Disclaimer : Konomi Takeshi

Characters : Trio Second Years Hyoutei ; Ohtori, Kabaji dan Hiyoshi, dan beberapa OC, Shishido Ryou.

Rating : T for safety

Warnings : Kinda obvious hint of Shishitori? I can't resist it. But also can be taken as friendship.

Author Notes : Saya masih hidup! Nah, akhirnya kan cerita ini pun mandek. Ugh… tapi akhirnya bisa berlanjut juga. Silakan dinikmati~

Ketika Ohtori membuka matanya, yang ia lihat adalah sebuah area berbentuk persegi, berwarna putih, dengan sesuatu yang sangat terang bersinar tepat di tengahnya. Dan begitu ia mengerjapkan matanya lagi, ia sadar bahwa ia sedang terbaring di atas sebuah ranjang, bantal besar dan empuk menyangga kepala dan lehernya.

"Choutarou-kun? Kau sudah bangun,"

Suara Iwa-san bisa didengarnya. Dan berikutnya, wajah bulat dan ramah wanita setengah baya itu ada di hadapannya, tersenyum, "Akhirnya kau bangun juga… Aku kuatir kau tidak akan pernah bangun!"

Ohtori masih sedikit bingung di mana ia sekarang, apa yang baru saja terjadi, dan kenapa tiba-tiba saja ada Iwa-san. Ia sempat mengira ia baru saja bangun pagi, dan sekarang saatnya sekolah. Namun melihat dari pemandangan di luar yang sudah gelap, itu tidak mungkin.

"Ini… rumah… sakit, ya?" Ia bertanya, perlahan.

"Iya, anak bodoh. Kau masih linglung ya?" Iwa-san tertawa. Ohtori merasa kepalanya sedikit terlalu ringan, dan ia mengingat apa yang baru saja terjadi tadi siang sedikit demi sedikit. Aaah, benar. Ia dibawa ke rumah sakit oleh Kabaji. Ia masih sedikit sadar saat ia dibawa di atas ranjang beroda itu, kemudian ke sebuah ruangan dengan bau obat yang menyengat, namun apa yang terjadi setelah itu, ia tidak ingat lagi. Dia rasa itu artinya dia sedang dioperasi, karena saat ia melirik ke bayangannya yang kabur di jendela, ia bisa melihat benda putih mencolok melingkari keningnya, melintasi ke daerah atas kiri kepalanya hingga ke belakang kepalanya.

Ia menatap ke langit yang sudah diwarnai begitu penuhnya dengan warna hitam, dengan lampu-lampu dan bintang-bintang menyatu, berkerlap-kerlip seperti mengedipkan mata padanya. Ohtori menggosok matanya, dan menguap untuk melenyapkan sisa-sisa kantuk yang masih mengambang di kepalanya.

"Choutarou-kun, kau mau apel?" Iwa-san bertanya dari sisinya. Ohtori mendongak pada pengasuhnya sejak kecil itu, berpikir sebentar sebelum menjawab dengan senyum lebar, "Aku mau… Tapi mau yang dibentuk kelinci,"

"Ya ampun, kau pikir berapa usiamu?" Iwa-san tertawa, namun tetap menuruti keinginan kekanakan itu. Ia mengambil sebuah apel dari keranjang, dan beranjak ke wastafel untuk mencucinya. Ohtori mengerjapkan matanya, dan bertanya, "Ngomong-ngomong, buah ini dari siapa? Aku baru sadar. Iwa-san yang bawa?"

"Tadi ada temanmu berkunjung," Iwa-san kembali. Wanita tua itu menarik kursi dan mulai memotong apel dengan cekatan, sambil masih terus menjelaskan, "Namanya Kusamoto. Aku jadi ingat, dia si pemain contrabass itu kan?"

"K-Kusamoto-kun?" Ohtori sedikit kaget. Kusamoto… menjenguknya…? Bahkan membawa buah segala… Ohtori menatap Iwa-san, "Ia mengatakan sesuatu? Kapan dia datang?"

"Sekitar satu jam yang lalu," Iwa-san berkata, tangannya mengupas kulit apel tanpa terputus. Wanita tua itu berhenti mengupas sesaat, memikirkan apakah perlu baginya untuk bercerita juga bahwa Kusamoto bertanya soal keluarga Ohtori. Namun akhirnya, ia memutuskan bahwa cerita itu akan menjadi rahasia saja. Lagipula, tuan mudanya mungkin sesungguhnya tidak akan senang jika tahu bahwa kenyataan soal keluarganya diungkapkan pada temannya sendiri. Kenyataan yang tidak begitu menyenangkan dan baik, kalau boleh jujur.

"Ia… pergi, karena katanya harus berlatih tennis. Besok ada tes untuk masuk tim regular, katanya,"

"AH! BENAR!" Ohtori membelalakan mata, dan segera bersemangat, "Besok ada tes untuk tim regular! Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit, Iwa-san?"

"Kau gila, ya?" Iwa-san mengangkat alisnya, mengerutkan keningnya saat menatap Ohtori, "Minimal kau harus tinggal seminggu. Luka jahitanmu itu di kepala, tak boleh main-main! Harus dipantau terus,"

"S-SEMINGGU?" Ohtori berseru kaget, "L-Lama sekaliii! Tapi aku harus menyeleksi regular besok!"

"Kau tidak mau kujitak dan kubuat jahitanmu lepas lagi, kan?" Iwa-san melotot.

"T-Tapi! Tapi…!" Ohtori berseru-seru panik, "A-Aaaah, tungguu! Mana ponselku?" Setelah panik mencari-cari, Ohtori menemukan benda berwarna putih itu di atas meja. Dan ia segera menghubungi Hiyoshi-kun.

xxx

"Jika ada orang yang terlambat untuk latihan, menurutmu apa yang akan terjadi, Wakashi?"

Suara itu bergema di dalam dojo, di dalam keheningan malam yang membungkus ruangan kosong itu dengan ketegangan. Wakashi memilih untuk tidak menjawab. Dan menjaga ekspresinya agar tidak terlihat terlalu bosan. Ia sudah hampir hapal dengan ceramah orang di hadapannya ini.

Orang di hadapannya masih mengenakan seragam enbu -hakama biru yang sangat gelap sehingga nyaris hitam –dan sebuah pedang kayu di tangan kanannya. Rambut kakunya yang dipotong pendek terlihat seperti kawat-kawat hitam mengilat yang tertanam pada kepalanya. Pucatnya kulit Wakashi dan orang itu hampir mirip, begitu pula dengan bentuk alis dan mata mereka yang tajam dan sinis. Sebuah kacamata berbingkai hitam dan tebal menggantung di atas hidung pemuda itu, menambah kesan kaku pada wajahnya yang sekarang sedang memandang Wakashi dengan dagu terangkat, dan tatapan yang datar namun dingin.

