"Menurutmu?"

Draco tak tahu apa yang mendorongnya untuk mengucapkannya. Yang ia tahu, ia sedang berada dalam kebanggaan karena telah berhasil menghasilkan dekorasi yang pantas untuk kedua sahabat Harry. Kemudian kedua pasang emerald memerangkapnya dan tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar.

Jadi ia menunggu, dengan pandangannya tak lepas dari wajah Harry. Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat mulut pemuda itu bergerak.

"Hell, no."

Draco mengira bahwa Harry menolaknya. Bahwa segala harapannya berakhir tragis. Namun saat dilihatnya pemuda itu mengernyitkan kening dan memandang ke belakangnya, ia ikut menoleh dan mendapati seorang pemuda dengan rambut merah menyala sedang menatap mereka sambil bersedekap. Meski wajahnya dipaksakan serius, Draco masih bisa melihat sinar-sinar kejahilan yang memancar dari kedua matanya.

George Weasley.


Hello!

By : 7 Days of Summer

Disclaimer : Harry Potter © JK Rowling


"Jangan rusak acara Ronnie dengan lamaranmu yang tiba-tiba, Malfoy," kata George sambil mendekati mereka berdua. Harry harus mengakui bahwa terlepas dari bantuan pemuda itu di tahun kelimanya di Hogwarts, baru kali inilah ia merasa lega saat pemuda itu menginterupsi.

"Kurasa kau sebaiknya mencari pelampiasan lain selain menggangguku, Weasley," kata Draco, terlihat sekali merasa terganggu.

"Ouch, kau melukai perasaanku, Drakkie," ujar George.

"Jangan panggil aku Drakkie!"

"Kenapa? Imut kok."

Harry bisa melihat dengan jelas usaha Draco untuk tidak mencabut tongkatnya. Namun kemudian sepertinya pemuda itu memutuskan untuk mengabaikan George dan berjalan ke arahnya.

"Jangan pikir kau bisa lari dari ini, Potter," bisiknya, lalu masuk ke dalam rumah.

Oh, tentu saja bisa, pikir Harry. Ia akan kabur. Ya, kabur. Kemana saja asal ia bisa menghindari pemuda berambut pirang itu. Mungkin ia akan ke kembali ke Grimmauld Place, meski ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dirinya juga akan diinterogasi di sana. Atau mungkin ia akan ke rumah Neville dan meminta neneknya menyembunyikannya. Atau ke rumah Luna, atau Seamus. Harry bahkan berpikir apakah sebaiknya ia kembali ke Privet Drive. Bertanya-tanya apakah perlindungan ibunya masih berfungsi untuk melindunginya dari Draco.

"Kau oke, Harry?" tanya George. Harry nyaris saja terlonjak saat melihat George dengan rambut pirang sebahu.

"Tidak lucu, George," gerutu Harry. George hanya menyeringai sambil kembali menyihir rambutnya ke bentuk normal.

"Kau tahu, Harry. Bantuan akan selalu datang bagi siapa saja yang membutuhkannya," kata George.

"Kau bukan Dumbledore, dan ini bukan Hogwarts," kata Harry.

"Yeah, kau benar. Tapi soal bantuan, memang akan selalu datang kalau kau membutuhkannya," kata George lagi. Kedua alisnya terangkat dan Harry merasakan firasat aneh saat melihatnya menyeringai.

"Kau tahu mantra tolak untuk manusia?"

.

.

.

"It's amazing," kata Hermione saat dirinya dan Draco melihat-lihat hasil dekorasinya di tenda utama. "Thank's, Malfoy. You really are a big help," tambah Hermione sambil tersenyum.

"I am," jawab Draco singkat.

"Aku penasaran darimana kau dapatkan keahlian menghias ruangan seperti ini," kata Hermione.

"Semua orang bertanya begitu. Mereka hanya tidak sadar bahwa aku seorang Malfoy," kata Draco tanpa berusaha menutupi kebanggaannya.

"Yah. Cara bicaramu memang Malfoy sekali," timpal Hermione.

Mereka berdua kini sedang berdiri diantara kursi-kursi yang berjejer rapi. Masing-masing diberi pita besar berwarna putih yang diikatkan di belakang. Sesekali Draco mengayunkan tongkatnya, memastikan bahwa letak kursi-kursi itu berada dalam presisi yang sempurna. Dan mengayunkannya lagi saat menemukan pita yang kurang terjalin dengan baik.

