~Shooting Star~
Disclaimer : Naruto bukan punya saya, kecuali Masashi Kishimoto-sensei ikhlas mewariskannya pada saya :D
Rated : semoga T sampai akhir
Pair : SasuNaru
Warn : BL/Shounen-ai, OOC, gaje, lebay, typo(s), DON'T LIKE DON'T READ
~"~"~
Chapter 3. Meeting
.
.
Kushina terlihat sangat panik akan kondisi Naruto yang tiba-tiba saja memburuk. Minato dan Deidara segera meluncur ke rumah sakit saat mendengar kabar itu dari Kushina. Wanita berambut panjang merah marun itu terisak di pelukan suaminya. Deidara duduk menunduk di kursi depan kamar Naruto, tangannya menutupi wajahnya, menyembunyikan bendungan di matanya yang hamper jebol karena sangat khawatir pada adiknya.
"Naru-chan.." Kushina terus menerus menyebut nama putra bungsunya dengan suara yang memilukan, Minato menenangkannya namun perasaannya juga tidak kalah kalut dari istrinya.
Di tengah kekalutan itu, handphone Deidara bergetar.
Itachi calling
Kenapa anak ini harus menelepon di saat seperti ini. Shit! Deidara mereject panggilan Itachi, dia sedang tidak ingin bertengkar dengan Itachi saat ini, tidak di saat ia sedang kalut memikirkan adiknya.
Sekali lagi handphone Sony Ericsson XperiaPlay-nya bergetar.
Itachi calling
Deidara tetap mengabaikannya.
15 kali Itachi mencoba menghubungi Deidara, namun tidak ada jawaban yang didapatkannya. Itachi terus menelepon nomor Deidara walaupun hatinya sangat dongkol. Jika bukan karena Sasuke, dia tidak akan pernah menelepon Deidara seumur hidupnya.
Itachi calling
Kali ini Deidara memutuskan untuk mengangkatnya, namun dia beranjak ke toilet sebelum menerima telepon dari Itachi.
"Apa yang kau mau? Aku sibuk bodoh!", bentak Deidara.
"Kenapa kau lama sekali? Aku akan pulang ke konoha malam ini juga. Kita harus bicara besok, jadi kau harus masuk sekolah", Itachi memerintah dengan nada datar.
"Aku tak punya urusan denganmu, jangan memerintahku seenaknya".
"Aku melakukannya untuk adikku, aku ingin tahu keadaan adikmu".
"Apa maksudmu?".
"Adikku sedang dalam perawatan, dia terus menanyakan keadaan Naruto. Dia merasa bersalah jika sampai Naruto celaka. Detailnya akan kuceritakan besok saat di sekolah, jadi datanglah lebih awal. Kutunggu kau di kelas", Itachi memutuskan sambungan tanpa meminta persetujuan Deidara terlebih dulu. Itachi sangat yakin kalau pemuda pirang itu pasti akan datang besok sesuai instruksinya.
Deidara kembali bergabung bersama orang tuanya. Bersamaan dengan itu, dokter dan perawat juga keluar dari kamar rawat Naruto. Kushina dan Minato segera mendekati dokter untuk menanyakan keadaan Naruto, Deidara juga turut mendengarkan penyampaian dokter.
"Keadaannya sudah stabil sekarang", dokter menenangkan keluarga yang tengah panik itu.
"Apa yang terjadi pada anakku, dokter?", Kushina bertanya dengan wajah pucat.
"Dia mengalami masa pemulihan lebih cepat dari dugaan, memorinya kembali secara perlahan. Namun, efek sampingnya adalah rasa sakit yang cukup menyiksa di kepalanya seperti yang tadi", dokter menjelaskan dengan tenang.
"Jadi kami harus bagaimana, dok?", Tanya Minato.
"Ini hal yang baik, tapi usahakan agar Naruto tidak memaksakan dirinya".
Minato lalu mengucapkan terima kasih pada dokter, member isyarat pada Deidara agar menemani Kushina sementara dia mengikuti dokter untuk urusan administrasi dan beberapa keperluan Naruto selama di rumah sakit.
"Kaa-san, Naru-chan akan baik-baik saja", Deidara merangkul ibunya dan membawanya masuk ke kamar rawat Naruto. "Naru-chan kan anak yang kuat".
"Dei-chan, apa kau tahu tentang Sasuke?", Kushina bertanya lirih pada putra sulungnya. Deidara agak kaget mendengar pertanyaan ibunya.
"Sasuke? Maksud kaa-san, Uchiha Sasuke?", Deidara balik bertanya.
"Entahlah, Dei-chan. Naru-chan hanya menyebut Sasuke. Siapa dia?", Kushina didudukkan di sofa samping ranjang Naruto oleh Deidara.
"Uchiha itu teman akrab Naru-chan. Mereka sudah berteman sejak SMP", Deidara mengatakan semua yang dia tahu tentang Sasuke. " Mereka itu rival sekaligus sahabat. Mereka sangat dekat, Kaa-san. Saat Naru-chan hamper ditabrak bus, sasuke yang menyelamatkannya, Sasuke yang ditabrak bus. Itu kudengar dari detektif Obito. Mungkin karena melihat Sasuke yang menyelamatkannya dan akibat tumbukan keras di kepalanya makanya Naru-chan jadi seperti ini sekarang".
