Harry bukanlah pemuda yang dibesarkan dengan cerita-cerita manis, atau dongeng tentang akhir yang bahagia. Selama sebelas tahun hidupnya ia habiskan dengan mendekam di lemari di bawah tangga, tenggelam dalam lautan pikirannya yang sedih. Ia asing dengan segala hal tentang persahabatan. Dengan segala sesuatu tentang saling berbagi. Jadi saat akhirnya ia memiliki sahabat, ia berusaha sekuat tenaga untuk menjadi seseorang yang layak mereka dapatkan.

Seperti saat ini, saat ia mengamati dua sahabatnya memandanginya sambil tersenyum, perasaan hangat yang familiar diam-diam menyelubungi dadanya.

"Merlin, Harry, kau menangis?" tanya Ron terkejut.

Eh?


Hello!

By : 7 Days of Summer

Disclaimer : Harry Potter © JK Rowling


Sorry, adalah satu-satunya kata yang bisa ia ucapkan. Entah kenapa ia tidak menyadari bahwa pandangannya mengabur.

"Kau oke, Harry?" tanya Hermione cemas. Harry hanya mengangguk sambil berusaha menyeka matanya yang basah.

"Kau melankolis sekali, mate. Seperti Ginny saat ia baru putus dari Dean," ujar Ron, hanya sedetik sebelum ia tiba-tiba mengaduh pelan. Harry yakin ada yang menghantam perutnya. Atau kakinya.

"Kau benar-benar harus menghentikan kebiasaan itu, 'Mione," keluh Ron.

"Biasakanlah, Ron. Kau akan sering mengalaminya nanti," ujar Hermione yang disambut tawa oleh seseorang di belakang Harry. Mereka bertiga serentak menoleh ke arah pintu masuk, lalu mendapati Stan yang tengah menutupi wajahnya dengan nampan.

"Hari yang cerah ya," ujar pria itu sambil nyengir, lalu kembali ke dapur.

"Apa dia selalu seperti itu?" bisik Ron ngeri.

.

.

.

Ada banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai kemewahan. Tempat tinggal menawan. Kekayaan. Ketenaran. Namun hakikat dari kemewahan itu adalah tersedianya pilihan-pilihan yang bisa kita ambil sesuai keinginan. Meskipun secara teknis Harry tidak bisa menggunakan pilihan-pilihannya, namun ia juga tidak bisa menolak bahwa dirinya termanjakan. Bangun pagi disambut wangi kopi di samping tempat tidurnya. Selalu ada senyum yang menyambutnya. Kadang bisikan. Kadang ciuman. Ah, lagi-lagi wajahnya terasa panas saat ia mengingat segala perhatian dari Draco. Siapa sangka pemuda dingin itu bisa menjadi begitu… romantis.

"Morning," sapa pemuda itu di suatu pagi saat Harry baru saja membuka matanya. Seriously, pemuda pirang itu benar-benar harus menghentikan kebiasaannya memandangi Harry dengan senyumnya yang langka, atau Harry akan benar-benar meleleh.

"Morning," balas Harry. Ia berusaha melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang yang baru bangun tidur: mengucek mata, menggaruk kepala, mengurut pelipis, membuat orang lain di kamarnya yakin bahwa ia belum sepenuhnya sadar. Meskipun sebenarnya ia sudah kesadaran penuh saat mendengar suara Draco.

"Pelipismu ada si dini, Potter," kata Draco sambil menggeser jemari Harry yang tengah menempel di pipinya ke daerah sekitar mata.

Great, keluh Harry. Ia bahkan tidak bisa mengurut pelipisnya dengan benar. Dan apa-apan dengan sentuhan itu? Kenapa rasanya seperti ada aliran listrik?

"Oke," jawab Harry gugup, sementara Draco hanya menaikkan alis matanya. Harry yakin sekali bahwa pemuda itu tengah menertawakannya diam-diam. Ia ingin memastikannya dengan menatap pemuda itu, namun terlalu takut akan semakin salah tingkah jika pandangan mereka bertemu.

