Disclaimer : Konomi Takeshi

Characters : Trio Second Years Hyoutei ; Ohtori, Kabaji dan Hiyoshi. Juga 4 OC buatan saya XD

Rating : T for safety

Warnings : A little angst?

Author Notes : Rasanya ga bisa berhenti mengetik cerita ini. Semoga ga mandek di tengah seperti fic saya yang lainnya… =="

Aku benci padanya.

Dia sama sekali tidak pernah mencoba menonjol. Dia adalah pemuda yang benar-benar biasa saja.

Mungkin wajahnya manis, mungkin ia tampan, mungkin warna rambutnya yang keperakan itu sangat unik, tapi selain itu, tidak ada yang spesial soal kepribadiannya atau apapun. Ia sopan pada siapa saja yang ditemuinya, ia tersenyum pada siapa saja bahkan yang menghadapnya dengan wajah masam. Ia cenderung ceroboh, cenderung gugup dan kikuk. Dengan mudahnya ia tersanjung dan tersentuh akan segala sesuatu.

Namun tetap saja. Semua orang menganggapnya sangat hebat, sangat menawan, sangat mengagumkan. Menurut orang-orang, senyumnya itu sangat manis. Menurut orang-orang, sifat gugup dan cerobohnya itu sangat lucu. Jikalau pun kebaikannya membuatnya bisa dimanfaatkan, tidak akan ada yang memanfaatkannya, karena semua orang menyayanginya.

Aku tidak pernah sungguh menyukainya.

Aku mengenal Ohtori pertama kali saat kami kelas 1 SD. Di Hyoutei Gakuen. Tidak akrab, namun kami sekelas, jadi kami mengetahui nama satu sama lain dan sesekali berbicara. Aku belum membencinya saat itu, namun aku tidak bisa bilang bahwa aku menyukainya seperti anak-anak lain.

Lalu ia masuk ke sanggar musik yang sama denganku.

Aku ingat bahwa ia masuk sebulan lebih terlambat dariku pertama kali. Ia datang dengan kemeja berlengan sesiku, berlapis vest dari wol, dan celana pendek, memegang tas violin yang terlihat terlalu besar itu kedua tangan mungilnya. Kedua mata cokelatnya berkedip saat melihatku dan ia menyebut namaku dengan takjub, "Kusamoto-kun!"

Aku menyebut namanya juga, "Ohtori-kun,"

"Wah, ada Kusamoto-kun juga, syukurlah," Ia menghela napas, membuat wajah lega dan tersenyum, "Aku sedikit takut bahwa tidak akan ada siapa-siapa yang kukenal di sanggar musik ini. Jadi lega bahwa ternyata ada Kusamoto-kun,"

Aku cuma menatapnya, mengangguk kecil. Aku tidak berkata apa-apa, namun bagian belakang kepalaku terus meneriakkan kata 'bohong'.

Mungkin di saat itu aku mulai membencinya.

Karena meski Ohtori selalu ramah dan tersenyum pada yang lain, aku bisa melihat bahwa sebenarnya ia menjaga jarak dengan semua orang. Ia tidak pernah mau ke rumah siapapun maupun mengajak siapapun ke rumahnya. Semua yang ia lakukan dengan teman-teman sekelas hanyalah sebatas keramahan supaya mereka tidak marah. Aku bahkan bisa melihat bahwa jikalau mereka akan membencinya, ia tidak akan peduli. Ia hanya sopan, itu saja. Sopan dan ramah. Ia baik hati, namun bukan karena ia mau. Itu semua hanya karena jika ia tidak melakukan kebaikan itu, ia akan direpotkan dengan banyak hal.

Aku tidak peduli ketika ia melakukannya pada orang lain, namun saat ia melakukannya padaku di hari itu, saat kami bertemu di sanggar musik itu, di ujung hatiku mulai tumbuh sedikit rasa mual padanya.

Lalu, kebencianku tumbuh saat kami mulai menjalani les di kelas yang sama. Bahkan meski ia terlambat masuk, ia mampu menjadi yang pertama di kelas dalam waktu singkat. Mengalahkanku. Guru-guru mengaguminya, semua murid lain tertipu padanya sama seperti teman-teman di kelas. Menganggapnya baik, murah senyum dan ramah.

Aku tetap bisa melihat, bahwa di manapun ia berada, ia akan tetap menjaga jarak pada siapa saja yang mencoba mendekatinya.

Akhirnya aku merasa bahwa terus berlatih violin itu sia-sia saja. Dia tetap yang terbaik. Aku tertinggal jauh dengannya hanya dalam beberapa bulan. Ia punya bakat musik yang luar biasa, semua orang berkata begitu. Dan aku menyerah. Aku tidak bisa berlatih setelah melihat seseorang yang begitu hebat menjulang tinggi di hadapanku. Aku berkata pada ibuku aku akan berlatih ke contrabass, dan ibuku setuju. Aku keluar dari kelas violin, dan mulai dengan contrabass.

Tiga tahun berlalu dan semua orang semakin menyanjungnya. Padahal waktu itu ia masih berusia 9 tahun, namun ia bisa memainkan record untuk level dewasa. Ia menjadi satu-satunya anak kecil di kelas menengah. Kawan-kawannya yang lain adalah orang-orang berusia 15 sampai 20 tahun, rata-rata adalah apprentice untuk orkestra, atau mahasiswa jurusan musik. Aku semakin terbiasa dengan contrabass, dan berkembang dengan cepat.

