Jadi, readerdeul, heyyo bawa sequel geje lagi. Dan lagi - lagi angst. Tissue jangan lupa ya readerdeul hihihi.

.

.

.

.

3 tahun kemudian

.

.

.

''Minho-ya, kau dimana chagi?'' panggilku pada anak semata wayangku itu. Ini aku Shim Changmin lagi. Author bilang dia sedang dapat mood yang pas, jadi dia bikin sequel lagi hehe. .

.

Yang diatas bukan narasi yang asli #terus mana yang asli? Manaaaaa thoooooor# #author dibekep#

.

.

Haha maaf author sedang kumat dan butuh stress reliever

.

.

.

Original plot, Changmin's POV.

.

.

.

''Minho-ya, kau dimana chagi?'' panggilku pada anak semata wayangku itu. Hai, ini aku Shim Changmin lagi. Aku sedang mengubek seluruh rumah mencari si mungil tampan. Kemana ya anakku itu?

''mmaaaa, ummaaaaa kecoak maaa'' suara Minho menggema, haha anakku suka sekali keliling ruangan mensweeping kecoak. Aku segera menghampirinya dengan perasaan geli.

Hap, kugendong dia, kusingkirkan kecoak yang sudah K.O dilantai.

''Sayang, jangan main kecoak. Kau ini jorok sekali sih.'' ujarku sambil menggigit kecil pipi gembulnya

''Umma, lutttu kecoaknyaaaaaa'' cedalnya

''Ini waktunya bobok siang Minho-ya. Jangan main kecoak lagi''

kubawa Minho kekamarnya lalu kutidurkan dia. Tak begitu lama dia sudah tertidur.

Kriet,

perlahan pintu kamar terbuka.

''Min, keluarlah, ada yang ingin aku bicarakan...'' ucap namja gagah itu. Siapa ? Kalian bisa menebakkan? iya, siapa lagi. Namja yang menjeratku berulang kali. Namja yang tidak pernah mencintaiku. Namja yang bertanggungjawab atas Minho. Namja yang 90% fisiknya tercetak ditubuh mungil Minho. Iya, dia appa biologis Minho, Jung Yunho...

''Ne hyung'' aku segera menghampirinya.

Kami berdua menuju ruang keluarga. Disitu sudah ada Jae-hyung menunggu.

Yunho hyung mengecup bibir Jae-hyung lembut.

Nyut, nyeri sekali hati ini. Aku mencoba bertahan demi Minho. Aku sudah mencoba menghapus rasa ini. Ternyata 3 tahun belum cukup.

Aku hanya bisa tersenyum getir saat ini. Aku cukup tau diri dengan keadaanku.

Mereka kemudian duduk bersebelahan. Akupun menyusul duduk diseberang mereka.

''Ada apa hyung? Sepertinya penting sekali'' tanyaku. Setidaknya aku sudah pintar bermain topeng sekarang. Tidak ada yang tau betapa hebatnya sakit dihatiku ini. Melihat orang yang kau cintai bersanding sangat bahagia dengan pasangannya.

''Orang tua kami akan berkunjung Min...'' kali ini Jae-hyung angkat bicara.

Aku melebarkan mataku . Bagaimana ini? Selama ini mereka tidak pernah berkunjung, kenapa tiba tiba sekali?

''Maka dari itu Min, tolong kerjasama dengan kami, ikuti saja apapun yang kami katakan.'' ujar Yunho hyung

Nyut, nyeri itu lagi

''Baiklah hyung. Tanpa kalian beritahu aku pasti akan tau posisiku. Kalian jangan khawatir. Jam berapa mereka datang?''

''Jam Tujuh Min, sekalian makan malam'' jawab Jae hyung

''Ne, aku kekamar dulu kalau begitu, nanti kalau sudah agak sore aku akan turun membantu menyiapkan makan malam'' ujarku. Segera aku berjalan menuju kamarku dan Minho. Menahan perih dan air mata yang segera menetes ini.

Sesampai dikamar aku tak bisa lagi menahan air mata ini. Rasanya sakit. Sakit sekali. Disaat seperti ini aku sangat membenci kata 'tau diri'. Disegala puncak kesedihanku selalu terbatas kata 'tau diri'. Aku selalu menyesali keputusanku untuk ikut hidup ditengah rumah tangga Yunho hyung dan jae hyung. Tapi aku selalu memikirkan masa depan Minho.

Kenapa aku bisa ada disini, itu cerita panjang. Ingatkan dulu aku pernah kabur dengan Minho. Ternyata dengan mudah Yunho hyung menemukanku diapartemen mungilku itu. Rasanya aku sudah bersembunyi ditempat terpencil, tapi masih saja bisa ditemukan.