"Sudah tiga bulan lebih dan kau masih bertingkah seperti ini," kata Draco. Pemuda itu menopangkan kepalanya dengan tangan untuk melihat Harry dengan lebih jelas, sementara pemuda yang ditatapnya semakin mengerut di bawah selimut.

"Shut up," gerutu Harry. Entah kenapa ia tidak bisa berkutik jika Draco sudah mulai bersikap seperti itu. Memandanginya seakan ia tidak bisa melihat yang lain.

"Ayo bangun, atau kau akan telat ke Kementerian."

.

.

.

Cuaca pagi itu secerah yang bisa Harry harapkan. Langit di angkasa seolah menjadi kanvas biru besar dengan titik-titik putih kecil bergerak pelan. Jalanan penuh dengan orang berhilir mudik ke arah yang berlawanan. Beberapa bulan yang lalu, Harry menganggap segala pemandangan ini biasa saja, situasi klasik yang setiap hari orang-orang alami. Namun mungkin karena birunya langit, atau angin yang bertiup pelan membelai wajahnya, pagi ini terasa menakjubkan.

Atau mungkin karena sebuah alasan sederhana: ia tidak melaluinya sendirian. Sesederhana genggaman hangat di tangan kanannya.

"Mau mampir minum kopi?" tanya Draco saat mereka sampai di depan kedai. Harry melirik jam tangannya sejenak lalu mengangguk. Diam-diam ia bertanya dalam hati kapan Draco akan melepaskan genggamannya. Pertanyaannya langsung terjawab saat mereka melangkah masuk diiringi dentang bel yang familiar.

"Kopi hitam?" tanya Draco. Harry mengangguk. Ia lalu mengamati pemuda pirang itu berjalan ke arah dapur.

"Apa kau pernah nonton Modern Family?" tanya Stan saat Harry duduk di depan meja counter dan mulai membaca koran yang tergeletak di sana.

"Aku tidak menonton televisi," kata Harry.

"Sayang sekali," kata Stan. "Kupikir kalian akan butuh acara seperti itu." Harry terpaksa meletakkan koran di tangannya untuk menghadap Stan. "Oh, yah, wajar sih. Acara itu baru akan diputar sepuluh tahun kemudian," lanjut pria itu.

"Maksudmu?" tanya Harry.

"Nope. Lupakan saja," jawab Stan.

"Apa kau sedang berusaha meledekku?" tanya Harry sebal.

"Koreksi. Menggodamu," jawab Stan setengah menyeringai.

"Dan jika kau terus melakukannya Stan, aku khawatir statusmu sebagai pegawai di sini akan terancam," potong Draco yang baru saja keluar dari dapur. Alih-alih terkejut, Stan malah menatap Harry santai dengan cengiran tipis di wajahnya.

"Lihat?" godanya lagi. "Ini yang dinamakan sekali tepuk dua nyamuk mati sekaligus," kata pria itu sambil melenggang ke dapur, melewati Draco yang memandanginya sebal.

"Kadang aku curiga bahwa ia bukan orang Inggris," kata Harry.

.

.

.

Draco yakin bahwa biasanya ia punya terlalu banyak hal yang harus ia kerjakan dalam waktu bersamaan: membuat resep kopi baru, memeriksa catatan keuangan, mengawasi kerja anak buahnya, memastikan bahwa tidak ada penyihir yang tersesat ke kedainya (meskipun yang terakhir sulit sekali dilakukan beberapa bulan belakangan). Ia yakin bahwa dirinya terbiasa dengan kesibukan, bukan malah melamun memandangi jarum jam yang bergerak sangat lambat.

"Andai ada sihir di dunia ini, akan kubuat siang terik ini menjadi senja," ucap seseorang di belakangnya. Draco tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa Stan tengah memandanginya jahil. "Lalu senja akan kusihir menjadi malam," lanjut pria itu. Draco bertanya-tanya apa yang Stan lakukan jika ia mencabut tongkatnya lalu mulai menerbangkan kursi-kursi.

"Kau percaya ada penyihir dunia ini, Stan?" tanya Draco.

"Aku tidak melihat ada alasan untuk percaya," kata pria itu.

"Sayang sekali," kata Draco, yang setengah merasa puas melihat sekilas keterkejutan di wajah anak buahnya. "Untuk orang sepertimu, mengejutkan sekali bahwa imajinasimu sangat terbatas," lanjut Draco sambil berlalu dari meja counter.

