No Limit
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
"Hinata," suara cempreng terdengar heboh. Itu pasti Ino, batin Hinata. Siapa sih yang gak tau suara Ino? Bahkan satpam sekolah pun tahu. Jelas, hanya wanita pirang bermata emerald ini saja yang suaranya mampu mencapai tiga oktaf—namun bukan dalam menyanyi, tapi berteriak. Whoops! Aku membocorkan aib Ino, sudahlah. Toh dia tak bakalan protes padaku yang mengarang cerita ini bukan? Dia kan anak baik, sama seperti Hinata.
Hinata menoleh heran, "Ya?" tanyanya sambil mulai memberesi alat tulisnya yang berantakan.
"Ulangan tadi susah ya?" Ino nyengir miris.
"Um, tidak terlalu sih." jawab Hinata sekenanya sambil menutup retsleting tasnya.
"Itu menurutmu," Ino memutar bola matanya. "Tidak bagiku." Lanjut Ino sambil menghela napas. Hinata tertawa kecil. "Yuk pulang." Ajak Ino sambil menggamit lengan Hinata. Hinata mengangguk.
"Kakak," panggil sebuah suara.
Hinata yang sedang mengerjakan tugas mengarangnya menoleh. "Ada apa Hanabi-chan?" tanya Hinata lembut. "Sini, duduk." Ajak Hinata sambil menepuk tempat disebelahnya—mengisyaratkan Hanabi untuk mengisi tempat itu.
Hanabi duduk disebelah Hinata, "Bagaimana kabar Tuan Panda?" tanya Hanabi polos sukses membuat rona merah mencuat di pori-pori kulit pipi Hinata.
"Ap-apa maksudmu sih Hanabi-chan?" elak Hinata sambil tersenyum—tentunya senyum terpaksa. Ia kembali menekuni karangannya.
"Sabaku Gaara, si Tuan Panda bermata Jade dengan—" celotehan Hanabi tertunda.
Hinata menoleh dan buru-buru menempelkan telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan Hanabi untuk berhenti mengoceh. "Sst, kalau Kak Nej tahu bagaimana?" ujar Hinata sambil gregetan ingin mencubit—atau lebih tepatnya memakan hidup-hidup adiknya.
"Memangnya kenapa sih?" Hanabi melipat tangan didadanya. "Kakak 'kan suka dia," celoteh Hanabi lagi sukses membuat rona merah itu kembali muncul, kali ini lebih merah.
"Ha-hanabi, cukup!" pinta Hinata. "Kalau Kak Neji tahu bagaimana? Aku bisa dicincang kalau ketahuan ngomongin cowok," ujar Hinata lagi.
"Justru bagus 'kan? Dia jadi tidak menempel denganmu. Kak Neji itu bawel banget," Hanabi mendelik, "Mentang-mentang dia jomblo, dia tidak memperbolehkan aku jalan-jalan sama Konohamaru,"dengus Hanabi sebal.
Hinata tertawa kecil, "Kak Neji itu sensitif." ujar Hinata lalu merapikan tugas mengarangnya. Sepertinya ia sudah selesai dengan tugas yang mengharuskannya berkutat dengan berpuluh-puluh huruf alfabet yang bikin otak ngejelimet.
"Iya sensitif. Setelah diputusin Kak Tenten," jawab Hanabi sekenanya. Lalu mereka berdua tertawa.
"Cie, ada yang membicarakan aku," ujar sebuah suara. Hanabi dan Hinata sontak menoleh dengan takut-takut merasakan aura menyeramkan dari punggung mereka.
"Ka-kak Neji?" Hanabi nyengir hambar. Hinata disebelahnya berkeringat dingin. Oh Tuhan, aku bertaubat. Jangan bunuh aku sekarang, batin Hinata ciut. Ia yakin hukuman sudah menantinya—melihat Neji berdiri mematung dan berkacak pinggang dengan seringaian lebar.
