GSD milik BANDAI dan SUNRISE *dah tau ah...*
Sudah lama ga ke tempat ini.
Ok, kupersembahkan pada pemirsa, ini dia fanficku yang gaje punya~ Selamat membaca, semoga anda tidak mual ketika membaca fanficku ini...
Seorang gadis kecil sedang meringkuk di bawah perosotan, mencari-cari sesuatu, sesekali gadis itu terisak.
"Kau kenapa?" Tanya seorang anak laki-laki yang kebetulan lewat yang juga sebaya dengan gadis itu.
"Liontinku hilang… Tadi masih kupakai, tapi sekarang sudah lenyap…" Jawab gadis tersebut sesenggukan.
Hening. anak laki-laki tersebut tak merespon, bingung, harus berkata apa.
"Ng, jangan menangis. Ayo kita cari!" Ajak anak laki-laki itu, walau ada raut wajah ragu-ragu terlukis di wajahnya, sambil menjulurkan tangannya dengan senyum dibuat-buat.
Seketika, senyum merekah di wajah gadis kecil tersebut…
Melihat senyum gadis itu membuat perasaan anak laki-laki tersebut semakin merasa bersalah…
"YZAK! Kenapa jam segini kamu malah tidur!" Dearka mengguncang-guncang tubuh Yzak.
Lelaki berambut silver tersebut terbangun walau sedikit terkejut, Ia pun melirik sahabatnya tersebut, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Lho? Tumben, biasanya kalau kupaksa bangun kau dengan segera langsung mengomeliku?" Kata Dearka sedikit menggoda, Yzak hanya melirik dan menghela nafas.
"Tidak, kali ini aku malah berterimakasih karena kau sudah membangunkanku barusan."
"Kenapa? Mimpi buruk ya?~" Sambung Dearka menggoda lagi.
"Ya… Hampir mirip seperti itu…" Yzak berjalan meninggalkan Dearka dari Ruang OSIS, melihat tingkah sahabatnya yang aneh, Dearka hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hmm.. Tidak seru ah..."
Yzak berjalan di koridor sekolah sambil termenung memikirkan mimpinya barusan. Akhir-akhir ini, Ia selalu memimpikan kejadian masa kecilnya dulu, kejadian yang membuatnya merasa bersalah kepada seseorang sampai saat ini, yaitu si gadis kecil yang ada di dalam mimpinya tadi…
"Meyrin…" Gumam Yzak.
"Hatsyii!"
"Wah, tanda-tanda mau flu nih~" Ujar Cagalli sambil memberikan selembar tisu kepada Shiho.
"Mungkin." Jawab Shiho singkat sambil menerima tisu pemberian Cagalli.
"Gawat nih, padahal sedikit lagi kan ulang tahunnya 'dia'!" Sambung Luna sambil memberikan Shiho dan Cagalli masing-masing segelas cokelat panas, dan duduk di kursi taman tepat disamping Shiho, Mendengar ucapan Luna membuat Shiho menjadi salah tingkah.
"Dia? 'Dia' siapa?" Tanya Cagalli polos kepada Luna yang sedang menyeruput cokelat panasnya. Mendengar pertanyaan polos gadis berambut pirang tersebut, sontak membuat Luna sedikit tersedak oleh coklat panasnya.
"Masa kamu nggak tahu, Cag! Itu lho, si Yz… iekh!" Luna meronta dari cubitan lobster ala Shiho di bokongnya. Shiho memasang tatapan tajam kepada Luna, karena merasa terancam oleh cubitan lobster ala Shiho, Luna terpaksa menutup rapat mulutnya.
"Yziek? Siapa itu?" Tanya Cagalli yang masih penasaran, sementara Luna mengusap-usap bokongnya yang malang. Shiho hanya memasang raut wajah yang tak tahu apa-apa, sambil meminum cokelat panasnya yang hampir dingin, dan Cagalli pun dicuekin, Tiba-tiba Ia teringat akan Spy Team milik Asagi.