Namun setelah itu, aku mendengar kabar bahwa Ohtori keluar dari kelas violin. Aku kaget. Semua orang kaget. Kenapa ia keluar begitu saja, padahal bakatnya begitu besar, ia membuat semua orang terkejut.

Aku bertanya padanya di kelas, dan jawabannya membuatku tambah membencinya.

"Ah… karena rasanya… agak bosan saja," Ia berkata. Kemudian ia melihat ekspresiku, yang mungkin sangat kaget dan sakit hati. Ia langsung terlihat kuatir aku mengira ia menganggap violin sepele atau sesuatu, dan ia buru-buru berkata panik, "M-M-Maksudku itu… bukannya violin membosankan! Violin itu asyik sekali sih, dan belajar memainkan record baru itu juga menyenangkan… h-hanya saja… eh…" Ia tersenyum gugup, "Kakakku baru saja dibelikan piano oleh ayahku. Dan ia mengajarkanku cara memainkannya. Dan sepertinya piano menyenangkan… Aku tertarik piano lebih daripada aku tertarik violin. Jadi aku memutuskan untuk belajar piano mulai sekarang,"

Aku menaikkan kacamataku, "Begitu,"

"Iya," Ia tersenyum gugup, "E-Er… Kudengar Kusamoto-kun sekarang berlatih contrabass? Bagaimana contrabass, apakah menyenangkan?"

"Begitulah," Aku menjawab dingin, "Contra bass itu lebih sulit daripada violin. Bahkan kau pun kurasa akan membutuhkan banyak waktu itu bisa memainkannya dengan baik,"

"Ah… begitu ya," Ohtori tersenyum manis, "Kurasa begitu, ya. Kusamoto-kun hebat sekali!"

Aku berbalik tanpa menjawab apa-apa dan berjalan menjauh darinya. Rasa panas di dadaku sedikit reda karena sudah bisa sedikit memberitahunya bahwa tidak semua di dunia ini bisa didapatkannya dengan mudah.

Waktu berjalan. Aku tidak terlalu peduli lagi soal Ohtori. Aku tak mendengar banyak soal perkembangan permainan pianonya, aku hanya berkonsentrasi penuh pada contrabass. Kami tidak sekelas lagi saat naik kelas 5 SD. Aku mulai memiliki beberapa teman dekat di kelas 5, salah satunya adalah Miura. Miura juga membenci Ohtori, dengan alasan yang berbeda denganku. Miura berpikir Ohtori itu seperti banci, begitu katanya. Ia terlalu sopan, terlalu manis. Aku sedikit berjengit dengan pilihan-pilihan kata Miura yang sedikit kasar pada awalnya, namun akhirnya, aku terbiasa. Dan Miura yang membuatku sadar bahwa meski semua orang suka padanya dan mengaguminya, nyatanya Ohtori selalu sendirian. Yang jika kuperhatikan, ternyata benar juga. Ohtori tidak pernah punya teman untuk berjalan bersama di koridor. Tidak ada yang mengajaknya bermain sepak bola atau apapun saat istirahat, terutama karena dulu ia selalu menolak, jadi tidak ada lagi yang mengajaknya. Ia sering membaca sendirian di perpustakaan, atau bermain piano sendirian di ruang musik.

Aku puas dengan kenyataan itu. Aku puas dengan kenyataan bahwa ia boleh jenius dalam bidang musik, tapi ia tidak punya teman. Aku tidak pernah sejenius dirinya, aku sedikit saja kalah darinya, tapi aku punya banyak teman di sisiku.

Namun rasa puasku terhapuskan dengan cepat. Di tengah tahun kelas 5 SD, aku melihat ia mulai berjalan dengan seseorang ke mana-mana. Anak kesepian memang menarik anak kesepian lainnya. Hiyoshi Wakashi pun tidak pernah punya banyak teman sejak dulu. Jika Ohtori masih disukai banyak orang karena ia ramah dan baik, Hiyoshi sangat pendiam dan nyaris semua orang takut padanya, terutama setelah mendengar bahwa ia berlatih bela diri sejak 5 tahun. Hobinya membaca cerita horror dan membawa novel horror ke mana-mana membuat anak-anak menganggapnya aneh. Waktu itu aku masih berpikir bahwa… ia berteman dengan anak aneh. Ohtori mendapatkan teman, namun temannya hanya seorang anak aneh.

Tapi kemudian, aku melihat bahwa jarak yang selalu digunakan oleh Ohtori untuk orang lain tidak pernah ada ketika ia bersama dengan Hiyoshi. Mereka berdua sangat akrab, berdua ke mana-mana. Ohtori benar-benar akrab dengan Hiyoshi. Dan karena Ohtori memiliki banyak orang yang menyukainya, ketika ia mulai akrab dengan Hiyoshi, orang-orang pun mulai berbicara dengan Hiyoshi juga. Mereka jadi sadar bahwa Hiyoshi tidak akan memukul orang tanpa alasan hanya karena ia belajar bela diri, dan teman-teman menyukai gaya bicaranya. Tak banyak bicara, namun tajam saat sebuah kata keluar. Anak-anak di kelas mulai mengajak Hiyoshi bermain bola bersama. Saat Hiyoshi mengiyakan, karena tidak mau sendirian, Ohtori pun akhirnya ikutan. Dan yang tidak adil, bahwa ternyata Ohtori pun sama sekali tidak buruk dalam olahraga, begitu pula dengan Hiyoshi.

