Saya cuma bisa speechless karena menyadari update-an fic ini, terutama chapter ini yang super lamaaaaaaaaa~

Disclaimer: I don't own GS and GSD


"Kau sudah terima undangannya?" Ucap Dearka sembari menyapu, berusaha meloloskan beberapa daun kering yang tersangkut di rerumputan yang panjangnya sebetis orang dewasa, "Hei Sting, dengar tidak! Oya sebelum itu, potonglah rumput-rumput di dekatku ini, aku jadi tak bisa menyingkirkan daun-daun keringnya!" Sambung si pemuda rambut pirang itu lagi, sambil tetap berusaha menyapu dedaunan kering. Si kepala hijau itu tidak terlalu mendengar perintah Dearka karena ia sedang memotong rumput dengan mesin pemotong rumput yang menimbulkan suara yang cukup bising di telinga. Tapi ia tetap saja menganggukkan kepalanya, walau ia tak tahu apa yang pemuda pirang itu bicarakan.

Tiba-tiba gadis ikal berambut pirang dengan kamera tergantung di lehernya, menghampiri kedua cowok itu.

"Oy, kalian berdua, ngapain jam segini ngebersihin taman sekolah? Sudah 18.30 lho," Kata gadis itu, sambil memasang tatapan menyelidik. "Ah~ Aku tahu, pasti kalian lupa membersihkan taman ini tadi sore, dan kalian dengan terpaksa membersihkannya malam-malam begini, karena takut si ketua Osis rambut putih itu murka kan?" Sambungnya, kali ini ia memasang tatapan meledek kepada Dearka dan Sting.

Dearka hanya menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal, "ya, ya, kau benar. Sudah puas tertawanya, hah? Dan yang lebih penting, ngapain ke tempat ini jam segini, Caldwell? "

"Oh, hanya mau menaruh berita panas ini di komputer klub, soalnya ini milik gebetanmu, takutnya besok aku lupa membawa data ini," jawab Asagi sambil menunjukkan sebuah flashdisk merah, yang terdapat tulisan milik Miri di sudut bawahnya. Kedua Alis Dearka pun bertautan.

"Ralat. Dia bukan gebetanku."

"Lalu?"

"Calon pacar kayaknya lebih keren…"

Kali ini kedua alis Asagi yang bertautan, "terserah," ucapnya sambil hendak beranjak pergi.

"Tunggu! Tadi kau bilang ada 'berita panas', memangnya tentang apa?" Cegat si pemuda pirang sambil nyengir, Asagi pun ikutan nyengir tapi lebih ke arah cengiran misterius.

"Pokoknya ini masih rahasia, tapi aku kasih bocoran sedikit deh, ini berita kocak~" Ucap Asagi, nampak ia sedang memikirkan sebuah kejadian yang sepertinya baru saja terjadi yang membuatnya sedikit tertawa kecil, sehingga membuat pemuda rambut pirang di hadapannya itu tambah penasaran.

"Ini tentang Bapak Auel dan anaknya, Stellar," Sambung Asagi, wajahnya memerah berusaha menahan tawa.

Mendengar ucapan Asagi barusan sontak membuat Sting yang dari tadi diam menekuni mesin pemotong rumputnya yang tiba-tiba macet semenit yang lalu pun terbelalak kaget.

"A-anaknya Auel? Stellar?"


Pemuda rambut hitam itu berjalan memasuki rumahnya melewati pintu depan, sembari menggenggam amplop kecil berwarna perak yang berisikan sebuah undangan yang berwarna perak pula, dan ia juga menggenggam sebuah koran untuk hari ini. Pemuda itu berjalan gontai memasuki rumah, nampak raut wajah mengantuk masih terlukis di wajahnya yang berkulit putih pucat tersebut.

"Shinn!"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat dikenalinya memanggil namanya. Yang dipanggil pun berbalik, ia kenal dengan suara itu jadi tak begitu nampak raut wajah kaget di wajahnya.

Ia memandangi si pemanggil dan mendekatinya, nampak raut wajah mengantuknya sedikit hilang keberadaannya.

Si pemanggil melambai-lambaikan tangannya, walau jarak antara mereka tak begitu jauh, tapi ia tetap saja melambai-lambaikan tangannya.

Karena mengetahui yang dipanggilnya mendekat, si pemanggil pun ikut mendekat.

"Luna, kenapa pagi-pagi begini kau datang kemari?" Tanya Shinn, yang dipanggil.

