Hello!

By : 7 Days of Summer

Disclaimer : Harry Potter © JK Rowling


Esok harinya saat Harry terbangun, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Draco.

Akan sangat menyenangkan jika melihatnya terlelap, di sampingnya, defenseless, dan Harry akan leluasa memandangi wajah pemuda itu yang merupakan sebuah maha karya. Menikmati hembusan pelan nafasnya yang teratur, mengirimkan impuls-impuls kenyamanan di setiap belaiannya. Namun kedua mata di depannya itu terbuka, dan Harry curiga bahwa keduanya sudah tertuju padanya sejak sebelum ia terbangun. Dan Merlin, ia baru sadar betapa dekat jarak wajah mereka.

"Pagi," kata Draco. Harry merasa sangat bodoh karena tidak bisa menemukan suaranya untuk menjawab. "Mau secangkir kopi?" tanya pemuda itu, dan Harry mengangguk. Jika suaranya tidak mau keluar, maka setidaknya kepalanya harus bisa bergerak.

Draco mengangkat tubuhnya dari sisi Harry, dan detik itu Harry baru sadar bahwa mereka berada di atas sofa. Apakah mereka tertidur di situ semalaman?

Harry memeriksa kondisi tubuhnya, dan merona seketika saat sadar bajunya sekali lagi telah terlepas dari tubuhnya.

"Tidak ada yang terjadi, tenang saja," sahut Draco dari dapur.

"Aku hanya memeriksa tongkatku," sahut Harry balik.

"Yang kau maksud tongkat yang ada di atas meja itu, kan?" tanya Draco. Lewat celah di dinding pemisah, Harry bisa melihat pemuda itu menyeringai. Wajah Harry terasa semakin panas. Sambil cemberut ia mengambil tongkatnya yang entah bagaimana telah tergeletak di atas meja.

"Tadi malam kau tidur di sini?" tanya Harry. Ia melambaikan tongkatnya ke arah jendela, membuat tirainya tersibak dan membiarkan cahaya matahari pagi masuk menerangi ruangan itu.

"Kau menggunakan tanganku sebagai bantal. Aku tidak bisa bergerak," jawab Draco. Pemuda itu kemudian menghampiri Harry dan menyodorinya secangkir kopi. Harry menerimanya dengan senang hati.

"Kau kan bisa membangunkanku," kata Harry. Draco tidak menjawab. Pemuda itu hanya duduk di sampingnya dan mulai menyesap kopinya.

"Mark bohong," kata Draco. Kening Harry berkerut. "Katanya kau ngiler saat tidur," imbuh Draco. Kedua mata Harry membelalak saat mendengarnya.

"Kau memandangiku saat aku tidur?" tanya Harry tidak percaya.

"Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku susah tidur, lenganku terasa sakit," kata Draco sambil pura-pura memegangi lengannya. "Lagi pula terima kasih atas rasa sakit itu aku tidak sempat bertindak macam-macam," lanjutnya sebelum kembali menyesap kopinya.

Harry mengalihkan pandangannya ke arah jendela, melihat awan-awan tipis yang tergantung tinggi di langit London. Entah semerah apa wajahnya sekarang. Rasanya ia ingin bersembunyi, meski ia sadar bahwa setiap inci tubuhnya menolak untuk beranjak dari sana.

"Kau tidak ke kedai?" tanya Harry. Sebenarnya hanya itu pertanyaan yang bisa ia pikirkan untuk mengalihkan pembicaraan. Ia benar-benar merasa hampir meleleh. Kopi Draco terlalu panas.

"Kau mengusirku?" tanya Draco.

"Tidak," jawab Harry, sedikit terlalu cepat. Ia berpikir keras sementara pemuda di sampingnya itu memandanginya dengan alis terangkat. "Kupikir anak buahmu akan kebingungan jika kau tidak ada di sana," imbuh Harry. Draco terlihat berpikir.

"Sebetulnya sudah kusuruh Stan untuk mengaturnya, tapi ya, kupikir ada baiknya juga aku ke sana. Kau juga harus ke Kementerian, bukan?" tanya Draco. Harry mengangguk.

