49 Days

Summary:: Sebuah kecelakaan yang membuat Sungmin harus mencari belahan jiwanya dan 3 orang yang benar-benar menyayanginya dalam wujud roh dan dalam waktu 49 hari.

Pair:: Kyumin (Kyuhyun and Sungmin) and other

Rated:: T

Warn:: BL, Typo(s)

Disclaimer:: yang jelas bukan punya saya, mereka adalah hak YME, orang tua mereka dan diri mereka sendiri

Annyeong~! Author kembali! Ok, sebelumnya banyak yang nanya FF ini sampai chap berapa. Umm, setelah author hitung-hitung, kemungkinan sampai 12 atau 13 chp. Itu masih kemungkinan, ya.

Oke, kita mulai aja.

Enjoy~!

"Kangin-ah! Berhenti!" Leeteuk menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat Kangin kini hendak memasukkan kepalanya ke lingkaran tali itu.

"Kangin-ah…" Leeteuk menghentikan Kangin. Tapi apa dayanya dia? Bukankah seorang malaikat penjemput itu tidak boleh mencampuri urusan manusia?

Leeteuk semakin panik saat melihat sudah memasukkan tali itu.

TOK TOK TOK

Pintu rumah Kangin diketuk oleh seseorang. Leeteuk bernapas lega saat Kangin menghentikan gerakkannya.

Kangin melihat ke arah pintu itu, kemudian ia kembali memasukkan tali itu.

TOK TOK TOK

Kangin berhenti lagi dan menatap pintu itu. Tidak ada sedikitpun niat Kangin untuk membuka pintu itu. Ia kembali memasukkan tali itu. Saat tali itu telah sampai di leher Kangin, pintu yang tadinya diketuk, sekarang menjadi gedoran.

Kangin menatap pintu itu sejenak, lalu menghela napas. Ia mengeluarkan tali itu dan turun dari kursi. Ia lalu berjalan menghampiri pintu itu dan membukanya.

Leeteuk menghela napas lega.

"Nuguseyo?" tanya Kangin pelan seraya membuka pintu itu. Seseorang yang dengan senang hatinya menghentikan adegan berbahaya Kangin tadi, kini sedang menunjukkan senyum manisnya pada Kangin.

"Pizza!" seru seseorang itu dengan senyum lebar seraya menunjukkan sekotak pizza di tangannya.

Leeteuk berjalan menghampiri Kangin untuk melihat siapa 'malaikat penolong' yang datang di saat yang tepat.

Ia membulatkan matanya saat melihat siapa 'malaikat penolong' itu. "Kibummie?" kaget Leeteuk.

Kangin mengernyit. "Pizza? Aku tidak memesan pizza," ujar Kangin. Kibum, pengantar pizza itu terlihat bingung. "Tidak memesan pizza? Lalu ini punya siapa?" tanya Kibum seraya menunjuk pizza itu. Kangin menggeleng tidak tahu. "Mungkin kau salah alamat," Kibum menggaruk belakang kepalanya.

"Hmm, iya juga. Mungkin aku salah baca alamat. Aisshh! Kertas alamat yang memesan pizza ini sudah kubuang tadi, jadi aku tidak tahu siapa yang memesan ini." Kangin mengangkat bahunya dan hendak menutup pintunya.

"Eittss! Jamkkanmanyo!" seru Kibum sambil menahan pintu yang hampir tertutup itu. Kangin kembali membuka pintu itu. "Ya?" Kibum menghela napas.

"Ini.." Kibum memandangi sekotak pizza itu. "Untukmu saja," ujar Kibum seraya menyodorkan pizza itu pada Kangin. "Eh?" Kibum mengangguk. "Kalau aku membawa kembali pizza ini ke restoran, aku bisa diomeli bosku. Lebih baik aku yang membeli pizza ini. Tapi aku tidak suka makan pizza, jadi pizza ini untukmu saja. Anggap saja aku membalikan ini untukmu," Kangin menatap Kibum.

Kibum yang merasa risih dengan tatapan itupun kembali berbicara. "Tenanglah, ini tidak ada racunnya, kok." Ujar Kibum. Kangin pun akhirnya menerima pizza itu. "Gamsahamnida." Kangin membungkukkan badannya. Kibum hanya tersenyum sambil mengangguk. Kangin pun menutup pintu itu.

"Haahh~! Selesai!" Kibum tiba-tiba menghilang dari tempat itu.

.

"Yo, hyung! Bagaimana?" tanya Kibum yang tiba-tiba muncul di samping Leeteuk yang duduk di lantai. Leeteuk tersenyum. "Gomawo, Kibum-ah." Ujar Leeteuk. Kibum mengangguk.

"Heechul hyung menyuruhku datang kesini dan membantumu. Haahh~ Aku tidak menyangka, ternyata Heechul hyung baik juga." Leeteuk tertawa kecil mendengar perkataan Kibum.

"Ne. Setelah ini aku akan mengucapkan terima kasih pada hyungmu itu," ujar Leeteuk sambil memandangi Kangin yang tengah meletakkan pizza itu di atas meja, tepat di samping mangkuk ramyunnya.

Kim Kibum, namdongsaeng kesayangan Heechul. Ia adalah orang terhormat ke dua setelah Heechul. Heechul menyuruh Kibum datang ke sini untuk membantu Leeteuk. Heechul dan Kibum dulunya juga seorang manusia, setelah meninggal, mereka diangkat menjadi pemimpin dunia yang di tempati oleh Leeteuk.

Kibum menghela napas. "Lagian, dia itu tidak mungkin meninggal, hyung." Kata Kibum. Leeteuk menoleh ke Kibum. "Maksudmu?" tanya Leeteuk.

"Hyung lupa? Kangin itu belum saatnya meninggal," jelas Kibum. Leeteuk tampak berpikir sebentar. Ia lalu mengeluarkan buku yang entah dari mana asalnya.