Nada dering ponsel Asagi berbunyi, kebetulan saat itu yang sedang memegang ponsel Asagi adalah Zora.
"Halo, orangnya tidak ada! Tinggalkan pesan sebelum bunyi piiipp~" Jawab gadis itu.
"Pesannya, aku tak punya urusan denganmu, aku mau bicara dengan Asagi!" Seru Cagalli agak sewot.
"Asagi lagi ada pertarungan dengan Orga, lain kali aja non! Lagi seru-serunya nih, aku lagi taruhan dengan Auel, Aku dukung Orga, kalau Asagi kalah, Auel bakal memberiku 100.000. Kamu mau bertaruh juga? Boleh! Mau bertaruh berapa? Dukung siapa?" Jawab Zora dengan nada iseng sembari melihat Asagi dan Orga sedang bermain game sepak bola.
Menurut Zora, Cagalli adalah seseorang yang paling enak untuk dikerjain setelah Kira dan Nicol. Cagalli mulai sewot, tapi Ia berusaha untuk bersabar.
"Oya, kalau sama Juri dan Mayura mau? Kebetulan mereka juga ada di sini," Kali ini yang berbicara Auel.
"Oh Auel ya? Boleh-boleh! Kalau begitu mana mereka?" jawab Cagalli bersemangat, tapi Auel agak lama menjawab pertanyaan Cagalli, sayup-sayup yang terdengar adalah percakapan Auel dan Juri, juga teriakan Zora yang memaki Auel karena menyerobot ponsel Asagi, dan suara teriakan "gollll!" dari Orga.
" Eh Cag. Tadi Juri baru saja pulang, Mayura juga. Lagipula, aku mau buru-buru kabur, Asagi kalah telak 2-0. Bye~!" Tuutttt…. Tuuuuuttt…
"Bocah sialan… Setidaknya kalau tahu Juri atau Mayura mau pulang, dicegah dulu kek." Geram Cagalli.
Melihat tingkah Cagalli yang sedang menyumpah-nyumpahin ponselnya membuat Luna menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa Cag? Kayaknya sedang kesal?" Tanya Luna, yang dari tadi melihat tingkah Cagalli yang sewot.
"Kayaknya? Kali ini sangat!" Jawab Cagalli sembari duduk di kursinya.
"Kalau melihat tingkahmu, nampaknya habis dikerjain seseorang." Goda Shiho, sambil terkikik geli. Cagalli manyun, Luna hanya terkikik geli melihat raut wajah Cagalli yang, 'imut!' itulah ungkapannya kalau melihat raut wajah manyun Cagalli. Tiba-tiba ponsel Shiho berbunyi. Tak berapa lama mengobrol, Shiho tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
"Aku ingat ada urusan, kalian ke tempat karaoke saja tanpaku!" Ujar Shiho sambil membungkuk dan segera meninggalkan kedua temannya yang belum merespon apa-apa, dan hanya melihat Shiho yang makin jauh.
"Ke karaoke cuma dua orang? Apa serunya!" Seru Cagalli sambil melipat tangannya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi taman.
"Kalau gitu ke game center saja, lagi pingin main game nih, sekalian kita foto stiker~ Mau?" Jawab Luna sambil siap berjalan. Cagalli mengangguk setuju dan berjalan beriringan dengan Luna.
"Yang kalah balapan ini, traktir es serut produk baru di Toko Mwu!" Sorak Shinn, dengan pandangan tertuju pada layar game balapan motor yang sedang dimainkannya.
"Ok! Setuju! Kau pasti kalah" Jawab Athrun cepat.
"Tak akan!"
Shinn dan Athrun saling beradu, saking seriusnya mereka tak menyadari bahwa ada dua orang yang sedang menuju ke arah mereka.
"Taruhan juga deh, menurutmu siapa yang akan menang Cag?" Tanya Luna.
"Tentu saja Athrun, Kalau kau Lun? Jawab Cagalli sambil melipat kedua tangannya.
