Suara Naruto membuat orang tadi berbalik menatapnya. "Mau apa kau disitu?" omelan childish-nya berubah menjadi tatapan kaget.

Mata onyx-nya memicing tajam pada Naruto.

"SASU-TEME?"

Beach's Wave

A fanfic by Akasuna no Aruta

Disclaimer : Sekarang Naruto masih milik Masashi-san, tapi Aru akan merebut dan membuat Naruto menjadi milikku! Aku tidak akan menyerah! Itulah jalan ninjaku! *dengan semangat 'tidak menarik kata-kata' a la Uzumaki Naruto dan 'semangat masa muda' a la RockLee. (?)

Genre : Romance dan Friendship

Rate : T

Main Pairing : SasuNaru

Slight Pairing : SaiIno, ShikaTema, NejiTen, GaaSaku (meskipun author kurang suka pair ini =='). Dan akan ada SasoDei (Yosh, aru mau mencoba multi-pair, straight and yaoi) ^^

Summary : GaaSaku is on relationship! Naruto tersenyum tipis melihat ekspresi kecewa Sasuke. Dengan ini, aku menang, yeah! Kurasa aku sudah menyingkirkan Gaara dari hatinya! /Chap 3 is UP! RnR?

Warning : Multi-chap, typo (s)/miss-typo, OOC, gaje, AU, yaoi.


Chapter 3 : Aku Bukan Yaoi!

"Ssssh!" Sasuke berdiri dan menerjang Naruto sehingga pemuda blonde itu terjatuh dan punggungnya menghantam pasir lembut. Untung tidak sakit…

"Sasu-te—uuugh!"

"DIAM!" bentak Sasuke.

Bagaimana mungkin seseorang yang baru lima detik yang lalu mengomel childish, nggak jelas, dan memalukan, tiba-tiba menerjang seseorang yang lain dengan galak dan mengerikan?

Sekarang, dengan tidak elitnya, tubuhnya menindih Naruto dan mata mereka bertatapan.

"Kyaaa, seperti di film-film, mata kami bertatapan dan… Ciuman deh! Haseeek!" seru Naruto dalam hati.

Sasuke masih menatap sapphire Naruto. "Indah dan menarik. Tapi cakepan punya Gaara," si Uchiha membatin dalam hati.

"Ayo, cium akuuuu!" Naruto kembali berseru dalam hati.

Jarak mereka sudah sangat tipis, dan…

"Kau memancingku, ya?" Sasuke mendadak berdiri dan mengebas pasir dari tubuhnya.

"E—hee?" Naruto mendelik. Hwaaa, kenapa tidak jadi ciumannya?

"Aku tidak pernah menyukaimu. Huh, dasar dobe."

"Heh, heh, aku ini pintar, tahu! Dan siapa bilang aku mengira kau menyukaiku?" Naruto berdiri dan menatap Sasuke dengan sengit.

"Huh!" mereka berdua berkacak pinggang dan menghadap arah yang berlawanan. Sedetik kemudian, mereka berjalan cepat dan makin menjauh satu sama lain…

-Beach's Wave - SasuNaru-

"Naruto, kau dari mana saja?"

"Cuma cari angin."

"Disini kan juga ada angin, Naruuu~"

"Sambil jalan-jalan," Naruto berkata datar.

Gaara mengernyit. Kenapa Naruto jadi dingin begini, ya? "Naruto, kau kenapa sih?"

Naruto tidak menjawab. Dia malah mengambil makanan yang tadi ditinggalkannya, dan melanjutkan makan di kamar.

"Huh?"

"Kenapa, Panda?" Kiba menemani Gaara yang sedang keheranan melihat Naruto.

"Itu, si Naruto. Kenapa sih, dia?"

"Yah, mana gue tauuu," baru sedetik Kiba menemani Gaara, dia sudah pergi lagi.

"Kapan, ya, aku dapat teman yang normal?" gerutu Gaara dalam hati. Emang lo sendiri normal? *ngggaaaaaak! *author gebuk-ed by Gaara FC.

Tapi tiba-tiba…

"Halo," seseorang menepuk pundak Gaara dari belakang.

Gaara berbalik. "Sasuke?"

"Kira-kira temanmu itu kenapa, yaa?" Sasuke pura-pura tidak tahu. Matanya menyipit menatap Naruto yang makin menjauh.