Aku sama sekali tidak senang dengan hal itu. Sama sekali tidak senang. Ohtori mendapatkan sahabat baik. Semua orang semakin menyukainya dari yang sudah-sudah, bahkan meski Ohtori belum juga menghilangkan jarak yang selalu ia buat dengan orang lain kecuali Hiyoshi itu. Bayangkan saja bahwa ada ruangan berbentuk lingkaran yang hanya bisa dimasuki Ohtori dan Hiyoshi, dan di luarnya, ada lingkaran besar mengelilingi lingkaran mereka berdua yang tidak boleh dimasuki siapapun. Di luar lingkaran besar itulah, orang-orang lain berada. Ketika kami naik ke kelas 6 SD, bertambah satu orang lagi yang diajaknya untuk memasuki ruangan lingkaran kecilnya selain Hiyoshi, yaitu Kabaji Munehiro.

Saat kami masuk SMP, aku dan Murai bertemu dengan Honda. Kalau aku dan Murai membenci Ohtori, Honda membenci Hiyoshi. Sama seperti aku dan Murai yang membenci Ohtori karena sifatnya, Honda membenci wajah Hiyoshi yang terlihat tamak, dan terutama sifat ambisiusnya yang memuakkan. Kami bertiga kompak karenanya. Karena Kabaji adalah teman Hiyoshi dan Ohtori, kami mulai tumbuh membencinya juga. Tidak sulit membenci Kabaji. Ia selalu terlihat datar, terlihat pendiam, terlihat bodoh. Ia sering tampak berada di belakang Atobe Keigo, mengikutinya seperti pembantu. Kami bertiga tidak pernah secara nyata menunjukkan kebencian kami, namun jelas cemooh akan mereka selalu menjadi topik utama pembicaraan kami bertiga.

Lalu Honda menceritakan pada kami mengenai klub tennis. Honda selalu tertarik pada tennis, dan Murai menyukai segala jenis olahraga. Aku tidak pernah mencoba tennis sebelumnya, namun aku tidak mau ditinggalkan. Lagipula orkestra tidak masuk dalam klub, jadi aku memutuskan untuk masuk klub tennis juga. Terutama setelah kudengar bahwa Ohtori pun masuk klub tennis. Aku tahu bahwa sebagian besar akan menghindari orang yang dibencinya, namun aku ingin mencoba mengalahkan Ohtori di bidang baru. Aku menonjol karena kecepatanku di klub tennis. Aku mampu bergerak, berlari dan menukar arah dengan cepat.

Aku ingat yang pertama kali memujiku adalah Shishido Ryou. Saat itu ia masih kelas 2 SMP, namun semua orang sudah tahu bahwa ia akan menjadi regular saat ia naik ke kelas 3 SMP. Ia nyengir sambil memainkan raketnya di ujung jarinya, "Hebat juga kau. Aku juga tipe yang mengandalkan kecepatan. Kuharap kau bisa masuk ke regular, jadi kita bisa berlatih bersama,"

Aku merasa tersanjung. Aku merasa bangga. Aku dipuji seorang senpai yang adalah calon regular. Aku merasa sangat yakin saat itu, bahwa aku akan masuk ke tim regular.

Namun aku harus kecewa bahwa saat pengumuman, aku tidak menemukan namaku. Aku menghela napas, memaklumi dan menghibur diriku sendiri bahwa menjadi anggota tim regular Hyoutei bukan hal yang mudah. Normal bahwa aku belum lulus tes regular. Aku kan masih kelas 2 SMP, masih ada kesempatan tahun depan, begitu pikirku. Sampai aku melihat kanji nama yang kukenal itu. Ohtori Choutarou. Ia berhasil masuk posisi regular meski ia baru kelas 2 SMP, bersama Kabaji dan Hiyoshi. Ya, bersama dua orang itu. Dan meski pertama ia bermain doubles dengan Taki-senpai, akhirnya ia bermain doubles dengan senpai yang kuhormati… Shishido Ryou-senpai.

Senpai yang, saat kusapa setelah beberapa bulan mereka bermain doubles bersama, bertanya pada Ohtori, "Aah, dia temanmu, Choutarou?"

Aku sangat membencinya.

Terutama saat kelas 2 SMP, ia membawa lagi violinnya ke latihan orkestra. Saat orang-orang bertanya untuk apa, ia menjawab dengan senyuman, "Aku diminta Sakaki-sensei untuk mencoba berlatih violin lagi. Dia akan melatihku secara personal, jadi aku tidak perlu les."

Dan kemudian, aku mendengarkan desasa desus bahwa Sakaki-sensei ingin melatihnya lagi karena ia ingin Ohtori memainkan sebuah lagu solo di orkestra Natal sekolah.

Aku sangat membencinya, sangat sangat membencinya.

Ia memiliki segala yang ingin kumiliki, segala yang kuharapkan untuk kumiliki. Bahkan ketika ia sudah membuang sesuatu, benda itu kembali padanya.

Aku ingin menjadi regular dan mencoba mengalahkannya, dan sekarang ia dan kedua teman sampahnya membuat sebuah sistem konyol. Aku tidak akan bisa mengalahkan Hiyoshi, Kabaji mau pun Ohtori. Itu sudah pasti. Tapi aku pasti bisa mengalahkan anak-anak lain. AKU HARUSNYA BISA MENJADI REGULAR, jika bukan karena sistem pemilihan baru yang idiot itu.

Aku ingin ia merasakan bagaimana jika ia harus kehilangan satu saja benda berharganya. Satu saja dari semua benda yang ia miliki, ketika aku harus kehilangan semuanya!

XXXXX

"Kusamoto…kun…?"

Kusamoto mematung, tongkat baseball masih menggantung tinggi di atas kepalanya. Gunggaman namanya yang berasal dari pintu itu mampu membuat keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Honda dan Murai juga membatu dengan mulut terbuka lebar.

