BRUGHHH

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Naruto keburu limbung dan kehilangan kesadarannya. Untung saja Sasuke dengan sigap menangkap tubuh Naruto sehingga si pirang berkulit tan itu tidak sampai jatuh membentur lantai.

'Hn. Dia memang selalu ketiduran saat bermain, lebih baik ku bawa saja.' Sasuke pun lalu terbang melalui jendela sambil menggendong Naruto ala bridal style – dengan menundukkan kepala tentunya, agar tidak terbentur seperti saat ia datang tadi.

.

.

Title: Night Kingdom

Desclaimer: Mas Kish (Kishimoto-sensei: sialan lu! Seenak jidat ganti-ganti nama gue!)

Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing (?) terserah kalian sajalah XD

Pair: Sasuke x Naruto

Warning: abal, geje, nista, bikin muntah, typo berkeliaran dimana-mana dan masih banyak lagi

Chap 2: The Uchiha

.

.

"Ngghh..." Erangan pelan Naruto mengalihkan konsentrasi Sasuke yang sedang terbang menggendongnya. Ditatapnya wajah tan dengan tiga garis halus di masing-masing pipi itu yang mulai menampakkan kembali kilau sapphire kesukaan Sasuke.

"Sudah bangun Dobe?"

Naruto yang merasa dipanggil + dipeluk erat itu langsung meronta.

"Le – lepaskan aku 'Suke.. Dasar Teme mesum! Lepaaaasss!"

"Diam Dobe. Kau bisa jatuh.." ucap sasuke tenang, menyembunyikan rasa khawatir – kalau-kalau Naruto terlepas dan terjatuh – dibalik topeng stoicnya dengan sangat sempurna.

"Ehh tunggu.. Apa itu?" Naruto berhenti meronta setelah menyadari bahwa dirinya sedang terbang bersama Sasuke. Takut kalau jatuh, Naruto pun melingkarkan lengannya di leher Sasuke dengan erat.

'Sebuah kota melayang dengan bulan purnama yang begitu dekat. Ini malam kan? Langitnya gelap begitu. Tapi kenapa di kota itu sama sekali tidak gelap? Tidak ada lampu ahh di sana..' Naruto melirik Sasuke sejenak, kemudian melanjutkan tatapannya ke arah kota yang kini sudah berada di bawahnya itu.

'Kota berselimut salju dengan langit malam yang begitu dekat. Tanpa bintang, dengan hawa sejuk – tidak dingin –, tempat apa ini...' batin Naruto terus bertanya tanpa henti. Dia tidak menyadari bahwa Sasuke telah 'mendarat' dengan selamat di sebuah taman.

"Selamat datang di rumahku.." ucapan Sasuke kontan membuyarkan Naruto dari lamunannya. Segera dilepaskannya lengan yang sedari tadi bergelayut di leher jenjang Sasuke.

"Ahh Pangeran Sasuke. Okaeri.. " seorang pemuda berambut panjang berwarna coklat tua dengan mata lavender tanpa pupil tersenyum ramah menyambut kedatangan Sang Pangeran. Dibukakannya pintu besar berwarna putih, kemudian memersilakan Sasuke masuk.

"Hn" jawab sang pangeran singkat, padat dan sangat tidak jelas.

Dengan gaya –sok- cool dan poker face kebanggaannya, Sasuke melewati pemuda lavender itu sambil menggandeng – lebih tepatnya menyeret – lengan kanan Naruto.

"Nee ~ Teme.. jadi ini rumahmu ya... Besar sekali.." Naruto sibuk mengamati 'rumah' Sasuke sambil mengikutinya dengan langkah yang terseret-seret.

Si Teme yang dipanggil hanya diam sambil menghentikan langkahnya yang telah sampai di sebuah ruangan besar bercat karamel dengan berbagai pajangan guci yang terlihat mewah.

Sementara beberapa orang (baca: makhluk-entah-apa-namanya) yang mendengar ucapan Naruto terbelalak kaget.

"Maaf Tuan, Sasuke-sama adalah Pangeran disini. Jadi saya harap Anda memanggilnya dengan sebutan yang lebih sopan." pemuda lavender yang sedari tadi mengekor di belakang mereka pun mulai angkat bicara. Ditatapnya Naruto dengan pandangan datar, tapi mengerikan.

"Biarkan saja Hyuuga. Dia calon mempelaiku. Terserah dia mau memanggilku seperti apa." kalimat – yang menurut makhluk-makhluk-yang-entah-apa-namanya itu cukup panjang – yang terlontar dari bibir Sang Pangeran pun sukses membuat semua yang ada di ruangan itu (minus Naruto dan Sasuke tentunya) membuka mulutnya lebar-lebar hingga lalat pun dengan bebas keluar-masuk.

