Quotes ::
Cinta? Makanan apa itu? Rasa-rasanya aku belum pernah mendengar makanan yang bernama "Cinta". Tunggu! Cinta itu pasti nama musuh baru kerajaan kami. Sehebat apakah cinta itu? Aku jadi penasaran. ─ Gan Ning
Cinta itu sama saja dengan penyakit. ─ Ling Tong
Cinta itu rumit, penuh rintangan dan juga harus penuh kesabaran. Tapi jika bisa terbalas, rasanya menyenangkan dan membuat orang yang merasakannya bahagia. Sebaliknya jika kehilangan rasanya seperti ingin mati. ─ Shang Xiang
.
.
T r i ─ a n g e l
BY : Mrs Goldenweek
Disclaimer : Dynasty Warrior © Koei
Warning : OOC, AU, grammatical error, misspelling, etc
Pairing : Shang Xiang and Ling Tong ─ Gan Ning
.
Chapter 3 :: Aneh
.
"Bingkisan berikutnya dari... Ah, dari jendral Huang Gai," tangan kekar Gan Ning meraba-raba sebuah bungkusan berbentuk box dan berwarna merah maroon yang cantik. Berusaha menebak apa isinya.
"Ayo cepat buka!" pinta Shang Xiang riang.
Hari ini Shang Xiang baru saja kedatangan banyak tamu. Tentu saja kedatangan tamu itu untuk menjenguknya yang sakit. Untuk menghiburnya, ada beberapa tamu yang membawa bingkisan. Ada yang berukuran besar, ada yang mungil, dan ada juga sedang. Bentuk dan warnanya juga beraneka ragam. Karna sekarang para tamu itu sudah pergi, jadi Shang Xiang mengambil kesempatan untuk membuka bingkisannya. Tentu saja dengan bantuan Gan Ning. Mana bisa dia bangkit berdiri dan membuka semuanya kan?
"Ini kan kain sutra yang sedang populer! Wah halus sekali...," Gan Ning mengelus-elus kain pemberian Huang Gai dengan wajahnya yang sedikit... norak. Melihat tingkah Gan Ning, Shang Xiang cuman bisa bengong. Sesekali dia juga memperdengarkan tawa kecilnya.
"Hahahaha! Kau ini pria! Masa senang melihat kain sutra? Hahahha...," Shang Xiang terwa geli kali ini.
Melihat dirinya ditertawakan dengan tidak sopan, Gan Ning segera melempar kain itu ke arah Shang Xiang. Lalu meraih bingkisan berikutnya dengan wajah yang masih menahan malu. "Sudah ini ada kado bagus. Warnanya emas mencolok. Mau aku bukakan tidak?"
"Mau! Mau! Mau!" Shang Xiang terus memamerkan deretan gigi putihnya. Dia sudah benar-benar kembali menjadi putri yang dikenal seantreo Wu.
Gan Ning tekekeh pelan melihat tingkah Shang Xiang yang sudah kunjung membaik dari dua hari lalu, saat Ling Tong menceritakan masa lalunya yang sama dengan Shang Xiang. Ini kemajuan yang pesat. Tapi tetap saja, dia harus menjalankan tugas menjaga Shang Xiang sampai sang putri ini sembuh dari sakitnya. "Isinya gelang giok hijau. Huh dasar perempuan!"
"Hey, kau sudah bosan hidup ya? Padahal tadi kau melihat kain sutra saja sampai seperti... Ehm, wanita," respons Shang Xiang kemudian, dengan pandangan menggoda pastinya.
"Apa? Kau masih saja mengungkit tadi!" balas Gan Ning mulai kesal.
"Heh, masa pria bertatto dan haus darah di pertempuran, melihat sutra saja sampai terpana," ledek Shang Xiang lanjut.
"Lalu apa ada seorang putri yang terkenal selalu merengek ingin ikut berperang, bisa sakit dan jadi setengah waras?" sepertinya Gan Ning tidak puas jika tidak membalas ucapan Shang Xiang tadi.
