"Bagaimana Otouto?" terdengar suara tegas Itachi di sebelah pintu kamar Sasuke.

Sasuke yang sudah terbiasa melihat penampakan anikinya itu pun hanya mendengus, menutup pelan pintu kamarnya agar sang kekasih tidak bangun.

"Kenapa harus secepat ini sih?" sungut Sasuke.

"Tentu saja agar aku bisa membantu tou-san menyelesaikan semuanya." sebuah kalimat ambigu yang dimengerti jelas oleh Sasuke keluar dari mulut pria berkuncir itu.

"Biar aku yang membantu tou-san."

"Akan terlalu mencurigakan."

"Aku belum mau menjadi raja.." bisik Sasuke lirih. Tidak seperti biasanya.

"Aku tahu alasanmu, bagaimanapun juga kau harus menggantikanku sebagai raja. Cepat atau lambat kau akan memegang tanggung jawab itu Otouto. Percuma kau mengulur waktu."

Mereka terdiam saat sampai di depan sebuah pintu kayu besar bercat putih dengan ukiran sederhana.

Di dalam sudah menunggu seorang raja sebelum Itachi, Uchiha Fugaku. Duo Uchiha ini pun memasuki ruangan tersebut untuk menemui ayahnya, tanpa menyentuh pintu sedikitpun. Menembus pintu secara ajaib.

.

.

Title: Night Kingdom

Desclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Fantasy, Romance (?) Hurt/Comfort (?) entahlah

Pair: Sasuke x Naruto

Warning: abal, geje, nista, ga mutu, bikin muntah, typo berkeliaran dimana-mana dan masih banyak lagi

Chap 3: Naruto's Abillity

.

"Ugh..." sesosok kuning mengeliat di balik selimut dongker yang dipakainya.

"Ohayou Naruto." sapa seorang pemuda berambut scarlet dengan tato 'ai' berwarna senada di dahi kirinya. Matanya dibingkai eye-liner yang kelewat tebal, namun dengan suksesnya membuat bola mata emeraldnya berkilau indah.

"Ohayou.." Naruto mengucek matanya sambil mengeliat. Sedangkan si pemuda scarlet menaruh pakaian – seperti yang digunakan Naruto semalam, hanya saja kali ini berwarna biru langit – di meja samping tempat tidur si pemuda pirang..

"Haa'hm..." si rambut duren bangkit (kaya mayat aja bangkit *buaghh) dari tempat tidur, kemudian berdiri di depan si scarlet sambil menajamkan penglihatannya.

Setelah penglihatannya kembali sempurna...

1 detik

3 detik

5 detik

7 de –

"GYAAAA... ada pencuri!"

'buaghh'

"Na – naruto, ini aku. Gaara." ucap si scarlet datar (?) sambil mengusap pipinya yang mendapat kecupan selamat pagi dari kepalan tangan Naruto.

"Ehh?"

Terkejut. Naruto pun membelalakkan matanya mengamati sosok yang mengaku sebagai 'Tuan Panda', namun dengan wujud berbeda.

'Warna rambutnya seperti warna bulu tuan panda..'

'Mata emerald tajam..'

'Wajah datar..'

"Kau beneran Gaara ya?" Naruto mendekatkan wajahnya ke arah pria yang mengaku bernama Gaara itu.

"Hn." singkat, padat dan kali ini cukup jelas.

"K – kau tidak apa apa?" sontak raut panik menyelimuti wajah si pirang saat menyadari pipi kiri Gaara kini retak. Benar-benar retak, dan mengeluarkan beberapa butir pasir.

"Hn. Pasir ini melindungiku kok." jawab Gaara datar, memejamkan matanya sejenak. Perlahan retakan di pipi Gaara tertutup. Wajahnya kembali mulus tanpa cacat.

"Lihat?" lanjutnya.

'Ohh iya. Mereka kan bukan manusia.' batin sang Uzumaki.

"Seharusnya aku yang bertanya begitu." Gaara menarik tangan Naruto dan melihat buku-buku jari Naruto kini terlihat memar. Tantu saja tangannya memar, dia memukul sesuatu yang sangat keras.

Memang begitulah Gaara, self-defensenya sangat hebat. Tubuhnya akan secara otomatis diselimuti pasir pelindung saat ia sedang disereng.

"Ahaha tidak apa-apa kok." yang dikhawatirkan hanya tertawa renyah.

"Mandilah. Aku akan mencarikan obat sebentar. Kamar mandinya disana." pemuda ber-eye-liner tebal itu menunjuk sebuah pintu.

Naruto mengeryitkan alisnya. 'Sejak kapan ada pintu disana?'

"Jangan terkejut dengan hal seperti itu disini. Jika Sasuke-sama menginginkannya, bahkan mungkin dia bisa 'mengembalikan matahari'." gumam si jidat 'ai' seakan membaca pikiran Naruto.