"Kenapa kau menikah, Granger?" tanya Draco. Ia bahkan baru sadar bahwa ia menanyakan pertanyaan itu sesaat setelah terlontar.

"Karena kami saling mencintai, Malfoy. Itulah yang dilakukan oleh orang saat mereka jatuh cinta," jawab Hermione.

"Menikah?"

"Ya."

"Apakah jika seseorang menolak untuk menikahimu berarti orang itu tidak… kau tahu," kata Draco.

"Mencintaimu?" tanya Hermione. Draco mengangguk.

"Entahlah, Malfoy. Ada banyak hal yang mendasari keputusan seseorang untuk menikah. Ada banyak alasan juga kenapa seseorang enggan untuk menikah. Kesiapan salah satunya. Mungkin Harry merasa kau terlalu terburu-buru. Atau mungkin dia hanya panik dan butuh waktu untuk berpikir," kata Hermione.

"Aku tidak bicara tentang Harry," kilah Draco.

"Lalu tentang siapa? Ron?" goda Hermione. "Kau bahkan tidak sadar kalau kau memanggilnya Harry, bukan Potter."

Draco hanya bisa menggerutu.

Jika ada satu hal yang kurang Draco sukai dari gadis yang sekarang berdiri di sampingnya ini, itu adalah kemampuannya dalam membaca isi hati orang lain. Ia terbiasa menjadi penguasa atas pikiran-pikirannya sendiri, dan akan merasa sangat terganggu jika ada orang lain yang mengetahui isi hatinya. Meskipun untuk saat ini, dalam hati ia merasa lega karena ada seseorang yang mampu mengerti tanpa ia harus mengutarakannya dengan gamblang.

"Ajaib sekali melihat kau dan Weasley bisa menikah," kata Draco kemudian. Hermione hanya tersenyum.

"Ada banyak hal yang terasa seperti keajaiban. Kalau kau memperhatikan, apa yang kita lakukan sekarang juga merupakan keajaiban. Aku berani bertaruh dulu kau pun tidak pernah mengira bahwa kita akan berdiri di sini, berbicara layaknya teman," kata Hermione.

"Mungkin suatu saat nanti, ketika kau beruntung, kau akan menemukan satu keajaiban untukmu sendiri. Jika kau benar-benar mau memahami," lanjut gadis itu. "Biar kubantu menemukan satu." Ia lalu berbalik dan menghadap Draco. "Kau dan Harry," katanya. "Siapa yang menyangka musuh bebuyutan seperti kalian berakhir menjadi sepasang kekasih?"

Ya, siapa yang menyangka, diantara ribuan gadis yang menyukainya, diantara semua peluang untuk jatuh cinta, pilihannya malah jatuh kepada Harry, musuh bebuyutannya sendiri? Mungkin semua memang sudah ditakdirkan demikian. Mungkin ia memang harus kembali bertemu Harry berbulan-bulan yang lalu. Namun siapa yang menyangka bahwa ia akan jatuh cinta kepada pemuda itu?

"Yang harus kau lakukan hanyalah bersabar," kata Hermione.

Draco mengayunkan tongkatnya ke atas satu meja, mengalirkan percik cahaya yang kemudian mewujud setangkai bunga daisy berwarna kuning. Bunga itu tidak berada di dalam vas, melainkan melayang beberapa senti di atas meja. Tangkainya yang hijau membuatnya rindu menatap sepasang emerald yang biasa menyapanya tiap pagi.

"Nice touch. Keberatan melakukannya lima puluh kali lagi?" tanya Hermione.

Saat Draco pulang ke flatnya malam harinya, ia sudah menduga bahwa tidak akan ada siapapun di sana. Flat itu kosong. Tidak ada seseorang dengan rambut berantakan dan mata hijau cemerlang yang menyambutnya.

.

.

.

"Kau yakin kau tidak mau membicarakannya dengan Malfoy, Harry?" tanya Hermione saat mereka berada di ruang keluarga selepas makan malam, memandangi perapian. Entah bagaimana caranya Harry berakhir di rumah keluarga Weasley.