"Ah, tidak, tadi aku hendak ke rumah Shiho di blok 4 sana. Kebetulan aku melihatmu, jadi ya-"

"Mau mampir?" Potong Shinn dengan cepatnya, lantas membuat gadis yang di depannya itu kehabisan kata-katanya. Gadis itu pun nampak seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi. Tapi terlambat, lagi-lagi Shinn dengan cepat mengerti maksudnya dan dengan segera membuka pintu pagar yang membatasi mereka berdua, sembari menunjukkan raut wajah yang mempersilahkan gadis itu masuk.

"Eh, anu… Boleh nih?"

"Tentu, kenapa tidak. Lagipula aku juga mau membicarakan sesuatu," ucap Shin sambil membuka pintu depan rumahnya, Luna pun mengikutinya,"tanya apa?" Ucapnya sambil sedikit memiringkan kepalanya yang berambut merah marun tersebut.

Shinn sedikit melirik Luna, dia sedikit bingung memilih kata-kata untuk memulai pertanyaannya.

"Ng, anu… katanya, si Neider sudah jadi seorang 'ayah' ya?"


Auel memandangi kertas yang ditempel di dinding yang berada di hadapannya tersebut dengan tatapan mengutuk pada benda yang terpampang di dinding koridor tersebut, saat ini jam menunjukkan pukul 06.24.

hanya 1-4 orang yang berada di sekolah, jad kecil kemungkinan ada yang melihat pemuda itu ber-deathglare dengan kejamnya di koridor pada sebuah kertas.

Ia pun memutuskan untuk melepaskan kertas tersebut dari dinding.

Ia lalu meremas-remaskannya menjadi bulatan yang tak beraturan bentuknya, dan ia membuang hasil remasan tersebut sembarangan.

Emosinya pun sedikit reda, tapi tak bertahan lama, karena sepasang matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang persis sama seperti yang diremas dan dibuangnya tadi. Kali ini lebih besar, dengan kertas dan ukuran tulisan yang lebih besar, dengan fotonya yang kemarin pada saat di mall dengan ukuran yang lebih besar juga, lebih tepatnya kali ini yang dilihatnya terbilang jumbo. Auel memandangi kertas itu, masih bertuliskan judul yang sama dengan kertas yang dilempar dan dibuangnya tadi. Dengan deathglare level max ia memandangi benda itu. "HEBOH! NEIDER, SI BANCHOU KELAS 1-2 MEMPUNYAI ANAK?" LIPUTAN X TERDEPAN DAN TERPERCAYA! By: Asagi Caldwell

"Caldwell sialan, ternyata dia benar-benar menulis tentang kejadian kemarin sampai 'sebegininya'!" Jerit pemuda biru itu sambil berusaha melepaskan kertas yang kali ini ukurannya lebih besar darinya, ia terus berusaha melepaskan benda tersebut dari dinding, tapi percuma, kertas tersebut masih terpampang dengan gagahnya di dinding koridor. Lem apa yang dipakainya? Ini sih lebih kuat dari lem tikus! Lagipula, bagaimana caranya dia membuat berita ' jumbo' ini dalam waktu satu malam?

"Oi, apa yang sedang kau lakukan?" Tiba-tiba terdengar suara yang sepertinya mengarah pada Auel, pemuda itu pun berbalik dan nampak si Ketua Osis sedang memandanginya dengan tatapan aneh.

"Ah… Tidak," ucap Auel pendek, sembari berusaha menutupi berita ukuran jumbo yang terpampang di dinding koridor dengan tubuhnya yang jelas kalah dalam ukuran 'jumbo'.

"Percuma kau menutupi berita itu, aku sudah tahu-puh…!" Kata Yzak sembari berusaha menahan tawa, tapi tetap terlihat jelas di mata Auel. Alhasil membuat pemuda yang menjadi topik pembicaraan utama di berita itu cemberut.

"Ah, sudahlah, kalau tetap di sini aku pasti tak akan berhenti tertawa," Ujar Yzak sambil segera berlalu, hati Auel makin dongkol karena mendengarkan ucapan pemuda rambut putih itu barusan, tapi tanpa sengaja sepasang matanya mendapati sesuatu yang tak biasa di genggaman Yzak, selain 1-2 buku dan beberapa lembar kertas yang dibawanya nampak sebuah bungkusan berwarna jingga kecoklatan yang sepertinya berusaha ia sembunyikan dibalik beberapa kertas dan buku-buku yang dibawanya itu. Bentuk bungkusan itu sepertinya persegi panjang dan dibalut dengan pita coklat tua. "Itu seperti sebuah kado," gumam Auel, tapi gumamannya terdengar oleh Yzak, dan membuat pemuda rambut putih itu sedikit terperanjat. Yzak pun berbalik ke arah Auel dengan raut wajah agak terkaget,"a-apa?"

"Aku bilang ITU seperti sebuah kado," jawab Auel sambil menunjuk ke arah bungkusan 'mencurigakan' yang dibawa oleh Yzak.