Leeteuk membuka dan membaca buku itu. "Oh, iya. Dia belum saatnya untuk meninggal," ujar Leeteuk. "Aisshh! Kalau begitu, untuk apa aku panik saat dia mau bunuh diri." Kibum tertawa kecil.

Kangin masih tetap duduk didepan meja kecil sambil memandangi pizza itu. 'Kapan ya terakhir kali aku makan makanan lain selain ramyun?' pikir Kangin. Ia membuka kotak pizza itu dan mengambil sepotong pizza.

Ia menggigit kecil pizza itu.

"Haahh~ Sudah ya, hyung. Aku pergi dulu. Bye~!" Kibum pun menghilang dari tempat itu. Leeteuk menatap tajam pada tali dan kursi yang tadi hampir melukai Kangin. "Jangan lakukan itu lagi, ok?" tanya Leeteuk pada Kangin yang tentu saja tidak bisa mendengar Leeteuk.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Skip Time~ Hari ke 19, sisa 30 hari..

BRAKK!

Siwon menggebrak meja yang ada di depannya. "Sebenarnya stempel itu ada di mana?" tanya Siwon. Sunny yang duduk di depannya menggeleng. Kini mereka sedang berada di ruangan Siwon. Siwon adalah tangan kanan appanya Sungmin di perusahaan itu. Kedudukkan Siwon berada 1 tingkat di bawah Sungmin di perusahaan milik appanya Sungmin.

"Tidak mungkin stempel itu hilang sementara Sungmin hyung sedang di rawat di rumah sakit, 'kan?" Siwon duduk di kursinya. Ia mengacak rambutnya. "Kita sudah mencari stempel itu selama seminggu dan stempel itu tidak ketemu juga," ujar Siwon.

"Oppa, apakah mungkin stempel itu ada ditangan Lee ahjussi?" tanya Sunny. Siwon tampak berpikir. "Entahlah. Masalahnya, stempel itu stempel penting milik Sungmin hyung, ia tidak mungkin menyerahkannya pada Lee ahjussi." Jawab Siwon.

"Mungkin saja 'kan, oppa? Lee ahjussi itu pemilik perusahaan, Sungmin oppa tidak mungkin mencurigai appanya sendiri,"

"Tapi stempel itu sangat penting bagi perusahaan. Sungmin hyung yang memegang semuanya. Lee ahjussi mempercayai semuanya pada Sungmin hyung," jelas Siwon. Sunny tampak berpikir.

"Kalau begitu, kita coba buktikan saja." Ujar Sunny. Siwon mengernyit. "Buktikan apa?"

"Kita coba cari tahu, apakah stempel itu ada di tangan Lee ahjussi atau tidak." Jelas Sunny. Siwon berpikir sejenak lalu mengangguk.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Kyu," panggil Sungmin. "Hm?" Kyuhyun tetap fokus pada PSPnya. Saat ini mereka sedang berada di kamar Kyuhyun.

"Kyu," panggil Sungmin lagi. "Hmm?" Kyuhyun masih tetap memainkan PSPnya.

"Kalau aku tidak bisa melanjutkan hidupku di dunia ini lagi, bagaimana perasaanmu, Kyu?" tanya Sungmin. Kyuhyun berhenti memainkan PSPnya dan menatap Sungmin.

"Kenapa kau bertanya seperti itu, hyung?" tanya Kyuhyun. Sungmin menggeleng. "Kau jawab saja pertanyaanku,"

"Aku.." Kyuhyun tampak berpikir. "Tidak tahu," lanjut Kyuhyun. Sungmin menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"

"Entahlah, hyung. Aku merasa hyung tidak akan pernah meninggalkan aku. Hyung akan tetap hidup," Jawab Kyuhyun. Sungmin tersenyum. "Ne, aku akan berusaha untuk tetap hidup." Ujar Sungmin. "Berusaha untuk tetap hidup? Ani," Kyuhyun menggeleng.

"Hyung harus hidup! Harus! Aku ini bukan orang yang cengeng, hyung. Jangan membuatku menangis seumur hidupku karena hyung meninggalkanku. Hyung harus hidup! Kalau bisa, sekarang juga hyung bangun dari koma," ujar Kyuhyun dengan nada memaksa. Sungmin tertawa kecil.

"Ne, aku harus hidup!" tegas Sungmin.

'Kau tidak tahu seberapa beratnya menjalani perjalanan 49 hari ini, Kyu.' Pikir Sungmin. "Hmm, baiklah. Aku pegang janjimu, hyung!" Kyuhyun kembali memainkan PSPnya. Sungmin menatap langit-langit kamar Kyuhyun.

'Hmm, satu orang lagi.'

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Haaahh~! Membosankan," keluh Leeteuk. Kini ia sedang berada di rumah Kangin. Karena beberapa hari ini pekerjaannya menjemput nyawa sedang senggang alias tidak ada kerjaan, Leeteuk memilih untuk menemani Kangin.

"Hmm? Dia mau ke mana?" Kangin terlihat sedang merapikan rambutnya lalu memakai jaketnya. Kangin memakai sepatunya lalu membuka pintu. Leeteuk mengikuti Kangin dari belakang, takut ketinggalan.

"Hmm? Mau ke mana sih?" Leeteuk berjalan di samping Kangin.

"Hmm? Ini.." Gumam Leeteuk sambil melihat sekelilingnya. Kangin berhenti dan bersandar pada salah satu pohon yang ada di tempat itu. "Ini 'kan sekolah. Sedang ada acara festival, ya?" gumam Leeteuk saat melihat seluruh lapangan sekolah sangat ramai.

Leeteuk menoleh pada Kangin yang sedang memandangi siswa-siswi yang sedang menikmati masa festivalnya. "Ini sekolah Kangin-ah, ya?" Leeteuk berpikir sebentar. "Kalau sekolah ini dulu sekolah Kangin, berarti ini sekolahku juga, ya?" tanya Leeteuk yang bingung sendiri.

