Oke, ada yang aneh.

Harry yakin betul bahwa ia sedang berada dalam pelukan Draco, bertanya mengenai insiden bajunya yang terlepas. Namun ketika ia mengerjapkan mata, ia sudah duduk di dalam flat mewah dengan seorang wanita cantik tengah memandangnya tanpa berkedip.

Apakah ia bermimpi?

Sepertinya tidak. Cubitan di lengannya terasa sakit.

Ah, mungkin ia hilang ingatan. Ya, kadang manusia memang tidak bisa selalu kuat menerima kenyataan pahit yang menimpanya, kan?

Kan?

Harry mendesah.

Like hell he does.

Lalu, mengapa kini mulutnya terasa sangat sulit digerakkan? Sepertinya ia tidak terlalu lama berciuman dengan Draco. Well, meskipun harus ia akui bahwa dalam hitungan detik itu ia sempat melayang. Oleh bibirnya, desah nafasnya, cumbuannya.

Ah, ia benar-benar harus memeriksa kembali orientasi seksualnya.

Tapi, kram mulut? Sehebat itukah?

Yah, mungkin saja. Mengingat pemuda dengan rambut pirang platinum itu adalah seorang pencium han−

"Kau ngiler, Potter," wanita didepannya menginterupsi. Rahang Harry secara otomatis menutup.

Oke. Ini memalukan.


Hello!

By : 7 Days of Summer

Disclaimer : Harry Potter © JK Rowling


"Jangan bilang kau memikirkan Draco sampai kau ngiler," kata wanita itu. Harry langsung meraba mulutnya dengan punggung tangannya, memastikan tidak ada sesuatu yang basah di sana.

"Bagaimana aku sampai ada di sini?" tanya Harry. Ia kembali memandangi ruangan di sekitarnya dan memutuskan bahwa ia benar-benar tidak mengenal tempat itu.

"Kau tidak ingat?" tanya wanita itu. Harry menggeleng. "Well, aku meminjammu dari Draco saat kalian tengah…" Wanita itu menaikkan kedua alisnya, dan Harry tahu apa maksudnya.

"Aku tidak ingat melihatmu datang, Jaine," kata Harry.

"Aku penyihir, Potter," kata Jaine.

Ah, iya.

"Lalu mengapa kau menculikku?" tanya Harry. Jaine kelihatan salah tingkah.

"Ada yang ingin kubicarakan," jawab Jaine.

"Tentang apa?" tanya Harry. Dan betapa herannya ia melihat wajah pucat Jaine memerah. Harry tiba-tiba merasakan firasat buruk.

"Well, sebelumnya kau harus bersumpah bahwa kau tidak akan mengatakannya pada siapapun," kata Jaine. Harry mengangkat alisnya.

"Apakah ini sesuatu yang rahasia?"

Jaine menatapnya dengan kesal namun ia mengangguk.

"Baiklah," kata Harry pasrah. "Apa yang mau kaubicarakan?"

Jaine menatap Harry lekat, seperti tengah menimbang-nimbang. "Kupikir lebih baik kita lakukan ritual Sumpah Tak Terlanggar," katanya sambil berdiri dari duduknya. Harry menatapnya ngeri.

"What? No!" sergahnya.

"Kau tidak mau?" tanya Jaine.

"Tentu saja!" seru Harry. Jaine kembali duduk. "Dengar, aku tidak tahu apa yang akan kau bicarakan, tapi kalau kau mau percaya, aku bukan orang yang suka membocorkan rahasia orang lain," tambah Harry. Jaine kembali memandangnya.

"Baiklah," kata wanita itu. "Kupikir juga demikian, Harry."

Harry mendesah lega saat Jaine sudah mulai memanggilnya dengan nama kecilnya. Ini artinya bahaya telah lewat. Dan lagi-lagi ia heran melihat wajah wanita itu yang merona.

"Aku yakin kau mengenal Stan," katanya. Harry memperhatikan tangan Jaine yang sibuk memainkan taplak meja. "Apakah ia sudah punya kekasih?"