"Baiklah," kata Draco seraya bangkit dari sofa. "Kurasa sebaiknya aku kembali ke flatku," katanya. Ia kemudian melangkah menuju pintu depan, Harry menyusul di belakangnya.

"Kau sibuk hari ini?" tanya Draco saat ia sampai di depan pintu masuk. Harry menggeleng. "Mampirlah ke kedai. Kutraktir kau kopi," kata Draco.

Harry benar-benar merasa bodoh karena sekali lagi ia tidak bisa menemukan suaranya dan hanya bisa menggunakan kepalanya untuk mengangguk. Dan merasa idiot saat ia hanya bisa terpana melihat Draco tersenyum di hadapannya.

"Merlin, kau menggemaskan sekali kalau salah tingkah seperti itu," ucapnya lirih. Harry tidak sempat menjawab karena tiba-tiba saja Draco menciumnya. Diulangi, menciumnya!

Segala prinsip mengenai intensitas berciuman, dan fakta bahwa mereka berdua telah melanggarnya, DAN kenyataan bahwa mereka bahkan belum resmi bersama, terlupakan sepenuhnya. Harry hanya bisa mematung, terlalu terkejut untuk bereaksi. Kupu-kupu yang sedari tadi beterbangan di perutnya kini seakan semakin liar dan berkali lipat. Lututnya seakan terlepas dari kakinya.

"Sampai nanti," bisik Draco saat ciuman mereka berakhir. Ia mengusap sisi wajah Harry sejenak, lalu berjalan ke flatnya. Harry hanya bisa mematung hingga ia tidak tahu apa Draco kembali memandangnya sebelum masuk ke flatnya. Yang ia tahu, saat ia akhirnya bisa menguasai diri, kaki, juga tangannya yang menempel di bibir terasa kesemutan. Saat ia bermaksud untuk masuk, sesuatu di sebelah kanannya mengalihkan perhatiannya.

Ada Nick, setengah menjulurkan kepalanya keluar, dan dengan cengiran terlebarnya, tengah memandanginya jahil.

"Aku tidak melihat apapun. Sungguh," katanya.

.

.

.

Sebuah pagi cerah yang lain yang Draco dapatkan saat ia berjalan menuju kedainya. Sinar mentari yang hangat langsung menyapa wajahnya saat ia berjalan di trotoar, tanpa terhalang bangunan-bangunan tinggi di blok sebelah. Seorang pria langganan kedainya yang bernama Samuel menyapanya dari seberang jalan saat ia hendak masuk ke kedai. Draco melambaikan tangannya sebentar, lalu masuk ke kedai diiringi suara denting yang familiar.

"Pagi," sapanya. Beberapa anak buahnya yang sedang sibuk mengelapi meja dan jendela serempak menoleh. Ada sesuatu yang aneh pada ekspresi mereka, namun tidak ada seorangpun yang berbicara. Hanya Robert di pojokan yang menyapanya balik sambil tersenyum sumringah.

Draco hanya mengangkat bahu, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangannya sendiri, melewati spot favoritnya di belakang meja counter. Perasaannya sedang baik pagi ini, dan ia tidak perlu repot-repot menanyakan penyebabnya.

Saat itu baru pukul setengah delapan, dan ia sudah mulai menenggelamkan dirinya di antara tumpukan kertas.

Draco tidak tahu berapa lama waktu yang telah ia lewati di ruangannya saat ia akhirnya menginginkan secangkir cappuccino. Ia meletakkan penanya di atas meja, lalu bangkit dan menuju meja counter, dimana Stan tengah sibuk mengelapi gelas-gelas.

"Buatkan aku cappuccino, Robert," kata Draco pada Robert. Anak magang itu terlihat bersemangat menyambut perintahnya. Draco kemudian berjalan ke belakang meja, lalu duduk di sana. Koran pagi tergeletak di samping wadah gelas yang penuh.

"Well, hari yang cerah, ya?" kata Stan. "Terlau cerah hingga rasanya silau."

"Apa maumu, Stan?" tanya Draco. Pandangannya masih menelusuri kata demi kata di koran yang tengah dibacanya.

