Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
—
Katekyo Hitman Reborn : Cavallone Arc
—No matter where you are, I always with you—
D18OC, 8059, 1006927, R27
Romance/Angst
Warning : OOC, OC, semi-AU, Shonen Ai
—
Betrayal | 2
—
Matanya yang masih sembab karena menangis, dan wajahnya yang masih basah oleh hujan tampak mulai mengering dan menampakkan mata yang masih berair. Ia terkejut, menatap sosok yang sedetik yang lalu dinyatakan hilang, bahkan diperkirakan tewas, sekarang ada di depannya.
"Kau—"
"Selamat malam Hibari Kyouya—aku ingin bertemu dengan Decimo Vongola," tersenyum kearahnya, tetapi entah kenapa—saat ini, walaupun sosok di depannya itu memiliki fisik dan wajah yang sama dengan Dino, ia tampak berbeda. Seakan tidak tahu apapun tentang Hibari, bahkan tidak memanggilnya seperti biasa.
"Kau bukan dia—" Hibari memalingkan wajahnya dari orang itu. Terlalu mirip—ia terlalu mirip dengan Dino. Tetapi, Hibari tahu dia bukan Dino—tidak ada kehangatan yang terpancar dari pemuda di hadapannya, seperti yang diberikan oleh Dino.
"Memangnya kau mengenalku?"
"Karena tidak itulah—" Hibari berdiri—memegang kedua tonfanya. Menyerang tiba-tiba orang itu dengan membabi buta, tidak mengizinkannya untuk menyerangnya sedikitpun.
"A—apa salahku?"
"Pertama—kau memasuki wilayah Vongola tanpa ada pengawasan dan juga tanpa izin. Kedua—kau seenaknya masuk ke dalam rumahku," Hibari menyerang orang itu, walaupun begitu—pemuda itu bisa menghindarinya dengan baik. Bahkan, tiba-tiba tangan Hibari ditahan olehnya, ia berhasil menghentikan serangan Hibari tanpa terluka sedikitpun.
"Dan apakah yang ketiga—karena aku melihatmu menangis," mendekatkan wajahnya hingga tepat berada di samping wajah Hibari, pemuda itu berbisik, "Kyouya?"
Suara dan nada bicaranya mirip dengan Dino—tetapi lagi-lagi Hibari tidak bisa merasakan kehangatan yang biasa dipancarkan oleh Dino. Dan dengan segera, Hibari melepaskan pukulan telak yang tepat mengenai dagunya dan membuat pemuda itu terpental menjauh darinya.
"Ow!"
"Aku tidak perduli," Hibari berjalan menghampiri pemuda itu—mempererat genggamannya pada tonfa dan siap membunuhnya, "akan kubunuh kau siapapun dirimu—walaupun kau mirip dengan orang itu…"
…
"Kyo-san, ada apa!" Kusakabe yang mendengar keributan di kamar bossnya segera beranjak dan membuka pintu lebar untuk menemukan Hibari yang sudah sangat dekat dengan orang itu dan siap untuk membunuhnya kapanpun juga, "—Dino-san?"
"Bukan dia…"
"Tetapi—"
"Kubilang orang ini bukan dia!" Hibari berteriak—sesuatu yang sangat jarang dilihat oleh Kusakabe. Dan seketika, membuat sang wakil ketua komite kedisiplinan itu terdiam. Romario yang ternyata ada di belakangnya ikut berlari dan mencoba melihat apa yang terjadi, "Kenapa kau ada disini…"
"Ada yang perlu saya katakan pada Decimo," Romario melihat kearah orang itu dan memperhatiannya dengan seksama. Walaupun mirip—Romario juga tahu bahwa pemuda itu bukanlah Dino, "—kau…"
"Ah, Romario-san!" melihat kearah Romario seakan mengetahui dengan baik Romario, dengan segera bangkit dan berlari memeluknya, "sudah lama tidak bertemu—kau tidak mengingatku?"
"Eh?"
"Ini loh—" menggulung kemeja putihnya, menampakkan luka memanjang sekitar 30 cm yang memanjang ke atas, "—masih ingat?"
"Anda, Nathan-san?"