"Teme ~ mereka tadi bilang apa?" Pemuda pirang menarik-narik lengan baju Sasuke dengan tangan kirinya.

"Hn?"

"Siapa yang pangeran?" Tanya penggila ramen itu lagi.

"Aku." jawab si raven pantat ayam dengan singkat. Tentu saja hal itu membuat Naruto sangat terkejut.

Bagaimana tidak?

Pemuda yang sejak kecil menjadi cinta pertamanya – yah walau sempat lama menghilang sih – ternyata adalah seorang pangeran dari dunia-entah-apa-ini.

"Aku ingin ke kamar sebentar. Kalian.. Jaga Naruto baik-baik. Dan jangan lupa untuk menyediakan semua yang dia inginkan." perintah Sasuke seraya berjalan melewati pintu hitam besar yang ada di sebelah kanan seekor rakun berwarna coklat kemerahan.

"Neji. Ikut aku." lanjut Sasuke.

"Ha'i. Sasuke-sama..." Pemuda yang dipanggil Neji – sebelumnya sipanggil 'Hyuuga' oleh Sasuke – segera mengikuti langkah Sang Pangeran Es.

Sementara makhluk-makhluk lain yang berada di ruangan itu – minus Naruto – hanya bisa berdiri mematung dengan rasa kaget yang bergelantungan dalam diri mereka.

Sasuke 'The Ice Prince' yang terkenal dingin dan pelit bicara itu bisa mengucapkan kalimat sepanjang itu? Wow!

Suasana menjadi hening...

"Ne .. Si Teme itu beneran pangeran di sini ya?" Naruto memecah keheningan di antara makhluk-makhluk aneh itu. Pertanyaannya ditujukan entah kepada siapa.

"Tentu saja begitu." jawab seekor rakun coklat kemerahan yang ada di dekat pintu yang dilewati Sasuke tadi.

'Woww bahkan panda bisa berbicara. Tempat ini sangat mengagumkan..' pekik Naruto dalam hati.

"Ano Tuan Panda... Apa semua hewan disini bisa bicara?" tanya Naruto pada si rakun – yang dianggap Naruto adalah seekor panda.

"Kau bertanya pada siapa?" merasa dipandangi oleh Naruto, si panda – atau rakun, entahlah – langsung balik bertanya.

"Tentu saja kau. Memangnya ada panda lain di sekitar sini?" Naruto nyengir kuda.

'twich'

Muncul urat kemarahan di dahi kanan sang tuan 'panda'. Sementara makhluk-makhluk lain yang berada di ruangan itu hanya bisa menahan tawa. Tidak berani melepaskan tawanya, takut terkena amukan si panda.

Melihat keheningan yang tercipta, Naruto pun mulai angkat bicara.

"Umm ada yang salah?" dengan muka polos, Naruto mengedarkan pandangannya. Menatap makhluk aneh itu satu per satu. Mencari jawaban dari keheningan yang menyelimuti mereka.

"Begini Tuan – "

"Uzumaki Naruto. Panggil Naruto saja" blonde imut itu memotong kalimat seorang pemuda berambut coklat pendek dengan tato segitiga di masing-masing pipinya, serta telinga anjing di kepalanya.

"Baiklah Naruto.. Kami semua memang dapat bicara.." lanjut si pemuda anjing itu.

"Lalu sebenarnya, makhluk apa kalian ini? Ini tempat apa?" Naruto semakin penasaran.

"Ini adalah dunia langit.. Lebih tepatnya 'Night Kingdom'. Kau tahu sendiri kan kenapa dinamakan seperti itu?"

Naruto hanya manggut-manggut. Tentu dia tidak bodoh. Langit malam, bulan yang sangat besar, pasti itu alasan tempat ini diberi nama 'Night Kingdom'.

"Dan mengenai makhluk apa kami ini.." pemuda itu tampak ragu.

"Bisa disebut kami siluman.. atau semacam itulah." sahut 'Tuan Panda'.

"Ahh kupikir kau mendadak tidak bisa bicara Tuan Panda.." merasa dipanggil dengan nama aneh (lagi) oleh pemuda asing yang kini menunjukkan cengiran lebar itu, si rakun memajukan langkahnya dan bersiap untuk memberi Naruto 'hadiah'.

"Tenanglah Gaara. Kau tidak mau Sasuke-sama membunuhmu kan?" pemuda anjing menenangkan tuan panda yang dipanggil 'Gaara' itu.

'Jadi namanya Gaara. Bukan Tuan Panda..' gumam Naruto dalam hati.

