49 Days

Summary:: Sebuah kecelakaan yang membuat Sungmin harus mencari belahan jiwanya dan 3 orang yang benar-benar menyayanginya dalam wujud roh dan dalam waktu 49 hari.

Pair:: Kyumin (Kyuhyun and Sungmin) and other

Rated:: T

Warn:: BL, Typo(s)

Disclaimer:: yang jelas bukan punya saya, mereka adalah hak YME, orang tua mereka dan diri mereka sendiri

Annyeong~! Author balik lagi dengan chap 12. Oke, ini last chap dari FF ini. Ada reader yang minta jangan last chap dulu, tapi mian, author gak bisa penuhin permintaan yang itu soalnya FF ini udah kelewat panjang. Bahkan awalnya author cuma ingin membuat 6 chap, eh ternyata malah sampai 10 chap lebih.*curcol*

Okedeh, langsung mulai aja deh..

Ehem!

Enjoy~!

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Hari ke 25, sisa 24 hari…

"Ya! Apa-apaan ini? Kenapa Kyuhyun belum pulang juga, sih?" Sungmin menjambak rambutnya, frustasi.

"Dia ke mana, sih? Udah berapa hari, ya?" gumam Sungmin seraya menghitung berapa hari yang telah ia habiskan di dalam rumah itu hanya dengan duduk dan berjalan bolak-balik dengan cemas. Dan ini adalah hari ke lima setelah Kyuhyun meninggalkannya sendirian di rumah.

"Leeteuk hyung juga! Dalam keadaan darurat malah tidak bisa menerima panggilanku. Aisshh! Waktuku terbuang sia-sia! Masih perlu satu orang lagi untuk bisa kembali hidup," Sungmin menyandarkan badannya pada dinding yang ada di belakangnya.

"Tapi siapa ya satu orang lagi?" tanya Sungmin. Setelah dipikir-pikir, jika satu orang itu tidak juga melihat Sungmin hingga pada waktunya, maka hidup Sungmin benar-benar akan berakhir.

"Uhh!" Sungmin mendudukkan dirinya di lantai dan kembali menekuk lututnya. "Kenapa lama sekali, sih? Dia melupakanku dan meninggalkanku sendirian di sini?"

Ia memeluk lututnya. "Bisakah aku menemukan satu orang itu lagi?"

.

"Sekian rapat kita pada hari ini, dan terima kasih atas kedatangan anda semua pada rapat terakhir kali ini." Lalu rapat itu pun selesai setelah kata-kata penutupan itu di ucapkan.

"Cho Kyuhyun! Kau mau ke mana?" tanya tuan Cho saat melihat anak laki-lakinya berjalan berlari mendahuluinya. Kyuhyun berhenti berlari dan berbalik menghadap appanya.

"Appa, aku ingin pulang ke rumahku sekarang. Kalau appa belum ingin pulang sekarang, aku pulang sendiri saja naik taksi." Ujar Kyuhyun.

"Appa masih ada urusan dengan Han sajangnim, kau pulanglah duluan." Ujar tuan Cho. Kyuhyun mengangguk lalu kembali berlari kecil. Ia kembali berhenti saat teringat sesuatu.

"Appa! Minta ongkos taksi!" seru Kyuhyun dengan cukup keras mengingat jaraknya dengan appanya cukup jauh. Semua orang yang ada di koridor perusahaan tempat penyelenggaraan rapat itu melihat ke arah Kyuhyun. Kyuhyun membungkuk malu seraya berjalan menghampiri tuan Cho yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Masa' kau tidak punya uang, sih?" tanya tuan Cho seraya membuka dompetnya. "Noona langsung menyeretku masuk ke mobil tanpa memberiku kesempatan untuk mengambil dompet, appa." Jawab Kyuhyun dengan tangan yang terjulur, bersiap menerima uang dari appanya. "Ini. Jadilah anak yang mandiri, Kyuhyun." Ujar tuan Cho. Kyuhyun hanya mengangguk seraya menyimpan uang pemberian appanya ke dalam saku jasnya.

"Oke, aku pergi dulu, appa. Bye!" Kyuhyun langsung melesat meninggalkan appanya yang kebingungan dengan Kyuhyun yang terlihat terburu-buru.

.

"Ahjussi, bisa lebih cepat tidak nyetirnya? Kalau tidak bisa, sini! Biar saya saja yang menyetir," ujar Kyuhyun pada ahjussi yang menyetir taksi. "Ne, saya percepat." Jawab ahjussi itu. Ia masih sangat menyayangi mobil taksinya untuk sekedar dihancurkan oleh Kyuhyun karena menyetir yang unggal-unggalan.

"Ayo lebih cepat lagi, ahjusiiii~!" seru Kyuhyun seraya mengguncang-guncang bahu ahjussi dari belakang. Evil mode on.

"I-iya, iya." Jawab ahjussi.

Kyuhyun berhenti meracau setelah mobil taksi berhenti di depan pintu rumahnya. "Gamsahamnida, ahjussi." Ujar Kyuhyun seraya menyerahkan uang pada ahjussi.

Kyuhyun langsung berlari menuju pintu rumahnya setelah turun dari taksi. "Aduuh!" Kyuhyun menepuk keningnya. "Lupa bawa kunci," ujar Kyuhyun. Ia lalu berjalan mendekati pot bunga yang ada di samping pintu rumahnya. Lalu mengangkat pot itu dan mengambil kunci dari bawah pot itu. 'Untung ada kunci cadangan.' Pikir Kyuhyun seraya membuka pintu rumahnya.

"Hyuuungg~!" seru Kyuhyun seraya berlari masuk ke dalam rumahnya. "Eoh! Kyu!" Kyuhyun hendak memeluk Sungmin saat Sungmin berlari mendekatinya. Sungmin tiba-tiba berhneti ketika Kyuhyun hampir memeluknya.

"Ke mana saja kau?" tanya Sungmin dengan wajah kesalnya. Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya. "Appa menyuruhku memimpin perusahaan milik appaku di sebuah rapat penting." Jelas Kyuhyun. Sungmin menaikkan sebelah alisnya. "Perusahaan? Kau punya perusahaan?" tanya Sungmin.

"Err, tepatnya perusahaan milik appaku." Ralat Kyuhyun.

"Eh? Rapat penting?" kaget Sungmin saat menyadari sesuatu. Kyuhyun mengangguk. "Rapat penting seluruh perusahaan terkenal di Korea?" tanya Sungmin. Kyuhyun lagi-lagi mengangguk. "Seharusnya aku ada di sana untuk memimpin perusahaan milik appaku di rapat itu. Lalu siapa yang menggantikanku?' tanya Sungmin lagi.

"Siwon," jawab Kyuhyun cepat. "Sudah kuduga," Sungmin menatap Kyuhyun. "Lalu kenapa kau lama sekali pulangnya? Aku saja sampai tidak tahu ini hari ke berapa setelah kau pergi," ujar Sungmin yang mimik wajahnya kembali terlihat cemberut.

"Mianhae, appa mengurungku di rumah selama lima hari berturut-turut dan tidak boleh keluar dari rumah barang sedetikpun kecuali ke kantor." Ujar Kyuhyun. Sungmin tidak menjawab, ia masih mengerucutkan bibirnya.

"Aigoo~ Jangan cemberut begitu dong," ujar Kyuhyun seraya terkikik kecil melihat Sungmin yang menurutnya imut.