Harry yakin bahwa ia salah dengar. Apakah barusan Jaine bertanya tentang status Stan?

"Maaf, tadi kau bilang apa?" tanya Harry.

"Jangan meledekku, Potter." Tubuh Harry kembali tegang saat nama Potter disebut sedemikian rupa oleh wanita itu. "Kau mendengar dengan jelas pertanyaanku."

Harry menelan ludahnya gugup. Bagaimana bisa ia terjebak dalam situasi seperti ini?

"W−Well, setahuku dia masih single," kata Harry terbata. Ekspresi Jaine langsung berubah ceria.

"Benarkah?" tanyanya. Harry mengangguk. Sejujurnya ia sama sekali tidak tahu mengenai anak buah Draco yang satu itu. Ia hanya berbicara dengannya dalam saat-saat aneh dan dengan percakapan absurd. Bagaimana jika ternyata pria itu sudah punya kekasih? Apa yang akan Jaine lakukan padanya?

Harry kembali menelan ludah. Ia merasa telah masuk ke lubang ular dan hanya menunggu untuk digigit.

"Oh, well, kupikir dia sudah punya kekasih," kata Jaine seraya tersenyum. "Rasanya aneh pria memesona sepertinya belum punya pendamping," tambahnya dengan ekspresi memuja.

"Kenapa tidak kau dekati saja dia di kedai. Kau kan bisa minta pertolongan Draco," kata Harry.

"Dengan resiko aku diledek habis-habisan olehnya? Tidak akan," jawab Jaine.

Mau tidak mau Harry merasa tersinggung dengan pernyataan barusan. Apakah dirinya sama sekali punya kemampuan untuk mengolok-olok wanita ini?

.

.

.

Meski pagi itu udara terasa dingin menusuk tulang, Redpalm masih sesibuk biasanya. Banyak orang hilir mudik di trotoar. Beberapa terlihat sendiri, beberapa terlihat bergerombol. Beberapa wanita setengah baya terlihat menggandeng anak kecil berseragam sekolah, melewati toko-toko yang tengah dibuka.

Harry melangkah lesu, tiba-tiba menyesali keputusannya untuk mengantar Jaine ke kedai. Harusnya pagi ini ia ada di flatnya, terbangun di atas tempat tidurnya yang nyaman, lalu bersiap pergi ke Kementerian. Ia hanya mendesah saat Jaine menyuruhnya masuk duluan ke dalam kedai.

Dasar Malfoy.

Pintu kedai berdentang dengan bunyi familiar saat dibuka. Harry melihat sekeliling ruangan itu, menghindari meja counter yang hanya berjarak beberapa meter dari pintu masuk, berusaha tidak menemukan seseorang yang akan membuat harinya berantakan. Memperhatikan bangku-bangku di sana yang sudah terisi oleh orang-orang yang menginginkan secangkir kopi panas di pagi yang dingin. Lalu seperti yang sudah beberapa kali dilihatnya, di pojok ruangan ada Stan yang tengah melayani pengunjung.

Harry menoleh ke arah Jaine, masih berusaha menghindari memandang meja counter. Memberi isyarat pada wanita itu untuk masuk dan memesan. Jaine tersenyum gugup, namun ia melangkah masuk dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi di sana.

Harry kembali mendesah lega. Kini waktunya kembali ke flatnya, bersiap-siap pergi ke Kementerian. Lewat jendela di luar, ia bisa melihat Jaine yang tengah berbincang dengan Stan. Entah apa yang mereka bicarakan. Tiba-tiba Harry merasa ngeri dengan kemungkinan Stan menolak Jaine. Ia langsung mempercepat langkahnya. Setidaknya ia harus berada di flatnya agar bisa aman dari serangan wanita itu.

"Kau pikir kau bisa menghindariku seperti itu?" tanya sebuah suara di belakangnya. Langkah Harry terhenti. Ia benar-benar lupa tentang kemungkinan seseorang akan mengejarnya.

