OK! Maaf kelamaan UPDATE~ maklum, lagi sibuk-sibuknya mid test dan mau mempersiapkan UTS ==a
Terima kasih banyak untuk yang mereview^^ Aku senang sekali.
Di chapter ini aku berusaha membuatnya dengan lebih baik, semoga saja ada perubahan... Di chapter ini aku belum menunjukkan inti ceritanya, hehe... Tapi pasti nanti aku munculkan kok!
Ok... Silahkan ke TKP! *Parto OVJ*
"Shihooo~"
Suara tersebut sudah tak asing lagi di telinga gadis berambut coklat yang sekarang sedang konsentrasi memilah-milah kertas-kertas penting dengan yang tidak penting (coretan).
Sambil menghela nafas panjang ia cuma mengatakan "ada apa?" Tampaknya ia sudah tahu siapa pemilik suara yang nadanya sedang merayu tersebut, ya,
rayuan yang khas ala Asagi.
"Ada apa lagi Asagi?" Shiho menghentikan sejenak pekerjaannya dan berbalik menatap gadis berambut blonde bergelombang tersebut, sambil membetulkan dasinya dia menatap Asagi dengan tatapan aneh.
"Hei… Kenapa tampilanmu acak-acakan begitu? Tunggu! Kamu jangan-jangan melakukan itu lagi?" raut wajah Shiho yang semula tenang mendadak sedikit berubah, dahinya mengkerut.
Asagi hanya menjawab dengan mengangguk sambil mengeluarkan sedikit ujung lidahnya dan dia hanya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ha~h… sudah berapa kali aku bilang, kamu jangan cari perkara dengan salah satu anggota dari kelompoknya Orga itu…!"
"Hehe, habis si Shani ngejek style baju seragamku, ya sudah tiba-tiba tanpa sadar tahu-tahu aku sudah menggamparnya~" Asagi menjelaskan sambil memakan kue yang ada di meja (ketua osis) Yzak, yang sengaja disiapkan Shiho sejak tadi pagi. Sontak Shiho merasa ng-eh.
"enak sekali makan tanpa seizin yang buat," Shiho menarik toples kue yang sedang dipegang Asagi.
"Tenang saja, Cuma sebiji juga! Aku kan nggak serakus yang kamu bayangkan."
Shiho menatap tajam Asagi yang sedang menunjukkan senyuman khasnya, ya, senyuman untuk meluluhkan hati seorang Shiho.
Shiho menarik nafas panjang, kenapa pagi-pagi begini harus berhadapan dengan Asagi, pasti sesuatu yang "merepotkan" yang akan dibawakan oleh gadis blonde ini…
"Baiklah, untuk apa kamu ke sini pasti ada sesuatu, kalau urusan berkelahi aku tak mau tahu, kamu urus sendiri, atau kamu suruh Mayura dan Juri yang ngeberesin, urusan minta pulsa juga aku tak mau kasih!"
Mendengar ucapan Shiho Asagi hanya diam dengan menunjukkan mulutnya berbentuk huruf O, tapi tak berapa lama cewek blonde tersebut hanya tertawa kecil.
"Haha! Shiho… Shiho… Ternyata begitu, pantas wajahmu sudah menunjukkan ekspresi tak senang saat bertemu denganku tadi, tahunya kamu mengira aku akan menyuruhmu membantuku dengan masalahku yang sedikit ribet. Tenang aja, ini beda kok~"
"Ok, tapi pasti merepotkan juga kan!"
"Ahaha, menurutku sih nggak, Cuma aku hanya mau bilang, ini aku dapat info dari Nazuna."
"Nazuna? Anak kelas 1 dan asisten Miriallia di klub koran ya? Memangnya ada info apa?" Shiho mulai menghilangkan wajah tak senangnya, sambil meletakkan kertas yang dipilah-pilahnya tadi.
"Iya, begini, tapi ini masih simpang siur, aku juga belum cek kebenarannya, katanya nih, salah satu anak di kelasmu itu…" Asagi menunjukkan muka serius, sambil mengecilkan volume suaranya dia mendekat ke arah Shiho dan membisikkan sesuatu, "ada yang seorang kogal…"
"APA!"
