Halo semua...
Aku lagi ingin menulis jadi updatenya lumayan cepat...
Baiklah GS maupun GSD milik BANDAI, SUNRISE beserta kru-kru di dalamnya, juga semut-semut dan kutu-kutu di dalam kantornya...
Aku terbangun dari tidurku, kicauan burung mengakibatkanku terbangun dari mimpiku, sudah pagi rupanya.
Aku beranjak dari ranjangku dan merenggangkan otot-ototku yang kaku. Kulirik tanggal pada kalender yang telah kulingkari dengan spidol hijau itu, agar aku tak lupa akan hari kelahirannya. 8 Agustus.
"Esok adalah harinya," gumamku sambil mengalihkan pandangan ke arah kado berwarna hijau tua dengan balutan pita merah tua yang sudah kusiapkan kemarin malam sepulang dari toko buku. Aku sengaja tak menyimpulkannya menjadi sebuah pita, rasanya tak cocok untuk orang seperti Yzak.
Aku jadi teringat kejadian dulu, waktu TK, Dearka selalu memberi Yzak hadiah ultah. Suatu ketika saat kelas 5 SD, Dearka sakit dan tak sempat keluar untuk memberinya kado, ia meminta bantuan Miriallia membelikan kado ultah, sekaligus berpesan agar dibungkus yang bagus dan mengirim kadonya pada Yzak lewat pos, karena Miriallia tak sengaja membeli sebuah boneka kelinci pink yang memikat matanya dan tak sadar menggunakan uang Dearka yang gunanya untuk membeli kado pada Yzak, dan lagi boneka kelinci itu harganya pas dengan uang yang Dearka berikan, tanpa pikir panjang Miri langsung membungkus boneka tersebut dengan kertas kado pink berpita pink bekas miliknya karena tak ada uang sisa, dan menurutnya kado yang dibungkus dengan pernak pernik pink itu sangat bagus. Ketika Dearka masuk kembali ke sekolah, Yzak tanpa ba-bi-bu lagi melempar boneka kelinci pembawa petaka itu ke wajah Dearka, dan mereka berdua bertengkar selama sebulan lebih…
Mungkin kertas kado dan pita itu masih dimaklumi, kalau boneka kelinci warna PINK pula, sudah jelas membuatnya malu, dan parahnya lagi Yzak membuka kado berisi kelinci PINK pembawa petaka itu di depan aku dan teman-teman sekelas. Aku hanya terkikik geli mengingat cerita itu.
"DRRTT…!" Tiba-tiba saja ponselku bergetar, nampaknya ada panggilan, kulihat ponselku. Dari Luna, aku pun dengan segera memencet tombol hijau pada ponselku.
"Halo, kenapa Luna? Tumben telepon?" Jawabku, hening, ia tak menyahut. Selang beberapa detik ia menjawab.
"Anu… Begini… Shiho…" Sahutnya terbata-bata, hening lagi. Aku dengan sabar menunggu kalimat darinya, sebenarnya sih aku bisa saja menyuruhnya untuk cepetan ngomong, tapi kalau dengar dari gaya bicaranya barusan, nampaknya ini sesuatu yang penting dan sulit untuk diucapkan. Tapi kalau lama begini bisa-bisa pulsanya akan habis karena dia yang menelepon.
"Hmmm… Begini saja Luna. Kalau sulit untuk dibicarakan sekarang, lebih baik kita bicarakan saja nanti daripada pulsamu terbuang percuma, bagaimana?" Kataku mencoba memberi usul.
"Ng... Tapi, ini penting banget Shiho, masalahnya aku tak tahu aku harus ngomong bagaimana…" Ucapnya, sesuai dengan yang kuduga.
Hening lagi. Aku mau saja langsung mengatakan bye dan memencet tombol merah pada ponselku, tapi suara hatiku mengatakan JANGAN, padahal tombol itu sangat dekat dengan ibu jariku.
"Baiklah Shiho, aku akan membicarakannya sekarang!" Katanya
Bagus, itu namanya Lunamaria. Aku hanya tersenyum geli karena tingkah temanku yang satu ini, hal apa sih yang membuatnya sampai bertingkah laku seperti ini? Coba kutebak, apakah soal Shinn lagi? Atau berat badannya tiba-tiba naik?