"Nope, lupakan saja," kata Stan. Draco tidak ambil pusing dengan tingkah anak buahnya satu itu. Ia masih melanjutkan membaca tentang penyerangan warga di kompleks perumahan di Irlandia, saat kemudian Robert menyuguhinya secangkir cappuccino.

"Thank's," kata Draco. Ia lalu menyesap kopinya.

"Cappuccino?" tanya Stan. "Bukannya kopi hitam?"

Draco mengacuhkannya.

"Sudah lama ya, Harry tidak ke sini," kata Stan lagi. Draco langsung menghentikan kegiatan membacanya.

"Dia akan mampir sore ini," katanya.

"Ouch…" goda Stan. Draco langsung memalingkan wajahnya yang terasa panas.

.

.

.

Waktu pagi menuju siang di Kementerian terasa seperti laju Hogwarts Express dalam kecepatan tertingginya. Harry nyaris tidak yakin bahwa ia melewati waktunya seperti yang ia bayangkan. Seingatnya ia baru saja duduk di balik meja kerjanya pukul delapan pagi saat kedua sahabatnya mendatanginya. Gaya mereka berlari benar-benar mengingatkan Harry saat mereka tengah dikejar para Snatchers.

Belum sempat ia bertanya apa gerangan yang membuat sahabatnya berlari seperti itu, keduanya sudah menyerbunya dengan banyak pertanyaan. Hermione bahkan sampai menggebrak meja, membuat seluruh teman satu ruangan Harry menoleh kaget ke arah mereka.

"Jadi, bagaimana semalam?" tanya Hermione. Harry langsung paham bahwa apa yang dimaksud Hermione adalah janjinya dengan Draco.

"Well, kami−"

"Kau oke, mate? Malfoy tidak mencelakakanmu, kan?" potong Ron.

"Itu−"

"Kalian saling bicara, kan?" potong Hermione. Harry paham kalau itu Ron, tapi sejak kapan Hermione jadi suka memotong pembicaraan orang?

"Yah−"

"Sepertinya bagian tubuhmu utuh. Bagus," potong Ron lagi.

"Bisakah aku bicara dulu?" tanya Harry sebal. Kedua sahabatnya terlihat terengah. Namun mereka kemudian mundur dan Hermione menyihir dua kursi untuk diduduki. Sambil menyilangkan tangan di dada, yang dilakukan scara identik oleh keduanya−Harry bertanya-tanya apakah orang yang akan menikah memang punya kebiasaan melakukan hal yang identik−mereka kemudian menunggu Harry untuk bicara.

Akhirnya, pikir Harry. Ia berdehem untuk meredakan tenggorokannya yang terasa kering. "Jadi, sebenarnya−"

"Harry, apa benar kau berkencan dengan Malfoy?" potong seseorang dari arah pintu.

Hening.

Harry yakin bahwa tidak ada diantara mereka yang bergerak. Ia sendiri seperti kena mantra petrificus. Namun mungkin karena mengalami urgensi yang sama, detik berikutnya mereka bertiga serentak menoleh ke arah pintu, tempat Mark menjulurkan kepalanya dan memasang wajah ingin tahu. Harry langsung merasakan firasat buruk. Susah payah ia mengirimkan sinyal ke Mark untuk menarik kembali pertanyaannya lewat kerutan kening, kedipan mata, gelengan kepala−

Ron langsung bangkit dan menyeret Mark masuk lalu mendudukkannya di kursi.

"Nick bilang dia melihatmu berciuman dengan Malfoy pagi ini," kata Mark dengan wajah pucat.

Sial.

Hal selanjutnya yang Harry ingat, adalah dirinya yang dipaksa berdiri oleh Ron dan Hermione. Diseret sepanjang koridor Kementerian, melewati beberapa pegawai yang heran melihat mereka, lalu masuk ke dalam perapian. Ia masih bisa melihat Mark yang melongo saat api hijau menelan tubuhnya.

.

.

.

Klang.