"Kau sangat menyebalkan karena tiba-tiba mening-" kata-kata Sungmin terputus ketika Kyuhyun tiba-tiba menariknya ke dalam pelukkan hangatnya. "Mianhae," ujar Kyuhyun dengan penuh penyesalan.

Sungmin memejamkan matanya, menikmati rasa hangat dan nyaman yang disalurkan oleh Kyuhyun.

Beberapa detik kemudian Sungmin membuka matanya seraya tersenyum kecil. "Gwaenchana, asalkan kau berjanji padaku tidak akan meninggalkanku lagi." Ujar Sungmin.

Kyuhyun tersenyum mendengar perkataan Sungmin. "Aku janji, hyung." Jawab Kyuhyun yang mengeratkan pelukkannya. Baginya, Sungmin terasa nyata meskipun ia dalam wujud roh. Ia benar-benar terasa nyata saat Kyuhyun memeluknya.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Sunny-ah," panggil Siwon setelah cukup lama mereka duduk terdiam di sebuah restoran mewah.

"Ne?" Sunny mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

"Mianhae," ujar Siwon. "Eh?" Siwon menatap Sunny.

"Mianhae, kita harus mengakhiri hubungan ini." Ujar Siwon. Sunny terdiam. Mengakhiri hubungan ini?

"Maksudmu apa, oppa?" tanya Sunny. "Kita berakhir sampai di sini. Anggap saja kita tidak ada hubungan apa-apa selain rekan kerja di kantor," ujar Siwon.

Sunny tercekat mendengar perkataan Siwon. Ia memang muak dengan sikap Siwon, tapi ia benar-benar mencintai namja yang ada di hadapannya ini.

"Kenapa, oppa?" tanya Sunny. Siwon menarik napasnya.

"Selama ini, aku sudah mengubah pribadimu, aku sudah menghancurkanmu, dan aku juga sudah mengecewakan eommamu. Aku ini orang jahat, kau bisa cari yang lebih baik dari pada aku." Ujar Siwon.

Sunny menggeleng. Siwon tersenyum pada Sunny. "Sunny, mengertilah, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai donsaengku, tidak lebih." Sunny mengernyit.

"Lalu, kenapa oppa mau menjadikanku pacar jika oppa tidak mempunya rasa padaku?" tanya Sunny tidak percaya.

"Aku hanya memanfaatkanmu. Aku menjadikanmu yeojachinguku agar aku bisa melupakan pacarku yang dulu, dan juga agar ada yang bisa membantuku dalam menjalankan rencana itu." Sunny tertawa meremehkan.

"Jadi selama ini oppa memperalatku?" tanya Sunny dengan emosi. Siwon tidak menjawabnya. Sunny kembali tertawa kaku.

"Jadi, setelah oppa gagal menjalankan rencana itu, oppa ingin membuangku?" Siwon menggeleng.

"Bukan, bukan karena itu." Jawab Siwon. "Kalau bukan karena itu, lalu kenapa oppa ingin mengakhiri hubungan denganku?" tanya Sunny.

Siwon mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Itu karena.." Siwon memejamkan matanya. "Karena aku baru menyadari kalau aku telah merubah. Aku telah berbeda dari Siwon yang dulu. Dan aku sadar kalau pacarku-ani, mantan pacarku itu tidak suka dengan diriku yang sekarang." Jawab Siwon yang kembali menatap Sunny. "Dan lagi, aku masih sangat mencintai mantan pacarku meskipun aku tahu aku tidak akan pernah bisa bersama dengannya lagi. Maka dari itu, aku mohon kau bisa melepas semua ini."

Sunny tidak tahu harus menjawab apa lagi.

"Kau bisa bebas sekarang. Kau bisa bilang pada eommamu kalau kau tidak punya hungungan denganku lagi dank au juga bisa hidup bersama dengan Sungmin hyung." Sunny tersenyum kecil. Ia telah memutuskannya.

"Ani, oppa. Aku tidak akan melanjutkan hubunganku dengan Sungmin oppa," ujar Sunny. Siwon mengernyit tidak mengerti.

Sunny menatap Siwon. "Aku akan membawa eomma dan pindah ke Australia," Siwon tampak terkejut dengan perkataan Sunny, "Mwo?"

"Untuk apa aku hidup bersama namja yang tidak kucintai?" Siwon menundukkan kepalanya. Ia benar-benar telah menghancurkan hidup orang lain. "Mianhae.. Mianhamnida," ujar Siwon lagi. Sunny berusaha untuk tersenyum meskipun terasa sakit.

"Gwaenchana, oppa." Sunny tersenyum lalu memegang tangan Siwon yang berada di atas meja. "Hiduplah dengan baik, oppa. Annyeong." Sunny berdiri dari kursinya dan pergi dari tempat itu. Siwon menatap sendu pada punggung Sunny yang menjauh. "Annyeong, Sunny-ah." Ujar Siwon pelan.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Malam harinya…

"Kyu! Kau tidak makan malam?" tanya Sungmin pada Kyuhyun yang sedang asyik dengan PSPnya. "Kyu!" panggil Sungmin lagi. Ia mengernyit ketika Kyuhyun tidak merespon panggilannya.

"Ya, Cho Kyuhyun!" Seru Sungmin tepat di telinga Kyuhyun. Kyuhyun yang kaget pun langsung menoleh pada Sungmin. Ia terdiam saat menoleh pada Sungmin.

Jarak wajahnya dan Sungmin saat ini sangatlah dekat. Sungmin menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjauhkan wajahnya dari Kyuhyun. Sungmin yang hendak menjauhkan wajahnya menghentikan gerakannya ketika Kyuhyun menahan kedua pundaknya.

Sungmin menatap mata Kyuhyun dalam, begitu pula dengan Kyuhyun. Sungmin menahan napasnya ketika Kyuhyun mendekatkan wajahnya. Kyuhyun memejamkan matanya.

Sungmin dapat merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya. Ia memejamkan matanya saat merakan perasaan yang tidak pernah ia rasakan.

Hanya sebuah kecupan singkat yang hangat, lembut dan nyaman yang mewakili perasaan masing-masing. Perasaan bahwa mereka mempunyai perasaan yang sama. Cinta.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Ini kah saat yang tepat?" tanya Leeteuk yang sedang menggalau. Ia masih belum memantapkan hati untuk menunjukkan diri di depan Kangin.

Saat ini ia sedang berada di dalam café tempat Kangin bekerja. Ia sedang berdiri mengawasi Kangin yang sedang melayani tamu-tamunya. Tentu saja ia dalam wujud yang tidak dapat di lihat oleh manusia.

"Aisshh! Tidak bisa hari ini! Aku belum siap," Leeteuk berjalan bolak-balik dengan gelisah. "Tapi," Leeteuk melihat ke arah Kangin yang tengah sibuk bekerja. "Kalau bukan hari ini, jadinya kapan?" Ia menghela napasnya. "Aku belum siap." Gumam Leeteuk.

"Haissshh!" Ia mengacak rambutnya, frustasi.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Keesokan harinya~ Hari ke 26 sisa 23 hari..

(*Backsound:: SuJu-Reset*)

"Bummie," panggil Siwon seraya menyentuh nisan putih yang ada di depannya. Ia berjongkok lalu meletakan sebuket bunga kesukaan Kibum di depan nisan putih itu.

"Apa kabar?" tanya Siwon. Ia lalu melihat ke sekelilingnya. Sepi. Itulah yang Siwon lihat di pemakaman ini. Ya, sepagi ini siapa juga yang ingin keluar dan mengunjungi seseorang di pemakaman?