Wakashi menghela napas pelan. Punggung si rambut kuning itu terasa pegal, penuh dengan keringat dan kakinya terasa bisa jatuh kapan saja karena letih, namun ia harus terus berada dalam posisi ini sampai mereka menyelesaikan 'pembicaraan' itu. Posisinya sekarang ada melipat kedua lututnya selayaknya orang berlutut, namun ia harus tetap menjaga bokongnya jauh dari kakinya, menegakkan punggungnya dan menatap orang di hadapannya ini. Postur yang membentuk huruf L bengkok itu memang sudah biasa untuknya, namun tetap sedikit melelahkan. Jika ia terhuyung sedikit saja, pedang bambu di tangan orang itu akan segera menghantam lengannya.

PRAK!

Wakashi meringis akan sebuah pukulan tajam pada lengannya. Ia mendongak, mengerutkan kedua alis berwarna kuningnya dan berteriak protes, "Aku tidak terhuyung!"

"Tapi kau tidak menjawab," Orang itu menendang pahanya, dan Wakashi menahan lututnya mati-matian ke lantai kayu agar ia tidak terjembab ke belakang. Wakashi menatap orang di hadapannya dengan sinis. Orang itu mendekatkan wajah mereka, menggeram, "Apa. Yang akan. Terjadi?"

Wakashi membuang muka, "Aku tidak tahu,"

"Kau tidak tahu?"

"Tidak,"

PRAK!

Dan sekarang, bunyi itu adalah pedang kayu yang menghantam bagian belakang pahanya. Wakashi, letih setelah berbagai kejadian hari itu, dengan segera jatuh karena serangan yang tidak disangka itu. Ia menahan tubuhnya dari jatuh terperosok dengan kedua tangannya, bertumpu pada lantai, tapi kemudian orang itu menendangnya lagi dari samping, dan tubuh terbalut seragam kotor itu terhempas. Jauh, hingga menghantam tembok.

Wakashi merintih. Tendangan tadi menghantam langsung ke tulang rusuknya, dan tembok itu hampir meretakkan tulang punggungnya. Ia berusaha bangun, namun menyadari bahwa itu akan membutuhkan banyak energi, yang saat itu tidak dimilikinya. Jadi ia tetap berbaring. Langkah kaki anikinya mendekat. Ia tahu skenario berikutnya. Anikinya akan menyuruhnya berdiri, dan…

Pintu geser dojo terbuka.

"Kiyoshi," Suara yang dalam itu memanggil, dan disusul dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, melangkah masuk ke dalam dojo. Suara berat itu menggaung dalam ruangan dojo yang kosong, "Apa yang kau lakukan pada adikmu?"

Anikinya diam saja. Wakashi tidak mau anikinya menganggap bahwa ia mempergunakan kesempatan ini agar ayahnya berbelas kasihan padanya, jadi, masih sambil memegangi tulang rusuknya yang berdenyut, ia bangkit dan duduk. Ia berkata, "Aku baik-baik saja,"

Wakashi menatap ayahnya. Ayahnya adalah pria besar dan tinggi itu, dengan tubuh terbalut dalam kimono rumah berlapis haori putih, berkulit kecokelatan dengan rambut berwarna hitam yang dipotong pendek, nyaris plontos. Kaku dan mengilat, mirip dengan milik Hiyoshi Kiyoshi. Tiga pemuda di ruangan itu bermata sama: hitam pekat dan tajam. Ayahnya terdiam, menatap anak bungsunya untuk sesaat sebelum berkata, "Wakashi, bangkit. Pergi dari sini, mandi, makan, segera tidur. Mulai latihan enbumu besok jam 4 pagi bersamaku,"

"Aku bisa berlatih malam ini," Wakashi berkata.

"Dan menghancurkan tubuhmu?" Kiyoshi menatap adiknya dengan dingin, "Lakukan perintah ayah,"

Wakashi menghindari tatapan anikinya maupun ayahnya, berlalu dengan kaki letih yang bergetar. Ia menyusuri ruangan dojo, keluar melalui pintu geser dojo yang terbuka. Ia menutupnya dan menggeser tubuhnya ke bagian tembok kayu supaya bayangannya tidak terlihat di kertas pintu geser yang tipis. Ia berdiam sesaat di sana.

Ayahnya berkata pada anikinya, suaranya dalam dan rendah, "Kiyoshi, bukan begitu cara yang benar untuk menghukum siapapun. Bahkan adikmu sendiri,"

"Aku ingin menyadarkannya," Suara anikinya tetap dingin dan datar, "Bahwa jika ia mau terus berlatih enbu, ia harus menghentikan tennis. Enbu tidak bisa dilatih dengan hati setengah dan badan kelelahan karena berusaha mengambilkan bola dengan raket bodoh…"

"Itu pilihan adikmu," Ayahnya berkata, "Kau cuma anikinya. Jangan melimpahkan apa yang tak mampu kau lakukan padanya,"

Wakashi memejamkan matanya. Ia tak mau mendengarkan percakapan ini lebih lanjut lagi. Pemuda berambut kuning itu berjalan cepat, kaki telanjangnya menginjak jalan berbatu yang akan mengantarnya ke rumah utamanya. Ia menatap ponselnya. Pukul 9 malam… Seharusnya Ohtori sudah bangun. Ia akan menelpon Iwa-san untuk menanyakan keadaan Ohtori sekarang, dan…

"Wakashi?"

Ketika Wakashi menyadari bahwa yang memanggilnya adalah ibunya, Hiyoshi merasa lebih lega. Ia menghela napas, menggaruk kepalanya, "Ibu,"

"Waka-chan!" Sosok di depannya itu segera menghambur memeluknya, "Ya ampun, Waka-chan tidak pulang sampai malam, Waka-chan jahat sekali bikin ibu cemas! Mau ibu mati muda ya, hah?"

Wakashi tertawa kecil, dan mengulurkan tangannya, balas memeluk sosok yang merangkulya itu. Berbadan mungil dengan tinggi tidak sampai sebahu Wakashi, terbalut dalam kimono bercorak sakura, krisan dan bangau dengan dominasi warna merah dan merah jambu, wanita itu harus berjinjit untuk bisa mengalungkan lengannya di sekeliling leher anak bungsunya. Rambut cokelat mudanya lurus hingga jatuh dengan ikal di ujungnya, diikat setengah dan dihiasi sebuah cepol kecil yang dijaga dengan pin sakura yang cantik. Wajahnya oval dengan dagu bulat, berhiaskan dua mata cokelat muda yang besar, sebuah hidung mungil, dan dua pasang bibir tipis berwarna pink pucat. Ia tidak akan terlihat seperti wanita berusia 30 tahunan dengan dua anak di mata orang awam ; ia akan terlihat seperti gadis di awal usia 20 tahunnya dengan wajah seperti boneka yang manis. Itulah ibu Wakashi. Dulu menyandang nama Taki sebagai nama keluarganya, sekarang namanya adalah Hiyoshi Haruchika.

Taki… yah. Dia memang sesungguhnya masih punya hubungan darah, meski sebenarnya sangat jauh, dengan Taki Haginosuke, senpainya dulu itu. Meski ibunya juga menyandang nama gadis Taki Haruchika, garis yang menghubungkan ibu Wakashi dengan ibu dari Taki Haginosuke sesungguhnya sangat berliku. Namun yang pasti, mereka berasal dari buyut yang sama, sebab sebelum menikahi ayah Wakashi, usaha kakek nenek dari pihak ibunya juga adalah rumah bimbingan ketrampilan tradisional Jepang seperti halnya keluarga Taki Haginosuke.