"Siapa tahu kau lupa, 'Mione. Aku sedang berusaha menghindarinya," kata Harry. Ia kembali menyesap kopinya untuk meredakan kepalanya yang terasa pusing. Sejujurnya ia merasa ironis karena bahkan dalam pelariannya pun ia masih menikmati kopi di tangannya dan membayangkan Dracolah yang membuatkan untuknya.

"Kau yakin kalau kau tidak hanya lari dari masalah?" tanya Hermione. Gadis itu ikut menyesap teh dalam cangkir yang di genggamnya.

"Entahlah. Hanya saja kami baru beberapa bulan bersama, dan tiba-tiba saja ia melakukannya," kata Harry.

"Melakukan apa?" tanya Hermione.

"Bukan apa-apa. Lupakan saja," jawab Harry setelah beberapa saat. Harry yakin bahwa sahabat wanitanya itu tengah memandanginya dengan kening berkerut. Ia bisa mendengar gadis itu mendesah.

"Hal terakhir yang kuinginkan soal pernikahanku adalah membuat orang lain ketakukan untuk melakukannya, Harry," katanya.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," ujar Harry.

"Benar. Kau tidak tahu apapun," kata Hermione. Harry tahu bahwa sahabatnya itu pasti merasa kesal. "Aku hanya penasaran apa yang Malfoy rasakan sekarang. Ketika ia sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, ia malah ditinggalkan sendiri," ujar gadis itu. "Aku ingin tahu apa yang dilakukannya di flat sendirian di malam sedingin ini."

"Ada perapian di sana," ujar Harry lirih. Meskipun ia tidak tahan untuk membayangkan Draco sendirian, meringkuk di depan perapian, setengah tertidur menunggunya pulang.

"Kadang aku heran bagaimana Draco bisa tahan dengan kekeras-kepalaanmu, Harry," gerutu Hermione. Harry tidak menjawab, ia sibuk memandangi perapian.

"Well, sudah malam. Sebaiknya aku kembali ke kamarku," kata Hermione sambil beranjak dari kursinya. "Jika kau memang ingin bermalam di sini, kau bisa menggunakan kamar Bill di sebelah kamar Ron. Selamat malam, Harry," ujar Hermione sebelum kemudian melangkah ke kamarnya, meninggalkan Harry yang sibuk memandang perapian.

Bayangan Draco yang sendirian di flat entah kenapa tidak mau meninggalkan kepalanya. Ingin rasanya ia berapparate ke kamarnya di Redpalm Street, menemui pemuda pirang itu dan memeluknya. Namun ingatan kejadian hari ini menahannya. Apa yang akan ia lakukan jika Draco benar-benar mengajaknya menikah? Sudah siapkah dirinya? Bagaimana ia akan memberitahu Sirius? Setujukah keluarganya? Teman-temannya? Bagaimana ia akan menghadapi keluarga Malfoy?

Seraya memikirkan itu semua, pikirannya menjadi penuh. Dan mungkin karena hangatnya perapian merayapi tubuhnya, ia merasa matanya perlahan terpejam.

Detik selanjutnya Harry merasa bermimpi melihat seseorang berambut pirang platinum yang tersenyum dari kejauhan.

.

.

.

Saat pagi harinya Draco membuka mata, ia merasa ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Saat ia berhasil menajamkan pandangannya, ia melihat ada seseorang di atas tubuhnya, mendekapnya begitu erat hingga rasanya ia sulit bernafas. Meski demikian, ia langsung membalas pelukan itu.

"Kau akan membunuhku jika terus mendekapku seperti itu, Potter," kata Draco. Seketika itu pula Harry melepaskan pelukannya dan langsung duduk menatap Draco.

"Aku minta maaf," katanya.

"Untuk apa?" tanya Draco. Kepalanya masih terlalu pusing untuk bisa mencerna kata-kata pemuda di depannya.

"Aku–yang kau katakan kemarin. Kita–" kata Harry tersendat.

Draco seketika mengerti. Ia kemudian memposisikan dirinya duduk di depan Harry.

"Aku tahu aku sudah bertindak bodoh. Maafkan aku. Aku terus menerus membayangkanmu sendirian di flat dan –" kata Harry terengah. "Entahlah. Aku hanya ingin menemuimu."