"Apa dia seseorang yang berharga untuk Naru-chan?", Tanya Kushina lagi.
"Entahlah, Kaa-san. Kurasa begitu", jawab Deidara. Dia bingung harus menjawab bagaimana, perasaannya mengatakan kalau Sasuke memang berharga untuk Naruto, tapi entah kenapa dia belum yakin akan perasaannya itu.
Ibu dan anak itu akhirnya larut dalam pikiran masing-masing dengan pandangan mereka tetap tertuju pada Naruto. Raut wajah khawatir dan sedih masih setia menemani mereka.
.
.
.
"Dimana aku?", Naruto memandangi sekelilingnya, berusaha mengenali atau paling tidak menebak dimana dia saat itu.
"Pasti mimpi lagi", gumamnya pelan menyadari dia sedang berdiri di atap rumah sakit. "Apa anak itu akan muncul lagi?", tanyanya pada dirinya sendiri.
Pemuda bermata onyx yang dimaksud Naruto langsung menampakkan dirinya dengan segera dari balik pintu besi berwarna putih yang sudah kusam.
"Kenapa mencariku, Dobe?", tanyanya dengan senyum tipis menghiasi wajah putihnya.
"Katakan siapa kau sebenarnya. Apa kau mengenalku? Apa aku mengenalmu?", Naruto balik bertanya dengan tampang penasaran dan mata birunya langsung menatap lekat-lekat mata onyx pemuda itu. Naruto merasa mata onyx itu sangat indah, tidak asing baginya, memancarkan kehangatan yang berbeda pada diri Naruto.
Pemuda yang ditanya hanya tersenyum hangat, tidak ada tanda dia akan menjawab rasa penasaran Naruto.
"Jawab aku, Teme!", Naruto mulai terlihat kesal.
'Aku memanggilnya Teme?' batin Naruto.
"Panggil aku pangeran tampan, Dobe".
"Kenapa harus? Aku tidak mengenalmu".
"Kau hanya tidak ingat. Ssesungguhnya alam bawah sadarmu ingat segalanya tentang diriku bukan?" .
"Apa maksudmu?", Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia mencoba mencerna perkataan pemuda-irit-senyum itu.
"Mungkin kau akan ingat saat kita bertemu kembali", jawabnya singkat. Seulas senyum tipis kembali menghiasi wajah pemuda berambut raven itu."Kau selalu menyebut namaku".
Pemuda itu melangkah menuju pintu besi dan menghilang dengan cepat meninggalkan Naruto yang masih saja tidak mengerti.
"Sa..su..ke..", gumam Naruto pelan, matanya terus memperhatikan pintu besi yang baru saja dilalui pemuda yang selalu ada dalam mimpinya. Tubuh ringkihnya jatuh perlahan, tidak kuat menahan rasa sakit yang tiba-tiba melanda kepalanya.
.
.
.
Naruto membuka matanya, masih merasakan sakit di kepalanya. Rasa sakit itu mengembalikannya ke dunia nyata. Diperhatikannya sekelilingnya dan memang dia ada di kamar rawatnya saat itu, masih lengkap dengan seragam pasien dan infus yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Siapa sih pemuda itu? Batin Naruto kesal.
Pandangan pemuda blonde itu kini mengarah ke jendela kamarnya, menampilkan langit sore berwarna orange kemerahan yang sangat cantik. Ditariknya nafas panjang melalui hidungnya dan dihembuskannya lagi, beberapa kali. Naruto menerawang jauh ke ufuk, entah apa yang dia terawang. Tatapannya kosong, seperti kehilangan sesuatu.
.
.
.
6 a.m, senin
Itachi Calling
Handphone Deidara bordering dengan lantangnya pagi itu mengalunkan lagu dari YUI berjudul Summer Song. Rupanya Deidara adalah YUILovers sodara-sodara. Dengan enggan Deidara meraih Xperia Playnya dan menjawab panggilan berisik di paginya yang tenang.
"Cepatlah ke sekolah, kau tidak lupa janji kita kan", ujar suara di seberang sana yang dikenalinya sebagai Itachi.
"Kau pikir aku sudah tua sampai harus diingatkan, hah?", bentak Deidara sengit namun, masih dalam keadaan setengah sadar.
"Hanya mengantisipasi, orang bodoh biasanya gampang lupa", jawab Itachi sekenanya yang membuat Deidara sadar 100% dari tidurnya.
"KAU-", belum sempat Deidara menyelesaikannya kalimatnya, Itachi telah memutuskan sambungan. Mari kita bayangkan betapa dongkolnya Deidara pagi itu, tidurnya terganggu, dapat celaan pula dari Itachi. Mungkin hanya suara YUI saja yang terasa baik di telinganya pagi itu (?).
Dengan perasaan dongkol tak terkira, Deidara segera bersiap ke sekolah.
"Kalau bukan karena Naru-chan, akan kuhajar si kuncir kuda itu", ucap Deidara dengan penuh rasa 'damai'.