"Baiklah aku mendengarkan, memangnya kamu mau bicara apa?" Kataku, dengan senyuman geli masih terhias di wajahku.
"Begini, aku mau membicarakan hubungan antara gebetanmu dan adikku…"
"Stellar…~~ Masih butuh berapa lama lagi kau mau mencari hadiah ulang tahun hah~? Kita sudah mencari di empat supermarket, enam mall, tiga toserba! Dan ini mall yang ketujuh!" Seru Auel, seruannya sangat memekakkan telinga sehingga Stellar menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Para pengunjung mall yang lain hanya menatap mereka berdua bingung, ada pula yang berbisik-bisik, "ada pasangan yang bertengkar." Begitu kata para pengunjung yang berbisik, tapi malang, Auel mendengarnya, dan menatap mereka tajam.
"Kalian jangan menyangka yang bukan-bukan, lagipula kami tidak bertengkar! Dan lagi aku juga bukan pasangannya! Aku hanya berusaha memberi nasihat pada cewek tak tahu diri ini! Tak usah memperhatikan kami, jadi pergilah!" Seru Auel dengan tatapan mata yang galak nan sangar dan berhasil membuat para pengunjung lari, karena para pengunjung yang dianggap Auel adalah pengganggu itu sudah pergi, Auel pun berbalik ke arah Stellar.
"Nah Stellar, apa kau sudah mendapatkan sesuatu yang kau cari?" Tanyanya, tapi cewek blonde tersebut tak berada disampingnya, nampaknya ia meninggalkan Auel ketika ia lagi marah-marah pada para pengunjung tadi, dan lenyapnya Stellar membuat Auel tambah geram.
"Akh! Sudah berputar-putar di mall, supermarket dan toserba saja membuatku sangat lelah, sekarang ditambah lagi dengan mencari anak itu! Dosa apa sih aku ini!" Seru Auel sambil membanting keranjang belanja kosong yang dipegangnya sampai patah, disekitar Auel sepi, jadi tak ada yang tahu nasib keranjang tersebut saat itu.
Auel pun berlari mencari Stellar dan berharap agar anak itu tak tersesat, karena hanya akan menambah rasa lelahnya.
DUK! Tiba-tiba Auel menabrak orang yang berada didepannya, karena tak sempat mengecilkan kecepatan jalannya yang lumayan cepat.
"Aduh!" Seru Auel dan orang yang ditabrak.
"Kalau jalan pakai mata dong! Jangan pakai lutut!" Seru Auel dan orang yang ditabrak.
Orang yang ditabrak wajar berkata seperti itu, tapi Auel, pelaku penabrakan, sangat tak wajar berkata seperti itu.
"Hee… Auel ya~ ?Tumben di mall?" Tanya sang korban yang ditabrak.
"Zora, ngapain kau di sini?"Auel balik bertanya, sambil memandang gadis bertubuh kecil itu berdiri dari jatuhnya.
"Cuma mau mencari hadiah ultah untuk si rambut putih," Balasnya, sambil membenarkan posisi topinya yang miring. Auel hanya mengucapkan oh. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari bagian informasi di mall. "Perhatian untuk pengunjung yang tersesat bernama Bapak Auel Neider, diberitahukan bahwa harus segera ke bagian informasi di lantai dua, karena anak anda bernama Stella telah menunggu, sekian dan terima kasih."
Auel melotot, "kenapa malah aku yang dikatain tersesat! Dia kan yang tiba-tiba menghilang dan pergi entah kemana! Akh, bikin malu saja! Dan lagi aku bukan papanya, aku masih lajang tahu!" Seru Auel.
"Wah, wah, orang sebesar ini bisa tersesat, bikin malu, cowok pula~ Ah~ apakah adik mau kuantar ke bagian informasi, takutnya kamu tersesat~ oh ya! Sejak kapan kamu punya anak? Kapan kau kawin? Kenapa aku nggak diundang? Kawin dengan siapa? Meyrin ya?" Goda Zora, dan berhasil membuat Auel emosi.