"Kiyo-chan tidak mau dengerin ibu," Ibunya melipat tangan, menggembungkan pipi. Seperti wajahnya, kelakukan ibunya sangat kekanakan, ceria dan cuek. Bagaimana ia berakhir dengan ayahnya yang kaku dan sangat keras adalah sebuah misteri. Ibunya menatap anak keduanya dengan cemas, "Kiyo-chan memukuli Waka-chan ya?"

"Hukuman biasa kok," Wakashi mengangkat bahu. Ia menguap, "Aku lelah sekali, bu. Aku mau tidur ya,"

"Baiklah," Ibunya mendorong tubuh Wakashi dengan ekspresi cemas, "Cepat mandi dan tidur. Waka-chan pasti ada latihan pagi untuk enbu, dan untuk tennis juga,"

"Lebih parah," Wakashi menghela napas, "Besok tes penyaringan regular. Dan Ohtori tidak bisa hadir,"

"Hari yang bakal berat, kan?" Ibunya menggelengkan kepalanya, matanya melotot ngeri, "Masuk ke kamar saja, Waka-chan, ibu racikkan teh penenang dan minyak pijat yang mujarab buat Waka-chan!" Ibunya tersenyum lebar.

Wakashi membalas senyum ibunya.

"Terima kasih bu,"

Dan maafkan aku, aku tak akan tidur sekarang. Siapa yang bisa tidur dengan sahabatmu di rumah sakit dan penyebabnya masih berkeliaran di luar sana?

Hiyoshi menginjakkan kakinya ke dalam kamar, memutuskan akan menunggu dengan tenang di dalam ruang tidurnya sampai rumah sepi dan ia bisa keluar untuk menghajar si Kusamoto sialan…

Tapi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.

Wakashi mengerjapkan mata. Ohtori?

PIP

"Ha-Halo, Ohtori? Kau sudah sadar?"

"Hiyoshi-kun! Penyaring tim regular! Undur seminggu! Seminggu saja! Kumohon! Aku harus ikut memilih, dan…"

"Aku sudah menghubungi kantoku. Dan ia bilang tidak masalah. Malah, ia akan mengundur sampai 2 minggu. Melalui phone tree, kabar sedang diinformasikan pada semua anggota tim," Wakashi menghela napas, "Ini yang kau pikirkan setelah kau sadar dari pingsanmu?"

"Sungguh? Syukurlah! Hehe, aku tidak mau sampai ketinggalan penyaringan!" Ohtori tertawa, "Baiklah. Terima kasih Hiyoshi! Aku jadi sangat tenang. Tidurlah! Suaramu terdengar lelah…"

"Aku tidak apa-apa," Hiyoshi menanggapi perlahan. Ia menghela napas, "Kau butuh seseorang untuk menemani…? Aku bisa ke sana…"

"Jangan konyol! Kau harus tidur. Kakakmu bisa menghabisimu!" Ohtori terdengar cemas sekarang, "Aku tidak sendirian. Ada Iwa-san,"

"Iwa-san saja, kalau ia ketiduran…"

"Ah, dan aku akan mengirim e-mail ke Shishido-san…! Jadi tenang saja ya…"

Wakashi terdiam mendengar nama itu keluar dari mulut sahabat baiknya. Bukannya ia benci Shishido-san. Hanya… ia masih saja sedikit merasa seniornya itu merebut sahabat baiknya beberapa tahun terakhir ini.

"Hiyoshi-kun harus tidur nyenyak… Besok aku tidak bisa ke sekolah, jadi kau harus memimpin klub berdua saja dengan Kabaji-kun. Makanya harus istirahat yang banyak. Aku yakin besok kau harus latihan enbu jam 4 pagi. Lihat, kau masih punya 4 jam buat tidur. Tidurlah,"

Hiyoshi terdiam. Akhirnya ia menjawab, "Oke…"

"Baiklah, daaah!"

"Hm. Sampai besok,"

Hiyoshi menutup ponselnya.

Maaf ya Ohtori, aku tidak akan tidur. Aku berbohong padamu… Dengan helaan napas, dikantunginya benda logam dengan sentuhan corak hitam itu ke dalam saku celanannya. Berjalan dengan sedikit tertatih, mata berwarna kelamnya menatap terus pada jalan batu yang ditapakinya Mungkin sebenarnya… aku melakukannya bukan untukmu. Kau tidak akan pernah mendendam seperti ini, aku yakin…

Sosok Ohtori yang terluka, kepalanya berlumuran darah hingga menetes ke seragamnya… bayangan itu kembali menghantui kepalanya. Dikernyitkan alisnya, sementara tangannya mengepal erat.

Tapi aku benar-benar ingin menghajarnya… Untuk memuaskan kekesalanku karena ia sudah beraninya melukaimu!

XXXX

Kabaji-kun, duduk sendirian di ruang tengah rumahnya yang super besar itu, terdiam menatap kepalan tangannya yang terbalut perban. Ia meneguk ludah, menggelengkan kepalanya dan meraih telepon. Ditekannya tombol nomor telepon Ohtori dengan telunjuknya yang tidak terluka. Ia merasa rasa bersalahnya berlipat ganda saat mendengar suara Ohtori menjawab, "Halo?"

"Ohtori…kun…"

"Kabaji-kun!"

"Maaf… tadi… aku… harus pulang…" Kabaji menunduk, merasa sangat bersalah, "Aku… seharusnya mendampingimu…"

"Apa maksudmu minta maaf? Tentu saja tidak apa-apa! Kau kan bisa ke sini besok. Aku tahu pasti kau harus menjaga adikmu!" Ohtori tertawa, "Terima kasih sudah menguatirkanku!"

Kabaji menelan ludah, dan berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk menebus dosanya. Akhirnya ia berkata, "A-Ah… Aku akan… membuatkan beef stew… saat menjengukmu… besok…"

Meski mereka berbicara melalui telepon, Kabaji seperti bisa melihat kedua mata Ohtori melebar senang, "Sungguh? Horee! Hehehe, terima kasih banyak, Kabaji-kun!"

Kabaji tersenyum, "Kau… istirahat…"

"Um!" Ohtori tertawa, "Besok datang ya. Rasanya sepi di sini, cuma berdua dengan Iwa-san,"

"Tentu… saja…!" Kabaji menjawab sungguh-sungguh.

"Hehe. Oke! Janji ya!"

"Um…"

"Baiklah, bye Kabaji-kun!"

"Selamat tidur… Ohtori…"

Kabaji menutup telepon. Ia terdiam sesaat, kemudian berjalan ke kamar adiknya. Setelah membukanya perlahan, ia melangkah masuk dan melihat adiknya sudah terlelap. Ia mengecup lembut pelipis adiknya yang sangat disayanginya itu, sebelum keluar dalam diam.