Ohtori mengerjapkan matanya, "Kusamoto-kun… kau akan melakukan apa dengan violinku?"

"O-Ohtori-kun…" Kusamoto menaikkan kacamatanya dengan panik, "K-Kau… sejak kapan…"

"Sejak kapan…" Ohtori melangkah masuk. Ia melihat violinnya di lantai, kemudian pada tongkat baseball yang masih berada di tangan Kusamoto. Ia mengerutkan wajahnya, "Apa kau berniat merusak violinku, Kusamoto-kun?"

Kusamoto menggigit bibirnya. Ia masih bisa mengayunkan sebuah pukulan pada violin itu. Sebuah pukulan kuat. Dan violin itu akan remuk.

"Kusamoto-kun?" Ohtori mendekati Kusamoto.

"Jangan bergerak!" Kusamoto berteriak. Dengan sebuah tarikan pada lengannya, Ohtori sesaat hanya melihat kelebat ruangan saat tubuhnya diputar, menyusul dengan rasa nyeri pada bahunya saat Kusamoto menahannya pada tembok dengan keras. Kusamoto menatapnya, matanya menyipit dengan kebencian. Ia menggenggam erat pada tongkat baseball di tangannya, "Kau… aku bisa meremukkan tulang manapun di tubuhmu,"

Ohtori menatapnya, mata cokelatnya berkedip, mengingatkan Kusamoto akan hari pertama mereka masuk dalam sanggar musik. Ohtori tidak terlihat takut. Lebih pada takut, ia terlihat bingung. Kusamoto menggigit bibirnya dengan kesal, lalu meraih tangan kiri Ohtori dan menempelkannya ke tembok dengan keras. Ohtori meringis kesakitan, kemudian berkata perlahan, "K-Kusamoto…kun…"

"Kau mau coba hah? Aku bisa mematahkan jemarimu! Jemari pianismu ini!"

"K-Kusamoto! Kau berlebihan…!" Murai berteriak ngeri, "K-kita tidak mau sampai melukai siapapun, kan?"

"JANGAN BERISIK!" Kusamoto berteriak, "Kau mungkin hanya membencinya karena sikapnya, tapi… aku sangat membenci orang ini!"

Ohtori tetap menatapnya dengan lurus. Sekarang daripada bingung, wajah anak itu berubah kuatir, "K-Kau membenciku?"

"Ya, sangat," Kusamoto berkata, menatap Ohtori dengan tatapan marah, "Aku sangat membencimu sejak dulu,"

"Ke-kenapa?" Ohtori bertanya. Ia menatap Kusamoto lekat-lekat, "Kenapa kau membenciku?"

"Semua tentangmu, aku membencinya," Kusamoto berkata, nyaris mendesis, "Sikapmu, bahkan hanya melihatmu membuatku sangat muak. Kau memiliki semua yang kuinginkan, bahkan kau membuang beberapa dari mereka begitu saja… DENGAR ITU? KAU DENGAR ITU, OHTORI?" Ohtori memejamkan mata ketika tongkat baseball itu dihempaskan dengan keras di bagian dinding tepat dekat telinga kanannya, dan melihat lubang besar yang ditimbulkan di sana karenanya. Ia mengerjapkan matanya ketika melihat lubang itu dengan cemas, dan kemudian kembali memandang pada Kusamoto, "Ku-Kusamoto-kun…"

"TIDAK PERLU MEMBERI ALASAN!" Kusamoto-kun berteriak lagi. Ohtori mengerutkan wajahnya, namun tetap tidak berkata apa-apa ketika Kusamoto terus berteriak, "AKU SUDAH MUAK DENGANMU. Dengan kebohonganmu. Dengan sikapmu yang sok ramah dan sok baik itu. Aku bisa melihat bahwa sesungguhnya, kau tidak pernah menganggap orang lain sebagai temanmu sama sekali! Pada siapapun itu, kau selalu menjaga jarak dengan semua orang… DAN AKU BENCI SEKALI DENGAN KENYATAAN ITU! Bahkan ketika kau melakukan itu, tetap saja semua orang menyukaimu! KAU DENGAR ITU? AKU BENCI SEKALI MENDENGAR ITU!"

"Ku…"Ohtori mencoba bicara lagi, namun kemudian Kusamoto berteriak, "DIAM! JANGAN BERKATA APA-APA! AKU BELUM SELESAI!"

"M-Maaf, Kusamoto…" Ohtori menelan ludah, "A-Aku…"

"KAU PIKIR AKU BISA TENANG HANYA KARENA SATU KATA MAAF? KAU KIRA SUDAH DARI SEJAK KAPAN AKU MEMBENCIMU HAH? OHTORI?" Kusamoto mengayunkan tongkat baseball di tangannya dengan penuh ancaman.

"Aku…"

Kusamoto bergetar, kemudian mengayunkan tongkat baseball dengan kedua tangannya dan berteriak, tak ragu untuk menghantamkan tongkat kayu yang berat itu ke kepala Ohtori, "AKU MENYURUHMU UNTUK DIAAAM!"

Ohtori sudah siap akan rasa nyeri apapun yang akan ia teriam dan memejamkan matanya, ketika tiba-tiba ia mendengar teriakan, "O-OHTORI, LARI!" Ia membuka matanya, dan menemukan Honda dan Miura sedang berusaha menahan Kusamoto yang memberontak sambil terus berusaha mengayunkan tongkat baseball itu ke segala arah. Miura berteriak lagi padanya, "Cepat! Kami akan menahannya! Larilah, Ohtori!"