Draco menoleh cepat saat pintu kedainya terbuka, lalu mendesah kecewa saat seorang wanita setengah baya masuk menenteng tas kulit berwarna hitam. Sebenarnya ritual menoleh cepat itu sudah ia lakukan selepas makan siang. Apa pun yang sedang ia lakukan, ia langsung memeriksa pintu masuk setiap kali belnya berdentang. Pernah suatu kali ia tengah berada di dapur untuk mencicipi resep kopi baru, dan ia meninggalkan begitu saja kopi yang tengah dipanasi hingga mendidih dan berbuih hanya untuk mengecek pintu masuk dan memandanginya.

Kini sudah nyaris senja, dan apa yang ditunggunya belum juga datang.

Ia mendesah. Belum pernah ia menjadi begitu tidak tenang karena sebuah janji temu.

"Kau tak perlu berusaha keras seperti itu, Bos." Lagi-lagi anak buahnya yang berkulit cokelat matang itu menginterupsi saat-saat galaunya. "Aku percaya dengan ucapanmu, kok."

Draco menoleh dengan wajah suram. Stan memandanginya prihatin.

"Bahwa Harry akan datang kesini. Tenang saja," tambah Stan.

Draco sedang tidak punya minat untuk meladeni ledekan terselubung Stan, sehingga ia hanya berjalan ke belakang meja counter dan duduk di sana, memainkan sendok dan gelas-gelas yang tertata rapi. Ia sadar bahwa pandangan Stan masih mengikutinya, dan ia yakin bahwa anak buahnya itu menyeringai, namun ia tidak peduli.

Baru saja ia hendak berjalan menuju ke ruangannya, pintu kedai kembali berdentang. Draco menoleh dengan sisa harapannya–ia bahkan tidak membalikkan badannya–lalu waktu terasa berhenti.

Pemandangan Harry Potter berjalan masuk ke kedainya, jaket terlampir di satu tangan, kemeja putih yang digulung sampai siku, langkah yang tegap, serta rambutnya yang berantakan namun berkilau lembut ditimpa cahaya matahari sore seakan memudarkan warna-warna di sekelilingnya. Membuat Draco harus mengingatkan diri untuk bernafas.

"Akhirnya," bisik Stan di telinga Draco.

Draco mengacuhkannya, karena tepat saat itu Harry tersenyum. Sebuah senyum malu-malu yang lain yang selalu muncul saat pemuda itu sedang salah tingkah. Ia ingin bertanya apa yang membuatnya salah tingkah, namun rasanya itu tidak penting sekarang. Ia ada di sini, dan itu cukup baginya.

Draco melangkah ke depan, setengah sadar setengah tidak. Tangannya perlahan terulur, mencoba meraih pemuda itu. Lalu, seperti dugaannya, ulurannya bersambut.

Oleh tangan lain yang lebih mungil.

"Selamat sore, Malfoy. Baik sekali kau mau menyambut kami."

Ya, Draco sudah tahu. Pertemuannya dengan Harry tidak mungkin akan semulus ini. Pasti ada sesuatu yang mengganggu. Dan, untuk saat ini, gangguan itu adalah kedua side-kicks nya.

"Granger," kata Malfoy. "Cepat sekali gerakanmu."

.

.

.

"Kudengar kalian akan segera menikah," kata Draco. Mereka kini duduk di pojokan ruangan, menikmati kopi di cangkir masing-masing. Hermione langsung terlihat sumringah, begitu pula Ron. Namun pemuda berambut merah menyala itu seakan menyadari bahwa tidak seharusnya ia menunjukkan kebahagiaannya di depan Draco, sehingga ia langsung kembali memasang wajah cemberut.

"Selamat," imbuh Draco.

"Akan menyenangkan jika kau bisa hadir, Malfoy," kata Hermione. Ron langsung melotot ke arah Hermione, namun ekspresi pemuda itu langsung berubah aneh dan ia langsung membungkuk seolah ingin mengambil sesuatu di bawah. Harry curiga ada sesuatu yang terjadi dengan kakinya.

"Kau yakin?" tanya Draco. Hermione mengangguk.

"Selama kau tidak membawa orang lain selain Harry," kata gadis itu. Harry nyaris tersedak saat mendengarnya.