"Aku juga," kata Draco. Ia kembali memeluk pemuda itu.

"Dengar, Potter, aku minta maaf sudah membuatmu kalut, oke? Namun jika aku harus menarik kembali kata-kataku, aku tidak bisa," kata Draco.

"Kau mengancamku?" tanya Harry tanpa melepaskan pelukan mereka. Bahkan Draco merasa tangan yang melingkari tubuhnya semakin erat.

"Jika memang terpaksa," kata Draco.

"Kau tahu aku akan kabur lagi kalau kau terus memaksaku," kata Harry.

"Maka aku akan terus mengejarmu sampai kau tidak punya tempat lagi untuk melarikan diri," jawab Draco.

"Kau curang."

Draco menggeleng. "Aku hanya berusaha."

Entah kenapa wajah Harry terasa panas. Ia merasa malu sekaligus terharu. Ia merasa seperti gadis remaja yang terpojok, dan tahu cepat atau lambat ia akhirnya harus menghadapi hal ini. Hanya saja untuk saat ini, egonya yang besar begitu menguasainya hingga ia terpaksa menyerah. Mungkin suatu saat nanti, pikirnya.

"Aku ingin kopi," katanya akhirnya.

"Akan kubuatkan," kata Draco.

.

.

.

Ada banyak hiasan bernuansa putih saat Draco menjejakkan kaki di halaman depan The Burrow keesokan harinya. Bunga-bunga sihir terbang rendah di atas tanah dan menghiasi jalan setapak menuju tenda. Burung-burung sihir berwarna-warni berkeliaran menebarkan kerlip-kerlip kecil berwarna keemasan ke atas rumput-rumput hijau yang dipotong rapi. Tidak ada jembalang yang berkeliaran, yang tersisa hanyalah keindahan.

Draco tidak ingat bahwa ia mendekorasinya sedemikian rupa, jadi ia berkesimpulan ada orang lain yang melakukannya. Dan ia harus mengakui bahwa ia menyukai gaya penataan orang itu.

"Harry yang membuatnya," ujar seseorang dari belakang. Draco menoleh dan mendapati Hermione sedang menatapnya. "Sesaat setelah ia kembali dari flatnya, ia keluar dan mulai menyihir hiasan-hiasan. Katanya ia terinspirasi olehmu."

Draco kembali melihat sekeliling dan tersenyum. Harry-nya lah yang membuat tempat itu terlihat indah. Pandangannya kemudian kembali kepada Hermione, dan baru pada detik itu ia menyadari bahwa gadis itu telah memakai gaun pengantinnya.

"Kau terlihat menawan," kata Draco.

"Oh, mendengarnya darimu, kurasa aku pasti sangat cantik," canda Hermione. "Ngomong-ngomong, bagaimana urusan kalian? Sudah beres?"

"Entahlah," jawab Draco.

"Sudah kuduga," kata Hermione sambil mendesah. "Kuharap kau masih ingat ceramahku tentang keajaiban dan kesabaran?"

"Ya. Percaya atau tidak," jawab Draco.

"Jadi, kuasumsikan kau belum akan menyerah?" tanya gadis itu lagi.

Draco kembali memandang ke sekelilingnya, tempat beberapa burung sihir menimpakan kerlipnya ke atas setangkai bunga yang mencuat diantara rerumputan.

"Tidak akan."

"Good," ujar Hermione puas. "Harry sedang membantu Ron mempersiapkan diri. Kau bisa menemuinya nanti pada saat prosesi," katanya. "Dan Malfoy," Draco menoleh untuk memandang Hermione. "Senang melihatmu di sini," tambah gadis itu sebelum kembali ke dalam rumah.

Memutuskan bahwa dirinya tidak memiliki ide untuk melakukan apapun, Draco akhirnya melangkah menuju belakang tenda, dimana ia bisa melihat keseluruhan desa Ottery St. Catchpole. Dari tempat itu juga ia bisa memandang bukit-bukit yang terlihat biru dari kejauhan. Angin semilir yang turun dari lembah menyapa wajahnya, sedikit menyibakkan rambutnya yang setengah terikat ke belakang.

"Sedang apa kau di sana?" sahut sebuah suara di belakangnya.