Namun, tidak ada sedikitpun ketakutan saat hanya dia seorang diri saja yang ada di pemakaman itu. Itu karena ada Kibum yang sedang bersamanya saat ini, meskipun tak tampak, tapi Siwon yakin itu.

"Kau baik-baik saja 'kan, Bummie? Kau bahagia 'kan di atas sana?" tanya Siwon lagi. Siwon menarik napasnya dalam-dalam untuk menghirup udara segar di pagi hari ini dan juga untuk menahan air matanya agar tidak mengalir keluar.

Ia sangat merindukan namja yang tengah tertidur damai ini. Sangat merindukannya meskipun kemarin ia baru saja bertemu dengan namja ini. Siwon ingin memeluknya, ani, menyentuh namja ini saja rasanya sudah cukup. Sayangnya ia tidak bisa. Mereka kini sudah hidup di dunia yang berbeda, kehidupan yang berbeda, dan wujud yang berbeda. Dinding yang besar tengah membatasi keduanya.

"Aku sudah kembali seperti dulu, Bummie. Aku sudah kembali menjadi namjamu yang dulu. Tidakkah kau lihat? Aku sudah kembali menjadi namja yang kau idamkan, namja yang kau sayangi, dan namja yang paling kau cintai." Ujar Siwon seraya mengusap matanya sebelum setetes air dari mata itu jatuh dan mengalir di pipinya. Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia harus tegar.

"Hanya kau, Bummie. Hanya kau yang bisa membuatku langsung berubah, Bummie. Hanya kau yang bisa membuatku menangis. Hanya kau yang bisa membuatku jatuh padamu. Dan hanya kaulah makhluk Tuhan yang paling ku cintai." Siwon membersihkan tanah yang ada di dekat nisan Kibum.

"Mianhae atas sikapku selama ini. Aku tahu itu sangat menyakitkanmu," Siwon menggali kecil tanah yang ada tepat di depan nisan itu. Setelah cukup dalam, ia meletakan 2 cincin ke dalam galian tanah itu lalu kembali menutupinya dengan tanah. Cincin itu adalah cincin yang ia dan Kibum gunakan dulu. Ne, dulu, sebelum Kibum meninggalkannya.

"Simpan ini baik-baik ya, Bummie. Aku akan selalu mengunjungimu. Sekarang aku harus pergi dulu, aku harus kerja," Siwon seraya berdiri dari jongkoknya. Ia tersenyum ke arah nisan itu lalu melihat ke arah langit. "Annyeong."

Ijen eoddeohke neowa naega

Dashi yejeoncheoreom

Chingoo il soo inni?

Jeongmal geureol soo inni?

Geureon geoni?

Press the reset, press press the reset

Nan neol neomaneul bogo inneunde

Press the reset, press press the reset

Nan neol neoreul ijeul soo eobneunde

Press the reset, press press the reset

Nae ape seo inneun neol eoddeohke noheuraneun geoni?

Press the reset, press press the reset. Reset, reset, reset…

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Hyung~!" panggil Kyuhyun. Sungmin melangkah menjauh saat Kyuhyun berjalan mendekatinya. Ia masih sangat merasa malu dengan kejadian semala itu. Dan yang paling terngiang-ngiang di otaknya, itu first kissnya! Dan itu direbut oleh Kyuhyun?

Ahh, sebenarnya sih Sungmin tidak masalah dengan itu. Toh Sungmin malahan bersyukur first kissnya bukan diambil oleh orang lain. Kenapa Sungmin merasa bersyukur? Entahlah.

"Kenapa menjauh, sih?" tanya Kyuhyun yang kini sedang memakai sepatunya dan bersiap untuk berangkat ke kampusnya.

Sungmin tidak menjawabnya, ia hanya berjalan keluar dari rumah ketika Kyuhyun telah membuka pintu rumahnya.

Kyuhyun mengunci pintu rumahnya lalu berjalan di samping Sungmin yang telah mendahuluinya. Kyuhyun tampak berpikir sebentar sebelum seringai setannya muncul.

"Itu first kiss hyung, ya?" tebak Kyuhyun. Terlihat pipi Sungmin sedikit merona mendengar pertanyaan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum senang melihat reaksi Sungmin.

"YEYYY! FIRST KISS MINNIE HYUNG SAMA AKU!" seru Kyuhyun senang seraya melompat-lompat senang. Untung saja di jalanan itu sedang sepi, sehingga tidak ada orang yang curiga kalau Kyuhyun sedang gila sekarang.

"Aisshh! Sudahlah, sudalah. Kau membuatku malu," ujar Sungmin. "Eh? Kenapa harus malu?" tanya Kyuhyun. Sungmin hanya menggeleng seraya berjalan lebih cepat mendahului Kyuhyun.

Kyuhyun berjalan cepat dengan sesekali melompat kecil seperti anak kecil.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Hari ke 30, sisa 19 hari…

"Aisshh! Aku masih belum bisa menampakkan diri di depannya," ujar Leeteuk frustasi. "Lalu kapan kau akan bertemu dengannya, hm?" tanya Heechul yang tiba-tiba muncul di belakang Leeteuk. Leeteuk menoleh.

"Halmeoni?"

"Ne, lalu kapan kau akan menunjukkan dirimu di depannya? Masa jabatanmu tidak lama lagi akan berakhir. Aku hanya tidak ingin kau kehilangan waktu berhargamu," ujar Heechul seraya berjalan mendekati Kangin yang tengah duduk di kursi taman. Kini mereka tengah berada di sebuah taman yang ada di dekat kampusnya. Siang hari yang tidak terlalu panas, waktu yang tepat untuk menikmati keindahan taman ini.

"Kasihan loh dia. Dia sudah seperti manusia penasaran yang sedang berdiri antara ingin hidup dan ingin mati," ujar Heechul seraya mendekatkan wajahnya ke arah kangin, ingin melihat lebih jelas wajah Kangin.

Leeteuk dengan segera langsung menarik Heechul menjauhi Kangin. "Kenapa tarik-tarik, sih?' tanya Heechul agak kesal dengan Leeteuk yang tiba-tiba menarik tangannya. "Jangan dekat-dekat," ujar Leeteuk.

Heechul hanya menyeringai kecil. "Iya, iya, Aku tidak akan membuat malaikat penjemputku yang satu ini cemburu, deh." Ujar Heechul.

"Dan aku harap, kau bisa sesegera mungkin menentukan hari untuk menunjukkan dirimu di depan Kangin," ujar Heechul dengan nada serius.

"Aku," Leeteuk menghela napasnya.

"Aku takut dia akan ketakutan ketika melihatku. Dia pasti akan menganggapku hantu atau setan atau sebagainya," ujar Leeteuk.

Heechul menggeleng. "Kalau memang cinta, ia pasti tidak akan takut. Mau kau dalam wujud kingkong, gorilla, dinosaurus, buaya, piranha, ia tidak akan takut meskipun wujudmu menakutkan." Ujar Heechul dengan santai. Leeteuk melempar deathglare ke arah Heechul yang sedang merapikan rambutnya.

Leeteuk kembali menghela napasnya. "Akan aku usahakan." Kata Leeteuk akhirnya. Heechul tersenyum senang mendengar perkataan Leeteuk.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Siwon memasuki ruang inap Sungmin. Ia meletakan sebuket bunga mawar kesukaan Sungmin di meja samping dekat jendela.