Pemuda jangkung itu terpaku sesaat. Mata cokelatnya membelalak dengan cemas. Miura dan Honda masih terus menyuruhnya lari, tapi ia malah tidak bisa berjalan. Ia berpikir dengan cepat –seluruh tubuhnya bergetar juga, menyuruhnya untuk segera lari, namun ia tetap mematung di sana. Kusamoto benar-benar sedang tenggelam dalam kebencian dan emosinya, ia terus menggeliat sambil menyumpah, dan Ohtori tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Miura dan Honda kalau ia lari, lalu mereka melepaskan Kusamoto. Tongkat baseball itu masih ada di sana…

"O-OHTORI, CEPAT!" Miura berteriak, sebelum sebuah sodokan dari Kusamoto pada dadanya membuat cowok itu mundur dengan sebuah erangan kesakitan. Pegangan Honda pada Kusamoto melemah, dan Ohtori melihat dengan sangat ketakutan, ekspresi Kusamoto yang penuh amarah, menyipit dengan penuh kebencian padanya saat sekali lagi, tongkat itu diayunkan ke arah kepalanya.

BUUUK!

Rasa sakit itu datang dengan begitu tajam. Ia sadar bahwa ia membuka mata, namun sesaat semuanya gelap, sebelum bayangan Kusamoto di hadapannya, terengah-engah dengan mata membelalak seolah ketakutan pada apa yang baru saja ia lakukan, muncul menjadi dua sosok berbayang. Dan ia bisa merasakan sesuatu mengalir dari kepalanya, ke arah dagunya. Turun terus, menetes ke lantai, dan ternyata itu darah. Sangat banyak. Tes. Tes. Tes. Ohtori bahkan bisa mendengar bunyi mereka saat mereka jatuh dan terpercik di atas lantai, karena tiba-tiba saja, semua bunyi di sekitarnya terasa diperbesar 100 kali dari seharusnya… Ia bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri…

Dan suara sesuatu yang mungkin retak atau patah, menggaung di dalam ruangan. Tadinya ia berpikir Kusamoto sedang mematahkan sebuah tulang dari tubuhnya, namun ia tidak merasa sakit apa-apa. Ia malah merasakan dirinya dirangkul, dan kemudian seseorang mengikatkan sesuatu pada kepalanya. Darah berhenti menetes turun, dan ketika ia menoleh, wajah Hiyoshi dengan ekspresi yang sulit disebut sedang menatapnya. Hiyoshi kelihatan marah. Sangat marah. Tapi ia juga terlihat sangat cemas. Ia terlihat menyesal. Ia terlihat bersalah. Ia menatap pada Kusamoto dengan nyala mata yang tak pernah dilihat Ohtori sebelumnya. Ohtori melihat ke arah depan, dengan susah payah, dan melihat Kabaji berdiri di sana, mengangkat Kusamoto tinggi dengan mencengkeram pada wajahnya menggunakan telapak tangan telanjangnya.

Kabaji terlihat tegang. Bahunya menegang, dan dari ekspresi yang terpasang di wajah Kusamoto yang bisa terlihat oleh Ohtori dari sela-sela jemari Kabaji yang mencengkeram kepalanya, Kusamoto terlihat sangat kesakitan. Ohtori tidak bisa melihat ekspresi Kabaji. Ohtori tidak tahu bahwa kalau ia bisa, ia akan sangat ketakutan. Itu pun bukan ekspresi Kabaji yang ia pernah lihat sebelumnya. Kabaji tidak pernah semarah itu seumur hidupnya. Mata hitam yang kecil itu, yang biasanya terlihat tanpa emosi oleh semua orang dan hanya menampakkan sinar kelembutan pada Hiyoshi dan Ohtori, kali ini menyipit dengan amarah yang sangat besar, dan wajahnya yang biasa begitu tanpa ekspresi itu, diisi dengan sesuatu yang bisa kau sebut sebagai ekspresi dendam yang sangat dalam. Seolah ia tidak akan ragu untuk meremukkan kepala Kusamoto di situ, saat itu juga.

Ohtori merasakan tubuhnya diletakkan dengan lembut, dan kepalanya dialasi oleh sesuatu yang empuk. Ia menyaksikannya dari balik matanya yang mulai ingin menutup karena rasa sakit tak tertahankan dari kepalanya, namun ia bisa melihat bagaimana Hiyoshi mendekati Kabaji dan berkata, "Cukup, aku tidak mau kau membunuh seseorang, Kabaji-kun,"

Kabaji terdiam sesaat, sebelum menurunkan Kusamoto dengan perlahan ke lantai. Ohtori bisa melihat bahu besar itu kembali rileks, namun sekarang bergerak perlahan karena terengah-engah. Ia ingin ke sana, menenangkan Kabaji, merangkulnya dan membuatnya menyunggingkan senyum lembut yang biasa selalu ada di bibirnya itu, karena pasti sekarang Kabaji merasa sangat ketakutan. Tapi Ohtori menemukan bahwa bahkan ia sulit mengangkat kepalanya. Ia tak bisa bergerak. Bahkan sekarang, ia sulit untuk berpikir.

Namun Tuhan mengabulkan permohonannya –Kabaji berbalik dan berjalan ke arahnya. Kabaji terlihat sangat cemas. Badan besar itu bergetar hebat, dan Kabaji melihat tangannya sendiri dengan ngeri. Ia menangkupkan kedua tangannya di atas wajahnya, bergetar dan memucat. Ohtori mengerjapkan matanya, menggerakan tangannya dan menyentuhkannya pada Kabaji. Kabaji menatap Ohtori, dan melihat sahabatnya itu tersenyum.