"Benar sekali Romario-san!" pemuda itu—yang diketahui bernama Nathan tampak tertawa riang. Pemuda itu memang mirip Dino, tetapi jika dilihat baik-baik—usianya tampak lebih muda. Mungkin seumur dengan Hibari. Bukan hanya wajah, suara, nada bicara dan gerak-geriknya, serta sifat cerianya—semuanya sangat mirip dengan Dino, "syukurlah kau mengingatku walaupun 20 tahun tidak bertemu denganmu…"
"Lalu, kenapa anda ada disini?"
"Scivollone Famiglia ingin bekerja sama dengan Vongola—dan sepertinya boss belum bisa menemui Decimo dan menyuruhku untuk mewakilinya terlebih dahulu…" mengacak rambutnya sedikit sambil menghela nafas panjang, "kalau Romario ada disini, apakah Dino juga ada disini?"
…
"Berikan penjelasan—" suara Hibari yang mengandung penekanan dan juga aura gelap memotong pembicaraan mereka berdua, "—siapa dia…"
"Tu—tunggu Kyouya, dia adalah sepupu boss—bukan orang jahat!"
"Lagipula, di jadwal pertemuan Tsuna-san memang tertulis kalau hari ini ia akan mengadakan pertemuan dengan Scivollone Famiglia, "Kusakabe juga mencoba menghentikan Hibari yang siap membunuh Nathan.
"Sepupu?"
"Be—begitulah…"
—
"Jadi begitulah—namaku adalah Nathan Ogoglio Alto, jabatanku adalah Mist Assassin Scivollone Famiglia. Mungkin jika di kelompok Vongola seperti Fran atau Viper dari Varia," Nathan yang diantar oleh Hibari dan juga yang lainnya tampak menghampiri Tsuna yang ada di ruangannya. Bersama dengan Gokudera, Lambo, dan juga Mukuro—mereka berempat hanya bisa menatap Nathan dengan tatapan terkejut.
"A—ah, aku memang mendengar kabar kalau Signor Sorero tidak bisa datang dan mengutus orang—tidak kusangka kau adalah sepupu Dino-san, terlebih lagi wajahmu sangat mirip dengannya…"
"Sejak kecil aku memang dikatakan mirip dengan Dino," menggaruk kepala belakangnya, Nathan tampak tertawa datar dan masih menatap Tsuna, "—tetapi itu juga suatu kehormatan untukku…"
"Baiklah—" hanya menghela nafas dan tersenyum lemah, Tsuna bisa melihat kesamaan dari Nathan dan juga Dino dari sifat mereka, "—jadi, Scivollone mendapatkan informasi yang tidak diketahui asalnya, kalau akan ada penyerangan yang dilakukan orang dalam di markas Vongola?"
"Begitulah—" nadanya berubah menjadi serius ketika mengatakan misi yang ia bawa, "—Nonno menyuruh kami juga—Scivollone dan Ogoglio Famiglia untuk memasukkan pengawas disini. Karena menurutnya ada sesuatu yang aneh belakangan ini…"
"Nonno?"
"Scivollone Famiglia adalah keluarga yang keberadaannya disembunyikan, hanya beberapa orang yang mengetahui keberadaan kami dan salah satunya adalah Nonno Vongola."
"Tunggu—Ogoglio Famiglia itu," Gokudera yang menyadari sesuatu dari nama famiglia yang disebutkan oleh Nathan langsung memutus pembicaraan.
"Ogoglio Famiglia adalah kelompok assassin dari Scivollone, dan ya—seharusnya memang aku yang menjadi pemimpinnya."
…
"Lalu kenapa kau menjadi mist guardian?" Tsuna tampak penasaran dengan latar belakang Nathan dan menanyainya.
"Pada saat kecil, aku pernah hampir membuat Ogoglio Famiglia hancur—" tersenyum gugup kali ini, Nathan hanya menundukkan kepalanya saja, "—jadi, aku hanya merasa tidak pantas untuk menjadi pemimpin…"
"Makanya—aku meminta tangan kanan ayah untuk menjadi pemimpin Ogoglio Famiglia yang sekarang," menatap kearah Tsuna dan yang lainnya—yang tampak menatapnya dengan tatapan tidak enak kecuali Hibari dan Mukuro membuat Nathan salah tingkah, "A—ah kenapa aku malah mengatakan hal yang tidak perlu! Ma—maafkan aku, dan mohon bantuannya mulai sekarang Decimo!"