"Deal," kata Draco. Hermione tersenyum, sedangkan wajah Ron bertambah merah. Harry sendiri sudah tidak tahu lagi bagaimana rupa wajahnya.

"Ngomong-ngomong, mari kita luruskan topiknya. Malfoy, apa benar kau sekarang berkencan dengan Harry?" tanya Hermione langsung. Tubuh Harry langsung menegang saat mendengar pertanyaan itu. Meski banyak hal yang terjadi semalam, mereka berdua belum benar-benar sepakat tentang apa yang terjadi. Diam-diam Harry melirik ke arah Draco, namun langsung kembali memandangi cangkirnya saat ia tahu bahwa pewaris Malfoy itu juga tengah menatapnya.

"Ya," kata Draco. Hati Harry mencelos.

Ya?

"Sejak kapan?" tanya Hermione serius. Harry tidak tega melihat Ron yang terlihat seperti tercekik sesuatu, namun ia sendiri juga sedang susah payah bertahan dengan tenaganya yang seakan menguap. Ia kembali melirik ke arah Draco, dan mendapati pemuda itu tengah berpikir keras.

Apakah ia sedang berbohong?

"Perlukah kau tahu sampai sedetail itu?" tanya Draco balik. Hermione mengerutkan keningnya namun tidak menimpali. Gadis itu terlihat berpikir. Harry tidak suka melihat Hermione berpikir. Pasti akan ada pertanyaan atau desakan lain yang akan mengacaukan hidupnya.

Harry menunggu. Namun setelah satu menit berlalu, Hermione hanya berkata santai, "Baiklah. Akhirnya masalah selesai juga."

Harry mendesah lega. Setidaknya kebohongan Draco tidak terbongkar. Tidak saat ini.

"Aku sudah tidak tahan melihat Harry yang makin kacau karenamu," kata Hermione lagi. Draco tersenyum tipis.

"Pujian untukmu juga kurasa?" kata Malfoy. Hermione ikut tersenyum. Melihat keduanya bertatapan membuat Harry mau tidak mau berpikir bahwa ada lebih dari sekedar perbincangan ringan di sana.

"Ngomong-ngomong, aku belum sempat mengucapkannya, tapi kedaimu bagus, Malfoy," kata Hermione.

"Thank's," kata Draco.

Sisa sore itu mereka habiskan di sana, di pojok kedai Draco, menikmati senja yang menembus dinding kaca di samping tempat duduk mereka. Semuanya berjalan tenang. Bahkan Ron sudah bisa meminum kopinya, meski tanpa berucap sepatah katapun.

Harry tidak pernah menyangka bahwa drama hubungannya dengan Draco bisa berakhir hanya dengan beberapa kata dari pemuda itu. Dan ia tidak mengerti bagaimana Hermione dengan begitu mudahnya menerima fakta–kening Harry berkerut saat memikirkan kata ini–bahwa dirinya dan Draco berhubungan. Well, mungkin karena begitulah dirinya. Cerdas dan pengertian. Dan Ron, Harry sudah sangat bersyukur bahwa pemuda itu tidak mengutuk Draco di tempat. Setidaknya untuk saat itu.

.

.

.

"Kurasa aku sudah bersikap tidak sopan di kedai tadi," kata Draco.

Mereka kini sudah kembali ke flat. Harry bersandar di depan pintu masuknya, sementara Draco berdiri di depannya. Perut Harry bergejolak saat ia menyadari betapa dekat jarak mereka. "Seharusnya aku menanyaimu lebih dulu."

Draco menggigit bibirnya. Bibirnya yang lembut dan merah merekah, membuat Harry susah payah menelan ludahnya.

"Jadi, kita sepakat?" tanya Draco. Harry terpaksa mengalihkan pandangannya dari bibir Draco untuk menatap mata pemuda itu.

"Hah?" hanya itu yang bisa ia katakan. Draco menatapnya dengan ekspresi aneh.

"Tentang hubungan kita," katanya.

Ah, iya, akhirnya mereka sampai juga pada bahasan ini. Harry tidak tahu lagi harus berkata apa, karena baginya semuanya sudah jelas. Sejelas jantungnya yang selalu berdegup kencang untuk pemuda itu. Sejelas kupu-kupu yang menguasai perutnya tiap kali mereka bersentuhan. Sejelas dirinya yang seperti meleleh tiap kali pemuda itu tersenyum.

