Quotes ::
Cinta? Makanan apa itu? Rasa-rasanya aku belum pernah mendengar makanan yang bernama "Cinta". Tunggu! Cinta itu pasti nama musuh baru kerajaan kami. Sehebat apakah cinta itu? Aku jadi penasaran. ─ Gan Ning
Cinta itu sama saja dengan penyakit. ─ Ling Tong
Cinta itu rumit, penuh rintangan dan juga harus penuh kesabaran. Tapi jika bisa terbalas, rasanya menyenangkan dan membuat orang yang merasakannya bahagia. Sebaliknya jika kehilangan rasanya seperti ingin mati. ─ Shang Xiang
.
.
T r i ─ a n g e l
BY : Mrs Goldenweek
Disclaimer : Dynasty Warrior © Koei
Warning : OOC, AU, grammatical error, misspelling, etc
Pairing : Shang Xiang and Ling Tong ─ Gan Ning
.
Chapter 2 :: Senasip
.
Ling Tong melangkahkan kakinya malas. Entah mengapa sekarang, dia merasa lukisan yang terpapar di setiap dinding lorong ini seperti sedang mentertawakan nasipnya. Sekilas iris karamelnya melirik ke arah Gan Ning yang masih menguap lebar setelah hibernasinya selama rapat. Sesekali dia juga bisa melihat Gan Ning mengucek-kucek matanya yang berair, membuatnya semakin malas. Rasanya Dewa-Dewi sedang menghukumnya dengan membiarkannya bersama pria landak ini.
"Hey, tadi Yang Mulia membicarakan apa saja?" Gan Ning membuka pembicaraan diantara mereka. Mendengar pertanyaan Gan Ning, membuat Ling Tong setengah melotot.
Iris silver Gan Ning menatap Ling Tong bimbang. Dia mengusap-usap rambut jigrak panjangnya sejenak, lalu kembali menguap dengan lebarnya. "Kau marah padaku? Aku kan tidak punya salah apa-apa," mendadak Gan Ning jadi memberikan penjelasan. Gan Ning tau jika Ling Tong sudah bersikap begitu, pasti dia sedang marah. Tapi sekarang alasannya samar, bukannya tadi Gan Ning hanya tidur ─dan tidak bertingkah seperti biasanya.
"Ayo jawab! Kau membuatku semakin tidak enak hati," rujuk Gan Ning masih dengan posisi menguapnya.
Ling Tong menghentikan jalannya ketika mereka berdua sampai di depan pintu sebuah kamar. Sejenak iris karamelnya menatap Gan Ning, tapi dengan cepat dia membuang mukanya ─dan itu membuat Gan Ning menjadi kesal sekarang. "Ayo kita selesaikan secara laki-laki di halaman belakang saja!" tantang Gan Ning yang sudah terbakar emosi.
Bukannya menanggapi, Ling Tong malah semakin mengabaikan Gan Ning. Dia melangkahkan kakinya ke dalam sebuah kamar besar yang bernuansa merah dan emas. Langkahnya sangat pelan dan hati-hati. Gan Ning yang sedang emosi juga ikut-ikutan memasuki ruangan. Niat awal Gan Ning setelah memasuki ruangan adalah melompat dan menyerah Ling Tong. Tapi niat itu harus dikubur dalam-dalam dulu begitu iris silvernya mendapati Xiao Qiao, Da Qiao dan Lian Shi ada di dalam ruang kamar itu.
"Shang Xiang, makan dulu ya... Ini aku suapin," Lian Shi menyodorkan sesendok bubur pada bibir pucat seorang gadis yang sedang terbaring lemas di atas ranjang besar. Gadis itu tak lain adalah Shang Xiang, putri kerajaan wu yang sedang jatuh sakit akibat kehilangan. Malang sekali nasib sang putri, di usia muda dia harus merasakan pahitnya sebuah kehilangan dari manisnya cinta.
PRAK ─sendok bubur yang tadi berada di ujung bibir Shang Xiang, kini sudah berada di lantai kayu berserakan. Lian Shi membeku di tempatnya memandangi Shang Xiang yang mendadak kasar dan menepis sendok bubur yang disodorkannya. Baru kali ini dia melihat Shang Xiang begitu dingin, seperti orang lain saja. Pantas kedua kakaknya, Sun Ce dan Sun Quan menjadi panik dan stres.