"Ah, oh ini, aku kira benda ini tak akan terlihat oleh orang lain karena sudah berusaha kututupi dengan buku-buku dan lembaran-lembaran file lama, ternyata masih terlihat juga."

"Benda yang kau bawa itu kan menyolok, jelas saja mudah terlihat walau ukurannya terbilang tak terlalu besar." Jawab Auel lagi sambil tetap mengarahkan jari telunjuknya pada bungkusan tersebut.

"Sepertinya itu hadiah, isinya apa? Untuk siapa?" Kata Auel lagi, dengan tatapan menyelidik sekaligus dengan raut wajah sedikit penasaran. Yzak merasa agak enggan menjawab pertanyaan juniornya tersebut, tapi karena melihat tatapan mata Auel yang agak innocent yang mungkin dipelajarinya saat sering menghadapi Stellar, Yzak pun agak luluh hatinya.

"Untuk seseorang. Kemarin aku dibantu oleh adiknya Lunamaria untuk membantuku memilih. Kau tak perlu tahu lebih dalam lagi, karena ini bukan urusanmu, lagipula ini bukan hadiah. Ini cuma pengganti benda kesayangan seseorang yang telah kuhilangkan dulu. " Jawab Yzak dengan nada yang agak terdengar ogah-ogahan.

Adiknya Lunamaria?

Ah, si meyrin. Jadi waktu itu si Meyrin menemani dia.

"Lalu, kenapa harus Meyrin?"

Yzak sedikit melirik ke arah orang yang bernama Neider tersebut, "karena, cuma dia satu-satunya anggota Osis yang paling bisa kuandalkan setelah si wakil, dan lagi, dia juga seorang perempuan. Bayangkan, kalau aku meminta bantuan pada anggota osis lainnya yang pria, seperti Dearka, Nicol, Athrun, dan beberapa makhluk sejenis mereka lagi yang bukan perempuan!"

"Oh. Tapi, bukannya masih ada lagi anggota osis yang cewek selain Meyrin, ada si wakil yang rambut coklat panjang dan si Attha itu kan'?"

"Cewek rambut coklat panjang? Shiho maksudmu? Kalau dia… Errr… Tidak bisa. Lagipula… Aku sering merepotkannya. Kalau si Cagalli, menurutku dia bukan seorang perempuan jadi aku tak bisa meminta bantuan padanya…"

"Oh." Jawab Auel dengan nada pendek yang menjadi pertanda sesi pertanyaannya telah ditutup. Walau setelah itu dia sedikit berpikir, jika Attha mendengar perkataan terakhir si rambut putih itu pasti dia akan tersinggung berat.

Ralat, sangat berat.

.

.

"Hatsh!" Terdengar suara bersin dari dalam kelas 3-5. Lacus hanya tertawa kecil mendengar suara bersin seseorang yang berada di depannya tersebut.

"Ada yang sedang membicarakanmu Cag," ujarnya dengan senyum simpul khas gadis rambut pink itu.

"Hee? Kenapa kau bisa begitu yakin?" Tanya Cagalli, si gadis rambut pirang yang berada di depan lacus, gadis pirang itu menatap Lacus lekat-lekat sembari membersihkan hidungnya dengan tisu.

Lacus hanya tersenyum simpul mendengar tanggapan temannya tersebut, ia berjalan mendahului Cagalli yang masih tengah sibuk dengan hidungnya.

"Indera keenamku yang mengatakan itu, kok." Ujarnya sambil tetap memasang senyum simpul khasnya.


Jam tangan yang berada di pergelangan kiriku menunjukkan pukul 19.25. Aku terlambat 25 menit dari waktu acara yang tertera di undangan berwarna perak yang kuterima tadi siang.

Aku berusaha mempercepat lariku dari halte bus di perempatan tadi menuju kediaman keluarga Joule.

"Shiho~!"

Tiba-tiba terdengar sahutan seseorang yang kukenal dari arah kiriku. Aku melirik ke arah asalnya sahutan tersebut, dan nampaklah seorang Lunamaria Hawke yang sedang mengendarai skuternya, nampak dia sedang menyamai kecepatan skuternya dengan kecepatan lariku.

"Hei hei, kau bermaksud mengejekku dengan mengendarai benda itu ya?" Ucapku sembari memberikan tatapan sinisku padanya dan skuternya.

"Hahaha, tahu saja. Kau juga sih, tak mengangkat telepon dariku, padahal aku hendak menjemputmu tadi, tapi karena kau tak mengangkat, ya sudah, aku pergi sendiri. Tahu-tahu aku bertemu denganmu di sini." Ujarnya sembari tetap fokus ke jalan yang ada di hadapannya. Aku pun memeriksa ponselku yang berada di tas kecilku sambil tetap berlari.

