KHR © Amano Akira
—
Katekyo Hitman Reborn : Cavallone arc
—No matter where you are, I always with you—
D18OC, 8059, 1006927, R27 Romance/Angst
Warning: OOC, OC, semi-AU, Shonen Ai
—
The Tattoes
—
"Ayah—" anak kecil berambut kuning pucat itu tampak menoleh kekiri dan kekanan ditengah kegelapan yang ada ditempat itu. Mata hijaunya seakan menyala ditengah kegelapan itu. Bau anyir darah, begitu juga dengan genangan air hujan yang tampak membasahi lantai karena jendela yang pecah hanya bersisa bingkai. Dindingpun tampak retak—semuanya tampak hancur. Kaki kecilnya terus berjalan hingga sampai disebuah ruangan yang berada diujung lorong gelap itu. Membuka pintu besar disana, menatap ruangan gelap yang sepi—menemukan sosok ayahnya yang tergeletak—
—tidak bergerak, tidak bernafas.
Ia sudah cukup besar untuk mengetahui kalau ayahnya sudah tidak ada. Dan air matanya tampak turun, dan ia hanya menatap semua yang ada disekitarnya itu dengan tatapan kosong.
'Aku akan melindungi dan membantumu kapanpun, karena kau adalah keluargaku juga,' bayangan sepupunya itu tampak muncul dibenaknya, juga perkataan dari sepupunya.
"Kenapa—" terduduk, menatap seluruh isi dari manshion tempatnya dan keluarganya tinggal. Sudah hancur dan tidak bersisa, hanya ada dia yang bahkan masih berusia 6 tahun saat itu, "—kau sudah berjanji bukan? Kenapa kau tidak datang, Dino..."
Suara petir tampak menghiasi malam itu, dan hujan kembali turun membasahi sosok anak kecil itu—yang berjalan dengan tatapan kosong, meninggalkan manshion yang sudah berubah menjadi puing bangunan itu. Baru saja ia melangkah beberapa langkah, sudah ada beberapa orang yang menghalangi jalannya untuk keluar.
"Masih ada yang hidup—apa yang harus kita lakukan?"
"Tentu saja bunuh—kita harus menghancurkan keluarga Orgoglio ini tanpa tersisa," salah seorang pria tampak mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada anak itu—yang hanya mengarahkan pandangannya pada moncong pistol itu dengan tatapan kosong. Biar saja—tidak ada lagi tujuannya untuk hidup. Tidak akan ada yang bersedih jika ia tewas—
—tidak akan ada...
Tetapi—jika ia hidup, ia bisa melakukan satu hal. Hanya satu hal, yang menjadi tujuannya untuk hidup—
—balas dendam...
Pada musuh yang menghancurkan keluarganya, dan juga pada Cavallone—Dino Cavallone...
Tangannya bergerak, memegang pistol yang ada didepannya. Membuat beberapa orang itu terkejut dan menatap anak itu yang kini menundukkan kepalanya.
"Kalau kau menarik pelatuk itu sedikit saja—" mendongak dan melirik kearah orang itu, mata hijaunya langsung berubah menjadi merah—semerah darah, "—aku pastikan kau akan menyesal..."
"A—apa-apaan anak ini!" Tiba-tiba tampak kabut berwarna ungu yang menghalangi pandangan mereka. Anak itu hanya diam ditengah kabut itu, hingga pada akhirnya—ketika kabut itu menghilang, hanya ada dia yang berdiri ditengah sosok orang-orang yang menyerangnya tadi—dalam keadaan gosong tak bernyawa.
"Ya—kau harus tetap hidup, hidup untuk balas dendam—Nate..."
"Kau yang melakukan semua ini?" Lagi-lagi sosok yang tampak berbeda dari sebelumnya. Kini memakai jas putih dan memayungi anak itu dengan payung berwarna merah darah. Membungkuk sedikit dan mengusap kepalanya, "kau ingin tetap hidup bukan?"
...
"Kau siapa?"
"Tidak penting mengetahui namaku sekarang—bagaimana kalau kau ikut denganku?"
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu—" masih menatapnya dengan warna mata merahnya, dan orang itu tampak tersenyum dingin kearahnya.
"Karena saat ini, hanya satu orang yang bisa kau percayai—yaitu aku..."
...
"Kau tidak akan menyakiti'nya'?"
"Tidak akan—" masih dengan senyuman yang tersungging dibibirnya, "—aku akan membantumu untuk balas dendam..."
...
"Itu terserah padamu—percaya atau tidak padaku."
"Jika kau berani melukainya—aku akan membunuhmu saat itu juga," anak itu menatap sosok pria itu yang mengulurkan tangannya dan segera dibalas olehnya—berjalan menjauhi tempat itu, seakan tidak ada yang terjadi disana.
"Lalu siapa namamu?"
...
"Noa—namaku adalah Noa..."
—
"...an...Nate-san..." Suara itu tampak menggema seiring dengan pemandangan masa lalu yang semakin memudar. Membuka matanya, menyipitkannya kembali ketika cahaya terang memasuki matanya, "kau bisa sakit jika berada disini..."
