyelesaikan pekerjaannya betapapun membosankannya mereka.

Well, setidaknya sampai sesuatu tidak terduga yang lain yang terjadi beberapa saat kemudian.

Draco tengah menyuruh Robert untuk mengisi cangkirnya yang kosong saat pintu masuk kedainya terbuka. Ia menoleh ke arah pintu, bermaksud memberi ucapan selamat datang saat kemudian dilihatnya dua orang yang sangat familiar berjalan ke arahnya.

"Tidak apa-apa kan kalau kami mampir?"

Draco seketika mengerutkan keningnya.

Ada seseorang bernama Clive yang dengan santainya merangkul pundak seseorang bernama Harry Potter dan nampaknya pemuda itu tidak terlihat keberatan sama sekali.

"Tentu saja tidak apa-apa," sahut seseorang di belakang Draco. Dan kenapa ya, ia tidak terkejut kalau orang itu adalah Stan?

"Kalian mau pesan sesuatu?" tanya Stan lagi. Clive dan Harry kemudian berjalan dan mendudukkan diri mereka di kursi tepat di hadapan Draco−yang masih saja belum menemukan suaranya.

"Kami hanya ingin bertemu Draco, tidak apa-apa kan?" tanya Clive ramah. Sejak kapan pria cuek itu jadi begitu bersahabat?

Stan hanya mengangguk lalu kembali ke dapur.

"Well, Draco, kapan kau akan bersuara?" tanya Clive. Draco langsung tersadar dari pergulatan pikirannya.

"Mau apa kalian kesini?" tanyanya ketus. Ia menghentakkan catatannya ke atas meja lalu menyilangkan tangannya di dada. Serius deh, kenapa rasanya susah sekali mempertahankan kebahagiaan yang susah payah ia dapat.

"Ngapain? Well, hanya berkunjung. Aku dan Harry barusan kencan," ujar Clive kalem. Harry di sampingnya langsung terbatuk.

"Jangan mengucapkan sesuatu yang memancing kesalahpahaman, Clive," katanya. Draco menyadari bahwa pemuda itu berulang kali melempar pandangan jangan-percaya-pada-pemuda-gila-ini padanya. Ia mendesah.

"Lalu?"

"Lalu?" tanya Clive balik. "Lalu aku hanya melaporkannya padamu. Kurasa kau ingin tahu apa yang telah kami lakukan?" tanyanya dengan nada menggoda. Draco berusaha keras untuk tidak melempar cangkir di depannya ke arah pria itu.

"Kurasa itu urusan pribadi kalian," kata Draco sambil mencoba kembali focus pada catatannya. Meski ia hanya melihat deretan angka, tanpa benar-benar memperhatikan.

"Oh... Well, tadinya kami mau ke tempat lain, namun Harry memaksa ingin ke sini," ujar Clive kalem. Draco mendongak dan mendapati Harry membuang muka. Dan Merlin, benarkah yang ia lihat? Bahwa Harry Potter merona?

"Kurasa aku dan Potter juga punya sesuatu untuk didiskusikan malam ini," kata Draco. Tatapannya tidak beralih dari Harry, yang memandangnya terkejut. Mengabaikan Clive yang tersenyum menggoda.

"Oke, kalau itu aku tahu," katanya. "Nah, kurasa sampai di sini dulu petualangan kita, Harry," lanjutnya. Ia kemudian meraih telapak tangan Harry dan mengecupnya. "Sebenarnya aku ingin melakukannya di bibirmu. Tapi aku masih ingin hidup," godanya sambil melirik ke arah Draco. "Terima kasih atas bantuanmu. See you next time?" katanya sambil kemudian berlalu, meninggalkan Draco dan Harry, lagi.

Draco mendesah lega saat akhirnya Clive keluar kedainya. Ia kemudian beralih memandang Harry, yang tengah memandanginya dengan ekspresi yang tidak bisa ia jelaskan.

"What?" sergah Draco.

"Ada yang ingin kau diskusikan, Malfoy? Kenapa tidak sekarang saja, selagi aku masih punya waktu," kata Harry.

"Tidak," jawab Draco. Memangnya apa yang mau ia katakan? Ucapannya barusan hanyalah buah dari emosi yang tidak bisa ia kendalikan. "Nanti malam saja di flatmu."

Draco mencoba membenahi catatannya yang berantakan, saat kemudian ia menyadari bahwa tidak ada jawaban dari Harry. Ia mendongak untuk memandang pemuda itu dan heran mendapati pemuda itu lagi-lagi tengah memandanginya dengan ekspresi yang tidak bisa ia intepretasikan.