"Sebelumnya perkenalkan. Aku Inuzuka Kiba. Bisa dibilang siluman anjing. Dan ini Akamaru, adikku..." pemuda anjing itu memerkenalkan dirinya, juga seekor anjing yang sejak tadi berada di sampingnya.

"Salam kenal." sambut duo Inuzuka itu bersamaan.

"Salam kenal..." balas Naruto ceria.

"Dan yang itu – " Kiba melirik Gaara, "Namanya Sabaku no Gaara. Dia rakun, bukan panda..."

"Ehh? Gomen ne Gaara.. Aku tidak tahu kalau kau ini rakun. Ku pikir panda.." Naruto menatap Gaara teduh, menyiratkan penyesalan yang mendalam di sapphire-nya yang indah. Moodnya berubah murung hanya karena salah mengenali rakun.

Melihat hal itu, si rakun sedikit terhenyak.

'Anak ini.. Apa dia sebegitu menyesalnya?' ujar Gaara dalam hati.

"Kurasa panda tidak terlalu buruk." ucapnya kemudian, masih dengan raut wajah tanpa ekspresi.

"Benarkah? Ahh kupikir juga begitu.." sesal di wajah Naruto langsung menghilang setelah mendengar pendapat Gaara yang tidak diduganya itu.

Sementara Kiba hanya dapat menatap rakun yang kini berada di sebelahnya itu dengan tatapan heran.. 'Kenapa Gaara bisa semudah itu memaafkan orang yang – bisa dibilang – mengejeknya?' Seumur-umur baru kali ini Kiba melihat Gaara yang seperti itu.

"Dan yang itu.." Kiba menunjuk seorang wanita berambut biru dengan hiasan mawar kertas di salah satu sisi rambutnya, "Namanya Konan. Dia bisa membuat apapun dengan kertas. Bahkan bisa mengubah dirinya menjadi kertas."

Konan mengangguk hormat ke arah Naruto, sementara Naruto makin berdecak kagum akan kehebatan mahluk-makhluk disini.

"Dan Venus Flytrap itu adalah Zetsu.. Yang disebelahnya Kisame. Dia siluman Hiu, yang itu ..." Kiba memerkenalkan mereka semua kepada Naruto. Naruto yang penasaran dengan Makhluk di sini pun mendengarkan penjelasan Kiba.

"Ne ~ Kiba.. Apakah – "

"Maaf Naruto-sama.." Baru saja memotong penjelasan Kiba, ucapan Naruto sudah dipotong lagi oleh Neji yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

"Panggil Naruto saja. Tidak usah pakai embel-embel'. Aku tidak suka." sahut Naruto sedikit merengut.

"Baiklah Naruto, Sasuke-sama memanggilmu." ujar Neji.

"Mau apa?" tanya Naruto sedikit sebal. Jujur dia tidak suka Sasuke menyuruh-nyuruh orang hanya untuk melakukan hal sepele seperti itu – memanggilnya.

"Kau disuruh masuk ke kamarnya. Katanya ada yang ingin di bicarakan." lanjut pemuda Hyuuga itu sambil membukakan pintu yang tadi dilewati Sasuke.

'Huh. Pria ini tak kalah menyebalkan dari si Teme Pantat Ayam itu' batin si pemuda ramen-freak.

Merasa tidak punya pilihan lain, Naruto pun menyetujui untuk bertemu dengan Sasuke.

.

Sesampainya di sebuah ruangan besar yang didominasi warna hitam dan dongker Naruto menemukan sesosok berambut pantat ayam yang tengah berdiri di balkon.

"Kau boleh pergi Neji." suara baritone merdu menyapa gendang telinga pemuda pirang acak-acakan.

'Aku tidak pernah memerhatikan kalau suara Sasuke semerdu itu'

"Ha'i, Sasuke-sama" si mata lavender tanpa pupil itu pun langsung menghilang entah kemana.

Sejenak hening tercipta di antara keduanya.

"Nee, Teme." si pirang akhirnya membuka percakapan.

"Hn?"

"Kau benar-benar seorang pangeran ya?"

"Menurutmu?"

Naruto terdiam. Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Ada getaran aneh di dada blonde ini. Entah apa yang sedang ia pikirkan, yang jelas matanya memancarkan err – kegelisahan?

Beberapa saat kemudian, kedua pemuda tampan itu – yang satu lebih cocok dibilang cantik sih – menghabiskan waktu dengan ngobrol ringan, walau hanya Naruto yang sedari tadi cuap-cuap, sementara Sasuke hanya menanggapi seperlunya – mengucapkan 'hn' atau bahkan diam sama sekali.

'Benar-benar menyebalkan. Apa ini yang disebut 'membicarakan sesuatu'? dasar pantat ayam!' runtuk Naruto dalam hati.