Ah, akhirnya ia bisa mendengar suara itu lagi. Menahan senyumnya yang memaksa mengembang, Draco membalikkan tubuhnya.

Lalu terpaku.

Di hadapannya, Harry tengah menatapnya tanpa berkedip. Pemuda itu terlihat rapi mengenakan setelan hitam dari bahan semi sutra. Warna dasinya senada dengan warna matanya yang cemerlang. Setangkai mawar merah menghiasi lipatan jasnya. Sebuah senyum menghiasi wajahnya yang merona.

Draco sampai harus mengingatkan dirinya sendiri untuk bernafas.

"Malfoy?" tanya Harry lagi. Draco seketika tersadar dari lamunannya.

"Nothing. Hanya melihat pemandangan," kata Draco. Harry kemudian berjalan mendekatinya.

"Sudah lihat Hermione?" tanya Harry. Draco mengangguk. "Belum pernah kulihat dia secantik itu."

"Bagaimana dengan Weasley?" tanya Draco.

"Dia gugup sekali," kata Harry sambil tertawa. "Kami sampai harus menyingkirkan tongkatnya. Dia hampir saja membakar kamarnya sendiri."

Draco tersenyum. Bukan karena membayangkan Ron yang kelabakan mengendalikan diri, tapi bagaimana jika Harry yang berada di posisi pemuda berambut merah menyala itu.

"Apa yang lucu?" tanya Harry.

Draco menggeleng. Ia masih tersenyum.

.

.

.

Paduan suara mulai melantunkan lagu saat matahari mulai naik. Pachelbel – Canon in Acapella. Dilantunkan dengan begitu merdu hingga Harry merasa mereka sedang berada dalam mimpi. Jantungnya masih berdegup tidak beraturan, terlebih saat ia melihat siluet Draco menghadap perbukitan di depannya. Ada perasaan sedih dan rindu yang menyeruak saat melihat tubuhnya yang menyandar pagar, hingga membuat Harry nyaris berlari dan memeluk pemuda itu dari belakang. Dan keadaan bertambah parah saat pemuda itu menolehkan wajahnya ke arah Harry. Rasanya ia tidak pernah bisa mengerti bagaimana angin selalu saja berkomplot dengan matahari untuk membuat wajah pemuda itu terlihat begitu tampan.

Kini Harry berusaha untuk tetap fokus pada prosesi pernikahan sementara ia dan Draco tidak duduk di kursi undangan, melainkan tetap menyender pada pagar pembatas tepat di belakang pintu masuk tenda, mengamati kedua sahabatnya tersenyum menantikan penyatuan janji mereka.

"Bukannya kau seharusnya menjadi pemdamping pria?" tanya Draco saat George menyerahkan cincin kepada Ron.

Harry tersenyum. Ia memang bukan lagi pendamping pria untuk Ron. Pemuda itu memutuskannya beberapa saat lalu, saat Harry tengah membantunya mempersiapkan diri di kamarnya. Awalnya Harry merasa kecewa karena keputusan itu. Namun apa yang dikatakan Ron membuatnya menyadari bahwa ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan.

"Yeah, aku lebih suka di sini," kata Harry. Di sisimu, tambahnya dalam hati.

"Kenapa?" tanya Draco lagi.

Sekali lagi Harry hanya tersenyum.

Kecuali saat berdebat mengenai Hermione di Hutan Dean, Harry belum pernah melihat Ron seserius itu. Hanya beberapa saat setelah ia berusaha memadamkan api yang tidak sengaja dilontarkan dari tongkat sahabatnya itu, pemuda itu langsung memegangi Harry di pundaknya.

"Aku tahu aku akan menyesal mengatakan ini, Harry, tapi kurasa ada seseorang yang menantikanmu di luar," katanya. "Pergilah, temui dia."

"Sirius?" tanya Harry.

Ron menggeleng.

"Ah, Dean? Luna?"

"Bukan, idiot," kata Ron gusar. Kelihatan sekali kalau pemuda itu susah payah menahan sesuatu hingga telinganya menjadi merah. "Malfoy."

Alis Harry seketika terangkat saat nama Draco disebut. Sejak kapan Ron bisa begitu bersimpati dengan pewaris Malfoy itu?

"Sejak kapan kau–Apakah kau sudah berdamai dengan Malfoy?" tanya Harry.