Ia lalu kembali berjalan mendekati Sungmin yang tengah memejamkan matanya dengan berbagai selang dan alat bantu canggih yang membantu pernafasannya.

Siwon mendesah berat. "Mianhae, Sungmin hyung. Aku sudah sangat jahat padamu. Mianhae," ujar Siwon seraya memegang tangan Sungmin yang terasa lemas.

Ia kembali memasukkan tangan itu ke dalam selimut.

"Semoga kau cepat sembuh, hyung." Ujar Siwon sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sungmin yang sedari tadi melihat dari kaca pintu itu menggeser badannya ketika Siwon hendak keluar dari kamar inapnya. Ia menatap punggung Siwon yang berjalan menjauh. "Kau… telah berubah, Siwon-ah." Gumam Sungmin seraya tersenyum kecil.

"Uri Siwon yang dulu telah kembali."

Sreett! Sungmin menoleh ke arah pintu dan melihat Sungjin tengah membuka pintu kamarnya. Dengan segera Sungmin masuk kedalam ruangan itu sebelum pintu itu tertutup.

Ia dapat melihat Sungjin yang terlihat bingung heran dengan bunga mawar yang tergeletak di atas meja dekat jendela.

Sungjin mendekati meja itu lalu mengambil bunga itu. Terdapat durat kecil di selipan bunga lalu membawa isi dari surat itu, kemudian tersenyum kecil.

"Dari Siwon hyung. Sudah lama ia tidak mengunjungi Sungmin hyung." Gumamnya seraya meletakkan bunga itu di dalam pot bunga.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Hari ke 32, sisa 17 hari…

Leeteuk menarik napasnya lalu kembali menghembuskannya. Lalu menarik napas lagi, dan kembali menghembuskannya. Ia tengah gugup. Kini ia tengah memegang sebuah surat berwarna pink muda. Dapat ia lihat, pagi ini seperti biasa. Kangin tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kampusnya.

Setelah merasa rasa gugupnya telah hilang, Leeteuk meniup surat itu sehingga surat itu melayang dan berhenti tepat di atas meja belajar Kangin. Lalu, ia pergi dari rumah Kangin dan bersiap-siap di tempat janjian.

Kangin yang tengah menyusun bukunya pun tidak sengaja melihat surat itu. Seingatnya tidak ada surat di atas mejanya, deh.

Karena penasaran, Kangin pun mengambil suray itu dan mulai membacanya. Ia terdiam setelah selesai membaca surat itu. 'Tidak mungkin,' pikir Kangin. Ia kembali membaca isi surat itu.

Untuk Kangin,

Kangin-ah, ini aku, Park Jung Soo. Kau masih ingat? Saat ini aku ingin bertemu denganmu, bisakah kau datang ke taman yang ada di belakang kampusmu?

Aku yakin saat ini kau pasti sangat bingung dengan isi surat ini. Aku Jung Soo dari dunia yang berbeda dengan duniamu, aku bukan Jung Soo yang dulu. Aku adalah Jung Soo yang telah tiada. Aku diberi kesempatan untuk melihatmu, Kangin-ah.

Percayalah padaku, kau harus datang ke taman itu sekarang juga. Aku menunggumu.

Dari Park Jung Soo

Kangin mengernyit. Dadanya rasanya sesak dan juga deg-degan. Apa ini? Surat Dari Jung Soo? Surat dari namja yang jelas-jelas telah lama tiada?

Kangin merasa kakinya lemas saat memikirkan ini. Kangin kembali membaca isi surat itu. 'Percayalah padaku, kau harus datang ke taman itu sekarang juga. Aku menunggumu.'

Haruskah Kangin mempercayai itu? Bisa saja 'kan surat ini bukan dari Leeteuk, mungkin saja ada orang iseng yang meletakkan surat itu di mejanya. Tapi siapa? Tidak ada seorang pun yang mengetahui rumahnya. Dan lagi, ia tahu tentang namjachingunya? Ia tahu tentang Jung Soo. Lalu, setengah jam yang lalu, meja belajarnya tidak ada surat seperti ini.

Atau ini hanya surat lama yang tidak sengaja keluar dari kotak khusus menyimpan surat-surat dari Jung Soo? Tapi itu mustahil setelah melihat tanggal yang tertera di surat itu. Itu adalah tanggal hari ini. Berarti surat ini baru di kirim untuk Kangin.

Haruskah ia mendatangi taman itu? Haruskah ia percaya? Tapi apa salahnya mencoba? Ia mengambil sesuatu dari lemarinya dan memasukkan sesuatu itu ke dalam saku celananya.

Ia lalu menenteng tasnya dan memakai sepatunya. Kangin berlari kecil menuju kampusnya.

Awalnya hanya lari kecil saja, namum entah apa yang membuatnya yakin kalau Jung Soo tengah menunggunya, ia mempercepat langkahnya.

Ia memperlambat langkahnya ketika ia telah sampai di taman belakang kampusnya. Ia memejamkan matanya. Kemudian membukanya dan mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.

"Kangin-ah," panggil seseorang dari arah kanan Kangin. Kangin menoleh ke asal suara. Ia tercekat ketika melihat seseorang yang memanggilnya itu.

"Jung Soo hyung?" gumam Kangin tidak percaya. Jung Soo yang kini lebih di kenal dengan nama Leeteuk tersenyum ke arah Kangin.

Kangin berjalan pelan menghampiri Leeteuk. "Hyung," panggil Kangin. "Kau sungguhan?" tanya Kangin. Leeteuk tertawa kecil mendengar pertanyaan Kangin.

"Tentu saja aku sungguhan, Kangin-ah." Leeteuk menyentuh tangan Kangin. Kangin terlihat terkejut. 'Tapi bagaimana bisa?" tanya Kangin. Leeteuk meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Kangin.

"Hari ini, seharian penuh ini, kau harus bersama denganku terus, Kangin-ah." Ujar Leeteuk. Kangin menatap Leeteuk lalu memeluknya dengan erat.

"Hyung, bogoshipeo." Ujar Kangin yang masih memeluk Leeteuk. "Ne, nado bogoshipeo, raccoon." Jawab Leeteuk. Kangin tertawa kecil seraya melepaskan pelukannya.

Ia lalu merogoh sakunya dan mengambil sesuatu dari dalam.

Terlihat di tangannya terdapat 2 cincin. Leeteuk menatap Kangin. Kangin tersenyum seraya mengangkat tangan kiri Leeteuk. Ia lalu memasangkan cincin itu di jari manis Leeteuk.

Leeteuk tersenyum senang seraya melihat cincin itu. "Gomawo, Kangin-ah." Ujar Leeteuk. Kangin tersnyum . Leeteuk lalu mengambil cincin yang satunya lagi dan memakaikannya ke jari manis Kangin.

"Sempurna!" ujar Leeteuk seraya melihat jari manisnya dan jari manis Kangin.

Kangin kembali memeluk Leeteuk. "Hyung," panggil Kangin dengan pelan. Ia kini tengah berusaha menahan tangisnya, meskipun air matanya tengah mengalir kini. Leeteuk yang mengetahui itu pun mengelus lembut punggung Kangin.

"Kenapa hyung bisa kembali? Hyung ingin menjemputku?" tanya Kangin. Leeteuk terkejut mendengar perkataan Kangin. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

"Ani. Aku kembali khusus untuk bertemu denganmu, bukan untuk menjemputmu." Ujar Leeteuk seraya melepaskan pelukkannya.

