Quotes ::
Cinta? Makanan apa itu? Rasa-rasanya aku belum pernah mendengar makanan yang bernama "Cinta". Tunggu! Cinta itu pasti nama musuh baru kerajaan kami. Sehebat apakah cinta itu? Aku jadi penasaran. ─ Gan Ning
Cinta itu sama saja dengan penyakit. ─ Ling Tong
Cinta itu rumit, penuh rintangan dan juga harus penuh kesabaran. Tapi jika bisa terbalas, rasanya menyenangkan dan membuat orang yang merasakannya bahagia. Sebaliknya jika kehilangan rasanya seperti ingin mati. ─ Shang Xiang
.
.
T r i ─ a n g e l
BY : Mrs Goldenweek
Disclaimer : Dynasty Warrior © Koei
Warning : OOC, AU, OC (Yue), grammatical error, misspelling, etc
Pairing : Shang Xiang and Ling Tong ─ Gan Ning
.
Chapter 4 : Rival
.
TOK! TOK! TOK!
Sebuah pintu oak berwarna coklat tua terlihat diketuk-ketuk dengan tidak sabaran oleh seorang pria setengah baya, Lu Meng. Sepertinya hari yang sangat cerah ini akan menjadi hari yang sangat berat bagi duo jendral muda wu.
Ling Tong's POV on─
Ayolah... aku ingin beristirahat. Kepalaku tidak akan berhenti berdenyut-denyut jika siapa pun orang yang di balik pintu kamarku ini tidak berhenti mengetuknya. Aku ingin tidur sedikit lagi. Mataku sangat berat untuk diajak berkompromi sekarang.
"Sebentar!" ucapku sekedar memberi respon dari tersangka yang sudah repot-repot mau membangunkanku di pagi buta.
Aku melangkahkan kakiku tak berselera. Hanya dengan memakai celana panjang tidurku, aku menyambut kedatangan tamu itu yang tak sabaran itu. "Ya?" sambutku tidak sopan. Sungguh, aku benar-benar masih mengantuk.
"Selamat pagi, Ling Tong."
Aku membuka mataku paksa. Suara yang sangat mirip dengan dewa penunggu neraka ini sudah pasti suara... "Pagi... Tuan Lu Meng."
Tuan Lu Meng menatapku biasa, sepertinya dia sudah tau kalau aku baru bangun dari tidurku yang sangat pendek. Bagaimana tidak pendek? Kemarin semenjak insiden runtuhnya kamar putri Shang Xiang, aku harus menjalani hukumanku dengan si landak gila gak waras itu. Dari siang hingga tengah malam, kekuatanku diperas habis dan tak diberi sedikit pun waktu untuk beristirahat.
"Mulai hari ini Yang Mulia Sun Ce dan Sun Quan akan menggantikan tugasmu."
Eh?
"Jadi... Kau tidak perlu lagi menjaga sang Putri. Sekian, aku hanya ditugaskan untuk memberitahumu kabar ini. Dengan begini, sudah tidak ada alasan kalian berada di dekat sang Putri ─kecuali kalian ditugaskan di medan perang bersama. Aku permisi."
Tunggu Tuan Lu Meng! Jadi aku tidak akan bertemu dengan Putri Shang Xiang lagi? Gak bisa ketemu lagi?
Ling Tong's POV off─
.
.
Gan Ning's POV on─
Gak bisa ketemu nenek sihir itu lagi? Lalu duelku? Aku belum selesai cari perhitungan dengannya, kenapa sekarang jadi gak bisa ketemu dia?
"Kalau begitu, aku duluan ya..."
"Tunggu! Tunggu dulu Lu Xun! " Aku memanggil cowok pendek berambut coklat yang mulai berjalan menjauhi pintu kamarku ini.
Bagus, Lu Xun merespon panggilanku. Dia menengokkan kepalanya dan menaikkan sebelah alis matanya. Sok cool dia. "... Itu.. berarti aku gak akan ketemu nenek─... ah! Maksudku sang Putri lagi?" aku bertanya sekedar untuk meyakinkan ucapan Lu Xun tadi.
"Untuk sehari-hari? Jawabannya... Ya. Tapi untuk misi, jawabannya... mungkin."
Aku makin bingung. "Tunggu... Tunggu! Aku masih bingung. Jelaskan secara detil dong! Aku kan masih mengantuk!" sengaja aku berbicara agak keras, agar berkesan aku tidak mendengarkan penjelasannya tadi. Aku berharap Lu Xun sedang bergurau.