Naruto yang merasa terkejut dengan dua kalimat terakhir Gaara pun hanya bisa membuang rasa terkejutnya jauh-jauh. 'Mungkin hanya sebuah ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan betapa kuatnya Sasuke.'

Naruto pun bergegas masuk ke kamar mandi, membasuh dan memanjakan tubuhnya dengan air hangat. (P/N*: karena ini adalah fict dengan rate 'T', maka adegan ini dengan suksesnya tidak lulus sensor)

Setelah selesai dan berpakaian, dia keluar kamar dan melihat Gaara sudah menunggunya di koridor.

Gaara menyeretnya duduk di sebuah kursi kayu berukuran besar, kemudian menarik tangan Naruto untuk diobati.

Betapa terkejutnya ia saat tidak mendapati memar di buku-buku jari tangan kanan Naruto.

"Gaara?" panggil Naruto.

"Kemana perginya?" tanya pemuda berkulit putih susu kepada Naruto, masih dengan ekspresi tidak percaya.

"Apanya yang pergi?" Naruto tidak mengerti.

"Memar tadi." jelas Gaara.

"Ohh..," pemuda berkulit tan itu tersenyum, "Aku memang cepat sembuh kalau terluka. Sejak kecil juga begitu." lanjut si penggila ramen dengan nada ceria.

'Bagaimanapun juga ini terlalu cepat untuk ukuran manusia biasa. Sebaiknya nanti kubicarakan dengan pangeran.'

"Nee Gaara?"

"Ya?"

"Kalian bisa menggunakan sihir?"

"Tentu."

"Lalu kenapa kau susah-susah mencari obat saat ingin mengobati tanganku tadi? Yah.. walau akhirnya aku sembuh sendiri sih."

"Sasuke-sama bilang, tidak boleh menggunakan sembarang sihir kepadamu. Apalagi untuk mengobati, itu akan sangat berbahaya kalau terlalu sering dilakukan kepada manusia." jelas Gaara panjang lebar. Entah mengapa pemuda bertato 'ai' ini merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga pemuda pirang di sebelahnya. Bahkan sikap irit bicaranya pun menguap begitu saja saat ia berada di hadapan Naruto.

"Maksudmu seperti memiliki efek samping begitu?"

"Tepat." gumam Gaara.

Mereka pun berbincang ringan sambil berkeliling istana. Gaara menemani Naruto dan menjadi tourguide dadakan untuk menjelaskan sedikit tentang istana ini, menjalankan apa yang telah diperintahkan sang pangeran kepadanya.

.

"Jaga Naruto naik-baik dan jangan biarkan 'orang itu' mendekatinya."

.

Pemuda scarlet itu mendengus pelan. Partner yang dijanjikan oleh sang pangeran untuk menjaga Naruto belum tiba juga sampai saat ini. Padahal sudah sejak pagi dia dan pemuda pirang disampingnya berkeliling istana, tapi menjelang siang begini, partnernya belum muncul juga.

"Gaara.. Naruto.. ahh maaf aku terlambat!" teriak seorang pemuda berambut coklat jabrik dengan seekor anjing kecil berlari di belakangnya. Sudah tidak ada lagi embel-embel yang digunakan untuk memanggil Naruto. Siluman anjing ini tahu betul kalau teman barunya tidak suka dipanggil dengan sebutan yang – menurut si empunya nama – aneh.

"Kiba! Kau akan menemaniku juga ya?" si pirang yang tadinya sedang membuat boneka salju berbentuk abstrak – yang menurut si pembuat boneka adalah seekor rubah – melambaikan tangan ceria dan langsung berdiri menyambut Kiba dan seekor anjing berbulu senada dengan salju bercorak coklat di beberapa bagian itu.

Sementara Gaara yang mendengar kata 'terlambat' menatap tajam ke arah Kiba. Seakan mengerti, Kiba mengangguk cepat tanpa disadari oleh Naruto.

"Ehehe begitulah. Sebelum kesini, Hana-nee memaksaku merapikan kamarku." pemuda bertato segituga merah di masing-masing pipinya itu pun nyengir.

Sekilas ia menatap Gaara sambil tersenyum seakan berkata 'maat aku lupa kalau misi ini rahasia'. Mengerti, Gaara pun mengengguk singkat.

"Nee Kiba."

"Ya?"

"Kenapa Akamaru tidak berubah sepertimu?"

"Dia masih terlalu muda. Umurnya baru 3 tahun. Di keluargaku, biasanya kami akan berubah menjadi seperti ini saat usia kami menginjak 7 tahun."

Kiba menunjuk dirinya, Naruto ber-ohh ria, sedangkan Gaara menatap tajam 'sesuatu' dari sudut matanya.

Mereka pun berbincang ringan, tanpa menyadari ada sepasang onyx yang mengawasi mereka. Setidaknya itu yang menurut si pemilik onyx.

.

.

Di sebuah rumah berlantai dua yang terlihat nyaman dan damai...