"Hyung.." Leeteuk menoleh pada Kangin yang kini sedang memandangi pohon yang tadi ia gunakan untuk bersandar. "Bogoshipeo," ujar Kangin seraya menyentuh batang pohon itu.

'Eh? Kenapa harus menyentuh pohon itu, sih?' Pikir Leeteuk.

"Pohon ini tidak berubah, ya? Tetap jadi pohon yang paling besar," gumam Kangin sambil melihat pohon-pohon yang lain.

"Pohon yang paling besar?" Leeteuk menggaruk pipi kirinya. "Ohh!" seru Leeteuk mengingat sesuatu.

"Pohon ini, ani. Tepatnya, di bawah pohon ini.." Leeteuk menepuk-nepuk pohon itu. "Tempat dimana Kangin-ah menembakku, 'kan?" Leeteuk mengingat-ingat apa yang kemarin sempat hinggap di ingatannya.

"Iya, ini pohonnya." Lanjut Leeteuk.

"Hyung," Leeteuk menoleh pada Kangin yang sedang memegangi perutnya. "Eh? Kau kenapa?' tanya Leeteuk khawatir. "Melihat pohon ini," Kangin masih tetap memegangi perutnya seraya melihat ke arah pohon itu.

"Aku jadi lapar," lanjutnya. Leeteuk sweatdrop mendengar perkataan Kangin.

"Sebaiknya pulang ke rumah dan makan ramyun," gumam Kangin lalu berjalan menjauhi pohon itu. "Eeehh? Jangan makan ramyun lagi! Itu tidak sehat." Ujar Leeteuk sambil berjalan cepat menyusul langkah Kangin.

Kangin menghentikan langkahnya. "Makan bubur saja, deh." Kangin kembali berjalan. Leeteuk tersenyum senang lalu kembali berjalan mengikuti Kangin dari belakang.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Keesokan harinya~ Hari ke 20, sisa 29 hari…

"Sunny, ada kah berkas-berkas yang harus di setujui oleh Sungmin hyung?" tanya Siwon saat masuk ke ruangannya. Sunny yang sedang duduk di ruangan Siwon pun mengangguk. "Sepertinya ada,"

"Berikan padaku. Sekarang jam makan siang, Lee ahjussi mengajakku makan bersama."

Sunny mengangguk sambil terus mencari berkas yang harus di setujui oleh Sungmin.

"Ini," Ujar Sunny seraya memberikan berkas itu pada Siwon. Siwon menerimanya dari Sunny. "Hanya 1?" tanya Siwon. Sunny mengngguk.

"Oh, baiklah. Aku pergi dulu." Lalu Siwon pun keluar dari ruangan itu.

.

"Lee sajangnim," panggil Siwon. Appanya Sungmin yang dipanggil dengan sebutan Lee sajangnim pun menoleh. "Ah, ne. Silahkan duduk," ujar Lee sajangnim mempersilahkan.

"Kau ingin memesan makanan apa?" tanya Lee sajangnim. Siwon menggeleng. "Saya tidak lapar, sajangnim."

"Oh, baiklah."

"Sajangnim, ini ada berkas yang harus disetujui oleh Lee busajangnim." Lee sajangnim tertawa kecil. "Kau ini, tidak perlu memanggil Sungmin seperti itu. Dia itu sahabatmu, panggil namanya saja."

"Tapi dia itu wakil direktur di sini, sangat tidak sopan kalau aku yang bawahan Lee sajangnim malah memanggilnya dengan sebutan nama saja." Jawab Siwon.

"Baiklah, baiklah. Terserahmu saja. Mana berkas yang harus di setujui dan di cap oleh Sungmin?"

"Ini," Siwon menyerahkan berkas yang ada di tangannya pada Lee sajangnim.

Lee sajangnim mengeluarkan sebuah stempel dari saku jasnya setelah selesai membaca isi berkas itu.

"Umm, sajangnim," panggil Siwon. Lee sajangnim menoleh. "Ya?"

"Bukankah stempel Lee busajangnim itu berwarna merah dan berbentuk seperti lipstick?" tanya Siwon saat melihat stempel yang dipegang Lee sajangnim berwarna biru dan berbentuk balok.

"Ahh, yang itu? Sungmin memiliki 2 stempel, satu yang ini dan yang satu lagi berwarna merah itu. Stempel yang merah itu stempel penting milik Sungmin, tidak ada yang boleh memegangnya selain dia sendiri. Stempel itu sangat penting bagi perusahaan." Jelas Lee sajangnim.

Siwon tampak berpikir.

"Jadi, stempel merah itu tidak ada pada sajangnim?" tanya Siwon. Lee sajangnim menggeleng. "Ani, stempel itu tidak ada padaku. Ah, tepatnya, stempel itu tidak pernah berada di tanganku." Jawab Lee sajangnim sambil melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.

'Tidak ada pada ahjussi? Lalu ada pada siapa?' pikir Siwon. 'Eomma Sungmin hyung? Ani, appanya saja tidak pernah memegang stempel penting itu, apalagi eommanya.' Siwon berpikir keras.

'Mungkinkah stempel itu ada pada namja yang bernama Cho Kyuhyun?'

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Kyu, kau tidak makan?" tanya Sungmin. "Sebentar lagi noonaku akan datang, mungkin ia akan membawakanku makanan." Jawab Kyuhyun. Sungmin mengangguk.

TING TONG TING TONG

"Mungkin itu noona," kata Kyuhyun seraya berjalan mendekati pintu rumahnya. Kyuhyun tersenyum saat melihat siapa yang ada di depan pintu.

"Noona!" panggil Kyuhyun. Ahra tampak tersenyum kaku. "Kyu," panggilnya. "Eh? Waeyo, noona? Kau tampak, eh? Hei! Hei! Lepaskan! Ya!" seru Kyuhyun saat dirinya dibawa dengan paksa oleh dua namja kekar.