Lu Xun diam. Dia diam di depan pintu kamarku. "Baiklah aku akan mengulangi ucapanku. Mulai hari ini kau tidak perlu mengunjungi sang Putri. Karna mulai hari ini Yang Mulia Sun Ce dan Sun Quan sendirilah yang akan mengurus sang Putri. Mereka sudah sepakat untuk membagi waktu dan menjaga Putri. Lagi pula, sekarang Putri sudah lebih baik kan?"
Aku sekarang yang diam. Gak ada kata-kata protes atau pun pertanyaan, hanya diam. Lu Xun berbalik menatapku dengan bimbang. "Kenapa diam? Bukannya kau menyuruhku mengulang penjelasanku sendiri? Kenapa sekarang diam? Seperti bukan seorang Gan Ning. Sudahlah dari pada aku bicara panjang lebar, yang belum tentu kau mengerti... Aku permisi."
Aku masih diam. Aku benar-benar gak tau harus membalas ucapan Lu Xun dengan apa? Kepalaku rasanya seperti habis ditabrak puluhan banteng liar, yang membuatku menjadi sulit berpikir. Tak kusangka insiden itu akan berakhir begini. Kualihkan pandanganku untuk mencari sosok Lu Xun, tapi sepertinya aku terlambat. Lu Xun berlalu dengan cepatnya. Dasar bocah itu. Sial.
Gan Ning's POV off─
Di tempat lain... Tepatnya di sebuah kamar luas yang bernuansa merah maroon dan emas, Shang Xiang duduk bersandar di atas kasur empuk dengan mata jadenya menerawang jauh ke luar jendela. Hari yang terlalu cerah untuk dilewati dengan kesunyian. Sesungguhnya, Shang Xiang memang marah dengan kedua laki-laki bodoh yang sudah membuatnya hampir kehilangan nyawa. Tapi mengingat kedua laki-laki bodoh itu diberhentikan di tengah tugas mereka, bagi Shang Xiang mereka seperti dibiarkan kabur. Rasa kesal menghantuinya selama dua laki-laki, yaitu Ling Tong dan Gan Ning tidak memperlihatkan batang hidung mereka.
"Oh adikku yang cantik nan gagah rupawan... Kau sudah bangun?" suara Sun Ce yang bersemangat mengalihkan pandangan Shang Xiang menuju pintu masuk kamar itu.
Shang Xiang diam. Dia hanya memberikan seulas senyum tipis dan kembali menatap keluar jendela. "Kau baru bangun ya?" tanya Sun Ce lanjut. Kali ini dia duduk di ambang kasur yang sedang ditiduri Shang Xiang. Nampaknya Shang Xiang tidak berselera untuk menjawab pertanyaan kakaknya, Sun Ce. Baginya masih ada yang lebih penting untuk dipikirkan ketimbang menjawab pertanyaan kakaknya.
"Ngomong-ngomong, sebentar lagi Da akan membawakan sarapan pagimu. Kau harus makan ya... Aku harus menemui Zhou Yu, katanya wilayah barat kerajaan sedang terjadi kerusuhan. Sepertinya Zhou Yu ingin membicarakannya lebih lanjut. Jaga kesehatanmu. Aku pergi dulu."
Sun Ce beranjak dari tempat duduknya tadi. Lalu berjalan menunju pintu keluar kamar, namun sebelum dia keluar Shang Xiang memanggilnya. "Ce..."
"Ya? Ada yang kau inginkan Shang Xiang?"
Shang Xiang tertunduk diam sejenak. Lalu kembali menatap Sun Ce, setelah menarik napas pendek. "Apa kau yang menghentikan tugas... Ling Tong dan Gan Ning?" tanya Shang Xiang pelan.
"Ya." Jawab Sun Ce singkat.
"Tapi kenapa Ce?" Kali ini nada suara Shang Xiang mulai meninggi. Ada rasa penasaran yang menyelimuti otaknya.
Sun Ce menghela napas sebentar, lalu berjalan berbalik ke arah Shang Xiang. "Itu karna permintaan Quan."
"Quan? Ta-tapi kenapa? Kau sendiri yang mengusulkan untuk mencari pengganti kan? Lalu setelah mendapat pengganti begini, kenapa diberhentikan? Kenapa Ce?" Shang Xiang kalap. Dia benar-benar penasaran, tapi perasaan kesal juga ikut bersangkar di otaknya. Terpaksa dia harus bertanya dengan nada sedikit membentak-bentak.
Sun Ce tersenyum tipis. Dia semakin mendekati Shang Xiang yang terlihat kesal dari kasur, lalu mengacak-acak rambut halus adik perempuannya itu. "Hey tak perlu ngotot begitu... Bilang saja kau ingin bertemu mereka kan?"