Ah, menyenangkan rasanya bisa menang dalam adu ledek dengan anak buahnya itu. Meskipun hanya beberapa detik, karena saat ia masuk ke ruangannya, melihat jam dinding terpasang tepat di hadapannya kembali membuatnya menjadi pelamun. Aneh rasanya bagaimana waktu berjalan begitu lambat ketika kau menantikan sesuatu. Seolah semesta ikut berkonspirasi membuat penantianmu kian panjang, dan kau menjadi semakin resah. Kau akan terlonjak karena bunyi paling lemah sekalipun, seperti dentang bel di pintu masuk. Atau ketukan di pintu.

"Bos, seseorang mencarimu," kata Robert yang melongokkan kepalanya dari pintu di ruangan Draco.

"Siapa?" tanya Draco.

"Entahlah. Seorang wanita cantik," jawab Robert. Bisa Draco lihat anak buahnya itu merona. Ia segera bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju meja counter. Ada sesosok wanita berambut cokelat panjang bergelombang yang tengah duduk di depannya. Robert yang ada di belakangnya segera berjalan ke sana untuk menawari wanita itu minuman. Entah untuk keberapa kalinya. Draco mendesah.

"Jaine," sapa Draco. Wanita itu segera menoleh. Mata birunya segera menatap Draco dengan pandangan yang tidak berani Draco artikan.

"Di sana kau rupanya. Aku sudah bosan melayani bocah SMA itu," kata Jaine saat Robert menghilang dari pandangan.

"Mau apa kau ke sini?" tanya Draco. Jaine langsung mengernyit mendengarnya.

"Sopan sekali, Draco," gerutu Jaine. Gadis itu kemudian menyeruput cangkirnya. "Lumayan juga," gumamnya. "Anak buahmu pintar meracik kopi."

"Selalu yang terbaik, Jaine," kata Draco, meskipun ia ragu saat mengucapkannya. Ia kini mendudukkan dirinya di samping Jaine, bertanya-tanya apakah sebaiknya ia juga meminta secangkir kopi pada Robert, membuktikan bahwa anak itu memang pandai meracik kopi.

"So, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Harry?" tanya Jaine. Sebenarnya Draco sudah menduga pertanyaan ini akan muncul, namun ia tidak menyangka secepat ini.

"Baik, kurasa," jawabnya.

"Baguslah. Andai aku juga punya hubungan seperti itu," ucap Jaine lirih. Kening Draco berkerut mendengarnya. Jaine ingin punya hubungan dengan sesama jenis?

"Tunggu, bukannya kau menyukai Stan?" tanya Draco. Dampak dari pertanyaannya bisa langsung ia lihat. Wajah Jaine yang pucat sepertinya merona, dan gadis itu kelihatan terkejut dan salah tingkah.

"Bagaimana kau–" ujarnya terbata, namun kesadaran sepertinya langsung menyergapnya. "Tentu saja. Harry."

"Dia tidak bercerita apapun tentang itu," kata Draco. "Hanya saja tingkahmu sangat kentara, Jaine."

"Benarkah?" tanya gadis itu. Draco mengangguk, sementara Jaine terlihat berpikir.

"Kupikir aku sudah berhati-hati," katanya. "Lalu, apa yang biasanya kalian bicarakan? Kau dan Harry. Apa yang biasa kalian lakukan? Tidur?" tanya Jaine.

Draco tahu bahwa Jaine hanya meledek, namun entah kenapa pertanyaan itu terasa menusuk. Sejauh yang bisa ia ingat, awal hubungannya dengan Harry selalu diwarnai dengan adu mulut, baik secara konotatif maupun secara harfiah. Hanya setelah beberapa bulan belakangan inilah kecenderungan untuk saling melempar kutukan jauh berkurang. Dan meskipun Draco berusaha tidak memikirkannya, ia harus mengakui bahwa interaksi mereka kebanyakan hanyalah sebatas saling curi pandang. Atau sapaan singkat. Atau genggaman tangan. Kadang, kalau ia sedang menemukan keberaniannya, ia akan mencium pemuda itu. Dan Merlin, ia pun tidak bisa menyalahkan pemuda itu jika hubungan mereka tidak berkembang, karena bahkan saat ia membayangkan ciumannya dengan Harry, ia merasa terbang tak terkendali.