Saat aku sedang menyusui Minho tiba - tiba Yunho hyung datang dan membujukku dengan begitu hebatnya. Berdalih demi kesejahteraan Minho dia berhasil membuatku setuju dengannya. Dan akhirnya, aku tinggal disini dengannya. Menjalani hidup selama 3 tahun dengan luka menganga dalam hati. Dan tak seorangpun tahu. Aku sudah bilang kan? Aku ini pintar bermain topeng sekarang. Setahu mereka, aku baik - baik saja. Aku mengobati lukaku dengan Minho. Melihat dia bahagia aku jadi lupa dengan lukaku. Senang sekali melihat Minho akrab sekali dengan hyungnya, Moonbin. Putra sah dari pernikahan Yunho hyung dan Jae hyung.

Tak terasa, karena keasikan menangis aku tertidur dilantai.

.

.

.

.

''Umma, kenapa tidul dilantai? Umma bangun, dingin sekali nanti macuk angin''

aku terbangun mendengar celotehan Minho. Aku tersenyum padanya. Tampannya anakku. Mukanya begitu mirip dengan appanya.

''Umma ketiduran sayang, ayo keluar, kau main dengan hyungmu ya. Umma mau membantu Jae umma memasak'' kuraih Minho lalu kugendong dia

''Ne umma. Muaaaah'' jawabnya sembari mencium pipiku. Manisnya putraku ini. Aku tersenyum sendiri

.

.

.

.

''hyung, sudah sampai mana?'' tanyaku pada Jae hyung

''Ini bantu aku memotong sayuran, repot sekali memotong sendiri... Haha'' ujarnya sambil bercanda.

''Ne hyung, tenang saja ada Changmin disini siap membantu hehe'' celotehku

''Min... Maafkan aku atas keadaan ini...'' ucap Jae hyung

''Apa maksud hyung? Tidak ada yang perlu dimaafkan disini hyung, kau tidak salah. Aku tidak merasa dirugikan'' ujarku sesantai mungkin

Setelah itu kami kembali bercanda dan kembali asik memasak. Haha dasar umma - umma.

.

.

.

Skip time

.

.

.

Meja sudah diatur. Cukup untuk menampung kami dan orang tua hyung berdua. Aku cukup tegang saat ini. Aku merasa sesuatu yang besar akan terjadi malam ini.

''Umma kenapa kita belpakaian lapi cekali?'' tanya Minho memasang puppy eyes, uuuu manisnyaaaaa

''Kita akan kedatangan Kakek dan Nenek sayang'' jawab Yunho hyung sambil meraih Minho dalam gendongannya

''Uuuh? Minho punya Kakek Nenek ya?'' celetuknya

Yunho hyung dan Jae hyung hanya tertawa.

ting toooong ting tooooooong

''Yeobo buka pintunya cepat'' suruh Yunho hyung pada Jae hyung

segera Jae hyung melesat.

Tak begitu lama dia kembali bersama sepasang namja dan yeoja yang tak diragukan lagi adalah orang tua Yunho hyung, karena setahuku tadi Jae hyung bilang orang tuanya sedang ada diJepang dan belum bisa menjenguknya, mereka bilang mungkin lain waktu kepada Jae hyung.

Mereka nampak berbasa basi sebentar. Mereka berpelukan layaknya orang yang sudah lama tak bertemu (memang benar)

''Aigoooo Yunnie-ya Joongie-ya kami merindukanmu...'' ujar Tuan dan nyonya Jung

lagi - lagi atas dasar tau diri aku menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang tadi belum dikeluarkan dimeja makan.

Minho dan Moonbin tadi kulihat bersama mereka

''Min, ayo makan'' ajak Jae hyung. Aku tersadar dari lamunanku dan segera mengikutinya menuju meja makan. Aku duduk dipaling ujung. Seakan menjauh dari keharmonisan mereka. Aku merasa segan, lebih tepatnya tidak pantas.

Acara makan pun dimulai. Semua tampak tenang hingga nyonya Jung mulai angkat bicara.

''Yun, siapa anak kecil itu?'' ujarnya sambil menatap Minho yang sedang asik makan

''Dia anakku umma, namanya Minho. Jung Minho'' memang semenjak datang kesini, dia memaksaku memakai marga Jung untuk Minho. Aku sangat keberatan, tapi lagi - lagi atas desakan demi Minho kelak aku mengalah.

''Jae, kapan kau hamil lagi? Kenapa tak bilang pada Umma?'' tanyanya lagi

kami bertiga saling bertatapan. Jantungku berdetak kencang sekali. Firasatku tidak meleset. Akan terjadi hal besar saat ini.

''Halmeoni, Minho ini anak appa dengan Changmin hyung.'' celetuk Moonbin dengan muka polosnya

Aku semakin berdebar. Aku hanya bisa menunduk.