"Bagaimana?" seorang wanita dewasa berambut merah panjang terlihat panik. Ditatapnya tajam seorang pria berambut pirang jabrik berbola mata biru yang baru saja masuk ke rumah itu.

"Tenanglah Kushina. Semua akan baik-baik saja." pria itu mengelus lembut kepala wanita berambut merah yang dipanggilnya 'Kushina'. Dia mencoba menenangkan wanita itu, walau wajahnya sendiri juga menunjukkan kecemasan 'tingkat dewa'.

"Dia anak kita, Minato.. Naruto anak kita. Satu-satunya.." wanita itu mulai terisak. Minato memeluk penuh kasih istrinya, kemudian membawanya masuk ke ruang keluarga. Ruangan yang biasanya gaduh dan berisik, namun kini terasa sepi tanpa seorang bocah bernama Uzumaki Naruto.

"Dia anak kita." suara tegas pria pirang yang kini duduk di sebelahnya membuat Kushina mendongakkan kepalanya, menatap sepasang laut yang memancarkan sebuah keyakinan yang teramat kuat. Minato berusaha meyakinkan dirinya sendiri, dan juga Kushina, bahwa Naruto akan baik-baik saja.

Seakan mengerti dengan apa yang diucapkan suaminya, Kushina tersenyum dan memeluk erat suaminya itu.

"Dia akan baik-baik saja. Naruto kan baik-baik saja." dirapalkannya kata-kata seperti itu demi mengukuhkan kepercayaan bahwa anaknya akan baik-baik saja.

Minato tersenyum, setidaknya sang istri sudah tidak lagi sekhawatir tadi.

"Minato.." ucap Kushina seraya mendongakkan kepalanya.

"Hn?" jawab Minato singkat, menggunakan trademark seseorang yang dikenalnya.

"Naru belum tahu siapa dia sebenarnya."

"Cepat atau lambat dia akan tahu. Kita hanya bisa berharap agar dia menyadari hal itu lebih cepat." Minato mengungkapkan pendapatnya.

"Apa dia akan marah karena kita menyembunyikan semua ini selama 17 tahun darinya?"

"Kurasa tidak. Dia pasti malah berpikir kalau semua ini keren." Kushina sweatdrop mendengar penuturan suaminya.

Benar juga. Naruto adalah anak yang selalu berpikiran positif, sama seperti ayahnya. Naruto adalah anak yang hiperaktif bin pecicilan wal urakan, sama seperti ibunya.

Pasangan suami-istri yang dikaruniai seorang anak ini pun sekarang mulai membicarakan hal-hal ringan tentang buah hatinya. Tak ada lagi kekhawatiran yang berlebihan. Mereka berdua mencoba berpikir positif, mencoba percaya dengan kekuatan yang dimiliki sang Uzumaki junior.

.

.

Terlihat tiga pemuda manis yang tengah berjalan menyusuri salah satu sudut koridor istana. Dua diantaranya asik berbincang, sedangkan seorang lagi memilih berjalan dengan tenang, melipat kedua tangannya di depan dada sambil sesekali melirik ke arah dua temannya yang berisik itu.

"Sudah sampai." gumam pemuda berambut marun sesampainya di depan pintu besar berwarna putih – pintu kamar Naruto, atau lebih tepatnya pintu kamar Sasuke.

"Kenapa waktu cepat sekali berjalan Sih?" gerutu si bocah pirang sambil menggembungkan pipinya.

"Ayolah Naruto... Kita kan bisa bertemu lagi besok." bocah dengan telinga anjing mencoba menghibur, diikuti dengan gonggongan ceria dari anjing kecil yang berdiri di sampingnya.

"Masuklah Naruto. Malam sudah larut." Naruto tambah menggembungkan pipinya saat mendengar perkataan pemuda berkanji 'ai' itu.

"Huh.. Kau menyebalkan Gaara." Naruto membalik badannya ke arah pintu. Bagaimanapun ia sendiri sadar bahwa malam sudah sangat larut hal itu dibuktikan dengan makin banyaknya bintang yang menghiasi langit.

'kriieettt;

"Berjanjilah untuk menemaniku lagi besok..." Naruto melangkahkan kakinya memasuki kamar yang sejak kemarin menjadi kamarnya juga.

"Hn."

"Tentu – guk."

"Jaa! Oyasumi." sebelum pintu benar-benar tertutup, kepala kuning itu menyembul dari dalam kamar sambil menyunggingkan cengiran khasnya.

"Oyasumi – guk." gumam kedua pemuda yang lain hampir bersamaan.

Naruto pun menutup pintunya perlahan. Kemudian berjalan menuju kasur king size yang kelak menjadi tempatnya mengadu kasih bersama Sasuke. *buaghhh (dilempar bogem sama Kushina)

"Teme?" bisiknya saat melihat seorang pemuda berambut raven melawan gravitasi tengah terbaring di kasur. Perlahan dia berjalan mendekat.

