Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T (bisa berubah tergantung alur)
Genre : Romance/Drama
Chara : Berubah tergantung alur
Warning : OOC, miss-typo[s], AU
MAYU MASAMUNE'S PROJECT
"Hinata," panggil Ino—tepatnya berteriak. Gadis pirang itu melambaikan tangannya ke arah Hinata yang berjalan pelan di koridor sambil memegang sebuah majalah remaja.
"Ya?" tanya Hinata heran. Alisnya agak bertaut, namun wajahnya segera berubah—senyum tipisnya muncul kala ia melirik sekilas majalah yang dipegang Ino ditangan kirinya. Sudah pasti ia tahu, Ino mau membicarakan cowok-cowok remaja Korea yang berkharisma.
Dengan tampang diatas rata-rata, kulit putih nan lembut bagaikan susu dari sutra. Tunggu! Memangnya susu dari sutra itu ada? Entahlah, tanyakan pada Hinata yang memikirkannya sekarang, serta tubuh yang atletis—dada bidang dan tinggi semampai dengan kotak-kotak dibagian perut, sixpack—begitulah Hinata tidak pernah menghitung berapa jumlah kotak-kotak dibagian perut para kaum Adam yang mengherankannya adalah kenapa disebut 'sixpack'? Siapa tahu ada kotak lain yang menyempil. Ah! Itu bukan urusannya, kenapa jadi membicarakan sixpacks sih? Hinata sendiri bingung.
Yang jelas sekarang, Ino berdiri di depannya dengan senyum sumringah dan memperlihatkan gambar kover depan majalah remaja tersebut. Dengan kover lima orang remaja cowok yang tentunya terkenal dikalangan remaja perempuan.
"Lihat deh," Ino menunjuk salah satu personil yang notabene bermata sipit semua. Hinata heran mengapa Ino menyukai remaja cowok yang sipit Korea, tidak cukupkah remaja cowok sipit asal Jepang? Atau, yang agak sedikit belok—kayak Gaara. Lagipula, memangnya Gaara belok?
Enggak.
Sipit?
Juga enggak.
Elegan?
Iya sih.
Eh tunggu! Ngapain sih Hinata mikirin ini terus-terusan? Dan lagi, desiran darahnya tak henti-hentinya memompa jantungnya untuk terus berdebar memikirkan cowok itu—Gaara Sabaku.
"SHINee lagi?" Hinata tersenyum kecil. Wajahnya yang manis itu semakin manis seperti gula, walaupun nyatanya ia tak pernah dikerubungi semut layaknya peribahasa 'ada gula ada semut'.
Ino mengangguk antusias, "Sudah dengar lagu mereka belum?" tanya Ino—kurang spesifik sih memang.
"Hm? Yang mana?" tanya Hinata bingung. Sahabatnya ini memang terkadang suka nggak jelas ngasih pertanyaan. Lagu SHINee kan banyak, pikir Hinata.
"Ituloh, Ring Ding Dong. Yang main becek-becekan. Kau tahu 'kan?" jabar Ino, merasa pertanyaan yang tadi ia lontarkan agak err kurang spesifik. Lagipula, apa pedulinya sih? Toh Hinata nggak bakalan mengomentari pertanyaan Ino nggak spesifik, karena Ino tahu, Hinata itu gadis yang baik.
Hinata lagi-lagi tersenyum. Jujur saja, ia bukan tipe penggemar remaja cowok asal Korea yang lagi naik daun itu. Tapi, sebagai teman yang baik, ia menghargai Ino yang selalu ngoceh tentang berita-berita mengenai artis Korea yang sepenuhnya Hinata nggak tahu. Jadi, Hinata hanya mengangguk saja menanggapinya. Toh tidak salah kan? Daripada Hinata ngelantur nggak jelas ngomel-ngomel karena dia nggak tahu menahu tentang Korea. Itu justru bukan adat seorang Hyuuga bukan? Semua orang tahu, seorang Hyuuga itu semuanya pasti sopan dan beradat.
"Kok senyum? Kau belum menjawab pertanyaanku tahu!" Ino cemberut. Gadis berambut pirang itu menggembungkan pipinya. Menambah kadar keimutannya. Pipinya agak merona tertimpa sinar mentari pagi yang menyehatkan, ya tapi nggak panas banget sih. Siapa yang mau sih sengatan panas mentari mengenai kulit dalam jangka waktu lama? Nenek-nenek kribo juga ogah kali.
"Iya,sudah kok" Jawab Hinata kalem sambil tersenyum. Walaupun nggak tertarik dengan yang berbau Korea, Hinata tidak protes kok kalau seluruh isi mp3 player-nya terisi dengan lagu Negeri Ginseng tersebut. Siapa lagi kalau bukan kerjaan Ino? Ino memang keterlaluan. Menghapus seluruh lagu Barat milik Hinata, dan menggantinya dengan lagu Korea.