6 panggilan tak terjawab, dan semuanya dari Lunamaria.

"Ah iya, maaf deh." Ucapku, dengan sedikit cengengesan.

Lunamaria hanya memasang wajah cemberut khasnya, tapi tak berapa lama ia tersenyum kecil padaku.

"Ya sudah, ayo naiklah!" Ucapnya, sambil memberhentikan skuternya dan mempersilahkan diriku naik.

"Kalian berdua telat! Sangat telat!" Seru gadis pirang itu padaku dan Luna. Ya, gadis pirang itu tak lain dan tak bukan adalah Cagalli. Aku hanya menunduk cuek dan berusaha menatap ke arah lain, tapi tatapan milik Cagalli tak mampu membuat sepasang mataku ini menatap ke arah lain selain untuk menatap matanya. Sementara itu, Luna hanya meletakkan salah satu tangannya ke kepalanya dengan memasang tatapan yang merasa tak bersalah.

"Dan lagi, acara dansanya sedikit lagi mau dimulai tuh, lebih baik sebelum itu kalian cepatlah bergegas menaruh kado kalian di sana!" Ujar Cagalli sembari mengarahkan salah satu tangannya ke sebuah meja yang dipenuhi dengan berbagai macam bentuk kado dengan ibu jarinya sambil berkacak pinggang dengan tangannya yang lain.

Aku pun menurut saja dan pergi ke arah meja itu… Ah, tapi kenapa Luna hanya diam saja?

"Lho, kau tak menaruh kadomu di sana?" Tanya Cagalli yang juga menyadari tingkah Luna.

"Ah, anu~ Aku tak membawa apa-apa~" Ucapnya sambil menunjukkan tanda 'peace' dengan telunjuk dan jari tengahnya sambil nyengir.

"Heh! Jadi kau cuma bawa badan saja alias kau cuma berniat datang kemari tanpa memberikan apapun?" Seru Cagalli, si gadis berambut merah marun itu makin meningkatkan cengirannya. Aku dan Caga hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.

"Osh! Kalian bertiga!"

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat kukenal, itu Dearka, Athrun, Nicol, Rusty dan… dan Yzak!

Aku sedikit salah tingkah saat bertemu ketua. Kulihat Luna, dia menyahut seruan mereka tadi, ah lebih tepatnya seruan tadi milik Dearka. Dan Luna ber-high five ria dengan Dearka dan Rusty.

Aku iseng untuk melirik Caga, karena sejak kedatangan 5 cowok itu Cagalli belum mengatakan sepatah kata pun alias diam.

Ternyata!

Di wajahnya sekarang nampak semburat merah, dan ia sepertinya salah tingkah, tapi salah tingkahnya lebih parah daripada salah tingkah milikku! Kulihat dia makin mematung ketika 5 cowok itu makin mendekat, ah ralat, ketika Athrun-san makin mendekat. Memang sih kuakui, penampilan Athrun-san saat ini keren, pantas saja seorang Caga sampai bereaksi seperti sekarang ini.

Kulihat Athrun-san menyapa Caga dengan lembutnya, tapi Caga sontak bereaksi seperti agak judes untuk menutupi perasaannya. Mungkin akan memalukannya jika diketahui yang lain. Ah percuma Cag~ Aku sangat jelas melihat 'hal yang sebenarnya'.

Dan ternyata aku baru menyadari bahwa, temanku yang bernama Cagalli Yula Attha ini adalah seorang tsundere. Aku hanya senyum-senyum sendiri melihat mereka berdua, hingga Luna berkata…

"Eh eh. Yzak-chi! Kenapa di umur seperti sekarang ini masih merayakan pesta ulang tahun" Ujar gadis rambut merah marun itu, sontak membuat Yzak agak sewot mendengarnya. Dearka hanya tertawa mendengar pertanyaan dari Luna.

"Jangan panggil aku Yzak-chi, dan lagi ini permintaan dari ibuku untuk selalu membuat pesta kalau ada keluarganya yang berulang tahun, tak peduli umur berapa mereka. Tanya saja pada Dearka!" Jawab Yzak dengan nada sewot khasnya.

"Ah, masa sih, aku tak tahu tuh~" Ucap Dearka sambil bersiap untuk lari, jaga-jaga kalau Yzak dengan tiba-tiba menerkamnya.

"Jangan pura-pura tak tahu!" Yzak siap menjitak kepala cowok pirang itu, tapi ditahan oleh Nicol. Kasihan sekali kau Nicol, selalu kau yang kerepotan ketika menghadapi mereka berdua ya.