"Aku pun tidak mengerti," keluh Gaara. "Eh, ngomong-ngomong, kenapa kau disini?"

"Oh, maaf," Sasuke buru-buru merogoh saku celananya dan memberi dua lembar uang kepada Gaara.

"Eh?"

"Kembalian penyewaan papan selancarmu tadi pagi," Sasuke berkata datar.

"Oh, pantas kurasa saku celanaku menipis," canda Gaara. "Eh, Sasuke, kau sudah punya pacar, belum?"

Kyaaaaa!

Hati Sasuke serasa sedang tap-dance mendengar pertanyaan Gaara.

"Kenapa bertanya begitu?" Sasuke berusaha menjaga image-nya yang sudah beberapa kali bocor.

"Yah, aku hanya bertanya, siapa tahu—"

"AKU BELUM PUNYA PACAR, GAARA! KECUALI KALAU KAU MAU…"

"HEEE?" Gaara luar-biasa kaget melihat Sasuke yang tiba-tiba mengguncang bahunya. "M-maksudmu tadi apa?"

"Heh, kalian berdua! Ngapain disitu?" Naruto yang mendengar ribut-ribut dari dua suara merdu kesayangannya itu, keluar dari peristirahatannya.

"Bukan apa-apa, Naru! Eh, Sasuke, apa maksudmu tadi?" Gaara mengernyit.

Bodoh, bodoh! Gumam Sasuke dalam hati. Ntar tipe uke favoritku ini salah paham lagi!

"B-bukan, aku hanya lagi stress," Sasuke salting. "Oh ya, kalau kalian mau belajar berselancar sekali lagi, kalian dapat diskon khusus karena sudah pernah mencoba sebelumnya. Sampai jumpa."

Tiba-tiba Sasuke menghilang (lagi).

"Huh, dasar teme," gerutu Naruto yang sudah berdiri di samping Gaara.

"Naru, tadi kau kenapa sih?" Gaara bertanya, berharap Naruto mau menjawabnya. Tidak seperti tadi.

"Haha, itu—aku cuma bercanda, kok," senyum Naruto, menghilangkan keraguan Gaara. Tidak mungkin kan, kalau dia bilang kalau dia c-e-m-b-u-r-u?

Gaara tersenyum. "Kukira kau kenapa…"

"Haha, ya sudahlah, ayo kita masuk," Naruto merangkul sahabat terbaik dari yang terbaiknya itu, seraya diam-diam melirik sekitar. Huh, dasar teme. Ternyata dia masih mengintipi kami dari balik pohon!

-Beach's Wave - SasuNaru-

Pagi ketiga di pantai…

"Naru, aku duluan, yah…"

"Kemana, Gaa?"

"Keluar sebentar. Mau main air," senyum Gaara pada Naruto yang masih menggeliat di tempat tidurnya. Pemuda berambut merah itu melempar sandal sembarangan, dan pergi keluar.

"Uuuh…" gumamnya pelan. Air pantai melewati mata kakinya. Dan dia pun duduk. Kaki sampai pinggangnya mulai basah terkena air.

Lama-lama, terasa bosan juga. Akhirnya Gaara memutuskan untuk berkeliling. Dan tempat pertama yang dikunjunginya adalah toko permainan pantai tempat Sasuke bekerja. Gaara membuka pintu kaca toko tersebut. Sosok Sasuke sudah tampak olehnya, sedang menata kacamata renang di tempat pajangan. Dengan wajah masam dan kesal. Dan juga ada Sakura di sampingnya! Pantas!

"Saku-chan?" Gaara langsung berlari begitu melihat Sakura.

"Gaara-kun? Kenapa ada disini?" Sakura menatapnya dan tersenyum.

"Hanya lewat-lewat, kok…"

"Gaara," panggil Sasuke kepada pemuda berambut merah itu.

"Hmm?"

"Tidak ada, lanjutkan saja pembicaraanmu," kata Sasuke dengan nada sarkastik yang tidak terlalu tampak.

Gaara mengernyit. Tapi melihat Sakura yang tersenyum (sok) imut padanya, Gaara berpaling. "Hm, Sakura-chan, kalau mau beli sesuatu, ambil aja, aku mau bayarin kok!" si Sabaku mulau pamer kocek.

"Ah, tidak, Gaara-kun, aku—"

"Bagaimana kalau yang ini?" Gaara menunjukkan kacamata hitam yang sangat cocok untuk wajah Sakura.

