Flower and The Star
Disclaimer: Masashi Kishimoto / Shonen Jump
Sequel dari Flower and The Moon (Yang belum baca, baca ya #promosilagi) :)
Terimakasih banyak buat para readers baik hati mau meluangkan waktunya baca fic ini #malu
Ada yang review pula / *tambahmalu* 8D
Oke, kubalas review-nya ya :D
Chipoet23: apakah segini sudah cukup kilat? #plak ;D hehe sankyu ya udh mau baca :)
Yume-chan : iyaaa aku buat sekuelnya ^^ makasih ya udh mau baca :)
mayu masamune: Iyaaa maaf ya dikit banget disini aku buatnya banyak kok ^^ ah iya makanya kubuat genrenya hurt/comfort ^^;;/ iya alyssum itu nama bunga ^^ makasih ya udh mau baca :)
lonelyclover: iya kasian ya Hinata 8'D waa makasih banyak yaa masukannya :D makasih ya udh mau baca :)
Arukaschiffer : wai yu come back #dilempar aku kan malu dibaca sama kamu #pret wahaha makasih darling masukaannyaa A/ ah iya kita ketemu di mana-mana wahaha 8D
tsuki sora : iya ^^ baca juga ya flower and the moon - nya #ehpromosi ini aku apdeeet ^^ makasi yaaa
Lavender Sunflower: iyaa*ikutan loncat* gyaa ga apa apa :D kan disini kamu review / :$ makasi yaaaa
OraRi HinaRa: di chapter ini kubuat panjang kok ;D iyaa :D ah makasih masukanny :D sankyuuu banyak
Shyoul lavaen: Sa-Sasuke? D: okee tampung masukannya ^o^/ aku akan berusaha sankyuuu
Uchiha SenjYu: ah iya dibuaat D: loh kok jadi temari? XDDD okeee makasih sarannya ^.^/ sankyuu
Terimakasih buat semua yang sudah merivew / seneng banget loh #glundungan
O,ya ada yang masih ingatkah? :D di Flower and the moon chapter terakhir di deskripsikan kalau Gaara sama Hinata menikah di hari Sabtu ;D di fic ini juga akan ku beri tahu mengapa hari itu *w*/
Silahkan dibaca dengan santai~~ ^^ Disini Matsuri menonjol :( maaf yaaa para penggemar Matsuri :)
CHAPTER 2
Azalea
Sunagakure
Hinata membuka matanya perlahan. Ia mengedipkan kelopak matanya beberapa kali, membuat jelas pandangannya yang bermula buram itu.
"Sudah bangun?" Terdengar suara yang tak asing lagi di telinga Hinata. Dengan sigap Hinata langsung menyingkap selimutnya dan menoleh ke sumber suara yang berada tepat di sudut ruangan. Lelaki yang duduk dengan tenang di atas kursi kayu tersebut tampak terjaga dari malam. Ya, Hinata bisa menebak hal itu pasti, dilihat dari pakaian yang belum diganti dan sudah menjadi lusuh itu.
"Kau...tidak tidur?" Tanya Hinata memandang lelaki berambut merah marun yang mulai berdiri dari duduknya.
"Hm." Laki-laki bernama Gaara itu hanya menganggukkan kepalanya sedikit.
"Jadi, dari tadi kau...disini?" Tanya Hinata lagi. Ia menutupi wajahnya yang memerah. Hinata tidak bisa membayangkan betapa memalukannya apabila Gaara melihat Hinata tidur. Rasanya Hinata ingin sekali tahu apa yang Ia lakukan saat tidur semalam.
"Tidak. Aku hanya mengerjakan beberapa tugas di kamarku, sampai aku tidak sadar sudah menjelang pagi. Lalu beberapa menit lalu, aku kemari untuk membangunkanmu." Jelas Gaara cukup membuat hati Hinata kembali tenang.
Hinata hanya mengangguk-angguk kecil, membayangkan betapa berat-nya pekerjaan sebagai Kazekage.
"Um...Temari...sedang pergi ke Desa lain karena ada misi bersama Kankurou...jadi..." Ucap Gaara sedikit gugup. Merasa membuat dirinya cukup malu, Gaara langsung memalingkan wajahnya.
Hinata yang melihat tingkah Gaara hanya menatapnya bingung hingga akhirnya Ia mengerti dan mengulaskan senyumnya. "Baiklah, aku akan membuatkan sarapan untukmu!" Ujar Hinata sambil tersenyum menahan tawa kecilnya.