"Kau yakin akan melakukannya di flatku?" tanya Harry.

"Jangan menggunakan kata-kata yang memancing kesalahpahaman, Potter," kata Draco, dan seketika itu juga ia menyesali ucapannya. Wajah Harry memerah, begitu juga wajahnya yang tiba-tiba saja terasa panas. Shit, rutuknya dalam hati.

"O−Oke. Kutunggu jam delapan di flatku," jawab Harry tergagap. "Bye, Malfoy." Ia kemudian langsung berdiri dan berjalan keluar kedai, meninggalkan Draco yang susah payah menahan urgensi untuk menjambak rambutnya sendiri.

"Kau bisa memercayakan kedai padaku, Bos," kata seseorang di belakang Draco. Draco menoleh dan mendapati Stan tengah memandangnya dengan senyum misteriusnya.

Dan Draco langsung merasakan firasat buruk.

.

-o0o-

.

Untuk kesekian kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Harry berjalan mondar-mandir di dalam flatnya sendiri. Merasa gelisah tanpa sebab, seakan-akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi dan dia belum mempersiapkan dirinya.

Ia tahu bahwa tidak seharusnya ia mengharapkan sesuatu terjadi, apalagi jika itu berhubungan dengan tetangga flatnya. Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang begitu menginginkan hal itu. Dalam artian paling absurd sekalipun.

Memastikan bahwa bajunya telah terpakai dengan benar, Harry melirik jam dinding. Sudah jam 8. Draco bisa datang kapan saja.

Mengapa bajunya terlepas dari tubuhnya?

Lagi-lagi pertanyaan itu menyergap pikirannya. Ia heran mendapati dirinya yang terus-menerus memikirkan satu fakta remeh itu.

Namun ia akhirnya memaksakan diri untuk duduk di sofa ruang tengah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Entah sejak kapan, segala sesuatu mengenai Draco selalu berhasil membuat dirinya tidak terkendali. Ia nyaris terlonjak saat bel pintunya tiba-tiba berbunyi.

This is it, pikirnya seraya berjalan menuju pintu dan membukanya. Menghadapkannya pada Draco yang tengah berdiri memandangnya.

"Masuklah," kata Harry, dan mereka pun berjalan menuju ruang tengah dan mendudukkan diri mereka di atas sofa. Skema yang sama yang telah terjadi beberapa kali sebelumnya. Harry merasa ngeri−juga penasaran−dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"So, apa yang mau kau diskusikan denganku?" tanyanya memecah keheningan diantara mereka. Draco menopangkan kedua sikunya di atas lutut.

"Apa yang kau lakukan dengan Clive?" tanyanya. Kedua alis Harry terangkat mendengar pertanyaan itu.

"Kau yakin itu yang ingin kau bicarakan?" tanyanya.

Draco mengangguk.

Harry mendesah.

"Semua ini salahmu. Gara-gara kesepakatan kita malam itu, aku terpaksa bertandang ke rumah Clive untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa Clive sudah memiliki seseorang yang ia cintai," kata Harry. Ia melirik Draco yang tampak terkejut. "Kau tidak tahu rasanya dipaksa berpura-pura menjadi gay."

"Kau−"

"Untungnya tidak terjadi apa-apa," sahut Harry cepat.

"Kau bukan gay?" tanya Draco lirih.

Harry menoleh cepat ke arah Draco, tidak menyangka bahwa pertanyaan itu yang terlontar dari pemuda itu.

"Aku tidak tahu," katanya. "Aku belum tahu," tambahnya lirih.

Hening lagi. Harry tidak terkejut bahwa keheninganlah yang akan datang menyelimuti mereka berdua. Selalu seperti itu.

"Sebenarnya ada satu cara untuk membuktikannya," kata Draco. Harry menoleh untuk mendengarkan lebih jelas, namun tubuhnya tiba-tiba terdorong hingga ia kini terbaring di atas sofa. Dan Draco di atasnya. Kedua lengannya terkunci, juga kedua kakinya. Ia tidak bisa bergerak.

"Malfoy?" tanya Harry ragu, setengah takut. Ia tahu bahwa ia tidak seharusnya merasa senang dengan situasi ini. Namun posisi ini seolah membangkitkan sesuatu di alam bawah sadarnya. Ditambah Draco yang kini memandanginya dengan tatapan seintens itu.

"Kuharap kau siap dengan konsekuensi dari apa yang akan kulakukan, Potter," bisik Draco di telinganya. Harry tidak bisa berbuat apapun selain pasrah. Ada sesuatu dalam tubuhnya yang terasa bangkit dan menggeliat dan...

