Readerdeuuuuul, ini sequelnya homin, tapi maaf masih sad and nggantung ending.

Lagi dapet moodnya buat sad ending melulu sih. Mianhae ya readerdeullll

.

.

.

Sequel I'm not suppossed to love you, hyung

.

.

.

Huuuuuuuhhhh, ini sudah bulan ke sembilan aku mengandung buah cintaku dan Yunho-ku. Ah, bukan, maksudku Yunho-ssi. Aegyaku mungkin akan lahir seminggu lagi. Aku sudah tak sabar menantinya. Pasti dia akan selucu dan seimut aku. Hihihi

Aaaah, halo lagi. Ini aku, Shim Changmin. Namja, sudah hampir 25 tahun dan sedang hamil sembilan bulan. Aku merasa damai tinggal disini. Disebuah kota kecil dipinggiran Seoul. Aku akhirnya memutuskan tinggal disini setelah kejadian sembilan bulan lalu.

Setidaknya aku bisa sembunyi dari mereka disini.

Kruyuuuuuk

''Aaaaah, aegyanya umma lapar lagi, kita liat dulu apa yang ada didapur ya sayang''

Ternyata persediaan makananku sudah habis. Sepertinya aku harus belanja lagi. Tapi setelah kuingat aku sudah tidak punya uang lagi untuk belanja, tapi kurasa untuk se-cup ramen cukup. Ya sudah, aegya maafkan umma ya. Lagi - lagi umma memberimu makanan tidak bergizi.

Beberapa bulan ini aku mencoba mencari pekerjaan. Tapi ternyata susah, apalagi dengan kondisiku yang sedang hamil. Aku hanya bisa bekerja menjadi kasir ditoko kelontong dengan gaji yang sangat pas - pasan. Beda dengan waktu aku menjadi sekertaris Yunho-ssi dulu. Eh jangan ingatkan. Dengan gaji yang tak banyak itu, sebagian aku tabung untuk persiapan kelahiran aegya, sebagian untuk membayar uang kos dan sisanya (yang sedikit) aku gunakan untuk makan. Seringkali aku makan makanan seadanya. Aku merasa malu dengan aegya, aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya...

''Maafkan umma aegya... Baru ini yang bisa umma berikan... Umma janji setelah kau lahir, umma akan berikan semua yang terbaik yang bisa umma usahakan...'' lagi lagi aku bermonolog dengan aegyaku yang sangat baik ini... Aku menangis, aku merasa gagal sebagai calon umma. Aku sangat berterimakasih kepada aegya karena dia sangat mengerti aku. Selama ini aku tidak pernah ngidam. Aegya tau sekali keadaan finansial ummanya. Dia juga tidak rewel selama ini. Hanya saja ada satu keinginanku yang sangat tidak bisa aku wujudkan...

Aku ingin ditemani Yunho-ssi. Bukannya apa - apa. Tapi kurasa semua orang hamil pasti ingin selalu dekat dengan pasangannya (harus kusebut apa Yunho-ssi itu?)

Terkadang aku menangis sendiri di apartemenku yang kecil ini. Menyedihkan bukan. Aku selalu memikirkan appa dari aegyaku ini. Aku bodoh sekali, memikirkan Yunho-ssi. Dia pasti sudah melupakanku sekarang.

Aah lupakan, sekarang aku harus beli ramen dulu, kasihan aegya kalo aku bermonolog terus, benarkan chingudeul?

.

.

.

Segera aku memakai mantel dan melangkahkan kakiku ke minimarket terdekat.

Aku ke rak ramen dan langsung mengambil satu cup. Ku bayar lalu aku menyeduh ramenku dimeja depan pinggir kaca.

Suap demi suap aku telan ramenku. Pedih sekali hatiku. Hanya bisa memberi aegya ramen. Sekali lagi umma minta maaf, maaf sekali.

5 menit kemudian aku selesai makan. Aku hendak keluar minimarket ketika merasakan kontraksi kuat diperutku.