Duaaaaag

Yunho hyung tesungkur. Pipinya lebam karena tonjokan keras tuan Jung. Aku terlonjak, kaget. Jae hyung segera menghampirinya.

''Dasar anak bejat! Siapa yang menyuruhmu menikah lagi? Aku tidak menerima menantu lain selain Jaejoong! Kau tau itu!'' teriak tuan Jung

''K..ka..mi tidak menikah tuan.'' ucapku terbata - bata sambil terus menunduk

pyuuuuur

wajahku basah karena disiram air oleh nyonya Jung.

Air mataku meleleh

Minho memelukku ketakutan, Jae hyung segera menyuruh Moonbin membawa adiknya kekamar. Tinggal lah kami para dewasa dalam suasana mencekam.

.

,

.

Kami berpindah tempat diruang keluarga. Tuan dan nyonya Jung duduk dihadapan kami bertiga

''Sekarang jelaskan apa - apaan ini? Kalian mau mempermalukanku? Hah? Lihat kelakuan kalian'' geram tuan Jung . Nyonya Jung tampak diam dan menahan amarahnya. Dapat kulihat urat - uratnya menegang karena emosinya tinggi.

Yunho hyung mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Tanpa ditutupi, semuanya. Benar - benar semuanya.

Plakkkkk plaaaaaakkk

Dua tamparan melayang mengenai pipiku Kanan kiri.

Nyonya Jung tadi menyiramku dan sekarang menamparku. Bahkan bajuku belum kering...

Aku... Hanya bisa menahan air mata. Tak sepantasnya aku menangis sekarang.

''Umma !'' teriak Yunho hyung.

''Diam Yun! Jangan membela namja murahan itu!'' teriak Tuan Jung

tesss, aku mengalah pada air mataku. Sakit sekali. Sungguh...

''Dia bukan namja murahan appa!'' balas Yunho hyung. Semakin dia membelaku semakin aku sakit...

''Lalu apa Yun? Kalau bukan murahan kenapa dia mau kau tiduri dan kau ajak tinggal dengan istrimu hah?'' teriak tuan Jung lagi.

''Sudahlah, Yun, Jae kalian uruslah anak kalian itu. Kami ingin bicara dengan namja murahan ini sekarang juga!'' geram Nyonya Jung

Yunho hyung ingin berkelit. Tapi aku segera mengusap lengannya

''Tak apa hyung, mereka pasti ingin membicarakan hal penting dengan namja murahan ini. Kalian pergilah, tidak usah khawatir. Namja murahan ini sudah biasa...'' bisikku padanya

''Min! Kau ini bukan namja murahan!'' teriaknya padaku

Aku hanya tersenyum

''Sudahlah hyung, pergilah. Jangan sampai Moonbin dan Minho mendengar ini semua...'' pintaku

''Jae hyung, jebal, temui mereka hyung'' aku mengiba pada Jae hyung juga.

Akhirnya mereka mengalah dan keluar. Tinggal lah aku disini bersama tuan dan nyonya Jung ini.

''Apa motivasimu tinggal disini pengemis?'' tanya nyonya Jung

deggg, pelupuk mata ini berair lagi

''Yunho hyung memaksaku tinggal disini. Aku juga ingin hidup Minho terjamin'' jawabku sambil menahan isak

''Pergi dari rumah ini namja murahan'' ucap nyonya Jung datar dan meremehkan

''Apa kau tak merasa malu pada mereka. Kau tadi dengar kan? Yang Yunho harapkan itu hanya Minho. Dia menyuruhmu tinggal disini karena kasian saja.'' lanjutnya. Tuan Jung lebih memilih diam saja saking emosinya. Ingatanku kembali pada saat Yunho hyung menceritakan kejadian yang lalu. Dia sempat bilang dia tidak mencintaiku. Dia hanya ingin bertanggungjawab saja.

''Tinggalkan Minho disini, dia akan lebih sejahtera disini'' ujar nyonya Jung lagi

''Tapi dia anakku. Aku tak bisa hidup tanpa dia'' aku lemas, bagaimana bisa seorang umma hidup berpisah dengan aegyanya?

''Kau bilang tadi ingin Minho sejahtera. Aku pastikan Minho akan menderita jika kau membawanya. Aku bisa berbuat apapun namja murahan! Ingat itu!'' teriaknya

plakkk

Dia menamparku lagi pipiku bengkak. Tanpa kusadari tuan Jung berjalan kearahku dan

duaaaaghhh

dia menonjokku. Kurasakan darah mengalir dari hidungku bersamaan dengan air mataku yang menetes.