"Teme"

"Hn"

"Teme ~"

"Hn?"

"Sasukeee ~"

"Apa Dobe?"

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Hn."

"Gaahhh~~ apa hanya 'hn' yang bisa kau ucapkan? Kau ini sangat menyebalkan!"

"Kurasa itu tidak perlu dijawab." balas Sasuke dingin.

"Huh! Sebenarnya kau ini makhluk apa sih?" si pirang memiringkan kepalanya – penasaran.

"Akuma" jawab sasuke seraya menahan darah yang siap menyembur dari hidungnya.

'Sial. Si dobe ini tambah imut kalau berpose seperti itu. Tahan Sasuke.. Tahan. Jangan bertingkah seolah kau bukan Uchiha.'

"Maksudku, Gaara kan pan – maksudku siluman rakun. Kiba anjing. Lalu kau ini apa?" jelas Naruto.

"Hmm – " sang raven bergumam tak jelas.

"Biar aku tebak!"

"Hn."

"Kau ini siluman ayam kan?"

'twich'

Empat sudut siku-siku tiba-tiba nongol di jidat Sang Pangeran. Sementara pemuda manis di depannya menyunggingkan cengiran yang menurut orang-orang membuatnya mirip rubah.

"Rambutmu yang mirip pantat ayam, lalu sikapmu yang galak itu.. Tak salah lagi. Kau benar-benar siluman ayam kan?"

'twich' 'twich'

'Si dobe ini. Kalau saja dia tidak manis dan bukan kekasihku, aku pasti sudah memakannya' geram Sang Pangeran Ayam dalam hati *chidored*

"Sasuke-sama, anda sudah ditunggu untuk makan malam..." belum sempat menyanggah pikiran Naruto, sebuah suara yang berasal dari luar kamar menginterupsi mereka berdua.

"Hn. Kau boleh pergi." jawab Sasuke.

"Nah Dobe, sekarang kau ganti baju." Sang Pangeran mengalihkan pandangannya ke arah Naruto.

"Tapi Teme.. Aku tidak bawa baju ganti." rengek Naruto.

"Tutup matamu." perintah Sasuke dengan nada datar (?) sambil mendekat ke arah Naruto.

" K – kau mau apa?" wajah si pirang terlihat panik. Namun sebelum sempat menghindar, tangan pucat sang raven sudah mencekal lengan tan Naruto.

"Kubilang tutup matamu."

Merasa tidak punya pilihan lain, Naruto pun akhirnya menurut.

Dirasakannya angin dingin menerpa tubuhnya sesaat setelah ia menutup matanya.

"Buka matamu."

Naruto menurut lagi. Matanya terbelalak saat melihat pantulan dirinya di sebuah cermin besar dengan bingkai kayu berornamen kasar di depannya.

" I – ini.."

"Cocok kan?" potong Sasuke sambil membelai rambut Naruto.

Sementara Naruto sedang mengamati bayangannya yang kini mengenakan pakaian yang hampir sama dengan Sasuke – pakaian khas kerajaan –, hanya saja Naruto tidak memakai jubah.

Pakaian yang dipakainya berwarna putih bersih dengan balutan warna emas di beberapa bagian, seperti ujung lengan dll. Dan jangan lupakan lambang kipas yang berada di punggung.

Sementara Sasuke memakai yang berwarna dongker dengan jubah hitam dengan motif emas yang sedikit lebih rumit dari punya Naruto.

"Kupikir warna putih cocok untukmu." dipeluknya pemuda pirang yang masih bengong itu. Dikecupnya lembut leher si pirang.

Dada si pirang berdesir mendengar suara baritone merdu yang mengalun lembut tepat di belakang telinganya.

"Ayo Dobe. Kita sudah ditunggu." Sasuke menarik lengan Naruto.

"Te – teme – " Sasuke membalikkan badannya, menatap mata Naruto, " – arigato.." lanjutnya dengan semburat merah menghiasi pipi.

Sasuke yang melihatnya hanya tersenyum lembut, menambah semburat merah di pipi Naruto makin menjadi.

.

.

"Kau lama sekali Otouto." kata seorang pria berperawakan hampir sama dengan Sasuke. Hanya saja pria ini berambut raven panjang – tidak dongker – dengan garis halus di masing-masing samping hidungnya. Jangan pernah menyebut 'benda itu' keriput atau kau akan merasakan panasnya Api Tsukuyomi.

"Diam kau Baka-Aniki!" Sasuke berjalan menuju meja besar tempat pria yang memanggilnya 'otouto' – dan dipanggilnya 'aniki' – dan dua orang lainnya yang juga berambut raven, berciri hampir mirip dengan Sasuke.