"Tidak usah, kan—"

"Jadi, kau mau beli itu?" Gaara menunjuk ke arah stand pakaian dalam.

PLAK!

"Bukan waktunya untuk berbicara seperti itu!" Sakura menampar Gaara dan berlari pergi dengan wajah merah+marah.

"Adaaaw!" Gaara menyentuh pipinya yang merah. "Sakiiiittt…"

"Rasain," Sasuke mengumpat di depan Gaara.

"What's the matter with you?" Gaara sok-sok English dan mengelus pipinya. Masih sakit.

"Makanya jadi cowok jangan kurang ajar!" Sasuke tertawa geli.

"And what did you laughing at?" Sok Inggris, lagi.

"Your cheek. Seperti tomat kesukaanku, haha," tawa Sasuke lagi.

"Berhenti menertawaiku, brengsek!" Gaara meninju lengan Sasuke pelan.

"Oke, aku berhenti," Sasuke benar-benar berhenti tertawa. "Tapi, ikut aku dulu."

"A-apa?" Gaara sudah tak bisa memprotes karena Sasuke menarik lengannya dengan kasar.

"Hei, adakah seseorang disini mau menolongku? Heh, Sasuke, lepaskaaaaan, brengsek!"

-Beach's Wave - SasuNaru-

Naruto mengambil handuk dari gantungan kamar mandi, dan mengelap seluruh tubuhnya. Lalu dia melingkarkan handuk di pinggang, dan keluar.

"He, Gaara?"

Naruto mengerutkan alis melihat Gaara yang tertunduk lemas di tepi tempat tidurnya.

"Yo, Panda! Kenapa kau terlihat bingung begitu?"

"Memang! Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu!" Gaara mengerling Naruto dan mengisyaratkannya untuk duduk di sebelahnya.

"Ceritakanlah, aku kan sahabatmu, siapa tahu aku bisa mencarikan jalan keluar dan membantumu," Naruto menyiapkan telinga untuk mendengar curhatan sahabat yang paling disayanginya itu.

"Ehm, cerita tidak, ya…?" Gaara memainkan jari seperti HInata.

"Cerita! Ayo cepat!"

"Errr…"

"Buruan, Pandaaaaa!" tuntut Naruto.

"Ngg…"

"Aku hitung sampai tiga! Satu…"

"Bagaimana ya, cara ngomongnya…"

"Dua…"

"Aduh, gugup nih!"

"Dua setengah…" ada pulaaa, yang seperti itu… *ada lah!

"Aku sudah menemukan kata-kata yang tepat!"

"Satu!"

"Terserah, akan kuceritakan!"

"Keh, ya sudah cepat!"

FLASHBACK

Sasuke memojokkan Gaara di batang pohon. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tangan Sasuke menghimpit kedua bahunya.

"Hoi, brengsek, mau apa kau—hmmpfff!"

Sasuke menekap mulut Gaara dengan tangannya. Tapi melepaskannya lagi dua detik kemudian. "Oke, aku tidak mau main kasar."

"Main kasar? Apa maksudmu dengan kata 'main' itu? Heh, aku ini masih—"

"Dasar otak pervert! Diam dan dengarkan aku bicara!" bentak Sasuke.

Gaara memilih diam saja. Daripada harus adu mulut dengan si kepala batu itu?

"Aku memang baru bertemu denganmu beberapa hari," mulai Sasuke. Nadanya gugup, tapi yakin. "Dan aku sering memperhatikanmu belakangan ini…"

"…"

"Dan kurasa kau ini cukup manis juga."

Gaara mendongak menatap onyx Sasuke. Apa maksud si Uchiha ini?

"Kau juga lucu dan baik. Jadi… aku hanya ingin bilang bahwa… aku menyukaimu, Gaara… Kau—mau jadi pacarku?"

"Heh, Sasuke—kau ini… laki-laki kan?"

"?"

"Ya atau tidak?"

"Jelas, kan?" Sasuke berkata kesal. "Yeah."

"Hoii, aku ini kencing berdiri, tahu! Aku bukan cewek! Aku tidak mau jadi pacarmu! Apalagi kalau kau menyuruhku—"

"Siapa yang mengiramu cewek?"