"Ah ya—anggap saja rumahmu sendiri, dan Gokudera serta Mukuro akan mengatarmu berkeliling markas—"
"Tidak—" Hibari memutus pembicaraan, menatap kearah Tsuna dan juga yang lainnya, "—aku yang akan mengantarnya berkeliling markas…"
…
"A—ah, baiklah aku mengandalkanmu Hibari-san," Tsuna tampak bingung dengan sifat Hibari yang tidak seperti biasanya.
—
Suasana di sekitar Hibari dan Nathan tampak sepi dan sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang mau memulai pembicaraan hingga akhirnya Nathan yang memulainya.
"A—ano Hibari—aku bisa bertanya?"
"Aku mengantarmu bukan karena kau mirip dengannya, tetapi karena aku curiga denganmu, "tidak menatap kearah Nathan, Hibari masih terus berjalan membelakanginya.
"Tidak percaya? Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Dino, ia pasti kenal denganku,"
"Tidak bisa—"langkahnya sempat terhenti sejenak, tetapi ia langsung melanjut langkahnya, "—Herbivore itu menghilang 3 hari yang lalu…" Nathan yang mendengar itu kali ini yang terdiam. Hibari semakin jauh di depannya, tetapi tiba-tiba ia menarik tangan Hibari dan membuat wajah mereka berada sangat dekat.
"Apakah itu yang membuatmu menangis—Kyouya?"
"Lepaskan aku—" menepis tangan Nathan dan berjalan lebih cepat untuk membuat jarak mereka lebih jauh, "—lupakan, aku tidak akan mau mengantarmu!"
"E—eh kenapa kau marah Kyouya, memang aku salah mengatakan itu?"
Hibari tidak menjawabnya—
"Kalau kau memang tidak percaya padaku—lihat saja, suatu hari nanti kau akan percaya padaku," Nathan berteriak, dan Hibari menghentikan langkahnya hanya untuk menatap pemuda itu dari sudut bahunya, "lihat saja nanti…"
"Hmph, lupakan niatmu itu—aku tidak akan pernah percaya orang sepertimu…"
"Nathan-sama…" baru saja Hibari akan melanjutkan perjalanannya ketika seseorang tiba-tiba muncul di belakang Nathan. Sosok berjubah putih dengan topeng yang menutupi seluruh wajahnya. Dan Nathan tampak berhenti serta mengajaknya bicara. Hibari tampak terkejut—bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena keberadaannya yang muncul tiba-tiba seakan ia adalah hantu yang datang secara tiba-tiba tanpa—bahkan Hibari, mengetahui keberadaannya.
Membungkuk dalam-dalam ke arah Nathan sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan begitu saja. Sementara Nathan tampak berbalik menuju kearah Hibari.
"Nah sampai mana tadi kita?" Hibari tidak menghiraukan Nathan, masih melihat sosok tadi yang pada akhirnya menghilang dari hadapan mereka, "Kyouya?"
"Jangan memanggilku dengan nama depanku seenaknya," berbalik kembali, tetapi ia menengok sedikit kearah Nathan, "siapa orang itu…"
"Dia adalah salah satu anak buahku di Ogoglio Famiglia—semua anggota selain anggota inti harus menjaga kerahasiaannya makanya penampilan mereka selalu ditutupi oleh topeng dan juga jubah," Nathan tersenyum lebar—merangkulkan tangannya di bahu Hibari, "kau tertarik Kyouya?"
Dengan segera, sebuah serangan tonfa melayang ke perut Nathan, membuatnya tersungkur dan mengaduh.
"Jangan memanggil namaku seenaknya—dan jangan merangkulku seenaknya…"
—
"Kekuatanku adalah menganalisa—bukan untuk penyerangan," beberapa minggu sudah Nathan berada di markas Vongola, dan sifatnya yang supel dan juga periang membuatnya cepat dekat dengan Tsuna dan juga yang lainnya, "dan beberapa minggu ini, aku sudah menyelidiki beberapa orang yang kemungkinan adalah mata-mata dari musuh Vongola…"
"Lalu siapa mereka?"
"Beberapa anak buah Vongola—tetapi aku tidak begitu yakin," Nathan menggunakan kacamatanya dan menyerahkan beberapa laporan dan CV dari orang-orang yang diduga merupakan mata-mata.
"Tidak yakin?"
"Kekuatanku bisa menganalisa seluruh flame yang ada di Vongola HQ, dan ternyata—seluruh ruangan di sini tertutupi oleh mist flame yang sangat tipis. Membuat kekuatanku tidak begitu efektif…"
"Lalu, apa yang akan kita lakukan saat ini?" Tsuna menatap kearah Nathan yang menghela nafas berat dan menutup mata sebelahnya sambil merebahkan diri di kursi.