''Aaaaaargggggggghh sakiiiiiiiiiiitttt'' teriakku yang mengagetkan kasir. Disini hanya kami berdua

'YA TUHAN TUAAAANNN, KETUBAN ANDA PECAAAAH'' kasir yang kuketahui bernama kibum itu panik. Kemudian dia berlari keluar dan menyetop sembarang mobil

kulihat seseorang berjas hitam keluar dan mencoba mendengar penjelasannya

kemudian dia dan tuan itu tergopoh menghampiriku yang sudah hampir kehilangan kesadaran karena sakit yang luar biasa

''Changminnie...'' kata - kata tuan itu tertelan oleh kegelapan begitu saja.

.

.

.

Aku terbangun dengan sakit yang luar biasa diperutku. Terasa disobek. Setelah kuraba ternyata sudah mengempes.

''Aegyaku...'' teriakku sambil meraba - raba perutku

''Changmin-ssi bayi anda ada di ruang bayi, sehat dan tampan. Anda jangan khawatir. Anda melahirkan secara caesar lima jam yang lalu'' jawab seorang suster kepadaku

huuuuh lega sekali aku. Ternyata sekarang aku sudah benar - benar menjadi umma. Rasanya bahagia sekali.

''Eeem, anoo, sus, boleh saya melihat baby saya?'' tanyaku

''Tentu saja, sebentar saya akan keruang bayi'' suster itupun berlalu dari hadapanku

tak berapa lama suster itu datang dengan bayiku. Setelah menyerahkan bayiku, dia beranjak meninggalkanku.

Aku menggendong bayiku untuk pertama kali, bahagianya :')

''Sayang, kau lucu sekali...'' kukecup pipi gembilnya berulang kali

Aku menggendongnya hingga dia teridur lagi. Lalu kupanggil suster untuk menidurkannya diruang bayi.

Aku penasaran dengan tuan yang mengantarkanku kesini. Dan ketika suster itu kembali keruanganku untuk memeriksa jahitan diperutku akupun bertanya padanya

''Kalo boleh tahu, apa suster tahu tuan yang membawaku kesini?''

''Oh, tuan jung, dia baru saja pulang lima menit sebelum anda bangun Changmin-ssi. Katanya dia ada urusan penting''

deeeeg

Tuhan, kenapa kau jahat sekali padaku...

''Oh'' hanya itu kata yang bisa aku lontarkan.

Otakku mulai bekerja, jangan sampai dia menghampiriku disini saat aku sadar. Aku harus segera pergi. Iya, besok aku akan pergi. Tak peduli dengan lukaku. Aku harus pergi.

.

.

.

Kurasa semalam aku ketiduran, buktinya saja aku sudah merasa diterjang sinar matahari saat ini. Segera saja ku buka mataku. Tapi apa yang kudapat pagi ini.

Kulihat sosok itu, yang menghantuiku setiap malam, yang berusaha aku enyahkan eksistensinya dihatiku. Berdiri gagah disitu bersama istri dan anaknya.

Seketika tubuhku kaku, lidahku beku. Aku gugup, aku... Kulihat jae-hyung menggenggam jemari Yunho-ssi dan begitu sebaliknya. Erat sekali

Aku berusaha membuang rasa sakit ini. Tidak, tidak seharusnya aku merasa sakit. Siapa aku? tidak, aku tidak pantas...

''Min, kemana saja selama ini'' suara bass nya berdengung ditelingaku

''...''

''Jawab Min... Aku mencarimu selama ini...''

''...'' Ya Tuhan, aku harus menjawab apa?

''Boo, kau tunggulah diluar, aku ingin bicara dengannya...'' ucapnya dingin, dia menatapku tajam dengan mata elangnya. Kulihat jae-hyung mengangguk. Yunho-ssi menarik tangannya lalu mengecup bibirnya sekilas. Aku tutup mataku... Tanganku mengenggam selimut erat. Berusaha menahan rasa nyeri akibat adegan mesra mereka.

Setelah kudengar pintu tertutup perlahan, aku buka kembali mataku. Kutemukan dia menatapku tajam. Masih sama seperti dulu...

''Kemana saja kau Min?'' dia mendekat

''Untuk apa bertanya Yunho-ssi, kita sudah punya hidup masing - masing''

greeep, tangannya melingkar ditubuhku

sejenak aku merasakan hangat. Tapi aku segera sadar. Kulepaskan pelukannya.

''Jangan lakukan ini Yunho-ssi, istrimu diluar...''