"Berisik! Dia yang tersesat bukan saya! Aku juga belum kawin! Lagipula jika aku kawin aku juga tak akan mengundangmu dengan orang yang bernama Shinn Asuka itu!" Seru Auel dan bergegas pergi, agar tak diberi ejekan lebih banyak lagi.
"Oh Tuhan, dosa apa sih aku ini?" Gumam Auel dalam hati.
"Ya, ya terserah~ awas kalau kalau tersesat lagi lho. Oh iya! Tunggu Auel!" Seru Zora, dan berhasil membuat Auel berhenti dari larinya. "Apa? Mau ngejek lagi ?" Jawabnya datar.
Zora menggeleng, ia hanya tersenyum licik, "kau belum memberiku uang taruhan yang kemarin!"
Aku tak percaya, aku tak percaya dengan pembicaraan Luna di telepon tadi pagi. Benarkah?
Apakah kemungkinan ada hubungan khusus antara Yzak dan Meyrin?
Akh! Aku memikirkan hal itu dari tadi.
Nampak es teh yang ada di hadapanku sekarang nampak tak nikmat untuk menenangkan pikiranku. Aku memilih untuk mengacak-acak rambutku. Pusing, ya, itu yang kurasakan.
Tapi tunggu! Memberikan hadiah ultah kan biasa saja, tapi, kado pemberian Meyrin katanya berwarna pink! Dan itu bisa saja memberi hadiah dengan kertas kado pink yang berarti sebagai ungkapan kasih sayang…
Ah, palingan itu hanya warna faforit Meyrin atau ia terpaksa memakai kertas kado bekas karena malas beli atau tak ada uang sisa seperti pada Miriallia dengan boneka kelinci sial itu untuk membeli kertas kado baru.
"Tenang saja Shiho, tak ada yang perlu dirisaukan, kau harus berpostive thinking!" Kataku dalam hati sambil menyesap es tehku yang mulai tak dingin.
"Yo! Ngelamun!" Tiba-tiba saja ada tepukan keras dipundakku, dan mengakibatkanku sedikit tersedak.
Aku berbalik, siapa yang dengan beraninya melakukan hal seperti ini kalau tak lain dan tak bukan…
"Miri… Jangan bikin kaget," ucapku sambil melanjutkan minum. Ia hanya tersenyum, dan duduk di depanku.
"Ahaha, maaf maaf! Habis kulihat dari luar café kau melamun, sudah budaya ya?" Katanya sembari memanggil seorang maid untuk memesan makanan.
"Tidak, aku hanya berpikir," jawabku datar sambil melihat bongkahan es batu yang mulai mengecil di dalam es tehku.
"Oh! Pasti soal hubungan Yzak dan Meyrin!" Ujarnya sambil menerima nasi omelet pemberian seorang maid yang dipanggilnya tadi.
Aku terbelalak, "kenapa kau bisa tahu!"
"Tentu, kan mereka pacaran," jawabnya pendek, aku masih terbelalak, benarkah?
"Ternyata memang benar, sesuai dugaanku mereka pacaran," Gumamku. Aku menyalahkan diriku, kenapa aku selalu memendam rasa suka ini? Kenapa aku tak mengungkapkannya dari dulu? Ah sudahlah… Mungkin memang sudah takdir…
"Hei! Ngelamun lagi nih~" Kata Miri sembari menjentikkan jarinya di depan wajahku, sontak membuatku kaget. Aku menatap Miri, tatapan cemas matanya, membuatku jadi tak enak hati.
"Ahaha, tidak kok, oya kau tahu mereka pacaran darimana?" Tanyaku sambil berusaha menyunggingkan senyum, walau nampaknya terlihat sangat terpaksa bagi Miri.
"Dari Cagalli, kebetulan tadi aku bertemu dengannya dan dia dapat kabar itu dari Luna," Jawabnya sambil memasukkan sesendok nasi omelet ke dalam mulutnya.