Harry mendesah. Usaha alih pandangnya tadi benar-benar sia-sia, bukan?

Ia menoleh ke belakang, mendapati Draco yang tengah memandangnya dengan kedua tangan menyilang di dada.

"Oh, halo, Malfoy," sapanya kikuk.

Draco tidak menjawab.

"Aku mengantarkan Jaine ke kedai," kata Harry lagi.

Draco masih tidak menjawab.

"Bye," kata Harry sambil melambaikan tangannya kaku dan mulai kembali berjalan.

"Not so fast, Potter," kata Draco sambil meraih lengan Harry. Harry kembali terhenti. "Kurasa kau masih ingat dengan janji kita nanti malam?" tanya Draco. Harry meringis.

Ah, iya. Ia masih punya kewajiban yang harus ia tunaikan pada pewaris Malfoy itu. Ia mengangguk pasrah.

"Kujemput jam tujuh. Jangan lupa," kata Draco sambil melepas genggamannya pada lengan Harry lalu berbalik menuju kedainya.

Rasanya Harry ingin sekali mengacak-acak rambutnya.

.

.

.

"Kau menyadarinya juga, kan, 'Mione?"

"Tentu saja."

Harry merasa tengah berada di tempat ramai, ada bayangan berwarna-warni berkelebatan dalam gerak lambat di hadapannya, namun entah kenapa ia merasa seseorang telah melemahkan fungsi inderanya, hingga kini ia tidak bisa melihat maupun mendengar dengan jelas.

"Apa menurutmu ia akan baik-baik saja?" Harry mendengar seseorang di dekatnya berkata.

"Kuharap begitu," sahut seseorang yang lain.

"Harry! Harry!" Kini ia merasa seseorang memanggilnya. Ia ingin menoleh namun kepalanya terasa sulit sekali digerakkan. Lalu tiba-tiba pipinya terasa sakit, dan pada detik itu pula inderanya kembali berfungsi.

"Ouch!" rintihnya. Ia mengerjap, lalu mendapati dua sahabatnya tengah memandanginya prihatin. "Apa yang kalian lakukan?"

"Menyelamatkanmu dari alam bawah sadar," kata Ron. "Apa yang terjadi padamu, mate? Semenjak kau tiba di kantor kau tidak bicara sama sekali."

Oh, ya?

"Sesuatu terjadi, Harry?" tanya Hermione. Harry menggosok pipinya yang masih terasa sakit. Ia memandang sekeliling. Nampaknya ia sedang berada di sebuah kafe.

"Dimana kita?" tanyanya.

"Sudah kuduga," kata Hermione. "Kau bahkan tidak sadar bahwa kita berapparate kesini. Seriously, Harry, apa yang terjadi padamu? Kau sakit?"

Harry menggeleng. Ia juga tidak tahu kenapa ia sampai tidak sadar seperti itu. Yang ia tahu bahwa semenjak kejadian di depan kedai Draco, ia tidak bisa berhenti merasa panik.

"Aku hanya panik," ujarnya. Hermione mengangkat kedua alisnya.

"Panik karena?"

"Nanti malam aku ada janji dengan Malfoy," kata Harry tanpa sadar.

"Ia mengancammu, Harry?" tanya Ron. Pemuda berambut merah menyala itu langsung mencabut tongkat sihirnya. "Jangan khawatir, mate, aku akan menemanimu."

"Ron!" tegur Hermione. "Kalian janjian untuk apa, Harry?" tanyanya pada Harry.

"Aku tidak tahu, 'Mione. Karena itu aku panik. Dia bilang hanya untuk bicara. Tapi bagaimana kalau ia merencanakan sesuatu yang berbahaya?"

"Makanya, mate, aku akan menemanimu," kata Ron lagi. Harry berpaling dari Ron ke Hermione, berharap gadis itu mengerti bahwa bahaya-nya berbeda dengan bahaya versi Ron. Hermione hanya mendesah.