"Iya! Ah... Maksudku tidak. Siapa peduli dengan dua orang bodoh, sok pamer kekuatan dan liar itu. Aku tidak peduli."
Sun Ce menyipitkan kedua matanya. Cengiran menggoda terukir di bibirnya. Wajah adiknya saat ini sangatlah lucu. Memerah dan sedikit tersipu-sipu. Berlaga marah-marah untuk menutupi maksud sesungguhnya. "Tak usah berbohong begitu. Hahahha..."
"Aku memang tidak perduli kok..."
Sun Ce semakin menyipitkan kedua matanya. "Benarkah itu?"
"...ugghhh! Jangan menggodaku!"
"Hahahahahah... Lucu sekali kau ini Shang Xiang! Baru kali ini aku melihatmu begini," Sun Ce semakin nyengir dan tertawa lebar. Adiknya benar-benar lucu. "Sudahlah aku pergi dulu, Zhou Yu pasti sudah menungguku."
"Tu-tunggu dulu Ce!"
Lagi-lagi langkah Sun Ce terhenti di depan pintu keluar kamar. "Apa lagi?"
"Ti-tidak. Tidak ada... Sudah kau pergi saja, nanti terlambat."
Sun Ce tersenyum seraya menghela napas. "Aku pergi dulu," ucapnya sebelum menghilang di balik pintu. Ruangan kembali sepi.
Shang Xiang kembali meringkuk di dalam selimut. Pandangannya kembali tertuju pada jendela kamar yang terbuka tadi. Cuacah benar-benar tenang. Sakin tenangnya, Shang Xiang jadi risih dan merasa ada yang kurang untuk ukuran cuacah secerah ini. "Tak ada suara pertikaian. Tak ada suara dengkuran gorila setengah jantan. Tak ada ancaman dari pria sok keren. Tak ada... Tak ada gelak tawa yang menghibur lara. Tak ada lagi," Shang Xiang menghela napas panjang. Dia menutup matanya dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.
.
.
KRIK KRIK KRIK!
Suara jangkrik bersaut-sautan mengisi keheningan malam hari ini. Suaranya terlalu berisik, sampai-sampai membangunkan seorang gadis yang sendari tadi terlelap. Gadis itu tak lain adalah Shang Xiang. Wajahnya penuh peluh dan rambutnya juga basah. Sepertinya hawa kamar yang di tempatinya terlalu kering. Dengan kondisi badan yang sudah bisa bangkit dari kasur, Shang Xiang berjalan lambat menuju kamar mandi kerajaan. Dia mandi dan berganti pakaian. Untuk ukuran normal ini cukup aneh. Mandi di malam hari.
"Sepi sekali. Aku bosan!"
Shang Xiang membuka jendela kamar itu lebar-lebar. Diliriknya situasi di luar. Hanya ada kolam ikan dan suara jangkrik bersaut-sautan. Setelah mengambil posisi duduk di ambang jendela, Shang Xiang membenamkan kepalanya di atas kedua lututnya. Desiran angin malam yang semilir membuatnya semakin mengutuk kedua laki-laki yang sudah tidak memunculkan wujudnya. Tapi tak bisa dielakan juga, kalau Shang Xiang merindukan mereka.
"Padahal baru seharian saja aku tidak bertemu mereka, tapi kenapa aku benar-benar merasa seperti sudah setahun? Argghh! Ini salah mereka kalau aku jadi gila!"
"Merindukanku?"
Hegh! ─Shang Xiang menelan ludahnya seperti menelan gumpalan batu. Dia benar-benar kaget mendengar suara tenang yang sangat familier di telinganya ini. Dengan cepat dia mengangkat wajahnya dan mendapati salah satu laki-laki yang dia kutuk tadi berada di luar jendela kamar tempatnya membenamkan kepalanya tadi. "Ling─Ling Tong?"
"Sssttt! Nanti Yang Mulia bisa bangun mendengar suaramu Putri!" balas laki-laki itu yang tak lain adalah Ling Tong.
Dengan senyuman Ling Tong mulai mengambil posisi duduk di ambang jendela seperti yang dilakukan Shang Xiang. "Bagaimana kondisimu? Sepertinya sudah sembuh ya?" tanyanya kemudian.
"I-itu... Aku... Itu..."