Sesampainya di luar, ia menatap lagi kepada kepalan tangannya yang terbalut persona. Bayangan perkelahian tadi sore kembali ke kepalanya, dan ia merasa darahnya mendidih. Ia mengernyitkan alisnya dalam-dalam, dan menggigit bibirnya, menahan amarah.

'Kabaji,'

Pemuda besar itu tersentak. Ia menutup matanya… dan membuka kembali jemarinya. Ditatapnya tangannya itu. Jemarinya yang panjang, kasar karena tennis, dengan kulit yang tebal dan telapak yang besar. Ia menegak ludah sesaat. Sebuah sosok yang sangat ia kenal… tadi datang dalam ingatannya. Rambut abu-abunya, ia melipat tangannya di depan dadanya dan bibirnya menyinggungkan senyum percaya dirinya saat berkata, 'Aku akan membantumu mengontrol kekuatanmu itu, Kabaji. Kau mengerti? Aku akan menjadi… pawangmu,'

"A-Atobe-san…" Kabaji menutup wajahnya. Atobe-san sudah pergi. Malam kelulusan itu. Ia ingat sebuah tepukan pada kepalanya, dan senyum pongah yang biasanya terpasang pada wajah mantan buchounya itu, saat itu diganti dengan sebuah senyuman lembut dan sedikit cemas, 'Kau bisa kan, tanpa aku?'

Ia mengangguk saat itu, dan nyatanya, hari ini ia nyaris lepas kontrol. Pertama, ia hampir menghancurkan wajah Kusamoto dengan meninjunya… Ia mencegah dirinya sendiri dengan mencengkeram kepalannya sekuat mungkin dan meretakkan sendiri tulang-tulang jemarinya, tapi nyatanya, rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding kemarahannya yang menggelak. Ia malah mengangkat Kusamoto dengan mencengkeram kepalanya, hampir meremukkannya lagi jika Hiyoshi tidak mencegahnya. Dan barusan saja… rasanya ia hampir saja bermaksud berlari dari rumah dan menghabisi Kusamoto, karena sudah menyakiti Ohtori…

Ohtori tidak akan menginginkan ini…

Kabaji gemetar. Atobe-san… Ia mungkin harus menghubungi Atobe-san.

Tapi…

"Oniichan?"

Kabaji menoleh dengan kaget. Adiknya berdiri di sisi pintu, sesosok anak perempuan dengan balutan daster merah jambu dengan boneka kelincinya menggantung di tangannya. Rambut hitamnya yang dipotong sedagu sedikit berantakan karena ia baru saja terbangun, dan ia menguap sambil menggosok matanya, "Oniichan… belum tidur?"

Kabaji menggeleng, menyunggingkan senyum lembut, "Belum. Kenapa kau bangun?"

Gadis mungil itu berjalan ke arah kakak laki-lakinya, "Aku terbangun. Oniichan, apa kau baik-baik saja…? Tanganmu dibalut perban…"

"Cuma kena jarum," Kabaji berbohong. Ia menggotong adiknya dengan hati-hati, dan adiknya spontan merangkulkan tangannya ke leher besar Kabaji. Kabaji tersenyum, "Ayo, kembali ke kamar. Oniichan bacakan cerita,"

Adiknya tersenyum ceria, "Aku mau Momotaro!"

"Apa saja," Kabaji membalas dengan senyum lebih lebar.

Mereka melangkah masuk, dan Kabaji menurunkan adiknya ke tempat tidurnya, sebuah ranjang besar yang penuh dengan boneka buatan kakaknya sendiri. Gadis itu merangkak ke balik selimut, memeluk boneka kelincinya erat-erat, menunggu Kabaji memilih buku dongeng dari sebuah rak buku mungil di samping lemari sepatu.

"Oniichan,"

Kabaji mengambil sebuah buku dongeng, memastikan itu memang dongeng Momotaro sambil bergunggam, "Ya?"

"Oniichan jangan banyak terluka," Adiknya berkata, mengedipkan kedua mata besarnya dengan polos, "Aku akan sedih,"

Kabaji terhenyak sebentar. Lalu ia tersenyum lagi, berjalan dan duduk di sisi adiknya. Dikecupnya kening adiknya itu dengan lembut, dan ia berkata, "Ya,"

Adiknya tersenyum, melompat memeluknya dan berkata, "Janji ya?"

Kabaji mengangguk, balas memeluk adiknya dengan sayang, "Janji."

xxxx

"He… kau bertanya apakah Kusamoto tadi datang dengan tangan atau bagian tubuh yang patah?" Iwa-san mengerutkan kening, "Apa maksudmu, anak bodoh? Kenapa kau mendoakan dia yang jelek-jelek begitu?"

"Bukannya mendoakan!" Ohtori merengut, "Tadi rasanya… aku mendengar bunyi patah tulang. Maksudku saat kejadian. Kukira Kabaji mematahkan tulangnya atau sesuatu…"

"Jadi di sekolah kau berkelahi dengan Kusamoto yang tadi itu?" Iwa-san menatap tuan mudanya, "Baik benar dia, langsung menjenguk lawan berkelahinya..." Tiba-tiba Iwa-san terlihat kecewa dan berkacak pinggang, mulai mengomeli Ohtori, "Dan kenapa kau payah sekali, Choutarou-kun? Dia membuat kepalamu harus dijahit, tapi dia tidak terlihat terluka sedikit pun olehmu! Lalu Kabaji-kun sampai harus menolongmu? Memalukan sekali!"

Ohtori mengerutkan kening, "Apa itu yang seharusnya dikatakan oleh seorang pengasuh?" Ohtori menggaruk pipinya. Rasanya sedikit berbelit-belit kalau ia harus menjelaskannya pada Iwa-san. Lagipula, ia tidak mau Iwa-san jadi marah pada Kusamoto karena tahu bahwa sesungguhnya Kusamoto menyerangnya, bukan berkelahi dengannya. Hah, sudahlah… Biarkan saja ia menganggap Ohtori mendapatkan luka itu karena berkelahi. Sejauh ini, Iwa-san benar-benar terlihat maklum bahwa ia berkelahi.

"Shishido-san enggak datang ya?" Ohtori merengut. Ia membuka flip ponselnya, membaca ulang e-mail yang ia kirimkan pada senpainya itu sekitar setengah jam yang lalu, mengabarkan bahwa sekarang ia di rumah sakit setelah menjalani operasi untuk menjahit luka di kepalanya, "Jahat, padahal aku sudah mengirimnya e-mail… Pasti dia sudah tidur karena kebanyakan latihan! Dasar maniak berlatih!"

"Sembarangan kau, aku langsung melesat ke sini setelah membaca e-mailmu itu!"

Ohtori membelalakan matanya, tersenyum cerah melihat sosok yang dinantinya berdiri di belakang Iwa-san, memegang helm di tangan kiri dan bungkusan plastik di tangan kanan. Rambut cokelatnya yang biasa berdiri melawan gravitasi itu sekarang sedikit kempes karena helm, hasil dari melesat dengan motor dari rumahnya ke rumah sakit tempat sekarang ia berdiri selama hampir 20 menit. Ohtori memanggil senang, "Shishido-san~!"