"Untuk sekali ini, Harry, aku tidak bisa berbuat banyak. Kau sendiri yang menyetujuinya, jadi mau tidak mau kau yang harus menghadapi," ujarnya. "Lagian, kalian sudah dewasa. Aku yakin Malfoy tidak akan melakukan hal-hal yang tidak pantas. Aku punya firasat baik soal ini. Jadi, tenang saja," tambah Hermione seraya tersenyum menenangkan.

Yang tidak berpengaruh sama sekali pada Harry.

Bahkan, kepanikannya semakin menguat saat akhirnya ia pulang ke flatnya sore itu. Menjejalkan diri di sofa ruang tengah, tanpa mau repot-repot menyalakan lampu. Ia melirik jam dinding, dan tercekat saat hanya tersisa dua jam sebelum Draco menjemputnya.

Harry berpikir keras, memaksa kepalanya untuk memikirkan jalan keluar dari situasi ini. Ia berpikir untuk kabur ke Grimmauld Place. Atau ke tempat Ron. Kemanapun. Namun semakin banyak ia berpikir tentang cara pelarian diri, ia semakin sadar bahwa harga dirinya melarangnya. Demi Merlin, ia seorang Gryffindor, dan Gryffindor tidak pernah melarikan diri.

Sambil menghembuskan nafasnya perlahan, ia memutuskan untuk memberanikan diri untuk menghadapi situasi yang akan menyapanya. Memang benar kata Hermione, tidak ada jalan lain selain menghadapinya.

Beranjak dari sofa, ia berjalan menuju kamar mandi. Kalaupun ia harus menghadapi situasi yang berbahaya, setidaknya ia ingin dalam keadaan segar.

.

.

.

Pukul tujuh malam Harry sudah kembali duduk si sofa. Terlonjak saat bel pintunya berdering, lalu memaksa kakinya melangkah menuju pintu.

"Kau sudah siap?" tanya Draco saat ia membuka pintu. Seperti biasa pemuda itu mengenakan setelah hitam. Dan Harry sudah nyaris bosan menggambarkan keterpukauannya.

Harry mengangguk.

Draco mengulurkan lengannya ke arah Harry. Harry memandanginya bingung.

"Aku bisa jalan sendiri," katanya.

"Kita berapparate. Pegang tanganku," kata Draco.

Harry ragu sejenak sambil memandangi wajah dan lengan Draco bergantian. Tidak biasanya mereka pergi dengan berapparate. Namun ia akhirnya mendekat dan menyentuh sedikit lengan itu.

"Tubuhmu akan terbelah jika kau memegangnya seperti itu," kata Draco, sebelum kemudian mendekat dan memeluk tubuh Harry. Harry seketika menegang. Pelukan Draco terlalu erat untuk ukuran apparation. "Begini lebih baik," bisik pemuda pirang itu. Harry masih bisa melihat pintu flatnya lewat celah di helai rambut Draco sebelum mereka menghilang.

.

.

.

Hal selanjutnya yang Harry lihat adalah laut. Ya, laut. Entah dimana mereka sekarang Harry sudah tidak tahu lagi. Dan ia tidak mau repot-repot mencari tahu.

Draco menuntunnya ke sebuah tempat di tepi laut. Dari tempatnya berdiri, Harry bisa melihat bahwa tempat itu adalah sebuah restoran yang dirancang sedemikian rupa hingga terlihat seperti saung-saung kecil tanpa dinding. Anehnya, kecuali satu saung yang terletak tepat di tengah, tempat dua orang pelayan berseragam putih berdiri tegap menyambut mereka, saung-saung yang lain dibiarkan kosong. Harry curiga bahwa Draco sengaja memesan khusus tempat ini untuk mereka berdua.

Mereka kemudian duduk di sana, tanpa kursi, hanya beralaskan karpet cokelat tebal. Angin laut menyibakkan tirai-tirai yang terpasang di sudut-sudut saung itu. Gelas-gelas cantik sudah tersusun di atas meja rendah. Di tengahnya, sebuah lilin menyala lembut. Dari apinya yang tidak terpengaruh angin, Harry langsung tahu bahwa lilin itu telah disihir. Tempat ini milik seorang penyihir.