Shang Xiang menyipitkan matanya, lalu menggulung lengan piayama sutranya yang halus. Dia benar-benar sudah naik pitam. "Diam kau Gorila setengah jantan!" sentak Shang Xiang kemudian.
"Apa kau bilang, Serigala berhati domba?" balas Gan Ning.
"Berisik Landak maniak kekuatan!"
"Putri setengah waras!"
"Jendral norak!"
"Wanita aneh!"
"Raja minum!"
"Iblis manja!"
Suasana tenang yang tadi tercipta sudah berubah medan perang mulut. Mereka sudah lupa rencana awal mereka untuk membuka bingkisan dengan damai. Perlahan Shang Xiang yang sedang naik pitam itu bangkit dari posisi tidurnya, dia lupa kalau kondisinya masih sangat lemah. "Diam dasar pri─," dan benar saja, baru dia ingin menginjakkan kakinya pada lantai kayu jati kamarnya ─dia langsung mendapatkan pengelihatannya berputar. "Akh─ Kepalaku...," gumam Shang Xiang mulai ambruk mencium lantai.
Untung saja, Gan Ning cukup cekatan. Dia menangkap kepala Shang Xiang tepat sebelum jatuh mencium lantai kayu. "Dasar putri ceroboh," ledek Gan Ning lagi, kali ini dia tersenyum menatap wajah Shang Xiang yang ada di pangkuannya dengan pandangan jahil.
"Urgghh! Kau mentertawakanku Jendral landak," ucap Shang Xiang pelan, seraya menahan sakit di kepalanya yang amat teramat itu.
Kali ini Gan Ning terkekeh dengan kerasnya. Dia masih menatap wajah Shang Xiang yang di pangkuanya dengan pandangan jahil. "Kalau melihat posisi ini, aku rasa aku yang menang. Hahaha.. 1-0 putri aneh!"
"Heh! Tunggu sampai aku sembuh! Awas kau!" geram Shang Xiang, dia kini sibuk memijit-mijit kepalanya yang sakit itu.
Melihatnya Gan Ning hanya bisa terus terkekeh dan tersenyum geli, dia nampak puas sekali menang adu mulut kali ini. Dengan perlahan dia mengangkat tubuh Shang Xiang dan lemas itu dengan kedua tangannya yang kekar. Cukup mudah baginya mengangkat tubuh kurus Shang Xiang, ketimbang mengangkat tubuhnya sendiri ketika sedang mabuk berat. Dan saat itu juga pintu kamar Shang Xiang terbuka.
KLEK─ di pintu Gan Ning mendapati Ling Tong sedang sibuk membawa tumpukan bingkisan cantik di sebelah tangannya. Di belakangnya juga sudah terdapat beberapa pelayan yang juga nampak membawa bingkisan. Pemandangan ini membuat Gan Ning jadi mematung di tempatnya berdiri. Dan bahkan dia sampai lupa kalau sekarang di gendongannya sudah ada putri kerajaan yang benar-benar butuh berbaring kembali di ranjang.
"Hey, dari mana semua bingkisan menggunung itu?" tanya Gan Ning penasaran.
Ling Tong meletakan bingkisan yang ada di tangannya dan menyuruh para pelayan itu untuk meletakan bingkisan yang mereka bawa di sudut ruangan beserta bingkisan lainnya. Setelah itu baru Ling Tong mulai bicara. "Dari warga," singkat tapi cukup jelas untuk menjawab pertanyaan Gan Ning tadi. "Lalu, apa yang ingin kau lakukan pada putri?"
"Eh?" Gan Ning baru sadar kalau sendari tadi dia masih menggendong Shang Xiang. Lalu cepat-cepat dia membaringkan tubuh Shang Xiang kembali di atas ranjang yang hangat. "Aku hanya ingin membantunya kembali tidur di ranjang kok. Salah memangnya?"
Ling Tong berjalan mendekati Gan Ning dan Shang Xiang. Lalu dia membenarkan posisi selimut putri itu dan tak lupa kembali mengompres kepala sang putri dengan kain dingin. Dia lama kelamaan menjadi ahli dalam memerankan peran pengasuh. "Aku gak mau dapat masalah nantinya karna ulahmu!" jawab Ling Tong kemudian.