"Aisshh, mianhae, Kyu." Gumam Ahra seraya menutup pintu rumah Kyuhyun dan mengunci pintu itu dengan kunci cadangan yang diberikan oleh Kyuhyun.

Sungmin yang tidak sempat keluar dari rumah itu pun terkunci di dalam. "Eh? Kok aku dikunci? Ya! Kembalikan Kyuhyun! Ya!" teriak Sungmin.

"Aisshh!" Sungmin mengacak rambutnya frustasi. Ia melihat ke sekelilingnya. Semuanya tertutup. Jendela tertutup rapat dan pintu juga terkunci.

Satu-satunya yang bisa diharapkan oleh Sungmin adalah malaikat penjemput itu. Leeteuk.

Sungmin mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol.

"Mianhae, Leeteuk scheduler sedang sibuk. Kalau memang sangat penting, silahkan hubungi halmeoni~" Sungmin memandang ponselnya dengan tanda tanya besar. Ada apa dengan malaikat yang satu ini?

'Halmeoni?' pikir Sungmin.

Ia kembali menekan beberapa tombol pada ponselnya. "Mianhae, Leeteuk scheduler sedang dalam keadaan bad mood~ Silahkan hubungi beberapa tahun lagi, bye~ Haaah~!" terdengar helaan napas yang berat setelah kata-katanya selesai. Sungmin kembali memandang ponselnya.

"Aisshh! Jinjja!" Sungmin mengacak rambutnya frustasi. Ia melempar ponselnya. Tapi memang sedang sial, saat ponsel itu mengenai dinding, ponsel itu malah membal dan mengenai kening Sungmin.

"Auuww!" rintih Sungmin. Ia menatap ngeri pada ponsel yang kini tergeletak manis di lantai. 'Ponsel mengerikan.' Pikir Sungmin.

"Aisshh! Lalu aku bagaimana? Masa' aku ditinggal sendirian?" gumam Sungmin. Ia mendudukkan dirinya di lantai.

"Kyu, sebenarnya kau dibawa kemana, sih?" Sungmin memeluk ke dua lututnya yang ditekuk.

.

"Ya! Noona! Apa yang kau lakukan, eoh?" tanya Kyuhyun. Mereka kini sedang berada di dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.

"Mianhae, Kyu. Mianhae~" Ahra mengangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. "Kenapa noona menculikku, eoh?" tanya Kyuhyun lagi. Ahra menghela napas.

"Eomma dan appa menyuruhku untuk menyeretmu pulang ke rumah," Kyuhyun mengernyit. "Kenapa harus menyeret? Kenapa tidak ajak baik-baik?" tanya Kyuhyun lagi. Ia tidak terima kalau ia harus dibawa secara tiba-tiba begini. Ia khawatir pada Sungmin yang terkunci di dalam rumah.

"Appa bilang, kau itu harus dibawa secara paksa. Kalau noona mengajakmu secara baik-baik setelah menjelaskan tujuan mengapa kau diajak, kau pasti akan menolaknya." Ujar Ahra. Kyuhyun mengernyit lagi. "Memang kenapa appa menyuruh noona membawaku pulang?" Ahra menghela napas lagi.

"Appa memerlukanmu untuk memimpin suatu rapat kerjasama antar perusahaan. Dan kau tidak boleh pulang ke rumahmu sendiri selama rapat itu selesai," ujar Ahra. "Eh? Memimpin rapat? Shirreo!" tolak Kyuhyun. "Tuh 'kan. Tapi kali ini kau tidak bisa menolaknya, Kyu. Jika kau menolak, appa akan menghentikan kuliahmu dan mengurungmu selamanya di dalam rumah. Dan kau tidak akan diizinkan untuk tinggal di rumah pribadimu itu lagi," jelas Ahra.

"Karena noona tidak ingin kau berhenti kuliah, akhirnya noona terpaksa melakukan semua ini." Lanjutnya.

"Berapa hari? Berapa hari aku harus menjadi pemimpin rapat itu?" tanya Kyuhyun. Ahra tersenyum lebar. Ia menunjukkan ke lima jarinya.

"Lima. Lima hari," ujar Ahra. Kyuhyun melebarkan matanya. "Mwo? Lima hari?" ulang Kyuhyun. Ahra mengangguk. "Dan selama lima hari itu aku tidak boleh kembali ke rumahku sendiri?" tanya Kyuhyun. Ahra mengangguk. "Kau harus menginap di rumah kita selama lima hari itu. Tidak boleh keluar rumah selain urusan kantor."

Kyuhyun kembali melebarkan matanya. 'Lalu, Sungmin hyung gimana?' pikir Kyuhyun.

"Kenapa rapatnya sampai lima hari, sih? Kenapa tidak noona saja yang memimpin rapat itu?"

"Itu karena rapat kali ini bukan rapat biasa. Rapat ini di selenggarakan lima hari berturut-turut. Dan hanya namja yang boleh memimpin rapat ini." Jelas Ahra.

"Lima hari itu sangat lama, noona. Bisakah dikurangi jadi 3 hari?" tanya Kyuhyun. Ahra menggeleng.

"Tidak bisa, Kyu. Rapat ini diselenggarakan bersama perusahaan-perusahaan yang besar dan terkenal di Korea," Kyuhyun tampak ragu, kemudian ia mengangguk. "Arraseo."

"Baiklah. Rapat itu akan dimulai besok pagi, jadi pelajari dulu proposal ini." Kyuhyun menerima setumpukan kertas yang diberikan oleh Ahra.

'Mianhae, hyung. Tunggu aku selama lima hari ya, hyung.'

~#~#~#~#~#~#~#~#~

Malam Harinya~

"Bagaimana, oppa? Stempelnya ada pada Lee ahjussi?" tanya Sunny saat berada di dalam apartment milik Siwon.

Siwon menggeleng. "Lee ahjussi tidak memegang stempel itu. Itu artinya, stempel itu masih ada pada Sungmin." Jawab Siwon.