Ling Tong tersenyum geli sekarang. Reaksi Shang Xiang yang tergagap-gagap membuatnya ingin tertawa. Andai saja kamar Sun Quan dan Sun Ce bukan di sebelah kamar ini, mungkin Ling Tong sudah tertawa lebar. "Aku tadinya ingin memberikanmu jimat ini..." Ling Tong merogoh saku celananya meraih sebuah benda kecil berbentuk matahari dan bulan, sebuah kalung. "...tapi mengingat kau sudah sembuh, aku rasa kau tidak memerlu─"
"Aku memerlukannya," ucap Shang Xiang singkat. Kedua tangannya sudah merampas kalung jimat itu dari tangan Ling Tong, lalu mengenakannya. "Bagaimana? Bagus tidak?" tanya Shang Xiang kemudian.
"Itu bukan aksesoris Putri... Itu─"
"Ssstt! Aku tidak mau dengar pokoknya ini kalung dan juga jimat. Dan aku memerlukannya."
Ling Tong menggelengkan kepalanya pasrah. Benar-benar Putri yang keras kepala. "Terserah kau saja," ucap Ling Tong lanjut. Kali ini Ling Tong mengadahkan kepalanya ke langit. Malam ini bulan purnama, dan cahayanya sangat terang. "Malam yang indah, sayang jika dilewati sendirian," gumam Ling Tong lanjut.
Degh! ─Shang Xiang meremas kerah pakaiannya sendiri. Ada sebuah loncatan di dadanya yang membuatnya merasa aneh. Loncatan yang terjadi setelah mendengar ucapan Ling Tong . Shang Xiang menatap wajah Ling Tong yang disinari cahaya bulan. Baginya, Ling Tong bisa dibilang cukup tampan untuk membuatnya kege-eran seperti ini. "Ee... Sendirian? Memangnya Gan Ning kemana? Bukannya kalian selalu bersama?" Shang Xiang mulai membuka omongan.
"Gan Ning? Dia tertidur sehabis kebanyakan minum. Jadi aku tinggalkan saja... Saat aku sedang berjalan-jalan, aku ingat kau dan pergi ke sini," jawab Ling Tong. Namun pandangannya masih tidak teralih dari bulan purnama yang cantik.
"Jadi kalau Gorila itu tidak tidur, kau tidak ke sini? Sia-sia aku merasa berdebar tadi. Sialan." Batin Shang Xiang dengan berdengus.
Sejenak terjadi keheningan di antara mereka. Bulan purnama juga semakin memancarkan cahayanya di malam yang semakin larut ini. Beberapa titik cahaya mendadak keluar dari gelapnya pepohonan, sekumpulan kunang-kunang. Mereka berterbangan keluar dan membaur di atas kolam dan penjuru taman belakang kamar istanah. "Kunang-kunang? Aku tak tau hewan seperti itu hidup di sekitar istanah," gumam Shang Xiang tiba-tiba.
"Tentu saja tuan Putri tidak tau. Biasanya kan sekarang tuan Putri sudah tidur. Jadi tidak tau ada hewan cantik seperti ini berkeliaran di malam hari," ucap Ling Tong sekedar membalas ucapan Shang Xiang.
"Mau belaga sok ya?" Batin Shang Xiang diam-diam. Sepertinya gadis itu masih kesal karna sudah merasa kege-eran tadi.
"Masih banyak hal-hal yang aku rasa belum kau ketahui di istanah ini, Putri. Kau harus ingat itu."
Shang Xiang menoleh, dia benar-benar merasa Ling Tong benar-benar sudah belaga sok di hadapannya. Tapi saat ia ingin berkomentar sana-sini, Ling Tong sudah keburu memotongnya. "Jangan bergulat dalam pikiranmu saja, pikirkanlah sekelilingmu. Masih banyak hal kan yang patut dipikirkan dan diketahui ketimbang meratapi sesuatu yang sudah tidak mungkin bisa untuk diketahui. Mungkin.. ya... bisa dipikirkan, selama itu hanya untuk mengenang saja."
Habis sudah setiap rancangan komentar panjang yang sudah siap diluncurkan Shang Xiang pada Ling Tong tadi. Kedua matanya membulat. "Apa yang dia maksud 'meratapi sesuatu' itu Liu ah ya... aku yakin pasti dia. Ling Tong ini kedua kalinya, ucapanmu benar-benar mencuci otakku. Aku... Ling Tong aku..."
"Sok tau kamu!" Shang Xiang menjulurkan lidahnya mengejek.
Ling Tong menaikkan sebelah alisnya. "Lari dari kenyataan," tuduh Ling Tong dengan nada menggoda.
"Jendral sok tau!"
"Meh, kau suka sekali berdebat ya PU-TRI."