"Aku akan mencoba untuk menyelidiki mereka lagi, mengingat kalau mereka mengetahui tentang kekuatan dan juga kedatanganku—ada kemungkinan jika Scivollone dan juga Ogoglio dimasuki oleh mata-mata juga…" tatapannya menjadi sangat serius, semua yang dikatakan oleh Nathan memang menyangkut keselamatan Vongola, dan juga seluruh keluarga mafia.
"Aku malah merepotkanmu," Tsuna tampak tersenyum gugup dan menatap mata hijau milik Nathan, "bukan hanya menyelidiki misi awalmu, kau juga mencoba membantu mencari keberadaan Dino-san…"
"Ah itu bukan apa-apa Decimo—bagaimanapun Dino adalah sepupuku, tentu saja aku akan membantu dan berusaha sebaiknya untuk menemukan Dino…"
"Mohon bantuannya—Nate-san…"
"Tenang saja Decimo, aku akan selalu membantu…"
—
Hibari membuka mata—beberapa saat yang lalu ia tertidur dengan pintu dan jendela yang terbuka lebar, meniupkan angin yang sangat dingin kearahnya. Ia terlalu lelah—sejak pertama Dino menghilang hingga sekarang, tidak pernah ia tidur dengan nyenyak karena mencari informasi tentang keberadaan Dino. Ia melihat sebuah jaket hitam yang menyelimutinya—dan ia tahu kalau itu bukanlah miliknya.
Midori Tanabiku Namimori no~
Suara Hibird yang bernyanyi membuatmu bangkit dan melihat ke asal suara. Tampak Hibird yang bertengger di telunjuk seseorang dan seseorang itu tampak tersenyum. Senyuman yang selama ini ia rindukan, dan senyuman yang selalu ingin ia lihat sejak sosok itu menghilang.
"Suara nyanyianmu unik—" suara orang itu—mirip dengannya yang ia rindukan, punggung itu yang selalu berada di depannya untuk melindunginya—sangat mirip. Bahkan ia menyangsikan kalau sosok itu bukan orang itu—Dino Cavallone.
"Dino—"
"Kyouya!" sosok itu menoleh—menatap kearah mata hijau milik pemuda itu, Hibari sadar—bukan Dino yang ada di hadapannya itu, "Kau tadi tertidur—tetapi angin bisa masuk kalau jendelamu terbuka seperti tadi, jadi aku menyelimutimu…"
…
Hibari tidak mengatakan apapun—
Ia berjalan mendekati sosok itu—Nathan, dan memegang ujung kemeja yang dikenakan pemuda itu. Hanya menundukkan kepalanya, Hibari tidak mengatakan apapun.
"Kyouya?"
"Kenapa—kau begitu mirip dengannya," suara Hibari tampak lirih, dan Nathan bisa merasakan tangan Hibari yang bergetar, "kenapa kau harus muncul disaat ia tidak ada…"
—
"Akhirnya selesai juga—" Ryouhei yang baru saja menyelesaikan misinya tampak berjalan dengan semangat menuju ke ruangan Tsuna. Langkahnya terhenti—ia mendengar suara rintihan yang berasal dari dekat ruangan Tsuna. Dengan segera, ia berlari—melihat kearah lorong itu dan menemukan beberapa orang yang tergeletak dengan luka yang parah, bahkan ada yang sudah tidak bernyawa. Di tengah mereka, seseorang berdiri dan memegang sebuah pedang panjang—sosok yang mengenakan jubah putih dan juga topeng putih yang menutupi seluruh wajahnya.
"Hei, apa yang kau lakukan!"
Sosok itu menoleh kearah Ryouhei, dan sebelum Ryouhei bisa menyerangnya—sosok itu langsung melemparkan sesuatu hingga asap tebal menyelimuti sekitar mereka. Ryohei tidak bisa berbuat apapun, mengambil handphone yang ada di sakunya, menghubungi Gokudera.
"Takko Head—cepat ke ruangan Sawada, seseorang mencoba untuk—" belum selesai mengatakannya, pandangan Ryouhei berubah kabur dan tubuh Ryohei terjatuh begitu saja tak sadarkan diri.
"Oi Tuft Head—ada apa?" melihat Gokudera yang masih menyalakan handphonenya, sosok misterius itu mengambil—mematikan saluran yang menghubungkannya dengan Gokudera.