"Ada apa adikku yang paling manis?" tanya Neji tersenyum memaksa—menekankan pada kata manis. Ia mengedipkan matanya—sontak membuat Hanabi ingin muntah dua kali lipat dari biasanya. Hinata dan Hanabi berpandangan dalam diam. "Ayo lanjutkan," seringaian Neji muncul lagi. "Rahasia ya? Sampai aku tidak boleh tahu?"
Neji mengedipkan lagi matanya, membuat Hanabi berjengit risih, "Mau tahu aja." Ketus Hanabi cepat.
"Jadi, aku tidak boleh tahu?" Neji memasang wajah imut kekanakkan-nya yang sekali lagi nyaris membuat Hanabi muntah, juga Hinata. "Memangnya," Neji mendekatkan wajahnya pada wajah Hanabi dan Hinata perlahan. "Kenapa sih?" lanjut Neji lagi. "Aku 'kan bisa memegang rahasia." Lanjut Neji sambil mengerucutkan bibirnya.
"Diamlah! Wajahmu itu memuakkan sekali, Kak." Seru Hanabi—menekankan pada kata Kak. Muncul empat siku-siku di dahinya, yah sepertinya sih orang awam takkan bisa melihatnya kecuali orang beriman—seperti author. Apakah pembicaraan ini menjurus kesana? Kurasa tidak. Mari kita lanjutkan lagi cerita yang sempat terpotong ini.
Neji diam, ia duduk dihadapan kedua adiknya itu. "Sekarang cerita padaku, kalian ngomongin apa?" lalu menghela napas perlahan.
"Ka-kak Neji ngomong apa sih? Kita cuma ngobrol biasa kok," jawab Hinata sekenanya sambil nyengir ke arah Hanabi, "Iya 'kan Hanabi-chan?" dan meminta persetujuan adiknya.
Hanabi mengangguk, "Iya." Membuat Hinata lega. "Ngomongin Kak Gaara." Lanjut Hanabi tak terduga. Hinata menoleh pada Hanabi, matanya membulat. Lalu ia melirik Neji. Oh mati aku, batin Hinata sembari menggigit bibir bawahnya.
"Gaara?" Neji berkacak pinggang lagi, dengan alis bertaut dan seringaian lebarnya sukses membuat Hinata jatuh pingsan.
"Hinata?" Neji nyengir ngeliat adiknya jatuh pingsan.
"Kak Neji sih, dasar kolot!" Hanabi memeletkan lidahnya sambil mencoba membangunkan Hinata, "Kak! Bangun kak!" Tapi nihil, Hinata sepertinya masih ingin bertemu dengan pingsan—kawan lamanya yang sudah lama tak ia temui akhir-akhir ini.
Neji menghela napas, "Iya iya, maafkan aku." Lalu keluar kamar tanpa dosa sedikitpun, membuat Hanabi mendecih sebal.
"Hanabi?" Perlahan tapi pasti kelopak mata Hinata terbuka, gadis ber-iris lavender itu mengerjapkan matanya.
"Ya?" Hanabi—disebelahnya menanggapi dengan suara parau. Ia baru bangun tidur, bukan bangun tidur sih. Tepatnya bangun tengah malam.
"Tadi—kak Neji bilang apa?" tanya Hinata sambil melirik adiknya yang tidur disebelahnya dengan mata tertutup tapi masih bisa mendengar suaranya.
"Nggak bilang apa-apa kok. Kakak tenang saja." Jawab Hanabi sekenanya tanpa merubah posisi tidurnya dan tanpa membuka kedua kelopak matanya.
"Benarkah?" tanya Hinata lagi, tidak percaya apa yang dikatakan Hanabi barusan.
"Iya, benar kok." Jawab Hanabi lagi, masih dengan suara paraunya. Kali ini ia tambah malas ngobrol sama kakaknya karena kadar mengantuknya semakin tinggi.
"Saat aku pingsan tadi, dia langsung pergi?" tanya Hinata.
"Hn." Jawab Hanabi pendek, bergegas melanjutkan tidurnya. Namun harus terinterupsi oleh Hinata yang sekarang berubah cerewet kayak Neji. Kak Neji bawa virus apa sih sampai-sampai kak Hinata jadi bawel gini? Batin Hanabi dongkol.