"Kau menjadikanku pacarmu, berarti kan… Kecuali kalau kau pecinta sesama jenis! Iiiiihhhhhh!" Gaara baru tahu, mulai menampakkan wajah super-geli-akut-nya. "Hmm, kata Naru kalau tidak salah… YAOI!"

"Apa salahnya dengan yaoi?" Sasuke bertanya dengan sarkastik.

"Mungkin tidak ada salahnya bagimu, tapi aku ini normal! Normal! Straight! Dan aku menyukai seorang gadis! Bukan yaoi sepertimu! Mengerti?" dengan marah, Gaara meninggalkan Sasuke seorang diri di bawah pohon.

Menusuk.

Itulah satu hal yang paling cocok dengan kalimat Gaara tadi.

Begitu jelekkah label 'yaoi' di mata seorang Gaara?

"Menurutku, iya," batin Sasuke lirih. Karena Gaara masih terlihat di pandangannya, Sasuke mengejar dan memegang pergelangan tangannya.

"Apa, brengsek?"

"Gadis itu… Sakura, kan?" lirih Sasuke pelan.

Gaara mengangguk singkat dan menghempaskan tangan Sasuke, lalu pergi meninggalkan pemuda raven itu.

"Maaf… tapi aku tidak mencintaimu, Sasuke…"

FLASHBACK OFF

"J-jadi…" Naruto berusaha menahan tangisnya. Ingat, aku ini laki-laki!

"Ya, si Sasugay sialan itu menembakku—hei, kenapa, Naru?" Gaara kaget melihat cairan bening mengalir dari sudut mata pemuda blondie tersebut.

Naruto menatap Gaara, mencoba tidak marah padanya. Memang tidak seharusnya marah, kan? Bukan Gaara yang mengingingkan semua ini.

"T-tidak, Gaara, kurasa tadi aku belum keramas, jadi… Ngg…" Naruto mengeratkan handuk di pinggangnya dan berlari kilat ke kamar mandi.

"N-Naru?" Gaara merasa sedikit bersalah. Dia mengetuk pintu kamar mandi. Dan yang terdengar hanyalah gemiricik pelan air yang mengalir dari dalam.

Tapi sebenarnya, Naruto menangis. Menangis karena orang yang agak dicintainya, lebih memilih sahabatnya dibanding dia. Meskipun begitu, dia tidak menyalahkan Gaara. Tapi tetap saja… Gaara menjadi sedikit memiliki image jelek di matanya.

Well, sepertinya sekarang Gaara bukanlah sahabat yang paling disayanginya.

-Beach's Wave - SasuNaru-

"A-ano, senpai! Masa kita harus menginap di tenda? Tidak elit, senpai! Kenapa kita tidak menginap di beach-house kaya seperti keluarga Namikaze dan teman-temannya itu? Tobi anak baik tidak setuju, senpai!"

"Heh, Tobi, kau mau mengikuti peraturanku atau nyebur ke laut?"

"I-ikut peraturan saja, senpai!"

"Nah, makanya! Lebih baik kau diam saja!"

"H-hai', senpai!"

"Deidara, kau siapkan tenda, ya!" kata si leader, cowok (tua) berambut oranye dan ber-piercing di—hampir—seluruh permukaan wajahnya.

"Hai'! Dei-chan nan kiyuut ini siap membantu, un!"

"Kiyuut? Jijay!" seseorang berambut perak menghina si pirang Deidara.

"Eheh, Hidan, lu kalau iri bilang, un, karena Dei jauh lebih kiyuut dari elu, un…"

"Tapi gue sekseeh, ya gak, Konan-chan?"

"Konan punya gue!" si leader, Pein, mulai nyolot.

"Konan-senpai suka sama anak baik kayak Tobi!"

Sementara itu, seorang anggota organisasi mereka yang tidak ikut perang memperebutkan Konan, seorang kakek muda nan tampan yang bernama Itachi, hanya melihat perang dingin itu. Dia tidak ingin ikut campur. Kenapa? Karena dia pasti menang!

Lho?

Kan, di antara semua mereka-mereka itu, Itachi yang paling tampan! Tapi dia kasihan kepada teman-temannya, yang sangat mengidolakan Konan. Kasihan, kan, kalau sang idola beralih kepada Itachi yang bahkan tidak menyukainya? *plak.