—
Masih dalam keadaan terdiam—Hibari maupun Nathan tidak bisa memulai pembicaraan. Kali ini benar-benar tidak bisa, karena mereka berada di dalam fikiran masing-masing. Keheningan itu terpecah, ketika sebuah ledakan terdengar dari markas Vongola. Membuat Nathan menoleh begitu juga dengan Hibari.
"Suara apa itu!"
Tidak menggubris Nathan, Hibari langsung berlari dan menuju ke markas Vongola.
"Kyouya—tunggu!"
—
"Juudaime!" Gokudera yang tadi mendapatkan peringatan dari Ryouhei langsung bergerak menuju ke tempat Tsuna. Mencoba untuk melindunginya, Vongola Gear miliknya sudah siap berada di tangannya.
"A—ada apa ini Gokudera-kun?"
"Tuft Head diserang oleh seseorang—dan ia berkata sebelum terputus salurannya, kalau seseorang mencoba untuk menyerang anda," Gokudera bergerak mendekati Tsuna, siap siaga untuk mengantisipasi adanya serangan mendadak. Dan benar saja, tiba-tiba sebuah ledakan sukses membuat pintu ruangan Tsuna hancur, menampakkan sosok misterius yang menyerang Ryouhei.
"Siapa kau!" Gokudera berada di depan Tsuna, melindunginya dan tidak akan membiarkan orang itu menyerang Tsuna sedikitpun. Tetapi tiba-tiba orang itu sudah ada di depan Gokudera, menebas kepalanya hingga putus di depan mata Tsuna. Melihat tangan kanan sekaligus sahabatnya itu tewas terbunuh dengan cara yang mengenaskan, Tsuna tampak shock. Semua berjalan dengan tiba-tiba dan cepat.
"Go—kudera-kun?"
…
Sosok itu menghentakkan pedangnya, hingga darah milik Gokudera mengotori lantai. Kali ini ia menatap kearah Tsuna dengan tatapan dinginnya. Tsuna mencoba untuk melawan, tetapi—
'A—ada apa ini, aku tidak bisa bergerak…'
Tubuhnya bergetar—ia mencoba untuk bergerak tetapi tidak bisa. Seakan semuanya mati rasa—bahkan untuk menggerakkan satu jari saja ia tidak mampu. Sementara orang itu semakin dekat dan pedang itu sudah dekat dengan tubuhnya.
—
"…me…Juudaime…Juudaime!"
Pemandangan mengerikan itu menghilang—hanya menjadi sebuah ruangan yang rapi dan juga bersih tanpa ada darah. Bahkan Gokudera tidak tewas maupun terluka, hanya ada Tsuna yang tampak shock dengan pemandangan yang tidak nyata yang terjadi di alam fikirannya.
Ya—semua itu hanya ilusi, dan Tsuna masih terperangkap di dalamnya. Dan mata hijau Gokudera menatap ke sosok yang ada di depan ambang pintu. Sosok yang memakai jubah putih dan topeng itu bukan ilusi—ia hanya berdiri, diam dan tidak melakukan apapun dengan pedang panjang yang ada di tangannya.
"Brengsek, apa yang kau lakukan!"
Baru saja Gokudera akan bangkit dan menyerang orang itu ketika sebuah tonfa melayang dan mengenai orang itu dengan telak. Di belakangnya, tampak Nathan dan juga Hibari yang datang karena ledakan itu. Sejenak, tatapan Nathan tertuju pada sosok itu begitu juga dengan Hibari. Tetapi dengan segera ia bergegas dan berlari menuju ke tempat Tsuna. Sementara Hibari menatap kearah orang itu.
"Decimo, kau tidak apa?"
"Ia tampak ketakutan, tetapi aku tidak tahu sebabnya—" Gokudera tampak sangat cemas dengan Tsuna dan menatap kearah Nathan.
"Ilusi—" mengangkat tangannya, dan menyelimutinya dengan flame berwarna indigo—ia menutup mata Tsuna dan membukanya kembali. Tatapan Tsuna yang semula kosong tampak kembali seperti semula, dan kesadarannya perlahan kembali.
"Go—Gokudera-kun, Nate-san…"
"Syukurlah kau sudah sadar Decimo—kau terkena pengaruh ilusi…"
"Untung saja Nathan menyadarkanmu, dan Hibari menahan—"
DHUAGH!