"Tentu saja Shinnku yang imut!" Jawab Luna sambil berkacak pinggang.
"Es serut es serut~ Athrun membelikanku es serut~" Shinn bernyanyi kegirangan. Athrun hanya terkapar di permainan balapan yang tadi mereka mainkan.
Luna hanya tersenyun penuh kemenangan di hadapan Cagalli.
"Kalau soal taruhan kalian memang paling lemah ya~" Goda Luna, Cagalli hanya melotot. Athrun makin terpuruk.
"Kenapa tadi aku taruhan dengan bocah itu! 20.000 lenyap sudah… Balapan ini juga tidak adil, kau memilih balapan motor karena tahu aku jarang naik motor kan!" Athrun menudingkan jarinya ke wajah Shinn, dan mengakibatkan Shinn sedikit menjulingkan matanya.
"Hee~ jangan bawa-bawa dunia nyata ke dalam game dong," Jawab Shinn tak mau kalah.
Athrun makin terpuruk. Cagalli hanya menatap pacarnya tersebut, sembari mencari akal untuk kabur.
"Ok! Sebelum kami mentraktir kalian! Foto stiker yuk!" Ajak Cagalli,
Luna menatap Cagalli.
"Mau coba kabur ya?"
DEG! Cagalli hanya mesam mesem. "Ternyata ketahuan…"
Luna hanya tersenyum, "Ok kita foto-foto dulu, sekalian double date kan~" Ujar Luna gembira oleh gagasannya tersebut sembari menggandeng Shinn, wajah Shinn seketika menjadi merah.
"Nah, ayo, kalian juga gandengan cepat!" Perintah Luna kepada Cagalli dan Athrun, seketika saja wajah Athrun dan Cagalli menjadi merah padam pula.
"Semoga cukup. SEMOGA CUKUP!" Shiho langsung membuka dompetnya, dan mulai menghitung lembaran lembaran uang di dalamnya.
"Bagaimana Shiho? Uangnya cukup?" Tanya Miriallia dengan wajah tegang, diikuti dengan Dearka.
Shiho terdiam, Ia masih menundukkan kepala, membuat Miriallia dan Dearka semakin tegang.
"Syukurlah cukup…" Jawabnya singkat dengan wajah penuh senyum, sontak membuat Miriallia dan Dearka lega. Shiho pun segera memasuki toko buku yang hendak dimasukinya tadi, dan segera mencari-cari novel karya Emily Rodda.
Shiho mencari novel karya Emily Rodda yang belum dimiliki Yzak, sembari memegang daftar novel Emily Rodda yang sudah dimiliki Yzak, yang merupakan hasil penyelidikan Dearka. Satu menit mencari dengan seksama, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah buku yang berada pada rak paling atas dan ia pun langsung mengambilnya, melihat cover buku dan membaca judulnya, senyum lebar muncul di wajahnya, karena buku tersebut tidak ada pada daftar pemberian Dearka.
Shiho bergegas membawa novel yang didapatnya ke kasir, petugas kasir dengan cekatan membungkus novel tersebut. Tak berapa lama Shiho keluar dari Toko Buku dan menghampiri kedua temannya yang menunggu di depan toko.
"Nah, sekarang kapan kamu memberikan hadiah itu padanya?" Tanya Miriallia pada Shiho.
"Tentu saja pada hari ulang tahunnya lusa..."
"Meyrin, aku pulang!" Seru Luna sambil menutup pintu kamar kos-kosannya.
Dengan wajah lelah, ia melepaskan syalnya dan menjatuhkan dirinya di kasur.
Penasaran karena Meyrin tak merespon apa-apa, gadis berambut merah marun tersebut melirik adik satu-satunya tersebut yang nampaknya sedang sibuk melakukan sesuatu. Biasanya kalau Ia pulang, Meyrin akan langsung menyambutnya dengan senyumnya yang khas.
"Hei," ujar Luna kepada Meyrin. Tapi tak direspon
"Hei!"ujarnya lagi, dan tak direspon juga.