"Well, karena kau sudah mengetahui rahasiaku, bisakah kau berbaik hati memanggil pria itu untukku?" tanya Jaine. Draco hanya mendesah, entah karena khawatir gadis itu akan berbuat sesuatu yang tidak masuk akal di kedainya, atau karena gadis itu memutus lamunannya tentang Harry.

Draco bergerak perlahan dari kursinya. Namun ketika ia hendak berjalan, Jaine menahannya. "Dengan cara yang tidak kentara, Mr. Malfoy," tambah gadis itu. Draco berusaha keras untuk tidak memutar bola matanya.

.

.

.

Harry terbiasa menghadapi flatnya yang kosong saat ia pulang dari Kementerian. Menyalakan lampu, meletakkan tasnya di meja di ruang tengah, lalu menunggu Draco datang. Kadang ketika ia merasa memiliki energi lebih, ia akan mencoba membuat sesuatu, seperti sup, atau kopi, meski pada akhirnya ia harus mengakui bahwa kopi buatan Draco memang yang terbaik. Jadi ketika ia masuk ke flatnya malam itu, langkahnya langsung terhenti saat ia mendapati Draco di sana.

Duduk di samping dinding pembatas ke arah dapur, dengan kedua siku bertumpu pada kakinya, pemuda itu memandangi Harry dengan ekspresi yang tidak terbaca.

"Kita harus bicara," katanya. Harry berjalan ke arah Draco lalu meletakkan tas kerjanya.

"O–oke. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya.

"Kita sepasang kekasih, kan?" tanya Draco.

Alis Harry serta merta terangkat mendengar pertanyaan ini. "If you say so," jawabnya gugup.

"Jadi seharusnya kita melakukan hal-hal yang sepatutnya kita lakukan, bukan?" tanya Draco lagi. Entah kenapa Harry merasakan firasat buruk.

"Memangnya apa yang harusnya kita lakukan?" tanyanya khawatir.

"Entahlah. Hal-hal romantis, mungkin?"

Harry mendesah. Bagaimana mungkin Draco memintanya untuk melakukan hal-hal romantis jika genggaman tangannya saja bisa membuat Harry sulit bernapas. Harry bahkan tidak tahu semerah apa wajahnya sekarang.

"Kita hidup bersama, Malfoy, siapa tahu kau lupa," kata Harry.

Draco hanya diam.

"Kau tidur di tempat tidurku," kata Harry. Itu artinya kita tidur bersama, tambahnya dalam hati.

"Yeah, dan kita benar-benar hanya tidur," kata Draco lirih.

"Kau membuatkanku kopi nyaris setiap pagi, dan kau–" kata Harry tersendat. "Menciumku."

Hening.

Harry ingin sekali mengulang kata-katanya agar Draco mengerti bahwa apa yang telah mereka lakukan telah melebihi kriteria romantis. Setidaknya baginya. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Draco berdiri mematung.

Meski cahaya di ruangan itu temaram, Harry masih bisa melihat ekspresi pemuda itu perlahan berubah. Wajahnya yang pucat perlahan berubah warna menjadi merah. Merlin, kadang Harry benar-benar tidak bisa mengerti bagaimana Draco bisa begitu… ceroboh dalam mengungkapkan pikirannya.

"Aku terlihat bodoh, kan?" tanya pewaris Malfoy itu. Mengabaikan dorongan untuk mengangguk yang begitu besar, Harry menggeleng.

"Kupikir itu wajar," katanya. "Untuk seseorang sepertimu," tambahnya seraya tersenyum. Ia tidak merasa perlu untuk menyembunyikan cengirannya.

"Merlin," desah Draco sambil melempar tubuhnya ke sofa. Kedua tangannya menutupi wajahnya, namun Harry masih bisa melihat rona yang menjalar di sana. Ia berjalan lalu duduk di sebelah Draco.