Emosi Gan Ning mendadak ciut begitu melihat peristiwa yang terjadi di hadapannya. Rasa-rasanya dia baru memahami maksud dari rapat dan juga amarah Ling Tong. Ini semua karna putri keras kepala yang sedang terbaring lemas itu. Gan Ning menghela nafas dan mengambil posisi duduk di kursi bambu dekat jendela kamar Shang Xiang yang besar. Dia bimbang harus berkata apa, karna situasi di depannya ini benar-benar diuar kendali.
"Sejak kapan kamu mulai begini?" Lian Shi meletakan mangkuk bubur di meja kecil sebelah ranjang besar itu, nada bicaranya mulai meninggi. "Hanya karna pria itu, kau jadi harus merelakan orang di sekelingmu kawatir?" sentakan Lian Shi membuat bulu kuduk yang mendengarnya berdiri tegak.
"Kau─ Kau tidak mengerti!" dengan nada sedikit putus-putus, Shang Xiang tak mau kalah untuk menyentak Lian Shi.
"Apa yang aku tidak mengerti? Aku kawatir Shang Xiang! Kenapa kamu tidak membiarkan satu orang pun berusaha membuatmu lebih baik?" mendadak Lian Shi jadi hilang akal sehat. Dia menyerang Shang Xiang yang masih dalam keadaan sakit. Tangan rampingnya mencengkram pakaian tidur sutra Shang Xiang dengan kuat, sehingga meninggalkan kesan kusut di sana.
"Kau sama sekali tidak membuatku lebih baik! Sana pergi! Aku lebih baik mati menyusul Liu Bei!"
PLAK ─sebuah tamparan mendarat halus di pipi Shang Xiang. Membuat Shang Xiang menggeram kesakitan. Iris batu jadenya menatap Lian Shi penuh kebencian. Tapi mendadak, tatapan kebencian itu sedikit mereda begitu melihat wajah Lian Shi yang basah karna air mata. Lian Shi menangis.
"Kau tega! Aku tidak menyangka otakmu sangat dangkal sebagai putri kerajaan Wu yang dibanggakan," sejenak Lian Shi mengusap wajahnya dan berjalan menuju pintu keluar kamar itu. Dia berpapasan dengan Ling Tong yang berdiri membisu, akibat melihat adegan tampar yang sangat langka. Dan beberapa saat kemudian Lian Shi menghilang di balik pintu.
"Shang Xiang─," Xiao Qiao memberanikan diri untuk menyapa sang putri yang sedang benar-benar labil itu. "Aku tidak menyangka, kau serendah itu," ucapnya kecewa. Tanpa ada hitungan detik lagi dia segera meninggalkan ruangan dan membuat suasana semakin mencekam.
Da Qiao menggeleng kepalanya perlahan, dia pusing melihat saudaranya bersikap to the poin seperti itu. Tapi dia lebih pusing melihat keadaan Shang Xiang yang ternyata diluar dugaannya itu. Lalu dia berjalan mengikuti langkah saudaranya tadi, dia ikut meninggalkan ruangan. Tepat sebelum Da Qiao meninggalkan ruangan, dia berbisik pada Ling Tong. "Tolong ya...,"
Ruangan kembali sunyi. Suasana kamar pun semakin mencekam. Ling Tong berjalan mendekati ranjang Shang Xiang yang besar tanpa berkomentar. Lalu meraih sendok bubur yang berserakan dan meletakannya di sebelah mangkuknya. Setelah dia mengambil posisi duduk yang nyaman di sebelah ranjang itu, Shang Xiang angkat bicara. "Kenapa kalian berdua masih di sini? Kenapa kalian gak ikut pergi meninggalkanku?"
Ling Tong tidak tuli, Gan Ning pun sama. Tapi tidak ada di antara mereka yang mau menjawab pertanyaan Shang Xiang itu. Ling Tong memberikan isyarat pada Gan Ning untuk mengambilkan sendok bubur yang baru dari dapur kerajaan. Dan dengan segera Gan Ning berjalan meninggalkan ruangan itu tanpa 'ba bi bu' lagi. "Kalian merencanakan apa? Ayo jawab aku!," kali ini nada bicara Shang Xiang mulai meninggi kembali. Benar-benar labil.
Iris karamel Ling Tong menatap tajam ke arah batu jade yang juga sedang menatapnya. Dia masih belum mau angkat bicara. Sampai akhirnya Gan Ning datang dengan membawa sendok bubur baru di genggaman tangannya yang besar. "Ini," ucapnya singkat.