"Sepuluh menit lagi Romario-san," menggeliat, mengibaskan tangannya untuk melepaskan tangannya yang menggoyangkan tubuh Nate untuk membuatnya bangun.
"Tetapi—Kyo-san sudah—"
"Kau terlalu lembut herbivore," suara yang tidak asing lagi itu tampak mendekat, hingga terhenti didepan sosok Nate yang sedang tertidur. Mengangkat kedua senjatanya, hingga—
DHUAK!
—terpental dari kursinya dan membentur dinding yang ada dibelakangnya.
"Ow—apa-apa—!" Nate yang pada akhirnya terbangun, menatap kearah depan untuk menemukan Hibari yang berdiri serta Romario yang tampak berfacepalm ria sambil menatap dengan raut wajah khawatir, "—Kyouya? Kenapa kau ada disini?"
"Tsunayoshi memintaku untuk membantumu selama beberapa hari ini," Hibari menyimpan kembali tonfanya dan mengambil sesuatu dari rak yang ada ditempat itu—sebuah spidol berwarna biru dan juga beberapa warna lainnya.
"Untuk apa itu Kyouya?"
"Satu-satunya yang mencolok yang bisa membedakan kau dan juga Haneuma adalah kau tidak ada tatto api biru miliknya—tentu saja aku akan menggambarnya," Hibari berjalan mendekat, sementara Nathan tampak mundur seiring dengan langkah maju Hibari.
"A—apakah itu perlu?"
"Merepotkan—tetapi, akan lebih merepotkan kalau kau ketahuan." Hibari berjalan kembali, dan akhirnya membuat Nathan terpojok diantara dirinya dan juga dinding, "jangan lari..."
"Baiklah-baiklah, tetapi berhenti disana—jarak kita terlalu dekat!" Tampak tertawa gugup, pada akhirnya Nathan duduk dan membiarkan Hibari membuat hasil karyanya.
—
"Selesai," Hibari menjauhkan spidol dari leher Nathan, sementara yang bersangkutan tampak menggerakkan leher karena pegal beberapa saat tadi tidak bisa menggerakkan lehernya karena ancaman dari sang karnivore akan menggigitnya sampai mati.
"Aku ingin lihat—" Nathan mencoba menatap cermin untuk menemukan lukisan yang harusnya bergambar tatto Dino, tetapi yang ada disana gambaran yang lebih mirip abstrak dibandingkan replika tatto Dino.
...
"Ahaha—" Nathan tampak menutup mulutnya menahan tawa melihat hasil karya Hibari itu. Tetapi segera berhenti ketika melihat Hibari yang sudah siap dengan tonfanya, "ma—maaf! Maaf! Jangan pukul aku! Aku akan coba untuk membenahinya..."
Menatap kearah cermin dan mencoba untuk membenahinya—butuh waktu cukup lama untuknya menyelesaikan replika itu, hingga akhirnya ia selesai mengerjakannya.
"Baiklah, selesai!"
...
Hibari hanya diam melihat kearah Nathan yang belum menyembunyikan senyumannya. Hasil yang terlihat—bahkan lebih, berantakan daripada yang dibuat oleh Hibari. Dan sekarang pakaiannyapun tampak kotor oleh noda spidol.
"Apakah kau bodoh?"
"E—eeeh! Susah untuk melukis leher sendiri!" Nathan tampak membela diri sambil menatap kearah Hibari yang hanya menatap Nathan dalam diam, "kalau melukis normal tentu saja aku bahkan lebih pintar dari Dino..."
—Flash Back—
"Ahahaha," suara tawa renyah Dino terdengar dari atap Namichuu saat Dino berada disana bersama dengan Hibari. Duduk diatas lantai dan melihat Hibari yang sedang menggambar pemandangan disana, "aku tidak menyangka kalau Kyouya lemah dalam hal menggambar..."
"Berisik Haneuma—" Hibari sudah siap dengan dua tonfa ditangannya.
"A—aku akan membantu, jadi jangan buat keributan oke?" Dino mencoba menenangkan Hibari dan itu berhasil ketika melihat Hibari yang menurunkan tonfanya, dan Dino mulai melukis diatas kertas itu. Tetapi—satu hal yang dilupakan oleh Hibari adalah kecerobohan Dino ketika tidak ada Romario seperti sekarang. Dan baru saja ia mengatakan itu, beberapa menit kemudian gambarannya sudah hancur dan beberapa noda tampak berceceran didekat mereka bahkan mengenai tonfanya. Dan sekarang, bahkan Dino mencoba untuk menggambarkan sesuatu ditangan Hibari—replika tatto yang mirip dengan miliknya.
...
"Bagaimana, bukankah itu bagus?" Dino menatap kearah Hibari yang sudah berdiri dan menatapnya dengan tatapan tajam. Tonfa sudah berada ditangannya dan siap menyerang Dino, "K—Kyouya ada apa..."