"Dengar, Malfoy. Aku sudah lama memikirkannya, dan kurasa kita memang layak mendapatkan apa yang berhak kita dapatkan," kata Harry. Draco perlahan menurunkan tangannya lalu menatap Harry. Harry susah payah menelan ludahnya saat menatap Draco yang saat itu begitu…menggemaskan. Ia berdehem untuk meredakan kerongkongannya yang terasa kering.

"Aku tidak percaya aku mengatakan ini padamu, tapi kau tahu, Malfoy, semua ada waktunya. Jadi bukankah lebih baik jika kita nikmati saja proses menuju ke sana?"

"Menuju ke mana?" tanya Draco. Kali ini Harry tahu bahwa pewaris Malfoy itu tengah menggodanya. Makanya ia mengambil bantalan di belakang punggungnya dan memukulkannya ke Draco.

"Jangan paksa aku mengatakannya, idiot."

"Hey, aku tidak idiot," seru Draco seraya membalas pukulan Harry dengan bantal di tangannya.

"Yeah? Dengan menuntut hal-hal romantis seperti tadi?" balas Harry sambil kembali memukulkan bantalnya.

"Menurutmu kenapa aku sampai bertindak bodoh seperti tadi?" tanya Draco sambil balas memukul Harry.

"Karena kau idiot?" balas Harry.

"Kau tahu jika perang ini dilanjutkan, kau akan terancam, Potter," kata Draco. Harry seketika menghentikan serangannya.

"Kau benar," ujarnya sambil menurunkan bantalnya. Terakhir kali mereka perang bantal, yang kemudian menjadi perang makanan, mereka berakhir dengan Harry di atas Draco. Ia malu sendiri mengingat kejadian selanjutnya.

"Bagaimana harimu?" tanya Draco, yang sukses membuat Harry tersenyum.

"No offense, Malfoy, hanya saja rasanya masih aneh mendengar kau bertanya seperti itu," kata Harry. "Kementerian masih sesibuk biasanya. Dan Ron mengundangmu makan malam di rumahnya."

Harry bisa melihat raut tidak percaya dari wajah Draco.

"Well, sebenarnya mereka mengundangku, dan aku boleh membawa teman kalau mau," kata Harry. "Jadi, kau mau ikut?"

"Kau yakin Weasley akan mengijinkanku masuk?" tanya Draco ragu.

"Tentu saja," jawab Harry mantap. Meskipun dalam hati ia juga ragu bahwa tidak akan ada Weasley yang menodongkan tongkatnya saat melihat seorang Malfoy di rumahnya.

.

.

.

Dan, yah, keesokan harinya kekhawatirannya jelas terbukti.

"Ada yang mau menjelaskan kenapa ada seorang Malfoy di rumah kita?" tanya Ron saat Harry, Draco, Hermione dan beberapa Weasley duduk di meja persegi besar di dapur.

"Karena kau yang mengundangnya, Ron," jawab Hermione kalem. "Kau bilang Harry boleh mengajak teman jika ia mau," tambahnya cepat-cepat saat Ron hendak membantah.

"Wew, kau punya selera yang unik dalam memilih teman untuk diajak ke rumah kami, Harry," kata George yang tengah menyendok kentang bumbu ke dalam piringnya. "Unik, Malfoy, bukan menyebalkan," tambahnya ke arah Draco.

"Cukup adil," kata Draco.

"Jadi, kapan kalian punya anak?" tanya Ginny. Harry benar-benar harus menutup mulutnya supaya ia tidak menyemburkan air yang baru saja masuk ke mulutnya.

"Jangan beri ide pada mereka, Ginny," kata George. "Biarkan mereka berimprovisasi sendiri," tambahnya sambil mengedip ke arah Harry. Harry tidak bisa berbuat banyak kecuali mendesah. Jelas sekali ia dan Draco menjadi bulan-bulanan di sini.

"Sudah anak-anak, jangan goda mereka terus. Dan kau George, sudah berapa kali kuperingatkan bahwa kau tidak boleh menyuplai leluconmu ke Hogwarts? Sudah bosan aku dengan keluhan Minerva tentang ledakan-ledakan di sekolah," kata Molly. Wanita gemuk ramah itu kemudian menuangkan sesuatu yang beraroma menggiurkan ke piring Harry dan Draco.