"Tapi oppa, hari itu kita sudah memeriksanya di kamar Sungmin 'kan? Dan hasilnya, stempel itu tidak ada di sana." Ujar Sunny.

"Cho Kyuhyun," kata Siwon. "Eh?"

Siwon menghampiri Sunny dengan segelas minuman di tangannya. "Cho Kyuhyun, aku curiga dengannya." Lanjut Siwon.

"Kyuhyun itu tidak ada hubungannya dengan perusahaan, oppa. Untuk apa Kyuhyun mengambil stempel itu?" tanya Sunny. "Entahlah, aku hanya mencurigainya saja. Aku curiga padanya karena hari itu dia datang dan masuk ke kamar Sungmin hyung," jelas Siwon.

"Masuk ke kamar Sungmin oppa?" tanya Sunny. Siwon mengangguk. "Ne, Sungjin yang mengatakannya padaku," Jawab Siwon.

"Jadi ada kemungkinan besar dia yang mengambil stempel itu." Siwon meletakkan gelasnya di atas meja lalu mengambil ponselnya yang bergetar.

"Yeobosseo?" tanya Siwon. 'Yeobosseo, Siwon-ah. Siwon, besok pagi saya akan mengikuti rapat penting, kau ikutlah denganku. Aku akan memberikan beberapa proposal padamu besok saat kau telah tiba di kantor, jadi besok pagi-pagi kau sudah harus sampai di kantor, arraseo?'

"Ne, arraseo."

"Nuguya, oppa?" tanya Sunny. "Lee ahjussi. Dia bilang besok ada rapat penting dan aku harus ikut dengannya." Jawab Siwon. "Oh. Kalau begitu, aku pulang dulu, oppa." Siwon hanya mengangguk.

"Perlu kuantar?" Sunny menggeleng. "Tidak perlu."

.

.

"Ukkhh~! Kyuhyun ke mana, sih? Kok lama sekali?" gumam Sungmin sambil berjalan mondar-mandir. "Leeteuk hyung juga dari tadi tidak mengangkat panggilanku. Aisshh! Aku benar-benar bisa mati kutu kalau terus berada di sini sendirian," Sungmin mendudukkan dirinya di lantai.

"Cepatlah pulang, Kyu." Sungmin menekukkan kakinya dan memeluknya.

"Jangan-jangan dia tidak pulang?" Sungmin menghela napas kesal.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Keesokkan harinya~ Hari ke 21, sisa 28 hari…

"Baiklah. Hari ini, perusahaan Cho akan mengawali rapat ini. Cho sajangnim dan busajangnim dipersilahkan masuk."

Cho sajangnim dan busajangnim masuk ke dalam ruangan rapat itu. Kyuhyun, selaku busajangnim di perusahaan Cho langsung berdiri di depan untuk menjelaskan proyek yang akan dijalani secara bersama oleh perusahaan-perusahaan besar.

"Saya selaku wakil direktur perusahaan Cho akan mewakili perusahaan untuk menjelaskan beberapa proyek yang akan di selenggarakan." Ujar Kyuhyun.

Seorang namja yang posisi duduknya agak tertutup kini tengah menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak percaya. Ya, seorang Choi Siwon bertemu dengan seorang Cho Kyuhyun di sebuah rapat perusahaan. Dan hal ini semakin memperbesar kecurigaan Siwon terhadap Kyuhyun.

.

"Cho Kyuhyun?" panggil Siwon setelah rapat itu telah selesai. Kyuhyun yang sedang berjalan di samping appanya sambil membolak-balik file yang tengah di pegangnya langsung menoleh ketika seseorang memanggilnya.

"Kau," Siwon berjalan mendekati Kyuhyun. Ia membungkukkan badannya. "Masih ingat dengan saya?" tanya Siwon sambil tersenyum.

"Masih, tapi saya lupa dengan nama anda." Jawab Kyuhyun. "Ehem! Lebih baik saya pergi dulu agar tidak mengangguk kalian." Ujar Cho sajangnim, appa Kyuhyun.

Siwon membungkukkan badannya sebelum Cho sajangnim pergi.

Siwon masih tersenyum. "Nama saya Choi Siwon dari perusahaan Lee," Ujar Siwon. Kyuhyun tampak memikirkan perkataan Siwon.

"Dari perusahaan Lee? Whoaa! Jadi kau yang menggantikan Sungmin hyung?" tanya Kyuhyun. Siwon mengangguk.

"Aku baru tahu kalau kau adalah anak pemilik perusahaan terkenal," ujar Siwon. Kyuhyun dapat menagkap sesuatu yang aneh di balik nada bicara Siwon. "Apa maksudmu?" tanya Kyuhyun.

Siwon tertawa kecil. "Kau bukan teman Sungmin hyung, 'kan? Melainkan anak pemilik perusahaan lain yang ingin menipu Sungmin hyung." Kyuhyun mengernyit.

"Mwo?" Siwon tidak menjawab Kyuhyun. Ia hanya membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih bingung.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Sunny," panggil Siwon saat masuk ke dalam ruangan Sunny. "Ne, oppa?" Sunny yang sedang mengerjakan sesuatu pada laptopnya mengalihkan pandangannya dari laptop itu.

"Cari informasi tentang wakil direktur di perusahaan Cho," Sunny mengangguk.

"Namanya?" tanya Sunny. "Cho Kyuhyun," Jawab Siwon. "Eh? Kyuhyun?"

"Ne, Kyuhyun. Dia adalah anak dari pemilik perusahaan Cho." Jelas Siwon. "Aku yakin kalau Kyuhyun yang mengambil stempel itu. Dia mengambil stempel itu untuk kepentingan perusahaannya sendiri. Cepat cari informasinya, aku akan kembali sebentar lagi." Ujar Siwon seraya keluar dari ruangan Sunny.

Sunny segera mencari informasi tentang Kyuhyun. "Ini dia," gumam Sunny.