Setelah memastikan bahwa pemuda yang ternyata sedang tidur itu adalah Teme-nya, Naruto memutuskan untuk mengganti pakaiannya ini dengan piyama.

'Dimana sih aku bisa mendapatkan piyama?' Pemuda pirang itu mulai kehabisan kesabaran saat dirinya tak juga mendapati piyama. Padahal ia sudah membuka seluruh almari yang ada di kamar ini. Ok, itu sangat berlebihan. Hanya ada sebuah almari besar dan dua buah meja hias dengan laci – yang tidak mungkin berisi baju.

"Ayolah piyama... Dimana sih dirimu?"

'pluukk'

Saat itu juga, entah bagaimana caranya, kepala Uzumaki junior ketiban benda mencurigakan berwarna hitam.

"Ahh piyama."sapphire Naruto berbinar, dia pun bergegas menanggalkan pakaian kerajaannya dan segera menggantinya dengan piyama.

Momen berharga saat Naruto akan mengenakan piyama atasnya terhenti saat ia melihat pergerakan sesosok pantat ayam di tempat tidur – yang sudah diklaim – miliknya. Tanpa pikir panjang, pemuda pirang itu berjalan mendekati sosok raven yang kini tertidur dalam posisi miring.

Si blonde menaiki kasurnya sambil menenteng atasan piyamanya di tangan kiri. Dipandangnya lekat wajah Sang Pangeran yang kini menghadap ke arahnya itu. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti. Ditatapnya sosok Pangeran di hadapannya itu dengan tatapan sendu.

"Teme.." pemuda pirang itu mengelus lembut pipi pemuda yang tidur dengan pakaian kerajaan lengkap dengan jubah dan sepatu itu.

"Aku takut..." langit siang yang awalnya cerah itu berubah mendung. Tatapannya sarat akan rasa takut dan khawatir.

"Ngghh..." sentuhan Naruto ternyata sedikit mengusk tidur nyenyak Sang Pangeran. Kini Sasuke membalikkan badannya memunggungi Naruto.

"Kau tahu 'Suke. Aku merasa sangat takut..." pemuda yang memiliki tiga garis halus di masing-masing pipinya itu memberanikan diri untuk menyentuh bahu Sang Pangeran. Perlahan, dipeluknya tubuh si pemilik bola mata onyx itu dari belakang, hati-hati dan penuh perasaan, namun erat.

"Aku.. takut Teme."

"..."

"Kenapa kau harus seorang pangeran sih?"

"..."

" – "

"Kenapa kau harus – " Naruto terisak, " – seorang iblis..." bisiknya terlalu lirih.

"Dan kenapa aku harus manusia biasa..." jantung pemilik sepasang sapphire yang tengah memeluk Sang Pangeran itu berdetak makin cepat. Dia merasa takut. Benar-benar takut. Naruto tahu betul bahwa dunianya dan dunia Sasuke adalah dua hal yang sangat berbeda.

Isakan Naruto makin sering terdegar saar ia memikirkan'kenapa, kenapa dan kenapa' yang lainnya. Dibenamkannya kepalanya di perpotongan antara leher dan bahu kanan Sasuke.

"Semua akan baik-baik saja Dobe..." tangan kanan Naruto menghangat, bersamaan dengar terdengarnya suara baritone merdu yang sangat dia kenal. Dirasakannya tangan Sang Pangeran kini tengah menggenggam erat tangannya.

"Sa – Teme?" si blonde mendudukkan kembali tubuhnya.

Uchiha bungsu membalik tubuhnya ke arah Naruto, menarik lembut lengan kekasihnya hingga kini sang kekasih berada dalam posisi berbaring ke arahnya, Sasuke menjadikan lengannya sendiri sebagai bantal bagi si pirang.

"Teme.. Aku – "

"Aku sudah dengar." Sasuke tersenyum lembut. Diusapnya penuh perasaan pipi tan kekasihnya. Naruto menunduk, matanya memanas lagi.

"Ma – "

"Ssttt..." lagi-lagi Sasuke memotong perkataan Naruto.

"Semua akan baik-baik saja." pemuda berambut pantat ayam itu mengulangi perkataannya. Dihapusnya jejak-jejak air mata di pipi Naruto dengan ibu jarinya.

-chuuu-

Sasuke mencium kelopak mata kiri Naruto, dilakukannya hal yang sama pada kelopak mata sebelah kanan.

"Kau percaya padaku kan?" Naruto mengangguk.

"Kau mencintaiku?" lagi-lagi pemuda bermarga Uzumaki itu mengangguk.

"Asalkan bersama, tidak ada yang tidak mungkin.." lagi-lagi Sasuke tersenyum. Dibelainya rambut Naruto penuh kasih.

Naruto balas tersenyum. Dibenamkan kepalanya di dada bidang Sang Pangeran. Sasuke pun memeluk erat kekasihnya itu.