Ling Tong menunduk pelan, sebagai tanda terima kasih yang efisien. Kemudian dia meraih mangkuk bubur yang masih hangat di meja dekat ranjang dan tempatnya duduk. Bubur itu masih penuh, sepertinya Lian Shi benar-benar gagal menyuapi Shang Xiang. Dan tak heran begitu melihat sikap dan tingkah Shang Xiang sendari tadi. "Ini makan," tukas Ling Tong singkat, padat, jelas dan datar. Tangannya yang besar menyodorkan sesendok bubur pada bibir Shang Xiang persis seperti yang dilakukan Lian Shi awalnya.
"Aku tidak mau! Masih belum mengerti rupanya, aku tidak mau makan! SANA KELUAR!" sentak Shang Xiang gatal. Walau pun dia dalam keadaan sakit, ternyata staminanya masih bagus untuk berteriak dan menepis suapan bubur itu. Untung saja tepisan itu tidak membuat sendok itu kembali jatuh, karna Ling Tong sudah menggenggamnya erat.
"Kau pilih aku menyuapimu menggunakan sendok bubur, atau Gan Ning yang menyuapimu menggunakan sendok pasir? Selain itu, aku tidak akan mengabulkannya," Ling Tong menatap Shang Xiang tajam dan datar, tangannya masih tetap menyodorkan sesendok bubur. Hal itu tentu membuat Shang Xiang jadi diam. Gan Ning pasti tidak akan segan-segan untuk menyuapinya menggunakan sendok pasir walau pun dia seorang putri sekalipun. Dengan kuat Shang Xiang mencengkram selimut yang menutupi setengah tubuhnya, lalu─
"Aaa," Shang Xiang membuka mulutnya cukup lebar untuk sendok bubur masuk.
Gan Ning terkekeh pelan, ucapan Ling Tong ternyata benar-benar sanggup membuat putri itu makan ─walaupun terpaksa. 1 sendok, 2 sendok, 3 sendok, sampai akhirnya bubur di mangkuk itu habis. Ling Tong meletakan mangkuk ke atas meja kembali. Dan sekarang dia menyuguhi Shang Xiang dengan air. "Ini minum,"
Sekiranya Shang Xiang sudah cukup meminum, Ling Tong kini meletakan kain yang sudah basah air dingin di atas kepala gadis itu. Pekerjaannya benar-benar sudah turun pangkat. Dari Jendral pasukan Wu menjadi dayang-dayang putri.
"Liu Bei itu sangat berarti untukku," gumam Shang Xiang sendiri, dia mengalihkan wajah kusutnya dari Ling Tong.
Ling Tong melipat tangannya dan tetap memandang lurus ke arah gadis yang sudah mulai terkendali itu. Gan Ning juga demikian, dia berdiri bersandar pada ambang pintu dan tetap setiap mendengarkan ucapan Shang Xiang walau suaranya sangat samar. "Hanya dengan membuatnya tersenyum, aku rasanya melayang," gumam Shang Xiang lanjut.
"Tapi sekarang dia menghilang! Oh Dewa-Dewi! Dosa apa yang sudah aku perbuat, hingga jadi begini?" Ling Tong menatap mata Shang Xiang yang kosong. "Kau dan dia, tidak semua orang juga tidak ada yang mengerti hal seperti ini!"
Melihat kedaan Shang Xiang yang seperti itu, entah mengapa ia merasa waktu berjalan mundur untuk sesaat. Masa lalu di mana sang pujaan hatinya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Lalu mimpi yang menggambarkan dia mengejar pujaan hatinya dan bertemu gadis misterius, merupakan firasatnya akan Shang Xiang. Bukan, tapi gadis misterius itu adalah Shang Xiang ─putri yang sakit dan terlihat setengah waras di hadapannya ini. Sebentar Ling Tong memperbaiki tatan kain yang mengkompres kening Shang Xiang yang panas, lalu dia mulai bicara.
"Kau salah besar jika menganggap aku tidak mengerti," Shang Xiang membuatkan matanya sesaat. Lalu dia menengok menghadap Ling Tong yang masih setia duduk di kursi dekat ranjang besarnya.