"Te – Teme ~~" rengek Naruto lirih, merasa langkah Sasuke terlalu cepat. Mengerti, Sasuke pun memelankan langkah kakinya.

Naruto tampak gentar memasuki ruangan yang lebih besar dari kamar Sasuke – yang menurutnya sudah sangat besar itu.

Dilihatnya ruangan dengan latar warna krem dan beberapa perabot mewah di pinggir tembok. Di tengahnya terdapat meja makan persegi panjang besar, terbuat dari kayu coklat tua dengan ukiran daun yang sangat indah.

"Duduklah.." suara baritone Sasuke membuat Naruto menurut.

Meja itu kini dihuni empat makhluk 'dingin' plus seorang Uzumaki.

Uchiha Fugaku, sang kepala keluarga duduk di ujung, pria paruh baya dengan aura kewibawaan yang sangat kuat.

Di sisi kirinya, Uchiha Mikoto, Kaa-san Sasuke, wanita berambut raven panjang dengan aura keibuan yang lembut tersenyum ramah ke arah Naruto, Naruto pun membalasnya dengan senyum tulus yang sangat manis.

Di samping kiri Kaa-san Sasuke, Uchiha Itachi. Aniki Sasuke.

Sedangkan Sasuke sendiri duduk di sisi kanan sang Tou-san dengan Naruto di samping kanannya.

Jangan lupakan keheningan yang menyelimuti mereka. Hal ini tak ayal membuat Naruto sedikit canggung.

Tungu? Kenapa Naruto bisa tahu nama mereka? Tentu saja karena Sasuke sudah mengatakannya pada Naruto saat mereka berjalan menuju ruangan ini. Menurut penuturan Sasuke, ada dua orang yang tidak ikut makan malam kali ini, Uchiha Madara – kakek Sasuke yang sedang mengunjungi teman lamanya, juga Deidara – istri.. err suami.. pokoknya pasangan hidup Itachi yang tengah mengandung 8 bulan dan lebih memilih menghabiskan makan malammnya di kamar.

"Nah kalian.. Ayo kita makan.." sang ibu rumah tangga mencoba mencairkan suasana dengan senyumnya yang hangat. Sangat berbeda dengan 'senyum' Uchiha yang lain.

Mereka pun mulai makan malam yang – menurut Naruto – sangat membosankan ini.

'Jangan-jangan makanan ini dibuat dari daging manusia.. Hii... aku tidak mau makan ahh.' Batin Naruto bergejolak.

"Kau tenang saja Dobe. Makanan ini sama seperti yang biasa kau makan kok. Makan yang banyak ya..." seakan membaca pikiran si pirang, Sasuke berbicara sambil mengambilkan sepotong sushi di piring Naruto ditambah bonus senyum lembut yang ditujukan hanya untuk Naruto.

Naruto pun hanya tersenyum malu-malu sambil menatap Sasuke seolah berkata 'terima kasih Teme, aku mencintaimu'. Ok! Lupakan dua kalimat terakhir. Itu hanya imajinasi Sasuke saja.

"Kau tidak sopan sekali Sasu-chan, memanggil orang dengan sebutan seperti itu." Mikoto, sedikit mengomentari tutur kata anaknya. Dia merasa tidak pernah mengajari putra bungsunya untuk mengucapkan kata-kata seperti itu.

"Kaa-san jangan panggil aku dengan embel-embel begitu." Uchiha paling musa menggerutu kesal dengan nada datar (?)

"Itu panggilan 'sayang' Otouto untuk kekasihnya Kaa-san." Itachi menyeringai jahil.

"Diam kau Baka-Aniki!" wajah stoic Sasuke mulai goyah.

Setelah itu, makan malam pun berjalan dengan suasana yang sedikit lebih hangat dari biasanya. Dibumbui pertengkaran aniki-otouto antara Itachi versus Sasuke.

'Ahh dengan kedatangan anak ini saja sudah membuat keluarga canggung ini lebih hangat.' Komentar Mikoto dalam hati sambil tersenyum memandang wajah Naruto yang memerah mendengar ejekan Itachi yang ditujukan untuk sang otouto – yang tentu saja menyangkut dirinya.

Sementara sang kepala keluarga, Uchiha Fugaku, memperhatikan Naruto dari ujung kaki sampai ujung kepala.

'Rambut pirang emas, bola mata sapphire, tunggu apa itu? Tiga garis halus di masing-masing pipinya? Seperti rubah saja. Andai Sasuke semanis ini.." batin Fugaku OOC. 'Nanti aku selidiki anak ini ahh...' lanjutnya bertambah OOC – masih dalam hati.