Eh, dari Luna? Kenapa Luna tak memberitahuku bahwa mereka memang pacaran di telepon tadi pagi? Kenapa tadi pagi ia hanya berkata hubungan, yang katanya belum pasti itu adalah hubungan antar pacar dan pacar? Kenapa pada Cagalli ia yakin bahwa itu adalah hubungan khusus yaitu pacaran?
Apakah ia merasa tak enak hati untuk meberitahuku karena aku suka… suka Yzak?
"Lho, mau kemana Shiho?" Tanya Miri padaku yang tiba-tiba melihat aku beranjak dari kursi.
"Aku ada urusan, maaf ya aku tinggal," Ujarku pada Miri. Miri mengangguk dan melambaikan tangan padaku, aku pun keluar dari café, dari kejauhan ia masih tetap melambaikan tangannya padaku.
Aku pun memanggil taksi yang kebetulan melintas pelan di dalam taksi aku termenung. Mengingat masa-masa kecilku dulu, dari kecil aku sudah berteman dangan Dearka, Miri dan tentu saja Yzak.
Dari SD aku menyukai Yzak, sampai sekarang…
Tiba-tiba saja air mataku yang berusaha kutahan dari tadi sudah jatuh dan menghiasi pipiku… Aku menangis sembari melihat pemandangan dari jendela taksi, berharap dengan melihat pemandangan kota, tangis ini segera reda.
Setelah sampai di tempat yang kutuju, aku berdiri di depan sebuah gerbang besar, lalu aku pun segera memencet bel yang berada di samping gerbang besar tersebut, di atas bel ada sebuah papan dengan bingkai ukiran yang indah bertuliskan Attha.
Tak berapa lama, terdengar suara dari speaker yang berada di bawah bel. "Maaf, dengan siapa ini?" Kudengar tanya salah satu pelayan di rumah Cagalli melalui speaker itu. Kenapa aku bisa yakin bahwa ini suara pelayan bukan suara Cagalli? Singkat saja, karena kata-katanya sopan.
"Saya Shiho, temannya Cagalli, aku mau bertemu dengannya, apakah Cagalli ada?" Jawabku.
"Oh, baiklah silahkan masuk," lalu gerbang besar di depanku pun terbuka, seolah gerbang besar itu juga berkata mari, silahkan masuk.
Aku pun memasuki halaman rumah Cagalli, ini kali pertama aku ke rumahnya, sebenarnya menurutku ini bukan halaman rumah, tapi taman kota, walaupun taman kota masih kalah besar dari taman Cagalli ini, entah, menurutku taman belakangnya mungkin lebih besar lagi dari taman tempat aku berada saat ini.
Sesampainya di depan pintu rumah Cagalli yang lebih besar dari gerbang yang kumasuki tadi, seorang pelayan cantik menghampiriku, dan membimbingku ke tempat dimana Cagalli berada.
Pelayan cantik tersebut menunjukkan sebuah pintu, dan mempersilahkan aku memasuki pintu itu, "di dalam kamar, Nona Cagalli telah menunggu anda," ujarnya sambil menundukkan kepalanya, aku jadi merasa sungkan karena diperlakukan seperti itu, dan nampaknya pelayan cantik tersebut mengetahuinya, dia menyunggingkan senyumnya padaku sambil tertawa kecil, "anda tak usah sungkan… " Ia pun membukakan pintu kamar Cagalli, kulihat Cagalli yang berada di atas ranjangnya yang besar, sedang sibuk mengetik di laptop orange yang selalu ia bawa ke sekolah. Pelayan cantik tersebut pun menundukkan badan lalu pamit pergi, aku mengucapkan terima kasih, walau nampaknya tak sempat karena pelayan cantik itu telah berlalu.
Aku pun memandangi Cagalli, nampaknya ia tak sadar akan kehadiranku yang telah memasuki kamarnya, aku pun menghampirinya dan juga duduk di ranjang tepat di sampingnya, ia masih belum menyadari kehadiranku, tatapan matanya masih tertuju pada layar laptop dengan kedua tangan sibuk mengetik, aku penasaran, dia sedang sibuk mengetik apa? Kupandangi layar laptop miliknya. Ah~ dia FB-an… Kukira mengetik sebuah novel atau apalah, walaupun aku tahu bahwa Cagalli bukan tipe orang yang suka menulis sebuah cerita apalagi novel. Kuperhatikan lagi Cagalli, nampaknya ia sedang asyik chatting dengan seseorang, hmm siapa ya?