"Kau suka tempatnya?" tanya Draco. Wajah Harry seketika memanas. Bukan karena ia terpukau dengan tempat itu, yang meski ia akui sangat indah, tapi lebih karena pertanyaan Draco yang terlalu intim bagi mereka berdua. Namun ia mengangguk.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Harry langsung. Meski udara malam itu dingin, Ia merasa akan meleleh jika terus berada di sini, hanya berdua dengan pewaris Malfoy itu.

"Kau ingin membahasnya sekarang?" tanya Draco. "Kau tak mau makan malam dulu?"

Harry mengangguk.

Draco meletakkan gelas yang sedari tadi diputarnya, menyuruh kedua pelayan itu meninggalkan mereka, lalu memandang Harry penuh-penuh.

"Baiklah," katanya. "Aku ingin kau tahu bahwa Clive tidak seperti yang kau bayangkan."

Kening Harry berkerut. "Maksudmu?"

Draco terlihat menimbang setiap kata-katanya. "Jika diibaratkan, ia adalah seekor serigala berbulu domba."

"Dia werewolf?" tanya Harry tak percaya. Draco sampai mengurut pelipisnya.

"Intinya, jangan terlalu dekat dengan Clive, oke? Dia itu… berbahaya. Apalagi untuk orang sepertimu," kata Draco.

"Orang sepertiku?"

"Ya. Orang sepertimu," kata Draco. "Kau terlalu lugu, Potter. Kau tidak akan tahu mana orang yang tulus dan mana yang tidak."

"Kurasa Clive laki-laki yang baik," kata Harry.

"Memang. Tapi kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukannya kepadamu," kata Draco.

"Dan kenapa kau harus peduli, Malfoy?"

"Aku peduli. Apa itu salah?" tanya Draco.

Harry tidak menjawab. Entah kenapa ia merasa seperti gadis remaja yang sedang dipojokkan.

"Kurasa sudah saatnya kita meluruskan beberapa hal," kata Draco. "Katakan padaku, Potter. Apa yang kaurasakan terhadapku?"

Draco menatapnya sedemikian rupa hingga Harry merasa jantungnya berhenti berdetak.

Apa yang ia katakan?

Draco masih menatapnya. Dan Harry hanya bisa memandang kedua iris abu-abunya tanpa bisa berkata-kata.

"Lupakan saja," kata Draco setelah mereka lama terdiam. Pemuda itu kemudian mengalihkan pandangannya pada ombak di tepi pantai.

Saat akhirnya makanan mereka datang, Harry nyaris menjatuhkan garpunya karena tangannya yang gemetar. Ia bahkan tidak bisa memutuskan apa rasa makanan itu.

.

.

.

"Kenapa kau sampai menyewa tempat ini, Malfoy?" tanya Harry. Mereka kini berjalan di tepi pantai, menikmati ombak-ombak kecil yang membelai kaki mereka yang telanjang. Sinar bulan yang jatuh di laut membuatnya berkilau seperti kumpulan bintang-bintang kecil. "Maksudku, jika kau ingin bicara denganku, kita bisa melakukannya di kedaimu, atau flatku."

"Kau tidak suka tempat ini?" tanya Draco. Harry menggeleng.

"Tempat ini indah sekali."

Draco menatap Harry sekilas, lalu kembali berjalan. Harry mengikutinya di belakang.

"Well, katakanlah ini arogansi seorang Malfoy," kata Draco. "Aku kenal Clive, dia adalah orang yang sangat flamboyan. Kupikir, dengan menyewa tempat ini setidaknya aku tidak kalah darinya."

Kedua alis Harry bertaut. "Dasar Malfoy."

"Dan aku tidak tahu apa saja yang telah diberikannya padamu," tambah Draco.