Setelah beberapa menit Gaara menunggu di ruang makannya, akhirnya Hinata datang dengan sepiring roti dengan selai diatasnya dan ditambah beberapa makanan membuatnya tampak lezat.
"Lalu, setelah ini, kau akan langsung ke Gedung Kazekage lagi?" Tanya Hinata. Ia hanya menghela nafasnya setelah menanyakan hal itu pada Gaara. Tanpa ditanya, Hinata harusnya tahu pasti jawabannya.
"Kalau kau mau ikut, ikut saja." Jawab Gaara setelah memakan habis roti-roti yang disediakan Hinata.
"Benarkah? Tidak mengganggu?" Hinata menatap Gaara pasti.
"Lagipula ada Matsuri disana, dia bisa jadi teman mengobrolmu." Gaara lalu segera berdiri dan mengenakan jubah Kage-nya yang berwarna putih itu.
"Baiklah, aku ikut."
Hinata tidak memperkirakan hal ini. Ya, disaat dia keluar dari rumah Gaara, disaat itu pula, semua tatapan akan memandangnya. Hinata hanya terdiam. Benar, memang bukan perasaan Hinata saja. Ternyata penduduk Suna terlihat tidak suka pada Hinata. Hinata yakin itu. Berusaha ingin mengabaikan tatapan para penduduk Suna, Hinata segera melangkahkan kakinya cepat. Gaara yang berada di depannya turut diam.
"Bisakah kau berjalan lebih cepat?" Tanya Gaara yang tetap menahan emosinya. Hinata hanya memandang Gaara bingung. Hinata lalu menunduk dalam seraya mengikuti langkah kaki Gaara yang mulai dipercepat.
'Apa ia malu membawaku?' batin Hinata.
"Selamat datang, Kazekage-sama!" Sapa seorang gadis cantik berambut pendek yang sudah berdiri di depan pintu ruang Kazekage.
"Matsuri, tolong bacakan jadwal-jadwalnya seperti biasa." Gaara segera memasuki ruangan pribadi miliknya dan duduk di atas bangku yang berada di depan sebuah meja dengan tumpukan dokumen-dokumen.
"Baiklah. Ah, Hinata-san, selamat datang!" Matsuri tersenyum lebar melihat Hinata yang ikut berjalan di belakang Gaara.
"Ma-Matsuri-san, terimakasih." Hinata membalas senyumnya tipis.
"Kazekage-sama, apa tidak tergoda bekerja dengan calon Istrimu begini?" Goda Matsuri yang langsung diam saat Gaara menatapnya tajam.
"Hinata, karena aku benar-benar sibuk dengan dokumen-dokumen ini, kau bisa keluar dan berkeliling Suna. Matsuri, ajak dia." Suruh Gaara setelah mendengar daftar jadwal yang dibacakan Matsuri beberapa saat lalu.
"Baiklah! Ayo, Hinata!" Matsuri segera menggandeng tangan Hinata dan menariknya menuju keluar.
"Matsuri! Jangan membawanya terlalu jauh!" Seru Gaara sebelum akhirnya Matsuri dan Hinata benar-benar hilang dari pandangannya.
"Oh, jadi kau dulu murid Gaara-kun?" Tanya Hinata setelah Matsuri menceritakan kisah disaat dia menjadi murid Gaara.
"Iya, menarik bukan?" Matsuri tertawa senang. Mendengar tawa tersebut, Hinata merasakan perasaan ganjal.
"Ada apa, Hinata?" Tanya Matsuri.
"Ti-Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, kau mau mengajak ku kemana?" Hinata mengedarkan sekelilingnya. Ia merasa sudah terlalu jauh berjalan. Bahkan gerbang Suna pun sudah di lewatinya. Hinata tidak pernah melewati tempat ini sebelumnya baik saat misi maupun tidak.
"Kemana? Ke sebuah taman! Di Suna ini ada taman yang sangaaat indah! Makanya aku mau memperlihatkannya padamu." Matsuri tersenyum kecil. "Ah, tapi memang lumayan jauh. Kurasa, dari sini belok. Ah, itu dia!"
Di sebuah belokan, Matsuri segera berlari menjauhi Hinata. "Ayo cepat, Hinata!"
"Tu-Tunggu!" Dengan cepat Hinata mengikuti sosok Matsuri yang makin menjauh darinya. "Matsuri-san!"