"Yaa, setidaknya tak ada acara memukul pinata…" Gumamku.

.

.

Tiba-tiba suasana ruangan tempat kami berada berubah, suasana menjadi tenang karena diputarnya sebuah musik klasik. Pertanda acara makan-makan telah usai dan menjadi acara dansa berpasangan.

Nampak tamu undangan tengah mencari-cari pasangan untuk berdansa.

Kulirik Athrun tengah menarik Cagalli ke lantai dansa, sontak membuat wajah Cagalli makin merah padam.

Ahh~ Tsundere memang imut~

Kulihat Luna, baru kusadari bahwa jarak antara dia denganku telah menjauh sekarang, ia sekarang sedang berebut seorang Shinn dengan Stellar, nampak Stellar menggenggam erat jas Shinn sembari berkata "Shinn sama Stella! Harus menari sama Stella! Ga' boleh sama yang lain, harus sama Stella!" dengan kerasnya , sehingga membuat Luna agak merasa nggak enak menarik Shinn dari Stellar, tapi karena tak mau merasa kalah begitu saja, Luna ikut-ikutan berteriak lebih kerasnya pada Stellar. Sementara Shinn dibuat bingung oleh keduanya. Sementara lagi, anak yang kukenal dekat dengan Stellar yang kalau tak salah bernama Auel itu hanya memasang wajah masam ketika melihat mereka bertiga ribut-ribut di tengah lantai dansa.

"Hah… kalian ini cobalah meniru Yamato-san di sana" gumamku pada Stellar, Luna dan Shinn sembari melirik juga pada Kira yang sedang berdansa bersama dua orang perempuan secara bergantian, yaitu Flay dan Lacus.

Tunggu, bukannya itu lebih tepatnya dikatakan playboy! Eh, tapi kalau soal playboy, bukanya lebih playboy Athrun-san.

Seingatku dulu, Lacus sempat berpacaran dengan Athrun dan dalam kurun waktu yang terbilang lama. Lalu Athrun sempat dekat juga dengan Luna dan Meyrin. Walau nampaknya sampai sekarang Meyrin masih ada 'rasa' pada Athrun, begitu pula dengan Meer. Dan kali ini Cagalli.

Jadi total wanita yang pernah dekat atau dekat dengannya ada… LIMA!

Aku hanya memasang wajah spechless ketika menyadari hal itu. Kupandangi orang-orang yang masih berada di dekatku, tinggal Dearka dan Yzak. Nicol dan Rusty entah hilang kemana, sepertinya mereka telah mendapatkan seorang gadis untuk berdansa.

Kudekati Dearka dan Yzak, ya… daripada sendirian di tengah lantai dansa kayak orang aneh, lebih baik mengobrol santai dengan mereka berdua. Aku merasa lega karena ada teman, tapi tak bertahan lama hingga Dearka berkata, "Ah itu Miri! Lucky, dia lagi sendirian! Aku pergi dulu ya! Sepertinya Tolle belum menemukan Miri, jadi lebih baik aku bergegas, Bye!" Dearka melesat dengan cepat ke arah Miri. Aku pun spechless untuk yang kedua kalinya.

Ya, akhirnya tinggal kami berdua.

1 detik telah lewat.

Tak ada percakapan di atara kami.

2, 3 detik…

1 menit…

2 menit…

Terlalu sunyi!

Aku pun memutuskan untuk memulai pembicaraan, walau aku tak tahu harus ngomong apa enaknya- tiba-tiba saja Yzak menarik lenganku.

Tunggu mau kemana ini?

Tak menghabiskan semenit, Yzak membawaku ke taman belakang rumahnya, ia pun langsung melepaskan genggaman tangannya dari lenganku.

"Ma-maaf, jika aku menarikmu terlalu keras," ucapnya dengan wajah menghadap ke arah lain.

Ah, dia malu-malu.

"So-soalnya, tempat itu berisik, dan lagi aku tak bisa berdansa." Ucapnya lagi dengan wajah tetap menghadap ke arah lain.

Aku hanya tertawa kecil karena melihat tingkahnya, Yzak pun menatap ke arahku dengan tatapan aneh, mungkin karena aku tertawa tanpa hal yang jelas ya.

"Haha, coba kalau kamu seorang perempuan, pasti akan kukatai kau 'tsundere'," ujarku, masih tertawa kecil.

Yzak hanya menaikkan sebelah alis matanya, mungkin tak mengerti dengan maksudku. "Ah, sudahlah, lupakan." Kataku.

Hening.

Lagi-lagi suasana ini!

Ayo Shiho! Cari TOPIK! Cari TOPIK!

Ng… Lebih baik ngebahas apa?

Kado yang kuberikan? Ah jangan! Malu tahu!