Keheningan menyelimuti mereka dalam waktu yang tak singkat, namun tak ada satupun dari keduanya yang berlayar ke alam bawah sadar. Mereka berdua masih terjaga.

Mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing. Sasuke dengan tanggung jawab yang akan dipikulnya kelak, juga dengan statusnya dan Naruto saat ini, sementara Naruto tengah sibuk meyakinkan dirinya dengan apa yang dikatakan Sasuke tadi, juga satu hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

"Umm 'Suke?" gumam Naruto sambil mendongakkan kepalanga, mencoba memandang wajah sang kekasih.

"Kau nyaman tidur memakai baju begitu?" itulah yang sejak tadi ingin Naruto tanyakan. Bagaimana bisa kekasihnya itu tidur menggunakan baju – yang menurut Naruto – yang sangat ruwet dan tidak nyaman seperti itu.

'For The Demon's Sake. Si Dobe ini benar-benar Dobe! Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu pada saat-saat romantis seperti ini.' Sasuke lebih memilih diam dan berusaha menampilkan wajah stoic kebanggaannya.

Menyadari sesuatu, pemuda berkulit alabastar itu menyeringai penuh arti. Sang kekasih yang melihat seringaiannya itu pun hanya bisa menelan ludah sambil berkeringat dingin.

"Kau mencoba menggodaku ya?" Sang Pangeran mendekatkan wajahnya ke bahu Naruto. Dijilatnya perpotongan antara bahu dan leher pemuda tan yang tengah di dekapnya kuat.

"Te – Teme... Apa yang kau laku hnggh – " ucapan Naruto terpotong saat dirasakannya Sasuke menggigit lembut lehernya sambil menghisapnya pelan.

"Tem – hent – ufhh..." Naruto mencoba mendorong Sasuke, namun apa daya, kekuatan seorang iblis jauh lebih besar daripada kekuatan manusia biasa. Sasuke terus saja menciumi leher naruto hingga meninggalkan beberapa tanda merah disana.

"Hn – " Sang pangeran menghentikan kegiatannya.

"Kau milikku Dobe." dijilatnya kissmark yang kini menghiasi leher Naruto.

"Dasar mesumm!" pekik Naruto sambil melayangkan sebuah tinju ke perut Sasuke.

"Ghh!" Sasuke mengerang tertahan. Dirasakannya sedikit nyeri di tempat yang baru saja menjadi bantal bagi tinju Naruto.

"Rasakan! Dasar Teme mesum!"

"Hn. Dobe." gumam Sasuke. Jujur saat ini dia sedang menyembunyikan keterkejutannya. Naruto – yang hanya manusia biasa itu – bisa memukulnya hingga terasa sakit? Seharusnya manusia biasa tidak bisa dan tidak bisa 'menyentuh' iblis seperti Sasuke. Apalagi Sasuke adalah pewaris Uchiha, Iblis berwujud manusia bersayap. Iblis terkuat yang pernah ada. Setidaknya itu yang diketahui Sasuke saat ini.

" – me? 'Suke Teme?" Sasuke tersadar dari lamunannya. Ditatapnya tajam kekasihnya yang belum juga memakai piyama atasan.

"Kau menyebalkan 'Suke!" pemuda yang kini duduk bersila itu menggembungkan pipinya sambil melipat kedua lengannya di dada.

Sang Pangeran yang melihatnya hanya bisa menahan nosebleed yang siap menyerang kapan saja akibat pemandangan 'Wow' dihadapannya. Seorang pemuda berkulit karamel yang tengah menggembungkan pipinya sebal, membuat garis halus di pipinya yang seperti kumis rubah itu terlihat makin jelas dan sukses membuat si empunya pipi bertambah imut.

Pemuda yang masih menggunakan pakaian kerajaan lengkap itu mendekat ke arah pemuda tanpa baju atasan. Diulurkannya lengan kanan ke arah dada tanpa pelindung milik kekasihnya itu.

"Tem – apa sih?" Naruto mencoba menghindar. Namun gerakannya terhenti saat Sasuke menggenggam kalung berbandul prisma runcingnya.

"Kau memakainya?" onyx Sasuke menatap lurus sapphire Naruto yang masih terkejut.

"Te – tentu saja Teme..." sapphire itu kini memilih mengalihkan pandangannya dari sepasang onyx yang mampu menjeratnya sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

"Hn." si pemilik onyx kembali ke sifat stoicnya. Tatapannya masih mengarah ke tubuh bagian atas si pirang. Kali ini pandangannya tertuju ke arah perut tan Naruto. Matanya memicing, memastikan penglihatannya. Bahkan sharingannya pun sempat aktif hanya untuk memastikan pemandangan di depannya saat ini bukanlah halusinasi.

"Sejak kapan kau memiliki tato?": Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat sharingannya memastikan bahwa sebuah gambar spiral sederhana dengan beberapa bentuk rumit di sekelilingnya yang ia lihat di perut karamel kekasihnya bukanlah halusinasi matanya saja.