"Ada apa sih denganmu? Sekarang kau berkelahi segala sampai kepalamu pecah?" Shishido-san menggelengkan kepala, meletakkan helmnya di lantai, "Sudah kuduga tidak boleh ada yang melepaskan mata darinya bahkan untuk beberapa menit saja, ya kan Iwa-san?"

Iwa-san terkekeh, dan mengangguk, "Benar sekali. Dia ini tidak akan pernah dewasa!"

Karena Shishido sering datang ke rumah Ohtori saat mereka menjadi doubles partner, Iwa-san sangat akrab dengan cowok itu. Iwa-san menyukainya. Memang Shishido bermulut tajam dan cenderung bersikap leluasa tanpa ikatan tata krama, tidak seperti nona dan tuan mudanya, namun ia selalu sopan dan jujur. Ia sedikit jahil, namun bersikap dewasa dan tahu kapan harus berbicara. Iwa-san tahu bahwa ia sering menasehati dan memberi saran pada Ohtori dalam berbagai hal. Dan yang pasti, Ohtori selalu terlihat senang bersama senpainya itu. Itu cukup membuat Iwa-san menyukai Shishido.

"Iwa-san…!" Wajah Ohtori memerah, "Aku bukan anak kecil!"

"Kau bersikap seperti anak kecil," Shishido mencomot sebuah apel yang ditawarkan Iwa-san. Ia duduk di sisi Iwa-san, nyengir sambil menggigiti apel, "Lalu? Kenapa kau memotong rambutmu juga?"

"Bukan aku yang potong," Ohtori merengut, wajahnya memerah lebih terang, "Saat mau dijahit, terpaksa dipotong pendek. Untuk tidak sampai digundul… meski di bagian yang dijahit sepertinya dipotong nyaris habis sih…" Ohtori menyentuhkan perban yang melilit kepalanya dengan hati-hati, "Ini sudah dirapikan lagi oleh Iwa-san. Shishido-san, cocok tidak? Cocok tidak potongan rambut ini untukku?"

"Kau terlihat tambah seperti anak kecil," Shishido tertawa.

"Shishido-saaan! Aku serius!"

"Rambutmu yang dulu sudah pendek, sih. Hanya saja kalau poninya sependek ini, belahan rambutnya jadi tidak terlihat saja," Shishido beranjak dari kursinya untuk menyisir perlahan poni Ohtori yang sekarang lebih pendek lagi dari biasanya, "Yah, tidak jelek juga…"

"Iya? Sungguh?" Ohtori mengerjapkan mata.

"Yap," Shishido menyentuh pipi Ohtori lembut dengan tinjunya. Lalu ia mengangkat kantung plastik di tangan kanannya, "Lihat, aku membelikanmu sesuatu. Nasi dengan shishamo,"

"WAH!" Mata cokelat Ohtori segera bersinar senang, "Huwaa, aku jadi lapar sekali mendengarnya! Shishido-san, terima kasihh!"

"Kau benar-benar suka shishamo, ya," Shishido menggelengkan kepalanya, tertawa melihat Ohtori begitu bersemangat memecahkan sumpitnya dan berseru senang, "Itadakimasu!" Shishido menoleh pada Iwa-san, "Iwa-san, aku membelikanmu dango untuk cemilan,"

"Ara, terima kasih banyak. Shishido-kun," Iwa-san tersenyum, "Sejak liburan, kau belum pernah datang lagi, aku jadi kangen padamu. Bagaimana SMA?"

"Lumayan," Shishido mengambil Pocari dari kantung plastik yang ia bawa dan membukanya, "Pelajarannya sedikit lebih gila dan tugasnya juga, tapi belum dalam tahap mematikan,"

"Shishido-san, aku mau Pocarinya!" Ohtori tiba-tiba berseru ceria dari belakang Shishido.

"Heee… aku bahkan belum meminumnya!" Shishido merengutkan wajahnya, namun membiarkan Ohtori meneguk Pocarinya yang belum ia minum sedikit pun itu. Shishido menghela napas, "Dasar…"

"Fuaaah… enak…" Ohtori selesai menegak Pocari, lalu kembali pada bekalnya. Ia berkata dengan nada lemas, "Aku baru sadar aku lapar sekali…" Ia menyuap segumpal nasi ke dalam mulutnya, lalu setelah mengunyahnya baik-baik dan menelannya, ia berkata dengan senyuman, "Mungkinkah dioperasi membuat seseorang jadi lapar?"

"Kurasa itu cuma untukmu saja," Shishido tertawa. Ia meraih kembali Pocarinya dan menegaknya, sambil mengamati balutan perban yang membungkus kepala Ohtori. Terdiam sesaat, kemudian kembali menegak Pocari dalam diam. Hening sejenak mengisi ruangan itu. Cuma bunyi Ohtori yang mengunyah makanannya dengan lahap sambil kadang bergunggam "enaaak~" sambil menikmati shisamo yang lezat itu. Iwa-san sibuk mengupas lebih banyak apel.

Shishido memandang Choutarou… dan sesuatu yang sedang ia pikirkan membuatnya mengeratkan jemarinya pada sisi kaleng, menahan sebuah emosi yang saat itu meluap di dada dan kepalanya.

Ohtori menatap senpainya sejenak. Shishido-san… pasti tahu dia bukan berkelahi. Ohtori menunduk, memakan nasinya perlahan. H-Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya pada Shishido-san? T-Tapi mengenal Shishido-san, pasti Shishido-san akan…

"Ah, Iwa-san, kurasa tadi dokter memanggilmu," Shishido tiba-tiba berkata, "Aku lupa. Saat aku masuk tadi, mereka meminta wali Choutarou untuk ke pusat suster. Kurasa itu masalah obat Choutarou,"

"Ara, benarkah?" Iwa-san berkedip. Ia meletakkan apel dan pisaunya di atas piring, "Kalau begitu, aku urus sebentar. Chouta-kun, aku akan kembali ya,"

"Yap. Terima kasih, Iwa-san!" Choutarou tersenyum, melambaikan sumpitnya.

Iwa-san berjalan keluar kamar, dan setelah pintu tertutup rapat, Shishido menjauhkan sedikit kaleng Pocari dari bibirnya, dan memanggil, "Choutarou,"

Ah, ini dia… Ohtori mendongak perlahan dengan senyum, "Ya?"

"Apa yang membuat kepalamu pecah?" Shishido bertanya. Nadanya biasa saja, tapi Ohtori bisa melihat keseriusan wajahnya.

Ohtori sedikit menelan ludah, kemudian tertawa, "A-Aku berkelahi. Kan aku sudah bilang tadi!"

"Kau tahu aku tahu itu bohong," Shishido menghela napas tak sabar, "Apa yang dia gunakan? Tidak mungkin tinju membuat kepala pecah," Shishido menyipitkan matanya.