Soal 'bapak' Auel Neider? Ah jangan! Sudah basi!

Ng, tentang nama akun FB Cagalli dan Athrun yang l3b4y bin l4y itu? Jangan! Entar ada pembaca fic yang lugu nan polos yang nggak ngerti bahasa l4y!

Lalu apa dong?

"Ehem!"

Tiba-tiba Yzak berdehem sehingga membuyarkan lamunanku. Aku berbalik, sepertinya dia mempunyai topik pembicaraan. Eh, tapi tunggu. Kenapa ia malah merogoh saku celananya?

Yzak menatapku, aku pun mengalihkan pandanganku dari tangannya yang berusaha merogoh sesuatu dari saku untuk menatapnya. Suasana saat ini hening, walau masih terdengar sayup-sayup musik klasik dari ruang tempat dilaksanakannya pesta. Kami ditemani dengan cahaya lampu taman juga cahaya alami dari bulan.

Kulihat Yzak, dia menyodorkan sesuatu padaku, sesuatu yang berwarna jingga kecoklatan yang dibungkus rapi.

"Ini… Ini kan kado, untuk apa? Bukannya hari ini kau yang berulang tahun?" Ujarku sekaligus bertanya padanya.

Kulihat Yzak, waja malu khasnya makin kentara di mataku.

"Bukalah!" Ucapnya pendek.

Aku sedikit memiringkan kepalaku pertanda bahwa aku saat ini tengah bingung, tapi kuturuti saja perintah pria ini, kubuka kado tersebut.

Nampak sebuah kalung, bukan, lebih tepatnya ini liontin. Merknya sama dengan liontinku yang dulu hilang. Tapi bentuk bandulnya berbeda, punyaku yang dulu berbentuk oval, yang kupegang kali ini berbentuk segitiga.

"Itu… Pengganti liontinmu yang dulu. Gara-gara ulahku, liontinmu hilang. Maaf." Ujarnya sembari membungkuk padaku, aku jadi salah tingkah dibuatnya. "Tu-tunggu, itu juga bukan sepenuhnya salahmu kok, aku juga tak begitu ingat lagi kejadian itu." Ucapku dengan sedikit gelagapan.

"Kau tak begitu ingat?" Yzak pun menatapku tajam. Aku mengangguk, "iya, lagipula liontin itu bukan milikku kok, aku menemukannya di jalan."

Yzak kini menaikkan sebelah alis matanya. "Terus, kenapa waktu itu kau menangis saat liontin itu hilang?"

"Ng… Kalau tak salah, waktu itu aku rencana hendak menjual liontin itu ke toko penjual barang bekas. Saat itu liontin dihargai dengan harga yang lumayan besar kira-kira sama dengan harga ponsel zaman sekarang! Maka dari itu aku menangis karena membayangkan uang yang akan aku peroleh melayang karena liontin itu hilang. Waktu itu aku aneh ya!" Aku sedikit tertawa saat membayangkan sifatku dulu.

Tanpa kusadari Yzak menjadi emosi karena perbuatanku, dia menatapku tajam, lebih tepatnya deathglare yang mematikan…

"Yoo~ Yang lagi berduaan!"

Tiba-tiba Luna menghampiri kami, diikuti dengan Caga, Dearka, dan Miri.

"Hee, Yzak bukannya kau jadian sama Meyrin?" Tanya Miri dengan nada usil.

Deg!

Aku terkaget, iya juga ya bukannya Yzak pacaran dengan Meyrin. Kenapa aku bisa lupa? Ah… Lagi-lagi perasaanku jadi sakit kalau mendengar hal itu.

"Jadian dengan Meyrin? Kata siapa?" Jawab Yzak, yang lebih tepatnya balik bertanya. Aku hanya memasang raut wajah tak percaya ketika mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan Yzak.

"Bukannya Meyrin memberikanmu hadiah dengan bungkusan pink yang berart-" Ucap Luna, tapi keburu dipotong oleh Yzak.

"Hei hei, pink belum tentu berarti hal yang seperti 'itu'. Bisa saja itu cuma warna kesukaan seperti kejadian kelinci pink pembawa malu itu, ingat?" Jawab Yzak dengan cepat sambil menatap Dearka dan Miri yang hanya memasang raut wajah pura-pura tak bersalah.

"Hooo… Benar juga!" Ucap Miri sambil menyilangkan kedua tangannya, "terus, siapa sih yang bilang Meyrin dan Yzak jadian!" Lanjutnya lagi sambil memandangi orang-orang yang berada di sekelilingnya dengan wajah kesal.

"Bukanya kau?" Ucapku cepat.

Miri sontak mengelak dengan cepatnya juga, "bu-bukan aku! Aku dapat infonya dari Cagalli, kok."