"Terima kasih Ling Tong, untung kau datang. Kalau tidak aku bisa habis oleh pria monster itu," bisik Shang Xiang dari ranjang tidurnya. Tentu saja ucapan Shang Xiang itu mampu membuat alis Gan Ning bertaut akurat.
"Aku tunggu kau sembuh, Putri manja!" tantang Gan Ning gatal. Kali ini dia melangkah menuju pintu keluar kamar Shang Xiang. Sesekali dia menggaruk rambutnya di setiap langkah kakinya menuju keluar kamar.
"Kau mau kemana?" tanya Ling Tong singkat.
"Mau makan, mandi, dan berlatih. Sudah dua hari ini aku belum berlatih, bisa-bisa kemampuan bertarungku tumpul," jawab Gan Ning dengan santainya.
"Lalu, kapan kau kembali?" tanya Ling Tong lagi.
Gan Ning menghentikan langkahnya tepat di depan pintu oak coklat. "Nanti malam, habis makan malam. Kau ini! Takut sekali aku kabur ya?" jawab Gan Ning seraya menghela nafasnya yang sedikit berat.
"Memang! Aku masih ingat terakhir kali aku satu tugas denganmu, aku selalu berakhir dengan hukuman," Shang Xiang menahan tawanya mendengar penjelasan dari Ling Tong kali ini. Sepertinya usaha menahan tawa itu sia-sia, tawa Shang Xiang sudah keburu keluar dari celah bibirnya.
"Pfftt... Hihiiihii," tawa Shang Xiang kecil.
"Jangan tertawa kau nenek sihir!" sentak Gan Ning kalut. Kali ini dia benar-benar gatal, dengan segera dia mendekati sang putri dan berusaha menyerangnya. Tapi sial, di sana ada Ling Tong. Sudah pasti dia membela sang putri itu, karna ini merupakan tugas. "Jangan halangi aku Ling Tong! Aku dari tadi sudah gatal ingin memberinya pelajaran. Tak peduli dia wanita atau putri kerajaan sekali pun," Gan Ning meronta-ronta ingin menyerang Shang Xiang yang masih mentertawakannya.
"Hentikan landak! Aku gak mau semakin susah karna ulahmu ya!" ucap Ling Tong masih dalam posisi mengunci setiap gerakan Gan Ning yang mengamuk.
"Kenapa kamu jadi ikutan ngeledek, hah?" mendadak Gan Ning jadi menatap sinis Ling Tong.
"Biar kau bisa diam," balas Ling Tong kemudian.
Suasana berubah, sekarang Gan Ning dan Ling Tong lah yang berdebat. Shang Xiang mendadak jadi diam dan sweatdrop liat dua orang itu jadi adu mulut. Bukan kah seharunya Shang Xiang dan Gan Ning yang berdebat? Kenapa jadi Ling Tong dan Gan Ning? Shang Xiang menggaruk kepalanya pelan. Entah mengapa kepalanya makin berdenyut hebat melihat aksi debat mulut itu perlahan menjadi adu fisik. "Hey, kalian hentikan!" perintah Shang Xiang dengan cepat.
Dari Gan Ning mau pun Ling Tong mereka sama-sama sudah sibuk dengan pertarungan mereka di dalam kamar Shang Xiang yang luas itu. "Hentikan! Aduh kalian ini!" kembali Shang Xiang memerintahkan keduanya untuk berhenti. Tapi kembali lagi, mereka masih tetap sibuk dengan pertarungannya.
"Dasar laki-laki!," umpat Shang Xiang seraya terus memijit kepalanya yang masih berdenyut-denyut itu.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di taman belakang istanah tak jauh dari kamar Shang Xiang terihat dua orang pria─wanita sedang duduk tenang di kursi batu taman itu. Satu sama lain tak ada yang berani berbicara. Mereka nampak malu-malu untuk memulai pembicaran satu sama lain. Hanya suara angin yang berhembus dan kicauan burung saja yang terdengar.