"Kau malah menghancurkan gambaranku, dan mengotori tonfaku—kamikorosu..."
"Tu—Tunggu Kyouya, aku tidak sengaja!"
—
"Selesai!" Nathan berteriak membuat Hibari tersadar dari lamunannya untuk menemukan punggung tangannya yang sudah dilukis dengan replika sempurna dari tatto Cavallone, "bagaimana? Aku bisa kan?"
...
"Kenapa kau mencoretnya ditanganku bodoh—"
"A—aku hanya," jeda sedikit dari perkataannya sebelum melanjutkannya kembali, "iseng..."
...
"Kamikorosu—"
"U—uwaa, Kyouya maaf aku tidak akan melakukannya lagi!" Nathan mencoba untuk menghindari serangan tonfa Hibari yang mengarah padanya. Dan pada akhirnya mereka malah bertarung diruangan itu hingga Romario datang dan melihat kekacauan itu.
—
"Baiklah, seperti ini selesai—" Romario menunjukkan duplikat tatto dileher Nathan yang dibuat dari tatto yang bisa dihapus dengan air. Setelah berhasil meredakan pertengkaran Hibari dan Nathan, Romario memutuskan untuk membantu mereka membuat replika dari tatto api biru itu.
"Ya—terima kasih Romario-san!"
"Bukan masalah, sebaiknya anda segera mengganti baju yang sudah saya siapkan Nate-san, karena mulai jam 10 pagi ini jadwal anda akan padat hingga malam," Romario melihat jam yang menunjukkan pukul 9 pagi itu.
"Kau bercanda kan..." Nathan hanya berfacepalm ria mendengarnya.
"Aku akan menemuimu lagi besok..." Dan Hibaripun berlalu dari sana.
"K—Kyouya jangan tinggalkan aku!"
—
'Kenapa aku harus hidup...' Ditengah kegelapan, anak itu hanya meringkuk—menenggelamkan wajahnya disekitar lutut yang ia peluk. Tatapannya tampak kosong, dan ia tampak tidak memiliki semangat hidup sama sekali, 'aku tidak mengerti kenapa aku tidak mati saja...'
"Kau benar-benar ingin mati?" Mendongakkan kepalanya, menatap kearah sosok anak kecil lainnya yang berada disana, "kau tidak ingin balas dendam? Cavallone yang kau anggap sebagai keluargamu—Dino Cavallone yang sudah kau anggap kakakmu sendiri, meninggalkanmu sendiri seperti ini. Membiarkan keluargamu dibantai tanpa ada pertolongan sedikitpun darinya..."
"Kau siapa..."
"Aku adalah—"
—
"Nathan-san, kita sudah kembali—" Romario membangunkan Nathan yang tertidur didalam mobil setelah seharian sibuk dengan pertemuan dengan famiglia lainnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi, dan Nathan tampak terbangun dengan keadaan setengah sadar.
"Sudah sampai ya..." Berjalan keluar dari mobil, Nathan mencoba untuk masuk kedalam manshion meskipun tampak beberapa kali akan jatuh karena terlalu lelah, pada akhirnya ia tiba didepan kamarnya bersama dengan Romario.
"Apakah anda tidak apa?"
"Ya—" tersenyum dan membuka pintu kamarnya, berbalik kembali dan tersenyum lebih lebar sebelum menundukkan sedikit kepalanya, "—selamat tidur Romario-san..."
...
Menutup pintu kamarnya, berjalan menuju ke kaca ruangan itu—menatap replika sempurna dari tatto yang ada dilehernya. Ia tidak menginginkannya—jujur, ia benar-benar membenci apa yang sekarang terukir di lehernya itu.
PRAK!
Sebuah jarum yang cukup panjang dan juga tebal itu sukses menancam dikaca, membuat kaca itu pecah dan tidak bisa merefleksikan bayangannya lagi. Nathan menatap kaca itu dengan tatapan benci—ia memang tidak menyukai cermin, yang seolah menunjukkan wajah yang mirip dengannya itu. Wajah yang ia sayangi dulu—tetapi sekarang menjadi sosok yang sangat ia benci.
Kali ini menatap kearah foto yang tergeletak diatas meja diruangan itu, fotonya kecil bersama dengan Dino yang berusia 2 tahun diatasnya. Sebuah surat pendek tampak disebelahnya, dan ia langsung membacanya.
'Saya menemukan benda ini di laci boss—saya harap anda senang melihatnya Nathan-san ^,,,^'
...
"Senang?" Tertawa sarkasis, mengambil pisau saku dikantong celananya dan menancapkannya difoto itu—tepat dibagian Dino. Menundukkan kepalanya diatas foto itu—sebelum mendongak untuk menemukan senyuman yang disertai tatapan mata yang berwarna merah darah itu.
"Yang benar saja—tidak ada dari semua yang aku lakukan ini, yang kusukai..." Menutupi sebelah matanya, menatap kearah luar, "bahkan diriku sendiri..."
—
The tattoes | 3, End
—