"Dia…" Ohtori agak bingung harus menjawab apa –haruskah dia menceritakan yang sebenarnya pada Shishido-san? Tapi… Shishido-san itu punya rasa protektif yang tinggi pada siapa pun. Bahkan pada seorang teman yang baru kenal, ia bisa membelanya habis-habisan jika ia memang menyukai teman barunya itu. Jiwa pelindungnya terlalu tinggi! Dia mungkin saja membalas Kusamoto karena sudah melukai Choutarou –apalagi luka separah ini. Tapi Ohtori yakin, Kusamoto sebenarnya pun tidak bermaksud melakukannya. Ia melihat wajah bersalah anak itu setelah ia melihat darah yang mengalir deras di wajah Choutarou.

Choutarou bergunggam, "A-Ah… aku…"

"Kau tidak berkelahi kan? Kau dikeroyok atau semacamnya. Siapa?" Shishido meletakan Pocarinya di atas meja. Ohtori melihat sedikit bekas remuk di sisi kaleng itu. Kemudian pandangannya beralih pada bekal di pangkuannya.

"Shishido-san tidak boleh melukai orang karena aku," Ohtori menjawab, menatap senpainya, "I-Ini… hanya kesalahpahaman, kurasa. Orangnya sudah meminta maaf. Ia sudah menjengukku, membawakan bunga dan buah juga, lihat!" Ohtori menunjuk pada parsel buah dan rangkaian bunga di dalam vas, "Jadi…."

Shishido menatap Ohtori, mata seriusnya meredup, melembut. Anak ini… dia benar-benar tak habis pikir bahan apa yang menyusun hati adik kelasnya itu. Ia menghela napas, "Tak akan kulukai. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,"

Ohtori masih belum yakin –ia merengutkan alisnya dan bertanya, "Sungguuuh?"

"Ya," Shishido menjawab, mengangguk.

"…Serius, Shishido-san?"

"Beberapa tulang rusuk,"

"Shishido-san!"

"Oke, tidak. Aku serius tidak akan melukainya,"

"Benar ya?"

"Sedikit memar di perut?"

"Shishido-saaaan!"

"Oke, tidak, aku janji,"

"Shishido-san, kau membuatku makin tidak yakin…"

"Bagaimana kalau sedikit tinju di pipi…"

"Shishido-san! Tidak ada tinju, tidak ada tendangan, tidak ada perbuatan apapun yang bisa membuat Kusamoto-kun terluka…!" Ohtori berkata serius.

"Kusamoto-kun? Jadi… namanya Kusamoto-kun," Shishido bergunggam. Ohtori melebarkan matanya, menutup mulutnya dengan kedua tangan –aaah, bodohnya dia! Jangan-jangan Shishido memang sengaja karena tahu Ohtori akan membocorkannya sendiri. Ohtori menunduk, kesal pada diri sendiri. Inilah kalau kalian main doubles bertahun-tahun.

"Kusamoto… apakah dia yang kelas tiga, yang juga mengandalkan kecepatan…" Shishido mengelus dagunya, "Anak tennis itu?"

"Aku tidak mau menjawab apa-apa!" Ohtori menggelengkan kepalanya, "Nanti kubocorkan sendiri,"

Shishido melirik Ohtori –dia pikir Shishido belum mengenalnya, ya? Shishido menghela napas, "Oke. Paling tidak ceritakan apa yang dia lakukan,"

"Tidak mau,"

"Dia memukulmu dengan apa? Pipa? Batu? Tongkat? Pedang kayu?" Shishido mengamati wajah Choutarou, "Raket…? Hem… Pemukul baseball?"

Melihat sedikit belalak di mata Ohtori pada pilihan katanya yang terakhir, dia tahu itulah senjata yang benar. Shishido menyipitkan matanya –pemukul baseball, hah? Pengecut sampah…

"Aku tidak mau memberi tahu apa-apa," Ohtori merengut.

"Baiklah," Shishido mengangkat bahu, "Kau tidak percaya padaku,"

Ohtori membalas dengan alit bertaut serius, "Aku tidak percaya Shishido-san tidak akan marah,"

"Aku akan bertanya pada Wakashi," Shishido berkata.

"Tidaaak boleeeh!" Ohtori buru-buru meraih ponselnya, mengirim pesan pada Wakashi untuk jangan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kalau Shishido bertanya –dan Kabaji juga, untuk jaga-jaga. Ia menghela napas, "Aku sudah memberitahu Hiyoshi-kun dan Kabaji-kun, mereka tidak boleh memberitahu Shishido-san!"

Ya, tepat itu yang dia butuhkan. Shishido tersenyum tipis. Ia meraih kembali kaleng Pocarinya, menghela napas dan berkata, "Oke, oke. Aku menyerah. Kau tidak mau memberitahu aku, ya sudah. Aku akan puas dengan bualan kau berkelahi itu," Kemudian ia menegak sisa isi kaleng itu dengan santai.

Ohtori mengamati wajah Shishido –dia terlalu puas. Harusnya tidak. Sesuatu tidak benar. Sialnya, senpainya itu cerdas. Ia ingat bagaimana Shishido selalu bisa menjawab segala tuduhan, pertanyaan dan pernyataan sinis Kobayashi-sensei, wali kelas Shishido yang entah kenapa sangat membenci kakak kelasnya itu. Bahkan Shishido memenangkan taruhan bahwa dia harus mendapatkan di atas 70 di semua tes tengah semester atau Shishido harus berhenti dari klub tennis, dan Shishido mendapatkan nilai di atas 90 di semua tes –bahkan Matematika!

Ia berpikir sesaat –apakah sebaiknya dia memang menceritakannya, daripada Shishido-san melakukan sesuatu yang… tidak dia tahu apa…?

"Kusamoto-kun memukulku di kepala dengan pemukul baseball," Ohtori berkata perlahan. Shishido menoleh –ah, padahal dia tidak bermaksud memancing Choutarou. Shishido mengerti bahwa pasti Ohtori lebih memilih menceritakannya sendiri dan bisa meyakinkan Shishido untuk benar-benar tidak melukai siapa pun, daripada tidak menceritakannya dan Shishido malah mendapatkan cerita yang berlebihan dan semakin marah, dan melakukan sesuatu yang tidak Ohtori ketahui. Shishido menatap Ohtori yang meliriknya perlahan.

"Lalu?"

"Ia… merusak violinku. Aku masuk saat ia sedang melakukannya. Lalu ia menarikku ke tembok…"

"Dia sendiri?" Shishido bertanya, merengutkan kening.

"Ada dua… temannya," Ohtori berkata pelan, "Tapi saat Kusamoto mengamuk, temannya berusaha menahan Kusamoto dan menyuruhku kabur. Tapi aku… tidak bisa lari. Kakiku lemas, lagipula aku kuatir apa yang akan dilakukan Kusamoto pada dua temannya kalau aku pergi,"

"Lalu kau merelakan dirimu untuk dipukul sebagai gantinya?" Shishido tidak tahu betapa inginnya ia menjitak Ohtori saat itu –padahal harusnya dia sudah terbiasa dengan kebaikan yang bodoh itu. Ohtori meliriknya dengan tatapan merasa bersalah, dan Shishido hanya bisa menghela napas, "Lalu…?"