"Sudah kukatakan aku akan menyesali ini dan aku mulai merasakannya," gerutu Ron. "Dengar, Harry. Hermione bercerita tentang masalahmu dan si ferr–Malfoy. Dan kupikir sudah saatnya kau menghadapinya dengan berani. Jangan lari dari perasaanmu sendiri," tandas pemuda itu. Harry sampai kehilangan kata-kata.

"Apakah aku salah dengar? Kau menyarankanku untuk kembali kepada Malfoy?" tanya Harry.

"Sudah kubilang aku akan menyesal," desah Ron.

Namun Harry mengerti. Semalaman penuh ia memikirkan hal itu, dan sejujurnya, baginya ide untuk terperangkap bersama seorang Malfoy seumur hidupnya tidak begitu menyakitkan. Mungkin sedikit. Mungkin mereka akan kesusahan menghadapi Sirius, dan mungkin keadaan akan bertambah canggung saat mereka harus memberitahu keluarga Draco.

Mungkin akan ada banyak perselisihan dengan pewaris Malfoy itu di masa depan. Mungkin mereka akan kembali mengalami fase seperti saat pertemuan pertama mereka. Tapi selebihnya, semuanya akan baik-baik saja. Karena jika harus memilih antara bersama Draco atau tidak, Harry jelas tidak bisa memilih yang terakhir.

Yang dibutuhkannya adalah saat yang tepat untuk mengutarakannya. Karena itu, kini saat dirinya berada di belakang tenda, mengamati Ron dan Hermione yang saling bertukar cincin, ia terus berusaha memupuk keberanian sebanyak yang ia mampu.

"Di sini udaranya lebih sejuk," jawab Harry. Ia melirik Draco yang tampak serius mengamati jalannya penikahan. Ia memutuskan untuk mencoba keberuntungannya.

"Aku ingin nuansa hijau," katanya lirih. Jantungnya berdegup lebih kencang saat Draco menoleh ke arahnya.

"Slytherin?" tanya Draco. Ternyata pemuda itu mendengarkan.

"Juga warna mataku," kata Harry lirih, lalu menatap Draco yang juga sedang menatapnya. Tangannya perlahan meraih tangan Draco. Menggenggamnya, menautkan jari-jari mereka.

Harry berusaha keras mencari kata yang tepat untuk menggambarkan tatapan Draco saat itu. Memukau? Menakjubkan? Ah, rasanya tidak ada satupun kata yang mampu mendeskripsikan keindahan kedua iris abu-abu yang menatapnya.

"Bagaimana kalau aku ingin merah?" tanya Draco lirih.

"Untuk bunganya," kata Harry.

"Biru?"

"Untuk kotaknya," kata Harry lagi. Pandangan mereka masih bertemu.

Harry sadar bahwa ia menahan nafas. Tangannya yang menggenggam Draco terasa kaku.

"Deal," kata Draco akhirnya, lalu Harry merasa tubuhnya tertarik ke arah pemuda itu. Detik selanjutnya, ia sudah berada dalam pelukan Draco.

Ah, jika saja ia tahu bahwa ia akan merasa senyaman ini saat bersama pemuda itu, maka ia tidak akan pernah berpikir untuk melarikan diri. Rasanya seperti potongan terakhir dalam puzzle telah diletakkan di tempatnya. Ia merasa utuh.

Seolah berasal dari kejauhan, Harry mendengar seseorang berkata "Sekarang kau bisa mencium mempelaimu," saat wajah Draco mendekat. Hanya sedetik sebelum kemudian bibir Draco menyentuh bibirnya.

Aku mencium mempelaiku.

-The End-


A/N.

Finally.

I couldn't find better word to describe what i feel better than grateful. I'm so grateful for you being so nice following my story up until now. Thank's for your supports. Thank's for your advices. Thank's for your reviews. Thank you very much.

Here are the songs that inspired me the most to write this fic. Just wanna share, nothing else.

- Chopin – Nocturnes

- Rossa – Menunggu

- Shinee – Hello

- Kuwata Keisuke – Ashita Hareru Kana

- John Pachelbel – Canon (In many versions)

- Owl City – I'll Meet You There, Fireflies, Vanilla Twilight

Hope we will meet again.

With so much love,

7 Days of Summer.