"Hee? Aku?" Respon Cagalli sambil mengarahkan jari telunjuknya pada dirinya sendiri.

Sontak semua pandangan menatap ke arahnya dengan deathglare masing-masing, walau yang paling kuat aura deathglarenya adalah milik Yzak.

"Tu-tunggu dulu, aku kan cuma mendengar info itu dari Luna, jadi aku cuma meneruskan!" Sambung Cagalli mengelak.

*Luna's pov

DEGH!

Aku terkaget, kusadari semua tatapan mereka tertuju ke arahku, tatapan yang tak biasa, yang kudapatkan kali ini adalah tatapan mencekam yang lebih kuat dari apapun atau siapapun. Mereka seakan mengeluarkan tatapan yang hampir menyerupai tatapan 'seed mode'.

Akh, aku tak bisa berkutik!

Oh ya, aku Lunamaria Hawke, entah kenapa pov kali ini telah berganti padaku. Biasanya sih Shiho, secara dia adalah tokoh utama di fic ini. Mungkin karena ini telah mencapai akhir hidupku, jadi pov-nya berganti padaku.

Haah… Kurasakan tatapan mereka yang makin mencekam, apalagi tatapan mereka berdua itu, Yzak dan sahabatku sendiri, Shiho, aku seakan melihat sadako atau kuntilanak atau apapun itu, karena kakiku seakan tertahan oleh sesuatu sehingga membuatku tak bisa bergerak, aku cuma memasangkan senyum terbaikku pada mereka semua seakan berkata "Hey guys, don't make me nerveous, please~."

Fin~


*OMAKE*

"Hei kalian bertiga, kenapa kalian tak membawa tas?" Seru Asagi sembari menghampiri Shiho, Cagalli, dan Miriallia yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah. Asagi menyamakan langkahnya dengan mereka bertiga diikuti Mayura dan Juri yang mengikuti Asagi dari belakang.

"Tidak, kami bawa kok, sedikit lagi tas kami akan datang," jawab Cagalli sembari memasang senyum jahilnya.

Asagi hanya menaikkan sebelah alis matanya,"memangnya tas kalian berjalan sendiri? Oh, atau mungkin tas kalian dikirim kemari dengan paket kilat? Jangan bercanda~!"

"Kami tak bercanda, kalau ini hampir menyamai paket kilat, sih. Ah itu dia tas kami!" Seru Miri sambil melambai-lambaikan sebelah tangannya menghadap ke arah timur, sementara Shiho hanya tersenyum geli.

"Wah wah, cepat juga dia," sambung Shiho sambil melihat ke arah yang sama dengan yang dilihat Miri, diikuti juga dengan Cagalli, "haha, itu hukuman untuknya." Ucap Cagalli.

"Memangnya ada apa sih?" Tanya Asagi sambil memfokuskan pengelihatannya, ia pun melihat sosok seseorang yang ia ketahui itu adalah sosok milik Lunamaria, tapi ada yang tak biasa pada Luna, ia nampak ngos-ngosan, dan lagi, hari ini ia membawa empat buah tas sekolah, yang Asagi tebak pasti milik Shiho, Caga, dan Miri dan juga milik Luna sendiri.

Melihat hal tersebut, Asagi hanya menyiapkan kamera digital miliknya untuk berita terbarunya.

Pengganti berita 'bapak' Auel Neider yang sudah basi itu.

KARENA SALAH SANGKA! LUNAMARIA HAWKE, MENJADI PEMBANTU DALAM SEMINGGU! LIPUTAN X TERDEPAN DAN TERPERCAYA! BY: Asagi Caldwell

"Apa-apaan anak ini, dia kan bukan anggota klub koran. Kenapa memasang berita seperti ini?" Seru gadis berambut merah marun kepada selembaran yang nampak tengah terpampang dengan indahnya di dinding koridor.

"Dia memang bukan anggota klub koran tapi dia mantan anggota klub koran," sahut seorang lelaki berambut biru langit yang berada di belakang si gadis berambut merah marun. Si gadis berambut merah marun hanya memandanginya dengan tatapannya yang seolah mengatakan, "jadi kita berdua ini korbannya."

Sedangkan si lelaki berambut biru langit itu hanya balas menatap, yang seolah tatapannya tersebut mengatakan, "kau benar, mau balas dendam huh?" Ucap lelaki itu dengan tersenyum sadis.

Si gadis merah marun hanya membalas dengan mengeluarkan sebuah 'smirk' terhebatnya sembari mengangguk.

OSIS ROOM

Si rambut putih itu menatap tumpukan hadiahnya yang kemarin ia dapatkan yang sampai sekarang belum dibukanya.