"Terima kasih," kata Harry.

"Sama-sama, sayangku. Dan jangan khawatirkan Ron, Draco, kau diterima di sini," kata Molly.

Draco mengangguk seraya menyunggingkan senyum simpul. Dari semua kekacauan yang terjadi di rumah Ron, senyum Dracolah yang bisa membuat Harry tenang. Meskipun jika ia harus mengingatkan dirinya sendiri, Draco sendirilah yang menjadi sumber kekhawatirannya.

"Kau boleh bilang aku gila, tapi rasanya tidak akan sulit untuk menyukai keluarga ini," bisik Draco. Harry tersenyum, yang menjadi semakin lebar saat tangan Draco menggenggam tangannya erat.

"Kalian tidak akan bisa makan jika terus bergandengan tangan seperti itu, tahu," ledek George.

.

.

.

Hari-hari selanjutnya mereka disibukkan dengan persiapan pernikahan Ron dan Hermione. Seperti yang telah dilakukan kakak-kakaknya, pernikahan mereka diadakan di halaman The Burrow. Harry sibuk membantu George, Charlie, dan ayah mereka mendirikan tenda-tenda berwarna abu-abu, seperti yang dulu pernah ia lakukan pada pernikahan Bill dan Fleur. Sementara di sebelah kirinya, para wanita sibuk menyihir hiasan-hiasan. Draco sendiri membantu mendekorasi interior tenda utama. Entah bagaimana caranya Hermione bisa menyerahkan hal penataan ruangan kepada pemuda itu. Kadang ketika melihat pemuda itu hilir mudik dengan tongkat terayun ke sekelilingnya, Harry masih belum bisa percaya bahwa mereka benar-benar berada di sana, bekerja sama membantu pernikahan Ron dan Hermione.

Saat tenda selesai didirikan dan Harry menyempatkan diri menengok ke dalam tenda utama, ia hanya bisa terpukau dengan penataannya yang mengagumkan. Ada ribuan butir salju sihir bercahaya yang jatuh dari atap tenda yang langsung menghilang saat terkena permukaan tanah. Di sudut-sudut ruangan, di atas tiang pasak yang menarik tenda agar berdiri tegak, ada buket-buket bunga yang diperbesar. Dan tepat di tengah, ada sepasang kursi berlekuk yang anggun berwarna keperakan. Lilin-lilin hias memenuhi meja bundar di depannya.

"Indah sekali," ujar Harry saat Draco berjalan mendekatinya. "Tak kusangka kau memiliki selera yang bagus untuk hal seperti ini."

"Seorang Malfoy tidak pernah setengah-setengah, Potter," kata Draco sambil memandangi hasil karyanya. Terlihat jelas bahwa ia pun bangga dengan dekorasinya.

"Hermione pasti akan senang sekali melihatnya," kata Harry.

"Kau suka?" tanya Draco.

"Tentu saja," jawab Harry.

"Kalau begitu akan kubuatkan yang jauh lebih indah suatu saat nanti," kata Draco. Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat jantung Harry berdegup kencang. Namun ia berusaha untuk terus memandangi dekorasi di depannya.

"Kau bicara seakan kau sedang melamarku, Malfoy," kata Harry setengah bercanda. Setengah khawatir.

"Menurutmu?"

Lagi-lagi nada itu. Harry tidak tahan untuk menoleh ke arah Draco, meskipun ia merasa ada seseorang di belakang yang memanggilnya.

Jika ada yang disebut keajaiban, maka itu adalah saat dimana ia dan Draco bertatapan. Seolah segala warna mengabur dan menjadi sesederhana hitam dan putih. Seakan segala hingar di sekelilingnya menyusut hingga kini mereka berada di ruang hampa. Hanya ada Draco dan dirinya. Hanya ada sinar-sinar dari sepasang abu-abu yang menatapnya penuh. Mengirimkan pesan-pesan tak terucap. Ada kehangatan. Ada sebongkah cinta di sana.

Dan ada kalanya pemahaman hanya menyisakan secuil udara hingga rasanya kau tidak bisa bernafas.

"Menurutmu?"

Merlin…


A/N. The next chapter will be the last :)