Shang Xiang mengekerutkan keningnya mendengar Ling Tong mengucapkan kata Putri dengan nada yang mengejek. "Kurang ajar! Kurang ajar! Kurang ajar!" maki Shang Xiang seraya terus memukul-mukul pundak dan punggung Ling Tong.
"Aw! Aw! Sakit! Kau memukulku sekuat tenaga ya?"
"Persetan kau merasa sakit! Kau jendral kurang ajar!"
"Aw! Hentikan Putri! Hentikan!"
Shang Xiang tidak memperdulikan ucapan Ling Tong dia terus memukul-mukul pria itu dengan kekuatannya. Sampai akhirnya Ling Tong sendirilah yang menghentikannya dengan menangkis dan menggenggam kedua tangan sang Putri. "Hentikan Putri! Kau ini wanita apa laki-laki?"
"Aku ini wani─" Shang Xiang menghentikan ucapannya sendiri. Wajahnya memerah sekarang. Bagaimana tidak? Dalam posisi kedua tangan digenggam seorang laki-laki dengan jarak wajah yang kurang lebih hanya 10cm apa itu tidak membuat seorang wanita gugup dan berwajah merah? "...─ta"
Mata mereka saling bertemu. Tak ada yang mau menjauh satu sama lain. Debaran jantung juga makin terdengar keras, rasanya Shang Xiang ingin mengutuk dirinya sendiri kalau sampai laki-laki yang ada di hadapannya ini bisa mendengarnya. Lalu, entah ini perasaannya saja atau memang Ling Tong mendekatkan wajahnya dan membuat jarak mereka semakin mengecil. Yang pasti debaran jantung Shang Xiang rasanya benar-benar ingin meledak.
"Ah! Maaf! Aku... Aku tidak bermaksud aneh! Maaf Putri!" Ling Tong mendadak melepaskan genggaman tangannya dan bergeser untuk menjauhi Shang Xiang yang masih memaku dengan wajah merahnya. Anehnya baru saat Ling Tong menggeser duduknya, wajahnya memerah.
"Tak─tak masalah," balas Shang Xiang tak kalah gugupnya.
Ling Tong memperbaiki tataan syal oranyenya dan turun dari ambang jendela. "Ka-kalau begitu aku duluan. Selamat tidur Putri," ucapnya sebelum meninggalkan Shang Xiang yang masih duduk dengan wajah merona.
"I-iya selamat malam."
Sepertinya malam ini Shang Xiang sudah mengobati rasa kangennya. Walaupun hanya salah satu yang datang menemuinya sekarang. Apa lagi saat ini dia mendapati Ling Tong terbawa suasana, dan membuatnya mati gugup dan sempat membuat mengutuki dirinya sendiri. Dengan lemas dan gugup, Shang Xiang duduk di sudut ranjang kamarnya. Dia tersenyum-senyum sendiri. Bahkan karna asik tersenyum-senyum sendiri, Shang Xiang tak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya sendari tadi dari seberang kolam ikan yang luas. Rambut pirang jigrak orang itu terlihat sedikit berkilat-kilat terkena pantulan cahaya rembulan. Dan tangannya yang besar meremas setangkai bunga dandelion dan kemudian membuangnya ke rerumputan.
"Ck!" Decak pria berambut pirang jigrak itu. Dan kemudian berlalu.
.
.
TBC
.
.
Author spik ::
Yak sudah di penghujung akhir fic...
Special thanks kutujukan untuk nee-sanku (Morning Eagle) dan Black Rose 00 . Dan untuk para reader yang sekedar membaca, juga makasih banget. Aku harap ceritaku dapat menghibur kalian.
Balasan review untuk Black Rose 00 ;;
Rose-san... terima kasih masih setia membaca ficku.. aku terharu lho. Hehehe.. *abaikann.
Rose-san suka Lu Xun ya? Aku juga suka, gara-gara ketularan Nee-sanku tuh sih Eagle-san! *Dideathglare, Nee-san. Lalu... soal inbox darimu itu... aku bingung lho... Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah? Hmmmm... aaahh ya. Aku ngerti, kamu pasti kesel ya soal Lu Xun aku katain pendek di ficnya Hemo-san? Benarkan? Hahahaahaahha... Aku minta maaf. Itu aku cuman bercanda kok. :D
Semoga hal ini gak membuat kita musuhan key? Golden cinta damai! :O Hehehe... :)
Oke deh... sekian. Jangan lupa klik tombol biru yang tulisan REVIEW di bawah ini. ;)
Salam... Golden disini.