"Aku tidak mengerti kenapa. Dia bilang, dia benci padaku," Ohtori menatap pada ujung kasurnya yang putih bersih, sambil terus bercerita, "Sebenarnya… bukannya aku tidak tahu kalau dia tidak menyukaiku. Aku sadar dari dulu, bahwa ia selalu menatapku dengan sangat marah. Tapi aku tidak tahu bahwa ia sampai membenciku,"

Shishido menggoyangkan sedikit kaleng di tangannya.

Ohtori terdiam, "Aku… dulu sempat iri sekali padanya. Dia… punya keluarga yang sangat baik," Ia memejamkan matanya, pahit, "Ia didukung dalam musik, dimasakkan bentou, kalau dia masuk rumah sakit seperti ini, pasti sekarang ibunya sedang duduk di sisinya, memegang jemarinya,"

Shishido terdiam. Keluarga memang selalu menjadi topik sensitif adik kelasnya itu. Ia ingat permintaan Ohtori pada kertas tanabatanya tahun lalu – "Aku ingin sarapan yang hangat, di meja makan bersama keluargaku." Sedikit ragu, namun akhirnya menetapkan diri dan melawan rasa malunya, Shishido mengulurkan tangannya, dan meletakkannya di atas tangan Ohtori.

Ohtori menatap Shishido, "Shishido-san…"

"Kalau memegang jemari…" Shishido berkata dengan alis tertekuk dan sorot mata pada jendela –tidak mau menatap wajah adik kelasnya dan menjadi semakin malu –dan pipinya sedikit memerah, "Aku pun bisa, Chou,"

Ohtori mengerjapkan matanya, kemudian tersenyum, mata cokelatnya berbinar.

"Aku tahu," Ohtori tertawa kecil, "Shishido-san, Hiyoshi-kun, Kabaji-kun, Iwa-san… semuanya ada di sisiku. Memberi kehangatan keluarga padaku,"

Shishido menoleh pada Ohtori dan mengangguk. Ia kembali menggeser sorot matanya ke pada kaleng di tangan kirinya saat ia menggenggam tangan Ohtori dengan lebih erat lagi, pipinya kembali bersemu. Ohtori tersenyum geli. Kakak kelasnya itu sangat manis dan baik, meski ia sering malu dan gengsi begini saat melakukan perbuatan yang baik atau pun mengakuinya. Ia sangat berterima kasih atas pertemuannya dengan Shishido-san…

Pintu ruang membuka, dan Iwa-san melangkah masuk, membawa beberapa plastik obat, "Choutarou-kun… Ada beberapa obat yang harus kau makan mulai besok, lalu satu ini untuk malam mini, sebelum tidur,"

"Ah, oke," Ohtori mengangguk, tersenyum pada perawatnya sejak kecil itu.

"Choutarou… Kurasa kau harus istirahat," Shishido berkata. Ia membuat gerakan menepuk perlahan pada tangan yang sedari tadi digenggamnya, sebelum bangkit berdiri dari tempat duduknya di sisi ranjang Ohtori, "Aku pulang ya? Besok aku akan datang lagi,"

Ohtori mengangguk, "Terima kasih, Shishido-san,"

"Iwa-san, aku pamit," Shishido menoleh pada Iwa-san yang sedang menuangkan air ke dalam gelas untuk ditegak bersama obat. Wanita itu tersenyum lebar, membalas bungkukan kepala Shishido dengan tepukan lembut di bahu pemuda berambut cokelat itu, "Terima kasih banyak, Shishido-kun,"

"Chouta, jangan banyak bergerak ya. Jangan nakal," Shishido nyengir pada adik kelasnya sambil berjalan ke arah pintu keluar. Ia tertawa melihat Ohtori merengut, namun kemudian pemuda jangkung itu tersenyum dan melambai, "Dadah, Shishido-san! Terima kasih untuk hari ini!"

"Um. Daaaah," Shishido membalas, mengangkat tangannya. Ia menutup pintu, dan bersandar sesaat di dinding. Merenung… sebelum bergegas ke sebuah tempat dalam pikirannya.

XXX

Pemuda itu sudah sedari tadi meninggalkan kacamatanya di bangku penonton lapangan tennis jalanan tersebut, bersisian dengan handuknya yang basah kuyup dengan keringat. Kusamoto tidak peduli lagi dengan kerincian pandangannya –yang penting dia bisa meraih bayangan kuning berbentuk bulat itu secepat yang ia bisa dengan raketnya, secepat Shishido Ryou yang ia kagumi.

Mungkin hanya jika ia sudah sampai setaraf itu, Ohtori baru bisa melihat kesungguhan permintaan maafnya atas kesalahpahaman yang baru saja ia buat. Kesungguhannya bahwa dia benar-benar merasa bersalah dan mengerti akan kondisi Ohtori, bahwa semua kebencian Kusamoto padanya itu tidak beralasan. Begitu pikirnya, terus, seraya ia berlari mengejar bola, menukik, merubah arah, berhenti dan berpindah, tak memedulikan keringat yang membanjiri tubuhnya, membasahi rambut hitamnya dan membuat kaus yang ia pakai menempel lekat ke kulit lembabnya. Jantungnya begitu sibuk berdetak, memompa darah habis-habisan untuk membawa lebih banyak oksigen untuk paru-parunya bekerja keras menukar udara.

Meski saat itu Kusamoto sangat terfokus pada bagaimana ia bisa memaksa kakinya dan refleksnya untuk bekerja lebih cepat, namun ia tetap dapat merasakan ketika sebuah bola lain baru saja dipukulkan dari arah belakangnya. Bola itu melesat cepat karena dipukulkan dengan tepat dan kuat, dan nyaris saja menembak pelipisnya jika ia tidak menghindar. Bola itu melesat ke arah tembok dan memantul, dan Kusamoto segera berlari untuk memukul bolanya sendiri kemudian bergegas berpindah arah untuk memukul bola dari belakangnya itu.

Membagi smash untuk dua bola yang cepat dan kuat tidak mudah –pukulannya melemah dan alih-alih memantul ke tembok dengan kuat, kedua bola itu hanya membentor semen dengan perlahan, kemudian berguling di atas lapangan, membentur tiang net dan terdiam. Kusamoto, nyaris kehabisan napas, menoleh ke belakang, berusaha melihat siapa pemukul bola itu. Ia memicingkan matanya –tidak begitu jelas, namun ia tidak membutuhkan kacamatanya untuk mengenali sosok dengan rambut kuning jerami yang berdiri di sana, dengan raket di tangan kanannya.

"Hiyoshi…" Ia berkata perlahan, di sela napasnya yang memburu.

"Kupikir aku ingin membalas menghajarmu, tapi kau bahkan tidak berharga untuk tinjuku," Hiyoshi berkata, matanya menyipit tajam. Ia mengeluarkan sebuah bola tennis lagi dari kantung celananya, dan melemparkannya rendah di atas udara, "Aku tidak ingin repot-repot turun ke bawah dan melihat wajahmu, jadi kupikir, aku bisa sedikit menghajarmu dengan tennis,"

Kusamoto terdiam. Tentu saja, bukannya ia tidak menyangka Hiyoshi akan membalas menghajarnya. Ia akan menerimanya –ini fair. Setelah yang ia lakukan pada Ohtori, ia bahkan akan menerima jika Hiyoshi mematahkan beberapa tulangnya.