"Ehm.." deheman sang Fugaku menghentikan aktivitas mereka semua.

"Kau belum memperkenalkan anak ini kepada kami Sasuke." lanjutnya.

"Hn. Dia calon mempelaiku. Manusia biasa." gumam Sasuke yang cukup keras didengar dan dimengerti oleh semua penghuni ruangan itu. Tak ayal membuat wajah Naruto bersemu kembali.

"Naruto, perkenalkan dirimu!" perintah Sasuke seenak pantat ayam,

Perlahan Naruto berdiri dari duduknya.

"Perkenalkan saya Uzumaki Naruto, yoroshiku." ucapnya sambil membungkuk hormat.

"Kau tidak perlu seformal itu Naru-chan.." komentar Itachi.

Naruto menegakkan kembali badannya, kemudian tersenyum. Membuat si bungsu Uchiha sedikit esmosi melihat senyum sang kekasih yang ditujukan bukan untuknya.

Sasuke memberi isyarat untuk duduk kembali. Mengerti, Naruto pun menurutinya.

"Perkenalkan aku Uchiha Itachi, anikinya Sasuke. Aku raja disini loh... Wanita cantik disampingku ini Uchiha Mikoto, Kaa-san kami. Sedangkan pria tampan berwibawa di sana adalah Tou-san kami, raja sebelum aku." Naruto pun memberi senyuman hangat kepada mereka. Itachi dan Mikoto membalasnya, sementara Fugaku hanya ber-hn ria sambil menatap tajam sulungnya yang dengan seenak keriput memperkenalkannya dengan kata-kata – yang menurutnya konyol.

"Fugaku-sama, Mikoto-sama, Itachi-sama, suatu kehormatan bagi saya bisa berada di tempat ini. Terima kasih telah mau menerima kedatangan saya yang nista ini." sekali lagi Naruto memberi hormat dengan cara tersenyum.

"Naru-chan.. Sudah kubilang tidak usah terlalu formal kan?" Itachi tersenyum lembut,"Panggil aku 'Itachi-nii' saja. Atau akau akan mencubit pipimu?" kali ini senyum jahil yang terukir di bibirnya.

"Ha – ha'i Itachi-nii."

"Berani kau menyentuhnya. Kutambah keriput di wajahmu!" hardik sang otouto sambil tetap mempertahankan poker face kebanggaannya..

"Kau tega sekali my beloved-baka-otouto-chaaann ~~" Itachi dengan segala ke-OOC-an dan kenistaannya mulai pura-pura merajuk.

'bltaakk!'

"Hei kenapa kau melemparku dengan sendok?" Itachi mengusap jidatnya sambil menatap tajam sang adik.

"Kau pantas mendapatkannya!" dengan cool-nya Sasuke memasukkan sushi ke dalam mulut, seolah tak terjadi apapun.

Perang mulut diantara mereka berdua pun tak terhindarkan. Sang adik dengan stoic-flat no jutsu. Sedangkan sang kakak dengan OOC-nista-unUchiha no jutsu.

Naruto yang melihat pertengkaran kekanakan antara raja dan pangeran hanya bisa tersenyum geli.

"Dan kau boleh memanggilku 'Kaa-san', Naru-chan." ujar Mikoto lembut ke arah Naruto.

"Ta – tapi Mikoto-sama.." Naruto terbata, mukanya merona.

"Hn? 'Kaa-san'.." ralat Mikoto dengan senyum mengerikan. Benar-benar Uchiha. Wajah merona Naruto sedikit memucat.

"Kaa-san..." ulang Naruto.

"Bagus!" Mikoto pun tersenyum puas.

"Lagi pula kan sebentar lagi kau akan menjadi 'anakku', iya kan Sasuke?" lanjutnya.

"Hn."

"Lihat Kaa-san! Sasu-chan merona.." dan perang yang baru saja terhenti pun dimulai lagi.

'Benar kata 'Suke, hanya anikinya saja yang bersifat sangat-tidak-Uchiha' gumam hati Naruto sambil sweatdrop.

"Panggil aku 'Tou-san' " gumam Fugaku. Cukup jelas untuk didengar semua orang dan membuat aktivitas mereka terhenti sambil menatap Fugaku dengan tatapan seolah bertanya 'what did you say'.

"Apa?" sang kepala keluarga balik bertanya.

"Ba – baik Tou-san.." Naruto menjawab dengan pipi yang tambah merona.

Si ramen-freak itu benar-benar merasa bahagia. Bagaimana tidak? Keluarga dari orang yang sangat kau cintai merestui hubunganmu dengannya. Bahkan menagnggapmu sebagai keluarganya. Yah, walau awalnya ia ragu dengan perasaannya sendiri, entah mengapa saat berada di tempat ini Naruto merasa sangat nyaman.