Memandang Draco dari belakang, dengan celana dan kemejanya yang digulung, dan rambut sebahunya yang melambai lembut tertiup angin, berjalan sendirian di tepi pantai, mengingatkan Harry pada sosok pangeran yang kesepian. Ada sebuah dorongan aneh di dadanya. Dorongan untuk berlari ke depan dan memeluk pemuda itu.

"Kau−Jangan bilang kau cemburu dengan Clive," kata Harry setengah bercanda. Langkah Draco tiba-tiba terhenti.

"Itulah yang berusaha kukatakan dari tadi," ujar Draco pelan. Angin malam saat itu bertiup kencang, dan debur ombak membising suasana. Namun Harry masih bisa mendengarnya.

Jantungnya berdegup kencang saat pewaris Malfoy itu berbalik dan berjalan ke arahnya.

"Itulah yang berusaha kukatakan dari tadi, Potter," kata Draco.

Ia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Harry, lalu menautkan jari-jari mereka. Harry hanya terpaku menatap tangannya yang kini digenggam erat pemuda itu.

"Kau paham sekarang?" tanya Draco lembut, terlalu lembut hingga terasa seperti mimpi.

Mereka lalu berjalan beriringan di sepanjang pantai, tangan bertautan. Harry tidak mengerti mengapa dirinya sama sekali tidak memprotes. Mungkin karena bulan. Mungkin karena debur ombak yang membelai lembut kakinya. Mungkin karena Draco sendiri. Entahlah. Dan ia sudah menyerah bertanya mengapa jantungnya selalu bereaksi tidak wajar tiap kali pemuda itu ada di dekatnya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Malfoy," kata Harry, tiba-tiba teringat sesuatu yang seharian mengusik pikirannya. "Kenapa kemarin bajuku sampai terlepas?"

"Kau mau tahu?" tanya Draco. Harry mengangguk.

"Kau yakin?"

Harry ragu sejenak, namun mengangguk lagi. Draco menatap Harry dengan ekspresi ganjil.

"Oke. Kau sendiri yang meminta," kata Draco sambil berjalan ke depan Harry. Harry yang belum siap akan perubahan posisi ini hanya mundur ke belakang. Namun hanya butuh sedetik bagi Draco untuk memerangkap wajah Harry dengan tangannya.

Waktu terasa berhenti saat mata mereka bertemu.

"Awalnya seperti ini."

Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Harry. Menatapnya sejenak, menenggelamkan diri dalam lautan hijau di sana. Lalu, perlahan ia mempertemukan bibir mereka dalam sebuah kecupan singkat. Harry yang shock hanya bisa mematung.

Draco kembali memeluknya, lalu segala pemandangan laut berubah menjadi gedung flatnya sendiri.

Draco mendorongnya hingga ia bersandar pada pintu flatnya. Ia tidak bisa berkata-kata saat pewaris Malfoy itu menatapnya.

"Lalu berlanjut menjadi ini."

Draco kembali memerangkap bibir Harry. Kali ini bukan sekedar kecupan, namun sebuah ciuman yang dalam. Otak Harry serasa membeku, namun instingnya dengan cepat mengambil alih. Ia pun segera membalas ciuman itu. Tangannya yang semula terbujur kaku merayap ke belakang tubuh Draco dan berhenti saat ia mencapai leher dan kepala pemuda itu. Menekan, meremas rambutnya yang sehalus sutra.

Draco mengakhiri ciuman mereka dan sedikit menjauhkan wajahnya untuk menatap Harry yang terengah.

"Lalu ini."

Ia kembali memerangkap Harry dalam sebuah ciuman panjang dan menuntut. Harry sampai kewalahan menghadapi pemuda itu. Ia mengerang saat lidah hangat Draco membelai bibirnya, meminta akses lebih dalam. Dengan senang hati Harry membuka mulutnya, mengijinkan lidah itu menginvasi mulutnya. Mengabsen satu demi satu giginya. Kakinya serasa berubah menjadi jelly. Namun sepertinya Draco tahu, karena pemuda itu langsung mengeratkan pelukannya.

Dan ia tidak bisa menahan desahannya saat setiap inci tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Draco.