Kubaca di kotak obrolan, Athrun Justice luv Cagalli, hoek! Tak kusangka Athrun menggunakan nama seperti itu di FB! Nama Athrun Justicenya sih keren tapi kata berikutnya itu yang membuatku merinding…! Kalau aku jadi Caga sudah kuprotes Athrun untuk segera mengubah namanya, kupandangi Caga lekat-lekat, (yang masih belum menyadari kehadiranku) nampaknya ia ok ok saja dengan nama FB Athrun.
Ahh sudahlah…~ Aku jadi teringat dengan perkataan Asagi dulu, "Athrun dan Cagalli adalah pasangan paling unik di muka dunia nyata dan maya!" Hmm kurasa itu benar.
Aku jadi ingin tahu nama FB milik Caga. Kalau kuperhatikan dari watak Caga sih, pasti ia ogah memakai nama yang ada luv, luph dan berbagai kata lebay lainnya.
Kedua mataku pun melirik ke sudut kiri atas dekat dengan profile picture, aku terbelalak. Cagalli Akatsuki-chan luph Athrun Justice-kun .
"Ikh! Sama saja!" Jeritku, sontak membuat Cagalli yang sedang asyik itu terkejut, ia pun menoleh ke sebelahnya dan dengan seketika ia terkejut lagi ketika mengatahui bahwa ada aku di sebelahnya. "Shiho! Sejak kapan kau ada di sini, kapan kau masuk!" Serunya, dengan segera ia beranjak dari ranjang dan menutup layar laptop lalu memeluknya. Seolah ia tak ingin aku tahu apa yang sedang dikerjakannya. Tapi terlambat Cag~
"Percuma kau menutup laptopmu, jadi karena itu, kamu tak mau memberikan email dan nama Fbmu kepada teman-teman ketika semester baru saat sharing biodata dulu, iyakan Cagalli Akatsuki-chan luph Athrun Justice-kun~?" Kataku sambil menyeringai, dan alhasil membuat wajah Cagalli cemberut dan mengeluarkan semburat warna merah di kedua pipinya.
"Haha, tenang-tenang, aku takkan memberitahukan pada yang lain, terutama Miri dan Asagi," kataku tertawa kecil sembari menepuk-nepuk pundak Cagalli yang masih memeluk laptopnya.
Cagalli pun menatapku, nampaknya ia percaya padaku, ia pun duduk kembali di ranjangnya, dan membuka kembali layar laptopnya.
"Jadi, ada apa gerangan kamu kemari?" tanyanya sambil mengklik tulisan log out .
"Apa karena soal Yzak dengan adiknya Luna?" Sambungnya lagi, kali ini ia menatap diriku, dengan tatapan sayu.
Mendengar hal itu, tawa yang tadi masih menghiasi wajahku, seketika lenyap, aku menunduk.
"iya… kau benar."
"STELLAR! Apa yang tadi kau katakan pada bagian informasi tadi hah!" Seru Auel sambil menatap lawan bicaranya tersebut dengan tatapan geram. Lawan bicaranya hanya menaruh telunjuknya yang mungil ke dagunya, "ng… anu, tadi saat Stella sedang berkeliling di rak-rak yang memajangkan tempat pensil yang lucu, Stella menyadari bahwa Auel lenyap, dan Stella pun kebetulan melihat ada bagian informasi di dekat Stella, dan menyuruh mereka mencari Auel, tapi mereka bertanya pada Stella, seperti apa Auel itu. Karena Stella lupa Auel itu seperti apa, dan Stella hanya ingat watak Auel yang keras sekali seperti orang tua, jadi Stella bilang aja kepada mereka, Auel itu orang tuaku karena Sting pernah bilang bahwa Auel itu kayak orang tuaku yang selalu memarahiku, begitu~"
Mendengar penjelasan Stellar yang pelan nan polos membuat Auel makin bertambah geram, ia ingin membentak Stellar lagi, tapi ia hentikan niatnya itu karena wajah Stella yang begitu innocent.