"Sudahlah, aku datang ke sini ingin bermain denganmu, bukan untuk membicarakan hal seperti itu. Hari ini kita bermain sepuasnya, ne?" Leeteuk menggandeng tangan Kangin.

"Untuk hari ini, bisakah kau bolos kuliah untukku?" tanya Leeteuk. Kangin tersenyum seraya mengangguk.

"Kajja!" Kangin langsung menarik tangan Leeteuk dan keluar dari area kampusnya.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Sungmin berdiri di samping Kyuhyun yang sedang fokus pada PSPnya. Sungmin terlihat sedang memikirkan sesuatu.

'Apa sebaiknya aku ke kampusku dan mencari satu orang itu sekarang?'pikir Sungmin. "Kyu, aku ke kampusku dulu, ya. Aku akan kembali sebelum jam pelajaran kampusmu selesai." Ujar Sungmin. Kyuhyun menoleh pada Sungmin, lalu mengangguk mengizinkan. Sungmin memegang pundak kiri Kyuhyun sebentar sebelum akhirnya ia berjalan keluar dari kelas Kyuhyun.

.

Sungmin menarik napasnya dalam-dalam saat ia telah berdiri di depan gerbang kampusnya. Adakah satu orang yang bisa melihat Sungmin di dalam gedung kampus ini?

Sungmin menghela napasnya sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya memasuki gedung itu.

Saat baru beberapa langkah Sungmin berjalan, ia langsung jatuh terduduk di lantai.

Sungmin memegang dadanya yang terasa sesak. 'Ada apa ini?' pikir Sungmin. Sungmin berusaha berdiri. Masih dengan memegangi dada kirinya, ia berjalan pelan memasuki gedung kampusnya. Sungmin menyandarkan tubuhnya pada dinding setelah ia berhasil masuk ke dalam gedung kampusnya.

Ia mengeluarkan ponselnya. Tadinya ia berniat menghubungi Leeteuk, tapi setelah tahu bahwa Leeteuk tidak akan menjawab panggilannya, ia mengurungkan niatnya. Saat hendak menyimpan ponselnya kembali, ia menghentikan gerakkannya.

Ia menatap layar ponselnya. 'Sisa 17 hari?' Sungmin menyimpan ponselnya dan menghela napas lagi.

'Bagaimana ini? Kenapa aku seperti orang yang tidak punya tenaga? Kalau begini terus, bagaimana aku bisa mencari satu orang itu?' pikir Sungmin. Ia menarik napasnya dan menghembuskannya.

Sungmin kembali melangkahkan kakinya. Ia berjalan pelan menyusuri seluruh sudut kampusnya.

.

Sungmin menyandarkan tubuhnya di dinding setelah selesai menyusuri setiap tempat yang ada di gedung kampus itu. Dan hasilnya nihil. Tidak ada seorang pun yang dapat melihatnya.

Hari ini juga ia tidak melihat Ryeowook dan Eunhyuk ada di kampus.

'Pusing.' Pikir Sungmin seraya memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar. "Ukh!" rintih Sungmin saat ia berusaha berjalan.

Ia memukul-mukul kecil kepalanya saat merasakan kepalanya mulai sedikit sakit. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di atas lantai.

.

Kyuhyun terus melihat ke arah pintu kelasnya yang terbuka. Ia terus menunggu Sungmin untuk kembali. Jam terakhir kuliah sudah hampir selesai, dan Sungmin belum kembali juga. Ia juga merasakan perasaan yang tidak enak sedari tadi. Entah apa itu, Kyuhyun tidak tahu, tapi yang pasti seperti ada sesuatu yang terjadi pada Sungmin.

Kyuhyun terkejut saat melihat Sungmin yang tiba-tiba berada di depan pintu dengan wajah pucat. Sungmin menatap Kyuhyun dengan tatapan sendu. Ia mendudukkan dirinya di lantai.

Kyuhyun menatap dosennya dengan gelisah, ia sungguh ingin keluar sekarang untuk melihat kondisi Sungmin.

Saat bunyi lonceng yang menandakan pelajaran telah berakhir, Kyuhyun langsung memasukkan bukunya dan menarik tasnya keluar dari kelas itu sebelum sang dosen selesai berpamit.

Kyuhyun langsung berjongkok saat ia berdiri di depan pintu. "Gwaenchana?" tanya Kyuhyun dengan berbisik. Sungmin tidak menjawab Kyuhyun. Ia berusaha berdiri. Kyuhyun membantunya berdiri dan berjalan dengan gerakan yang wajar agar orang-orang tidak melihatnya dengan tatapan aneh.

"Gwaenchana?" tanya Kyuhyun lagi saat mereka telah sampai di taman kampusnya yang sepi. Sungmin mengangguk. Ia mendudukkan Sungmin dan dirinya di bangku taman.

"Hyung kenapa? Kok tiba-tiba pucat seperti ini?" tanya Kyuhyun. "Aku juga tidak tahu, Kyu. Tiba-tiba aku merasa lemas," jawab Sungmin. Kyuhyun menatap Sungmin.

Ia lalu memeluk namja yang tengah lemah itu dalam pelukkan hangatnya. "Kyu," panggil Sungmin. "Hm?"

"Jangan peluk aku di sini. Kalau ada yang melihatmu sedang memeluk udara kosong, bagaimana?"

Kyuhyun tertawa kecil seraya melepaskan pelukannya.

"Hyung sudah agak baikan?" tanya Kyuhyun seraya menyentuh wajah Sungmin. Sungmin hanya mengangguk seraya tersenyum.

"Kita pulang sekarang, ne? Biar hyung bisa istirahat penuh di rumah." Ujar Kyuhyun seraya berdiri dan menjulurkan tangannya pada Sungmin. Sungmin mengangguk dan tersenyum seraya menerima uluran tangan Kyuhyun.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Jam 6.30…

"Kangin-ah," panggil Leeteuk. Saat ini mereka tengah berada di bukit tinggi yang dapat melihat danau.

"Ne, hyung?" Leeteuk menoleh pada Kangin. "Aku harus pergi sekarang," ujar Leeteuk. Kangin mengernyit tidak mengerti.

"Sudah kubilang, 'kan? Aku hanya menemanimu selama sehari ini saja," jawab Leeteuk saat melihat ekspresi bingung Kangin. Kangin menggenggam tangan Leeteuk.

"Hyung benar-benar akan meninggalkan aku sendirian lagi?" tanya Kangin. Leeteuk menghela napasnya. "Mau bagaimana lagi, Kangin-ah? Ini memang sudah takdir yang harus kita jalani. Kita tidak bisa melawan jalan takdir ini, Kangin-ah." Jawab Leeteuk. Kangin menatap Leeteuk dengan tatapan sedih. Setelah ini, mungkin saja kehidupan kelamnya akan kembali berjalan. Ia akan kembali terkurung dalam kesedihan.

"Jangan bersedih seperti ini terus, aku tidak suka melihatmu yang seperti ini." Ujar Leeteuk seraya menyentuh wajah Kangin. "Kau masih memiliki teman di dunia ini. Kau ingat? Kau masih mempunyai teman-teman di kampusmu. Kau tidak sendirian Kangin-ah. Bahkan, aku akan terus menjagamu kapanpun itu." Ujar Leeteuk. Kangin menundukkan kepalanya.

"Meskipun aku tak tampak, aku akan tetap ada di sini selamanya." Ujar Leeteuk pelan seraya menyentuh dada kiri Kangin. Kangin mengangkat kepalanya menatap Leeteuk.