"Tato?" si Dobe malah membeo. Tidak mengerti dengan ucapan Sasuke. Sejak lahir sampai saat ini, pewaris terakhir Uzumaki itu merasa tidak pernah menato tubuhnya yang mulus dan menggoda iman para seme *plakk (tampared)

"Perutmu." jelas Sasuke sambil menunjuk ke arah gambar yang dicurigai sebagai tato. Naruto pun mengikuti arah telunjuk Sasuke. Setelah mengerti maksud pertanyaan sang kekasih tadi, Naruto malah ber-oh ria, dilanjutkan dengan mengenakan atasan piyama hitam yang – lagi-lagi – bergambar rubah berekor sembilan.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya lagi. Kenapa Dobe-nya ini sering sekali menggunakan atribut bergambar rubah sih? Kalau tidak salah, bed cover Naruto saat Sasuke 'menjemput' Naruto malam itu juga ada gambar rubah berekor sembilan. Jam meja Naruto berbentuk kepala rubah. Juga masih banyak rubah-rubah imut lainnya di kamar Naruto.

"Ini tanda lahir.." gumam si blonde setelah merapikan piyamanya.

"Hn?"

"Tanda lahir 'Suke... Seperti punyamu ini." Naruto menyentuh perpotingan leher dan bahu kiri Sasuke.

Keduanya kembali terdiam. Sepi. Hal yang sangat tidak disukai oleh si pemilik sapphire.

'Ahh lagi-lagi begini." gerutu Uzumaki junior dalam hati.

"Aku tidur dulu Teme. Oyasumi..." pemuda berkulit karamel itu memilih untuk beristirahat. Naruto membaringkan tubuhnya membelakangi Sasuke sehingga saat ini Sasuke dapat melihat dengan jelas punggung piyama naruto yang bergambar spiral berwarna merah.

'Bukan lambang Uchiha?' hati si pemuda alabastar bergumam heran.

"Darimana kau dapat piyama Dobe?" tanya Sasuke cukup jelas saat dia baru ingat bahwa di ruangan ini tidak terdapat pakaian sama sekali. Lalu dari mana Naruto mendapatkan piyama? Dan lagi, piyama itu tidak memiliki lambang Uchiha. Siapa yang memberikan piyama itu kepada Naruto?

"Entahlah... Saat aku ingin piyama, tiba-tiba saja benda ini jatuh di kepalaku." Naruto membalikkan badannya sambil menunjuk piyama hitam bergambar rubah yang kini melekat di tubuhnya.

"Rubah?" gumam Sasuke sangat tidak jelas. Namun pemuda bermata sapphire di depannya seakan mengerti dengan apa yang ingin dikatakan kekasihnya itu.

"Binatang kesukaanku. Lucu kan? Apalagi Kyuubi ini!" Naruto menunjuk gambar rubah berekor sembilan berwarna orange yang sangat besar di bagian depan atasan piyama, sungguh sangat kontras dengan warna dasar piyamanya.

"Lambang itu?" Sang Pangeran menunjuk punggung Naruto.

"Yang mana?" Naruto mencoba menoleh ke belakang, melihat punggungnya sendiri. Namun tidak bisa.

"Apa sih Teme?" gerutu Naruto karena tidak juga berhasil melihat 'lambang' yang dimaksud Sasuke.

"Ck.." si Teme mendecak pelan sambil membuka telapak tangan kirinya, dan muncullah gambar spiral sederhana berwarna merah.

"Umm.. Lambang keluargaku mungkin." jawab si pemuda blonde ragu.

"Mungkin?" ulang Sasuke.

"Aku sering melihat Kaa-san dan Tou-san memakai baju yang ada gambar seperti itu." gumam si Dobe sambil memasang pose ala Detective Conan. Raut wajah Naruto sedikit berubah saat dia teringat sesuatu. Kaa-san dan Tou-san di rumah. Bagaimana kabar mereka ya? Naruto merindukan mereka. Namun ia juga tidak ingin membuat Sasuke khawatir.

"Sudahlah Teme. Aku mau tidur dulu." Naruto membalikkan badannya dan berbaring memunggungi si pemilik onyx. Disembunyikannya wajahnya yang terlihat murung itu dibalik selimut dongker milik Sasuke.

Sesaat kemudian, Uzumaki muda itu merasakan sebuah lengan memeluknya penuh perasaan.

"Maaf.." lagi-lagi suara baritone merdu itu terdengar lembut di telinganya.

"Aku akan mengantarmu pulang. Tapi tidak saat ini." jelas Sasuke seakan mengerti penyebab berubahnya raut wajah Naruto beberapa detik lalu. Naruto sedikit tersentak saat mendengar kalimat yang tidak diduganya itu.