Auel pun hanya menghela nafas panjang, berharap dengan menghela nafas, emosinya segera reda.
Tapi tiba-tiba saja seseorang berlari melintas di samping Auel dan Stellar yang dalam posisi sedang berhadapan, "hoi, orang tua! Sudah bertemu dengan anakmu ya rupanya!" Seru orang tersebut sambil terus berlari.
"Diam kau, Sabnak!" Seru Auel. Rupanya itu adalah Orga yang kebetulan juga berada di mall ketika pengumuman (sial) itu di umumkan.
Lalu tak berapa lama, seseorang memanggil Auel. "Wah Auel~ Sebagai orang tua jangan bikin anak bersedih ya, masa sebagai orang tua sampai tersesat, malah anaknya yang mencari-cari~"
Auel geram lagi, emosinya yang mulai mereda naik lagi, ia pun berbalik ke arah orang yang mengejeknya barusan "kau juga diam, Caldwell!" Auel pun dengan sigap hendak menangkap Asagi, kalau bisa Orga juga, tapi kemejanya tiba-tiba seperti ada yang menarik.
Nampak tangan mungil Stellar sedang menggenggam erat bagian belakang kemeja Auel, Stellar memandang Auel dengan tatapan innocent (lagi). Seraya mengatakan "Auel jangan pergi…"
Melihat tatapan 'mematikan' itu membuat Auel terpaksa mengurungkan niatnya.
Ia pun segera melihat ke arah lain, ia tak mau hati dinginnya ini luluh dengan gampangnya oleh tatapan Stellar. Tapi tiba-tiba sepasang matanya menangkap dua orang yang nampaknya tak asing baginya.
Ia melihat dua orang itu berjalan beriringan, nampak seperti pasangan kencan, Auel berusaha memfokuskan tatapan matanya.
"Sepertinya, aku kenal mereka… Ah! Jauh sekali, aku tak bisa lihat!" Auel pun menggosok-gosokkan matanya dengan kedua tangannya, semoga dengan cara ini bisa lebih memfokuskan pandangannya.
"Cowok berambut putih, dengan seorang cewek… Itu kan Yzak! Apa dia sedang kencan?" Seru Auel dalam hati, Auel berusaha melihat siapa cewek yang bersama, Yzak tapi terhalang oleh beberapa pengunjung mall. Karena hari sudah mulai malam mall tersebut semakin ramai. Tapi Auel tak menyerah, ia berjalan ke arah samping berharap ia bisa melihat siapa cewek itu.
"Hmm, rambutnya merah? Tunggu, jangan-jangan kakaknya Meyrin! Ah, tapi rambutnya kok panjang? Lagipula rambut cewek yang bersama si rambut putih itu bukan merah marun. Tunggu… twintails?" Auel terbelalak, kedua bola matanya tiba-tiba mengecil, ia pucat seketika, keringat dingin mulai bercucuran dari kedua pelipisnya, ia seperti melihat penampakan. Melihat tingkah Auel yang sedikit aneh, membuat Stellar sedikit memiringkan kepalanya, "ada apa Auel?" Tanyanya, segera ia berdiri di depan Auel yang masih terbelalak.
"...Rin…" Ujar Auel, Stellar bingung, ia tak begitu dengar ucapan Auel barusan, 'Rin? Stellar beranggapan bahwa tadi Auel menyebutkan salah satu nama karakter V*calo*d kesukaannya setelah Teto.
Tapi Auel mengucapkan sesuatu yang sama lagi kali ini, dan Stellar pun berusaha mendengarkan dengan seksama di kesempatan keduanya ini.
"Rin… Meyrin.." Ucap Auel dengan tatapan mata yang sama.
Hmmm... masih bersambung ya, semoga kalian tidak bosan...
Terima kasih buat yang mereview, yang hanya membaca juga tak apa (asal ingat namaku saja) *plak!*
Ok, sampai jumpa di chapter berikutnya.