Leeteuk meraih tangan kanan Kangin dan melepaskan cincin yang melekat di jari manis Kangin.

"Apa yang kau lakukan, hyung?" tanya Kangin yang bingung dengan Leeteuk.

Leeteuk juga melepaskan cincin yang ada di jari manisnya. Leeteuk memandang cincin itu sejenak sebelum melempar kedua cincin itu ke danau. Kangin tampak kaget terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Leeteuk.

"Hyung!"

Leeteuk menoleh pada Kangin. "Kau akan semakin terpuruk jika cincin itu ada di tanganmu. Kau harus membentuk kehidupan baru yang lebih berwarna, Kangin-ah. Kau tidak boleh seperti ini terus," ujar Leeteuk. Kangin menatap Leeteuk sebelum akhirnya memeluknya dengan erat.

Leeteuk membalas pelukkan Kangin. Tidak ada yang ingin melepaskan satu sama lain hingga akhirnya Leeteuk teringat dengan batas waktunya.

Ia melepaskan pelukkan Kangin dan menatap mata namja itu dalam. "Ingatlah, aku akan selalu ada di sisimu selamanya dan aku akan terus menjagamu selama aku memiliki waktu. Mianhae.. Saranghae," ujar Leeteuk seraya berjalan mundur menjauhi Kangin.

"Nado saranghae." Balas Kangin pelan. Leeteuk yang dapat mendengar kata-kata Kangin pun tersenyum.

"Annyeong." Ujar Leeteuk yang kemudian langsung menghilang.

Kangin masih diam berdiri di sana. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Saranghae.. Saranghae, Jung Soo hyung."

~#~#~#~#~#~#~#~#~

Hari ke 38, sisa 11 hari…

Sungmin kini tengah tertidur di kasur Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun sendiri sedang bermain dengan laptopnya. Entah apa yang terjadi, Kyuhyun tidak tahu. Yang jelas, akhir-akhir ini Sungmin sering terlihat pucat dan lemas. Jika Sungmin terlalu aktif, maka ia akan drop tiba-tiba.

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari laptopnya dan kini berganti memandang Sungmin yang tengah tertidur dengan wjah yang damai. Terlihat sangat polos.

Kyuhyun berjalan mendekati Sungmin dan berjongkok di samping kasurnya. Ia merapikan poni Sungmin.

Ia memandangi setiap lekuk wajah Sungmin. 'Indah.' Pikir Kyuhyun ketika melihat wajah yang tertidur lelap ini.

'Sepertinya ia kelelahan.' Kyuhyun mengecup sekilas pipi kanan Sungmin. Ia berdiri lalu berjalan menuju meja belajarnya dan kembali memainkan laptopnya.

Sungmin membuka matanya perlahan. Ia tersenyum seraya memegangi pipi kanannya. Ia menghela napasnya pelan.

Kemarin ia mencoba menghubungi Leeteuk dan akhirnya Leeteuk menjawab panggilannya juga. Leeteuk datang dan menemuinya. Leeteuk berkata kalau Sungmin hampir mendekati batas waktunya makanya kondisi badannya jadi menurun dan lemah.

Sungmin menghela napas lagi. Ini sudah hampir mendekati batas waktu. Dan kini kondisi badannya sangat lemah, bagaimana ia bisa mencari satu orang lagi? Tidak mudah untuk berkeliling di suatu tempat untuk mencari seseorang. Pekerjaan itu sangat menguras tenaga. Hanya berlari sebentar saja Sungmin langsung terjatuh lemas.

"Kyu," panggil Sungmin. Kyuhyun menoleh. 'hyung sudah bangun?' Kyuhyun berjalan menghampiri Sungmin. Sungmin mengangguk seraya mendudukkan dirinya.

"Kau sudah makan malam?" tanya Sungmin. Kyuhyun mengangguk.

"Kenapa belum tidur, Kyu? Memangnya besok tidak kuliah?" tanya Sungmin lagi.

"Besok tidak kuliah, hyung. Semua dose nada dinas ke kampus lain," jawab Kyuhyun.

Sungmin mengangguk. "Lalu kapan kau baru masuk?" Kyuhyun tampak berpikir. "2 hari lagi. memangnya kenapa, hyung?" Sungmin menggeleng. "Hyung sakit, ya?" tanya Kyuhyun. Sungmin tersenyum lalu menggeleng.

"Ani, aku hanya kelelahan saja." Jawab Sungmin. "Kalau kelelahan, selama aku kuliah, hyung tinggal di rumah saja." Ujar Kyuhyun. Sungmin menggeleng.

"Aku akan tetap ikut ke manapun kau pergi, Kyu." Kyuhyun menghela napas.

Ia sangat khawatir dengan kondisi Sungmin. Semakin hari Sungmin terlihat semakin lemah. Tidak ada yang bisa Kyuhyun lakukan selain menyuruh namja ini istirahat.

.

.

.

Benar saja, semakin hari keadaan Sungmin semakin lemah. Dan keadaan ini membuat Sungmin, Kyuhyun maupun Leeteuk menjadi tambah khawatir. Ini sudah hari ke 44. Sungmin merasa kalau sekarang dia seperti orang yang tidak sanggup hidup lagi. Setiap hari ia memaksakan diri untuk mencari satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan hidupnya.

"Hyung, sebaiknya hari ini hyung tidak usah ikut ke kampus. Hyung istirahat di rumah saja." Ujar Kyuhyun yang khawatir dengan keadaan Sungmin. Leeteuk yang ada di belakang Kyuhyun mengangguk setuju dengan usul Kyuhyun. Meskipun Sungmin harus mencari satu orang lagi agar ia bisa kembali hidup, tapi Leeteuk tidak sanggup melihat Sungmin seperti ini terus. Memaksakan dirinya untuk gtetap mencari orang itu.

"Aku tetap harus mengikutimu, Kyu. Aku tidak ingin di tinggal sendirian di dalam rumah ini." Jawab Sungmin. Kyuhyun menghela napasnya.

"Arasseo, hyung. Kalau hyung sudah tidak sanggup lagi, katakan padaku hyung, biar kita langsung pulang ke rumah." Sungmin hanya mengangguk.

Kyuhyun memakai sepatunya, sedangkan Sungmin berdiri di belakangnya menunggu Kyuhyun.

"lain kali kalau ingin membawa motor, periksa mesinnya dulu, gege! Sekarang kau malah ingin menyusahkan orang lain."

"Ne, ne. Lagian temanku itu tidak mungkin merasa disusahkan, kok." Terdengar suara ribut-ribut dari luar rumah Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Sungmin yang juga menatapnya dengan tatapan bingung. "Bukannya itu suara Zhoumi?" tanya Sungmin seraya menunjuk ke arah pintu rumah Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk lalu berjalan mendekti pintu rumahnya. Sedangkan Sungmin masih berdiri di dalam rumah. Ia tidak sanggup berjalan jika tidak dibantu oleh Kyuhyun.

"Ya, Zhoumi! Sedang apa kau di sini?" tanya Kyuhyun setelah membuka pintu rumahnya dan melihat Zhoumi sedang berdebat dengan namja lain di depan pintu rumahnya.

"Eh, Kyu? Oh, ya! Motorku mesinnya rusak, Kyu. Bisakah aku titip motor ini di rumahmu?" tanya Zhoumi.

Kyuhyun tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

"Ah! Gomawo, Kyu!"

"Mau masuk dulu? Sepertinya temanmu lelah," ujar Kyuhyun seraya melihat ke arah namja yang ada di samping Zhoumi.