"hei-hei santai aja kali…" Asagi menepuk pundak Shiho yang tampak kaget.
Shiho tak menyangka ada seorang kogal di Destiny Gakuen yang terkenal dengan anak-anaknya yang kebanyakan mematuhi aturan sekolah, dan tak berani berbuat macam-macam pada peraturan Destiny Gakuen.
Ya, dari 1001 peraturan Destiny Gakuen, nomor 5 "DILARANG BAGI SISWI BERPENAMPILAN KOGAL "
Shiho tampak tak percaya, apa lagi orang yang melanggar peraturan nomor 5 dari 1001 peraturan tersebut ada di kelasnya yang ia pimpin.
"Hoi-hoi Shiho, sudahlah nggak usah dipusingkan, lagi pula belum ketahuan guru-guru kok! Asal tak ada yang bermulut ember saja," Kata Asagi sambil sibuk memakan kue yang disiapkan Shiho untuknya, tanpa ia sadari orang yang diajak bicaranya tersebut sudah tak berada di sampingnya. Karena merasa tak dibalas omongannya, dia pun berbalik.
"Hei, Shiho. Kenapa diam…"
…...
"Cih! Sudah pergi toh,"
Angin berhembus pelan, langit biru menunjukkan bahwa cuaca hari ini cerah, saat ini aku di kelas sendirian, yang lainnya sedang makan siang di kantin, karena aku tak lapar aku di kelas saja, sambil sesekali melanjutkan pekerjaanku membuat syal untuk Kira. Ini sebagai hadiah natal, tapi tak apakan kalau aku kerjakan mulai sekarang…
"GREKK!"
Lacus menghentikan sejenak kegiatannya menulis diary untuk melihat siapa yang tiba-tiba membuka pintu kelas sebegitu kasarnya.
"Cagalli… Ada apa? Lain kali tolong, bisakah membuka pintu dengan lebih pelan? Kau membuatku kaget, apalagi aku sedang sendirian di sini." Lacus menghampiri Cagalli yang tampak ngos-ngosan sambil melihat sekeliling kelas mencari sesuatu atau mungkin seseorang.
"Lacus, dimana Shiho? Atau kau juga tahu dimana Meer?" Tanya Cagalli pada gadis berambut pink yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Ng… entah, Meer saat pelajaran pertama tadi sampai istirahat sekarang dia tak masuk kelas, kalau dipikir-pikir sudah beberapa hari ini dia jarang masuk. Kalau Shiho cobalah cari di ruang OSIS"
"Baiklah, thanks ya, maaf membuatmu kaget tadi, bye!"
"Eh! Tung…!" Lacus berusaha memanggil Cagalli tapi sayang gadis tomboy tersebut tak mendengar, dia berlari menyusuri koridor sekolah menuju ruang OSIS.
"Shinn~ Stellar minta tolong sama Shinn~" Seorang gadis bermata magenta menghampiri pemuda berambut hitam yang sedang ngobrol dengan dua orang temannya, yang satu berambut pirang panjang yang satunya lagi berambut pendek berwarna merah keunguan yang tampak cemberut saat kedatangan gadis bermata magenta tersebut.
"Ada apa Stella?" tanya Shinn, pemuda berambut hitam tersebut, sambil memandang gadis yang di hadapannya.
"Ambilkan bola voli yang nyangkut di pohon itu dong, Stellar dan Auel berusaha mengambilnya tapi tak bisa," Jawab Stellar sambil menarik lengan Shinn menuju pohon yang dimaksudkannya, dan di sana tampak seorang pemuda berambut biru yang sedang melompat-lompat berusaha untuk mengambil bola voli. Dua orang teman Shinn yaitu Luna dan Rey mengikuti Shinn menuju pohon yang dimaksud Stellar.