Saat memasuki belokan di sana, Hinata sontak segera berhenti. Beruntung Hinata memiliki daya refleks yang baik, kalau tidak, mungkin dia sudah jatuh. Ya, tepat di belokan tersebut ada sebuah jurang. Tidak terlalu tinggi. Tapi, karena terbuat dari pasir, salah langkah sedikit, Hinata bisa saja merubuhkan pasir tersebut dan membuatnya longsor.
"Matsuri! Kau dimana?" Seru Hinata khawatir Matsuri jatuh ke bawah sana. Dengan perlahan Hinata mendongkakkan tubuhnya melihat kebawah jurang tersebut. "Ma-Matsuri-san?"
"Sayonara, Hinata."
Konohagakure
"Ah!"
"Hm? Kenapa Neji?" Tanya lelaki berambut kuning kepada laki-laki berambut panjang yang sedang berlatih dengannya.
"Tiba-tiba perasaanku tidak enak." Gumam Neji. Yang bertanya tertawa kecil.
"Maksudmu Hinata? Tenang saja, Gaara kan menjaganya. Aku percaya padanya. Kalau tidak, aku tidak mungkin menyerah begitu saja." Ujar Naruto seraya menggembungkan pipinya.
"Ya, mungkin saja." Neji tersenyum tipis.
Sunagakure
"Matsuri? Kenapa?" Tanya Gaara melihat Matsuri yang sudah dibanjiri keringat dengan wajah pucat.
"Ka-Kazekage-sama, Hi-Hinata..." Belum sempat Matsuri menyelesaikan ucapannya, Gaara langsung berlari keluar dari ruangan tersebut seraya menarik Matsuri.
"Ada apa dengan Hinata?" Tanya Gaara kepada Matsuri yang ikut ditariknya.
"Tunggu sebentar Kazekage-sama! Jangan sambil berlari begini! Tanganku sakit!" Seru Matsuri berusaha melepaskan genggaman Gaara.
"Baiklah. Ada apa dengan Hinata?" Tanya Gaara dingin setelah melepaskan tangan Matsuri.
"Ta-Tadi, aku berjalan dengannya, dan tiba-tiba Ia hilang! Lalu, saat kucari, ia terjatuh dari tebing di belokan sana." Ucap Matsuri ketakutan. Tanpa basa-basi, Gaara segera berlari kencang.
'1,2,Tidak! Hampir 4 jam Matsuri mengajak Hinata. Sudah selama apa Hinata berada di sana!' Batin Gaara kesal.
"Hinata!" Seru Gaara saat sampai di atas tebing tersebut. Sudah hampir gelap, Gaara belum menemukan sosok Hinata. Mengikuti instingnya, Ia langsung terjun ke dalam jurang tersebut.
"Hinata!" Gaara memutar badannya berkali-kali mencari sosok Hinata. Matanya terus mengedarkan pandangannya ke seluruh pasir. Hingga akhirnya ia menemukan sosok Hinata yang hampir seluruh tubuhnya tertutupi pasir yang bertiup.
"Sialan." Gumam Gaara seraya mengangkat tubuh Hinata yang mulai dingin. "Hinata, Hinata!" Panggil Gaara sambil menepuk pipi Hinata.
"Kazekage-sama!" Seru gadis yang berlari tidak jauh dari Gaara.
"Matsuri! Untuk apa kau kemari! Sudah hampir gelap, cepat kembali!" Seru Gaara yang masih mencoba membangunkan Hinata.
"Maafkan aku, Kazekage-sama! Tapi aku khawatir padamu!"Matsuri segera menurunkan badannya disebelah Gaara.
"Jangan bodoh! Angin malam ini sedang kencang!"
"Tapi...Kazekage-sama..." Matsuri memandang Gaara lekat.
"Gaara?" Hinata yang terbangun dari kesadarannya segera membuka matanya.
"Untunglah. Ayo bangun, aku akan segera membawamu ke rumah." Gaara segera memapah Hinata dan berjalan tanpa memperdulikan Matsuri yang masih terduduk dibelakangnya.
"Tunggu Gaara-kun, itu Matsuri?" Tanya Hinata melihat belakangnya.
"Ya, dia bisa pulang sendiri. Ayo, sebelum larut malam turun." Ucap Gaara datar.