"Nama lengkap Cho Kyuhyun. Umur 21 tahun, eh? Masih seorang pelajar? Anak bungsu keluarga Cho, kuliah di universitas Sapphire? Tinggal di jalan-"

"Sunny, sudah ketemu informasinya?" tanya Siwon yang tiba-tiba muncul di depannya. Sunny dengan segera langsung menclose halaman tentang informasi Kyuhyun itu.

"Di sini tidak dijelaskan kalau dia itu seorang wakil direktur. Di sini hanya di jelaskan Nama, umur, dan anak bungsu di keluarga itu." Jawab Sunny dengan gugup. Siwon menatap curiga pada Sunny.

"Benarkah?" Siwon berjalan mendekati Sunny. Sunny mengangguk.

Siwon berjalan semakin mendekati Sunny.

DRRRT DRRT

Ponsel Siwon bergetar. Siwon menghentikan langkahnya, lalu mengangkat panggilan itu. "Ne, sajagnim? Ne, arraseo." Siwon menutup ponselnya lalu beralih pada Sunny.

"Aku ada rapat. Aku pergi dulu." Ujar Siwon seraya keluar dari ruangan Sunny. Sunny menghela napas lega.

"Cukup sampai di sini saja, oppa. Aku akan berhenti. Aku lelah menjalani semua ini." Gumam Sunny sambil melihat kearah jendela, melihat Siwon yang telah masuk ke dalam mobilnya.

Sunny berjalan keluar dari ruangannya. Ia berjalan cepat menuju ruangan Siwon. Sesampainya di depan pintu ruangan Siwon, ia memutar pelan knop pintu itu lalu masuk ke dalam ruangan itu.

"Dimana surat itu? Dia menyimpannya dimana?" gumam Sunny. Ia terus mencari surat itu, surat penyerahan kekuasaan illegal yang beratasnamakan dirinya.

Sunny membuka satu persatu laci meja milik Siwon. "Ini dia," gumam Sunny. Ia lalu melipat surat itu dan segera keluar dari ruangan Siwon.

Sunny berjalan cepat kembali ke ruangannya untuk mengambil jaket dan tasnya. Kemudian ia kembali keluar dari rungannya dan bergegas menuju area parkiran.

Ia melajukkan mobilnya secepat mungkin menuju satu-satunya tempat yang mungkin ia kunjungi selain rumahnya sendiri dan apartement Siwon. Tempat dimana eommanya berada, rumah sakit jiwa.

.

Siwon berjalan menuju ruangannya sambil membaca berkas yang ada di tangannya. Ia menutup berkas itu ketika sampai di depan pintu ruangannya.

Siwon tampak terkejut ketika melihat isi ruangannya yang bisa dibilang berantakkan. Map-map dan kertas-kertas yang berserakkan di meja, rak-rak yang berisikan berkas-berkas juga berantakkan. Laci-laci meja semuanya telah terbuka.

Tunggu. Laci meja?

Siwon meletakkan berkas yang ada di tangannya di meja lalu sedikit membungkuk untuk melihat isi lacinya.

"Surat itu," gumam Siwon setelah barang yang ia cari tidak ia temukan. "Sunny." Siwon langsung berlari keluar dari ruangannya menuju parkiran. Ia menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan maksimal.

.

.

Sunny berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit. Sunny berhenti berjalan ketika sampai di depan pintu kamar eommanya. Ia membuka pintu itu lalu masuk ke dalam kamar itu.

"Eomma," panggil Sunny. Eommanya Sunny yang sedang berbaring sambil memeluk bonekanya langsung merubah posisinya menjadi duduk ketika mendengar suara Sunny.

Ia tersenyum saat Sunny berjalan mendekatinya. "Sunny," Sunny duduk di tepi ranjang lalu memeluk eommanya.

"Eomma," panggil Sunny pelan. "Ne?"

Sunny mengeluarkan surat itu dari saku jaketnya dengan tangan bergetar. "Tolong simpan ini eomma," eomma Sunny melihat kertas itu.

"Ini apa?"

"Simpan saja eomma. Jangan sampai ada yang melihat ini, dan jangan biarkan orang lain mengambil surat ini." Ujar Sunny. Eommanya Sunny mengambil surat itu dengan ragu-ragu.

"Eomma.. Aku mohon, tolong simpan surat ini, jangan sampai ada yang mengambil surat ini." Eommanya Sunny mengangguk.

"Sunny," Sunny menoleh ke asal suara. Ia terkejut saat melihat Siwon tengah berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam. "Kembalikan surat itu," ujar Siwon datar. Eommanya Sunny menyembunyikan surat itu di belakang punggungnya.

Sunny menggeleng seraya berdiri. "Cepat kembalikan surat itu," Siwon berjalan mendekati Sunny. "Shirreo!" Sunny berjalan mundur. "Cepat kembalikan surat itu, Sunny!" Ujar Siwon sedikit membentak. Sunny berhenti berjalan mundur ketika punggungnya menabrak dinding yang ada di belakangnya.

"Sekarang kau tidak bsia lari lagi. Cepat serahkan surat itu padaku!" Jarak Siwon saat ini sangat dekat dengan Sunny. Sunny menggeleng lagi.

Siwon menatap Sunny dengan kesal. Ia mengangkat dagu Sunny.

"Cepat kembalikan atau-"

"Kau mau ini?" tanya eommanya Sunny dengan nada datar. Siwon menoleh. Ia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh yeoja paruh baya itu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Siwon tidak percaya. Eommanya Sunny menatap datar pada kertas yang kini sedang terbakar yang ada di tangannya. Ia memasukkan kertas itu ke dalam tong sampah. Setelah yakin kertas itu tekah habis terbakar, ia menyiram tong sampah itu dengan air yang ada di gelas minumnya.