Suara yang keras itu membuat mereka bertiga menoleh—menemukan Hibari yang terpental dan tampak kesakitan. Orang itu, bukan hanya tidak mendapatkan serangan dari Hibari lagi, tetapi ia berhasil membuat Hibari terluka.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan—" nada dingin Hibari tampak muncul seiring tatapannya yang tajam kearah sosok misterius itu. Tangannya tampak bergetar, tidak bisa bergerak—sementara tonfanya terjatuh begitu saja di sampingnya.
"Kyouya!"
Tidak ada yang bisa ia lakukan—entah kenapa kedua tangan dan kakinya tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa menghindar ataupun menyerang orang itu. Sementara sosok itu sudah siap dengan pedang panjangnya, hendak membunuh Hibari yang ada di depannya.
"Kyouya, awas!" suara itu membuatnya menoleh—melihat sosok Nathan yang berdiri dan berlari menghampirinya. Semuanya seakan berjalan lambat, sosok itu seakan menmpuk dengan bayangan Dino. Dino yang selalu ada disaat ia membutuhkan—Dino yang selalu memberikan seluruhnya untuk bersama dengannya, Dino yang—
—ia tidak ada…
Lalu kenapa bayangan itu selalu ada setiap ia melihat Nathan?
Apakah karena ia menginginkan Dino kembali?
Apakah karena ia menganggap Nathan sebagai bayangan dari Dino?
Semuanya menjadi terhalangi—sesuatu tampak menghalangi pandangannya. Kehangatan yang ia kenal tampak menyelimutinya, kehangatan yang ia rindukan.
"Bodoh—kenapa kau tidak menghindar—Kyouya…"
Hibari terkejut—melihat sosok yang ada di hadapannya, yang perlahan tampak melemas dan ketika ia menangkap tubuh itu, darah segar langsung memenuhi tangannya. Nathan, yang berlari dan mencoba melindungi Hibari malah terluka karena serangan dari sosok misterius itu.
"Nate-san!"
"Tch—" Gokudera menyalakan beberapa dinamit dan melemparnya kearah sosok misterius itu. Tetapi, ketika asap yang diakibatkan oleh dinamit menghilang, sosok itu juga menghilang bagaikan menyatu dengan asap itu.
"Nate-san, kau tidak apa-apa?"
Tidak ada jawaban dari yang bersangkutan—sementara Hibari hanya bisa terdiam dan melihat sosok itu yang tidak sadarkan diri dengan darah yang cukup banyak keluar dari punggungnya.
"Nate-san!"
—
"Ittei—Kyouya, jangan terlalu keras!"
Di ruangan perawatan, Nathan yang terluka tampak mendapatkan 'perawatan' dari Hibari. Tetapi, sepertinya Hibari malah menambah sakit yang ia rasakan. Membuat Nathan beberapa kali mengaduh kesakitan.
"Salahmu sendiri terluka, aku tidak pernah meminta bantuanmu…"
"Tetapi—kalau aku tidak menyelamatkanmu, kau yang terluka…" Nathan memegangi punggungnya yang sudah ditutupi oleh perban dari Hibari itu.
"Aku tidak butuh—"
"Ne, Kyouya—" tatapan bodoh itu tiba-tiba berubah menjadi tatapan sedih dan serius. Membuat Hibari menghentikan 'perawatannya' dan menatap kearah Nathan, "—kau juga menyadarinya bukan?"
…
"Penyerang itu—salah satu anak buah Scivollone," Nathan tampak menghela nafas panjang, "Sepertinya aku dikhianati lagi…"
Hibari tidak merespon apapun—
"Aku tidak akan pernah mendapatkan seseorang yang bisa kupercaya seperti Dino…"
"Jangan berbicara hal bodoh seperti itu—Dino adalah Dino, dan kau adalah kau…" Hibari menatap Nathan—hanya menatap mata hijaunya dalam-dalam, "sebenarnya kau—"
"Nate!" seseorang berambut putih tampak muncul bersama dengan Romario. Hibari dan juga Nathan langsung menoleh—dan pemuda itu langsung berlari dan memeluk Nathan yang ada di atas tempat tidur, "syukurlah sepertinya kau baik-baik saja, kudengar kau terluka!"
"So—Sorero-san, aku terluka—dan kau bisa membunuhku kalau tidak melepaskan pelukanmu," pemuda bernama Sorero itu tampak menekan luka di punggungnya, membuat Nathan mengaduh kesakitan.