Pria ini adalah Lu Xun, yang dua hari lalu sempat menerima titipan surat dari Lu Meng. Dari gerak-geriknya saat ini, bisa ditebak wanita ini adalah orang yang menitipkan surat pada Lu Meng. "Umm, itu.. anu..." Lu Xun mendadak jadi gagap dalam berbicara. Mata hazelnya sesekali melirik untuk mencuri pandang wanita yang duduk persis di sebelahnya.
Rambut hitam legam wanita itu berterbangan tertiup angin. Membuat sebuat loncatan di rongga dada Lu Xun, aneh. "Yue, sebenarnya aku itu..." Lu Xun menepuk wajahnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar gerogi, dan gagap pastinya. "Lu Xun, harusnya tadi kau perhitungkan dulu kemungkinan terbesar kau akan kaku seperti ini," batin Lu Xun.
"Aku tau, kau pasti tidak akan membalas pernyataan dari surat itu. Maaf... Maafkan aku sudah lancang mengirimnya," Wanita yang di panggil Lu Xun dengan 'Yue' itu mendadak jadi menundukan wajahnya sendu. Sesekali wanita itu menggeser posisi duduknya yang tadi bisa dibilang cukup dekat dengan Lu Xun.
"Bukan begitu!" reflek Lu Xun mengatakan demikian dan menggenggam sebelah tangan Yue. Hal itu tentu membuat wajah wanita itu memerah padam. Yue menatap Lu Xun tajam, berusaha mendapat jawaban dari genggaman tangan Lu Xun yang bisa dibilang erat itu. Dan juga berusaha mendapatkan jawaban dari ucapan refleknya tadi.
"Jadi?" tanya Yue meyakinkan. Wajahnya benar-benar semerah tomat ketika menatap Lu Xun.
Iris hazel Lu Xun berusaha memandang sorot iris hitam Yue dengan tajam, sejenak dia mengalihkan pandangannya pada bunga dandelion yang tumbuh di tempat kakinya berpijak. Lalu dengan cepat Lu Xun memetiknya dan memberikan bunga itu pada Yue. "Semua orang berasumsi kalau aku sangat cerdas. Tapi itu tidak benar," sejenak Lu Xun menghentikan ucapannya dan kembali memandangi wajah Yue.
"Aku tidak pintar merangkai kata-kata, tapi soal perasaan aku tidak tumpul. Yue sebenarnya aku juga mencin─,"
BRAK! ─suara benturan keras mengagetkan Lu Xun yang sedang berusaha menyatakan perasaannya. Dan tentu saja suara itu menghancurkan segalanya. Suasana romantis, pemandanngan serius, dan juga tatapan tajam antara Lu Xun dan Yue. Dengan siaga Lu Xun melindungi Yue di balik punggunya yang bisa dibilang cukup besar untuk ukuran pria.
"Su-suara apa itu?" tanya Yue panik.
"Entahlah, tapi sepertinya dari kamar Putri Shang Xiang. Oh Dewa-Dewi, jangan katakan itu hasil perbuatan si Duo bodoh itu," jawab Lu Xun dengan iringan doa di belakangnya.
Yue mengerjabkan kedua iris hitam malamnya itu. "Duo bodoh?"
"Ah maksudku Ling Tong dan Gan Ning. Maaf Yue, bisa kita lanjutkan pembiacaraan kita besok? Aku sungguh minta maaf," tunduk Lu Xun kecewa. Masalah ini benar-benar sudah mengganggunya.
Dengan manis, Yue tersenyum ke arah Lu Xun yang masih menunduk. "Ya, aku akan menunggumu. Sudah sekarang cepat sana,"
Lu Xun tersenyum cerah lau berusaha mengambil langkah seribu mendatangi kamar Shang Xiang yang jaraknya tak jauh dari taman tempatnya berdiri. Tapi sepertinya Yue masih belum puas dengan mengatakan kata-kata. Dia menghentikan langkah Lu Xun dengan menggenggam lengannya. "Tunggu, kau lupa jimatmu," ucap Yue seraya tersenyum malu.