Zhoumi melihat kea rah namja yang ada di sampingnya. "Hm, baiklah. Oh ya, perkenalkan, dia namjachinguku yang baru saja pulang dari China semalam." Ujar Zhoumi. "Henry imnida," ujar namja itu. Kyuhyun hanya tersenyum dan membungkukkan badannya. "Cho Kyuhyun imnida. Silahkan masuk," ujar Kyuhyun lalu menggeser sedikit tubuhnya agar Zhoumi dan Henry dapat masuk ke dalam rumahnya.

"Hm? Sungmin hyung?" panggil Henry saat ia memasuki rumah Kyuhyun dan melihat Sungmin sedang berdiri bersandar pada dinding. Kyuhyun dan Zhoumi tampak terkejut.

Sungmin yang merasa di panggil pun menoleh ke asal suara.

"Henry-ah?" gumam Sungmin pelan. Sungmin tersenyum senang.

"Kenapa hyung ada di sini?" tanya Henry dengan polosnya tanpa melihat namjachingunya yang telah berkeringat dingin. Ternyata bukan hanya sahabatnya saja yang bisa melihat roh, bahkan namjachingunya pun bisa melihat hal-hal seperti itu.

"Henry, kau bisa melihatku?" tanya Sungmin. Henry mengernyit. Ia berjalan mendekati Sungmin.

"Aku belum rabun maupun buta, hyung. Jadi aku dapat melihat hyung dengan jelas," jawab Henry. Sungmin bernafas lega ketika mendengar perkataann Henry. Henry adalah sahabat kecil Sungmin yang tiba-tiba pindah ke Cina 7 tahun yang lalu.

"Henly-ah, kau sedang bercanda?" tanya Zhoumi. Henry menatap Zhoumi. "Bercanda apa, gege?" tanya Henry yang tidak mengerti.

Zhoumi tidak menjawab, ia hanya menghela napasnya. Kenapa orang-orang di sekitarnya dapat melihat hal-hal yang aneh seperti itu? Membuat Zhoumi merinding saja.

"Kapan kau pulang dari Cina, mochi-ah?"

"Kemarin malam," jawab Henry singkat. 'Aku.. Aku bisa mengakhiri perjalanan 49 hari ini.'

.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

.

"Bagaimana? Kau siap?" tanya Leeteuk. Saat ini mereka sedang berada di sebuah gedung besar dan mewah. Leeteuk membawa Sungmin ke sini saat ia mendapatkan kabar dari Heechul bahwa Sungmin telah berhasil menyelesaikan perjalanan 49 hari ini.

"Ne." Jawab Sungmin. "Ingat, semua orang yang pernah melihatmu dalam wujud roh akan kehilangan ingatannya selama mereka bertemu denganmu. Dan kau tidak boleh menceritakan pada siapapun tentang perjalanan 49 hari ini. Tidak-boleh-menceritakannya-pada-siapa-pun!" Ujar Leeteuk mengingatkan. Sungmin hanya mengangguk.

Leeteuk tersenyum. "Selamat atas keberhasilanmu, Lee Sungmin. Kau akan kembali hidup setelah perjuanganmu yang keras, Min-ah." Sungmin tersenyum seraya mengangguk. "Gamsahamnida, hyung. Terima kasih atas bantuanmu selama ini." Leeteuk mengangguk lalu berjalan mendekati Sungmin. ia lalu memeluk Sungmin.

"Mulailah hidupmu dengan senyum, Min-ah." Ujar Leeteuk dalam pelukkannya. Sungmin mangangguk. Leeteuk lalu melepaskan pelukkannya.

"Annyeong~!" Leeteuk melambaikan tangannya. Setelah itu, bayangan Sungmin mengabur dan langsung menghilang.

.

.

.

"Appa! Appa! Lihat! Sungmin hyung sudah sadar, appa! Eomma!" Sungmin mengernyit ketika cahaya lampu menyilaukan matanya. Dengan perlahan mata Sungmin terbuka dan berusaha membiasakan matanya dengan cahaya lampu.

"Sungmin-ah!" appa dan eomma Sungmin langsung menghampiri Sungmin yang sedang berusaha mendudukkan dirinya.

"Kau masih lemas, jangan memaksakan diri." Ujar nyonya Lee.

Setelah Sungmin menyamankan posisi duduknya yang dibantu oleh dongsaengnya, ia mengedarkan pandangannya.

"Hyung!" panggil Eunhyuk dan Ryeowook yang berjalan menghampirinya.

"Akhirnya kau sadar juga, hyung! Aku sangat khawatir padamu," ujar Eunhyuk dengan gummy smilenya. Sungmin hanya tersenyum menanggapinya. "Aku sangat merindukanmu, hyung. Kukira kita tidak akan bertemu lagi." ujar Ryeowook.

Sungmin lagi-lagi hanya tersenyum. 'Ternyata benar kata Leeteuk hyung, mereka semua tidak ingat kalau mereka pernah melihatku dalam wujud roh.' Pikir Sungmin.

Namun, sedetik kemudian, senyuman kecil yang tadi menghiasi wajah kini telah tiada. Ia meremas selimutnya. 'Kyu…'

Apakah Kyuhyun juga akan melupakannya? Kyuhyun juga termasuk orang yang pernah melihatnya dalam wujud roh. Mata Sungmin berubaha menjadi sendu.

"Sungmin-ah," panggil tuan Lee. Sungmin menoleh. "Ada yang ingin appa katakan padamu. Sungmin mengangguk.

"Sunny," Sungmin mengernyit.

"Sunny memutuskan hubungannya denganmu dan membatalkan acara pertungannya denganmu. Dan kini ia sudah tidak ada di Korea, ia sudah pindah ke Australia." Ujar tuan Lee. Sungmin hanya mengangguk lalu kembali menundukkan kepalanya.

Semua yang ada di sana merasa aneh dengan reaksi Sungmin. Reaksi yang diberikan Sungmin sangat berbeda dengan perkiraan mereka.

"Sungmin-ah, gwaenchana?" tanya nyonya Lee. Sungmin tidak menjawab.

SREET

Semua yang ada di sana melihat ke arah pintu yang di buka oleh seseorang.

"Annyeong," sapa orang itu seraya membungkukkan badannya. Sungmin merasa kalau ia sedang berkhayal. Kenapa Kyuhyun ada di sana? Kenapa Kyuhyun ada di ruangan ini sambil tersenyum dengan sebuket bunga mawar pink di tangannya?

Kenapa Kyuhyun tidak lupa padanya?

"Annyeong, Sungmin hyung." Ujar Kyuhyun seraya berjalan mendekati Sungmin. Tanpa sadar, Sungmin melepaskan alat bantu pernafasan yang membantunya bernapas selama satu bulan lebih ini.

"Kyu.." panggil Sungmin pelan.

Kyuhyun tersenyum seraya mendudukkan dirinya di samping Sungmin.

Tuan dan nyonya Lee, Sungjin, Ryeowoom dan Eunhyuk berjalan pelan dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin. Mereka tidak ingin menganggu Kyuhyun dan Sungmin.

"Hyung, bagaimana keadaanmu?" tanya Kyuhyun. "Aku merasa baik setelah kau datang, Kyu." Jawab Sungmin. Kyuhyun tersenyum.

"Kenapa kau bisa datang ke sini, Kyu? Dari mana kau tahu aku sudah sadar?" tanya Sungmin. "Aku mendapatkan surat ini di meja makanku," ujar Kyuhyun seraya menunjukkan sebuah surat pada Sungmin. Sungmin mengambilnya dari tangan Kyuhyun dan membacanya.