Memang mp3 player siapa? Hinata—tentunya tidak keberatan. Ia dengan senang hati mau mendengarkan lagu-lagu yang ia bahkan tidak tahu artinya sebelum tidur setiap malam—atas saran Ino lagi-lagi. Katanya kalau mendengarkan pada malam hari, suasana hati menjadi damai. Siapa sangka dugaan Ino tidak meleset? Karena pada akhirnya Hinata sedikit demi sedikit bisa mengisi telinganya dengan dentuman nada yang terkadang membuat Hinata agak berjingkrak sedikit. Bersoraklah kau, Ino!
"Enak 'kan lagunya?" Ino nyengir melihat Hinata menganggukan kepalanya. Mereka berdua memasuki kelas dan menaruh tas di bangku. Hinata yang baru ingin membuka buku Biologi harus rela waktunya terusik lagi-lagi untuk Ino. Kali ini, Ino dengan cengiran lebar membuka halaman pertama majalah remaja tersebut. "Jonghyun cakep ya?" tanyanya meminta pendapat Hinata sambil menunjuk salah satu personil SHINee yang sekarang berambut pirang.
Hinata melihat sekilas, "Lumayan" lalu memberikan tanggapannya. Setidaknya ia tidak melontarkan komentar bahwa lubang hidung Jonghyun besar. Kalau itu terjadi, bisa dipastikan Hinata akan berbentuk mumi nantinya jika Ino tahu.
Ino yang tersadar telah menginterupsi waktu berharga Hinata menggeserkan majalah remaja itu agak menjauh. "Terganggu ya?" tanyanya.
Hinata cukup kaget dengan tindakan Ino barusan. "A-ah tidak kok" lalu tersenyum.
"Sungguh?" mata Ino berkilat. Tidakkah ia sadar Hinata tidak cukup berani untuk mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya? Berapa tahun hidupmu bersama Hinata, hei Ino!
Hinata tersenyum simpul, lagi.
"Kau memang sahabatku yang paling baik Hinata!" Ino merengkuh kuat tubuh gadis berambut biru kelam disebelahnya. Membuat yang dipeluknya agak sesak napas, padahal Hinata tak punya penyakit asma.
Momen yang patut dipajang di mading kelas dengan tema persahabatan bagai kepompong itu harus terinterupsi oleh langkah berisik dari bunyi sepatu hak yang tingginya 5 cm lebih. Lalu, seorang wanita berusia 25 tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya yang ikal hitam terurai di punggungnya. Ia mengenakan blus berwarna biru pastel dengan bawahan rok berwarna hitam. Lingkaran hitam dibawah matanya agak terlihat, meskipun ia sudah menyembunyikannya dengan memakai foundation dan polesan bedak.
"Selamat pagi, anak-anak" ucapnya dengan suara parau. Ditangan kanannya bertumpuk berbagai lembar kertas dengan berbagai macam ukuran, mungkin bekas soal yang lama. Ia duduk dikursi untuk guru dan menghela napas. Terlihat sekali ia sedang kelelahan.
"Buka buku kalian halaman 23, lima menit lagi kita ulangan" perintahnya, disusul sorakan riuh murid-murid yang kalang kabut. Ada yang ribut belum belajar, ada pula yang ribut karena cintanya ditolak—cukup! Itu tak masuk hitungan.
Hinata menghela napas dan bergegas membuka halaman ke-23 di buku bergambar seekor Panda yang tengah menggigiti bambu kecil. Disebelahnya Ino panik sampai-sampai isi tempat pensilnya berjatuhan kebawah.
'Semoga ulangan kali ini lancar' doa'a Hinata dalam hati sebelum akhirnya membaca dengan tekun berbagai macam tulisan dengan berbagai model. Ada yang italic, bold bahkan underline. Gaul sekali yang menciptakan buku Biologi ini, batin Hinata tertawa kecil.
Haiyah, gimana? Pendek banget ya? Banyak yang minta manjangin tapi saya bingung mau manjanginnya gimana u,u #plak
Dan lagi soal Gaara, dia jadi figuran banget ya? Kayaknya disini kebanyakan InoHina deh = =" Ohtidak, aku gagal sebagai author yang baik y,y #plak
Oh ya, dan saya juga mau berterima kasih banget bagi yang sudah me-review fict saya, itu suatu kehormatan :)
Dan okelah perjanjian, di chapter berikutnya Gaara nggak bakalan jadi figuran dan saya janji *perhaps* fanfict-nya bakalan lebih dipanjangi :)
Okeh, itu saja sih unek-unek saya selama 2 jam proses fanfict ini.
Special Thanks to : uchihyuu nagisa, Dhinie minatsuki amai, Asakura Kageyama, mayraa, Sugar Princess71, OraRi HinaRa, Cerullean Reed, lonelyclover, Shaniechan, Haru.
Best Regards,
Mayu Masamune