Sementara dua yang lain, Kisame dan Kakuzu, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kisame, berteriak histeris seraya merendam dirinya dalam air. Yap, mereka sekarang sedang berada di tepi pantai dekat beach-house Namikaze. Kakuzu, berjalan jauh di belakang rombongan sambil melongo ke segala arah siapa tahu ada uang jatuh.

Si idola, Konan, sweatdropped melihat fans gila (bukan berarti tergila-gila; melainkan gila - tidak waras)-nya yang merebutkan dirinya, The MOST (baca: ONLY) beautiful girl in AKATSUKI.

Jreng, jreng, jreng…

Yah, organisasi itu namanya…

A-K-A-T-S-U-K-I.

Organisasi yang dulunya terdiri dari kriminalis kelas kakap yang sekarang merangkap menjadi organisasi pegadaian amatiran yang bahkan sampai saat ini tidak memiliki klien satu pun. Karena itu lah, mereka mencoba mencari klien untuk yang terakhir kalinya di tempat ini. Kalau masih gagal, mereka hanya akan bekerja berpencar, asal masih di lokasi pantai itu.

Karena hati mereka telah terlanjur menyatu oleh jahitan jantung Kakuzu, mereka tidak bisa berpisah jauh…

Karena itulah mereka mencoba mencari pekerjaan yang satu lokasi!

Dan mereka sekarang sedang membuat markas. Yakni sebuah tenda. Ya, tenda. Hemat gitu, lho!

"Konan punyaku…"

"Dia terlanjur mencintaiku…"

"Jangan mimpi kalian…"

"Sudah, sudah, kalian jangan bertengkar, un, Konan milik kita bersama…"

PLAK!

"Enak aja Konan milik bersama! Dia punya gue!" Pein nyolot lagi.

"Hei, hei, siapa kalian, dan mau apa disini?" seseorang menyela pertengkaran gaje mereka. He, Haruno Sasori? "Kalian agak menggangu ketenangan kami yang sedang berisitirahat siang, tahu!"

"Wuuaaaa, kawaii un…" si blondie Deidara melongo melihat wajah Sasori. Babyface super imut, rambut merah bata, dan bibir tipis yang menghipnotis…

"Maaf, bukan maksudku, menyuruh kalian diam, hanya memberitahu," Sasori tersenyum manis. Tambah satu lagi poin untuknya.

"Tidak apa-apa, un. Kami memang salah," Deidara yang mengaku-ngaku sebagai tipe uke favorit itu, tersenyum (sok) imut pada Sasori.

"Hmm, baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu ya, sampai jum—"

"S-sasori-danna!" panggil Deidara kencang pada Sasori yang hampir pergi.

"Apa? Kau memanggilku –danna?" Sasori berbalik dan menatap Deidara. Haha, si pirang ini manis juga…

"Y-ya, Sasori-danna… Boleh tau tinggal dimana, un?" tanya Deidara ragu.

"Hmm. Aku tinggal di beach-house Namikaze kamar 8 untuk liburan kami selama seminggu ini."

"O-oh, ya, arigatou, un…"

"Untuk?"

"A-alamatnya tentu saja, un."

"Hn," Sasori mengedip pada Deidara, dan berlalu pergi.

Yeah!

Deidara pingsan!

"Dei? Deidara, kau kenapa? Hoii, bangun, Deidara, bangun!"

-Beach's Wave - SasuNaru-

Wuuusssh…

Krik, krik, krik…

Siiiiing…

Udara malam berhembus… Angin terasa sangat membekukan… Debur ombak yang menghantam karang masih terdengar… Menenangkan…

"Apa yang sedang dilakukan mereka sekarang, ya?" gumam seorang blondie bermata sapphire dengan tiga garis halus di pipinya. Matanya menangkap bayangan teman-temannya yang sedang bercanda seraya memakan makan malam mereka.

Tadi pagi, karena memikirkan Sasuke dan Gaara, Naruto tidak ikut acara pantai yang diadakan orang tuannya, malah melamun di sisi pantai yang sepi. Dia tidak habis pikir Sasuke akan menembak Gaara.

Hmm, kali ini dia tidak boleh ketinggalan. Dia harus ikut acara seru-seruan bersama teman-temannya! Buat apa memikirkan Sasuke? Dia toh memang menyukai Gaara, apa salahnya?

Salahnya, dia menyakiti perasaanku.

Tapi dia tidak tahu kau menyukainya.

Tetap saja dia menyakitiku.

