"Baiklah, kami pulang dulu ya Shiho~" Lacus pamit pulang kepada Shiho.
"Ah, sampai jumpa besok," Balas Shiho sambil melambaikan tangannya pada Lacus dan Meer.
Lacus dan meer pun berlalu, tapi Shiho merasa ada yang kurang.
"Oh ya, dimana anak itu?" Katanya dalam hati sambil melihat ke sekelilingnya, tapi yang dicarinya tak ada.
"Kau mencariku?..." Tiba-tiba seorang gadis dengan rambut menutupi wajahnya muncul di belakang Shiho, lantas membuat Shiho kaget (lagi) *lihat chapter 2*
"Ah... Kamu di sini rupanya, lagi-lagi kamu membuatku kaget Zora..." Kata Shiho sambil menghela nafas."Dan juga, kamu munculnya pakai aura seram pula, tampilan rambutmu yang menutupi wajah itu juga, cepat perbaiki!"
Sambungnya, sambil tetap berusaha untuk tetap tenang. Zora hanya nyengir, tampaknya dia puas dengan hasil kerja isengnya.
"Oh ya, kamu juga cepatlah pulang, hari sudah mulai larut," Ujar Shiho.
"Aku nggak akan pulang kalau Shiho belum pulang," Jawab Zora dengan wajah polosnya.
"Tapi... Aku masih ada kerjaan, sudahlah, kamu pulanglah duluan ya,"
"Nggak!" Jawab Zora cepat, sekarang dia memasang wajah manyun.
"Zora..."
"Aku bilang nggak ya nggak, kalau aku pulang duluan nanti Shiho sendirian di sekolah yang besar ini!"
"Tak apa Zora, lagi pula di sekolah ini kan ada penjaga sekolahnya, jadi tak masalah," Kata Shiho sambil menepuk pundak gadis berambut hitam sebahu di hadapannya tersebut.
"Heh! maksudmu Yuuna sok keren padahal pengecut ntuh!" Kata Zora sambil mengerutkan dahinya.
"Iya, memang sih dia selalu di dalam ruangannya karena ketakutan jika malam tiba, tapi setidaknya masih ada orang di sini selain aku kan?"
"Haah~ iya ya aku nyerah, aku pulang deh, bye,"
"Hati-hati di jalan ya," Shiho pun segera ke ruang OSIS. Zora sempat menengok sebentar, dia hanya geleng-geleng kepala.
"Pokoknya kalau ada apa-apa dengan Shiho, aku akan minta si Cagalli untuk lapor ke kepsek Uzumi untuk memecat Yuuna!" Tekad Zora dalam hati sambil menendang kaleng Coce Cole di dekatnya.
"Auw!" Tampaknya kaleng yang ditendang Zora tepat mengenai kepala seseorang, orang (korban) tersebut pun berbalik ke belakang, penasaran,
siapa yang dengan tega menendang kaleng Coce Cole (barang bukti) kepadanya.
"Ah! Kau rupanya, kemari kamu!"
"Hoeh! Ca... Cagalli! Gomen!" Zora (pelaku) terkejut dan buru-buru cabut dari tempat itu, dan Cagalli dengan segera mengejar untuk meminta pertanggung jawaban.
"Ah! Caggalli, tunggu, jangan tinggalin aku!" Luna ikutan mengejar.
Dan terjadilah aksi kejar-kejaran oleh 3 orang tersebut.

"Srek... Srek..." Tampak Shiho sedang membereskan tumpukan kertas kertas di ruang OSIS.
"Kertas kertas yang sudah tak penting ini harus segera dibuang agar tidak menimbulkan debu," Tangan Shiho dengan terampil memilah-milah kertas yang ada di hadapannya tersebut. Sesekali dia menggunakan kemoceng untuk membersihkan debu yang mulai menumpuk di meja. "Oh ya, tinggal 3 hari lagi sampai hari itu tiba, tapi aku masih bingung mau kasih apa padanya..."
"Memangnya mau ada acara apa?" Tiba-tiba muncul sebuah suara dari pintu masuk ruang OSIS.
"Heine! Dan... Nazuna? Kenapa kalian masih di sekolah?"
"Kami tadinya dari ruang musik mau jemput Nicol, tapi nampaknya dia sudah pulang duluan, padahal kita sudah nunggu hampir 2 jam," Kata Heine menjelaskan.
"Iya, kayaknya dia sekarang bersama Athrun, Yzak dan yang lain..." Sambung nazuna.
"Oh ya, kamu sendiri kenapa belum pulang? Sudah jam 7 lho," Tanya Heine sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Ohh... Aku sedang beres-beres agar meja ini lebih rapi, lihat kan"
"Ah, mejanya si Yzak ntuh, ngomong-ngomong soal Yzak, kenapa orang seperti dia bisa jadi ketua OSIS," Kata Heine sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hush!" Nazuna memperingatkan Heine dengan menginjak kaki Heine.
"Aih! memang betul kan, dia itu gampang marah lagi, kemarin saja aku dimarahinya habis-habisan"
"Bagaimana nggak dimarahi, kamu kan bendahara Osis dan kemarin kamu bolos rapat kan"
"Ukh..."

[Di tempat karaoke]
"Hatsyiimm!"
"Wah... wah... Yzak, kau kena flu ya?" Tanya Dearka "Nggak tahu, tapi kayaknya ada yang ngomomgin aku"
"Itu karena kamu terlalu jutek jadi banyak yang bete sama kamu dan otomatis banyak yang ngomongin kamu~" Ujar Dearka iseng.
Yzak hanya menatap tajam Dearka, dalam hati dia (sedikit) membenarkan kata-kata Dearka tersebut, tapi sifat gengsinya menyembunyikan perasaan tersebut.
"Hei hei kalian berdua, mau tetap di sini? Sudah malam nih, kalian nggak pulang?" Tanya Athrun, nampak dia sudah bersiap-siap untuk pulang, begitu pula juga dengan Kira, Shinn, dan Nicol.
"Ah, iya ya tunggu bentar!" Seru Dearka seraya membawa tas punggungnya sambil menarik kerah kemeja Yzak.

Mereka berenam pun berjalan menyusuri jalanan yang diteraingi oleh lampu jalan di sisi-sisi jalan, sambil melihat lihat toko-toko di kanan-kiri mereka. Samar-samar terdengar juga penyanyi-penyanyi jalanan yang sedang menampilkan aksi mereka.
"Ohya Yzak, 3 hari lagi kamu ulang tahun kan? Kamu ada acara nggak?" Tanya Nicol memulai pembicaraan.
"Hmm... Kalau aku sibuk ya nggak bisa, kalau aku nggak sibuk ya aku bisa" Jawab Yzak cepat dengan pandangan ke arah sebuah toko klontong di seberang jalan.
"Heh! Bilang saja kamu nggak tahu, begitu aja repot!" Kata Shinn sambil melipat tangannya di dada.
Pandangan Yzak kini teralih ke Shinn, dengan dahi mengkerut, "Diam kau rambut jabrik!"
Yzak dan Shinn langsung beradu mata, nama kerennya eyes to eyes *ceilah*
"Hei hei kalian berdua!" Athrun berusaha melerai, tapi mereka berdua tak menggubris.