"Auel~ Ada Shinn, mungkin Shinn bisa membantu juga~" Seru Stellar. Pemuda berambut biru yang ternyata bernama Auel langsung berbalik dan melihat Stellar, sambil tersenyum, dan dia melihat di samping Stellar seorang cowok yang termasuk di daftar sekumpulan orang yang dibencinya. Sontak dia menghilangkan wajah tersenyumnya dan memasang wajah tak suka.
"Hei, Stella! Kenapa harus dia yang kamu minta bantuan?" Auel mulai berkacak pinggang, raut wajah tak sukanya makin kentara. Dia memandang Shinn dengan rasa benci.
"Soalnya, Stellar tahu pasti Shinn bisa membantu Auel~"
"Lalu aku di suruh apa nih?" Tanya Shinn to the point.
"Stellar ingin, Shinn menggendong Auel di bahu Shinn agar Auel bisa mengambil bola voli itu, Shinn bisa kan? Stellar tahu Shinn pasti bisa!" Ujar Stellar tersenyum polos, ia tak menyadari bahwa Shinn dan Auel yang sudah saling membenci sejak pertama kali mereka bertemu, tapi kini mereka disuruh dengan senyum manis seorang Stellar untuk bekerja sama hanya untuk mengambil sebuah BOLA!
Auel dan Shinn hanya terdiam, kalau mereka tak mau Stellar akan sedih, maklum voli adalah satu-satunya olahraga kesukaan Stellar.
Mau tak mau akhirnya Shinn merelakan bahunya di naiki oleh Auel. Dan Auel mau tak mau merelakan (maaf) bokongnya untuk diletakkan di bahu Shinn.
Luna dan Rey tertawa kecil melihat pemandangan yang tak pernah terjadi sebelumnya tersebut.
Akhirnya sekarang bola voli yang diminta sudah ditangan Stellar.
"Terima kasih, Shinn dan Auel!" Shinn membalas ucapan Stellar, sedangkan Auel hanya mengangguk.
"Pulang nanti aku harus mandi wajib!" Kata Shinn dan Auel bersamaan dalam hati.
"Luna!" Tiba-tiba, tampak seorang gadis berambut kuning dari kejauhan.
"Cagalli? Ada apa?" Jawab Luna sembari memberikan saputangan pada Cagalli untuk mengelap keringat Cagalli.
"Kamu tahu dimana Shiho? Atau kamu tahu juga dimana Meer?" Kata Cagali sambil mengelap keringatnya dengan saputangan pemberian Luna.
"Kalau Shiho palingan di ruang OSIS. Kalau Meer aku tak tahu, apalagi aku nggak terlalu kenal dengan Meer."
"Oh, tapi tadi Shiho nggak ada di ruang OSIS, duh~ cari dimana lagi ya…?"
"Mungkin Shiho ada di tempatnya Yzak, kalau Yzak tadi kulihat lagi di Lab IPA," ujar Shinn. "Memangnya ada apa?" sambungnya lagi.
"Ng… Begini… Tapi jangan bilang yang lain…!" Shinn, Luna, Stellar, Auel dan Rey mengangguk berbarengan.
"Ini menyangkut Meer…."
"BUUMM!" Terdengar suara ledakan dari Lab. IPA, walaupun suranya ledakannya tergolong tak terlalu besar, tapi cukup membuat orang-orang yang lalu lalang di depan Lab terkejut.
"Hei! Sudah kubilang jangan menuang larutan itu berlebihan!" Yzak mengelap jas labnya yang agak hangus terkena ledakan.
"Sorry sorry… tadi aku sempat nggak konsen. Jangan marah, entar tambah jelek lho~"
"Heine!" Yzak tambah sewot mendengar perkataan pemuda berambut orange tersebut. Heine hanya tersenyum jahil karena berhasil membuat Yzak emosi, soalnya wajah emosi Yzak baginya itu lucu.
Yzak hanya ngedumel tak jelas, sembari membersihkan jas Labnya dan merapikan tabung-tabung dan bahan-bahan kimia lainnya. Sesekali dia juga membantu Mikael juniornya untuk membawa kardus berisi buku-buku kimia. Sebelum membawa kardus berisi buku-buku tersebut, Yzak menghitung jumlah buku-buku itu terlebih dahulu, kalau ada satu buku saja yang hilang bisa-bisa ia bisa terkena ganjaran dari Natarle sensei. Ngebayangin ganjaran khas Natarle saja sudah bergidik apalagi merasakannya.