Harry mengangguk.

"Bagus kalau begitu. Kurasa kau tidak punya alasan lagi untuk pergi berdua dengan Clive," kata Draco. Harry memandangnya heran.

"Kau masih mengungkit hal itu?" tanyanya.

"Tentu saja. Playboy itu tidak akan bisa lagi menyentuh milikku," kata Draco sambil berkacak pinggang. Harry nyaris tertawa melihat tingkah pemuda itu.

"Pertama, aku bukan milikmu. Kedua, dia sama sekali tidak menyentuhku," kata Harry.

"Sama sekali?" tanya Draco.

Harry mengangguk mantap, lalu tersenyum. Sebenarnya ia merasa seperti seorang idiot karena terus menerus tersenyum.

"Baguslah," kata Draco, wajahnya tampak puas. "Sekarang masuklah. Sudah malam," lanjut pemuda itu.

Ketika banyak orang berkata bahwa terlalu banyak menonton televisi berdampak buruk bagi anak-anak karena merusak pola pikir mereka, seperti itu pula yang dirasakan Harry. Ia sudah bukan lagi anak kecil, dan ia tidak pernah menonton televisi selama sepuluh tahun terakhir, namun ia nyaris saja berkata 'Kau tidak mau menemaniku?' pada Draco. Benar kata Ron. Dunia memang sudah gila.

"Kau yakin?" tanya Draco, yang sukses membuyarkan lamunannya. Harry memandangnya tidak mengerti. "Kau yakin kau mau kutemani?" tanya pemuda itu lagi, dan Harry rasanya ingin mati saja. Apakah ia mengutarakan pikirannya keras-keras?

"Oh, itu–Tidak, maksudku–"

"Sebesar apapun keinginanku untuk melakukannya, Potter, kurasa itu ide buruk," kata Draco. "Aku tidak bisa menjamin aku tidak akan berbuat macam-macam," lanjutnya. Harry sukses merah padam. Ia hanya bisa memandangi sepatunya saat Draco dengan santainya memainkan rambutnya yang berantakan.

Saat akhirnya Harry memberanikan diri untuk menatap pemuda itu, ia hanya bisa terpaku melihat wajahnya yang pucat juga merona. Bedanya, Draco tidak sekalipun mengalihkan pandangannya. Ia terus menatap Harry. Seulas senyum langka menghiasi wajahnya yang rupawan. Dan Merlin, rasanya Harry ingin sekali keluar, melihat bintang di langit dan membandingkanya dengan kerlip di kedua iris abu-abunya.

"Terima kasih untuk hari ini," kata Draco. Pemuda itu kemudian mendekat dan membawa Harry ke dalam pelukannya. "Aku senang sekali. Terlalu senang hingga rasanya ini tidak nyata," lanjutnya lirih.

Harry tersenyum di sela-sela pelukannya. Ia tidak peduli apakah Draco akan merasakannya, namun ia mengangguk.

"Aku juga," gumamnya pelan.

Perlahan, Draco melepaskan pelukannya. Sedikit menjauhkan tubuhnya hingga Harry bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas. Ada suatu perasaan aneh yang menyusup ke dalam dadanya saat ia kembali bertatapan dengan kedua iris abu-abu itu. Sesuatu yang asing, namun hangat.

Dan Harry hanya memejamkan mata saat kemudian wajah Draco mendekat.


a/n. Okay... this isn't the end everyone. There will be one or two chapters ahead.

Setiap kali saya nulis Hello!, saya pasti ndengerin musik. Musik adalah inspirasi terbesar saya dalam menulis fic ini. Kebanyakan adalah lagu yang easy listening, kadang lagu-lagu instrumental klasik. Mereka semua berperan besar dalam pembuatan setiap scene di fic ini. Dan khusus untuk chapter ini, lagu inspirasi saya adalah : Cherry Belle - Dilema. Believe it or not :)

So, ada yang berkenan untuk meninggalkan review?