The cickhen butt juga bahagia. Keluargamu merestui hubunganmu dengan kekasihmu. Bukankah itu kebahagiaan terbesar? Untuk saat ini, jawaban dari bibir Sasuke adalah 'YA'.

Uchiha yang lain juga merasakan hal yang sama. Bahagia.

.

.

"Nee Sasuke, makan malam tadi sangat menyenangkan ya?" tanya Naruto setibanya di kamar mereka.

Tunggu! Kamar mereka?

Ya. Sasuke tidak mengizinkan Naruto tidur di kamarnya sendiri.

Alasannya?

Tidak mau Naruto tersesat di istana yang besar ini saat si duren kuning itu tidak bersamanya. Dan masih banyak lagi.

Hei jangan menatapku begitu! Uchiha selalu mendapatkan yang mereka inginkan. Benar begitu kan?

"Tidak akan semenyenangkan itu tanpa dirimu." jawab Sasuke.

Sang Pangeran memeluk erat kekasihnya yang kini berdiri di balkon kamar mereka – lebih tepatnya kamar Sasuke – untuk melihat bintang.

Sasuke baru saja menceritakan bahwa perbedaan siang dan malam di tempat ini adalah dengan ada tidaknya bintang di langit.

Bisa disimpulkan bahwa mereka sampai disini saat hari menjelang siang.

"Dobe."

"Ya?" merasa dirinya dipanggil, Naruto membalikkan tubuhnya menghadap Sasuke tanpa melepas pelukan dari sang pangeran.

'chuu'

Wajah si rubah memerah merasakan bibir lembut pangeran menyentuh sudut bibirnya.

"Untuk saat ini, kurasa itu sudah cukup." Sasuke tersenyum lembut, senyuman yang hanya bisa muncul saat si rubah manis ini berada di sampingnya. Senyum yang hanya ditujukan untuk pemuda ramen-freak yang saat ini tengah tersipu, menenggelamkan wajah tan bersemburat merahnya di dada bidang sang kekasih, membalas pelukan hangat sang kekasih dengan dekapan erat.

Sesaat kemudian, Sang Pangeran merasakan deru nafas teratur dari pemuda kuning yang kini berada dalam pelukannya.

'Dia tidur.' batin Sasuke.

Sasuke pun menggendong tubuh mungil Naruto ala Bridal Style, kemudian membaringkannya di kasur king sizenya.

"Kau manis Dobe.." gumam Sasuke tanpa sadar sambil menjentikkan jarinya dan secara ajaib pakaian Naruto telah berubah menjadi piyama berwarna orange dengan gambar rubah berekor sembilan di bagian depannya, dan jangan lupakan lambang keluarga Uchiha yang bertengger di punggung baju si duren pirang.

'Kyuubi?' Sasuke menaikkan sebelah alisnya saat melihat piyama Naruto memiliki gambar chibi-kyuubi. Seingatnya dia tidak pernah merencanakan untuk memberi piyama bergambar seperti itu.

'Ahh sudahlah. Lagi pula dia cocok memakai piyama bergambar 'icon dirinya'. Bertambah manis…'

Sang pangeran pun keluar dari kamarnya setelah mengecup dahi sang kekasih.

"Bagaimana Otouto?" terdengar suara tegas Itachi di sebelah pintu kamar Sasuke.

Sasuke yang sudah terbiasa melihat penampakan anikinya itu pun hanya mendengus, menutup pelan pintu kamarnya agar sang kekasih tidak bangun.

"Kenapa harus secepat ini sih?" sungut Sasuke.

"Tentu saja agar aku bisa membantu tou-san menyelesaikan semuanya." sebuah kalimat ambigu yang dimengerti jelas oleh Sasuke keluar dari mulut pria berkuncir itu.

"Biar aku yang membantu tou-san."

"Akan terlalu mencurigakan."

"Aku belum mau menjadi raja.." bisik Sasuke lirih. Tidak seperti biasanya.

"Aku tahu alasanmu, bagaimanapun juga kau harus menggantikanku sebagai raja. Cepat atau lambat kau akan memegang tanggung jawab itu Otouto. Percuma kau mengulur waktu."

Mereka terdiam saat sampai di depan sebuah pintu kayu besar bercat putih dengan ukiran sederhana.

Di dalam sudah menunggu seorang raja sebelum Itachi, Uchiha Fugaku. Duo Uchiha ini pun memasuki ruangan tersebut untuk menemui ayahnya, tanpa menyentuh pintu sedikitpun. Menembus pintu secara ajaib.

.

.

.

TBC

.

.