"Pergi langsung tanpa berbicara sepatah katapun?" tanya Hinata lagi.
"Ya." Jawab Hanabi malas. Sampai kapan sih kakaknya nanya ini terus-terusan? Memangnya tampangnya tampang pembohong apa? Iya sih, kalau urusan pribadi—sedikit.
"Memangnya kau sogok kak Neji pakai apa?" tanya Hinata lagi—sukses membuat Hanabi memutar badannya ke arah Hinata, lalu membelalakkan matanya dan menyeringai lebar.
"Obat bius." Jawab Hanabi asal, lalu berbalik lagi dan melanjutkan ritualnya yang tadi sempat tertunda—tidur.
Tanpa disadari Hanabi, Hinata kembali pingsan. Sungguh tega adiknya, memberi obat bius pada kakaknya sendiri. Hanabi menyeringai penuh kemenangan, tidak buruk juga jawabannya tadi. Pingsan sedikit? Nggak apalah.
.
.
.
"Hei, kau tahu dia berambut apa?"
"Kenapa mempermasalahkan rambutnya sih? Harusnya kan wajahnya."
"Kenapa dia pindah ke kelas ini ya?"
"Aneh."
Pembicaraan itu mengusik rasa keingintahuan Hinata yang baru saja memasuki kelasnya. Pagi-pagi udah ngegosip aja. Dia? Dia itu siapa? Dan kenapa ada kata-kata 'kenapa dia pindah ke kelas ini ya?' satu-satunya yang ada di benak Hinata sekarang adalah—murid baru.
"A—ano, dia itu siapa ya?" tanya Hinata memberanikan dirinya bertanya pada seorang gadis berambut pink yang sedaritadi sibuk mengoceh tentang dia.
Gadis bermata emerald yang diketahui bernama Sakura itu menoleh kearah Hinata, "Ah Hyuuga-san," lalu nyengir nggak jelas. "Tumben kau bertanya. Kau suka?" tanya Sakura to the point.
Hinata refleks mengerutkan dahinya, "Bu-buk—" belum sempat melanjutkan perkataannya, Sakura sudah menyela.
"Iya iya, kau menyukainya tapi malu 'kan?" tebak Sakura. "Dia itu murid baru yang akan menempati kelas kita," lanjut Sakura. Sakura salah tanggap! Aku tidak menyukai orang yang bahkan tak aku kenal, batin Hinata mendesah.
"Kau sudah dewasa rupanya, Hyuuga." Cengiran cowok bertato segitiga terbalik—Kiba muncul dihadapan Hinata.
"Hyaaaa~" Hinata refleks mendorong wajah Kiba yang cuma bisa tertawa geli.
"Rasanya dulu kau nggak gini-gini amat menyangkut—" Kiba sedikit berdehem, "—cinta" lanjutnya spontan membuat seluruh penghuni kelas menoleh ke arah Hinata. Great! Skak mat untuk Hinata, dua orang yang telah salah sangka.
.
.
.
"Selamat pagi, anak-anak" suara berat seorang guru berambut silver yang berjalan memasuki kelas menggema. Guru itu—Kakashi Hatake, guru fisika yang terkenal mesum karena suka membaca Icha Icha Paradise—barang ilegal yang seharusnya sudah dimusnahkan oleh Kepala Sekolah jika ia tidak menyogoknya dengan jaminan tidak digaji selama ia mengajar asalkan ia boleh membawa buku itu. Tidak etis memang.
"Selamat pagi, Kakashi-sensei" seluruh murid berdiri dari tempatnya, menghormati sensei yang mesumnya gak ketulungan ini. Walaupun mesum, tetap guru kita 'kan? Ralat. Maksudku guru mereka.
"Hari ini kita kedatangan murid baru," sontak seluruh kelas sibuk berbisik-bisik. Membayangkan bagaimana rupa anak baru itu. Seperti Romeo kah? Atau seperti Robin Hood? Atau seperti Cinderella? Oke author lagi ngawur.