Bukan salahnya.

Ya, ini salahku sendiri.

Jangan pikirkan lagi.

Aku akan meminta maaf pada Gaara karena telah membuatnya khawatir.

Siapa bilang dia mengkhawatirkanmu?

Berisik lu, inner sialan!

Hee, begitulah kalau Naruto dan inner-nya sedang berperang. Dengan senyuman lima jari terpatri di wajahnya, dia bergabung bersama teman-temannya yang sedang bermain Truth or Dare.

"Yoo, Naruto, akhirnya kau datang juga!" Sasori menepuk pundak sahabatnya itu dan menyuruhnya bergabung bersama mereka. Naruto mengangguk dan bergabung dengan teman-temannya yang bermain.

"Hm, Kiba, giliranmu!" seru Gaara dan Kiba menanyai si target-nya. Dan yang sial mendapat giliran target itu adalah Ino.

"Ino… Aku ini—ganteng, tidak?"

"H-hho, bukan pertanyaan yang seperti itu!" protes Sai.

"Sai, pertanyaannya bebas kok!" jelas Gaara si moderator yang juga ikut bermain.

Sai mendengus. "Terserah kalian sajalah…"

"Ino, Truth or Dare?" Kiba mengedip nakal.

"Ngg…" Ino berpikir keras. Kiba itu, kalau targetnya memilih dare, dia pasti akan meminta hal yang macam-macam. Jelas dia pandai membuat perasaan menyesal pada target yang memilih dare. Jadi dia menjawab… "Coba truth…"

"Haseeek, ayo jawab!"

"Ngg… Pertanyaannya tadi, tentang ganteng-tidaknya Kiba, yah? Hm, jawabannya… Err, menurutku Kiba lumayan ganteng, kok…"

"Yes! Yes! It's all not wroooooooooong!" Kiba bersorak dan lompat-lompat gaje di tempat duduknya.

"Heh, heh, baru gitu aja senang… Kau tidak tahu, setiap hari Ino memanggilku si ganteng Sai-yang (baca: sayang)? Keh, dasar sombong!" omel Sai yang tidak rela pacarnya menyebut orang lain ganteng.

"Sudahlah, jangan bertengkar. Sesi pertanyaan untuk Ino sudah habis. Target baruuu!" Gaara menggenggam batu pengundi-nya, dan melempar sembarangan dengan mata terpejam, sementara teman-temannya mengambil posisi secara acak, dan…

Haruno Sakura kena!

"Aaaaah!" Sakura mendengus kesal.

"Hei, boleh gabung?" tanya seseorang. Semua mata beralih memandangnya.

"Sasu—gay? Maksudku, Sasuke," ralat Gaara kepada orang yang baru datang. "Ehm, aku selaku moderator, mengizinkanmu. Ngg, duduk dimanapun kau mau…"

Sasuke tersenyum tipis dan duduk diantara Sasori dan Kankuro.

Nah, sekarang, giliran penanya pertama, Hinata.

"S-sakura-chan… Menurutmu—a-aku ini orang yang bagaimana?" tanya Hinata kepada sahabatnya itu. Hm, sudah lama ia takut kalau Sakura menganggap ia orang yang membosankan. Secara, Sakura itu sahabatnya yang paling asyik…

"Kau? Oh, menurutku kau itu baik hati, pendiam, pemalu, manis, terkadang lucu… Tapi juga gagap, membosankan, dan tidak asyik," kata Sakura dengan wajah terlalu jujur a la temannya author, Imouto Aruzaki-chan (XD).

"Ngg, b-begitu ya? E-ehm, baiklah, a-aku memang orangnya tidak asy—"

"Kyaa, jangan begitu, Hinata-chaaan, aku kan cuma bercandaaaa," tiba-tiba Sakura merangkul Hinata yang wajahnya sudah memerah berat karena malu.

Sasuke mengernyit. Masa cewek seperti ini yang disukai Gaara? Pake senyam-senyum sok imut sama si forehead itu, lagi! Aaaargh! Sasuke menggumam pelan ketika Gaara tersenyum pada Sakura yang tengah merangkul Hinata. Si Uchiha mendecih pelan dan menatap Sakura dengan sarkastik, seperti biasa.

"Nah, sekarang gilliranku!" Gaara mengambil alih posisi sebagai penanya. "Hmm, Sakura… Kau—belum punya pacar, kan? Terus—"

"Belum, Gaara-kun," jawab Sakura jujur.