Chap 2 selesai

Kyuu seneng banget cerita abal Kyuu ada yang baca. Dapet review yang membangun pula / arigato minna-samaaaa…..

.

Sasuke: gue keren juga dapett peran jadi iblis

Naruto: dan gue keliatan bego banget gara-gara salah denger. Lu tega Peng! (maksudnya ;pengetik' aka Kyuu)

Kyuu: diem lu Nar! Udah mending dikasih peran.

Sasuke: kapan ada adegan kissu?

Kyuu: rahasia

Sementara Kyuu dan Sasuke membicarakan hal-hal nista, Naruto pundung di pojok kamar mandi (_ _!)

.

Saatnya bales review. Lu berdua bantuin Kyuu! (menatap tajam duo 'U)

Dari Botol Pasir.

Sasuke: Emang bener nih pengetik abal ga ada kreatifnya. Maklumin ya Botol pasir-san

Kyuu: makasi ya Botol-san udah mau baca cerita saya yang abal ini. Uda mau review pula.. *terharu

.

Dari Superol.

Makasih Super-senpai sarannya. Saya pengetik baru ga tau kalo 'enter' di ms. Word ternyata ga mempan di ffn. Jadilah begini. Gomen… semoga chap ini lebih baik dari yang kemarin.. Amin

Naruto: bilang aja lu emang bego! (masih dendam gara-gara insiden 'kuma')

.

Dari Uchizuku no RenMay.

Arigato senpai ^_^'b

.

Dari Shiki Raven-Sauraii.

Sasuke: berani lu nyentuh Dobe gue, gue makan lu. *mata berkilat membentuk Sharingan

Naruto: Teme ~ mlu nyeremin..

Kyuu: Ahh maaf ya Sau-san.. Jangan pedulikan iblis ababil ini.. *bekep mulut Sasu

Sasuke: Hmmphh Hmmm Hmm! (baca: elu yang ababil!

Kyuu: ano.. Kyuu merasa ga pantes dipanggil '-senpai'. Ehehe…

.

Dari Misyel.

Harusnya Kyuu yang bilang terima kasih, Misyel-san

.

Daru KyouyaxCloud

Yup.. Ini udah apdet :D

Sasuke: mau jadi apapun, gue tetep keren.

.

Dari saiyuki ayaseharu

Iyah.. dia perlu dibawa ke THT. Tapi kalo dokternya Tsunade, malah bias tambah parah XDDD

(di suatu tempat.

Tsunade: Huaachimmm!)

Gak dong. Kyuu Cuma pengen bikin suasana yang senada sama komik Secret Darling. Abisnya Kyuu suka banget sih sama Cecil. Kalu untuk cerita ke depannya, bakal ada banyak ide dari Kyuu sendiri

Sasuke: PD banget lu! Pal;ingan juga ga ada yang baca!

.

Dari gekikara hn

Yupp.. makasih geki-san

.

Dari ttixz lone cone bebe

Argato ttixz senpai… *ngelirik Naru yang lagi pundung

.

Dari Uchikaze no Naruels

Ahh iya. Ini udah apdet.. arigato

.

Dari .Sora

Asal usul Sasu ada di chap ini. Giamana senpai? Maih kurang jelas kah asal usul Sasuke?

Saya juga berpikir kalau Sasuke adalah makhluk gaje.

*Sasuke yang sibuk menenangkan Naruto pun tidak mendengar perkataan pengetik. Kalau tahu, sudah pasati pengetik akan merasakan panasnya Katon

Dan untuk asap.. Gomen ne.. Kompor Kyuu kompor gas sih. Jadi ga berasap XDDD

.

Dari Ashashi Kagari-kun

Emang ini terinspirasi (kalau mau bilang Kyuu jiplak, boleh deh) dari komik Secret Darling, karya siapa, Kyuu lupa.

Maklum ya senpai XDD

Makasih buat reviewnya

.

.

Akhirnya bales review selesai…

Maaf ya minna kalau Kyuu suka menggal nama senpai-senpai seenak jidat. *bungkuk-bungkuk

Itu kebiasaan soalnya, jadi susah ilang

Mohon maaf juga untuk tata letak chap sebelumnya. Kyuu belum bias ngeditnya

Sasuke: bego!

Naruto: hiks… hiks… uhu…. *masih pundung

Sasuke: Dobe.. udah dong. Ntar beli ramen sama-sama ya.. tapi jangan nangis

Kyuu: mungkin readers ada saran buat Kyuu? Cara ngedit chap 1 mungkin? *puppy eyes no Jutsu

.

Dan terima kasih juga untuk kanon1010 yang udah ngasih saran yang sangat berharga XDD.

.

Akhir kata, RnR please…