Harry tidak sempat memikirkannya lebih lanjut karena wajah Draco entah sejak kapan sudah begitu dekat dengan wajahnya. Lalu seperti yang ia duga−dan ia harapkan−

Ada seseorang yang mendobrak pintu masuknya.

Lalu−

Ada langkah kaki.

Lalu−

"Harry, mana buku yang kemarin kau pin–"

Harry dan Draco serentak mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk. Di sana, seseorang sedang memandangi mereka dengan mata yang membulat. Pandangan Harry seketika berubah menjadi horor.

"Nick," ujar Draco. Nick yang tanpa sadar mematung di depan pintu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku tidak melihat apapun. Sungguh," katanya sambil nyengir. Baik Harry dan Draco nampaknya tidak sadar bahwa mereka masih dalam posisi bertindihan. "Um, kalian lanjutkan dulu saja, urusanku bisa setelahnya. Bye," ucapnya cepat sebelum kembali meninggalkan mereka berdua.

Harry menatap Draco yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya. Lalu, entah darimana datangnya dorongan itu, ia tertawa. Tertawa keras sampai-sampai tubuhnya bergetar, hingga Draco tidak punya pilihan lain selain menyingkir dari atas tubuhnya dan memandanginya heran.

"Apanya yang lucu?" tanya pemuda itu.

Harry bangkit kemudian duduk di samping Draco. Tawa belum lepas dari mulutnya.

"Semua ini," katanya. "Kau tahu, aku selalu bertanya-tanya mengapa setiap kali aku berada di dekatmu, sesuatu yang tidak terduga selalu terjadi."

Kerutan di kening Draco belum menghilang, namun Harry bisa melihat ekspresi pemuda itu berubah menjadi lebih lembut. Lalu, seperti yang ia duga, pemuda itu tersenyum. Hanya seulas senyum simpul, namun selalu bisa membuat Harry terpaku.

"Yeah," katanya.

Mereka kini duduk dalam diam. Lagi. Kembali melewati detik-detik dalam keheningan. Setengah terpaksa, setengah menikmati. Entah mana yang lebih dominan. Harry tidak tahu berapa lama waktu yang telah terlewati, namun saat dirinya kembali melihat jam dinding, saat itu sudah pukul 10 malam.

"So?" tanyanya memecah keheningan. Ia melirik Draco, yang nampaknya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

"So," katanya. "Kurasa sebaiknya aku kembali ke flatku," lanjutnya sambil berdiri. Ia berjalan menuju pintu depan dan Harry membuntutinya dari belakang.

"Kesimpulan malam ini adalah?" tanya Harry saat Draco melangkah keluar flatnya. Harry menunggu jawaban dari pemuda itu sambil menyandarkan diri ke dinding luar flatnya.

"Belum ada," kata Draco. Harry nyaris mendesah kecewa mendengar jawaban itu. "Jadi kupikir kita harus mendiskusikannya lebih lanjut," sambung Draco. "Kujemput kau besok malam jam tujuh. Tidak usah pusing dengan apa yang kau kenakan."

Harry terlalu terkejut sampai-sampai ia lupa untuk mengangguk. Dilihatnya pewaris Malfoy itu berjalan menuju flatnya, dan ia pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama, sebelum kemudian Draco memanggilnya.

"Potter," panggil Draco. Harry membalikkan tubuhnya untuk menatap pewaris Malfoy itu. Draco terlihat ragu sejenak namun kemudian menghampirinya.

"Rasanya tidak adil jika aku tidak mendapatkan hadiah apapun setelah menolongmu semalam. Jadi..." Ia menarik tangan Harry hingga tubuhnya bergerak ke arahnya. Lalu, dalam hitungan sepersekian detik, ia mendekatkan wajah mereka hingga keduanya nyaris bersentuhan. "Kurasa aku berhak mendapatkan ini," sambung Draco sebelum akhirnya ia mempertemukan bibir mereka.

Hanya sebuah ciuman singkat, namun Harry merasa seluruh organ tubuhnya berhenti berfungsi.

Wajah Draco merona. Dan Harry yakin bahwa rona itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semerah apa wajahnya sekarang.

"Malfoy," ujar Harry saat ciuman itu berakhir. "Kenapa bajuku sampai bisa berada di atas meja?"

-End of Chapter 13-


a.n. Jadi, kenapa Draco? Kenapa baju Harry sampai terlepas dari tubuhnya? Hah?