"Aku tidak apa-apa jika kau menghajarku sampai setengah mati, tapi kumohon, aku harus ikut tes regular," Kusamoto berkata lirih. Ia gemetar. Ia rela berlutut. Ia harus bisa masuk regular, hanya dengan cara itu ia punya muka untuk menatap Ohtori lagi dan minta maaf.

"Namamu sudah kucoret, kau tidak ingat?" Hiyoshi bertanya sinis, "Kau sendiri yang bilang tidak sudi,"

"A-Aku menarik kembali ucapanku," Kusamoto mendongak, menelan ludahnya. Ia melihat ekspresi yang sangat marah di wajah Hiyoshi, nyaris membuatnya ingin menunduk lagi karena kakinya mulai gemetar, namun ia tetap memberanikan diri, membuka matanya lebar-lebar untuk menatap pada kedua bola mata gelap milik pemuda berambut pirang itu, "Aku… hanya dengan cara ini aku memiliki cukup harga diri kembali untuk minta maaf pada Ohtori…"

Hiyoshi menekuk alisnya. Ia tahu amarahnya sedikit meluruh di dalam hatinya, namun ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Menahan pikirannya untuk tetap membenci pemuda di hadapannya dengan sepenuhnya, Hiyoshi berkata dengan nada keji, "Kau tahu dia sudah memaafkanmu. Apa lagi yang ingin kau minta maafkan? Satu-satunya cara untuk menghapus perbuatanmu tadi hanyalah dengan tidak pernah muncul di depannya lagi,"

"Hem…" Sebuah suara lain muncul dari arah samping Kusamoto, "…Aku tidak begitu setuju dengan pernyataan itu. Dan aku tahu, Wakashi, kau juga tahu bahwa yang tadi kau ucapkan itu tidak benar,"

Kusamoto membelalakan matanya, melihat sosok itu keluar dari kegelapan, sinar lampu jalanan menyorot setengah wajahnya. Mata biru gelapnya berkilau kekuningan. Bahkan hanya dengan cahaya remang-remang, Kusamoto bisa melihat aura dan kewibawaan dari sosok yang benar-benar ia idolakan itu. Shishido Ryou mungkin sesungguhnya tidak sehebat itu, namun di mata Kusamoto, begitulah dia. Ia tersenyum, menatap lurus pada Kusamoto sebelum melemparkan pandangannya pada Hiyoshi, "Kau tahu Choutarou lebih lama daripada aku, Wakashi. Aku tahu kau tahu Ohtori pasti akan sangat senang kalau Kusamoto mau mencoba test regular lagi,"

Hiyoshi mengerutkan kening. Kenapa dia ada di sini? Ia terdiam, menorehkan matanya ke arah lain. Tentu saja, dia tahu. Tapi dia sangat marah pada Kusamoto, dan dia pikir itu normal. Shishido seharusnya mengerti perasaannya ini. Shishido seharusnya juga penuh dengan rasa ingin balas dendam pada Kusamoto.

"Kau, Kusamoto-kun," Shishido beralih pada Kusamoto. Kusamoto berjengit kaget, menjawab panggilan itu dengan nyaris berteriak saking gugupnya dengan kehadiran Shishido, "Y-Ya! Senpai?"

"Bukannya bohong kalau sekarang pun aku ingin menghajarmu sampai mati," Shishido menatap Kusamoto tajam, dan pemuda itu menelan ludah. Ia menunduk, "Aku… tahu kesalahanku. Tapi aku yakin benar-benar ini caranya agar aku punya muka untuk menghadap Ohtori. Aku yang sekarang rasanya sudah rendah, sangat sangat rendah…"

"Nah, aku setuju dengan pikiranmu itu," Shishido menyunggingkan sebuah senyuman, "Karena itu, meski aku tidak bisa menyukaimu lagi, mungkin, tapi aku menghargai keputusanmu,"

Kusamoto menatap Shishido –senpainya ini benar-benar keren. Ia bijaksana, dewasa… pasti karena dia sudah melalui banyak hal dalam bertanding mau pun dalam hidupnya karena tennis. Kusamoto mengangguk dan berseru tegas, "Terima kasih, senpai!"

"Dan Wakashi, saranku…" Shishido mendongak kembali pada kapten tim Hyoutei sekarang, yang mengerutkan keningnya lebih dalam mendengar perkataan Shishido selanjutnya, "Semarah apapun kau, kau harus meredakannya dengan cara lain, kalau kau tidak ingin membuat Choutarou marah padamu. Kau tahu ia pasti akan sangat marah kalau kau melukai orang lain karena dia. Belum lagi, dia akan sangat sedih kau harus berkelahi demi dia,"

Tentu saja ia tahu. Ia tahu betapa pemuda berambut keperakan itu akan sangat marah dan sedih, dengan beragam alasan yang sangat baik dan sama sekali tidak egoistis sampai itu tidak manusiawi lagi. Ia memejamkan mata. Menelan ludah dengan getir. Dan menghela napas, membuat keputusan.

Baiklah. Ia tidak mau Ohtori cemas. Hanya itu.

Hiyoshi mengeratkan genggaman pada raketnya, dan berjalan menuruni tribun menuju lapangan. Ia berdiri di hadapan Kusamoto, dan berkata tajam, "Masuklah regular, minta maaf pada Ohtori. Memang hanya itu satu-satunya cara untuk membuatmu sedikit lebih berharga lagi,"

Kusamoto berjengit tegang. Namun kemudian Hiyoshi mengulurkan tangannya yang menggenggam raket tennis dan melanjutkan, "Kita damai sekarang. Setelah kau minta maaf dan masalah kalian selesai, aku akan mencari cara lain untuk menghajarmu yang tidak berkaitan dengan dia,"

Ketegangannya pun pecah menjadi sebuah senyuman. Kusamoto mengangguk, "Um, tentu. Aku juga tidak ingin lagi mengaitkan Ohtori dalam masalah apa pun,"

"Baguslah," Hiyoshi berbalik, dan berjalan beberapa langkah sebelum menoleh sedikit, menatap Shishido dengan dahi berkerut, "Aku… tidak begitu suka mengatakan ini. Tapi terima kasih,"

Shishido membalas rengutan itu, menekuk alisnya, "Adik kelas yang tidak manis," Tapi kemudian ia tersenyum, "Tapi sama-sama,"

Hiyoshi baru saja melanjutkan selangkah ketika Shishido berkata lagi, "Jangan lupa menjenguk Chou besok. Dia pasti rindu padamu."

Rambut jerami itu bergoyang ditiup angin seraya kepala itu menoleh agar sepasang mata hitam Hiyoshi bisa menatap Shishido lebih jelas. Shishido nyengir, dan Hiyoshi terdiam, kemudian berlalu.

Shishido mendengus, "Betul-betul tidak manis," Tapi kemudian ia kembali tersenyum, sebelum menoleh pada pemuda di belakangnya, "Nah, sekarang, Kusamoto… butuh partner berlatih?"