Ia hanya menatap dengan tatapan tidak minat. Semua hadiah tersebut dibungkus dengan sangat cantik. Tapi itu membuat Yzak tak begitu menyukainya, karena dia menganggap, hadiah yang dibungkus dengan sangat cantik apalagi dengan simpulan pita kupu-kupu sangatlah tak cocok dengan karakternya.

Tiba-tiba sepasang matanya menangkap sebuah hadiah yang dibungkus dengan simple, tak menyolok. Warnanya hijau tua dengan pita berwarna merah tua yang dibalut tanpa disimpulkan menjadi sebuah simpulan pita kupu-kupu. Penasaran dari siapakah hadiah itu, si rambut putih itu membukanya.

Nampak sebuah novel karya Emily Rodda dan sebuah tempat kacamata buatan tangan, sepertinya hasil buatan dari pemberi hadiah itu sendiri. Tiba-tiba sebuah amplop mungil berwarna hijau muda menyembul dari balik novel yang saat ini sedang dipegang lelaki itu. Penasaran, ia membukanya.

Sebuah surat.

Untuk Yzak Joule.

Yzak sedikit terkaget saat membaca kalimat pertama dari surat tersebut, ia kenal pemilik tulisan tangan ini.

Ia pun memutuskan untuk melanjutkan membaca.

.

.

"Hoi Yzak, lusa kita karaoke bareng lagi ok! Si Kira dan Sigh dari kelas sebelah juga mau ikut!" Seru Dearka, sembari memasuki rung osis tanpa mengetuk. Ia sengaja tak mengetuk pintu karena dia sedang ingin melihat tingkah si rambut putih saat marah.

Tapi yang didapatnya hanya kebalikannya, Yzak tak mengucapkan sepatah kata pun, membentak pun tidak, pemuda rambut putih itu hanya memandangi si rambut pirang dengan raut wajah yang sangat berbeda. Yang hampir tak pernah ditunjukkan si rambut putih itu.

Dia. Tersenyum.

.

.

Shiho's Room

"Anoo… Luna, apa kau melihat amplop yang berisikan sebuah surat yang tak jadi kuberikan pada Yzak yang sebelumnya ada di mejaku?" Ucapku sembari mengangkat buku-buku dan benda-benda lainnya yang ada di atas mejaku, berharap amplop yang kucari itu muncul di hadapanku.

Luna hanya menggelengkan kepala sembari memijat-mijat sepasang bahunya yang masih pegal akibat membawa tas kami bertiga tersebut yang lumayan berat.

"Oh, amplop hijau muda itu kah yang waktu itu kau bilang padaku untuk memasukkannya bersama dengan kado yang kau berikan pada Yzak, setelah kita membeli novel untuknya waktu itu ya?" Tanya Miri.

Aku mengangguk, "ya, amplop itu yang kucari, diamplop itu berisikan sebuah surat yang batal kukasih pada yzak. Tunggu, aku kan menyuruhmu untuk memasukkan amplop yang satunya, yang berwarna jingga yang berisi kartu ucapan ulang tahun…" Dengan tiba-tiba kuhentikan kalimatku.

Eh, tadi Miri mengatakan amplop yang dimasukkannya ke kado itu adalah amplop warna hijau… !

"Lho, Shiho kenapa tiba-tiba wajahmu merah seperti itu?" Tanya si gadis berambut coklat muda itu padaku.

"Mi-miri, amplop itu berisi surat yang batal kukasih pada Yzak, dan…"

"Dan? Tunggu dulu, memang isinya apa?" Tanya Miri penasaran, diikuti dengan Luna dan Caga yang dari tadi hanya berdiam diri saja.

Aku hanya terdiam, kurasakan hawa panas di wajahku makin terasa, tiba-tiba pandangaku menjadi goyah, aku pun terduduk dengan lemas. Kutatap ketiga temanku yang sekarang sedang mengelilingiku dengan tatapan cemas mereka. Aku menghela nafas panjang. Aku hanya mampu mengucapkan satu kalimat saja pada mereka sebelum aku memulai pingsanku untuk saat ini.

"Amplop itu berisikan surat cintaku yang dulu batal kuberikan padanya-"

BRUK!

End


Yappari~ Akhirnya saya berhasil menuntaskan fic ini.

Ternyata Shiho mengungkapkan rasa sukanya tanpa disengaja *plak

Terima kasih banyak untuk ofiai17 yang selalu betah me-review fic abal saya ini, terima kasih lagi :)

Terima kasih juga bagi yang hanya membaca, aku sangat senang sekali jika kalian menyukai fic saya :D

Ok, sampai jumpa di fic saya yang lain di fandom ini (atau mungkin di fandom lain) Bubay~!