"Jimat?"
Tanpa ada hitungan detik Yue segera mencium pipi Jendral cerdas Wu itu dengan cepat. Lalu dia segera berlari meninggalkan Lu Xun yang bengong dengan wajahnya yang merona. Lu Xun menggosokkan tangannya pada pipinya yang bekas dicium Yue. Lagi-lagi loncatan di rongga dadanya membuat Lu Xun jadi diam seperti patung. "Yue..,"
PRANG! BRUAK! ─suara gaduh kembali terdengar, dan kali ini suara itu mampu membuyarkan Lu Xun dari efek bengongnya tadi. Setelah menggeleng dan mengenyahkan pikiran asmaranya, Lu Xun kembali berjalan untuk mendatangi pusat kegaduhan itu.
.
.
"Maju kau!" sentak Gan Ning gatal.
"Tanpa kau suruh pun aku pasti akan maju landak!" ucap Ling Tong seraya mengayunkan kayu besar bekas patahan kursi kamar Shang Xiang.
Dengan gesit Gan Ning menghindar dan siap melayangkan pukulan tangan kosongnya ke arah wajah tampan Ling Tong. "Pukul kecil tidak akan mempan meawanku!" Ling Tong menghindar dengan lincahnya seraya mengatakan demikian.
"Cih, jangan sok! Aku belum selesai! Rasakan ini!" sebuah meja kamar Shang Xiang di lempar Gan Ning dengan mudahnya. Tapi lagi-lagi Ling Tong bisa menghindar, dan itu membuat meja membentur keras ke dinding kamar Shang Xiang dan hancur seketika.
"KUMOHON KALIAN BERDUA HENTIKAN!" jerit Shang Xiang sekuat tenaga.
Bukannya berhenti, tapi mereka berdua semakin menjadi-jadi. Membuat Shang Xiang semakin pusing dan... sakit. Dalam hati Shang Xiang berdoa,berharap siapa saja yang mendengar kegaduhan ini dapat menghentikannya. Dua pemuda di kamarnya ini sudah benar-benar liar. Memakai kamarnya sebagai arena pertarungan antar lelaki.
KLEK ─pintu terbuka lebar, di sana Shang Xiang dapat menangkap sosok Lu Xun, Lu Meng, Huang Gai dan Lian Shi. "Oh Dewa-Dewi, terima kasih!" batin Shang Xiang girang.
"Kalian sudah gila!" sentak Lu Meng memandangi seisi kamar Shang Xiang yang hancur lebur. Bahkan kerusakannya sampai ke atap-atap.
"Kalian berdua hentikan!" bentak Lu Xun geram.
"Menjijikan! Bertarung dalam kamar seorang putri? Kalian harusnya malu!" Lian Shi menambahkan dengan sentakan khasnya.
Hanya Huang Gai yang tidak ikut mengomentari kelakuan liar dua Jendral muda itu. Dia lebih memilih mengawasi ruangan ketimbang berkomentar yang belum tentu didengar keduanya.
Gan Ning kali ini melempar kursi kamar Shang Xiang ke arang Ling Tong. Tapi meleset, lemparannya justru mengenai langit-langit kamar Shang Xiang yang sudah mulai retak-retak akibat pertarungan brutal itu. Beberapa saat setelah lemparan Gan Ning, langit-langit itu mulai memberikan tanda-tanda akan rubuh. Shang Xiang menatap setiap pecahan atap yang jatuh dengan panik. Sungguh dia benar-benar takut. Mana mungkin dia bisa lari di saat sakit seperti ini. Di tambah lagi, posisi langit-langit yang akan rubuh tepat di atas kepalanya.
PRAK ─Dan benar saja, langit-langit itu rubuh. Satu persatu pecahan atap mulai menghujani Shang Xiang yang tergeletak lemas di ranjangnya. Mungkin kalau pecahan kecil Shang Xiang masih bisa bertahan, tapi kalau pecahannya sebesar bola meriam bagaimana? "KYAAAA─," teriak Shang Xiang mulai ketakutan. Bagaimana tidak? Sebuah pecahan batu besar siap menindihnya, sudah pasti membuatnya ketakutan.