Iris karamel Ling Tong menatap tajam ke arah sepasang batu jade yang terbaring lemah di depannya. Sekali lagi dia merasa waktu berjalan mundur. Membuatnya kembali merasakan sesuatu aneh yang merangsang pelupuk matanya. "Dulu, aku juga pernah mencintai seseorang. Dia adalah gadis sangat spesial. Melihat dan membuatnya tersenyum sudah suatu anugerah dari Dewa-Dewi untukku. Dan ketika dia memujiku atau dia menyapaku, rasanya seperti terbang ke khayangan,"
Shang Xiang mendapati Ling Tong tersenyum-senyum sendiri. Tapi iris karamelnya masih memancarkan kesenduan, seorang Ling Tong yang selama ini dikenal dengan Jendral pemberani dan tenang di medan perang ternyata punya sisi lain yang berbeda. "Semua berjalan mulus sampai kami pun berjanji untuk menikah nanti saat Wu menang dari Shu. Aku pun antusias untuk mewujudkannya," kembali Ling Tong menghilangkan senyumannya.
"Kau tau? Apa yang terjadi selanjutnya?" Shang Xiang menggeleng pelan. Bibirnya yang pucat berkedut-kedut kaku seperti ingin mengeluarkan suara.
Ling Tong menghela napasnya. Pemandangannya kini mengarah pada Gan Ning yang berdiri bersandar pada ambang pintu kamar Shang Xiang. Di sana dia mendapati Gan Ning uga sedang menunggu kelanjutan ceritanya. "Dia menjadi korban saat penyerangan Shu yang pertama. Aku menemukannya sudah berlumuran darah dan tak bernyawa," Sejenak Ling Tong menghentikan ucapannya. Lalu kembali menatap tajam sepasang batu jade yang masih terbaring lemas di ranjang.
"Semenjak itu, aku jatuh sakit. Persis sepertimu ini. Makan tak berselera, tidur pun tak lama, dan bahkan aku sering lengah ketika berduel melawan landak gila itu," jari telunjuk Ling Tong menunjuk Gan Ning yang dianggap sebagai 'landak'. Hal itu membuat Gan Ning menggertakkan giginya gatal. Kalau saja ini bukan kamar sang putri, mungkin sekarang dia sudah menyerang Ling Tong karena ucapan yang tidak penting itu. "Tapi kau tau? Aku berbeda denganmu! Aku masih mempunyai pikiran jernih untuk berpikir berulang kali. Aku gak boleh begini terus. Karna... Karna hidup itu harus terus berputar,"
Shang Xiang membulatkan mata jadenya. Dia tertegun akan ucapan Ling Tong yang terakhir. Hidup itu harus terus berputar ─mendengar hal itu membuat kedua pelupuk mata Shang Xiang penuh dengan bulir-bulir bening yang hangat. Dia kembali menangis. "Benarkah itu? Sniff... Aku kira di dunia ini tidak ada yang mengerti bagaimana rasanya kehilangan, sniff... Terima kasih Ling Tong... Sniff, terima kasih...," sesungguhnya Ling Tong tidak mengerti untuk apa ucapan terima kasih yang dilontarkan Shang Xiang berulang kali itu.
Tapi biarkan sajalah, mengingat mental Shang Xiang sudah mulai pulih berkat cerita singkatnya. Tangan besar Ling Tong mengusap air mata yang masih membasahi wajah sang putri. "Aku harap... Ah maksudku, kami harap ini adalah air mata terakhir. Jangan buat Yang Mulia dan yang lainnya semakin khawatir dengan keadaanmu," Shang Xiang menggangguk pasti, kali ini dia menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya yang ramping.
"Tak kusangka, putri yang terkena akan semangat bertarung di medan perang itu punya kepribadian yang cengeng juga. Hehehe... Mungkin ucapanku sedikit terlambat, tapi bersemangatlah! Biar kita bisa main kejar-kejaran lagi nanti. Heheheh...," kali ini Gan Ning ikut mengomentari dan duduk di sisi ranjang satunya lagi, berseberangan dengan Ling Tong.
Walau pun setiap senti wajah Shang Xiang tertutupi tangannya, tapi Ling Tong dan Gan Ning masih bisa melihat rona kemerahan di sela-sela jari tangan gadis itu. "Berisik kau!" sentak Shang Xiang malu.
Akhirnya setelah sekian lama, terdengar juga teriakan dari seorang Shang Xiang. Dia sudah lebih baik.
.
.