"Ah, maafkan aku—"
Nathan menghela nafas lega, tetapi tatapannya beralih pada Romario.
"Kenapa boss bersama Romario-san?"
"Ah—ada yang ingin dibicarakan dengannya," Sorero, menunjuk Romario yang tampak cemas dengan keadaan Nathan, "dan mulai minggu depan, kau dibebastugaskan…"
…
"Eh?"
"Ya—kau tidak perlu melakukan misi di Vongola lagi…"
"Minggu depan?"
Sorero mengangguk—
"Tidak perlu menjalankan misi lagi?"
Lagi-lagi ia mengangguk—
"Kenapa?"
"Karena kau akan mendapatkan misi baru—" menunjuk kearah Nathan, pemuda bernama Sorero itu memutuskan seenaknya saja, "—kau akan menggantikan posisi Dino Cavallone untuk sementara waktu sampai kita bisa mengentahui keberadaannya…"
…
"Huh?"
—
"Aku tidak percaya ia akan melakukan ini," berada di ruangan Tsuna, Nathan tampak berbincang dengan Tsuna. Semenjak bantuannya dalam penyerangan kecil di Vongola, Nathan semakin mendapatkan kepercayaan penuh dari Tsuna. Dan sekarang, ia berada di ruangannya setelah beberapa hari yang lalu mendapatkan misi baru yang mendadak, "bagaimana bisa dengan entengnya ia menyuruhku menggantikan posisi Dino? Apakah ia lupa kalau aku hanyalah seorang guardian dan Dino adalah seorang Don mafia?"
"Jangan merendahkan dirimu—kekuatanmu juga hebat kok," Tsuna tertawa riang dan menatap kearah Nathan, "kekuatanmu pasti berguna—dan kemiripanmu dengan Dino, pasti tidak akan ada yang menyadari kalau kau bukan Dino…"
"Aku tahu—tetapi, apakah aku bisa mendapatkan kepercayaan dari Cavallone Famiglia?"
"Aku percaya—kau pasti akan bisa mendapatkannya," Tsuna tersenyum dan menepuk pundak Nathan, "buktinya, aku sudah mempercayaimu sekarang…"
Nathan terkejut, menatap kearah Tsuna yang mengangguk, sebelum membalas senyumannya.
"Terima kasih Decimo—"
—
Menghela nafas berat, Nathan tampak keluar dari ruangan Tsuna dan berjalan menelusuri lorong Vongola HQ dan berakhir keluar dari tempat itu. Menatap cahaya matahari yang menyinari saat itu, ia melihat Hibird yang terbang di dekatnya.
"Hei Hibird—" ia mendekat, dan Hibird tampak terbang perlahan seakan ingin memberitahu keberadaan seseorang disana. Dan ketika Nathan mengikutinya, ia melihat Hibari yang berdiri di tepi danau dan membelakanginya, "—Kyouya…"
"Kenapa kau ada disini…"
"Karena aku ingin menemuimu—untuk menanyakan tentang misi yang aku dapatkan kemarin," Hibari berbalik menatap Nathan dengan tatapan bingung.
"Kenapa kau bertanya padaku—kau yang akan menjalankannya…"
"Karena saat ini, hanya kau yang paling mengerti sosok Dino," Hibari terdiam—tidak bisa merespon apapun dan menunggu kelanjutan perkataan Nathan, "apakah—aku pantas untuk menggantikan Dino, walaupun hanya sejenak?"
…
"Seperti yang aku katakan—kau adalah kau, dan Dino adalah Dino. Tidak akan ada yang bisa menggantikan sosokmu atau sosoknya…" menutup matanya, Hibari menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "tetapi kau sudah mendapatkan kepercayaan untuk menggantikannya, maka jangan sampai menghancurkan kepercayaan mereka…"
…
"Ya—aku mengerti…"
—
"Sudah lama aku tidak kemari," seminggu kemudian, dan Nathan sudah berada di markas Cavallone bersama dengan Romario. Menatap sekelilingnya, beberapa anak buah tampak terkejut dengan kemiripan Nathan dengan Dino yang hanya dibedakan oleh warna mata.
"Yang kuingat, terakhir kali anda kemari ketika usia anda 6 tahun—" membuka sebuah ruangan yang cukup besar—tempat Dino bekerja biasanya. Tampak rapi dengan beberapa kertas yang ada di atas mejanya.