Sungmin sudah sadar dari komanya. Lebih baik kau segera ke sana sekarang juga.

Dari scheduler.

Sungmin tersenyum melihat pengirim surat itu. "Aku tidak tahu siapa yang mengirim itu. Tidak tertera nama ataupun inisial di sana," Ujar Kyuhyun.

"Oh ya, ini juga ada surat untukmu," Kyuhyun menyerahkan surat yang ia ambil dari saku jaketnya pada Sungmin.

Untuk Lee Sungmin,

Aku lupa mengatakannya padamu, semua orang yang melihatmu dalam wujud roh akan kehilangan ingatannya dimana ia bertemu denganmu., tapi tidak untuk pasangan benang merahmu.

Dari hyungmu, scheduler.

Lali-lagi Sungmin tersenyum membaca surat itu. "Hyung," panggil Kyuhyun. "Hm?"

Kyuhyun langsung mengecup kening Sungmin saat Sungmin mengankat kepalanya yang tadi tertunduk.

"Kau tahu? Aku sangat menyukaimu, hyung." Kata Kyuhyun langsung. Sungmin menatap Kyuhyun. Kyuhyun menyerahkan bunga yang sedari tadi ia pegang pada Sungmin.

"Mau kah kau menjadi namjachinguku?" Sungmin tertawa kecil.

"Kenapa setelah aku sadar baru kau mengatakannya padaku?" tanya Sungmin. "Tidak mungkin 'kan aku pacaran dengan roh?"

Sungmin tersenyum. "Saranghae. Jeongmal saranghae, hyung." Ujar Kyuhyun dengan tulus yang terukir di wajahnya.

"Nado," ujar Sungmin. Kyuhyun tersenyum senang dan langsung memeluk Sungmin. "Nado saranghae, Cho Kyuhyun." Jawab Sungmin.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Mungkinkah kita akan berbesan dengan tuan dan nyonya Cho?" tanya nyonya Lee. Tuan Lee tersenyum. "Itu hal yang baik." Jawabnya.

"Hmm.. Kenapa sepertinya aku pernah melihat namja itu, ya?" Eunhyuk memasang tampang berpikir.

"Mungkin kau salah mengenal orang, hyung. Memangnya kau tahu siapa nama namja itu?" tanya Ryeowook. Eunhyuk menggeleng.

"Itu artinya au sama sekali tidak mengenal orang itu. Dasar sok kenal." Cibir Ryeowook.

"Tapi beneran! Aku seperti pernah melihat namja itu." Ujar Eunhyuk.

"Eunhyuk hyung!" panggil Siwon yang baru datang. "Siwon!" Eunhyuk menahan Siwon saat namja itu hendak masuk ke dalam ruangan Sungmin. "Eh? Kenapa aku di tahan? Aku 'kan ingin menemui Sungmin hyung." Ujar Siwon.

"Jangan ganggu mereka, hyung." Ujar Ryeowook. Siwon menaikkan sebelah alisnya. Lalu ia melihat ke dalam ruangan Sungmin lewat kaca panjang yang ada di pintu geser itu.

"Eh? Itu Cho Kyuhyun 'kan?" tanya Siwon. "Eh? Kau mengenalinya?" tanya Eunhyuk. Siwon mengangguk.

"Cho Kyuhyun? Nama yang tidak asing." Ujar Eunhyuk seraya mengaruk belakang kepalanya. Siwon hanya mengangkat kedua bahunya.

We ireoke dugun dugun dugun dweni sengakman hedo

Han gakishik meil meil meil nowa da he bol koya

Nan nega iseo haruga julgowo ijeneun duriranun ge

Ne sojunghan no baby baby babybaby boo

~FIN~

Huuwwwaaaaa! Gak nyangka endnya bakalan ditutup dengan percakapan gaje antara Hyuk, Wook dan Won.

Balasan Review::

KyuHyunJiYoon:: Annyeong~! Akhirnya ff ini tamat juga. Bagaimana kesannya? Jeongmal gomawo karna udah mau baca ff ini. Terima kasih sebanyak-banyaknya~! *bow*

JiYoo861015:: Akhirnya tamat juga~! Author lega setelah namatin satu ff dari sekian ff author yang belum tamat.. Makasih sebanyak-banyaknya karena udah mau baca ff ini sampai tamat! ^^ *bow*

minnie beliebers:: Thx buat infonya... Huwaa~ Ini lah akhir dari ff 49 days. Makasih ya udah baca terus.. *bow* ^^

Pumpkinkyu:: Makasih atas penantiannya.. ^^ Orang ketiganya udah muncul tuh *nunjuk mochi* Gomawo~!

Kim Min Lee:: Di ff ini sempilan sedikit Yewook, Haehyuk, Sibum dan banyak Kangteuk XD , gomawo~

blackivy:: Hahaha, itu orangnya *nunjuk Henry* gomawo, ya..~! ^^

Winter Boy:: Uke VS Semenya jagak di telantarin kok~! Author bakal tetep lanjut.. Gomawo~! ^^

960120:: Mianhae, chingu.. Ini memang harus jadi last chap.. FF ini udah sangaaatt panjang, jadi author mau tamatin.. ^^ Gomawo ya…

EvilBungsu KyuminBaby137:: Hehehe, mian kalau aku buat chingu bolak-balik.. Gomawo, ya~!

YooMi:: Gomawo atas penantiannya.. Dan makasih juga atas dukungannya~! ^^

Kang hyo sun, Rima KyuMin Elf:: Gomawo~!

Chikyumin:: Disini Kyumin moment bertebaran loh, chingu~ Gomawo~! ^^

Ellen:: Udah author add tuh. Name author :: Cindy Luffy D' Aozora.. Thanks, ya.. ^^

Liu HeeHee:: Gomawo~! Jangan sedih, meskipun terpisah, Kibum tetap di hati Siwon kok.. *Jiahh*

Saeko Hichoru:: Kyumin moment bertebaran~! Semoga cukup Kyuminnya.. ^^ Gomawo..

YuyaLoveSungmin:: GOMAWO~! Kyumin moment author tambah plus-plus di chap ini..

Jeng Kyura:: hahaha, kok merinding sih? Bagus dong, biar Kangin gak jadi manusia penasaran(?) lagi. Gomawo~!

song rae woo:: Annyeong~! Selamat datang di ff 49 days meskipun udah tamat.. Gomawo ya, Chingu~!

No Name:: Udah update nih! Gomawo, ya~! ^^

Mutsuchi:: Thank you~! Udah update nih… Gomawo ya! ^^

kyubule:: Umur author? Author umur 13 tahun, tapi bentar lagi udah mau 14 tahun kok.. Hehehe.. Gomawo~!

Ayuni Lee:: Ini udah end loh, chingu.. Makasih buat reviewnya.. Dan makasih juga udah jadi reviewer and reader tetap.. ^^

~#~#~#~ Oke! Sebenarnya autor gak sanggup buat adegan kissue-kissuenya Kyumin. Tapi karena banyak yang minta Kyuminnya banyak n ada juga yang mau adegan kissue, akhirnya author memberanikan diri.. *Jiahh*

Yah, suthor Cuma bisa buat yang ringan-ringan aja, soalnya author masih di bawah umur.. XD

Yaudah deh, ini chap terkahir ff ini, jadi..

Review, please~? Gomawo.. ^^

m(_ _)m *bow*