Harry khawatir ada seseorang yang akan melihat mereka. Jadi dengan sisa tenaganya, ia membuka pintu flatnya dan menjejalkan diri ke dalam. Selama itu, ciuman mereka tidak sekalipun terlepas.

Draco kemudian menuntunnya menuju ruang tengah, lalu membaringkannya di sofa. Setiap gesekan dan cumbuan Draco saat mereka bertindihan membuat Harry gila. Ia tidak pernah menyangka bahwa berciuman dengan seseorang akan bisa sebegini hebat. Draco mengalihkan cumbuannya ke leher Harry, tepat saat ia merasa tidak mampu lagi bernafas. Setiap inci kulit yang disentuh pemuda itu serasa terbakar. Ia mengerang.

Draco menghentikan kegiatannya untuk menatap Harry. Kedua iris abu-abunya terlihat gelap.

"Lalu ini."

Ia meletakkan tangannya di bawah baju Harry, membelai dadanya perlahan. Harry mengerang tanpa bisa ditahan. Draco kemudian menarik baju Harry ke atas melalui kepalanya. Harry membantunya dengan mengangkat tubuhnya. Sedetik kemudian ia sudah telanjang dada.

Draco menatapnya dengan begitu lembut hingga Harry rasanya ingin menangis.

Pemuda itu kemudian memeluk tubuh Harry, menciumi kepalanya. Rambutnya. Telinganya. Tulang pipinya. Lalu kembali pada bibirnya yang setengah terbuka. Harry membalas ciuman itu dengan segenap perasaannya, bertanya-tanya apakah ini saatnya ia menyerahkan dirinya pada seseorang. Ia kembali menempatkan tangannya pada tubuh pemuda itu, menariknya mendekat.

Mungkin inilah saatnya.

Ia memejamkan matanya erat-erat saat pewaris Malfoy itu menggigit satu bagian di lehernya, menyisakan bekas di sana.

Lalu tiba-tiba semuanya berhenti.

Harry membuka mata lalu mendapati Draco tengah memandangnya tanpa berkedip. Pemuda itu masih berada di atasnya, kedua tangannya masih bertumpu di sisi-sisi wajah Harry.

Apa yang salah? Kenapa berhenti? Ingin sekali ia menanyakan itu pada pemuda di depannya, namun bibirnya seperti terkunci. Ia hanya bisa menatap kedua iris abu-abu itu.

"Kurasa sekarang kau tahu kenapa bajumu sampai terlepas," katanya. Kedua mata Harry melebar dan wajahnya langsung terasa panas.

Oh, Merlin.

Harry berusaha memalingkan wajahnya ke sisi lain namun tangan Draco langsung mencegahnya. Pemuda itu kembali mendekatkan wajahnya ke arah Harry dan Harry mengira mereka akan kembali berciuman. Namun ternyata Draco mendekati telinganya lalu membisikinya sesuatu. Wajah Harry tidak mungkin bisa lebih merah saat ia mendengar bisikan itu.

Draco kembali menatap Harry. Sebuah senyum menghiasi wajahnya yang merona.

"Good night, Harry," bisiknya. Ia kemudian mencium kening Harry. Lembut dan lama.

-End of Chapter 14-


a/n. Ma−Maaf telat banget updatenya X(

Selesai cuti lebaran saya beneran digempur dg banyak banget kerjaan, sampe2 nglembur dan baru bisa ngebut nglanjutin fic kemarin.

Makasih banyaaaak bgt yang udah review chapter kemaren. Apdian Laruku, keylacortez, Ai HinataLawliet, Arisu Amano, Aihsire Atha, arteralysander, Nay Hatake, Bake-Hime, , icha22madhen, Pu-cHan, Akane Fukuyama, shirayuki nee, crossalf, Micon, sabishii no kitsune, I love you, guys. Really.

Oiya, kemungkinan besar Hello! Akan tamat di chap 17. Maka dari itu, mumpung masih chap 14, tolong kasih saya kritik dan saran ya. Xie Xie… :)