Setelah menghitung buku-buku dan merasa tak ada yang kurang Yzak segera meninggalkan Lab. Heine dan Mikael sudah lebih dulu keluar.
Dari kejauhan terdengar suara seseorang sedang berlari di koridor. Karena penasaran Yzak mengalihkan pandangannya ke arah asal suara tersebut, tampak Cagalli sedang menuju ke arah Yzak.
"Eh, kamu temannya Athrun kan? Ada apa terburu-buru?"
"Hosh… hosh… Apakah Shiho ada di sini? Kuharap dia ada… Hosh… hosh…"
"Hmm, tak seperti yang kau harapkan dia tak ada di sini, dari pagi aku juga tak bertemu dengannya," jawab Yzak sambil mengunci pintu Lab IPA dengan pandangannya ke arah bawah memperhatikan gembok yang sedang dipasangkannya.
"Memangnya ada urusan apa cari di…" Yzak kemudian berbalik ke arah Cagalli tapi orang yang hendak diajak bicaranya sudah tak ada.
"Dasar, tak sopan!" Yzak hanya menggerutu pelan, dia berpikir ada apa dengan Shiho? Dari raut wajah teman cewek Athrun tadi sepertinya ada urusan penting...
"Ha~h semoga bukan sesuatu yang buruk apalagi kalau menyangkut salah satu pelajar Destiny Gakuen, bisa-bisa OSIS juga yang ikut disalahkan"
[KLUB KORAN]
"Miri! Kamu ada di sini?" Shiho memasuki ruang klub koran yang dibiarkan terbuka, berharap Miri menyahutnya tapi tak seperti yang ia harapkan. Ruangan klub itu sepi, hanya terdapat kertas-kertas yang berserakan di meja maupun di lantai ruang klub.
Pandangan Shiho tertuju pada sebuah foto yang ditempelkan di dinding, sepertinya baru saja ditempelkan karena masih tercium bau khas lem kertas. Tampaknya foto tersebut untuk liputan klub ini.
Shiho mulai mengamati foto tersebut.
"Hanya seorang cewek kogal... Hei! Tunggu! Jangan-jangan ini salah datu siswi Destiny Gakuen yang diceritakan Asagi tadi!" Shiho mencabut foto tersebut dan mulai mengamatinya dengan seksama.
Di foto tersebut hanya seorang cewek kogal yang sedang mengahadap ke samping, rambutnya panjang diikuncir dua. Gadis kogal tersebut sedang berdiri di depan sebuah toko aksesoris.
"Lho, Shiho ya?"
Tiba-tiba ada seseorang menyapa Shiho dari belakang."Na...Nazuna dan Miri..." Shiho sedikit kaget dan buru-buru meletakkan foto yang dipegangnya tadi di meja.
"Ah, aku cuma mau mencarimu Miri, tadi kamu dicari Dearka oleh karena itu aku kemari, Ya sudah bye!" Shiho bergegas keluar dari ruang klub tersebut dan mencuekkan panggilan Miriallia.
Pikirannya kini dia lumayan kenal dengan cewek kogal tersebut.
Sekarang tujuannya adalah pergi ke toko aksesoris yang ada di foto tersebut. Shiho berharap semoga cewek kogal tersebut ada di sana dan dia akan segera membereskan masalah ini karena jika terlambat bisa-bisa imejnya di depan ketua OSIS akan dianggap buruk karena dia dianggap tak bisa membimbing dengan baik seluruh siswa siswi di kelasnya. Karena Shiho tahu siapa cewek kogal tersebut!
"Meer, kuharap kau ada di sana!" Kata Shiho dalam hati dan mulai melaju dengan motornya
Ok! Sekian dulu, mau cari ide lagi... Tolong reviewnya ya~ ^^