''Kenapa kau begini Min? Kau bilang kita tetap teman bukan? Kenapa kau begini?''

''Apa yang kau harapkan Yunho-ssi? Memang seharusnya begini sejak awal kan? Aku merasa nyaman dengan yang sekarang ini. Jadi jangan ungkit yang dulu lagi...''

''Tapi Min, kau bilang kita akan tetap berteman kan?'' ucapnya bergetar

Tahan Min, kau harus tegar...

''Entahlah Yunho-ssi, aku lupa. Lupakan saja kejadian yang dulu''

''Dia anakku kan min?''

Deg, pria ini selalu mengejutkanku dengan statementnya

''...''

''Anakku kan Min?''

''Iya Yunho-ssi, tapi jangan khawatir, dia akan kurawat dengan baik. Lebih baik kau pergi sekarang. Aku ingin istirahat''

Aku segera menyembunyikan badanku kebawah selimut.

Sreeet, dia menyingkap selimutku dan menarikku duduk.

Chu...

dia menciumku. Mataku terbelalak. Tapi segera kupejamkan. Tak kupungkiri aku merindukan ini. Tapi, jaejoong-hyung yang sedang menunggunya membuatku tersadar kembali. Kudorong dia keras - keras

''Hentikan ini Yunho-ssi. Jangan begini. Aku tersinggung. Keluarlah sekarang sebelum kupanggil suster.''

Dia berlalu, sekali lagi dia pergi dari hadapanku.

.

.

.

Pagi ini, aku ingin segera keluar dari rumah sakit. Walaupun bekas lukaku masih sakit luar biasa, tapi aku lebih khawatir kalau Yunho-ssi datang lagi.

Aku pergi ke bagian administrasi, alangkah kagetnya aku, semuanya sudah diurus oleh Jung Yunho. Lelaki itu tak pernah berhenti mengejutkanku.

Segera aku urus barang - barangku dan bayi lelakiku yang kuberi nama Shim Minho. Biarlah dia memakai namaku. Aku tidak ingin mengingat appanya lagi...

Perlahan aku keluar dari kamar rumah sakit dengan tertatih sembari menggendong Minho. Setelah sebelumnya aku tinggalkan sepucuk surat untuk Yunho-ssi.

Aku melangkah menuju apartemen kecilku yang sepi. Tapi, aku tak perlu khawatir lagi. Sepiku kali ini akan diobati oleh Minho-ku... Minho-ku, sekali lagi Minho-ku... Selamat datang dirumah aegya...

.

.

.

Dear Yunho-ssi

Lupakan jika kau pernah bertemu denganku Yunho-ssi. Lupakan jika aku pernah hadir. Sekali lagi lupakan Yunho-ssi. Ini terlalu sakit untukku. Jangan membuatku mengharap lebih lagi. Aku tahu itu takkan pernah terwujud... Untuk bersanding denganmu sama saja seperti mengeringkan lautan Yunho-ssi.

Kau sudah memiliki Jaejoong-hyung, kalian saling mencintai.

Itu sudah cukup untukku mundur dari hidupmu. Jangan menghiburku Yunho-ssi. Itu menyakitkan. Hehehe

Jangan khawatirkan menghilangnya aku. Aku sudah memiliki malaikat pelindung sekarang. Jangan merasa terbebani dan bersalah. Kau tidak bersalah. Sama sekali tidak. Dan jangan salahkan takdir.

Bahagiakan Jaejoong-hyung dan bayimu Yunho-ssi. Hilangkan rasa bersalahmu. Lupakan aku. Kumohon lupakan aku. Jangan mencariku karena aku sedang berusaha meraih kebahagiaanku dan bayiku. Kau juga harus bahagia. Sangat bahagia...

Aku takkan melupakan fakta bahwa kau adalah appa anakku. Tapi lupakan bahwa kau appa dari anak ini. Anakmu hanya satu. Anak kalian. Kumohon, dengan sangat...

Terimakasih banyak atas semuanya. Terimakasih banyak.

Changmin.

.

.

.

.

.

Oh readerrrrr ini apaaaaaaaaaaaa?

Aish entahlah, baca aja ya :)

aku mau tepar dulu, abis dikecup kokoh MiMi ini :)))