''Pergi dari hadapan kami. Kami akan pulang sekarang. Akan kualihkan perhatian Yunnie dan Joongie, kau bisa menyelinap ke kamarmu dan berkemaslah. Segera pergi dari sini sebelum besok pagi. Kau ingat! Kalau kau macam - macam, kami bisa berbuat apapun yang kami mau'' ujar tuan Jung sambil mendorongku ke lantai.

Tuhaaaaaaan, ini sangaaat sakiiiiiiit.

''Hiksss hiksss hikssss'' kulihat mereka keluar dari ruang keluarga. Mereka mengalihkan perhatian dan aku segera mengendap masuk kamar dan berkemas. Tak butuh waktu lama, karena barangku sedikit. Setelah selesai. Kusimpan koperku dibawah kasur dan segera membersihkan luka.

.

.

Klek. Kudengar pintu terbuka. Kulihat Jae hyung dan Yunho hyung masuk.

''Minho tidur dengan Moonbin. Dia ngantuk sekali tadi'' ujar Yunho hyung

aku hanya tersenyum.

''astaga Min, mukamu kenapa?'' panik Jae hyung

''hah? Memang mukaku kenapa hyung?'' jawabku sambil cengengesan

''kau tidak dipukul Umma dan Appa kan?'' sambung Yunho hyung dengan wajah cemasnya

''Oh, ini, pasti lebam ya? Hehehe tadi waktu kalian ngobrol sebelum tuan dan nyonya pulang aku naik kekamar, tapi terpeleset, aku memanggil kalian tapi kurasa kalian sedang mengantar mereka kedepan jadi tidak dengar hehehe'' aku tersenyum. Bohonglah terus Min. Haha tidak ada yang lebih pandai bermain topeng selain aku.

''oh, maafkan kami Min... Sakitkah? Lebamnya parah sekali...'' sesal Jae hyung

''aku tak apa hyung. Ini hanya luka kecil. Sudahlah kalian tidur saja. Ini sudah larut. Jam 12 malam waktunya istirahatkan hehe'' usirku lembut

''Jumuseyo Min.'' ucap mereka berdua bersama lalu keluar kamar

''Ne, nado jumuseyo Hyung'' aku membetulkan selimutku tak lupa memasang alarm tepat jam 2. Aku akan segera pergi ke China setelah ini. Dengan uang yang kudapat setelah bekerja menjadi sekertaris Yunho hyung lagi kurasa cukup.

.

.

.

2am

.

.

.

Aku menarik koperku. Lalu mengendap keluar. Menuju kamar Moonbin. Kukecup dahi Moonbin, selama ini dia hanya memanggilku Umma sekali. Dia langsung kutegur, aku merasa tak pantas dia panggil umma. Jadi kusuruh dia memanggilku hyung hingga sekarang.

''Jaga adikmu Binnie-yah'' kukecup lagi dahinya

lalu aku menuju Minho. Kekecupi seluruh bagian wajahnya. Kuambil fotonya sembunyi - sembunyi. Aku ingin selalu ingat putra manisku ini. Walaupun aku tau, sebentar lagi mungkin dia akan melupakanku.

''Minho-ya, umma akan sangat sangat sangat merindukanmu baby. Jaga diri baik - baik, jangan menyusahkan orang lain. Kau harus menjadi anak pintar sayang...'' sekali lagi kukecupi seluruh wajahnya.

Air mataku tak dapat kutahan lagi... Aku segera meninggalkan kamar mereka. Pelan - pelan aku lalui rumah yang tiga tahun ini menampungku. Manis getir hidup kusesap disini. Aku bertahan dengan cintaku yang mengendap kepada Yunho hyung. Endapan yang sudah entah berapa kilometer panjangnya...

Hingga aku sampai dipintu ini... Pintu yang akan menjauhkanku dari cintaku... Dari Yunho hyung, Minho... Dan semuanya. Kuharap aku akan benar - benar lenyap dari pandangan mereka. Kuharap tidak ada keberuntungan yang membuat Yunho hyung menemukanku lagi. Kuharap mereka bahagia. Kuharap mereka cepat melupakanku.

Aku Menyetop taxi lalu menuju bandara. Aku pesan tiket penerbangan paling pagi ke China via mobile. Jam 4 nanti.

Selamat tinggal semuanya...

Cinta memang tak selalu berakhir indah. Seberapapun air mata kau keluarkan... Cinta hanya berpihak pada garis takdir. Jika kau bukan takdir cintanya... Pelan - pelan kau akan terjauhkan darinya... Sosok yang kau cintai...

.

.

.

.

.

All done readerdeul, no more sequel for this story again. Ini penghabisannya hihihihihihihihih

#maaf bang Changmin, ini cuma fiksi kok. Aslinya kan abang gak segitunya yak#

hihi tebar kecup Mimi-ge lagi :*