"Eomma," panggil Sunny. "Sunny, eomma sudah membaca kertas itu. Untuk apa kau melakukan ini? Untuk apa kau menghancurkan hidup orang lain hanya untuk harta? Kita masih sanggup mencari uang. Kita masih punya appa, kita masih punya perusahaan, dan kita masih punya eonnimu yang memimpin perusahaan itu." Ujar eommanya Sunny.

"Appa dan eonni sudah tidak ada, eomma! Mereka sudah pergi. Perusahaan milik appa juga sudah bangkrut! Tidak ada cara lain selain melakukan ini, eomma!" Sunny terisak kecil. "Lalu kenapa kau mengambil ini dari Siwon?"

"Itu karena aku ingin berhenti dari semua ini. Aku tidak ingin mengecewakan appa, eomma, dan eonni." Jawab Sunny seraya menatap Siwon dengan tatapan dingin.

Eomma Sunny tertawa kecil. "Eomma sangat merindukan appa dan eonnimu, Sunny. Mereka ada dimana? Kenapa mereka jarang menemui eomma?"

"Itu karena mereka sudah tiada, eomma. Sudahlah, eomma. Sebaiknya eomma istirahat."

Siwon mengusap wajahnya dengan ke dua tangannya. Ia beranjak keluar dari kamar itu. Untuk apa dia berlama-lama di ruangan ini kalau semuanya telah hancur? Rencana yng telah is susun matang-matang telah hancur berantakan.

Ia menyalakan mobilnya dan melajukkan mobilnya tanpa arah. Siwon mengemudikan mobil cukup lama. Ia tidak tahu harus ke mana, ia hanya mengikuti instingnya saja dalam menjalankan mobil itu.

Tiba-tiba Siwon berhenti di sebuah tempat yang cukup sepi. Entah tempat apa itu, Siwon tidak tahu. Kelihatannya seperti padang rumput yang luas. Dan daerah ini bukan cukup sepi, melainkan memang sepi.

Siwon turun mobil dan berjalan menyusuri padang rumput itu. Sejuk. Itulah yang dirasakan oleh Siwon ketika ia berjalan di daerah yang penuh dengan hijau-hijau itu. Berbagai bunga-bunga kecil tumbuh di sana, rumput-rumput tinggi setinggi lutut, dan juga beberapa pohon di tepi-tepi daerah itu.

"Hyung," panggil seseorang. Siwon tampak kaget. Ia menoleh ke asal suara.

Tidak ada orang.

Siwon kembali berjalan sambil menyentuh rumput-rumput tinggi yang ia lewati.

"Hyung," Siwon kembali menoleh ke asal suara. Tapi kali ini reaksinya berbeda dengan rekasi yang sebelumnya. Ia tampak kaget dengan kehadiran sosok putih dan melayang-layang.

"Hyung," sosok itu tersenyum. Siwon berjalan mendekati sosok itu. "Kibummie?" tanya Siwon. Sosok itu tersenyum senang.

"Ternyata kau masih mengingatku, hyung." Sosok yang bernama Kibum itu turun dan menapakkan kakinya di tanah.

"Kibummie, kau.." Siwon hendak menyentuh pipi Kibum, namun dengan cepat Kibum menghindari kepalanya dari tangan itu.

"Kita sudah berada di dunia yang berbeda, hyung. Jadi kau tidak boleh menyentuhku," ujar Kibum. Siwon mengangguk.

"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Siwon. "Hyungku mengizinkanku turun ke dunia. Karena aku rindu padamu, akhirnya aku menemuimu." Jawab Kibum.

Mereka terdiam cukup lama hingga Kibum kembali memanggil Siwon.

"Hyung," panggil Kibum lagi. "Hm?"

"Mianhae," ujar Kibum. "Untuk apa?"

"Maaf karena aku tiba-tiba meninggalkan hyung. Aku tahu hyung jadi seperti ini itu semua karena aku." Ujar Kibum.

Siwon menundukkan kepalanya dengan sedih.

Kibum, namdongsaeng Heechul, masih ingat? Sewaktu masih hidup, Kibum adalah namjachingu Siwon. Ia mengalami kecelakaan saat hendak berjalan menuju tempat janjiannya dengan Siwon dan meninggal setelah 2 hari mengalami koma.

Siwon sangat terpukul, dan hal itulah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Siwon berubah drastis setelah kematian namjachingunya.

"Gwaenchana, kau tidak perlu minta maaf." Jawab Siwon. Kibum menatap langit yang mulai gelap.

"Hyung,"

"Ne?"

"Berhenti,"

"Eh?" Siwon mengernyit tidak mengerti. "Berhenti melakukan semua ini, hyung. Kau menyakitiku," ujar Kibum.

"Kau berubah, hyung. Kau menjadi orang yang berbeda dengan Siwon yang kukenal." Siwon menundukkan kepalanya setelah mengerti dengan maksud Kibum.

"Mianhae," ujar Siwon. "Hyung akan berhenti melakukannya?" tanya Kibum. Siwon menatap Kibum lalu mengangguk. "Aku akan memperbaiki semuanya." Jawab Siwon.

"Janji? Hyung janji tidak akan jahat lagi sama Sungmin hyung dan keluarganya?" tanya Kibum dengan penuh harap.

Siwon tersenyum. "Ne, aku janji." Kibum tersenyum senang mendengar jawaban Siwon.

"Sekarang, bisakah aku bernapas lega dan hidup lebih tenang di atas sana?" tanya Kibum sambil melihat ke arah langit. Siwon tersenyum. "Ne, tentu saja, Kibummie." Kibum menunjukkan senyumannya.

"Kalau begitu, aku pergi dulu, hyung. Aku tidak bisa berlama-lama. Annyeong~!" pamit Kibum. Siwon tersenyum kecil. "Annyeong." Jawab Siwon lirih. Setelah itu, Kibum langsung menghilang bagai angin.

Siwon menghela napas berat. Ia lalu menunduk dan memetik salah satu bunga kecil yang tumbuh di antara rumput-rumput. "Saranghae... Bummie."