"Bukan itu yang mau kutanyakan! Maksudku—"

"Heh, heh, kau sudah menanyakan satu hal! Sudah, giliran yang lain lagi!" Kiba malah menjadi moderator baru karena yang lama melanggar peraturan.

"Aku belum menyuruhnya menjawab!" bantah Gaara.

"Eitt, eitt, tetap sudah habis, adikku tersayang nan ganteng nan kiyuut! Giliran Naruto lagi!" Kankuro ngomong dengan gaya yang—sumpah—ngeselin banget!

Dengan ini, Gaara mendapat ide. Dia membisikkan pada Naruto, "Naru, please kau tanyakan pada Sakura siapa cowok yang dia su—"

"Gaara-ku sayaaaaaaang!" lagi-lagi Kankuro bertingkah menjijikkan—euwh…

"—ka."

"Heee!" semua menunjuk dan menatap Gaara dengan pandangan tidak-adil-kau!

"Baiklah, Naruto, giliranmu!" seru Gaara, back to moderator mode.

"Sakura-chan~"

"Mmm-hmm?" pancing Sakura.

"Please, Naru…" batin Gaara.

"Siapa nama cowok yang kau-sukai atau naksir?" tanya Naruto.

"YEAH!" Gaara melonjak. Tapi lalu teringat kalau ada dua kemungkinan: Sakura menyukainya atau orang lain. Dia akan senang atau sakit hati.

Kenapa Naruto bertanya seperti itu? Jelas!

Siapa tahu Sakura menjawab 'Gaara' dan mungkin bisa membuat Sasuke cemburu dan lari kepangkuan-ku, hahahaaaaa! *evil grin.

"Truth or dare, Sakura?"

"Ngg, truth…" jawab Sakura pelan. Lebih mudah menyampaikan perasaan di depan orang yang disukai, tapi secara tidak langsung. Daripada langsung, dia tidak bisa membayangkan akan semerah apa mukanya! "Yang aku sukai itu…"

Guess who, readers? Is it Gaara? Or anyone else?

"Dia itu…"

Ayo, Sakura-chan, jawab…

.

.

.

.

.

"…Gaara…"

"YEAH! YEAH! Aku juga mencintaimu, Sakura-himeeeeee~" tiba-tiba Gaara berlari dan memeluk Sakura. Gadis berambut soft pink itu terkejut dan perlahan balas memeluk Gaara.

Raut wajah Sasuke tak terbaca. Pemuda raven itu menghela napas panjang, wajahnya sakit hari berat, dan bibirnya melengkung menunjukkan bahwa ia sangat frustasi.

Naruto tersenyum tipis melihat ekspresi kecewa Sasuke. Dengan ini, aku menang, yeah! Kurasa aku sudah menyingkirkan Gaara dari hatinya!

TBC…


Kyaaaaah, chap 3 updated jugaaa!

Finally, I did it!

Waah, harus meres otak buat bikin chap ini karena ide nyangkut-nyangkut, soalnya idea player Aru lagi rusak dan ga ada duit buat benerin ke tukang alat atau rental idea player baru. (?)

Hm, ada gak readers yang bingung tentang kehadiran Akatsuki? Well, bocoran dikit nih, hubungan SasoDei bakal ada kaitannya dengan SasuGaa, makanya lumayan penting…

By the way, hontou ni gomenasai, ttixz lone cone bebe, GaaLee-nya belum bisa dimunculin di chap ini… Maybe chap depan, yah? Hontou ni gomenasai…

Tengkyuu banget buat reviewers, readers, n yg repot-repot nge-fave… *emang ada? *ada kok! XD. And buat reviewer yg gak login, sasunaru4ever… Arigatou reviewnya yaaaah, dan makasih juga buat bilang fic ini gak gaje ^^

Ada yang merasa updatean chap ini terlalu lama? Well, sebetulnya udah siap dari hari Selasa tapi berhubung internet lemot tak bisa diajak kompromi, ya jadilah baru di update sekarang… ^^

Haha, udah deh, kalau penasaran, ditunggu aja chap 4-nya yah, minna-san… :D

Review! Atau kritik, request, flame juga boleh… Tapi jangan asal flame, melainkan flame yang beralasan, oke? Soo… Lewat sini…

V

V

V

V

V