"PUTRI SHANG XIANG!" Liang Shi, Lu Xun dan Lu Meng berbarengan berteriak dan berusaha mengambil langkah seribu untuk menolong sang putri. Tapi terlambat batu besar itu sudah keburu jatuh.
BRAKK! ─pecahan batu besar itu jatuh menimpa ranjang Shang Xiang dengan halus. Membuat beberapa debu berterbangan seperti asap. Lian Shi yang sangat menyayangi Shang Xiang langsung menghampiri ranjang Shang Xiang. Dia siap jika dia dihukum akibat tidak bisa menolong putri, bukan melainkan adik iparnya sendiri.
"Eh?" Jujur, bagi setiap orang yang menatap reaksi Lian Shi saat ini pasti akan kebingungan. Kenapa? Karna Lian Shi mendapati ranjang Shang Xiang kosong. Lalu kemana perginya sang putri itu?
"Dia.. uhuk-uhuk.. baik-baik saja,"
Dengan cepat Lian Shi menengok ke asal suara tadi. Iris silver Lian Shin memandang tak percaya ke arah Shang Xiang yang pingsan dalam gendongan Ling Tong dan Gan Ning. "Ya, putri manja... uhuk-uhuk, baik-baik saja. Hanya pingsan karna shock!" kali ini Lian Shi mendapati Gan Ning yang mengeluarkan komentar.
"Untung kita tepat waktu. Uhuk-uhuk.. puehh debunya kemakan.. uhuk-uhuk.." Gan Ning menepuk-nepuk dada bidangnya yang sudah penung keringat.
"Ya, untung kita tepat waktu," tambah Ling Tong santai, seperti tak ada kejadian sebelumnya.
Lu Meng mendekati keduanya dan mengambil Shang Xiang dari gendongan Ling Tong dan Gan Ning. "Sini, aku gantikan sebentar gendongnya. Tuan Huang Gai ingin memberikan sesuatu pada kalian," ucap Lu Meng tenang dan berjalan menjauh seraya terus menggendong Shang Xiang.
BLETAK! ─ternyata maksud dari ucapan Lu Meng adalah memberikan pukulan pelajaran. Dan sekarang Gan Ning dan Ling Tong cuman bisa merintih di pojok ruangan akibat kesakitan. Lian Shi memberikan tatapan death glarenya. Lalu Lu Xun hanya bisa memberikan senyuman (?) Senyuman yang diiringi hawa hitam di belakangnya. "Begitu tugas kalian berakhir, aku akan pasti kan kalian jauh dari sang putri dan tak ketinggalan hukumannya," Lu Meng menekankan kata 'hukuman' di ucapannya barusan.
Ling Tong dan Gan Ning saling lirik satu sama lain. Mereka sedang ketiban sial. Tapi yang lebih anehnya itu, kenapa tadi mereka rela berlari demi menolong Shang Xiang? Bukannya jarak antara mereka dengan ranjang cukup jauh?
"Syukurlah putri manja itu selamat. Aneh... rongga dadaku rasanya aneh. Kenapa aku merasakan hal aneh begini begitu melihat sang putri manja dalam bahaya? Itukan sudah kewajibanku melindunginya, tapi kenapa sekarang rasanya beda?" batin Gan Ning.
Lain Gan Ning, lain Ling Tong. "Begitu melihat si Landak berlari ingin menyelamatkan putri, kenapa aku jadi tidak rela? Bukan kan sama saja siapa pun yang menolongnya? Kenapa aku jadi kepikiran tida rela begini?Dan gilanya, aku tidak merasa kesal karna nanti aku akan menjalani hukuman,"
"Aku kenapa?" Batin keduanya.
.
.
TBC
.
.
Author spik ::
Malam semua! Golden update malem-malem nih! Jadi balas reviewnya besok aja ya.. ngantuk euy... *plak
Jangan lupa klik review di bawah ini yaaaa..., aku tunggu! Makasih sebelumnya...