"Trimakasih…" Ohtori bergunggam. Kabaji menggeleng, menggeleng keras dengan wajah kuatir, dan kemudian mereka berdua berjengit ketika Hiyoshi berteriak, "Kabaji-kun, bawa Ohtori ke rumah sakit,"

Dan membuat Ohtori mengingat bahwa ia tidak menyaksikan apa yang terjadi selama ia mengamati Kabaji. Entah apa yang dilakukan Hiyoshi-kun, Kusamoto-kun sekarang sudah terbaring di lantai, namun masih sadarkan diri. Miura dan Honda sudah berdiri di pojok ruangan, menelan ludah dan terlihat takut. Kusamoto terengah-engah, namun tak bergerak. Ia bahkan tidak terlihat kesal atau apapun, bukan ekspresi yang biasa ada di wajah seseorang saat usahanya menyakiti orang lain yang ia benci digagalkan yang biasa Ohtori lihat di televisi. Wajah Kusamoto seperti takut dan bingung. Seperti tidak percaya akan dirinya sendiri. Dan Ohtori mengerti, bahwa sesungguhnya, pemuda itu tadi benar-benar tenggelam dalam dendamnya sendiri. Padanya…

Ohtori merasakan lengan Kabaji yang hangat mengangkatnya dengan hati-hati. Mereka berjalan, dan Ohtori menggenggamkan tangannya pada bagian depan sweter Kabaji. Ia tersenyum sesaat pada wajah bingung sahabatnya, dan berkata dengan susah payah,

"Kusa… moto-kun…"

Kusamoto mengerjapkan matanya, terdiam. Ia memutuskan untuk tidak memikirkan apa-apa, dan tidak akan menjawab apa-apa. Pasti Ohtori akan mengatakan sesuatu yang baik seperti biasanya. Khasnya. Mungkin ia akan minta maaf atas segala kesalahannya karena Kusamoto sudah membencinya, dan sebagainya. Kusamoto akan mendengarkan saja.

"S-Sh-Shishido-san…" Ohtori menarik napas, "Se…telah… aku sebutkan… namamu… se-setelah kau pergi… ia… bilang… 'Ah… a-aku tahu… anak itu… K-Ke-kecepatannya… s-sangat… hebat. I-Ia… harus jadi… regular… b-berikutnya…' …begitu…"

Kusamoto mengerjapkan matanya lagi.

Mungkin Ohtori hanya menghiburnya.

"D-Dan… S-Sakaki-sensei… bilang… J-Jika… ada o-orkestra… Natal… k-kita… harus jadi… kuartet. E-entah siapa… cello… dan… violanya… tapi aku akan… main violin… dan contrabassnya… adalah… Kusamoto-kun,"

Kusamoto tidak akan menjawab apa-apa.

"D-Dan… a-aku… juga pernah… membencimu…" Ohtori tersenyum, "Karena… kau… selalu… dibawakan bekal… oleh ibumu… saat kita di sanggar musik…"

Kusamoto terdiam. Ia baru tahu soal itu.

"Ohtori, sudah jangan bicara lagi," Hiyoshi berkata, "Kabaji-kun, cepat bawa dia sebelum ia mati karena kebanyakan bicara,"

"Usu,"

Hening mengisi ruangan, sampai akhirnya Hiyoshi, berjalan ke arah luar ruangan, berkata, "Sejak kecil, rumahnya nyaris selalu kosong. Hanya ada ia, kakak perempuannya dan seorang pelayan. Dibuatkan bekal oleh ibunya benar-benar mimpi besar buatnya. Kau lihat kan? Dia tidak memiliki segalanya juga," Hiyoshi menghela napas, "Kalau kau mau tahu kenapa kami bertiga bisa akrab, itu karena kami bertiga punya masalah yang hampir sama,"

Kusamoto tetap terdiam.

"Dan aku setuju dengan Shishido-san, meski aku sangat benci mengakuinya… Kecepatanmu memang bermanfaat. Aku akan menunggumu di lapangan seleksi regular besok, entah kau mau datang atau tidak,"

Suara pintu yang ditutup menjadi awal dari keheningan yang lagi mengisi ruangan itu.

XXXX

"Kusamoto-kun, ibumu selalu membuatkanmu bekal, ya,"

Ohtori berkata padanya, mata cokelatnya bersinar kagum.

Aku menatap aneh pada dia saat itu. Memangnya kenapa? Ibuku memang selalu membuatkanku bekal.

Saat itu, aku berpikir, bahwa ia hanya mencemoohku. Ia juga membawa bekal. Makanannya lebih enak dari makanan yang ia bawa. Aku tak pernah berpikir, bahwa mungkin itu hanya buatan pelayan di rumahnya. Memang terlalu mewah untuk menjadi bekal rumahan yang disiapkan sendiri oleh seorang ibu yang sibuk dengan cucian dan hal-hal lainnya.

"Kau sendiri, bekalmu juga mewah begitu,"

Dan kalau kuingat lagi, kenapa aku tidak bisa melihat sinar kesepian yang mengisi kedua mata cokelat itu waktu itu?

XXXX

"Bahkan setelah aku menyampaikan kabar bahwa kepalanya harus dijahit, tidak ada yang terjadi," Hiyoshi menghela napas, menutup flip ponselnya. Ia menyenderkan tubuhnya yang lelah ke sandaran kursi, "Hanya pembayaran di rumah sakit tiba-tiba sudah lunas. Keluarga anak itu benar-benar mengerikan,"

Kabaji hanya terdiam. Kemudian bergunggam, "Neesan?"