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Malam-malam begini dia mau ke mana? Memangnya tidak capek ya dari tadi pagi sampai sekarang jalan terus?" Leeteuk memijat kecil kakinya yang pegal.

Kangin terus berjalan mendekati sebuah gedung besar, sepertinya gedung kosong.

Kangin lalu memasuki gedung itu.

"Mwo? Naik tangga? Aisshh!" Leeteuk melihat ujung dari tangga itu. Tangga itu tangga yang melingkar, dan yeah, tingginya kira-kira 25 meter. Kangin berjalan dan menaiki tangga itu. Leeteuk menatap tangga sejenak tangga yang akan dinaikinya itu.

"Seandainya saja aku bisa terbang. Atau sebaiknya aku merangkak saja? Hahh, itu sangat memalukan." Leeteuk akhirnya berjalan menaiki tangga itu.

Kangin akhirnya sampai di balkon paling atas yang ada di gedung itu. Ia berjalan ke tepi balkon seraya menghirup udara segar pada malam hari ini.

Dari arah belakang, terlihat Leeteuk yang terduduk di lantai. "Haaahh.. Haahh.. Rasanya seperti mau mati," ujar Leeteuk pelan.

Leeteuk lalu berdiri dan berjalan pelan menghampiri Kangin seraya mengotak-atik ponselnya. "Mwo? 16 missed call dari Sungmin? Aigoo~! Mianhae, aku tidak bisa membantumu untuk beberapa saat. Aku benar-benar sedang bad mood gara-gara halmeoni yang tiba-tiba menghukumku. Memangnya aku melanggar peraturan apa, sih?" gumam Leeteuk dengan kesal.

"Kau melanggar peraturan nomor 37 bab 5 tentang mencampuri urusan manusia." Jawab Heechul yang tiba-tiba muncul di belakang Leeteuk. Leeteuk pun langsung menoleh ke asal suara dan terkejut melihat Heechul yang duduk di kursi megah dengan gaya bak ratu.

"Mencampuri urusan manusia? Urusan siapa?" tanya Leeteuk. Heechul menunjuk Kangin. " Urusan namja itu," jawab Heechul. "Eh? Tapi, bukankah jika manusia itu ada hubungannya dengan masalah yang belum terselesaikan maka setiap malaikat penjemput akan diizinkan untuk mencampuri urusan manusia itu?" tanya Leeteuk.

"Eh? Memangnya masalahmu yang belum terselesaikan itu ada hubungannya dengan namja ini?" tanya Heechul seraya menunjuk Kangin yang tengah menikmati pemandangan dari atas gedung ini.

"Tentu saja ada." Jawab Leeteuk. "Eoh? Begitukah? Berarti aku salah memberikan hukuman, dong?" tanya Heechul dengan polosnya. "Ne. Maka dari itu, tolong hapus hukuman untukku." Ujar Leeteuk.

"Baiklah, aku akan menghapusnya. Oh ya, sekedar mengingatkan. Masa jabatanmu tinggal 42 hari, makaaku akan memberikanmu waktu 1 hari kembali menjadi manusia. Dan 1 hari itu kau gunakan untuk menyelesaikan masalahmu." Ujar Heechul.

"Eh? Maksudmu, kau mengizinkanku kembali menjadi manusia dengan sosok Jung Soo seharian?" tanya Leeteuk memastikan. Heechul mengangguk. "Hanya sehari saja. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan itu."

Leeteuk tersenyum senang.

"Whooaa! Gamsahamnida, halmeoni!"

"Ne, ne. Dan berhneti memanggilku halmeoni!"

~TBC~

Fiuuhh~! Ini chap terpanjang yang pernah author buat.. Mian kalau chap ini updatenya agak lama dari pada chap lalu. Sebenarnya author mau lanjut nih FF 2 hari yang lalu, tapi karena kondisi badan author yang kurang mendukung, akhirnya author undur.. ^^

"widiwMin, Hyorin, YuyaLoveSungmin, KyuHyunJiYoon, Kang hyo sun, minnie beliebers, EvilBungsu KyuminBaby137, Apel, KyuMinnie, Kang Rae Mi, blackivy, stevanie7227, Chikyumin, Ellen, Park Ha Rin, pumpkinkyu, BabyMing, YooMi, fckmeYeChul, shihyun sparkyumin, JiYoo861015, Chinatsu Kajitani Teukkie, Jeng Kyura, Ayuni Lee, winter boy"

Gomawo buat reviewnya… ^^

minnie beliebers:: Eh? Saya sih tahu author itu, tapi author belum tahu masalahnya. Memang masalahnya apa, ya? Maklum, author belum gitu dekat sama author senior... ^^ Gomawo..

BabyMing:: Hooo! Tenang~! Author gak mungkin bikin sampe 37 chap untuk 37 hari itu.. Kalau malas nunggu, tidak perlu memaksakan diri.. Lagian ini juga udah mau end kok, hehehe.. ^^ Gomawo.. Mian ya kalau kepanjangan..

YooMi:: Aigoo~! Petasannya bikin author jantungan.. Author gak sempet bikin edisi spesial buat Sungmin.. Mianhae, Minnie~! *Ditabok pumpkin* Okedeh, gomawo.. ^^

Park Ha Rin:: Hyukkie jadi sahabat Umin dongg.. Gomawo ^^

Oke! Sekali lagi author umumin, KEMUNGKINAN chap depan, chap 12 itu last chap.. Masih kemungkinan, yahh.. ^^

~#~#~#~ Buat readers yang nge-add FB author, kalau bisa, sebut panname kalian yang ada di review ya.. Soalnya author rada gak bisa bedain mana ELF yang gak ada hubungannya sama FF, mana penghuni screenplays, dan penghuni fandom lain.. =.='

Oh ya, lupa.. HAPPY NEW YEAR and Saengil chukka hamnida Umin oppa! Mian telat… -_-"

Oke, akhir kata dari author..

Review, please~? Gomawo.. ^^

m(_ _)m