"Yang cewek jangan teriak-teriak ya, murid barunya cowok." Muncul seringaian Kakashi dibalik maskernya yang menutupi hidung dan mulutnya. Bagaimana bisa terlihat? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.
Oke, pernyataan Cinderella tadi dicoret. Akankah seperti Romeo? Atau Robin Hood?
"Silahkan masuk," Kakashi mempersilahkan murid baru tersebut masuk.
Seorang cowok ber-iris jade dengan rambut merah batanya berjalan dengan gaya stoicnya. Hinata celingukan melihat teman-temannya yang seperti um—tersihir oleh mata jade itu, dengan lingkaran hitam yang mengelilingi matanya serta tato kanji 'Ai'.
Tunggu!
Iris jade?
Rambut merah bata?
Tato kanji 'Ai'?
Lingkaran hitam yang mengelilingi matanya?
Panda!
Seperti Panda! batin Hinata. Eh? Panda? Sabaku Gaara?
Gaara? Gaara dikelasnya ngapain? Hinata juga bingung.
Dan sedetik kemudian ia bergidik kala teman-temannya meliriknya jahil dengan kerlingan menggoda. Mereka salah sangka, desah Hinata pasrah.
Sabaku Gaara berdiri di depan kelas dengan gaya stoicnya.
"Silahkan perkenalkan dirimu, Gaara." Suruh Kakashi-sensei.
Gaara? Itu benar-benar dia.
"Namaku Sabaku Gaara. Mohon bantuan kalian." Ucapnya singkat, membungkuk lalu berdiri lagi.
Yang lain menatapnya heran, mulut mereka menganga, matanya melotot. Tentu ini bukan virus epilepsi. Hanya saja—tersihir oleh ehem—ketampanan seorang Sabaku.
"Nah sekarang, silahkan mengajukan pertanyaan." Kakashi mempersilakan murid-muridnya untuk mengajukan pertanyaan dengan mengangkat tangannya.
"Saya!" Ino dengan semangat mengangkat tangannya.
Kakashi mengangguk, "Silahkan nona Yamanaka." Persilakannya pada gadis pirang itu.
Ino nyengir, "Berapa nomor handphone-mu?" tanyanya to the point. Satu kelas sweatdrop.
"Tidak penting." Jawab Sabaku Gaara pendek.
Ino mendengus sebal sementara yang lain terkikik.
"Yak, ada yang lain?" tawar Kakashi-sensei.
"Saya!" kali ini giliran Sakura yang mengangkat tangannya antusias.
"Silahkan." Ujar Kakashi-sensei sambil menguap. Sepertinya efek begadang semalaman nonton boke—maksudku nonton bola.
"Setahu saya, Gaara-kun di kelas sebelah deh. Kok ujug-ujug masuk kelas kita sih?" tanya Sakura frontal.
Gaara menyeringai sedikit, "Aku ingin sekelas dengan belahan jiwaku." yang langsung ditimpali sorakan oleh murid cowok dan juga teriakan dari murid cewek.
"Emang siapa?" celetuk Tenten penasaran.
Gaara menyeringai lagi, kali ini lebih menyeramkan. "Cewek Hyuuga yang disana," Gaara menunjuk Hinata dengan santai.
"A-aku?" Hinata mengerjap cemas. Sebenernya dag dig dug ser sih, dia 'kan udah lama naksir Gaara.
"HINATA!" Teriakkan cempreng Ino membahana. "Kau nggak bilang pacarmu, dia 'kan?" tunjuk Ino pada Gaara.
"Dia memang pacarku kok," sahut Gaara cuek lalu mendekati Hinata di kursinya. "Ya 'kan, Nona Sabaku Hinata?" kemudian Gaara mengecup singkat punggung tangan Hinata.
Sedetik kemudian,
"Hinata! Jangan pingsan dong!"
THE END?
Bingung, mau ditamatin apa enggak xP
Tamatin aja kali ya [?]
RnR? Kalo nggak puas, PM aja :3