Ohtori neesan menikah dua tahun lalu dan sekarang tinggal di luar negeri bersama suaminya. Hiyoshi mengangkat bahu, "Aku sudah mengabarinya juga. Tapi ia belum membalas,"

Dua pemuda itu duduk dalam diam, memandang sosok yang sedang terbaring di atas ranjang di hadapan mereka. Syukurlah, Ohtori terlihat tidur dengan lelap. Perban yang meliliti kepalanya terlihat tenggelam di antara helaian rambut keperakannya, dan sesungguhnya, Ohtori terlihat nyaris menyilaukan dengan segala serba putih di sekitarnya.

Beberapa menit kemudian, ponsel Hiyoshi berbunyi.

"Iwa-san akan datang," Hiyoshi berkata sambil membaca e-mail yang ia terima dari Iwa-san, pelayan di rumah Ohtori yang mengurus kakak Ohtori dan Ohtori sejak kecil. Ia menghela napas saat melihat empat angka berkedip yang menunjukkan waktu sekarang di ponselnya, "Argh… dia pasti sekarang sedang marah-marah seperti orang gila,"

Kabaji tersenyum maklum mengingat 'dia' yang dimaksudkan Hiyoshi dan menepuk-nepuk bahu Hiyoshi, bersimpati. Lalu ia melihat pada jam dinding rumah sakit. Sudah waktunya adiknya pulang dari les balletnya…

"Aku… harus menjemput… adik perempuanku…"

"Kabaji-kun, kau bisa pulang," Hiyoshi berkata, "Aku akan menunggui Ohtori. Paling-paling aku disuruh latihan tanpa tidur hari ini,"

Kabaji terdiam. Ia ingin menunggui Ohtori, tapi… Ia tidak mungkin meninggalkan adik perempuannya sendirian di rumah, terutama sekarang ayahnya sedang pulang dari luar negeri. Siapa yang tahu kapan ayahnya dan ibunya akan mulai berteriak pada satu sama lain?

"Baiklah… tolong… ya," Kabaji berdiri, meraih tasnya dan tas tennisnya, "Jika ada… kabar… mengenai Ohtori… beritahu… aku,"

"Oke," Hiyoshi mengangguk. Kabaji berlalu, dan bersamaan dengan itu, ponsel Hiyoshi berbunyi. Kali ini telepon. Hiyoshi benar-benar tidak ingin mengangkat panggilan itu terutama setelah melihat siapa penelponnya, namun ia tidak ingin menambah masalah. Hiyoshi menelan ludah, menyiapkan mental dan menjawab, "Halo?"

"Ke mana saja kau?"

"Ohtori sakit, dan aku menungguinya di rumah sakit,"

"Siapa kau? Kau santo atau biksu dan semacamnya? Pulang sekarang, kau pikir sudah berapa jam kau terlambat untuk latihan?"

"Sahabatku sakit dan aku menungguinya, seberapa aneh itu kedengarannya untukmu?" Hiyoshi menjawab kesal.

"…Pulang sekarang,"

"Tidak bisa,"

"Hiyoshi-san,"

Hiyoshi menoleh. Wanita tua yang berdiri di hadapannya, memakai sweter merah jambu dan rok selutut serta memegang sebuah tas besar di tangannya, adalah Iwa-san. Wanita berwajah ramah itu tersenyum, "Pulanglah. Nanti kakak Anda kuatir,"

"Jika dia bisa menguatirkanku, aku akan sangat heran sekali," Hiyoshi berkata keras, meski ia sadar ponselnya belum tertutup.

"Anda harus pulang. Ini sudah sore," Iwa-san berkata, "Choutarou-kun akan saya tunggui. Dia pemuda yang kuat, meski tidak begitu terlihat dari luar,"

Hiyoshi tertawa. Ia menghela napas, "Baiklah. Kurasa aku tak bisa membuat ibuku cemas juga,"

Iwa-san mengangguk. Hiyoshi membungkukkan badannya, sebelum berjalan keluar ruangan. Iwa-san menatap wajah tuan mudanya yang sedang tertidur lelap, dan menghela napas.

"Hah, Chouta-kun, kau aneh-aneh saja," Iwa-san berkata, menggelengkan kepala. Ia mengelus pipi tuan muda yang dirawatnya sejak kecil itu dengan sayang.

"Permisi,"

Iwa-san mengerjapkan matanya dan menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda berkacamata, rambutnya hitam dan terbelah di tengah, membawa sekeranjang buah dan rangkaian bunga di tangannya. Wajahnya tampak kuatir, sedikit tidak enak hati dan cemas.

"Ya?"

"Ohtori-kun… masih tertidur? Bagaimana keadaannya?"

"Aku juga baru datang, namun menurut kabar yang kudengar, ia sehat," Iwa-san menjelaskan, "Tidak ada masalah dengan operasinya tadi. Ia tertidur lelap sekarang,"

Pemuda berkacamata itu menghela napas lega. Ia berjalan mendekati Ohtori, dan terdiam.

"Bisa kubantu dengan bunga yang kau bawa itu?" Iwa-san tersenyum.