Hinata hanya menurut dan menoleh sekali lagi ke arah belakangnya. Dilihatnya Matsuri menatap Hinata tajam.
Telinga Gaara cukup panas malam itu. Bagaimana tidak? Saat Temari pulang dan melihat kondisi Hinata, Temari puas menceramahi adik bungsunya hampir lebih dari 4 jam. Entah bagaimana, tapi Gaara akhirnya mengerti mengapa Shinobi asal Konoha yang ia kenal itu suka tidak tahan dengan Kakak sulungnya yang satu ini. Setelah diberi ceramah bertubi-tubi, akhirnya Gaara lolos juga dengan alasan 'ingin melihat keadaan Hinata'.
Gaara memasuki kamar Hinata yang berada di sebelah kamarnya. Ia membuka pintunya perlahan. Dilihatnya Hinata yang terbaring di kasurnya.
"Gaara-kun, kau belum tidur?" Tanya Hinata melihat sosok Gaara dari balik pintu.
"Belum." Gaara hanya menggeleng pelan dan langsung duduk di pinggir kasur. "Siapa yang melakukannya padamu?"
Hinata hanya diam. Mengingat kejadian tadi, Hinata ingat betul suara siapa yang berada di belakangnya sesaat sebelum Hinata terjatuh. "Tidak ada." Hinata tersenyum pahit.
"Siapa?" Tanya Gaara lagi dengan penekanan.
"Tidak ada."
"Hinata, apa sebegitu sulitnya kau mengatakan 'siapa'!" Gaara memandang Hinata sedikit kesal.
"Aku bilang 'tidak ada', tuan Kazekage!" Seru Hinata tak kalah kesal. Gaara yang mendengarnya sontak langsung memundurkan badannya sedikit. Kaget dengan perilaku Hinata.
"Maaf." Gaara langsung menunduk dalam. Hinata yang merasa bersalah segera menggelengkan kepalanya.
"Kali ini, biar aku yang mengurusnya. Masalah penduduk, orang-orang yang tidak ." Hinata tersenyum kecil.
Gaara hanya terdiam bisu. Tidak sanggup Gaara melihat senyuman pahit Hinata lebih dari ini.
"Gaara-kun, aku ingin mengeluarkan rasa percaya diriku. Kapan aku bisa berusaha sendiri." Hinata melingkarkan tangannya di leher Gaara dan memeluknya erat.
"Penderitaanmu, adalah penderitaanku." Gaara tersenyum tipis. "Kebahagiaanmu, adalah kebahagiaanku. Kalau itu membuatmu lebih baik. Aku turuti segalanya."
Mendengar hal itu, Hinata kembali menyunggingkan senyumnya.
"Berhati-hatilah demi diriku." Bisik Gaara pelan.
Pagi hari ini, baru pertama kali Hinata melihat Gaara duduk santai di sofa hanya dengan kaus hitam lengan panjang dan celana hitam sambil membaca.
"Kau tidak ke ruang Kazekage?" Tanya Hinata heran.
"Apa ruangan itu adalah sarangku hingga aku harus kembali ke sana rutin?" Tanya Gaara cukup membuat Hinata sedikit jengkel. Tanpa menjawab atau membalas perkataan apapun dari Gaara, Hinata segera menuju kamar mandi.
"Gaa~ra! Apa yang kau katakan pada Hinata, hah? Jangan kejam begitu!" Seru Temari kesal.
"Tidak, aku hanya melakukan itu agar kedepannya dia bisa menjadi wanita yang hebat." Jelas Gaara tak berdosa.
"Ngomong-ngomong, kau ini menyerahkan tugasmu lagi ke Kankurou, dia itu bukan pesuruhmu!" Ujar Temari.
"Hanya sampai sore. Aku mau menemani Hinata dulu. Kakinya terkilir dan terluka, tapi dia tidak memberitahuku." Gaara mendecih kecil.
"Hoo...Bukankah itu yang namanya wanita hebat? Dasar...Baiklah, nikmati waktumu. Aku harus ke akademi."
Gaara hanya mengiyakan perkataan Kakaknya yang langsung melesat pergi. Beberapa menit setelah Temari keluar, Hinata ikut keluar dari pintu kamar mandi rumah itu.
"Sudah selesai mengganti perbannya?" Tanya Gaara datar sambil tetap melihat ke arah tulisan pada buku yang ia baca.
Tepat kena sasaran, wajah Hinata langsung merah padam. "Aku tidak mengganti apapun!" Seru Hinata gugup.