.
.
.
Itachi duduk bersandar di kursi terdekat dari jendela kelasnya di lantai 2, mata onyxnya terus menatap ke arah gerbang sekolah menanti seseorang. Sesekali terdengar desahan panjangnya, Itachi bukan pribadi yang suka menunggu. Diliriknya jam tangan di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 7.48 a.m, berarti Itachi telah menunggu selama 36 menit.
7.55 a.m
Terlihat sebuah mobil sport berwarna merah melewati gerbang sekolah menuju pelataran parker di dekat lapangan basket, Itachi menjulurkan kepalanya melihat mobil sport Ferrari yang parkir dengan anggunnya tepat di sebelah mobil Ford miliknya. Cih! Apa dia mau pamer, batin Itachi dengan pandangan sinis pada mobil tersebut, dia tahu pasti siapa pemilik mobil itu, pasti Deidara.
Dugaan Itachi memang tidak meleset, itulah mengapa mereka menjadi rival dari dulu sampai detik ini, mereka tidak bisa akur karena sesame tukang pamer. Begitulah sulung Uchiha dan sulung Namikaze itu melewati hari-hari mereka dengan persaingan siapa-yang-paling-hebat. Tapi dibalik itu semua, mereka berdua adalah para kakak yang sangat menyayangi adiknya, mereka gencatan senjata pun demi menolong adik kesayangan masing-masing.
Deidara menapakkan kakinya ke tanah dengan begitu mempesona membuat DFC (Deidara Fans Club) jadi heboh di pagi itu. Itachi yang melihat kerumunan gadis-gadis yang menyoraki Deidara hanya bisa memutar bola matanya, bukannya iri, hanya saja dia tidak habis piker kenapa ada gadis yang bisa suka pada rivalnya itu. Itachi pun punya fans club juga, namanya Itaniac, jumlah anggotanya sama dengan DFC, benar-benar persaingan bukan. Jika DFC adalah kumpulan gadis-gadis nekat yang amat sangat ngefans pada Deidara, sampai bisa menghebohkan suasana sekolah setiap harinya, Itaniac beda lagi, mereka adalah kumpulan gadis yang amat sangat mencintai Itachi dan mendukung segala tindakan Itachi dengan segenap jiwa dan raga tanpa perlu melakukan tindakan heboh seperti berteriak-teriak saat idola mereka turun dari mobil.
Itachi kini mengalihkan pandangannya lurus ke depan kelas, mata onyxnya sudah tidak sanggup melihat kejadian heboh di parkiran yang memang terjadi setiap pagi. Dia menunggu Deidara dengan tenang, dipejamkannya matanya mencoba rehat sejenak dari berbagai masalah yang menjadi beban pikirannya.
10 menit kemudian, Deidara masuk ke kelas dengan tergesa-gesa, kadang dia memang agak kerepotan dengan tingkah DFC yang makin menjadi-jadi setiap harinya. Itachi berpaling dan melihat Deidara yang berjalan ke arahnya.
"Cepat bicara. Aku tidak mau terlihat bicara baik-baik denganmu", kata Deidara ketus, dia berdiri berkacak pinggang di depan Itachi.
"Bagaimana keadaan Naruto?", Tanya Itachi tanpa basa-basi.
"Keadaannya tidak baik, kata dokter dia amnesia parsial, dia juga divonis post-traumatic syndrome disease", jawab Deidara dengan raut khawatir. "Dia tidak bicara sejak sadar dari komanya".
Itachi menatap Deidara datar, tidak ada ekspresi yang dinampakkannya mendengar keadaan seseorang yang dikhawatirkan adiknya. "Apa dia lupa pada Sasuke?".
"Aku tidak yakin tentang hal itu. kata ibuku, dia beberapa kali mengigaukan nama Sasuke", jawab Deidara ragu. "Kenapa kau baru menanyakan hal ini?".
"Aku tidak ada kewajiban menjelaskannya padamu".
"Kau harus mengatakan semuanya, aku juga akan mengatakan semuanya. Jika ada yang kau sembunyikan, ini tidak akan berhasil bodoh", bentak Deidara.
"Aku tidak bisa meninggalkan sasuke yang baru saja menjalani operasi transplantasi ginjal", kata Itachi. "Makanya aku baru bisa menghubungimu sekarang", lanjutnya lagi.
"Apa kecelakaan itu sampai separah itu?".
"Cedera akibat kecelakaan tidak parah, hanya saja dia memang butuh waktu untuk pemulihan. Ginjal sasuke memang bermasalah sejak dulu, baru sekarang kami bisa melakukan transplantasi".
"Kupikir efek dari kecelakaan itu", gumam Deidara.
"Lalu mengenai ayahmu dan ayahku?", Tanya Itachi lagi.
Deidara menatapnya tajam.
.
T
B
C
.
Hwaaaaaa maaf yua chapter ini pendek.. lagi sibuk banget jadi gak sempet buat ngelanjutin..
Shooting Star Chapter 4 akan segera terbit, saya janji paling lambat bulan depan..
Sekali lagi maaf banget yua *sujud sujud*
RnR please :3 #kitteneyes