Si pirang memilih diam, kemudian mengangguk pelan – masih dalam posisi membelakangi Sasuke. Sang Pangeran pun kini merapatkan tubuhnya ke arah Naruto. Membuat kepala bagian belakang si blonde tepat berada di dadanya. Otomatis si blonde kini dapat merasakan sekaligus mendengarkan detak jantung sang raven yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Tidurlah... Aku akan menjagamu."

.

.

.

"Aku tidak salah dengar?" terlihat sesosok pemuda berambut raven tengah berdiri tegap memunggungi sosok lain dibelakangnya. Jubahnya berkibar tertiup angin malam yang cukup dingin.

Beberapa saat yang lalu, ia memutuskan untuk mencari informasi tentang kekasihnya sendiri. Ditinggalkannya kekasihnya yang tengah terlelap dengan piyama hitam itu setelah ia memasang kekkai terbaik yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh siapapun – kecuali si pemasang kekkai tentunya.

Setelah yakin bahwa kekkainya benar-benar kuat, barulah ia pergi menuju tempatnya berdiri saat ini.

"Tidak Sasuke-sama. Dia memukul wajahku sampai 'retak'. Aku benar-benar yakin kalau dia terluka dan langsung sembuh begitu dia selesai mandi." jawab sosok lain di belakang Sang Pangeran yang tengah memandang langit malam bertabur bintang. Harusnya manusia biasa tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menggoyahkan pertahanan Gaara. Pasirnya terlalu kuat untuk dipukul bahkan dengan palu sekalipun.

'Benar-benar sudah malam. Sepertinya sejak aku lahir, aku memang tidak pernah melihat matahari.' Sasuke mendengus pelan, kemudian membalikkan badannya, mencoba mencari sosok pemuda ber eye-liner tebal, namun yang didapatinya hanyalah seekor rakun.

Sasuke menatap tajam bawahannya itu dengan tatapan berhenti-berwujud-seperti-itu-atau-aku-akan-memakanmu.

'poff'

Seakan mengerti, si rakun pun kini berubah menjadi seorang pemuda berambut scarlet dengan kanji 'ai' di dahi kirinya. Bagaimanapun juga dia tidak mau mengambil resiko menjadi santapan Sang Pangeran. Dia tidak mau bernasib sama seperti saat dia berusia 3 tahun – hampir dikuliti oleh Sasuke karena Gaara dicurigai sebagai hewan liar yang berkeliaran di istana.

"Kupikir Pangeran memakaikan sesuatu di air kamar mandi Pangeran." lanjut Gaara. Dia tidak mau berlama-lama memikirkan kejadian saat dia berusia 3 tahun itu. Sungguh sangat tidak Sabaku sekali.

"Tidak."

"Kalau begitu bocah rubah itu sembuh dengan sendirinya." tanpa sadar Gaara menggunakan kata 'bocah rubah' di kalimatnya.

Seakan tersadar akan sesuatu, Sasuke menatap pemuda yang lebih pendek beberapa senti darinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

'Gawat.' pemilik emerald itu membelalakkan matanya, wajah stoicnya pudar entah kemana.

"Go – gomen Pangeran. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja Naruto benar benar mirip rubah, dan juga wajahnya yang man –"

'Kau bodoh Gaara!' Gaara mengutuk dirinya sendiri. Bukan hanya karena menggunakan kata 'bocah rubah' untuk memanggil Naruto, tapi juga karena dia mengatakan bahwa Naruto manis. Walaupun kalimatnya belum selesai, Gaara yakin kalau Sasuke tahu apa maksudnya.

Mata sang pangeran berubah merah. Tangan kanannya terulur ke arah Gaara.

'Sharingan.' Gumam Gaara dalam hati. Gaara lagi-lagi mengutuk dirinya yang meninggalkan gentong pasir di rumahnya. Gaara yakin 100% kalau pasir yang biasa melindungi tubuhnya tidak akan mampu menahan serangan Sasuke. Bagaimanapun juga ia butuh pasir yang lebih kuat – pasir di dalam sebuah gentong berwarna coklat muda yang ditinggalkannya di rumah.

Sekarang dia hanya bisa menutup matanya. Pasrah.

'Tsukuyomi, Susano'o, Amaterasu.. Yang mana?' hati Gaara menjerit membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya.

"Kau benar! Rubah." dibelalakkannya mata lebar-lebar saat merasakan tepukan di bahu kirinya dengan bonus mendengar seruan bernada datar dari Sang Pangeran.

"Jaga dia baik-baik. Aku akan berada di perpustakaan untuk mencari sesuatu." lanjut Sasuke sambil melepaskan tangannya dari bahu Gaara.

Gaara masih cengok. Seakan tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

'Pangeran tidak marah padaku? Padahal... Padahal...'

"Berhenti berpose seperti itu."

Mendengar instruksi Sang Pangeran, siluman rakun pun memasang kembali wajah stoicnya.

"Seharusnya Neji melihat ekspresimu tadi." Sasuke sedikit terkekeh saat memunggungi Gaara dan membentangkan sayap hitam yang sedari tadi tersembunyi di balik punggungnya.