"Hmmm..." Gaara hanya bergumam pelan dan tetap melanjutkan bacaan di bukunya.
"Gaara-kun sudah makan?" Tanya Hinata berusaha mencairkan suasana yang menurutnya menjengkelkan itu.
Gaara menggeleng. Melihat jawaban Gaara, Hinata hanya menghela nafasnya panjang.
"Kau kan bisa masak selagi aku belum bangun." Hinata menatapnya bingung.
Mendengar kata Hinata, Gaara segera mengalihkan wajahnya. "Laki-laki tidak harus memasak."
Dari jawaban itu, Hinata bisa mengambil kesimpulan. Ya, Gaara tidak bisa memasak.
"Baiklah, aku akan memasak. Gaara-kun mau membantu?" Tanya Hinata lembut.
"Jangan. Kakimu sedang sakit, kan? Biar aku yang membuatnya."
Gaara segera berdiri dari duduknya dan menarik Hinata pelan untuk duduk. "Tunggu disini."
Setelah Gaara memasuki dapurnya. Hinata hanya bisa terdiam. Apa Gaara benar-benar bisa memasak? Tepat seperti yang diperkirakan Hinata, belum 10 menit, terdengar suara barang pecah dan sedikit ledakan.
"Gaara-kun, ada apa?" Seru Hinata yang berlari ke arah dapur tempat dimana Gaara bereksperimen.
Dilihat Hinata, wajah dan baju Gaara sudah kotor. Dan yang Hinata tak bisa duga, dapurnya sudah benar-benar berantakan. Panci yang berada di atas kompor sudah meluap. Buru-buru Hinata membereskan segalanya dengan cekatan.
"Aduh, Gaara-kun harusnya aku saja yang melakukannya." Seru Hinata sambil tertawa, melihat tingkah Gaara.
"Huh, akhirnya kau tertawa juga." Gaara tersenyum kecil.
Hinata sontak kaget dengan perkataan Gaara.
"Ke-kenapa?" Tanya Hinata kepada Gaara yang terduduk di lantai.
"Soalnya, sejak kau pindah kemari, kamu jarang mengeluarkan tawamu lagi." Gaara menunduk dalam. Melihat hal itu, Hinata membungkukkan tubuhnya menggapai Gaara yang masih terduduk lesu di lantai itu.
"Apa kau susah? Apa kau sakit? Apa kau tidak bahagia? Pikiran itu terus memburuku melihat dirimu sekarang. Tapi, mendengar kau tertawa sedikit, membuatku senang bukan main." Gaara tersenyum tipis.
Hinata lalu tersenyum lebar. "Syukurlah. Pilihanku tidak salah untuk berada di sini."
Gaara memandangnya bingung. "Maksudmu?"
"Aku bersyukur tinggal disini. Karena bisa mengetahui lebih banyak tentang Gaara-kun. Dan lagi, aku tak perlu bertanya-tanya dalam hati lagi seperti sebelumnya karena Gaara ada disini."
Keduanya tersenyum mendengar perasaan masing-masing. Satu hal lagi yang mereka tahu mengenai perasaan masing-masing. Belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sunagakure
"Aaaaaa." Terdengar teriakan dari atas gurun di Suna.
"Siapa kau! Kami tidak bisa membiarkanmu memasuki Sunagakure!"
"Cih...Ingat baik-baik namaku." Pria itu lalu menebaskan pedangnya yang tajam kearah kedua Shinobi Suna yang menahannya. Terdengar teriakan dari kedua Shinobi tadi akan tebasan tadi.
"Namaku Uchiha Sasuke. Ingat itu baik-baik sebelum kau mati." Pria bermata hitam itu langsung menusuk Shinobi tadi tepat di jantung kedua Shinobi itu.
CHAPTER 2
FINISH
CHAPTER 3
Black Rose
Ohohohohohoohoo
Maaf ya lama banget :D
Terus Aya bingung banget siapa pengganggunya! Ada yang request Matsuri dan Sasuke.
Bingung... Bingung...Bingung...
Gitu yang Aya pikirkan. Akhirnya jawabannya adalah:
Dua-duanya aja
lol
Tapi Aya merasa merasa lebih baik kalau dua-duanya ikut ^^
Sankyu semuaaaaa #kissu
Please review! Masih banyak butuh bimbingan dan masukkan!
Thank you so muach muach!