Di depan pintu kamar Shang Xiang, ternyata sudah ada seseorang ebrdiri dan mendengarkan semua pembicaraan tiga orang itu. Orang itu tak lain adalah Lu Xun, ahli strategi Wu dan juga orang yang telah membuat Ling Tong dan Gan Ning berada dalam kamar yang dia sedang dengarkan. Nampaknya Lu Xun terlihat sedang senang dan puas. Wajah seorang ahli strategi yang berhasil meluncurkan rencananya.
"Jadi ini maksudmu memilih Ling Tong sebagai pendamping putri Shang Xiang?"
Lu Xun tersenyum simpul, lalu mengusap rambut coklatnya sejenak. "Wah ketahuan ya?"
Respons Lu Xun yang sangat biasa tapi tepat seperti perkiraannya membuat seorang pria setengah baya itu juga ikut tersenyum. "Lalu kalau Gan Ning? Kenapa kamu memilih dia? Aku rasa, pria yang maniak kekuatan itu tidak tau arti cinta apa lagi kehilangan,"
Kali ini Lu Xun terkekeh mendengar ucapan pria itu. Ucapan pria setengah baya itu benar, walau pun Gan Ning sangat kuat tapi perasaan akan cinta itu lemah. "Kalau tak ada Gan Ning, pasti suasana tidak akan meriah. Benar kan, tuan Lu Meng?" jelasnya sambil terus terkekeh.
Pria setengah baya itu adalah Lu Meng, ahli strategi Wu yang lain ─senior Lu Xun. Dia nampak bangga dengan hasil pemikiran Lu Xun memilih Ling Tong dan Gan Ning, yang bahkan itu diluar pemikirannya. Generasi muda memang hebat. Lu Meng tersenyum memandang Lu Xun yang sudah beranjak dari tempat itu. "Tunggu dulu, Lu Xun!" panggil Lu meng.
"Ya, tuan Lu Meng?" tanya Lu Xun balik seraya menghentikan jalannya.
Lu Meng tersenyum penuh geli kali ini. Entah apa yang sedang dipikirkannya, sampai seperti itu. Dia merogoh saku bajunya, meraih sesuatu di baliknya. "Ini, ada titipan untukmu," Lu Meng menyerahkan sebuah gulungan kertas kecil kepada Lu Xun.
Dengan cepat Lu Xun membuka dan membaca isinya. Lu Meng hanya bisa tersenyum geli dan berjalan meninggalkan tampat itu. "Seharusnya kau saja yang menjadi pendamping putri. Tak kusangka seorang yang hanya memikirkan strategi dan menghabiskan waktu dengan mengasah kepintaran, juga bisa terkena virus cinta. Siapa dia, wanita berambut hitam panjang yang menitipkan surat itu?" goda Lu Meng sebelum benar-benar meninggalkan Lu Xun dengan surat gulungan di tangannya.
"Dia... Dia bukan siapa-siapa kok," Lu Xun menjawab ucapan Lu Meng dengan gumaman. Wajahnya yang tenang kini terlihat malu dan beberapa rona merah juga sudah terlihat menghantui setiap senti wajahnya.
Ternyata tidak hanya Shang Xiang saja yang mempunyai masalah cinta. Tapi beberapa anggota Wu lainnya, juga terlihat sedang mempunyai masalah dengan cinta itu sendiri. Dengan gerak lari yang cepat Lu Xun pergi meninggalkan tempat itu dan menemui seseorang wanita yang sudah menitipkan surat pada Lu Meng itu. Sepertinya hal ini masih akan terus berlanjut.
.
.
TBC
.
.
Author spik :
Chapter kedua wuuhuuu~
Asek asek! Chapter kedua update... asek asek! *plak, ditimpuk sendal jepit.
Oke, spesial thank's aku tujukan pada Nee-sanku tercintah! (Morning Eagle) dan Black Rose 00, salam kenal... Dan terima kasih sudah maua membaca dan mereview fic laknat ini. Semoga menghibur ya...
Lalu aku ingin membalas review di sini saja sekalian, Untuk Black Rose 00 ::
Benarkah ceritaku mirip dengan novel yang pernah di baca rose-san? Huaaa kebetulan sekali. Novel keluaran indo apa novel terjemahan dari luar? Jadi pengen baca... :D Tapi sepertinya sudah tidak ada ya? Secara kan itu novel jaman rosa-san smp.. Hehehe... Sankyu buat favnyaa *peluk erat rose-san*
Dan semua para reader yang sudah mau membaca jangan lupa kirimkan kritik dan sarannya ke PO BOX Review di bawah ini. Aku tunggu lho. Sampai ketemu lagi. :*