"Ya, aku dan Dino sering bersembunyi disini," tertawa, Nathan membuka lemari yang ada disana—cukup besar untuk menjadi persembunyian, "dan ayah Dino selalu bisa menemukan kami…"
Berbalik, melihat kearah atas meja—tumpukan kertas yang menggunung. Tatapannya menjadi horror dan berbalik menatap Romario.
"A—apa ini Romario?"
"Ini adalah beberapa berkas yang harus anda baca—karena ada beberapa informasi Cavallone yang belum anda ketahui dan harus anda pelajari," Romario tersenyum, dan Nathan hanya bisa terdiam dan duduk di atas kursi. Mengambil beberapa kertas dan mencoba membacanya, "aku akan ada di dekat sini kalau anda membutuhkan sesuatu…"
"Terima kasih Romario-san…"
BLAM!
Suasana disana menjadi sepi—Nathan tampak dengan serius membaca laporan yang ada disana, tidak menyadari seseorang berdiri tepat di belakangnya, di beranda yang terbuka lebar begitu saja. Sosok berjubah putih dengan topeng putih yang menutupi seluruh wajahnya—sosok misterius yang menyerang Tsuna. Ia berdiri, dan berjalan mendekat dengan pedang panjang di tangannya.
Dan dalam hitungan detik, pedang itu sudah menempel di leher Nathan, membuatnya tersentak dan melirik ke belakang. Keringat dingin membasahi wajahnya, dan ia menelan dalam-dalam ludahnya.
…
Ia tidak berani berteriak, dan sosok itu tidak melakukan apapun—
Angin berhembus kencang—hujan tampak mulai turun dan membasahi sebagian ruangan yang berada di dekat beranda yang terbuka.
"Hmph—" suara itu memecah keheningan, senyuman simpul tercipta di wajah Nathan saat itu, "—hahahaha!" menutup kedua matanya dengan sebelah tangan, Nathan mendorong mundur pedang yang ada di lehernya.
"Sandiwara yang sangat bagus—" memegangi matanya dan menundukkan kepalanya, Nathan tampak masih tertawa kecil dan menutup matanya. Ketika tangan itu dilepas olehnya, mata hijau tosca itu berubah—
Warnanya berubah, dan muncul warna merah darah yang disertai perubahan raut wajah yang sangat drastis dari Nathan. Tidak ada senyuman lembut, tidak ada rasa takut, dan hanya ada senyuman kemenangan dan kesenangan. Menoleh kesamping—sosok itu tampak menurunkan pedangnya, menunduk kearah Nathan.
"Penyerangan itu—benar-benar rencana yang sempurna," menepuk kepala orang itu, Nathan tampak tersenyum dingin dan menatap kearah depan, "aku tidak menyangka akan bisa mendapatkan kepercayaan mereka begitu saja…"
"Dan dengan keberadaanku disini—" melepaskan penutup kepala sosok itu perlahan, Nathan mengelus rambut kuning milik pemuda berjubah putih itu. Dan tangannya kini menyentuh topeng putih yang menutupi wajah sosok itu, "—ternyata rencana untuk membuatmu menghilang itu sangat berhasil sampai sekarang, dan aku bisa menghancurkan keluarga Cavallone sekaligus Vongola dengan memanfaatkan kepercayaan mereka…" topeng itu terlepas—menampakkan sosok yang tidak asing lagi.
"Benarkan—Dino?" sosok misterius berjubah putih itu—yang melakukan penyerangan di markas Vongola, tidak lain tidak bukan adalah sosok sang Don Cavallone yang menghilang. Dan saat ini, tatapannya tampak kosong—seakan tidak memiliki jiwa yang bersemayam di dalam tubuhnya.
(Dan hanya suara tawa dan juga petirlah yang terdengar malam itu—)
—
Betrayal | End
—
Selesai! ^^ Gimana, ceritanya gaje? Garing? Atau sangat dibawa standart?
Di chapter ini, keliatan kalau sebenernya yang dilihat Hibari di Chapter awal bukan Dino—tapi OC author yang merupakan sepupu Dino, yang secara fisik sangat mirip dengan Dino. Dan hanya perbedaan warna mata yang menjadi pembeda mereka.
Dan tentu saja ia akan mendapatkan peran antagonis
Ingin tahu kelanjutannya?
Ditunggu RnRnya~ ;)