"Hei!" Seru Luna dengan nada yang lebih ditinggikan. Tapi adiknya tersebut tetap tak meresponnya.
Rasa sebal sudah menguasai Luna, ia pun bangkit dari kasurnya walau agak enggan, dan menghampiri Meyrin.
Melihat sepasang earphone sedang menghiasi kedua telinga Meyrin membuat Luna makin sebal, sontak ia pun mencabut kedua earphone tersebut dari telinga adiknya.
Dengan sedikit kaget, mencari tahu siapa yang sedang mengganggu aktivitasnya, ia pun akhirnya melirik, "eh, kakak... Kapan datangnya...?" Ujar Meyrin yang mendapati Luna sedang memandangnya dengan kesal.
"Ah~ jarang-jarang kau seperti ini, jangan-jangan kau diam-diam sedang membaca majalah Yaoi Lovers seperti waktu itu kan~?" Ujar Luna memandang lekat-lekat dengan wajah seram ke arah Meyrin. Meyrin berusaha menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.
"Apa itu yang kau sembunyikan? Perlihatkan cepat!" Perintah Luna dengan wajah yang lebih menyeramkan, dengan gerakan bola mata yang gesit, berusaha melihat sesuatu di balik punggung Meyrin. "Hmm... kado?"
Mengetahui bahwa kakaknya tersebut telah mengetahui apa yang ia sembunyikan, "iya... kado ulang tahun," ujarnya singkat.
"Eh, untuk siapa? Ah!" Tiba-tiba Luna menjerit, sontak membuat Meyrin kaget.
"Jangan-jangan untuk Athrun... Hei Mey! Sadarlah, Athrun sudah memiliki Caga, aku tahu kamu dulu suka dia begitu juga aku. Tapi Mey kau harus relakan dia! Aku nggak mau, kalau akhirnya, adikku satu-satunya berkelahi dengan salah satu teman terbaikku!" Ujar Luna panik dengan tatapan cemas ke arah Meyrin yang hanya memandanganya dengan tatapan aneh.
"Bukan untuk Kak Athrun kok, kak, aku juga tahu kalau Kak Athrun sudah memiliki Kak Cagalli. Tenang saja," Kata Meyrin sambil menepuk-nepuk bahu kakaknya tersebut.
"Oh, terus buat siapa? Jangan bilang kalau kado ini untuk Shinn! Walaupun kau adikku tapi kalau soal cin... umph!" Meyrin memotong perkataan Luna dengan menaruh telunjukknya pada bibir Luna. Sontak membuat Luna terdiam.
Meyrin menghela nafas panjang, "Jangan ambil kesimpulan dulu sebelum aku bicara, kenapa kamu jadi makin mirip Miri-chan sih! Bukan untuk Shinn juga kok, lagipula ulang tahun Athrun dan Shinn bukan lusa. Lagipula juga kado ulang tahun belum tentu hanya untuk orang yang disukai kan, Kak?"
"Eh, oh iya... Tehee~" Jawab Luna malu-malu. "Terus untuk siapa?"
"Untuk Yzak"
"Apa?"
"Untuk Yzak, Kak..." Jawab Meyrin lagi diselingi helaan nafas panjang.
"Maksudmu Yzak Joule?" Tanya Luna lagi.
Meyrin terdiam, wajahnya sedikit kesal.
"Iya! Yzak Joule, si ketua osis sekolah kita!" Jawabnya dengan nada tinggi.
Luna terdiam. Matanya terbelalak.
"Yzak Joule ya?" Tanya Luna lagi untuk memastikan bahwa pendengarannya mungkin salah. Meyrin mengangguk dengan tatapan cemberut.
"EHH!"
Ok masih bersambung. Sengaja Yzak dan Shiho nggak terlalu kumunculkan karena belum ada ide bagus ==" *payah*
Terimakasih buat yang masih review, dan membaca fanficku~
Sampai juga lagi di chapter selanjutnya, *pergi mengembara*