"A-Ah… iya," Pemuda itu menyerahkan bunga di tangannya pada Iwa-san. Iwa-san tersenyum lebih lebar, "Wah, apa kau temannya? Kau tahu Choutarou-kun selalu suka bunga berwarna putih,"

"Tadinya aku ragu membeli bunga putih, karena… terlihat… sedikit berduka," Pemuda itu menjawab, "Namun aku ingat… dia… sejak kecil selalu menggambar bunga dengan warna putih di pelajaran kesenian,"

Iwa-san terdiam. Rasanya ia pernah melihat wajah pemuda di hadapannya ini. Ya ampun, dia benar-benar sudah tua… Iwa-san meletakkan bunga tersebut di dalam vas yang dibawanya dari rumah. Ia pun berniat membeli bunga dan meletakannya di sana untuk mencerahkan hati tuan mudanya saat ia bangun, namun sudah ada yang berbaik hati mau memberikan bunga.

"Sebenarnya… ada masalah apa dengan keluarganya?"

"Apa?" Iwa-san mengerjapkan mata.

Pemuda berkacamata itu terlihat tak enak hati dan gelagapan saat berkata, "Eh… ma-maksudku… E-Eh… Apa Anda… ibunya?"

Iwa-san terdiam. Ia menyibukkan dirinya dengan menata bunga di dalam vas, "Bukan. Aku pelayan yang merawatnya sejak kecil…"

Pemuda itu terdiam.

"Ayah dan ibunya selalu sibuk bekerja, dan kebanyakan berada di luar kota daripada di rumah. Neesannya adalah gadis yang pintar dan berbakat, sehingga ia pun sibuk dengan sekolah dan berbagai hal sejak kecil. Tidak ada orang yang bisa bermain dengannya di rumah," Iwa-san menjelaskan, "Dan ia jarang keluar rumah, sebab di wilayah kami tinggal pun jarang terdapat anak kecil. Ia tak biasa berteman. Makanya ia tidak pernah bisa menjalin hubungan terlalu akrab dengan siapa pun dulu. Bukan karena ia tidak mau, namun karena sesungguhnya, ia tidak mengerti caranya,"

Pemuda itu terdiam.

"Namun ia tetap tersenyum," Iwa-san menatap wajah Ohtori, begitu iba dan juga sayang pada pemuda itu, "Dan ia anak yang baik… Saat ia mendengarkan violin untuk pertama kalinya, ia sangat senang dan begitu bersemangat mempelajarinya. Tapi kemudian, saat ayahnya menemukan ia menghabiskan terlalu banyak waktu bermain violin daripada belajar untuk sekolahnya, ayahnya melarangnya les musik lagi. Akhirnya ia mencoba bermain piano kakaknya. Aku yang mengajarinya, sedikit dasar karena aku pun tidak terlalu mengerti. Sisanya, ia mempelajarinya sendiri. Syukurlah saat ia masuk SMP, guru musiknya bisa melihat bakatnya dan membantunya mendalami piano. Kudengar ia pianis terbaik di sekolah… atau sesuatu seperti itu?"

Pemuda itu menatap Ohtori, mengangguk, "Ya,"

"Aku tak mengerti," Iwa-san tertawa, "Aku tak mengerti sudah sepandai apa dia. Aku hanya senang melihatnya bermain piano. Ia terlihat bahagia dan tidak kesepian… Aku pun berterimakasih dengan Kabaji-kun dan Hiyoshi-kun yang sudah membuatnya lebih ceria… Dan saat ia bergabung dengan klub tennis, temannya bertambah banyak, aku benar-benar bersyukur…"

Iwa-san menoleh. Ia menatap ekspresi yang sulit dilukiskan yang terpasang di wajah pemuda berkacamata itu, dan tersenyum, "Ngomong-ngomong… Apa Anda teman sekelasnya? Siapa nama Anda…?"

"Ah," Pemuda itu mendongak, "Aku… satu angkatan dengannya. Namaku… Kusamoto. Kusamoto Takuya,"

"Hoo!" Iwa-san segera mengingat nama itu, "Pantas aku merasa pernah melihat wajahmu. Dulu aku melihatmu saat kau masih kecil. Kau satu sanggar musik dengannya dulu, kan? Choutarou-kun sering membicarakanmu,"

"O-Oh ya?" Kusamoto terkejut.

"Ya," Iwa-san tersenyum, "Katanya, sayang sekali kau pindah ke contrabass. Padahal ia selalu mengagumi permainan violinmu… begitu katanya. Tapi kemudian ia bilang, kau pun bisa berkembang di contrabass… Ia sangat iri denganmu, lho," Iwa-san terkekeh, "Ia bilang, kau selalu membawa bekal yang dibuatkan ibumu. Dan ia iri karena ibumu selalu menjemputmu, juga kelihatan sangat tertarik jika kau membicarakan soal pelajaran musik hari itu… Karena di rumahnya, tidak ada yang benar-benar menyukai musik selain dia. Kakaknya sebenarnya sering bermain musik, namun bukan untuk hobi. Biasanya malah hanya untuk berlatih pelajaran… Kakaknya lebih senang ke hal-hal yang berbau organisasi dan debat. Seperti ayah ibunya,"

Kusamoto terdiam. Kemudian berkata, "Aku… pulang dulu. Aku ingat aku harus berlatih tennis,"

"Kau juga bermain tennis?" Iwa-san tersenyum.

"Ya," Kusamoto tersenyum, "Besok akan ada seleksi regular. Aku harus lolos dan masuk menjadi tim regular,"

"Baiklah," Iwa-san membungkuk, "Terima kasih sudah berkunjung,"

Kusamoto mengangguk dan berlalu. Ia mengepalkan tangannya. Banyak hal yang harus dikatakannya pada Ohtori-kun… Ia tahu itu. Karena itu, ia akan masuk regular, supaya ia layak mengatakannya di hadapan Ohtori!

Huwaah… panjang sekali ya chapter ini XD Karena itu saya mohon dengan sangat reviewnya ya :3