Mendengar hal itu, Gaara pun hanya dapat berjuang mati-matian menyembunyikan semburat merah yang hampir menelan seluruh pipinya.

"Dan kurasa dia sudah melihatnya." Sang Pangeran bersiap meninggalkan ujung menara yang menjadi tempat pertemuannya dengan Gaara.

"Keluar dari situ Hyuuga." perintah Sasuke sambil melempar sebuah batu – yang entah dari mana mendapatkannya – ke sebuah jendela yang berada tidak jauh dari mereka

Tak lama kemudian, keluarlah seorang pemuda berambut coklat panjang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Memasang wajah stoic sambil memejamkan matanya. Mencoba menghilangkan rasa malunya karena ketahuan mengintip.

Sasuke berjalan pelan ke arah Neji.

"Kau tenang saja. Aku tidak akan me-rape nya." ucapnya datar namun sukses membuat wajah Neji bersemu merah.

"Nikmati malam kalian." Sang Pangeran pun terbang menuju jendela perpustakaan yang berada di bagian istana sebelah utara.

Sementara Neji dan Gaara yang ditinggalkan hanya dapat saling mematung dan tersipu.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." ucap Gaara pada akhirnya.

"Hn. Ayo pulang." gumam sang Hyuuga mencoba stoic sambil menggandeng lengan si pemuda rakun.

"Sasuke-sama memintaku menjaga Naruto." bagaimanapun juga perintah Sang Pangeran harus dilaksanakan, tapi tak dapat dupingkiri bila Gaara ingin menghabiskan malam ini bersama kekasihnya. Bagaimana ini?

"Kelihatannya Sasuke sudah memasang kekkai terbaiknya, dan aku juga akan mengawasi dengan byakugan." Neji berucap. Seakan ingin menenangkan kekasihnya yang terlihat bimbang.

Gaara mengangguk sekali.

'Ahh akhirnya malam ini bisa melakukan 'itu' dengan Gaara.' Inner Neji mulai berpikir yang iya-iya.

Tanpa mengetahui 'bahaya' yang mengancam, pemuda berambut scarlet itu mengeratkan gandengan di tangan kanannya sambil berjalan mengikuti kekasihnya.

.

.

.

TBC

.

.

Chap 3 selesai

Gimana minna-sama?

Aneh ya? Hahahah (ketawa nista)

Sasu: keren kok. (menyeringai penuh arti)

Naru: bilang aja elu suka grepe-grepe gue. Iya kan Teme? (nunjuk-nunjuk Sasu pake jari manis)

Sasu: Hn

Gaara: Kenapa gue sial terus sih? Dipukul Naruto.. Pasang muka yang gak 'Sabaku' banget.. huh! (pundung di dalam gentong)

Neji: gue suka liat muka Gaara yang begitu

Minato: yes! Gue muncul

...

Ok lupakan percakapan mereka.

Mari kita balas review... Kalian! Bantuin gue! (ngasih death glare ke chara yang lagi pada sibuk)

.

KyouyaxCloud

Sasuke: Gue ya akuma. Pokoknya makhluk keren kaya' gini.. Nyahaha (ketawa ala Hiruma)

Kyuu: kalo itu... Chap depan ya. Hahaha

.

.Sora

Kyuubi ya? Ada sih kaya'nya. Ohoho

Kyuu(bi): gue ada dong. Kisah Naruto ga bakal asik kalo ga ada gue! (terdengar suara serak-serak om om yang menggema)

Ahh iya besok beli tungku aja biar ngepul. Hahaha

Diem lu ah.. dasar om rubah! (Kyuu *pengetik* sedang membekap moncong Kyuu * - bi si rubah*)

.

ttixz lone cone bebe

Fuga: gue emang baik hati kok..

Dei: nama doang nampang. Tapi gue gak muncul juga.. huh!

Ita: dei tenang dong.. jangan marah gitu. Kan lagi hamil.. (ngelus perut buncit dei)

Dei: diem lu keriput!

Kytuu: makasih dukungannya bebe-senpai XDD. Makasih juga udah baca Uchiha's Secret. hahahah

.

Ashahi Kagari-kun

Ah iya.. maklum pengangguran. Hahaha

.

crimson-nightfall

trims sarannya Crims-san.

Ini udah di edit. Ga bingung lagi kan?

Naru: yang ada Crims-san bingung sama ceritanya

.

.

Makasih udah pada mau baca fict abal Kyuu, baik Night Kingdom ini ataupun Uchiha's Secret. Kyuu seneng banget ada yang menghargai fic Kyuu.

Makasih buat para readers yang udah review maypun silent readers….

Kalau ada yang kurang atau gak suka atau gimana lah.. Jangan segan untuk review or flame yah :D

Oh ya. Bedanya typo sama mis-typo itu apa ya?

.

.

So.. Mind to Review?